ِ
ْ
َ
ﻜﻟا
ِ
ة
َ
ر
ْ
ُ
ُ
ْ
ِ
ْ
َ
Tafsir
Surat Al Kahfi
oleh
Dr. Abu Ameenah Bilal Philips
Islamic Online University Tafsir 202
3
Islamic Online University Tafsir 202
4
SISTEM TRANSLITERASI
أ
ط
th
ب
b
ظ
dzo
ت
t
ع
‘a
ث
ts
غ
gh
ج
j
ف
f
ح
h
ق
q
خ
kh
ك
k
د
d
ل
l
ذ
dz
م
m
ر
r
ن
n
ز
z
ه
h
س
s
ة
ah/t
ش
sy
و
w
ص
sh
ي
y
ض
dh
َ
a
ا
َ
aa
ِ
i
ي
ِ
ii
ُ
U
و
ُ
uu
ي
َ
Ai
و
َ
Au
Islamic Online University Tafsir 202
5
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.
Kita juga berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kita dan dari kejelekan
amalan-amalan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk niscaya tidak ada seorang
pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan niscaya tidak
ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah
yang berhak disembah kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan
saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Hamba dan Utusan-Nya. Amma
ba’du
Penjelasan tentang Surat al-Kahfi, surat ke-18 Al-Qur'an, dimulai sebagai serangkaian
pelajaran yang saya ajarkan kepada keluarga saya di lingkungan belajar Jumat kami selama
bagian akhir tahun 1999. Pelajaran-pelajaran itu direkam dan kemudian ditranskrip oleh
saudara perempuan menantu saya, Yasmin Koya.
Saya kemudian menggunakan catatan itu untuk menyajikan Tafsir Surat al-Kahfi pada
program Tafsir pekanan saya, Memahami Al-Qur'an, di stasiun Televisi Sharjah pada tahun
2000. Selanjutnya, saya berniat untuk menerbitkan komentar ini bersama dengan komentar
lainnya pada beberapa surat dalam Al-Qur'an yang populer seperti Yasin, al-Waaqi'ah, dan al-
Mulk. Sayangnya, tidak satu pun dari komentar ini yang pernah diterbitkan.
Gagasan untuk menerbitkan komentar ini muncul kembali sebagai hasil dari
keputusan untuk menghadirkan Tafsir Surat al-Kahfi sekali lagi. Kali ini disajikan dalam
kelas Tafsir Jumat saya di Qatar Guest Center, Doha, Qatar, yang berlangsung dari bulan
November 2004 hingga September 2005. Namun, komentar ini sangat memperluas versi yang
asli yang dilakukan empat tahun sebelumnya dan yang terutama didasarkan pada Tafsir Ibnu
Katsir. Tafsir ini berisi kedalaman pemahaman yang jauh lebih besar karena saya merujuk
pada sejumlah komentar klasik dan kontemporer lainnya seperti Tafsir milik Al Qurtubi yang
berjudul al-Jaami 'li Ahkaam al-Qur'aan, Kompilasi Ibnul Qayyim, Kitab tafsir milik Abu-
Syaukani yang berjudul Fat'h al-Qadir, Adhwaa ul-Bayaan karya as-Syinqithi, juga Taisir
al-Karim ar-Rahmaan karya Asy Syaikh as-Sa'di, dan Tafsir milik syeikh Al-Utsaimin, al-
Qur'aan al-Kareem. Tafsir ini juga mengandung pemahaman lebih lanjut tentang ayat-ayat
berdasarkan pengalaman pribadi saya dan paparan pengetahuan selama lima tahun di
antaranya.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa saya dari Qatar Guest
Center dan yang lainnya yang telah meluangkan waktu untuk mengedit naskah sebelum
diterbitkan serta semua orang yang telah berkontribusi dalam berbagai cara sehingga karya ini
berhasil diterbitkan. Semoga Allah menerima usaha kita sebagai amal saleh yang ikhlas yang
Islamic Online University Tafsir 202
6
dilakukan demi mendapatkan keridhaan-Nya, dan menjadikan usaha bersama kita ini sebagai
amal baik kita pada Hari ketika harta dan keluarga tidak akan memberikan manfaat
sedikitpun.
Dr. Bilal Philips
Qatar, November, 2004
Islamic Online University Tafsir 202
7
PENDAHULUAN
Nama Surat
Kata kahf berarti “gua” dan kata ini terdapat pada ayat ke 9 dengan lafadz
ُ
بﺎﺤ
ْ
َأ
ِ
ْ
َ
ﻜﻟا
(
as’haab
ul-kahf (makna harfiah sahabat/orang-orang yang menghuni gua). Bagaimanapun
juga, perlu diperhatikan bahwa meskipun bab ini paling umum dikenal dengan nama ini,
sebagian besar nama surat dalam Al-Qur'an tidak disebutkan oleh Nabi () sendiri.
Sebagai akibatnya, dalam beberapa cetakan Al-Qur'an yang terbaru, misalnya surat ke
sembilan bernama at-Taubah, sedangkan pada cetakan lain berjudul al-Baraa'ah. Bahkan,
pernyataan Nabi () dan para sahabat beliau mengenai surat ini menunjukkan bahwa pada
masa sebelumnya surat ini lebih umum disebut sebagai Surat Ashaabul Kahfi. Variasi dalam
nama-nama ini dengan cara apa pun tidaklah mewakili kontradiksi atau perubahan dalam Al-
Quran karena mayoritas judul surat dipilih oleh oleh para sahabat Nabi (ﷺ) dan para ulama
generasi akhir untuk tujuan identifikasi.
Akan tetapi, memang ada beberapa surat di mana Rasulullah
sendiri yang
memberinya nama. Misalnya, surat pertama yang dikenal dengan nama Surat al-Fatihah
(Pembuka) merupakan nama pemberian dari Rasulullah
itu sendiri dan juga dikenal
sebagai “Faatihatul Kitaab” (Pembuka dari Al-Qur'an), “Ummul Kitab” “Suratul Hamd” dan
sejumlah nama lainnya. Nama atau judul ini digunakan untuk menandai surat-surat atau bab-
bab, atau untuk mengetengakan satu atau lebih pokok pembahasan yang penting di dalamnya.
Nama-nama ini tidaklah diwahyukan bersama Al Quran dan yang semacam itu tidak bisa
dianggap sebagai bagian dari Al Quran. Oleh karena itu beragam nama ini dalam cara apapun
tsama sekali tidak mempengaruhi kemurnian dan keaslian teks Al Quran.
Tidaklah hingga abad ke-3 Hijriyah (19 M) kaum Muslimin mulai menuliskan al-
Qur'an dengan nama-nama Surat di dalamnya, memberi nomor pada setiap ayatnya dan
memberi simbol-simbol di pinggirannya sebagai tanda pemisah antara surat dan ayat yang
lain.
1
Ada pula simbol-simbol yang menandakan akhir suatu ayat atau jeda dalam pembacaan
al-Qur'an (termasuk di antaranya simbol ط dan ). Mayoritas ulama pada masa itu awalnya
menentang penambahan hal-hal baru seperti ini dengan alasan khawatir jika simbol-simbol
ini nantinya akan dianggap sebagai bagian dari wahyu al-Qur'an.
1
Misalnya pembagian al-Qur'an menjadi 30 bagian dengan istilah Juz atau pembagiannya dengan nama
Rukuu' yang ditandai dengan huruf 'Ayn ( ع).
Islamic Online University Tafsir 202
8
Al-Halimi, salah seorang Ulama Quraniyah pada masa itu berkata,
"Penulisan al-Qur'an dengan dibagi menjadi sepersepuluh dan
seperlima
2
(bagiannya), nama-nama surat dan penomoran ayat-
ayat dipandang sebagai sesuatu yang buruk dengan merujuk
pernyataan Ibnu Mas'ud, "Janganlah membawa hal-hal yang
baru pada Al-Qur'an." Akan tetapi, penambahan tanda harakat
3
diperbolehkan karena simbol-simbol ini tidaklah memiliki
bentuk yang sama dengan teks al-Qur'an. Tanda-tanda harakat
itu hanyalah untuk memperbaiki bacaan semata dan
penambahan harakat itu sama sekali tidaklah membahayakan
al-Qur'an.”
4
Akan tetapi, beberapa lama kemudian, penentangan dari kaum ulama terdahulu itu
tersingkirkan oleh kehendak mayoritas kaum muslimin pada masa itu sehingga penambahan
simbol dan penomoran ayat al-Qur'an menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja.
Tempat dan Waktu Diturunkan
Tidak ada hadits-hadits yang sahih yang menjelaskan kapan dan dimana surat ini
diturunkan. Akan tetapi, kebanyakan ulama Tafsir menyimpulkan berdasarkan inti pokok
pembahasan surat dan dari coraknya bahwa surat ini termasuk kedalam surat-surat Makkiyah
[surat-surat yang turun sebelum peristiwa Hijrah].
5
Sebagian ulama tafsir lainnya
berpendapat bahwa surat ini termasuk surat Makkiyyah kecuali ayat 1-8, 28 dan 107-110
yang mereka anggap sebagai Madaniyah.
6
2
Misalnya, setara dengan sepersepuluh dari al-Qur'an dan seperlima dari al-Qur'an.
3
Ahli Bahasa Arab, Abul Aswad ad-Du'ali (wafat 638 M) diriwayatkan telah menasehati Khalifah ke-4, 'Ali,
agar penandaan vokal harus diikut sertakan dalam penulisan al-Qur'an agar tidak terjadi kesalahan dalam
pembacaan al-Qur'an dan sedikit saja kesalahan dalam pengejaan huruf maka dapat merusak makna al-Qur'an
itu. Simbol-simbol yang ia kembangkan tidaklah sama dengan simbol-simbol yang ada seperti sekarang ini.
Fathah atau vokal "a" ditandai dengan satu titik di bagian atas di awal huruf; Kasrah atau vokal "e" dan "i"
ditandai dengan satu titik di bagian bawah di awal huruf, Dhomma atau vokal "u" ditandai dengan titik diakhir
huruf. (Mabaahith fi 'Ulumul Qur'an hlm. 150-151)
4
Mabaahith fi 'Ulumul Qur'an, hlm. 150-153.
5
Tafsir al-Qurthubi, jilid 15, hlm. 3.
6
Ayat-ayat Makkiyyah didefinisikan sebagai semua ayat dan surat Al Quran yang diturunkan kepada Nabi
() sebelum hijrah beliau ke Madinah (Hijrah 622 M). Yang termasuk pada kategori ini juga ayat-ayat yang
Islamic Online University Tafsir 202
9
Ibnu Katsir menukil riwayat yang dikeluarkan oleh At Tabari dalam tafsirnya
7
dari
Ibnu Abbas di mana ia mengatakan bahwa orang-orang Quraisy mengutus an-Nadr ibn al-
Haarits dan ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith kepada para rabi Yahudi di Madinah. Kaum Quraisy
mengatakan kepada utusan itu, “Tanyakanlah pada mereka tentang Muhammad, jelaskan
sifat-sifatnya, kabarkan mereka tentang ucapannya, sesungguhnya mereka adalah ahli kitab
yang pertama dan mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki.”
Kedua utusan itu pergi ke Madinah kemudian bertanya kepada para rabbi Yahudi
tentang Rasulullah () lalu menggambarkan perintahnya dan sebagian ucapannya.
Para rabbi itu kepada utusan itu, “Tanyakanlah pada Muhammad tentang tiga hal.
Kalau dia dapat menjawab pertanyaan itu maka dia benar-benar nabi yang diutus itu. Jika
tidak, dia bohong. Pertama, tentang para pemuda yang pergi di zaman dahulu, bagaimana
keadaan mereka, mereka mengalami kejadian yang hebat. Kedua, tentang seorang lelaki yang
melakukan perjalanan mengelilingi bumi, bagaimana ceritanya. Ketiga, tanyakan tentang roh,
apakah roh itu.” Para rabbi ini memberitahu mereka jika ia dapat mengabarkan tentang tiga
hal ini, ia sungguh seorang nabi dan mereka harus mengikutinya. Jika ia tidak mampu,
mereka dapat melakukan apapun yang mereka kehendaki terhadapnya.
An Nadhr dan Uqbah kemudian kembali dan menemui orang Quraisy, mereka berkata,
“Wahai penduduk Quraisy, kami datang membawa hal-hal yang membedakan antara kamu
dan Muhammad. Para rabbi Yahudi itu telah memerintahkan kami agar bertanya pada
Muhammad tentang tiga hal.” Keduanya lalu menceritakan hal-hal itu. Kemudia mereka
mendatangi Rasullah () dan menanyakannya.
Rasulullah () berkata, “Akan kukatakan apa yang kamu tanyakan besok.”
Kemudian beliau pergi tanpa mengucapkan in syaa Allah. Rasulullah () berdiam diri
selama lima belas malam, tetapi Allah tidak juga menurunkan wahyu, Jibril pun tidak
mendatanginya.
diturunkan di Tha’if, juga ayat-ayat lain yang diturunkan di luar Makkah. Ayat-ayat Madaniyah adalah semua
ayat dan surat Al Quran yang diturunkan setelah Hijrah. Ini termasuk ayat-ayat yang diturunkan selama
peperangan, juga yang diturunkan di Makkah dan Mina selama
selama dan setelah Haji Wada’ (Al-Itqaan, vol.
1, p. 23).
Pendapat terkait ayat-ayat ini berdasarkan pada riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Qataadah dan Muqaatil.
(Zaad al-Maseer, vol. 5, hal. 102)
7
Tafsir at-Tabari, vol. 8, hal 174-5. Akan tetapi sanad riwayat ini tidak shahih karena identitas guru Ibnu Ishaq
tidak diketahui.
Islamic Online University Tafsir 202
10
Penduduk Mekah kemudian mulai menyebarkan gosip dan memperolok-olokkan Nabi
(), “Muhammad menjanjikan kita besok dan sekarang sudah lima belas hari dan dia
belum mengatakan kepada kita apapun tentang hal-hal yang kita tanyakan.” Ditundanya
wahyu ini makin membuat sedih Rasulullah dan apa yang dikatakan penduduk Mekah
terasa berat untuk dipikul.
Akhirnya, Jibril datang dengan membawa surat Al Kahfi, yang mengobati kesedihan
Rasulullah dan menjawab pertanyaan mereka tentang pemuda dan lelaki yang melakukan
perjalanan, dan Firman Allah, “Dan apabila mereka bertanya kepadamu tentang roh,
katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan, melainkan sedikit.” (Al Isra’: 85)
8
Riwayat ini dinukil pada hampir semua kitab tafsir klasik sebagai sebab turunnya
wahyu yaitu surat ini serta sejumlah ayat-ayatnya. Akan tetapi riwayat ini tidak shahih.
Keutamaan Surat Al Kahfi
Surat ini adalah surat yang terkenal di kalangan kaum Muslimin karena banyak
keutamaan-keutamaan jika membacanya berdasarkan apa yang disabdakan oleh Nabi .
Akan tetapi, sebagian dari keutamaan-keutamaan benar sementara ada juga sebagian lainnya
yang dipalsukan dan disandarkan kepada Nabi . Hadits-hadits berikut ini shahih terkait
dengan surat Al Kahfi.
1. Diselimuti Ketenangan
Ketika Ketika Al-Qur'an dibacakan, ketenangan akan turun pada mereka yang
membacanya. Al-Baraa dinukil pernah mengatakan bahwa ada seorang laki-laki
9
yang
membacakan Surat al-Kahfi ketika ada seekor binatang yang berada di dalam rumahnya dan
hewan itu menjadi gelisah. Ketika dia melihat sekeliling, dia melihat ada awan melayang di
atasnya. Ketika dia memberi tahukan hal ini kepada Rasulullah
bersabda, “
8
Tafsir Ibnu Katsir, vol. 6, hal. 112-4.
9
Namanya adalah Usaid ibn al-Hudair menurut Hadits tentang keutamaan Surat al-Baqarah.
Islamic Online University Tafsir 202
11
نآﺮﻘﻟا ﺖ
َ
ﺰﻨﺗ
ْ
وأ
ِ
نآ
ْ
ُ
ﻘﻠﻟ ﺖﻟﺰﻧ
ُ
َ
ﻨﻴ
ِ
ﺴﻟا ﺎ
ّ
ﺈ
َ
ُ
نﻼ
ُ
ْ
أ
َ
ْ
ـﻗا
Wahai Fulan, teruslah membaca, sesungguhnya itu adalah ketenangan (sakinah) yang
turun ketika Al Quran dibaca atau karena Al Quran dibaca.”
10
Ketenangan ini hanya akan dirasakan oleh mereka yang membaca Al Quran dengan
benar. Ketika membacanya ia juga harus melakukannya diiringi dengan merenungi makna
dari firman Allah, sebagaimana Allah mengingatkan:
 
“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati
mereka terkunci?” (QS. Muhammad 47: 24)
11
Selain itu, Al Quran juga harus dibaca dengan penuh keikhlasan sehingga bisa berpengaruh
pada jiwa dan pikiran.
2. Perlindungan dari Dajjal
Nabi Muhammad () telah memperingatkan kepada umatnya tentang Dajjal yang akan
datang menjelang hari Kiamat. Beliau memberitahukan kepada mereka bahwa Dajjal akan
menjadi fitnah terbesar yang akan dihadapi oleh umatnya. Beliau selanjutnya menasehati
bahwa barang siapa yang menghafal dan membaca sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat
terakhir dari Surat Al Kahfi maka ia akan dilindungi dari Dajjal. Abu Dardaa meriwayatkan
bahwa Nabi bersabda,
»
ﺪﻟا
َ
ِ
َ
ِ
ُ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ة
َ
ر
ُ
ِ
ل
و
َ
أ
ْ
ِ
ٍ
تﺎ
َ
ﻳآ
َ
ْ
َ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
لﺎ
«
“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan
terlindungi dari (fitnah) Dajjal.”
12
10
Sahih Muslim, vol. 1, p. 382, no. 1740 dan Sahih Al Bukhari, vol. 4, pp. 520-1, no. 811.
11
Lihat pula QS. An Nisa 4: 82
Islamic Online University Tafsir 202
12
Pada kesempatan yang lain Abu Dardaa menukil bahwa Nabi bersabda,
»
ِ
ﺧآ
ْ
ِ
ٍ
تﺎ
َ
ﻳآ
َ
ْ
َ
ﻋ أ
َ
َ
ـﻗ
ْ
َ
ِ
َ
ِ
ُ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
لﺎ
ﺪﻟا
َ
ِ
«
“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan
terlindungi dari (fitnah) Dajjal.”
13
3. Sumber Cahaya
Pada kesempatan lain Abu Darda’ menyebutkan bahwa Nabi bersabda,
))
ِ
ْ
َ
ﻜﻟا
َ
ة
َ
ر
ْ
ُ
َ
أ
َ
َ
ـﻗ
ْ
َ
ِ
َ
ْ
ُ
ﳉا
ِ
م
َ
ﻳ ﰲ((
ِ
ْ
َ
ـﺘ
َ
ْ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺑ
َ
و
ُ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ ﺎ
َ
ِ
رﻨﻟا ﻦﻣ
ُ
َ
َ
ءﺎ
َ
ﺿ
َ
أ
“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, akan bersinar baginya
cahaya di antara dua Jum’at”
14
Selain itu, pada kesempatan lain, Abu Darda’ juga mengutip sabda Nabi ﷺ,
ْ
َ
َ
َ
َ
ِ
إ
ِ
ِ
ﻣﺎ
َ
َ
ْ
ِ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ ا
ً
ر
ْ
ُ
ـﻧ
ُ
َ
ْ
َ
ﻧﺎ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
ُ
أ ﺎ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ة
َ
ر
ْ
ُ
َ
أ
َ
َ
ـﻗ
“Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi sebagaimana diturunkan, maka ia akan
mendapatkan cahaya pada Hari Kiamat dari tempat berdirinya hingga Makkah”
15
12
Sahih Muslim, vol. 2, pp. 386-7, no. 1766. Juga dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i.
Akan tetapi, diriwayatkan oleh At Tirmidzi dengan lafadz, “Barang siapa yang menghafal tiga ayat dari awal
surat Al Kahfi...” Riwayat ini shahih.
13
Sahih Muslim, Jilid 2 hal 387, no. 1767. Diriwayatkan pula oleh An Nasa’i
14
Mustadrak Al Hakim, Jilid 2 no. 368 dan Sunan Al Baihaqi, Jilid 3 no. 249 dan dishahihkan dalam shahih
jami’ush shaghir, no. 6470.
15
Mustadrak al-Haakim, vol. 1, no. 564, Syu‘ab al-Iman, no. 2446 dan an-Nasaa’i dalam al-Kubraa, no. 10788
dan dishahihkan dalam Sahih at-Targhib, no. 735 dan Irwaa al-Ghalil, no. 626.
Islamic Online University Tafsir 202
13
4. Akan Diampuni Dosanya
Ibnu
Umar
meriwayatkan
dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, Barang s
iapa
yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah
kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya
antara dua jumat.”
Akan tetapi Ibnu Katsir menyebutkan bahwa penyandaran riwayat ini kepada Nabi
diragukan dan akan lebih telat jika riwayat ini dianggap sebagai pernyataan Ibnu Umar.
16
16
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (Miskat al Masabih, Jilid 1, hal. 456) dan dishahihkan dalam Shahih Sunan at-
Tirmidzi jilid 3, hal 6, bo. 2316.
Islamic Online University Tafsir 202
14
Surat Al Kahfi (Penghuni-Penghuni Gua) 18
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
﴿

