
Islamic Online University Tafsir 202
325
Ayat di atas menandakan bahwa iblis berasal dari kalangan malaikat. Juga nampak
diisyaratkan bahwa ia adalah seorang malaikat, karena jika bukan, perintah untuk bersujud
tidak akan berlaku untuknya dan ia tidak akan berbuat dosa ketika tidak menaatinya.
530
Ada
sebagian ulama yang mendukung pandangan bahwa setan berasal dari golongan malaikat. Al
Qurtubi mengatakan:
Ini merupakan pendapat mayoritas ulama seperti, Ibnu ‘Abbas (wafat tahun
688 M) dan Ibnu Mas’ud (wafat tahun 654 M) [dari kalangan sahabat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam]; Ibnu Juraij,
531
Sa’id Ibnu Musayyib,
532
Qatadah
533
dan selain mereka. Ini juga merupakan pendapat yang dipilih oleh
Abul Hasan al-Asy’ari,
534
Ibnu Qudamah
535
dan para ulama terkemuka dari
madzhab Maliki. Ath-Thabari
536
lebih condong pada pendapat ini
530
Pendapat ini disandarkan kepada Ibnu ‘Abbaas, Ibnu Mas‘ud dan para sahabat Nabi (ﷺ) yang lain dalam
sejumlah riwayat yang menggambarkan kehidupan Iblis di antara para malaikat sebelum kemungkarannya
terhadap Allah. Sebagai contoh, diriwayatkan bahwa para sahabat mengatakan, “Ketika Allah selesai
menciptakan apa yang Dia inginkan dan naik di atas ‘Arsy, Dia menunjuk Iblis di antara para malaikat di
surga terendah. Dia berasal dari suku malaikat yang disebut 'Jin', karena mereka adalah penjaga Jannah
(Surga)." (Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, vol. 1, hlm. 55 dan Ahkaam al-Jaann, hlm. 201- 202.)
531
‘Abdul-Maalik bin ‘Abdul-‘Aziz ibn Juraij (699-767 M), seorang ahli hukum (faqih) Mekah, adalah ulama
terkemuka Hijaaz pada masanya dan orang pertama yang menulis karya-karya Islam di Mekah. Meskipun
lahir di Mekah, ia adalah budak yang bebas dari asal Bizantium. (Al-A‘laam, vol. 4, p. 160.)
532
Sa‘id ibn al-Musayyab (634-713 M), seorang Tabi’in terkemuka, adalah di antara tujuh fuqaha terkemuka
Madinah. Beliau adalah seorang ulama dalam ilmu hadits dan fiqh dan dan terkenal dengan sifat zuhudnya.
Beliau juga perawi terkemuka dari dari masa Khalifah 'Umar. (Al-A‘laam, vol. 3, hal. 102.)
533
Qataadah ibn Di‘aamah (680-736 M), buta sejak lahir, adalah ulama hadits terkemuka di masanya di Basrah.
Beliau juga seorang ahli tafsir Al-Qur'an yang sangat dihormati dan filolog Arab. Beliau meninggal di Waasit
karena wabah. (Al-A‘laam, vol. 5, hal. 189.)
534
Abu al-Hasan ‘Ali ibn Ismaa‘il al-Asy‘ari (874-935 M) adalah seorang teolog terkenal, lahir di Basrah.
Hingga usianya yang ke-40, ia adalah murid yang tekun dari faham Mu‘tazilah, al-Jubbaa'i; Namun, studinya
tentang hadits menjelaskan baginya kesalahan pemikiran itu. Dia selanjutnya memperjuangkan pandangan
salaf melawan Mu‘tazilah dan menyusun sejumlah besar karya yang menyangkal pandangan mereka. Jumlah
kitabnya berjumlah sekitar 300. Yang paling signifikan dari karya-karyanya yang diterbitkan adalah al-
Ibaanah Ushul ad-Diyaanah dan Maqaalaat al-Islaamiyyin, katalog aliran sesat, karya pertama dari jenisnya
dalam literatur Islam. (Shorter Encyclopedia of Islam, hlm. 46-47)
535
‘Abdullaah ibn Muhammad ibn Qudaamah (1146-1223 M), lahir di Palestina, menjadi salah satu ahli fiqh
terkemuka di antara para ulama mazhab fiqih Hanbali. Karya-karyanya yang paling terkenal adalah al-Mugni
dalam bidang fiqih, Rawdah an-Naatsir dalam ilmu fiqih. (Al-A‘laam, vol. 4, hal. 66.)
536
Abu Ja‘far Muhammad ibn Jarir at-Thabari (839-923 M), sejarawan dan penafsir Arab, lahir di Amul di
provinsi Tabaristan. Dia melakukan perjalanan secara luas ke Baghdaad, Basrah, Koofah, Suriah dan Mesir
untuk mencari pengetahuan di tahun-tahun awalnya; kemudian dia menghabiskan waktunya terutama
mengajar dan menulis. Syarahnya yang luar biasa tentang Al-Qur'an, Jaami ‘al-Bayaan, Tafsir al-Qur'aan,
adalah karya paling awal dari jenisnya. Karya ini menjadi karya standar yang menarik syarah kemudian.
Karyanya yang besar lainnya adalah 12 volume sejarah dunia, Taarikh al-Umam wa al-Muluk. (Shorter
Encyclopedia of Islam, hlm. 556-557).