1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya
Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di
dalamnya
Allah azza wajalla memulai surat ini dengan memuji diri-Nya dengan firman-Nya,
“Segala puji bagi Allah” karena Dia-lah sumber segala rahmat dan kebaikan. Memuji diri
sendiri adalah perbuatan yang tercela di antara manusia karena mereka memiliki kekurangan
dan kelemahan yang lebih jauh banyak jika dibandingkan dengan sifat terpujinya. Allah
melarang makhluknya untuk memuji diri sendiri melalui firman-Nya,

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. (QS. An Najm 53: 32)
Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad menggambarkan keadaan yang selalu
salah, dengan sabda-Nya:
َ
ن
ْ
ُ
ـﺑا
ـﺘﻟا
َ
ْ
ِ
ﺋﺎ
َ
ْ
ﳋا
ُ
ْ
ـﻴ
َ
َ
و
ٌ
ءﺎ
َ
َ
م
َ
دآ
ِ
َ
ُ
Islamic Online University Tafsir 202
15
Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan
adalah yang bertaubat”
17
Lebih lanjut lagi, kualitas baik atau sifat berharga apa pun yang dimiliki manusia
adalah karunia dari Allah dan bukan dari diri mereka sendiri. Namun, karena Allah itu Maha
Sempurna dan semua kebaikan datang dari-Nya, memuji diri sendiri sehubungan dengan diri-
Nya bukanlah sifat buruk tetapi kebajikan dan hak. Begitu pula bahwa kerendahan hati akan
menjadi kekurangan relatif bagi Allah tetapi suatu kebajikan relatif bagi makhluk-Nya.
Demikian juga nama-nama lain seperti al-Mutakabbir (sombong) dan sifat seperti makar
Allah (tipu daya Allah) yang dalam konteks manusia adalah kejahatan, dalam hubungannya
dengan Allah mereka semua adalah kebajikan. Misalnya, dalam pernyataan Allah:



“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal 8: 30)



Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat
dengan sebenar-benarnya. Dan akupun membuat rencana (pula)
dengan sebenar-benarnya.” (QS. Ath Thariq 86: 15-16)


“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka.” (QS. An Nisa 4: 142)
Sifat ini menunjukkan kesempurnaan ketika ia sebagai balasan untuk sesuatu yang
serupa karena itu menunjukkan bahwa pemilik sifat itu tidak lemah dan tidak berdaya untuk
melakukan hal yang sama kepada musuhnya. Ini juga menunjukkan kekurangan dan
ketidaksempurnaan dalam situasi lain selain ini. Jadi sifat ini ditegaskan untuk Allah dalam
17
Sunan ibnu Majah, At Tirmidzi, Ahmad dan Ad Daarimi, dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, Jilid
2, hal. 418, no. 3428.
Islamic Online University Tafsir 202
16
kasus pertama dan ditiadakan dalam kasus yang terakhir. Jika ditanya, misalnya: “Dapatkah
Allah digambarkan bahwa Dia berkomplot?” Jangan katakan ya atau tidak. Akan tetapi
katakanlah bahwa Dia berkomplot melawan mereka yang pantas mendapatkannya, dan Allahu
a’lam.
18
“Segala puji bagi Allah,” berarti bahwa semua syukur hanya milik Allah semata dan bukan
milik benda atau makhluk yang disembah selain Dia. Bersyukur atas pertolongan dan karunia
Allah yang tak terhitung banyaknya yang jumlahnya hanya diketahui oleh-Nya. Karunia Allah
termasuk menciptakan cara-cara yang dengannya setiap makhluk menyembah-Nya, Allah
menciptakan raga yang dengannya makhluk-Nya memenuhi perintah-Nya, rezeki yang
diberikan-Nya kepada mereka dalam kehidupan ini, dan kehidupan yang nyaman yang
diberikan-Nya kepada mereka, tanpa ada orang atau apapun yang memaksa-Nya untuk
melakukannya. Allah juga memperingatkan ciptaan-Nya tentang cara agar mendapatkan
kehidupan abadi di tempat kebahagiaan abadi. Semua syukur dan pujian hanya bagi Allah
karena segala kenikmatan ini dari awal sampai akhir.
19
"Allah memuji diri-Nya sendiri yang menunjukkan kepada makhluk-Nya bahwa
mereka juga harus memuji Dia. Seolah-olah Allah berfirman: ‘Katakanlah: Semua syukur dan
pujian hanya bagi Allah.’ Juga dikatakan bahwa “Segala puji bagi Allah” terkandung di
dalamnya memuji-Nya dengan menyebutkan Nama-Nama-Nya yang paling indah dan sifat-
sifat-Nya yang Paling Mulia.”
20
Makna Al Hamd
Al-hamd (pujian/syukur) dapat diartikan sebagai menggambarkan seseorang yang dipuji
dengan kesempurnaan sebagai ungkapan cinta dan pemuliaan. Istilah mad'h (pujian) tidak
selalu menyiratkan cinta dan kekaguman/pemuliaan karena seseorang bisa jadi memuji
18
19
Tafsir Ath Thabari, Jilid 1, hal. 135
20
Ibid, Jilid 1, hal. 137
Islamic Online University Tafsir 202
17
seorang yang tidak berharga dengan harapan untuk memberoleh sedikit keuntungan/manfaat
atau berusaha untuk menjauhkan sebagian dari kejelekan yang menimpanya.”
21
Perbedaan antara Hamd dan Syukr
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa perbedaan antara hamd (pujian/syukur) and syukr
(terimakasih) adalah bahwa hamd sifatnya lebih umum dalam artian hamd merupakan
pernyataan yang memuji sifat seseorang, atau berterimakasih atas apa yang telah dilakukan
seseorang. Sebaliknya syukr hanyalah terimakasih atas apa yang telah dilakukan oleh
seseorang, bukan karena sifat yang ada padanya.
22
Lillaah: Allah adalah nama Allah yang semestinya, hanya digunakan untuk-Nya dan bukan
untuk siapa pun atau apa pun selain-Nya. Ini adalah nama yang berlaku untuk Dzat-Nya yang
suci.
23
Keberatan untuk memanggil-Nya dengan nama "Allah" tidaklah berdasar, terlepas dari
kenyataan bahwa istilah itu dapat dibuat jamak (Dewa), feminin (dewi) dan majemuk (ayah
baptis), karena al-Ilaah adalah salah satu dari sifat-Nya dan itu artinya hanyalah
"Illah/sesembahan" dan dapat dibuat jamak, feminin, dan sebagainya. Para ulama ahli Bahasa
Arab berbeda pendapat tentang asal usul kata ini. Sebagian menyimpulkan bahwa itu adalah
istilah yang sudah tetap (asl) dan bukan turunan dari istilah lain, sementara yang lain
berpendapat bahwa itu adalah singkatan dari al-Ilaah.
Keutamaan al-Hamdu lillaah
1. Doa yang Paling Utama
Kalimat al-hamdulillaah sesungguhnya merupakan doa yang mengandung puji-pujian dan
syukur yang ditujukan kepada Allah. Shalat wajib lima waktu semuanya dimulai dengan doa
ini yakni dalam surat pertama, al-Faatihah. Jika shalat dilaksanakan tanpa membaca surat
ini, shalat itu batal dan tidak sah. Lebih lanjut lagi, Nabi memuliakan kalimat al-
hamdulillaah pada kedudukan sebagai sebaik-baik doa. Jaabir ibn ‘Abdillaah meriwayatkan
bahwa Rasulullah bersabda,
((
ِ
ﷲ ﺪ
ْ
َ
ﳊا ءﺎﻋ
ﺪﻟا
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
و ,ﷲا ﻻإ
َ
َ
ﻟإ ﻻ
ِ
ﺮﻛ
ﺬﻟا
ُ
َ
ْ
َ
أ))
21
Tafsir Al Quraanul Karim, hal. 7
22
Tafsir Ibnu katsir, Jilid 1, hal. 70
23
Tafsir Al Quraanul Karim, hal. 8
Islamic Online University Tafsir 202
18
Dzikir yang paling utama adalah lafadz ‘Laa ilaha illallah’ dan doa yang paling
utama adalah ‘alhamdulillah'”
24
2. Bersyukur atas Nikmat-Nya
Allah menjelaskan bahwa bersyukur atas nikmat itu sendiri mengandung sebab ditambahnya
nikmat yang diberikan. Dia azza wa jalla berfirman,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu.” (QS. Ibraahim, 14: 7)
Anas ibn Maalik juga meriwayatkan dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda,
َ
نﺎ
َ
ِ
إ ،
ِ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا :
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ ،
ً
َ
ْ
ِ
ٍ
ْ
َ
ﻋ ﻰ
َ
َ
َ
ﱃﺎ
َ
َ
ـﺗ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
ْ
ـﻧ
َ
أ ﺎ
َ
َ
َ
َ
أ ﺎ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ ﻰ
َ
ْ
َ
أ ي
ِ
ﻟا
“Tidaklah Allah ta’ala memberi nikmat kepada seorang hamba dengan
suatu nikmat lalu ia mengucapkan Alhamdulillah’ kecuali ia akan
diberikan dengan yang lebih baik dari pada yang telah ia terima”
25
Di antara Tempat-tempat disyariatkan untuk membaca Alhamdulillah
Karena besarnya keutamaan terkait dengan memuji Allah melalui doa ini, Nabi
biasa
menyebutkannya dalam berbagai doa harian beliau.
26
24
Sunan Ibnu Majah, At Tirmidzi, Ahmad dan Al Muwatta, dan disahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah,
Jilid 2, Hal. 418, no. 3428.
25
Sunan Ibnu Majah, dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, Jilid 2, hal. 418, no. 3428.
26
Berikut ini adalah sebagian contohnya:
1. Ketika bangun tidur
َ
لﺎ
َ
ﻗ ﻪﻨﻋ ﷲا ﻲﺿر
ِ
نﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ْ
َ
Islamic Online University Tafsir 202
19
َ
أ ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
نﺎ
َ
ِ
ِ
ﺷا
ِ
ﻓ ﱃإ ىو
َ
لﺎ
َ
))
ُ
ت
ُ
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ْ
ﲰﺎ
ِ
َ
ْ
َ
أ
َ
و(( ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
و َ مﺎ
َ
َ
لﺎ))
ُ
ر
ُ
ﻨﻟا
ِ
ْ
َ
ِ
إ
َ
و ﺎ
َ
َ
ـﺗﺎ
َ
َ
أ ﺎ
َ
َ
ْ
َ
ـﺑ ﺎ
َ
ﻧﺎ
َ
ْ
َ
أ ي
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا((
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan:
‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan
aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan:
“Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji
bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya
lah tempat kembali).”
(Shahih Bukhari, Kitab Ad Da’waat, Bab: maa ya qoolu idza
nama)
2. Ketika selesai makan
ﻦﻋ
ِ
ﻨﻟا
ن
ّ
أ
َ
ﺔﻣﺎﻣ
ُ
أ
ِ
ﰊأ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
َ
لﺎ
َ
ﻗ ﻪﺗﺪ
ِ
ﺋﺎ
َ
ﻣ ﻊﻓر اذإ نﺎﻛ
أ ))
ً
َ
ْ
َ
ـﺘ
ْ
ُ
ﻣ ﻻو ،
ٍ
ع
د
َ
ُ
ﻣ ﻻو
ِ
ْ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ﻏ ،
ِ
ﻪﻴ
ِ
ً
ﺎﻛ
َ
رﺎ
َ
ُ
ً
ﺎﺒ
َ
ً
ا
ِ
َ
ِ
ﻪـﻠﻟ
ُ
ْ
َ
ﺤـﻟ
ْ
َ
َ
ـﺑ
َ
ر
ُ
((
Dari Abu Umamah, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai
makan mengucapkan
“Alhamdulillahi katsiran thayyiban mubarakan fiihi ghaira
makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu rabbana” (Segala puji
bagi Allah dengan pujian yang banyak dan penuh berkah meski bukanlah pujian
yang mencukupi dan memadai, dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.)”
(Shahih Al Bukhari Kitab Ath’imah Bab: Maa Yaqaalu idza faragha min tha’aamih)
3. Setelah bersin
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
:
ُ
ُ
ِ
ﺣﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ُ
ُ
ﺧأ
ُ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻴ
ْ
َ
و ،
ِ
ُ
ْ
َ
ﳊا :
ْ
ُ
َ
ـﻴ
ْ
َ
ـﻓ
ْ
ُ
ُ
َ
ﺣأ
َ
َ
َ
ﻋ ا
َ
ذ
ِ
إ
ﷲا
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ُ
َ
ﻟﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
َ
و
ُ
ﷲا
ُ
ُ
ﻜﻳ
ِ
ْ
َ
ـﻳ :
ْ
ُ
َ
ـﻴﻠ
َ
ﻓ ،
ُ
ﷲا
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
:
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
ﻗ ا
َ
ذﺈﻓ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Jika seseorang di antara kalian bersin, maka ucapkanlah
‘alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Hendaklah saudaranya mengucapkan
yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Jika ia mengucapkan yarhamukallah,
ucapkanlah yahdikumullah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan
petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (Shahih Al Bukhari Kitab Adab, Bab: Idza
athsa kaifa yashmut)
Islamic Online University Tafsir 202
20
“Yang telah menurunkan kepada hamba-Nya.” Allah ‘azza wa jalla, menggambarkan
Nabi Muhammad
sebagai hamba-Nya (‘abdihi), meskipun semua makhluk adalah
hamba-Nya, karena beliau adalah hamba Allah yang paling mulia dari semua umat manusia.
Allah menggambarkan Nabi
menggunakan istilah ini dalam tiga keadaan:
1. Ketika menggambarkan diwahyukannya Al Quran kepada beliau, seperti dalam ayat
ini.
2. Ketika berbicara untuk membela beliau,
3. Pada saat peristiwa isra’ mi’raj, sebagaimana Allah berfirman,
 

4. Ketika melihat orang yang terkena musibah
َ
َ
ُ
ْ
َ
ٍ
ء
َ
َ
َ
ِ
ﺣﺎ
َ
ى
َ
أ
َ
ر
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
َ
َ
َ
ْ
ِ
ٍ
ِ
َ
َ
َ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ِ
َ
ك
َ
َ
ْ
ـﺑا
ِ
ِ
ﱐﺎ
َ
ﻓﺎ
َ
ي
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
إ
ً
ﻼﻴ
ِ
ْ
َ
ـﺗ
َ
شﺎ
َ
ﻋ ﺎ
َ
َ
نﺎ
َ
َ
ﻣ ﺎ
ً
ِ
ﺋﺎ
َ
ِ
ء
َ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
ذ
ْ
ِ
َ
ِ
ُ
Dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang melihat orang yang tertimpa musibah kemudian
mengucapkan; Al HAMDULILLAAHILLAADZII 'AAFAANII
MIMMAABTALAAKA BIHI WA FADHDHALANII 'ALAA KATSIIRIN MIMMAN
KHALAQA TAFDHIILAN (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku
dari musibah yang diberikan kepadamu, dan melebihkanku atas kebanyakan
orang yang Dia ciptakan) kecuali ia diselamatkan dari ujian tersebut, apapun
hal tersebut selama ia masih hidup". (Shahih Sunan At Tirmidzi, Kitab: Ad
Da’waat, Bab: Ma yuqaalu idza ra a mubtali)
Islamic Online University Tafsir 202
21
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu
malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Israa 17:1)
Yakni, kedudukan Nabi
yang paling mulia yang Allah gambarkan sebagai hamba-Nya.
Penggambaran yang paling dirahmati bagi seorang manusia adalah sebagai “hamba Allah.”
27
“Al Kitab” di sini terutama merujuk pada Al Quran, meskipun yang dimaksud Al Kitab
(kitab suci) pada umumnya mengacu pada semua kitab suci yang diturunkan. Maka, Allah
memuji diri-Nya sendiri dengan menurunkan Kitab-Nya yang mulia kepada Rasul-Nya
yang Mulia karena ini adalah rahmat terbesar yang Dia karuniakan kepada penduduk bumi.
Melalui Al Quran, Dia mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada cahaya.”
28
“Dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya.”
Allah kemudian menggambarkan Kitab itu dengan dua karakteristik yang mengandung
kesempurnaan dari semua sisi: karakteristik-karakteristik tersebut yaitu: meniadakan darinya
kebengkokan (penyimpangan) dan menegaskan kebenarannya. Meniadakan penyimpangan ini
mengharuskan bahwa suatu informasi itu bebas dari kebohongan, dan perintah atau
larangannya bebas dari kezhaliman atau kesembronoan. Penegasan atas kebenarannya
menuntut bahwa itu hanya memberi informasi tentang masalah yang paling penting dan
memerintahkan pada yang paling penting; informasi yang memenuhi hati dengan pemahaman,
keyakinan dan alasan, misalnya, informasi tentang nama, sifat dan perbuatan Allah, dan
informasi tentang masa lalu dan masa depan. Perintah dan larangan-Nya memurnikan,
meninggikan dan menyempurnakan jiwa-jiwa karena mengandung keadilan, kelayakan dan
27
Tafsir Al Quranul Karim, hal. 8
28
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, Hal. 111.
Islamic Online University Tafsir 202
22
ketulusan yang sempurna, dan penghambaan kepada Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu
bagi-Nya. Itu sesuai dengan kitab suci yang digambarkan sebagai kitab yang sempurna yang
Allah memuji diri-Nya sendiri karena wahyu di dalamnya dan makhluk-Nya memuji-Nya
karena itu.”
29
Az-Zujaaj mengatakan bahwa ayat ini berarti bahwa Dia tidak memasukkan
kontradiksi apa pun di dalamnya sebagaimana yang Dia firmankan,



“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau
kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisa 4: 82)
30
Tidak ada penyimpangan dalam maknanya yang akan menyesatkan manusia seperti
yang dapat ditemukan, misalnya, dalam Alkitab Perjanjian Lama. Dalam kitab-kitab Taurat
dan kitab-kitab lain yang disandarkan kepada para nabi, dimana para rasul Allah dijelaskan
dalam istilah yang paling rusak. Nabi Ibrahim digambarkan sebagai seorang pemabuk, Nabi
Luth digambarkan melakukan hubungan zina dengan putri-putrinya, Nabi Daud digambarkan
melakukan perzinahan, dan Nabi Sulaiman sebagai penyembah berhala di masa tuanya, ini di
antara sebagian kecil contohnya. Beberapa cendekiawan Kristen dan Yahudi mencoba
menjelaskannya dengan mengklaim bahwa itu hanya menunjukkan bahwa para nabi adalah
manusia dan hal-hal ini wajar terjadi dalam kehidupan manusia. Namun, teks-teks ini tidak
mengandung panduan, tetapi kesesatan dan pada akhirnya berfungsi sebagai pembelaan
terhadap kerusakan. Ketika penginjil terkenal, Jimmy Swaggart, difoto pada tahun delapan
puluhan ketika ia datang dari sebuah rumah pelacuran dengan memeluk pelacur di lengannya,
ia mengutip teks-teks Perjanjian Lama tentang "dosa-dosa" para nabi sebagai pembelaannya.
Dalam kitab suci Hindu, kisah-kisah tentang kegiatan inkarnasi Tuhan (avatar)
mencapai tingkat ekstrem yang absurd. Dalam Govindpuran, Krishna, penjelmaan dewa,
digambarkan seperti sedang bergaul dengan wanita dan mempermainkan mereka dengan
menyembunyikan pakaian mereka ketika dia menemukan mereka berenang telanjang di
29
Taisir Karimir Rahman, hal. 645.
30
Fathul Qadir, Jilid 3, Hal. 374
Islamic Online University Tafsir 202
23
danau. Dalam Ramayana, istri Rama, inkarnasi dewa lainnya, diculik oleh Rahwana, dewa
iblis, dan dibawa ke Sri Lanka. Butuh 12 tahun bagi Rama untuk membawanya kembali. Dia
dibantu oleh Hanuman, dewa penguasa monyet, untuk membangun jembatan mitos dari India
ke Sri Lanka. Dalam Shivpuran, Dewa Siwa, dewa kehancuran, secara tidak sengaja
memenggal kepala putranya, Ganesha, dan kemudian ia menghilangkannya. Dia kemudian
mengganti kepala putranya dengan kepala gajah muda dan dengan cara itu lahirlah dewa
keberuntungan kepala gajah, Ganesha..
Dengan demikian, Al-Quran sedikit pun tidak mengandung kerusakan, kekejian
ataupun dorongan untuk berbuat keji, sebagai gantinya, apa yang digambarkan dalam kisah
para nabi mengangkat mereka ke puncak iman dan kebenaran yang mereka capai. Dengan
demikian, merebut kembali status mereka sebagai penuntun dan teladan bagi umat manusia
yang Allah pilih untuk menerima wahyu-Nya.
Islamic Online University Tafsir 202
24









2. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang
sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada
orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa
mereka akan mendapat pembalasan yang baik.

Asy Syaukani menjelaskan bahwa, “Sebagai bimbingan yang lurus,” dapat merujuk pada
kelurusan Kitab yang tidak mengandung penyimpangan, atau bisa juga yang dimaksud adalah
kitab tersebut amat penting bagi kesejahteraan makhluk baik dalam kehidupan di dunia ini
atau di akhirat, atau sebagai penjaga dan penjamin bagi kitab-kitab suci yang diturunkan
sebelumnya. Menurut makna pertama Al Quran menjadi penegas bagi ditiadakannya
penyimpangan karena sesuatu yang kelihatannya lurus mungkin tidak sepenuhnya bebas dari
kebengkokan apa pun.
31
Dia meniadakan adanya kesalahan terlebih dahulu, kemudian Dia
menegaskan kesempurnaannya.
32
Syaikh Al Utsaimin menjelaskan bahwa, untuk memperingatkan siksaan yang
sangat pedih dari sisi Allah” dapat bermakna baik, “hamba yang memberi peringatan,” atau
bisa juga, “kitab suci yang memberi peringatan”
33
Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa, “siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah,”
maknanya adalah Dia telah menetapkan kadarnya (qadar) dan menetapkannya (qada) bagi
31
Fathul Qadir, Jilid 3, Hal. 374
32
Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa akhir pembacaan ayat ini haruslah pada, ’iwajan (kebengkokan)
meskipun qayyiman (bimbingan yang lurus) berhubungan dengan apa yang datang setelahnya, karena jika
dibaca bersama-sama keduanya akan berarti, “Dia tidaklah meletakkan di dalamnya kebengkokan apa pun
yang bernilai.”
33
Tafsir Al Quranul Karim, hal. 9.
Islamic Online University Tafsir 202
25
siapa saja yang menentang perintah-Nya. Siksaan ini meliputi siksaan di dunia ini dan di
akhirat kelak. Dan termasuk dari rahmat-Nya adalah Dia menakut-nakuti hamba-hamba-Nya
dan memperingatkan mereka dari apa yang akan mencelakakan dan membinasakan mereka.
Sebagaimana yang Allah sebutkan ketika menggambarkan tentang Neraka dalam Al Quran,
Dia berfirman,









“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah
merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah
mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah
kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (QS. Az Zumar 39: 16)
Karena rahmat-Nya bagi para hamba-Nya-lah Dia membatasi siksaan yang pedih itu
hanya bagi mereka yang menentang perintah-Nya dan Dia menerangkan bahwa karena
mereka jugalah sebab yang mengarah kepada siksaan itu.”
34
Syaikh As Sa’di menjelaskan, dan memberi berita gembira kepada orang-orang
yang beriman, yang mengerjakan amal saleh,” “Yakni, Allah menurunkan kitab suci
kepada hamba-Nya sehingga ia dapat memberi kabar gembira kepada orang-orang yang
beriman yang keimanannya menjadi sempurna kepadanya, dan kepada para rasul dan kitab-
kitab suci. Dan Dia juga kepada orang-orang yang mengerjakan amal shalih baik itu wajib
atau sunnah, yang menggabungkan dalam amalannya antara keikhlasan dan ketakwaan.”
35
Syaikh Al Utsaimin menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman, yang
mengerjakan amal saleh,” menandakan bahwa harus ada amal shalih yang mengiringi iman.
Iman sendiri tidaklah cukup. Karena itulah, banyak di antara para ulama salaf ketika ditanya,
“Bukankah kuncinya surga adalah kalimat laa ilaaha illallah?” Artinya barang siapa yang
membawanya surga akan dibukakan untuknya. Ulama salaf itu akan menjawab, “Benar,
namun apakah kunci yang tidak memiliki gerigi bisa membuka apa pun?”
36
34
Taisir al-Karimir Rahman, hal. 645.
35
Taisir al-Karimir Rahman, hal. 645.
36
Tafsir Al Quranul Karim, hal 10
Islamic Online University Tafsir 202
26
Tidak ada amalan bisa disebut amal shalih kecuali jika di dalamnya terkandung dua
prinsip:
1. Ikhlas kepada Allah: Bahwa seseorang tidak meniatkan dengan amalnya apapun selain
hanya mengharap keridhaan Allah dan hari akhir.
2. Ketaatan pada syariat Allah: bahwa amal itu tidak boleh di luar kerangka syariat
Allah.
37
Syaikh As Sa’di menjelaskan, “bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang
baik.” Yakni pembalasan (pahala) yang baik yang Allah persiapkan bagi orang-orang yang
beriman dan mengerjalan amal shalih; di antara balasan yang paling besar dan paling agung
adalah keridhaan Allah dan dimasukkan ke dalam surga, yang di dalamnya berisi kenikmatan
yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, tidak pula pernah
terbersit dalam benak manusia. Lebih lanjut, dengan menggambarkannya sebagai pembalasan
“yang baik” ini mengisyaratkan bahwa tidak ada kesedihan atau gangguan dalam bentuk apa
pun. Karena jika sedikitpun dari hal itu ada, maka kebaikannya akan menjadi tidak
sempurna.”
38
37
Ibid, hal. 11.
38
Taisir al-Karimir Rahman, hal. 645.
Islamic Online University Tafsir 202
27



3. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
Syaikh Al Utsaimin menjelaskan bahwa ini berarti, “Mereka akan tinggal di dalamnya
selama-lamanya, kekal tanpa ada akhir, terbebas dari rasa sakit, kematian, lapar, haus, panas
ataupun dingin. Segala sesuatu yang ada di sana sempurna dari segala sisi.
Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah terkait surga dan neraka adalah keduanya sudah ada
sekarang dan keduanya abadi. Hal ini disebutkan dalam Al Quran. Ada banyak ayat yang
merujuk pada keabadian surga yang diperuntukkan bagi orang-orang golongan kanan, dan ada
tiga ayat yang mengabarkan tentang kekalnya neraka yang diperuntukkan bagi orang-orang
golongan kiri.
1. Surat An Nisa, 4: 168-9








“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman,
Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak
(pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka. Kecuali jalan ke
neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. dan
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
2. Surat Al Ahzab, 33: 64-5






Islamic Online University Tafsir 202
28
“Sesungguhnya Allah mela'nati orang-orang kafir dan menyediakan
bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang
pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.”
3. Surat Al Jinn, 72: 23






“Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan
risalah-Nya. dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
Maka Sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya.”
Jika ketiga ayat dari kitab Allah ini terang benderang dalam menyatakan sifat neraka
yang kekal, maka tentu tidak ada perbedaan pendapat berkenaan dengan hal ini. Sebagaimana
dikatakan dalam syair:
ِ
َ
ﻨﻟا
َ
ِ
َ
ُ
َ
ﻟ ﺎ
ً
ﻗﻼ
ِ
ﺧ ﻻإ * ا
ً
َ
ـﺒ
َ
ْ
ُ
َ
ءﺎ
َ
ٍ
فﻼ
ِ
ُ
َ
ْ
َ
“Tidaklah setiap perbedaan itu layak dipertimbangkan,
kecuali perbedaan yang didukung oleh dalil.”
Apa yang disebutkan tentang pendapat yang berbeda mengenai sifat neraka yang
kekal tidaklah memiliki dalil yang nyata. Bagaimana Sang Maha Pencipta Yang Maha
Mengetahui mengatakan, “kekal di dalamnya (neraka) selama-lamanya,” kemudian
dikatakan bahwa neraka itu tidak kekal? Ini sungguh ajaib.”
39
Dalil bahwa surga juga sudah diciptakan dapat ditemukan dalam ayat Al Quran yang
menjelaskannya,
39
Tafsir Al Quranul Karim, hal 12-3
Islamic Online University Tafsir 202
29






“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran, 3: 133)
Dalil untuk hal ini juga dapat ditemukan dalam pernyataan Nabi setelah shalat
Gerhana matahari (Shalat Kusuf): “Sungguh aku melihat surga, di dalamnya aku memperoleh
setandan anggur. Seandainya aku mengambilnya tentu kalian akan memakannya sehingga
urusan dunia akan terbaikan. Kemudian aku melihat neraka, dan aku belum pernah melihat
suatu pemandangan yang lebih mengerikan dibanding hari ini.”
40
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, Ketika selesai
menciptakan surga, Allah berfirman kepada Jibril, “Pergi dan lihatlah surga itu.” Jibril
kemudian pergi dan melihat surga, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb,
demi kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang mendengar tentangnya kecuali ia ingin
memasukinya.” Kemudian Allah menutupi (merintangi) surga dengan hal-hal yang tidak
disukai (oleh manusia). Lantas Allah berfirman, Wahai Jibril, pergi dan lihatlah surga itu.”
Jibril kemudian pergi dan melihat surga, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, Wahai
Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak ada seorang pun yang hendak memasukinya.”
Beliau bersabda, “Ketika selesai menciptakan neraka, Allah berfirman, “Wahai Jibril,
pergi dan lihatlah neraka itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat neraka, setelah itu ia
kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang
mendengar tentangnya kemudian timbul keinginan untuk memasukinya.” Kemudian Allah
menutupi neraka dengan syahwat (kesenangan atau yang disukai manusia). Lantas Allah
berfirman, Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat
neraka, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku
khawatir tidak ada seorang pun yang bakal tersisa kecuali pasti memasukinya.”
41
40
Sahih Al-Bukhari, vol. 2, pp. 91-2, no. 161 dan Sahih Muslim, vol. 2, p. 431-2, no. 1982.
41
Sunan Abu Dawud, vol. 3, p. 1327, no. 4726 dan dishahihkan dalam Sahih Sunan Abi Dawud, no. 3970.
Islamic Online University Tafsir 202
30
Letak Surga
Surga terletak di tingkat yang paling tinggi dari ‘Illiyyun, berdasarkan ayat,



“Sekali-kali tidak, Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu
(tersimpan) dalam 'Illiyyin.” (QS. Al Muthaffifin 83: 18)
Dalam suatu hadits yang terkenal dari Barra ibn Azib tentang fitnah kubur, Nabi
bersabda,
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
َ
ِ
إ
ُ
و
ُ
ﺪﻴ
ِ
َ
أ
َ
و
َ
ِ
ِ
ﰲ ي
ِ
ْ
َ
َ
بﺎ
َ
ِ
ا
ُ
ُ
ْ
ا
َ
َ
و
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
“Lantas Allah ‘azza wajalla bertitah, “Tulislah catatan hamba-Ku di
‘Illiyyin, dan kembalikanlah ia ke bumi.”
42
Adapun neraka, maka ia terletak pada tingkat paling rendah berdasarkan ayat,



“Sekali-kali jangan curang, karena Sesungguhnya kitab orang yang
durhaka tersimpan dalam sijjin.”
Juga dalam hadits Barra,’
َ
ْ
ﺴﻟا
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
ِ
ٍ
ِ
ِ
ُ
َ
ﺑﺎ
َ
ِ
ا
ُ
ُ
ْ
ا
َ
َ
و
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
“Lantas Allah ‘azza wajalla berfirman, “Tolong catatlah catatannya di
Sijjin, di bumi paling rendah.”
43
42
Musnad Ahmad, vol. 4, Musnad penduduk Kufah dan dishahihkan dalam kitab Shahih al-Jaami‘, no. 1676.
43
Musnad Ahmad, vol. 4, Musnad penduduk Kufah dan dishahihkan dalam kitab Shahih al-Jaami‘, no. 1676.
Islamic Online University Tafsir 202
31
Harun Yahya, nama pena penulis modern yang populer dari Turki, yang nama aslinya
Adnan Okhtar, menolak keberadaan terpisah antara surga dan neraka. Dalam sejumlah
bukunya, di antaranya yang berjudul, Allah is Known Through Reason and The Truth of The
Life of This World, (Allah Diketahui Melalui Akal dan Hakikat Kehidupan di Dunia Ini),
penulis menyatakan sebagai berikut dalam lampiran yang berjudul, “Pendekatan yang Sangat
Berbeda terhadap Materi.”
“Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, pertanyaan tentang kematian,
surga, neraka, hari Akhir, perubahan dimensi, dan pertanyaan semacam, “Di
mana Allah?” “Apa yang ada sebelum Allah? “Siapa yang menciptakan
Allah?” “Berapa lama kehidupan yang akan berlalu di alam kubur?” “Di
manakah surga dan neraka?” dan “Di manakah sebenarnya surga dan neraka itu
ada?” mudah sekali untuk dijawab. Ini semua akan dipahami dengan apa jenis
perintah ketika Allah menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan, menjadi
seperti ini sehingga, dengan rahasia ini, pertanyaan tentang “Kapan?” dan
“di mana?” menjadi tidak bermakna karena tidak ada waktu dan tidak ada
ruang yang tersisa. Ketika kehampaan ini dalam genggaman, maka akan
dipahami bahwa neraka, surga, dan dunia itu sebenarnya terletak di tempat yang
sama. Jika timelessness dalam genggaman, maka akan dipahami bahwa segala
sesuatu terjadi pada satu waktu: tidak ada yang ditunggu dan waktu tidaklah
berlalu, karena segala sesuatu telah terjadi dan selesai. Dengan rahasia ini, dunia
menjadi seperti surga bagi seorang mukmin.”
44
Adapun dalil tentang sifat neraka yang kekal, Ibnu Qudamah
45
menyebutkan sebagian ayat
dari surat Az Zukhruf,







“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka
Jahannam. Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di
dalamnya berputus asa.” (QS. Az Zukhruf 43: 74-5)
44
Allah is Known Through Reason, hal 202-3.
45
Lihat Radiance of Faith
Islamic Online University Tafsir 202
32
Dan hadits berikut tentang kambing kelabu,
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
:
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
ٍ
دﺎ
َ
ُ
ﻣ ي
ِ
دﺎ
َ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
َ
ْ
َ
أ
ٍ
ْ
َ
ِ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ت
ْ
َ
ْ
ﻟﺎ
ِ
ﺑ ﻰ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ـﺗ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
نو
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻳ
َ
و
َ
ن
ِ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ِ
َ
ْ
ﳉا ا
َ
َ
ْ
َ
َ
ـﻧ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ ا
َ
َ
َ
ن
ُ
ِ
َ
نو
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻳ
َ
و
َ
ن
ِ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ِ
رﺎﻨﻟا
َ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
ﻳ ي
ِ
دﺎ
َ
ُ
ـﻳ
ُ
ُ
ﻩآ
َ
ر
ْ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
و
ُ
ت
ْ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ﻩآ
َ
ر
ْ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
و
ُ
ت
ْ
َ
ْ
ﻟا ا
َ
َ
ْ
َ
َ
ـﻧ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ ا
َ
َ
َ
ن
ُ
ِ
ْ
َ
ـﺗ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ُ
ُ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ٌ
د
ُ
ُ
ِ
رﺎﻨﻟا
َ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
َ
و
َ
ت
ْ
َ
َ
َ
ٌ
د
ُ
ُ
ِ
َ
ْ
ﳉا
َ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
َ
أ
َ
َ
ـﻗ
ُ
َ
ت
ْ
َ
َ
َ
ِ
ْ
ُ
َ
و
ُ
ْ
َ
ْ
ﻷا
َ
ِ
ُ
ْ
ذ
ِ
إ
ِ
ة
َ
ْ
َ
ْﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ُ
ْ
ر
ِ
ْ
َ
أ
َ
و
ٍ
َ
ْ
َ
)
ٍ
َ
ْ
َ
ﻏ ﻲ
ِ
ِ
ء
َ
ُ
َ
َ
و(
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ُ
ْ
َ
أ
َ
ن
ُ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
ْ
ُ
َ
و
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kematian didatangkan pada hari
kiamat seperti kambing kelabu. Kemudian dikatakan: Wahai penduduk
surga! maka mereka melihat dengan mendongak, lalu dikatakan; apa kalian
mengetahui ini? mereka menjawab: 'Ya, itu adalah kematian.' Dan
semuanya telah melihatnya. kemudian dikatakan kepada penduduk neraka:
'Wahai penghuni neraka, apa kalian mengetahui ini? ' Mereka melihat
dengan mendongak, mereka menjawab: 'Ya, ' itu adalah kematian.' Dan
semuanya telah melihatnya. Lalu kematian itu disembelih. Setelah itu
dikatakan: 'Wahai penduduk surga, kekal tidak ada ada kematian dan
wahai penduduk neraka, kekal tidak ada kematian'." Setelah itu beliau
membaca: "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan,
(yaitu) ketika segala perkara telah diputus dan mereka dalam kelalaian
Islamic Online University Tafsir 202
33
dan mereka tidak (pula) beriman." (Maryam: 39). Merekalah penduduk
dunia yang lalai dan mereka tidak beriman.
46
,
47
Mereka yang mengatakan bahwa Neraka itu tidak kekal
Umar al Asyqar membagi mereka yang tidak sepakat dengan ahlus sunnah tentang sifat
neraka yang kekal ke dalam empat kelompok berikut:
1. Jahmiyah
48
yang berpendapat bahwa surga dan neraka keduanya akan binasa.
2. Pemimpin kaum Pantheis, Ibnu Arabi At Taa’i
49
yang mengklaim bahwa para penduduk
neraka akan disiksa untuk sementara waktu, lalu keadaan mereka akan menjadi seperti
api, sehingga mereka akan menikmati nyala api karena sesuai dengan keadaan mereka.
3. Abu Haazil al-‘Allaaf, salah seorang pemimpin ulama Jahmiyah yang mengklaim bahwa
kehidupan penghuni neraka akan berakhir, dan mereka kemudian menjadi lembam, tidak
mampu bergerak maupun merasakan sakit. Ia mengatakan ini karena ia berpikir bahwa
tidak mungkin bagi makhluk hidup untuk tidak binasa.
4. Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim yang mengklaim bahwa Allah akan mengeluarkan dari
neraka siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits,
maka Dia akan membiarkan neraka untuk sementara waktu sebelum menghancurkannya,
karena Dia telah memberikannya batasan waktu tertentu kepada neraka yang pada
akhirnya neraka akan musnah.
Dalil bahwa neraka tidak kekal
Beberapa hadits yang dijadikan dalil oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim untuk
membuktikan bahwa neraka itu tidak kekal semuanya tidak shahih. Adapun riwayat yang
shahih tidak jelas dan bisa ditafsirkan secara berbeda. Sebagai contoh, diriwayatkan dari
46
Surat Maryam
47
Sahih al Bukhari, jilid 6 hal. 226-7, no. 254 dan Sahih Muslim, Jilid 4 hal. 1484, no. 6827.
48
Jahm bin Shafwan (meninggal tahun 745), yang mana aliran ini disandarkan kepadanya, lahir di Khurasan,
menghabiskan tahun-tahun awal kehidupannya di Tirmidz, mulai berdebat dengan orang-orang Budha yang
kemudian menyebabkannya menjadi seorang yang sepenuhnya skeptis. Setelah empat puluh tahun dia kembali
kepada keimana, akan tetapi mengikuti jejak Ja’d ibn Dirham, yang menolak semua sifat-sifat Allah kecuali
bahwa Dia Maha Kuasa
49
Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Arabi lahir di Spanyol pada tahun 1165 M dan meninggal di Damaskus tahun 1240
M. Ia mengklaim memiliki cahaya batin dan ilmu tentang nama Allah yang paling agung dan menyebut dirinya
sebagai segel kewalian yang ia isyaratkan derajatnya lebih tinggi daripada kenabian. Pada abad-abad
menjelang kematiannya, para pengikutnya meninggikan derajatnya hingga ke derajat wali, dan menggelarinya
dengan Asy Syaikh al-Akbar (Guru Agung), namun kebanyakan ulama hukum Muslim menganggapnya sebagai
ahli bid’ah. Karyanya yang memuat prinsip-prinsip yang ia pegang yakni al Futuhat al-Makkiyyah dan
Fushush al-Hikim (Shorter Encyclopedia of Islam , hal 146-7)
Islamic Online University Tafsir 202
34
'Abdullaah ibn' Amr ibn al-'Ash bahwa ia berkata: "Akan tiba saatnya ketika angin akan
bertiup melalui gerbang Neraka, dan tidak akan ada seorang pun di dalamnya." Disandarkan
kepada 'Abdullaah ibn' Amr, dan ini tidak mungkin dari pemikirannya sendiri, akibatnya para
ulama menganggapnya sebagai marfu ' (dari Nabi
). "Tidak ada" di sini bisa berarti "tidak
ada seorang pun dari kalangan ahlui tauhid". Demikian juga, riwayat yang menyatakan bahwa
Neraka akan berlalu, dapat berarti bahwa bagian dari Neraka di mana orang-orang berdosa
dari kalangan kaum Muslimin diadzab pada akhirnya akan lenyap. Ash-Shan’ani membahas
hal ini dalam risalahnya, Raf 'al-Atsaar li Ibtaal' adillah al-Qa'ilin bi fanaa an-Naar
50
dan
begitu juga al-Qurthubi dalam kitabnya at-Tadzkirah fi ahwaal al-Mautaa wa Umur al -
Aakhirah (hlm. 437).
Ayat Al-Quran berikut ini juga digunakan sebagai dalil:





“Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam
syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali
jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada
putus-putusnya.” (QS. Hud 11: 108)
Ibnu Abil Izz dalam syarahnya pada kitab Aqidah at Thahawiyah mengatakan, “Kaum Salaf
berbeda pendapat tentang pengecualian ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa yang
dimaksudkan adalah, “kecuali tentang lamanya waktu mereka tinggal di neraka” dan ini
merujuk kepada mereka yang masuk neraka kemudian dikeluarkan darinya, dan bukan yang
dimaksudkan adalah semua penghuni neraka. Sebagian yang lain mengatakan bahwa
maksudnya adalah, “lamanya waktu mereka harus menunggu sebelum datangnya hari
Kiamat,” atau “lamanya waktu yang meraka lalui di alam kubur menunggu datangnya hari
Kiamat.” Ada lagi sebagian lainnya yang mengatakan yang dimaksud adalah, “bahwa itu
adalah suatu pengecualian bagi Allah, namun Dia tidak harus melakukannya…”
51
50
Maktab Al Islami, Beirut.
51
Hari Akhir: Surga dan Neraka, hal. 60-7
Islamic Online University Tafsir 202
35
Tidak boleh mencela atau menjelek-jelekkan dua ulama ini karena kesalahan mereka
dalam berijtihad tentang masalah ini. Klaim yang mengatakan bahwa siapa yang berbeda
pendapat dalam permasalahan semacam itu ia telah kafir akan menyebabkan dikafirkannya
pula banyak ulama umat yang terkemuka, yang ilmu dan kewenangannya tidak dapat
diragukan lagi. ‘Umar ibn Khattab juga berpendapat bahwa jika seorang musafir tidak dapat
menemukan air, dia tidak berkewajiban untuk melakukan tayamum atau shalat, dan beliau dan
Abu Bakr, keduanya melarang haji tamattu’, padahal ummat bersepakat akan bolehnya. Imam
Malik berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari Al Quran, padahal ummat bersepakat
bahwa apa saja yang berada di antara dua sisi sampul Al Quran maka ia adalah bagian dari Al
Quran. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah
dan tidak pula berkurang, bertentangan dengan fakta bahwa Al Quran dan Sunnah keduanya
dengan jelas menyatakan sebaliknya dan mayoritas ulama berpendapat bahwa iman dapat
bertambah dan berkurang.
52
Perlu juga ditekankan bahwa dalam kumpulan fatwa-fatwa beliau, Majmu’ al-Fatawa,
Ibnu Taimiyah mengatakan, ketika menjawab suatu pertanyaan, “Generasi salaf dan para
imam umat ini serta ahlus sunnah wal jama’ah semuanya bersepakat bahwa ada benda-benda
yang diciptakan yang tidak akan pernah binasa sama sekali, seperti surga, neraka, ‘Arsy dan
sebagainya. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan
akan musnah selain dari beberapa orang dari kalangan ahlu bid’ah seperti Jahm ibn Shafwan
dan Mu’tazilah serta mereka yang sependapat dengan keduanya. Ini adalah pendapat yang
cacat dan rusak yang menyelisihi kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, ijma’ para salaf dan para
imam umat ini.”
53
Ini mengindikasikan bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah memiliki dua pendapat. Dengan
demikian, sampai bisa dibuktikan bahwa pendapat beliau yang pertama merupakan pendapat
akhir beliau, tidak benar untuk menyatakan bahwa beliau berpendapat bahwasanya neraka
akan binasa, tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang sifatnya.
52
Hari Akhir: Surga dan Neraka, hal. 60-7
53
Majmu’ al-Fatawa, 18: 307
Islamic Online University Tafsir 202
36


4. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata:
"Allah mengambil seorang anak."
Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa ayat ini berfungsi sebagai penjelasan atas apa yang
tersisa yang tidak ditentukan dalam ayat sebelumnya. Ini berisi peringatan kepada orang-
orang Kristen yang mengatakan bahwa Mesias adalah putra Allah dan peringatan kepada
orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa al-‘Uzayr adalah putra Allah…
54
Allah
berfirman dalam Al Quran,







“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-
orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu
Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru Perkataan
orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana
mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah 9: 30)
Jochen Katz mengklaim, dalam tulisannya yang menyerang Al Quran yang mulia
bahwa tidak ada bukti dalam Injil bahwa Uzair disebut sebagai “Putra Allah,” oleh karena itu
Al Quran yang mulia keliru mengenai masalah ini. Bagaimanapun juga, Ensklopedia Yudaica
Yerusalem menyatakan bahwa Uzair, yang disebut sebagai Bapak Yudaisme oleh orang-orang
Yahudi, dianggap sebagai ‘Anak Tuhan’ oleh orang-orang Yahudi di Yaman.
55
54
Tafsir Al Quranul Karim, hal. 13.
55
Ensiklopedia Yudaica Yerusalem, Jilid 6, hal. 1108.
Islamic Online University Tafsir 202
37
Seorang sejarawan, Ibnu Ishaq, berpendapat bahwa ayat ini sebenarnya merujuk pada
kaum musyrikin Arab yang biasa memanggil para malaikat sebagai “putri-putri Allah” dan
menyembah mereka sesuai dengan hal itu.
56



5. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu,
begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata
yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu)
kecuali dusta.
Allah menolak anggapan bahwa Dia melahirkan seorang putra melalui bermacam cara
yang berbeda di sepanjang Al Quran. Di sini Dia hanya menunjukkan bahwa klaim itu tidak
memiliki dasar ilmu; jadi kliam ini entah itu diciptakan oleh mereka yang mengklaimnya atau
itu dibuat oleh leluhur mereka. Sebagian besar orang Kristen saat ini dan di masa lalu tidak
menyadari asal usul kepercayaan mereka. Mereka hanya mewarisi kepercayaan-kepercayaan
itu dari leluhur mereka.
Dari sejarah kekristenan, jelas bahwa kepercayaan yang menyatakan Yesus sebagai
Putra Allah tidaklah menjadi keyakinan yang dominan hingga abad ke empat setelah zaman
Kristus.
57
Lebih jauh, pandangan kritis terhadap teks-teks Alkitab yang ada tidak mendukung
klaim ini. Meskipun, gelar "Putra Allah" digunakan untuk menggambarkan Yesus dalam teks-
56
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
57
Di akhir abad ke tiga dan ke empat, Arius (250 S.M, Libya meninggal 336 M), seorang penganut presbister
Alexandria, Mesir me mengajarkan sifat terbatas Kristus dan keesaan mutlak Allah, yang menarik banyak
pengikut, sampai ia dinyatakan sebagai ahli bid’ah oleh Konsili Nicea pada bulan Mei 325 M. Selama konsili,
ia menolak menandatangani dasar iman yang menyatakan bahwa Kristus memiliki sifat ilahi yang sama dengan
Allah [yang kemudian dikenal sebagai Pengakuan Iman Nicea]. (The New Encyclopaedia Britannica, vol. 1,
hlm. 556-7)
Islamic Online University Tafsir 202
38
teks Injil, ada banyak tempat dalam Perjanjian Lama di mana gelar ini telah diberikan kepada
orang lain. Sebagai contoh, Allah memanggil Israel (Nabi Yakub) “putranya” ketika Ia
memerintahkan Nabi Musa untuk pergi mendatangi Firaun dalam Keluaran 4: 22-23, 22
Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku,
anak-Ku yang sulung; 23 sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu
pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku;”
58
Dan dalam Samuel ke dua 8: 13-14, Allah
menyebut Israel (Nabi Ya’kub) sebagai “putra” nya 13 Dia [Salomo] akan membangun
sebuah rumah untuk nama-Ku, dan Aku akan mendirikan takhta kerajaannya untuk selama-
lamanya. 14 Aku akan menjadi ayahnya, dan dia akan menjadi putra-Ku.” Allah berjanji
untuk menjadikan Nabi Daud putra-Nya dalam Mazmur 89: 26-27, 26 Ia akan berteriak
kepadaku, 'Engkau adalah ayahku, Allahku, dan batu karang keselamatanku,' 27 Juga Aku
akan menjadikannya anak sulung-Ku, lebih tinggi dari raja-raja di bumi. "
59
Malaikat
disebut sebagai "anak-anak Allah" dalam Kitab Ayub 1: 6, "Ada suatu hari ketika anak-anak
Allah datang untuk menampilkan diri di hadapan Tuhan, dan Setan juga datang di antara
mereka."
60
Bahkan dalam Perjanjian Baru, ada banyak referensi untuk "anak-anak Allah" selain
Yesus. Misalnya, ketika penulis Injil menurut Lukas membuat daftar leluhur Yesus hingga
sampai ke Adam, ia menulis: "Putra Enos, putra Seth, putra Adam, putra Allah."
61
Beberapa mengklaim bahwa apa yang unik dalam kasus Yesus adalah bahwa dialah
satu-satunya yang diperanakkan
62
Putra dari Tuhan, sementara yang lain hanyalah "anak-
anak Tuhan". Namun, Tuhan tercatat mengatakan kepada Nabi Daud, dalam Mazmur 2: 7,
“Aku akan memberi tahu ketetapan Tuhan: Dia berkata kepadaku, 'Kamu adalah putraku,
hari ini aku telah memperanakkan kamu.'” Seharusnya juga demikian. mencatat bahwa tidak
ada dalam Injil yang benar-benar menyebut Yesus "Anak Allah".
63
Sebagai gantinya, ia
58
Lihat juga Hosea 1: 10, dari Versi Raja James
59
Dalam Revised Standard Version, dinyatakan: "Dan Aku akan menjadikannya yang sulung, yang tertinggi di
antara raja-raja di bumi." Lihat juga Yeremia 31: 9, "... karena Aku adalah ayah bagi Israel dan Efraim
adalah anak sulung-Ku."
60
Lihat juga, Ayub 2: 1 dan 38: 4-7. Referensi lain tentang anak-anak Allah juga dapat ditemukan dalam
Kejadian 6: 2, Ulangan 14: 1 dan Hosea 1:10
61
Lukas 3: 38
62
Istilah "diperanakkan" dalam bahasa Inggris Kuno berarti 'menjadi ayah dari' dan digunakan untuk
membedakan antara Yesus, yang seharusnya menjadi putra Allah secara harfiah, dari penggunaan kiasan istilah
'putra' untuk 'putra-putra ciptaan Allah' ” Rujukan pada "Anak Tunggal" dapat ditemukan dalam Injil Yohanes,
3: 16.
63
Dalam Kitab Kisah Para Rasul Perjanjian Baru, ada beberapa garis besar khotbah para murid Yesus awal,
khotbah yang berasal dari tahun 33 M, hampir empat puluh tahun sebelum Empat Injil ditulis. Dalam salah satu
khotbah ini, Yesus secara khusus disebut sebagai andra apo tou theou: “seorang manusia dari Allah.” (Kisah
Para Rasul 2:22). Tidak sekali pun pengakuan iman awal ini menggunakan ungkapan wios tou theou: "Anak
Allah", tetapi mereka berbicara beberapa kali tentang Yesus sebagai hamba dan nabi Allah (Kisah Para Rasul
Islamic Online University Tafsir 202
39
tercatat telah berulang kali menyebut dirinya “Anak Manusia” (misal Lukas 9:22). Dan dalam
Lukas 4:41, ia sebenarnya menolak disebut "Anak Allah": "Dan setan-setan juga keluar dari
banyak orang, sambil berteriak, 'Kamu adalah Anak Allah!' Tetapi ia menegur mereka, dan
tidak akan membiarkan mereka berbicara , karena mereka tahu bahwa dia adalah Kristus."
Karena kaum Ibrani (Yahudi) percaya bahwa Tuhan itu Esa, dan bahwa Dia tidak
memiliki istri dan tidak pula anak secara makna harfiahnya, maka jelaslah bahwa ungkapan
“Putra Allah” bagi mereka maknyanya adalah “Hamba Allah,” yaitu seseorang yang karena
pengabdiannya yang setia, menjadi dekat dan dicintai Allah, sebagaimana layaknya seorang
anak kepada bapaknya. Orang-orang Kristen yang datang dari latar belakang Yunani dan
Romawi, kemudian menyalahgunakan istilah ini. Dalam warisan mereka, "Anak Allah"
menandakan inkarnasi dewa atau seseorang yang lahir dari persatuan fisik antara dewa laki-
laki dan perempuan.
64
Ketika Gereja mengesampingkan dasar bahasa Ibraninya, ia
mengadopsi konsep pagan "anak Allah", yang sama sekali berbeda dari penggunaan bahasa
Ibrani.
65
Akibatnya, penggunaan istilah "anak Allah" seharusnya hanya dipahami dari
pengertian simbolis Semit dari "hamba Allah", dan bukan dalam arti pagan dari keturunan
Allah secara harfiah. Dalam keempat Injil, Yesus tercatat telah mengatakan: “Berbahagialah
orang yang membawa damai sejahtera; mereka disebut anak-anak Allah.
66
Di tempat lain dalam Al Quran, Allah menolak klaim bahwa Dia memiliki seorang
putra dengan:
1. Menyebutkan fakta bahwa Dia tidak memiliki istri.
  
3:13, 22, 23, 26). Pentingnya khotbah ini adalah bahwa mereka secara akurat mencerminkan kepercayaan asli
dan terminologi para murid, sebelum kepercayaan dan terminologi dikembangkan di bawah pengaruh agama
Romawi dan filsafat Yunani. Mereka mencerminkan tradisi yang lebih tua dari yang digunakan oleh Empat
Injil, di mana Yesus tidak dinobatkan dengan ketuhanan atau status anak ilahi. (Pelajaran Alkitab Dari
Perspektif Muslim, hlm. 12).
64
Lihat Kisah 14: 11-13. Di kota Listra (Turki), Paulus dan Barnabas berkhotbah, dan orang-orang kafir
mengklaim bahwa mereka adalah dewa-dewa yang berinkarnasi. Mereka menyebut Barnabas dewa Romawi
Zeus, dan Paulus dewa Romawi Hermes.
65
Bible Studies from a Muslim Perspective, p. 15.
66
Matius 5: 9. Demikian juga, penggunaan istilah abba oleh Yesus, "bapa terkasih", harus dipahami dengan cara
yang sama. Ada perselisihan di antara para cendekiawan Perjanjian Baru tentang apa tepatnya makna abba
pada zaman Yesus dan juga seberapa luas abba digunakan oleh sekte-sekte Yahudi lain pada zaman itu. James
Barr baru-baru ini berpendapat dengan tegas bahwa itu tidak memiliki perasaan intim yang begitu sering
dikaitkan dengan itu, tetapi itu hanya berarti "ayah". (Journal of Theological Studies, vol. 39 dan Theology,
vol. 91, no. 741) Memikirkan Allah sebagai "Bapak surgawi kita" sama sekali bukan hal baru, karena dalam
Doa Bapa Suci Yesus dilaporkan telah mengajar murid-muridnya untuk memanggil Tuhan dengan cara yang
sama akrab ini. (Pesan Sejati Yesus Kristus, hlm. 51-3)
Islamic Online University Tafsir 202
40
“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan Kami, Dia tidak
beristeri dan tidak (pula) beranak. (QS. Al Jinn 72: 3)
2. Menganggapnya tidak tepat bagi sang Pencipta alam semesta untuk memiliki keturunan.






“Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil
(mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi,
kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku
seorang hamba.” (QS. Maryam 19: 92-3)
3. Menyatakan bahwa jika Dia berkehendak untuk memiliki anak, Dia akan mengambil
bagian dari makhluk-Nya yang lebih besar daripada manusia.




“Kalau Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan
memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang
telah diciptakan-Nya. Maha suci Allah. Dialah Allah yang Maha Esa
lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar 39: 4)
Terkait dengan kalimat,
“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut
mereka;” Allah ‘azza wajalla berfirman,
Islamic Online University Tafsir 202
41





“Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan
gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah yang
Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam 19: 90-1)
Syaikh As Sa’di menjelaskan, “Alangkah buruknya” dalam artian ini merupakan
kekejian yang begitu besar dan hukumannya sangat pedih. Apa yang bisa lebih mengerikan
daripada menggambarkan Allah memiliki seorang putra yang menyiratkan bahwa Dia kurang
dan bahwa orang lain berbagi dalam Ketuhanan-Nya, Kekuasaan-Nya dan Keilahian-Nya?
Belum lagi berbohong tentang Dia, yang tentang itu Dia berfirman:


“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat
suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?
Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat
keberuntungan.” (QS. Al An’am 6: 21)
Sebagai hasilnya, Dia berfirman di sini, "Apa yang mereka katakan tidak lain hanyalah
dusta," yaitu, itu adalah kepalsuan murni yang tidak mengandung unsur kebenaran sama
sekali. Pertimbangkan bagaimana Allah membatalkan klaim ini secara bertahap. Dia pertama
kali menunjukkan bahwa "Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu, tidak juga
bapak-bapak mereka," dan tidak ada keraguan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu
adalah dilarang dan salah. Kedua, Dia menyatakan itu adalah pernyataan yang mengerikan
dan keji, “Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka” Kemudian,
Islamic Online University Tafsir 202
42
ketiga, Allah menyebutkan tingkat kekejiannya; bahwa itu adalah kebohongan karena
berlawanan dengan kebenaran."
67
Syeikh Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa frasa "yang keluar dari mulut mereka”
menyiratkan bahwa apa yang mereka katakan dengan lidah mereka tidak ada di hati mereka
dan bahwa mereka sebenarnya tidak yakin bahwa Allah memiliki seorang putra. Karena orang
yang cerdas tidak dapat mengatakan bahwa Allah memiliki seorang putra. Bagaimana bisa
Allah memiliki putra manusia, yang tampak seperti kita, makan, minum dan mengenakan
pakaian, menderita kelaparan, haus, panas dan dingin? Bagaimana itu bisa menjadi putra
Allah ‘azza wajalla? Karena itu Dia berkata, "Apa yang mereka katakan tidak lain
hanyalah dusta," apakah mereka menyadarinya atau tidak, apakah itu disengaja atau tidak
tidak disengaja, itu adalah kepalsuan.
68
67
Taisir al Karimir Rahman, hal. 646
68
Tafsir Al Quranul Karim, hal. 14-5
Islamic Online University Tafsir 202
43


6. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena
bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak
beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).
Syaikh As-Sa'di mengomentari ayat ini sebagai berikut: "Karena Nabi (
) sangat
bersemangat agar seluruh umat manusia mendapatkan hidayah dan mencurahkan upaya
terbesar beliau untuk mencapai itu, beliau akan sangat bahagia ketika orang-orang itu
mendapatkan hidayah dan sedih bahwa orang-orang kafir tidak mendapatkan bimbingan,
sebagai ungkapan kasih sayang, simpati dan belas kasihan yang mendalam bagi mereka.
Karena itu, Allah menasihati beliau untuk tidak membuat dirinya khawatir dengan duka dan
kesedihan bagi mereka yang kafir pada Al-Qur'an sebagaimana juga Allah lakukan di tempat
lain dalam Al-Qur'an:



“Boleh Jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena
mereka tidak beriman.” (QS. Asy Syu’ara 26: 3)
“Maka janganlah dirimu binasa karena Kesedihan terhadap mereka.”
(QS. Fathir 35: 8)
Di sini Allah berfirman, “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh
dirimu,” dalam duka dan kesedihan atas mereka. Pahalamu sudah menjadi kewajiban bagi
Allah, dan jika Allah tahu ada yang kebaikan di dalamnya, Dia akan membimbing mereka.
Namun, Allah tahu bahwa mereka hanya pantas di neraka, akibatnya Dia meninggalkan
mereka dan tidak membimbing mereka. Jadi, menyibukkan diri dengan duka dan kesedihan
atas mereka tidak ada manfaatnya. Ayat ini dan yang lainnya yang semacam ini mengandung
Islamic Online University Tafsir 202
44
pelajaran. Seseorang yang diperintahkan untuk menyeru makhluk kepada Allah diharuskan
untuk menyampaikan pesan dan untuk menggunakan segala cara yang dapat mengarah pada
terbimbingnya mereka, dan untuk menutup semua jalan kesesatan dan penyimpangan yang
mungkin terjadi, bersamaan dengan menaruh kepercayaan penuh kepada Allah mengenai hal
itu. Jika mereka mendapatkan hidayah maka itu baik dan bagus, jika tidak, dia tidak boleh
sedih atau berduka, karena itu akan melemahkan jiwa, menghancurkan kekuatan dan
semangat seseorang, dan pada akhirnya tidak ada manfaatnya. Alih-alih, ia harus terus
melakukan apa yang diperintahkan kepadanya yang menjadi tanggung jawabnya dan fokus
pada hal itu, apa yang ada di luar itu maka itu adalah di luar kemampuannya. Jadi jika Allah
berfirman kepada Nabi (
):



“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada
orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang
yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang
mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash 28: 56)
Dan Nabi Musa—alaihis salam—berkata,




“Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku
sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara Kami dengan
orang-orang yang Fasik itu". (QS. Al Maidah 5: 25)
Orang-orang di bawah mereka semua lebih dituntut untuk mengikutinya sebagaimana Allah
‘azza wajalla katakan,
Islamic Online University Tafsir 202
45




“Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah
orang yang memberi peringatan. kamu
bukanlah orang yang berkuasa
atas mereka” (QS. AL Ghasyiyah 88: 21-22)
69
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berarti: “Jangan merasa kasihan pada mereka,
sampaikan saja risalah dari Allah kepada mereka. Siapa saja yang menempuh jalan kebenaran
maka itu akan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan siapa saja yang tersesat tidak lain hanyalah
ia merugikan dirinya sendiri. Jadi, jangan menghancurkan dirimu sendiri dalam kesedihan
atas mereka.”
70
Syaikh Al ‘Utsaimin berkata, “Allah, Yang Mahabesar dan Maha Agung, menghibur
Nabi () dan menjelaskan bahwa beliau sama sekali tidak bertanggung jawab atas
kurangnya tanggapan mereka terhadap risalah tersebut. Beliau hanya bertanggung jawab
untuk menyampaikan pesan, yang mana beliau telah melakukannya…
Sebagaimana Allah ‘azza wajalla berfirman,


“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami
ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak
penting bagimu) karena Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan
saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (QS. Ar Ra’d
13: 40)
Demikian juga pewaris para nabi, para ulama, tugas mereka adalah menyampaikan
risalah. Adapun hidayah, itu ada di Tangan Allah sepenuhnya. Diketahui bahwa orang yang
beriman akan sedih jika manusia tidak menerima kebenaran. Namun, orang yang sedih ketika
orang tidak menerima kebenaran ada dua jenis:
69
Taisir al-Karimir Rahman, hal. 646
70
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, hal. 115.
Islamic Online University Tafsir 202
46
1. Satu jenis orang yang sedihnya adalah karena dia tidak diterima.
2. Dan Satu jenis orang yang sedihnya adalah karena kebenarannya tidak diterima.
Jenis kedua ini layak dipuji, karena jenis pertama menyeru kepada dirinya sendiri
ketika dia berdakwah sedangkan jenis kedua menyeru kepada Allah, Yang Maha Besar dan
Agung. Karena itu, Allah Yang Mahakuasa berfirman,




“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl 16: 125)
Jika seseorang mengatakan bahwa dia sedih karena penolakan terhadap pernyataannya
karena itu adalah kebenaran, dan jika pernyataannya terbukti tidak benar, ia akan mengikuti
kebenaran, kesedihannya akan terpuji, tetapi ia tidak akan menjadi seperti orang yang satu-
satunya tujuannya adalah menerima kebenaran, apakah itu berasal dari dirinya sendiri atau
dari orang lain.”
71
71
Tafsir al-Quranul Karim, hal. 16-7
Islamic Online University Tafsir 202
47


7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai
perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara
mereka yang terbaik perbuatannya.”
Ibnu Katsir mengomentari, “Allah memberi tahu kita bahwa Dia menjadikan dunia ini
sebagai rumah sementara yang dihiasi dengan berbagai keindahan fana, dan Dia
menjadikannya tempat ujian dan bukan tempat tinggal selamanya. ”
72
Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan dari Nabi
bahwa beliau bersabda,
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﷲا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ا
ُ
ـﺗﺎ
َ
َ
ن
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
ْ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ ﺎ
َ
ﻬﻴ
ِ
ْ
ُ
ُ
ِ
ْ
َ
ْ
ُ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
َ
و
ٌ
ة
َ
ِ
َ
ٌ
ة
َ
ْ
ُ
ِ
ءﺎ
َ
ﻨﻟا
ِ
ْ
َ
ﻧﺎ
َ
َ
ﻞﻴ
ِ
ﺋا
َ
ْ
ِ
إ
ِ
َ
ِ
َ
ْ
ـﺘ
ِ
َ
ل
و
َ
أ
ن
ِ
َ
َ
ءﺎ
َ
ﻨﻟا ا
ُ
ـﺗا
َ
و ﺎ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau,
73
dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini,
lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari
(keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena
sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi
berkaitan dengan wanita.”
74
Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Jika seseorang merenungkan Al-Qur'an, ia akan
mendapati bahwa Al Quran paling sering memberi prioritas pada Hukum atas penciptaan dan
apa yang terkait dengannya. Allah berfirman:
72
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, hal. 116.
73
Seperti tumbuhan yang segera mati dan menghilang.
74
Shahih Muslim, vol. , p. , no. . Kitab: Dzikr wa Du’aa; Bab: Aktsar Ahlul Jannat al Fuqaraa (Kebanyakan
penduduk Surga adalah orang-orang miskin)
Islamic Online University Tafsir 202
48





“(Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran. Dia
menciptakan manusia.” (QS. Ar Rahman 55: 1-3)
Dia melakukannya karena semua makhluk ditundukkan [untuk manusia] untuk
membantu mereka dalam ketaatan kepada Allah, Maha Besar dan Agung. Allah Yang
Mahakuasa berfirman,


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat 51: 56)
Dan Dia berfirman,
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk
kamu.” (QS. Al Baqarah 2: 29)
Dengan demikian, yang paling penting adalah ketaatan kepada Allah, Yang Maha
Besar dan Maha Agung, di mana ini hanya bisa dipenuhi dengan menjalankan Hukum-hukum
Allah (Syari‘at Allah) ...
Allah menjadikan apa pun yang ada di bumi sebagai perhiasannya untuk menguji
apakah manusia akan terikat pada perhiasan itu atau kepada Sang Pencipta. Dengan demikian,
manusia dibagi menjadi dua kelompok: Mereka yang terikat pada perhiasan dunia ini, dan
mereka yang terikat pada Sang Pencipta ... Allah membuat perhiasan itu sebagai ujian bagi
makhluk-Nya, apakah itu diciptakan oleh Allah atau dibuat oleh manusia. Tidak diragukan
lagi, istana yang sangat indah adalah perhiasan, tetapi dibuat oleh manusia, dan bumi dengan
gunung, sungai, tumbuh-tumbuhan, bunga, dan buahnya adalah perhiasan yang diciptakan
oleh Allah.
Islamic Online University Tafsir 202
49
Perhatikan bahwa Allah Yang Mahakuasa befirman, ‘yang terbaik perbuatannya,'
dan bukan 'yang terbanyak perbuatannya', karena faktor penting adalah kualitas 'kebaikan'
mereka dan bukan 'kuantitas'-nya. Oleh karena itu, jika seseorang melakukan shalat empat
rekaat dengan iman yang lemah atau sementara tidak mengikuti Hukum, dan seorang yang
lain melakukan shalat dua rekaat dengan iman yang kuat sambil berpegang pada Hukum,
manakah yang lebih baik? Tidak diragukan lagi yang kedualah yang lebib baik dan disukai,
karena yang menjadi pokok pertimbangan mengenai kualitas kebaikan dan kesempurnaan
suatu amal adalah pada tingkat keikhlasan dan kesesuaiannya pada Hukum (syari’at).
Dalam beberapa amal ibadah, ringkas lebih disukai, seperti dua rakaat shalat Subuh
yang disunnahkan. Jika satu orang berkata: ‘Dalam dua rekaat ini saya suka memperpanjang
bacaan Al-Qur'an, rukuk, sujud dan berdiri saya,' dan yang lain berkata, 'Saya lebih suka
membuatnya singkat,' yang kedua lebih baik. Jadi, ketika kita melihat orang-orang biasa
memperpanjang shalat sunnah dua rekaat fajr, kita harus bertanya kepada mereka apakah
mereka sedang melakukan shalat dua rekaat yang disunnahkan sebelum shalat Shubuh
ataukah itu shalat Tahiyyatul-Masjid. Jika itu adalah Tahiyyatul-Masjid, mereka dapat
memperpanjangnya seperti yang mereka inginkan, tetapi jika itu adalah shalat sunnah Fajr dua
rekaat, kita harus memberi tahu mereka bahwa membuatnya lebih pendek adalah lebih baik.
Demikian juga dalam puasa, Nabi (
) memperbolehkan umatnya untuk melanjutkan puasa
sampai sahur (makan subuh)
75
dan menganjurkan agar mereka berbuka puasa saat matahari
terbenam ... Amalan yang kedua ini lebih baik. Meskipun yang pertama tidak dilarang dan
diizinkan, itu tidak sesuai dengan syari‘at. Jadi perhatikan itu. Jadi, Nabi (
) biasanya
melakukan apa yang terbaik. Beliau akan mendorong umatnya agar mengikuti takziyah,
melakukan shalat jenazah dan mengikuti semua rangkaian pemakaman jenazah dan tidak
mengikutinya. Beliau mendorong puasa setiap hari tetapi tidak melakukannya sendiri.
Sebaliknya beliau memperpanjang puasanya sampai orang berpikir bahwa beliau tidak pernah
berbuka puasa, dan sebaliknya, sampai orang berpikir beliau tidak berpuasa. Semua itu sesuai
dengan apa yang paling mendatangkan keridhaan Allah dan bermanfaat bagi hatinya."
76
Allah juga menyebutkan bahwa harta benda dan anak-anak sebagai bagian dari
perhiasan dunia, dengan firman-Nya,
75
Puasa selama dua puluh empat jam yang disebut sebagai puasa wishal.
76
Tafsir Al Quranul Karim, hal. 17-20.
Islamic Online University Tafsir 202
50







“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di
sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al kahfi
18: 46)
Oleh karena itu, sebagaimana diterangkan oleh Ibn Taymiyyah, Allah
memperingatkan akan bahaya harta kekayaan, para istri dan anak-anak dengan firman-Nya,





“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat
demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al
Munafiqun 63: 9)




“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah
kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak
Islamic Online University Tafsir 202
51
memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghabun 64: 14)
Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa permusuhan yang disebutkan dalam ayat-ayat ini
bukanlah yang timbul dari kebencian dan konflik, tetapi yang dihasilkan dari cinta dan
perhatian yang mungkin menghalangi orang tua dari tugas-tugas agama seperti hijrah, jihaad,
menuntut ilmu dan mengeluarkan shadaqah. Beliau kemudian menceritakan dari Ibnu Abbas
bahwa ketika seseorang bertanya kepadanya (Ibnu Abbas) tentang ayat yang dikutip di atas
(64: 14), Ibnu Abbas mengatakan kepadanya bahwa ayat tersebut merujuk pada beberapa
orang Mekah yang memeluk Islaam. Ketika mereka memutuskan untuk berhijrah untuk
bergabung dengan Nabi (
) di Madinah, istri dan anak-anak mereka mencegah mereka
melakukannya. Kemudian, ketika mereka akhirnya bergabung dengan Nabi (
) dan
melihat bahwa orang lain telah belajar banyak tentang Islam, mereka ingin menghukum istri
dan anak-anak mereka. Maka Allah mewahyukan ayat itu: “Hai orang-orang mukmin,
Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”
77
78
Ibnul-Qayyim menyebutkan, “Allah Yang Mahatinggi memberi tahu bahwa Dia
menghiasi bumi dengan kekayaan dan hal - hal lain di atasnya sebagai cobaan dan ujian
karena Dia juga memberi tahu bahwa Dia menciptakan kematian dan kehidupan dan langit
serta bumi untuk tujuan yang sama.
79
Ini adalah tiga tempat dalam Al-Qur'an di mana Allah
Yang Maha Mulia memberi tahu bahwa Dia menciptakan dunia atas dan bawah dan apa yang
ada di antara mereka sebagai ujian. Dia menjadikan dunia yang paling agung dan
penghuninya yang paling agung, dan cara hidup mereka, baik emas, perak, rumah, pakaian,
kendaraan, pertanian, buah, hewan, wanita, anak-anak dan lainnya menjadi perhiasan bumi.
Semua itu diciptakan sebagai ujian dan cobaan untuk menemukan siapa yang paling taat dan
berusaha mendapatkan ridha Allah, yang terbaik dalam amalannya. Itulah realitas di balik
ciptaan-Nya atas langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Hasil dari ujian ini adalah
pahala atau siksa. Mengabaikan atau meniadakannya adalah sia-sia dan tidak masuk akal.
Selanjutnya, Allah menyucikan diri-Nya dengan Ketinggian dan jauh di luar perbuatan sia-sia
yang tidak bermakna dan Dia menegaskan bahwa kekuasaan-Nya adalah nyata dan keilahian
itu adalah milik-Nya sendiri.



77
Sunan At Tirmidzi,
78
Patience and Gratitude, hal. 32-8.
79
Surat Al Mulk 67: 2 dan Surat Hud 11:7.
Islamic Online University Tafsir 202
52
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak
akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al Mu’minun 23: 115-6)
Dia menyatakan bahwa diri-Nya Mahatinggi sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya
Mahasuci atas memiliki pasangan, anak atau istri, dan semua kekurangan lainnya, kekurangan
dan kelemahan seperti kantuk, tidur, lelah, membutuhkan, urusan untuk menjaga langit dan
bumi, peminta syafaat tanpa izin-Nya, sebagaimana keyakinan musuh kafir-Nya yang
mengecualikan beberapa unsur dunia dari pengetahuan Allah, bahwa ada sebagian unsur dari
alam semesta ini yang tidak diketahui Allah. Sama seperti kesempurnaan-Nya yang Suci dan
kesempurnaan Nama dan Sifat-Nya menolak dan meniadakan hal itu, itu juga membatalkan
anggapan bahwa Allah menciptakan hamba-hamba-Nya tanpa tujuan dan meninggalkan-Nya
tanpa memberi mereka arahan; tanpa memerintahkan mereka untuk melakukan yang baik dan
melarang mereka dari keburukan, atau mengembalikan mereka kepada diri-Nya untuk
memberikan pahala kepada yang baik di antara mereka atas kebaikan yang telah mereka
perbuat dan menghukum pelaku dosa disebabkan karena dosa-dosa mereka. Ini memberi tahu
orang-orang yang menyangkal hal ini bahwa mereka pembohong dan bersaksi bahwa para
rasul dan pengikut mereka lebih berhak atas kebenaran. Jadi, siapa pun yang menyangkal hal
ini, menyangkal keilahian dan ketuhanan Allah serta kekuasaan-Nya yang sejati, merupakan
kekafiran sejati pada Allah, Yang Maha Agung, seperti yang dikatakan oleh orang mukmin
kepada tetangganya,



“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang Dia bercakap-
cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia
menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al Kahfi 18:
37)
Dia menjelaskan bahwa penolakan terhadap Hari Kebangkitan itu sendiri merupakan
penolakan terhadap keberadaan Tuhan."
80
80
Ad Daw al-Munir, jilid 4, hal 148-9.
Islamic Online University Tafsir 202
53
Asy-Syaukani menjelaskan bahwa maksud di balik istilah "ujian" adalah bahwa Allah
memperlakukan mereka sedemikian rupa sehingga jika dilakukan oleh selain diri-Nya itu
akan menjadi bentuk ujian dan penilaian.
81
Asy-Syaukani membuat kualifikasi itu, karena
ujian biasanya hanya dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui sesuatu yang dia tidak tahu.
Jika dia sudah tahu hasilnya, dia tidak akan menjalankan tes karena itu akan sia-sia dan
berlebihan. Sedangkan dalam kasus Allah uji perilaku tidaklah untuk memberi tahu Allah
tentang manusia, karena Dia sudah tahu segalanya tentang mereka sebelum Dia menciptakan
mereka. Sebagai gantinya, ujian itu berfungsi untuk mengkonfirmasi Keadilan dan Rahmat
Allah pada Hari Pengadilan; bahwa mereka yang akan masuk neraka layak menerimanya dan
mereka yang masuk ke surga hanya bisa masuk surga atas rahmat Tuhan. Berkenaan dengan
manusia dalam kehidupan ini, ujian perilaku memiliki dua tujuan dasar: pertama,
pertumbuhan spiritual manusia, dan yang kedua, hukuman atau pahala.
Pertumbuhan Spiritual
Ujian dunia ini terutama ditujukan untuk pertumbuhan spiritual manusia. Sama seperti
api yang kuat yang memisahkan emas murni dari bijih kasar yang terikat di alam, ujian ini
memurnikan karakter moral orang mukmin. Ujian-ujian ini memaksa orang mukmin untuk
memilih kualitas spiritual mereka yang lebih tinggi daripada keinginan rendah mereka.
Meskipun tidak setiap ujian dilewati, bahkan ketiga mengalami kegagalan, orang mukmin
senantiasa tumbuh dengan mempelajari pelajaran/ibrah spiritual untuk membantunya dalam
menghadapi ujian di masa mendatang.
Misalnya, dalam semua masyarakat manusia, kualitas kedermawanan dianggap
sebagai di antara karakteristik/akhlak yang paling mulia. Namun, sifat ini tidak dapat
berkembang jika setiap orang memiliki jumlah kekayaan yang sama. Kemurahan hati hanya
dapat diperoleh ketika jiwa manusia - sadar bahwa berbagi dengan yang membutuhkan adalah
kebaikan - berjuang melawan keinginannya untuk menimbun harta miliknya. Sang Pencipta
dengan bijak mengatur panggung untuk perjuangan spiritual ini dengan mendistribusikan
kekayaan secara tidak merata di dunia ini. Dalam wahyu terakhir, Allah berfirman:

“dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain
dalam hal rezki” (QS. An Nahl 16: 71)
81
Fathul Qadir, jilid 3, hal 375.
Islamic Online University Tafsir 202
54
Keserakahan dan kekikiran adalah bentuk rusaknya keinginan alami manusia untuk
memiliki. Orang-orang mukmin diberi tahu melalui wahyu bahwa kekayaan adalah amanah
yang diberikan kepada umat manusia oleh Allah. Harta ada di dunia sebelum manusia
dilahirkan dan tetap di sana setelah mereka mati. Jika kekayaan digunakan sesuai dengan
perintah Allah, maka harta itu akan menguntungkan mereka yang memilikinya di kedua
dunia. Tetapi jika digunakan secara egois, ia menjadi kutukan dalam hidup ini dan menjadi
penyebab siksa di akhirat kelak.
Penyucian Diri
Ujian kehidupan ini juga datang dalam bentuk 'malapetaka' dan musibah yang
berkontribusi pada pertumbuhan rohani orang mukmin sejati, dan menyucikan diri mereka
dari dosa, jika mereka sabar dengan cobaan. Pertimbangkan kasus sahabat wanita Nabi (
)
yang datang kepadanya dan mengaku bahwa ia telah melakukan perzinahan memintan beliau
agar menyucikannya dengan hukuman rajam sampai mati. Ketika Nabi (
) berusaha untuk
mencegahnya, dia bersikeras, jadi beliau menyuruhnya untuk kembali setelah dia melahirkan
bayinya. Dengan melakukan itu, Rasulullah
memberinya kesempatan untuk melepaskan
diri dan tidak kembali untuk dihukum. Namun, setelah sembilan bulan dia kembali dengan
bayi yang baru lahir dan meminta hukumannya. Nabi (
) kemudian menyuruhnya untuk
kembali setelah dia menyapih anak itu, dua tahun kemudian. Ketika ia kembali dua tahun
kemudian dengan anak itu, Nabi (
) terpaksa memerintahkan agar ia dirajam sampai mati.
Ketika dirajam darah berceceran pada pakaian salah satu sahabat dan dia mengutuknya. Nabi
(
) melarangnya melakukan hal tersebut dengan mengatakan:
"Tahanlah, janganlah engkau mengumpatnya. Demi Dzat yang jiwanya ada
di tanganNya. Sungguh ia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya
pemungut pajak, memungut pajak tidak sesuai dengan syari'at (Islam),
niscaya pemungut pajak akan mendapatkan ampunan."
Pengingat
Ujian yang berubah musibah dalam kehidupan juga berfungsi sebagai pengingat bagi
orang-orang mukmin yang tengah berada dalam penyimpangan agar kembali ke jalan yang
benar. Ketika menyimpang, jarang sekali mereka mau mendengarkan nasihat orang-orang di
sekitar mereka. Namun, ketika musibah menimpa mereka atau menimpa mereka yang dekat
dan mereka sayangi, itu menyentak mereka yang masih memiliki iman untuk mengakui
kesalahan mereka.
Islamic Online University Tafsir 202
55







“Dan Sesungguhnya Kami
82
menimpakan kepada mereka sebahagian
azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat),
Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. As
Sajdah 32: 21)
Ujian musibah yang mengingatkan umat manusia akan penyimpangan mereka
mungkin datang dalam bentuk kezhaliman manusia kepada sesamanya, seperti dalam kasus
kekejaman yang tak terperikan yang dilancarkan oleh orang-orang Serbia terhadap Muslim
Bosnia yang telah menyimpang jauh dari Islam, atau kebrutalan invasi Saddam ke Kuwait dan
berikutnya pemboman tanpa pandang bulu oleh Amerika yang menyasar kalangan sipil di
Irak. Allah menunjukkan bahwa apa pun yang diderita manusia dengan sebab tangan manusia
lain, sesungguhnya merekalah yang menyebabkan atas diri mereka sendiri. Bagaimanapun
juga, penderitaan adalah pengingat agar manusia kembali ke jalan yang benar.






“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar). (QS. Ar Rum 30:41)
Kemunafikan
Ujian juga mengekspos orang-orang mengaku-aku sebagai orang yang beriman, serta
menunjukkan mereka yang termasuk orang-orang yang kafir bahwa mereka sendiri yang
82
“Kami” dalam Bahasa Arab yang asli adalah ‘kami’ untuk pengagungan yang berarti Allah.
Islamic Online University Tafsir 202
56
memilih neraka dengan kehendak bebas mereka sendiri. Ada banyak kasus di mana seorang
masuk Islam karena alasan yang salah, dan setelah mengalami kesulitan yang lebih berat dan
lebih banyak dalam hidup mereka daripada sebelum mereka bertaubat, mereka kembali
kepada agama mereka sebelumnya. Allah menyatakan dalam surat al-Ankabut dari wahyu
terakhir,




“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"
(QS. Al Ankabut 29: 2)
Sebagai Hukuman
Mereka yang melampaui batas yang telah ditentukan oleh Allah maka mereka telah
membuka diri mereka sendiri terhadap hukuman dalam kehidupan ini dan di akhirat kelak.
Pada banyak tempat dalam Al-Quran, Allah menggambarkan banyak umat di masa lalu yang
menolak petunjuk Allah dan kemudian mereka dihancurkan. Kisah-kisah ini berfungsi sebagai
peringatan bagi umat manusia tentang konsekuensi penentangan terhadap perintah-perintah
Allah. Dalam Surat an-Nur, Allah memberikan peringatan umum sebagai berikut,










“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti
panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).
Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-
angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya),
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut
Islamic Online University Tafsir 202
57
akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nur 24:
63)
Hukuman ini bisa datang dalam berbagai cara yang berbeda. Mungkin hukuman yang
paling jelas yang menimpa manusia di semua negara saat ini adalah penyakit AIDS
83
yang
muncul untuk pertama kalinya dalam sejarah medis di awal 80-an.
84
Sebagian besar dari
mereka yang terkena dampaknya di seluruh dunia adalah mereka yang melakukan pergaulan
bebas. Awalnya homoseksual adalah korban utama, kemudian biseksual, diikuti oleh
heteroseksual yang melakukan pergaulan bebas dan pengguna narkoba suntikan. Semua
kelompok ini melakukan penentangan terbuka terhadap hukum Allah yang membatasi
hubungan seksual dengan pria dan wanita dalam batas-batas pernikahan dan hukum-hukum
yang melarang penggunaan minuman keras. Beberapa dapat menunjukkan bahwa AIDS juga
menyebar ke orang-orang yang menjaga diri mereka (dari pergaulan bebas) melalui transfusi
darah dan kepada anak-anak oleh orangtua mereka. Namun, statistik medis menunjukkan
bahwa kasus-kasus seperti itu relatif sedikit dibandingkan dengan kasus-kasus dalam kategori
lainnya. Bagaimanapun, Allah telah memperingatkan dalam wahyu akhir bahwa ketika
hukuman-Nya datang itu tidak terbatas hanya pada orang-orang jahat saja, tetapi juga
mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.





“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah
bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfal 8: 25)
Seribu empat ratus tahun yang lalu Nabi Muhammad () telah meramalkan
datangnya cobaan seperti itu. Ibnu ‘Umar mengutipnya dengan mengatakan, "Tidaklah
kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan
83
Acquired immune deficiency syndrome (Aids) adalah suatu kondisi yang ditularkan oleh virus yang
menyerang sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit, membuat penderitanya sangat rentan terhadap penyakit
dan kemungkinan pada akhirnya akan meninggal dari siapa saja yang terjangkit virus ini (Chambers Pocket
Dictionary, hlm. 19)
84
Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1981. (The New Encyclopaedia Britannica, jilid 10, hlm.
676)
Islamic Online University Tafsir 202
58
kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha'un dan kelaparan yang belum pernah
terjadi terhadap para pendahulu mereka."
85
Bagaimanapun juga, AIDS hanyalah satu dari sekian banyak penyakit. Sebelum AIDS,
peringatan datang dalam bentuk penyakit lain yang disebut herpes yang tersebar luas di
kalangan orang-orang yang melakukan pergaulan bebas pada awal tahun 1960 an dan 70an.
Penyakit ini dinyatakan sebagai epidemi di Amerika pada pertengahan tahun tujuh puluhan,
dan tidak ada obat yang diketahui sampai sekarang. Hari ini, satu dari setiap empat orang
Amerika menderita Herpes dan satu dari setiap lima orang Inggris menderita penyakit ini.
Namun, perhatian orang beralih darinya pada akhir 70-an karena penyakit ini tidak fatal,
86
beda halnya AIDS yang sifatnya mematikan.
87
85
Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, jilid 2, hal. 370, no. 3246.
86
Ketika gejala terjadi, demam dan malaise diikuti oleh rasa sakit yang membakar di daerah genital dan
pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan. Lepuh dan bisul kecil biasanya ditemukan di area infeksi,
dan ada rasa sakit yang hebat dan terbakar saat buang air kecil. (The New Encyclopaedia Britannica, vol. 21,
hlm. 536).
87
The Purpose of Creation, hlm. 68-93
Islamic Online University Tafsir 202
59


8. Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa
yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.
Syaikh As-Sa‘di berkomentar, “Allah Yang Mahakuasa memberi tahu bahwa Dia
membuat semua yang ada di muka bumi; makanan dan minuman yang enak, rumah yang
nyaman, pohon, sungai, tumbuh-tumbuhan, buah, pemandangan indah, taman yang indah,
suara merdu, emas dan perak, kuda dan unta, dan sebagainya; Dia menjadikan semuanya
sebagai perhiasan sebagai cobaan dan ujian. 'Untuk menguji yang mana di antara mereka
yang terbaik perbuatannya,' yaitu [yang perbuatannya] paling tulus/ikhlas dan benar.
Namun terlepas dari itu, Allah akan membuat semua ini memudar dan bumi akan kembali ke
kondisi kering tanpa rasa manisnya. Sungai-sungainya akan berhenti mengalir dan semua
jejaknya akan lenyap, dan kesenangan dunia akan lenyap. Inilah kenyataan dunia ini yang
Allah jelaskan bagi kita di sini, seolah-olah kita dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Dia melakukannya untuk memperingatkan kita agar tidak dibodohi dan ditipu olehnya, dan
untuk mendorong kita agar menginginkan rumah yang kesenangannya abadi, dan yang
penghuninya selalu bahagia. Dan Dia melakukan itu sebagai rahmat bagi kita.
Seseorang yang hanya melihat bagian luar dunia ini akan tertipu oleh perhiasan dan
keindahannya. Mereka berlari di belakang dunia ini seperti kawanan binatang. Mereka
mengambil kesenangan darinya seperti ternak, tidak memikirkan hak-hak Tuhan mereka, atau
peduli untuk mengenal-Nya. Mereka memenuhi keinginan mereka dengan cara apa pun yang
tersedia dan dalam kondisi apa pun yang nyaman. Dan ketika kematian mendekati salah
seorang dari orang-orang ini, ia menjadi kesal karena lemah dan hancurnya tubuhnya dan
hilang kesenangannya, bukan tentang kelalaiannya dan kejahatan yang telah dilakukannya.
Adapun orang yang melihat sisi dalam dunia ini, ia sadar akan maksud dan tujuannya.
Sebagai hasilnya, ia hanya mengambil dari dunia apa yang akan membantunya untuk
memenuhi tujuan penciptaannya, dan ia mengambil manfaat penuh dari peluang untuk
melakukan kebenaran dalam kehidupan mulianya. Dia menjadikan dunia ini sebagai tempat
persimpangan dan bukan tempat kesenangan, tempat untuk singgah sebentar dalam perjalanan
dan bukan tempat tinggal. Jadi dia mencurahkan upaya terbaiknya untuk mengenal Tuhannya,
untuk mematuhi perintah-Nya, dan untuk menyempurnakan amalannya. Orang seperti itu
berada di posisi terbaik di hadapan Allah, dan dia pantas mendapatkan segala kehormatan dan
kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan yang Allah sediakan untuknya. Karena dia melihat
Islamic Online University Tafsir 202
60
bagian dalam dunia sementara yang tertipu hanya melihat bagian luarnya, dia bekerja untuk
akhiratnya sementara yang tanpa tujuan bekerja hanya untuk keberadaannya yang duniawi.
Jadi ada perbedaan besar di antara mereka. "
88
88
Taisir Karimir Rahman, hlm. 646-7
Islamic Online University Tafsir 202
61


9. Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan
(yang mempunyai) raqim
89
itu, mereka Termasuk tanda-tanda
kekuasaan Kami yang mengherankan?
Ayat ini mengawali kisah tentang Para Penghuni Gua
90
yang menjadi nama surat ini.
Dalam ayat 9-12 Allah pertama-tama memberikan ringkasan cerita sebelum membahas lebih
detailnya dalam ayat 13-26.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berarti: “Wahai Muhammad, kisah tentang
para Penghuni Gua dan raqim itu bukanlah sesuatu yang benar-benar mencengangkan
dibandingkan dengan kekuatan dan kekuasan-Ku. Penciptaan langit dan bumi, pergantian
malam dan siang dan penaklukan matahari, bulan dan benda-benda langit, dan tanda-tanda
agung lainnya semua menunjukkan sesuatu dari kekuatan Allah yang luar biasa dan
menunjukkan bahwa Dia mampu melakukan apapun yang Dia kehendaki. Dia mampu
melakukan hal-hal yang jauh lebih menakjubkan daripada kejadian tentang orang-orang yang
menghuni Gua. Mujahid diriwayatkan mengatakan tentang ayat ini "Di antara tanda-tanda
Kami adalah hal-hal yang lebih menakjubkan daripada hal ini."
91
Ada peringatan dalam ayat ini bagi umat manusia bahwa manusia dan kejadian-
kejadian dalam kehidupan mereka sangat tidak berarti dalam hubungannya dengan seluruh
penciptaan. Manusia perlu diingatkan pada tempat mereka yang sebenarnya karena kekayaan
dan penemuan teknologi yang berlimpah sering kali membuat mereka sombong dan arogan.
Di tempat lain di Al-Qur'an, Allah dengan jelas menegaskan fakta ini dengan berfirman,
89
Ar-Raqim ditafsirkan dalam berbagai cara. Ka‘b dan as-Suddi mengatakan itu adalah kota tempat para pemuda
melarikan diri; Sa‘id ibn Jubair dan Mujaahid mengatakan bahwa itu adalah sebuah batu atau plakat timah
tempat nama mereka ditulis dan diletakkan di atas mulut gua. Ini juga pendapat al-Farraa' dan Ibnu 'Abbas.
Yang lain mengatakan itu adalah nama anjing mereka, lembah tempat mereka berada, atau nama gunung
tempat gua itu berada. (Fat'hul Qadir, vol. 3, hlm. 377)
90
Para Penghuni Gua kadang-kadang disebut dalam terjemahan sebagai "Para Sahabat Gua (Ashabul Kahfi)",
karena istilah As'haab (pl. Saahib) dalam bahasa Arab secara harfiah berarti "sahabat". Namun, itu juga
memiliki makna kedua yaitu "orang yang terhubung dengan" atau "pemilik", seperti pada frasa Shahib ash-
Syarikah yang berarti "pemilik perusahaan."
91
Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 6, hlm. 117
Islamic Online University Tafsir 202
62






“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada
penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (QS. Al Ghafir 40: 57)


“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah
membinanya” (QS. An Naziat 79: 27)
92
Kisah ini terkait dengan sebuah riwayat yang dikeluarkan dalam Biografi Nabi (
)
yang disusun oleh Ibnu Is'haq tetapi ada kelemahan dalam rantai sanadnya. Namun, umumnya
riwayat ini tetap dikutip sebagai alasan untuk menjelaskan kandungan surat ini. Riwayat
tersebut menyatakan bahwa sebuah utusan dari orang-orang kafir Mekah pergi ke Madinah
dan bertanya kepada orang-orang Yahudi, “Apa yang bisa kami lakukan untuk
mengungkapkan bahwa Muhammad itu palsu?" Orang-orang Yahudi menjawab: "Tanyakan
padanya tiga pertanyaan, jika dia menjawab pertanyaan ini dengan benar maka dia adalah
sungguh-sungguh seorang nabi dan kalian harus mengikutinya. "Pertanyaan pertama yang
mereka katakan kepada orang-orang musyrik itu adalah tentang para penghuni Gua.
93
Ada sebuah cerita tentang Para Penghuni Gua yang beredar di kalangan orang Kristen
saat ini; itu adalah legenda Tujuh Penidur Ephesus
94
. Menurut cerita, selama penganiayaan
terhadap orang-orang Kristen pada tahun 250 M di bawah kaisar Romawi Decius, tujuh
(dalam beberapa versi delapan) tentara Kristen disembunyikan di dekat kota asalnya, Ephesus,
di sebuah gua yang pintu masuknya kemudian disegel. Di sana, setelah melindungi diri
mereka dari dipaksa melakukan pengorbanan syirik, mereka jatuh dalam tidur yang ajaib.
Pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Timur Theodosius II (408 - 450), gua itu dibuka
kembali dan orang-orang yang tidur terbangun. Kaisar tersentuh oleh keajaiban kehadiran
92
Adwaaul Bayan, jilid 4, hlm. 15
93
Tafsir ath Thabari, jilid 8, hlm. 174-5. Lihat catatan kaki 7.
94
Ephesus adalah sebuah kota di pantai barat Asia kecil yang sekarang masuk ke dalam wilayah Turki.
Islamic Online University Tafsir 202
63
mereka dan oleh kesaksian mereka terhadap doktrin Kristen tentang kebangkitan tubuh.
Setelah dijelaskan makna yang mendalam dari keberadaan mereka, Tujuh orang yang tertidur
di dalam Gua ini meninggal. Theodosius II kemudian memerintahkan agar jenazah mereka
diabadikan dan dia membebaskan semua uskup yang telah dianiaya karena percaya pada
kebangkitan. Legenda ini masih ada dalam beberapa versi termasuk bahasa Yunani, Suryani,
Koptik dan Georgia.”
95
Kejadian ini mestinya terjadi pada abad ke-5 dari Era Kristen, sedangkan Islaam
muncul lebih dari seratus tahun kemudian, jadi jelas itu bukan sesuatu yang secara langsung
dikaitkan dengan sumber-sumber Islam. Islaam mengkonfirmasikannya dalam Al-Qur'an,
tetapi detail cerita memiliki beberapa perbedaan. Tercatat dalam sumber literatur umat
Muslim bahwa pada abad ke-9, pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah Al-Waatsiq, ia
mengirim sebuah ekspedisi untuk mencari dan mengidentifikasi lokasi para penghuni Gua dan
untuk menemukan dinding Dzul-Qarnain di Asia Tengah.
96
95
Encyclopaedia Britannica, vol. 10, hal. 666. Tradisi Barat menyebut nama-nama dari tujuh orang penghuni gua
(Seven Sleepers) adalah Maximian, Malchus, Marcian, John, Denis, Serapion, dan constantine; Tradisi Paskah
menamai mereka Maximilian, Jamblichus, Martin, John, Dionysius, Antonius, dan Constantine. Hari raya
mereka adalah 27 Juli di Gereja Katolik Roma dan 2/4 Agustus dan 22/23 Oktober di Gereja Ortodoks Yunani
96
Tafsir Al Quranul Adzim, Jilid 4, hlm. 251.
Islamic Online University Tafsir 202
64




10. (Ingatlah) Tatkala Para pemuda itu mencari tempat berlindung ke
dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan Kami, berikanlah
rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami
petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini)."
Imam al-Qurthubi menyatakan, “Ayat ini secara eksplisit terkait dengan melarikan diri
demi menyelamatkan agama seseorang dan meninggalkan (hijrah) keluarga, anak-anak,
kerabat, teman, tanah dan kekayaan karena takut akan cobaan dan kedzaliman yang mungkin
dialami seseorang. Nabi (
) meninggalkan Mekah menyelamatkan diri karena agama
beliau dan begitu pula para sahabatnya, dan beliau bersembunyi di sebuah gua seperti yang
sebelumnya disebutkan dalam Surat an-Nahl dan Allah juga menyinggungnya dalam Surat
Baraa'ah yang juga disebutkan sebelumnya. Mereka meninggalkan kota mereka dan
meninggalkan tanah, rumah, keluarga, anak-anak, kerabat dan teman dekat mereka, berharap
untuk mempertahankan agama mereka dan melarikan diri dari penganiayaan yang dilakukan
oleh orang-orang kafir musyrik. Jadi tinggal di pegunungan, tinggal di gua-gua, dan
mengisolasi diri dari orang-orang untuk mengasingkan diri dengan Sang Pencipta, dan
diizinkan untuk melarikan diri dari para tiran adalah Sunnah (jalan) para nabi dan orang suci.
Rasulullah (
) lebih suka mengasingkan dan begitu pula sejumlah ulama, terutama
selama di masa yang penuh kezhaliman dan kerusakan.”
97
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ﻋ ﷲا ﻰ
ّ
َ
ﺻ ﷲا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ُ
ِ
ْ
ﺑا
ْ
َ
97
Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 9-10, hlm. 298.
Islamic Online University Tafsir 202
65
))ﻟا
َ
ﻦﻣ
ٌ
ﲑﺧ ﻢﻫاذأ ﻰﻠﻋ
ُ
ﱪﺼ
َ
و
َ
سﺎﻨﻟا
ُ
ﻂﻟﺎﳜ يﺬﻟا
ُ
ﻦﻣﺆﳌا ﻻ يﺬ
ْ
ﻢﻫاذأ ﻰﻠﻋ
ُ
ﱪﺼﻳ ﻻو
َ
سﺎﻨﻟا
ُ
ﻂﻟﺎ
ُ
((
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, "Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan
bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang
mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar
terhadap gangguan mereka."
98
Al-Qurtubi menyebutkan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa pengasingan
harus bisa mengisolasi dirinya dari kejahatan dan para pelakunya di dalam hati dan perbuatan
seseorang ketika ia ada di antara mereka. Dan Ibnul Mubaarak menjelaskan pengasingan
(‘uzlah) artinya adalah berada di antara orang-orang, dan ketika mereka menyibukkan diri
mereka untuk mengingat Allah maka engkau bergabung dengan mereka, dan ketika mereka
menyibukkan diri mereka pada selain itu, maka diamlah.
99
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ُ
َ
ِ
َ
ُ
َ
أ
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ُ
ْ
ِ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و))
ُ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ُ
ﺮﻟا
ِ
لﺎ
َ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ٌ
نﺎ
َ
َ
ز
ِ
سﺎﻨﻟا
َ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ِ
َ
ِ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ِ
ِ
ﻨﻳ
ِ
ِ
ِ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ﻗا
َ
َ
َ
و
ِ
لﺎ
َ
ِ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
ﺷ ﺎ
َ
ِ
ُ
((
Dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya ia mendengarnya mengatakan,
kudengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan datang suatu
Zaman bagi manusia, yang ketika itu sebaik-baik harta seorang muslim
adalah kambing yang ia gembalakan di puncak-puncak gunung dan tempat-
tempat turunnya hujan, ia lari menyelamatkan agamanya dari fitnah (krisis
agama)."
100
Al-Qurtubi berkata: Situasi orang mengenai hal ini berbeda. Satu orang mungkin
memiliki kekuatan untuk hidup di gua-gua di pegunungan, yang merupakan tingkat tertinggi
98
Sunan at-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah, Kitaab: Fitan Baab: Sabr ala al balaa dan dishahihkan dalam
Shahih Sunan Ibn Maajah.
99
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol. 9-10, p. 299.
100
Sahih Al-Bukhari, vol. , p. , no. , Kitaab Riqaaq; Baab: al ‘uzlah raahah
Islamic Online University Tafsir 202
66
karena itu adalah yang dipilih oleh Allah untuk Nabi-Nya (
) pada awalnya, dan
menyebutkannya mengenai para pemuda yang mengatakan: "Dan apabila kamu
meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat
berlindung ke dalam gua itu... (18: 16). Mungkin bagi orang lain, pengasingan di
rumahnya lebih mudah. Beberapa sahabat yang ikut serta dalam Pertempuran Badr
mengasingkan diri di rumah mereka setelah pembunuhan khalifah ‘Utsman dan tidak pergi
kecuali ke kuburan mereka. Mungkin keadaan orang lain untuk berada di antara mereka dan
dia memiliki kekuatan untuk bersabar sambil bergaul dengan orang-orang dan menanggung
kerugian mereka. Jadi, dia bersama mereka secara lahirnya sementara melawan mereka dalam
batinnya.
َ
لﺎ
َ
ٍ
ِ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ))
ُ
ن
ذ
َ
ُ
ـﻳ
ٍ
َ
َ
ِ
ٍ
ِ
َ
ِ
س
ْ
أ
َ
ر
ِ
ٍ
َ
َ
ﻏ ﻲ
ِ
ﻋا
َ
ر
ْ
ِ
ْ
ُ
َ
ر
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
ِ
إ او
ُ
ُ
ْ
ﻧا
َ
َ
و
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ ﻲ
َ
ُ
َ
و
ِ
ة
َ
ﺼﻟﺎ
ِ
ُ
ن
ذ
َ
ُ
ـﻳ ا
َ
َ
ﻫ ي
ِ
ْ
َ
َ
ْ
ﳉا
ُ
ُ
ْ
َ
ْ
د
َ
أ
َ
و ي
ِ
ْ
َ
ِ
ُ
ت
ْ
َ
َ
ْ
َ
ِ
ُ
فﺎ
َ
َ
َ
ة
َ
ﺼﻟا
ُ
ﻢﻴ
ِ
ُ
َ
و((
Dari 'Uqbah bin 'Amir dia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Rabb kalian kagum terhadap seorang yang
mengumandangkan shalat di atas bukit, kemudian dia shalat, maka Allah
Azza wa Jalla berfirman; "Lihatlah kepada hamba-Ku ini, dia
mengumandangkan adzan lalu shalat karena takut kepada-Ku, Aku telah
mengampuni dosa hamba-Ku dan memasukkannya ke dalam surga."
101
Poin kedua adalah dalam pernyataan Allah Yang Mahakuasa Mereka berdoa:
"Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat [ampunan dan pahala] kepada Kami dari sisi-
Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini)
[menurut Ibnu Abbas, maksudnya adalah jalan keluar dari gua ini dan keamanan]" Ketika
mereka melarikan diri ke gua dari orang-orang yang mengejar mereka, mereka menyibukkan
101
Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab: Adzan fi Safar, Sunan an-Nasai, Kitaab: Adzaan Baab: adzan liman
yusalli wahdahu, Shahih Sunan an-Nasaa’i.
Islamic Online University Tafsir 202
67
diri dengan berdoa dan mencari perlindungan kepada Allah. Menurut konsep ini, Nabi (
)
biasanya bersegera melakukan shalat setiap kali ada yang mengganggunya
102
103
Syaikh As Sa’di menyebutkan, “Mereka menggabungkan antara usaha dan
menyelamatkan diri dari penganiayaan ke tempat di mana mereka bisa bersembunyi dengan
memohon dengan penuh kerendahan hati kepada Allah untuk memudahkan urusan mereka
dan menghindari dari sikap bergantung pada diri mereka sendiri atau makhluk lain.”
104
Para pemuda mencari perlindungan di gua, tetapi tidak ada jaminan bahwa gua akan
melindungi mereka. Jadi, setelah melakukan apa yang mereka bisa, mereka kembali kepada
Allah mempercayai-Nya untuk mengurus urusan mereka. Ini merupakan prinsip yang sangat
mendasar dalam Islam; Setelah melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri, ia harus
menaruh kepercayaan pada Allah. Ini dikenal dalam bahasa Arab sebagai tawakkul. Percaya
kepada Allah tanpa melakukan upaya apa pun disebut tawaakul. Prinsip ini diabadikan dalam
hadits yang terkenal di mana seorang laki-laki mendatangi Nabi (
) dan bertanya
kepadanya apakah ia harus mengikat untanya atau meninggalkannya demi bertawakkal Allah.
Nabi (
) menasihatinya untuk melakukan keduanya.
105
ُ
ة
َ
ِ
ُ
ْ
ﻟا ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
ُ
نﺎ
َ
ْ
ﻟا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
َ
ﳛ ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
ِ
َ
ُ
ْ
ﺑ و
ُ
ْ
َ
ﻋ ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
ْ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
أ
ُ
ْ
ِ
َ
ﲰ لﺎ
َ
ِ
و
ُ
ﺴﻟا
َ
ة
ُ
ـﻗ
ِ
َ
أ
ُ
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
َ
ـﺗ
َ
أ
َ
و ﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
أ
ْ
و
َ
أ
ُ
َ
َ
ـﺗ
َ
أ
َ
و ﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر ﺎ
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
))
ْ
َ
َ
ـﺗ
َ
و ﺎ
َ
ْ
ِ
ْ
ﻋا((
102
Sunan Abu Dawud, Kitaab: Shalat; Bab: Waqt qiyaam al layl hadits yang semakna dengan ini dapat
ditermukan dalam Shahih Muslim, Kitab: Dzikr wa Du’aa; Bab: Du’a al Karb. Lafadz hadits dalam Sunan Abu
Dawud yakni sebagai berikut,
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
نﺎﻛ لﺎﻗ
َ
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ْ
َ
ٌ
ْ
َ
أ
ُ
َ
َ
َ
ﺣ اذإ
َ
Dari Hudzaifah dia berkata, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertekan oleh
suatu urusan, beliau mengerjakan shalat”
103
Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 9-10, hlm. 299-301.
104
Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 647.
105
Shahih Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Shifaatul Qiyamah war Raqaa’iq
Islamic Online University Tafsir 202
68
Telah menceritakan kepada kami Amru bin Ali telah bercerita kepada kami
Yahya bin Sa'id Al Qattan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin
Abu Qurrah As Sadusi berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata;
Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus
mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja
kemudian bertawakkal? beliau menjawab: Ikatlah untamu kemudian
bertawakkallah."
Perlu dicatat bahwa dalam kisah ini Allah berbicara tentang fityah (para pemuda). Ini
penting dalam kasus Nabi (
) bahwa tidak ada keluarga terdekatnya yang lebih tua dari
beliau yang menerima Islam di Mekah. Mereka yang menerima Islaam dari luar keluarganya
semua adalah kaum muda. Sementara orang-orang tua, para pemimpin dan ketua kabilah,
tidak menerima Islaam. Sebagian besar dari mereka berperang terus-menerus melawan Nabi
(
) dan kebanyakan dari mereka mati dalam pertempuran sebagai seorang kafir.
106
Ini menunjukkan fenomena bahwa kaum muda cenderung menjadi kelompok yang
paling tanggap menerima Islaam. Rata-rata usia orang yang menerima Islam di Amerika
berusia pertengahan 20-an. Dari 3.000 tentara Amerika yang menerima Islam setelah Perang
Teluk Pertama, sebagian besar berusia awal dua puluhan. Pada sebagian besarnya, kaum
muda lebih terbuka terhadap ide-ide baru karena mereka melekat pada adat dan tradisi seperti
orang-orang yang lebih tua. Adalah umum di dalam semua masyarakat bahwa kaum muda
menentang status quo. Mereka dikenal karena sifat pemberontak mereka. Mereka bersedia
menentang apa yang orang lain yakini jika mereka menemukan sesuatu yang benar yang
bertentangan dengan kebiasaan umum. Padahal orang yang lebih tua cenderung takut pada
akibat yang mungkin timbul jika melawan norma dan mereka rela mengabaikan perasaan
pribadi mereka. Paman Nabi
, Abu Taalib, adalah contoh klasik dari prinsip ini. Jadi
orang-orang muda ini memberontak terhadap penyembahan berhala yang dipaksakan pada
mereka selama masa hidup mereka. Mereka berdiri dengan keyakinan mereka dan kembali
kepada Allah untuk meminta pertolongan dan Allah melindungi mereka.
Pelajaran lain yang mungkin diambil dari kisah ini adalah Allah menggunakan para
pemuda sebagai contoh keteguhan hati untuk beriman kepada Al-Qur'an untuk menekankan
pentingnya iman pada kaum muda. Allah menempatkan keteguhan iman di masa muda pada
tingkat khusus. Orang-orang muda yang dibesarkan dengan iman kepada Allah dan
mempertahankan keyakinan itu maka pada hari kiamat ketika tidak ada naungan, dan matahari
didekatkan kepada orang-orang yang berdiri menunggu Penghakiman, sebagian dari mereka
berkeringat hingga menggenangi lutut mereka, yang lain hingga leher mereka dan sebagian
106
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, hlm. 120
Islamic Online University Tafsir 202
69
yang lain akan tenggelam dalam keringat, dan pada hari itu tujuh kelompok orang akan
dinaungi oleh ‘Arsy Allah, salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam keadaan
beriman pada Allah.
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ْ
ُ
ِ
ُ
ٌ
َ
ْ
ـﺒ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ِ
ة
َ
دﺎ
َ
ِ
ِ
َ
َ
َ
بﺎ
َ
َ
و
ُ
ل
ِ
دﺎ
َ
ْ
ﻟا
ُ
مﺎ
َ
ِ
ْ
ﻹا
ُ
ِ
ِ
إ
ِ
َ
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ِ
ِ
ِ
ُ
ﻠﻟا
َ
ـﻗ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
و
ِ
َ
ر
َ
َ
َ
ْ
ﺟا
ِ
ﻠﻟا
ِ
ﰲ ﺎ
ﺑﺎ
َ
َ
ِ
ن
َ
ُ
َ
ر
َ
و
ِ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ٌ
َ
ُ
ُ
ُ
ْ
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٍ
لﺎ
َ
َ
َ
و
ٍ
ِ
ْ
َ
ُ
تا
َ
ذ
ٌ
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣا
ُ
ْ
َ
َ
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ﻋ ﺎ
َ
َ
َ
ـﺗ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
َ
ُ
ُ
ﻟﺎ
َ
ِ
َ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
ﺣ ﻰ
َ
ْ
َ
أ
َ
ق
َ
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
و
َ
ﻠﻟا
ُ
فﺎ
َ
َ
أ
ُ
ُ
ﻨﻴ
ِ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
ـﺗ ﺎ
ُ
ﻩﺎ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ْ
َ
ﺿﺎ
َ
َ
ـﻓ ﺎ
ً
ِ
ﻟﺎ
َ
َ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
ذ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
و
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada
tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang
tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang
pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabbnya, seorang
laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling
mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan
berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh
seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah',
dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan
kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta
seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri
hingga kedua matanya basah karena menangis."
107
Golongan kedua dari mereka yang dinaungi pada hari tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya yaitu seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada
Rabbnya. Golongan ini terkait dengan yang pertama dalam arti bahwa jika ada pemimpin
yang adil dan ia menetapkan hukum Allah di seluruh masyarakat, maka sebagian besar anak-
anak akan tumbuh dalam keadaan bertaqwa kepada Allah. Mereka sadar akan Allah, karena
107
Shahih Bukhari, Kitab: Adzan, Bab: Man jalasa fil masjidi yantadzirus shalah
Islamic Online University Tafsir 202
70
itu akan dimasukkan ke dalam sistem pendidikan mereka, dalam sistem sosial mereka, dan di
dalam seluruh unsur masyarakat. Jadi, akan relatif mudah bagi seorang pemuda untuk
dibesarkan dalam keadaan menyibukkan diri beribadah kepada Allah. Fakta bahwa Nabi
(
) memberikan status khusus kepada para pemuda yang dibesarkan untuk beribadah Allah
menyiratkan bahwa sebagian besar masyarakat pada sebagian besar waktu tidak akan
memiliki penguasa yang adil.
Dengan keadaan masyarakat seperti sekarang ini, seorang pemuda yang tumbuh besar
beribadah kepada Allah sangat langka. Inilah yang membuatnya sangat istimewa, karena
dalam masa-masa tumbuh dewasa - dari fase "terrible two" dan setelahnya - ada
pemberontakan, yang cenderung memuncak pada masa remaja ketika mereka ingin
mengekspresikan diri mereka dan menetapkan aturan mereka sendiri. Jadi, pikiran untuk
beribadah kepada Allah di masa-masa ini akan sangat sulit. Namun, itu bisa dicapai; jika
tidak, Nabi (
) tidak akan membicarakannya. Poin ini memiliki referensi khusus kepada
orang tua. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar untuk
membesarkan anak-anak mereka agar menjadi anak-anak yang beribadah kepada Allah. Ini
juga merupakan hak dasar anak-anak bahwa mereka dibesarkan dengan benar. Untuk
melakukan hal itu diperlukan agar setiap pria dan wanita mengikuti rencana yang diwariskan
oleh Nabi Muhammad (
) untuk membesarkan anak-anak yang saleh. Rencana itu terdiri
dari berbagai langkah, yang paling mendasar adalah sebagai berikut:
Langkah Pertama: Memilih Pasangan yang Shalih/Shalihah. Jika seseorang berencana
untuk memiliki anak-anak yang saleh, ia harus mulai dengan memilih pasangan yang benar
pada saat pernikahan. Seseorang tidak dapat secara wajar berharap untuk membesarkan anak-
anak yang shalih dengan pasangan yang tidak shalih. Poin ini ditekankan oleh Nabi (
)
ketika beliau mengatakan bahwa wanita dan pria menikah karena 4 alasan: karena kecantikan,
karena kekayaan, karena status dan karena kesalehannya. Beliau kemudian memerintahkan
kepada orang-orang mukmin agar menikahi mereka yang saleh untuk menjamin keberhasilan
pernikahan.
108
Dengan demikian, keputusan untuk memiliki anak-anak yang saleh harus mulai
diimplementasikan dari saat menikah.
108
Shahih al-Bukhari, Kitab: Nikah, Bab: Akiffaa fiddiin, dan Shahih Muslim, Kitab: Ridaa’, Bab: Istihbab
nikaah idza ad Diin
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٍ
َ
ْ
ر
َ
ِ
ُ
ة
َ
أ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ُ
َ
ْ
ُ
ـﺗ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
َ
كا
َ
َ
ْ
َ
ِ
َ
ِ
ﻦﻳ
ﺪﻟا
ِ
تا
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻇﺎ
َ
ﻓ ﺎ
َ
ِ
ﻨﻳ
ِ
ِ
َ
و ﺎ
َ
ِ
ﳍﺎ
َ
َ
َ
و ﺎ
َ
ِ
َ
َ
ِ
َ
و ﺎ
َ
ِ
ﳍﺎ
َ
ِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena
Islamic Online University Tafsir 202
71
Langkah kedua: Berdoa pada Allah: Seseorang juga harus berdoa dengan doa yang
disunnahkan pada saat pernikahan, setiap kali mereka melakukan hubungan badan dan pada
saat kelahiran anak.
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٍ
ْ
َ
ُ
ِ
ْ
ﺑ و
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ِ
إ
ُ
ﻠﻟا
ْ
ُ
َ
ـﻴ
ْ
َ
ـﻓ ﺎ
ً
ِ
دﺎ
َ
ﺧ ى
َ
َ
ـﺘ
ْ
ﺷا
ْ
و
َ
أ
ً
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣا
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
َ
ج
و
َ
َ
ـﺗ ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
َ
أ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ﻋ ﺎ
َ
َ
ـﺘ
ْ
َ
ـﺒ
َ
ﺟ ﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
و ﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
ْ
ِ
َ
و ﺎ
َ
َ
ْ
ِ
َ
ِ
ُ
ذ
ُ
ِ
ْ
َ
َ
ﻋ ﺎ
َ
َ
ـﺘ
ْ
َ
ـﺒ
َ
ﺟ ﺎ
َ
Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian
menikah atau membeli budak maka hendaknya ia mengucapkan;
ALLAAHUMMA INNII AS`ALUKA KHAIRAHAA WA KHAIRA MAA
JABALTAHAA 'ALAIHI WA A'UUDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI
MAA JABALTAHAA 'ALAIH (Ya Allah, aku memohon kepadaMu
kebaikannya dan kebaikan sesuatu yang Engkau ciptakan dia padanya, dan
aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan sesuatu yang
Engkau ciptakan dia padanya).”
109
ٍ
سﺎ
َ
ِ
ْ
ﺑا
ْ
َ
ْ
ُ
َ
َ
َ
أ
ن
َ
أ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ُ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
َ
نﺎ
َ
ْ
ﺸﻟا
ْ
َ
َ
و
َ
نﺎ
َ
ْ
ﺸﻟا ﺎ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ُ
ﻠﻟا
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
ﺳﺎ
ِ
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ ﻰ
َ
َ
أ ا
َ
ذ
ِ
إ
ُ
َ
ْ
َ
ٌ
َ
َ
و ﺎ
َ
ُ
َ
ـﻨ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ
َ
ِ
ُ
َ
ـﻓ ﺎ
َ
َ
ـﺘ
ْ
ـﻗ
َ
ز
َ
ر ﺎ
َ
ُ
kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan
beruntung."
109
Sunan Abu Dawud, Kitab: Nikah, Bab: Jaami’ an Nikaah dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Islamic Online University Tafsir 202
72
Dari Ibnu 'Abbas dan sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau
bersabda: "Jika salah seorang dari kalian ingin mendatangi isterinya (untuk
bersetubuh), maka hendaklah ia membaca; 'ALLAHUMMA JANNIBNASY
SYAITHAANA WA JANNIBISY SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA (Ya
Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang
Engkau rizkikan (anak) kepada kami) '. Jika dikaruniai anak dari hubungan
keduanya maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak itu."
110
Langkah ketiga: Menyembelih hewan aqiqah. Pada hari ketujuh setelah kelahiran anak,
menyunat anak laki-laki, mencukur rambut anak laki-laki dan perempuan dan mengeluarkan
sadaqah senilai perak dari beratnya rambutnya, dan mengorbankan satu hewan untuk anak
perempuan atau dua bagi anak laki-laki (aqiqah) sebagai tanda syukur. Ini adalah hak anak
dan Allah pada orang tua, sesuai dengan kemampuan mereka. Ini telah menjadi Sunnah yang
terabaikan belakangan ini. Istri sering tidak mau mencukur rambut anak, terutama dalam
untuk anak perempuan, dan suami enggan mengeluarkan dari kekayaan mereka untuk
berkorban untuk anak-anak mereka.
َ
لﺎ
َ
ﻀﻟا
ٍ
ِ
ﻣﺎ
َ
ُ
ْ
ُ
نﺎ
َ
ْ
َ
ﺳ ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
))
ُ
ْ
َ
ﻋ ا
ُ
ﻄﻴ
ِ
َ
أ
َ
و ﺎ
ً
َ
د
ُ
ْ
َ
ﻋ ا
ُ
ﻘﻳ
ِ
ْ
َ
َ
ٌ
َ
ﻘﻴ
ِ
َ
ِ
م
َ
ُ
ْ
ﻟا
َ
َ
ى
َ
ذ
َ
ْ
ﻷا((
Telah menceritakan kepada kami Salman bin Amir Adl Dlabbi ia berkata,
"Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada
anak lelaki ada kewajiban 'akikah, maka potongkanlah hewan sebagai akikah
dan buanglah keburukan darinya."
111
Langkah keempat: Menciptakan Lingkungan yang Islami. Dalam membesarkan anak-
anak di rumah, seseorang harus memastikan bahwa lingkungan rumah itu diridhai Allah.
110
Shahih Al Bukhari, Kitab: al Wudhu, Bab: Tasmiyyah ‘ala kull haal dan Sunan Abu Dawud, (English
Trans.), vol. 2, p. 579, no. 2155
111
Shahih Al Bukhari, Kitab: ‘Aqiqah; Bab: Membuang kotoran pada anak saat akikah.
Islamic Online University Tafsir 202
73
Anak-anak tidak boleh dibiarkan di depan televisi selama berjam-jam. Di banyak rumah hari
ini, sejak anak dapat duduk, televisi menjadi ibu kedua bagi anak. Misalnya, setiap kali sang
ibu sibuk dan ingin melakukan sesuatu, ia mencegah anak-anak mengganggunya dengan
memberikan berbagai tontonan televisi. Meskipun, banyak yang mungkin berpendapat bahwa
anak-anak itu terlalu kecil untuk dipengaruhi oleh adegan kekerasan dalam kartun, penelitian
terbaru telah membuktikan sebaliknya. Sebaliknya, rumah seharusnya menjadi tempat anak
pertama kali belajar tentang Allah dan kewajiban agama mereka. Itu harus menjadi tempat di
mana nama dan sifat Allah sering disebutkan dan keajaiban akhirat sering dibicarakan.
Langkah kelima: Mengajarkan Agama sejak dini. Begitu anak mencapai usia dua atau tiga
tahun di mana ia mulai berbicara, orang tuanya harus mulai mengajarkannya tentang Allah,
tentang surga dan neraka, dan tentang yang benar dan yang salah. Setiap kali mereka
menghukum anak, mereka harus menekankan bahwa Allah tidak suka dengan kesalahan anak
bersamaan dengan orang tua juga tidak menyukainya. Orang sering mengklaim bahwa ini
terlalu rumit untuk anak berusia dua tahun atau tiga tahun. Namun, psikolog anak telah
menetapkan bahwa ketika anak berusia antara dua dan tujuh tahun, kepribadian anak untuk
hidupnya dikembangkan. Nabi Muhammad (
) memerintahkan pada umatnya bahwa anak-
anak harus mulai diperintahkan shalat saat mereka berusia tujuh tahun.
َ
لﺎ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٍ
ْ
َ
ُ
ِ
ْ
ﺑ و
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ِ
ِ
ِ
ْ
َ
ُ
ءﺎ
َ
ْ
ـﺑ
َ
أ
ْ
ُ
َ
و
ِ
ة
َ
ﺼﻟﺎ
ِ
ْ
ُ
َ
د
َ
ْ
و
َ
أ او
ُ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ُ
ءﺎ
َ
ْ
ـﺑ
َ
أ
ْ
ُ
َ
و ﺎ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ْ
ُ
ُ
ِ
ْ
ﺿا
َ
و
ِ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
ُ
َ
ـﻨ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ ا
ُ
َ
ـﻓ
َ
و
ٍ
ْ
Dari Amru bin Syu'aib dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perintahkanlah anak-anak kalian
untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan
apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila
tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya."
112
112
Sunan Abu Dawud, Kitab: Ash Shalat, Bab: Kapan anak kecil diperintahkan shalat.
Islamic Online University Tafsir 202
74
Melatih shalat termasuk di dalamnya konsep thaharah, dan satr (menutup aurat) dan
rukun-rukun dasar yang wajib dalam shalat dan tidak hanya dengan meniru gerakan-gerakan
shalat.
Langkah ketujuh: Mendidik dengan Keteladanan. Anak-anak cenderung meniru apa pun
yang mereka lihat dilakukan oleh orang tua mereka. Karena itu, sangat penting bagi orang tua
untuk memberikan contoh terbaik kepada anak-anak mereka tentang bagaimana mereka ingin
anak-anak mereka berbuat. Tindakan orang tua tidak boleh bertentangan dengan perintah
mereka. Misalnya, ketika telepon berdering dan anak berusia tiga tahun mengangkatnya,
orangtua memberi tahu mereka untuk bertanya siapa yang menelepon. Jika orang yang
menelepon itu adalah seorang yang orang tua tidak ingin berbicara dengannya, anak itu
kemudian diberitahu untuk mengatakan kepada si penelepon bahwa orang tuanya tidak ada di
rumah. Orang tua itu baru saja mengajarkan pada anak bahwa berbohong itu diperbolehkan.
Ketika anak tumbuh cenderung suka berbohong, orang tua bingung menentukan bagaimana,
kapan dan mengapa anak mengembangkan karakteristik buruk ini. Ini adalah salah satu alasan
mengapa Nabi (
) mengajarkan bahwa lebih baik shalat di rumah di depan anggota
keluarga dan anak-anak daripada di masjid, kecuali dalam kasus shalat wajib.
ٍ
ِ
ﺑﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ز
ْ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ُ
ِ
ُ
ُ
ـﺑ
ِ
ْ
ُ
ِ
َ
َ
َ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
إ
ْ
Dari Zaid bin Tsabit dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda:
"Sebaik-baik shalat yang kalian kerjakan adalah shalat dirumah-rumah
kalian kecuali shalat wajib."
113
Langkah ketujuh: Menikahkan mereka dengan pasangan yang shalih/shalihah. Untuk
memastikan pertumbuhan rohani anak-anak seseorang yang berkelanjutan dan untuk
membesarkan cucu yang saleh, seseorang harus membantu anak-anaknya dalam menemukan
pasangan yang saleh sebagaimana orang mencari dirinya sendiri pada awalnya. Prinsip ini
sesuai dengan peringatan kenabian berikut mengenai pernikahan anak-anak:
113
Dikeluarkan oleh at Tirmidzi (Shahih Jami’ As Shaghir, no. 1134). Dan Shahih al Bukhari, jilid 1, hlm. 391-
2, no. 698, dan Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 377, no. 1708.
Islamic Online University Tafsir 202
75
َ
لﺎ
َ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
ﺧ ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ِ
ٌ
َ
ْ
ـﺘ
ِ
ْ
ُ
َ
ﺗ ا
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
ِ
إ
ُ
ُ
و
َ
َ
ـﻓ
ُ
َ
ُ
ُ
َ
و
ُ
َ
ﻨﻳ
ِ
د
َ
ن
ْ
َ
ﺿ
ْ
َ
ـﺗ
ْ
َ
ْ
ُ
ْ
َ
ِ
إ
ٌ
ﺾﻳ
ِ
َ
ٌ
دﺎ
َ
َ
َ
و
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Jika seseorang melamar (anak perempuan atau kerabat) kalian, sedangkan
kalian ridha agama dan akhlaknya (pelamar tersebut), maka nikahkanlah dia
(dengan anak perempuan atau kerabat kalian). Jika tidak, niscaya akan
terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar."
114
Jadi, jika seseorang ingin membesarkan anak-anak yang saleh, ia harus melakukannya
secara sistematis. Ketika seseorang ingin memulai bisnis, ia tidak terjun ke pasar dengan dasar
bahwa "apa pun itu biar terjadi saja" atau "apa pun yang terjadi, terjadilah." Orang tidak
melakukan itu. Sebagai gantinya, mereka melakukan studi kelayakan; mereka menyelidiki
pasar, biaya, dan seterusnya dan seterusnya. Setelah ia memahami semua yang dia bisa
tentang usaha, maka dia membangun bisnisnya. Namun, ketika orang memulai usaha
membesarkan anak-anak, mereka tidak memberikan banyak pemikiran dan perencanaan.
Muslim harus memperlakukan membesarkan anak-anak mereka dengan lebih banyak
perhatian daripada yang mereka berikan untuk mendirikan bisnis mereka. Jadi, jika orang-
orang mukmin ingin anak-anak mereka tumbuh menyibukkan diri beribadah kepada Allah,
maka mereka harus bekerja keras untuk itu.
114
Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Nikah; Bab: Sabda Nabi “Jika datang kepada kalian laki-laki yang engkau ridhai
agamanya, nikahkanlah”
Islamic Online University Tafsir 202
76



11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.
Asy-Syaukani berkata: Ini berarti “Aku menutup telinga mereka dengan tidur yang
membuat mereka tidak bisa mendengar suara. Menutupkan tabir di telinga adalah metafora
untuk tidur nyenyak yang mencegah suara mencapai telinga."
115
Menurut al-Qurthubi, telinga
digunakan dalam metafora karena melalui telinga yang jeleknya tidur berlebihan terjadi dan
melalui telinya jugalah tidur terhenti. Nabi (
) juga menggunakan kata kiasan telinga untuk
menggambarkan keadaan tidur dengan bersabda,
116
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٌ
ر
ُ
ْ
َ
ﻣ ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
ص
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا ﻮ
ُ
َ
أ ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
َ
لﺎ
َ
ٌ
د
َ
ُ
ﻣ ﺎ
َ
َ
ـﺛ
َ
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ٍ
ِ
ﺋا
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
ْ
ِ
َ
ِ
ُ
ذ
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
و
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ة
َ
ﺼﻟا
َ
ِ
إ
َ
مﺎ
َ
ﻗ ﺎ
َ
َ
َ
ْ
َ
أ
َ
ﺣ ﺎ
ً
ِ
ﺋﺎ
َ
َ
لا
َ
ز ﺎ
َ
َ
ﻞﻴ
ِ
َ
ٌ
ِ
ِ
ُ
ذ
ُ
أ
ِ
ُ
نﺎ
َ
ْ
ﺸﻟا
َ
لﺎ
َ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata: telah menceritakan
kepada kami Abu Al Ahwash berkata: telah menceritakan kepada kami
Manshur dari Abu Wa'il dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu berkata:
Diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seseorang
yang dia terus tertidur sampai pagi hari hingga tidak mengerjakan shalat.
Maka Beliau bersabda: "Setan telah mengencingi orang itu pada
telinganya."
117
Lamanya waktu mereka tinggal di gua hanya disebutkan sebagai "beberapa tahun"
dalam ayat ini, namun, berapa lama sebenarnya secara khusus disebutkan dalam ayat 25
115
Al Jami’ li Ahkamil Qur’aan, jilid 10-11
116
Shahih Al Bukhari, Kitab: Al Jumu’ah, Bab:
117
Shahih Al Bukhari, Kitaab: al-Jumu’ah Bab: Idzaa naama wa lam yusalli
Islamic Online University Tafsir 202
77
dalam perhitungan kalender bulan dan matahari, "Dan mereka tinggal dalam gua mereka
tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)."
118
118
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 18
Islamic Online University Tafsir 202
78


12. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui
manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam
menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).
Syaikh Al ‘Utsaiminn berkata: "Kemudian Kami bangkitkan mereka ... " dengan
membangunkan mereka dari tidur mereka. Allah menyebut kebangkitan dari tidur sebagai
kebangkitan karena tidur adalah bentuk kematian. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

 
  
“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui
apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan
kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah
ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia
memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al
An’am, 6: 60)





Islamic Online University Tafsir 202
79
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa
(orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa
yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum
yang berfikir.” (QS. Az Zumar 39: 42)
Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: Mungkin muncul pertanyaan tentang pernyataan Allah
subhanahu wata’ala, "Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui ... "
Yakni bahwa apakah Allah, Maha Besar dan Maha Agung, sebelumnya tidak tahu atau
mengetahui. Jawabannya adalah Dia sudah mengetahui sebelumnya. Kalimat ini memiliki dua
makna:
1. Pengetahuan karena melihat, hadir dan menyaksikan. Artinya, itu berarti "untuk
melihat". Ini diketahui bahwa pengetahuan tentang apa yang akan terjadi tidak
sama dengan pengetahuan tentang apa yang sudah terjadi. Pengetahuan Allah
tentang sesuatu sebelum kejadiannya adalah pengetahuan bahwa itu akan terjadi,
tetapi setelah kejadiannya, itu adalah pengetahuan bahwa itu terjadi.
2. Pengetahuan yang menjadi dasar adanya ganjaran/pahalanya sesuai apa yang
sudah dimaksudkan sebelumnya. Yakni, itu bermakna, "untuk mengetahui, demi
didapatkannya pahalanya," seperti dalam firman Allah subhanahu wata’ala,





“Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami
mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan
agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad 47:
31)
Sebelum Allah menguji kita, Dia sudah tahu siapa di antara kita yang taat dan siapa
yang tidak taat. Namun, baik imbalan maupun pahala tidaklah didasarkan pada pengetahuan
itu. Adapun kepastian tentang terjadinya apa yang diketahui itu relatif milik Allah, tidak ada
perbedaan antara apa yang Dia tahu akan terjadi dan apa yang Dia tahu telah terjadi; keduanya
sama. Beda halnya dengan kita, memang benar bahwa kita mengetahui beberapa hal yang
akan terjadi disebutkan dalam kabar/informasi dari Yang Maha Benar, Allah, tetapi
pengetahuan kita tentang itu tidak seperti pengetahuan kita tentang hal itu ketika kita
Islamic Online University Tafsir 202
80
menyaksikannya dengan mata kita sendiri. Oleh karena itu, Nabi (
) bersabda, dalam
hadits shahih,
ِ
َ
َ
ـﻳﺎ
َ
ُ
ْ
ﻟﺎ
َ
ُ
َ
ـﺒ
َ
ْ
ﳋا
َ
ْ
َ
"Kabar itu tidak seperti yang disaksikan”
119
Pernyataan Allah, "yang manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat
dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu)," mereka berbeda
pendapat mengenai waktu yang mereka habiskan. Beberapa mengatakan, "Kita berada
(disini) sehari atau setengah hari" (18:19) sementara yang lain lagi berkata, "Tuhan kamu
lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).” (18:19). Kemudian orang-orang
yang datang setelah masa mereka lebih jauh berbeda tentang berapa lama waktu yang mereka
habiskan.”
120
Al-Qurthubi berkata tentang, "Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami
mengetahui..." bahwa itu adalah cara untuk menyatakan sesuatu yang muncul dan sedang
disaksikan, menurut idiom Bahasa Arab. Susunan itu adalah "untuk mengetahui bahwa itu
ada", kalau tidak, Allah sudah tahu yang mana dari keduanya kelompok yang lebih tepat
dalam menghitung waktu yang berlalu.
121
119
Musnad Ahmad, no. 2320, dan dishahihkan Al Albani dalam at Tahawiyah, hal. 401. Lafadz hadits secara
lengkapnya adalah sebagai berikut:
ِ
َ
ٍ
ْ
َ
ـﺒ
ُ
ِ
ْ
ِ
ﺪﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ٍ
ْ
ِ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٌ
ْ
َ
ُ
َ
َ
ـﺛ
َ
ِ
نﺎ
َ
ْ
ـﻨﻟا
ُ
ْ
ُ
ْ
َ
ُ
َ
َ
ـﺛ
َ
َ
لﺎ
َ
ٍ
سﺎ
َ
ِ
ْ
ﺑا
ن
ِ
إ
ِ
َ
َ
ـﻳﺎ
َ
ُ
ْ
ﻟﺎ
َ
ُ
َ
ـﺒ
َ
ْ
ﳋا
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ﻠﻟا
َ
َ
ﻳﺎ
َ
َ
َ
ـﻓ
َ
حا
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
ِ
ْ
ﻟا
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
َ
َ
ِ
َ
ُ
َ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
َ
َ
و
ْ
ت
َ
َ
َ
ْ
ﻧﺎ
َ
َ
حا
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا ﻰ
َ
ْ
َ
أ ا
ُ
َ
ـﻨ
َ
ﺻ ﺎ
َ
Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu'man telah menceritakan kepada kami
Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kabar itu tidak seperti yang disaksikan.
Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla telah mengabarkan kepada Musa tentang apa yang
diperbuat oleh kaumnya terhadap patung anak sapi. Saat itu Musa tidak melemparkan
lembaran-lembaran bertulisan, namun ketika menyaksikan sendiri apa yang mereka
perbuat, serta merta Musa melemparkan lembaran-lembaran bertulisan hingga pecah."
120
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 23-25.
121
Al-Jami’ li Ahkamil Al Quran, hlm. 301-2.
Islamic Online University Tafsir 202
81
Asy-Syinqithi berkata, “Allah subhanahu wata’ala menyebutkan dalam ayat ini bahwa
di antara alasan Dia membangunkan para penghuni Gua setelah tidur panjang itu adalah untuk
menjelaskan bagi orang-orang yang mana dari dua kelompok itu yang lebih benar
pendapatnya tentang lamanya waktu yang mereka habiskan. Tetapi Dia tidak menjelaskan apa
pun tentang kedua kelompok itu. Sebagian besar ulama Tafsir berpendapat bahwa salah satu
kelompok itu adalah para penghuni Gua dan yang lainnya adalah para penduduk kota tempat
para pemuda itu disadarkan, karena mereka mengetahui tanggal kejadian pemuda tersebut.
Yang lain berpendapat bahwa kedua kelompok itu berasal dari kota yang disebutkan
sebelumnya, karena ada di antara mereka yang mukmin dan ada yang kafir. Bagaimanapun
juga, sebagian lainnya memiliki pendapat lain. Ibnu Abbas mengatakan bahwa para raja yang
memerintah kota itu adalah salah satu kelompok dan para penghuni Gua sebagai kelompok
lainnya. Apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an adalah bahwa kedua kelompok berasal dari
para penghuni Gua, dan Al-Qur'an menjelaskan dengan sendirinya. Yakni dalam firman Allah
Yang Mahakuasa, “Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling
bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah
berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini)
sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui
berapa lamanya kamu berada (di sini).”(18 : 19) Seolah-olah mereka yang berkata,
"Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini),” adalah orang-
orang yang menyadari bahwa mereka telah menghabiskan waktu yang lama ...
Saya telah menjelaskan dalam Kitab yang diberkahi ini bahwa di antara berbagai jenis
penjelasan yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Allah, Subhanahu wata’ala,
menyebutkan hikmah/kebijaksanaan di balik sesuatu di satu tempat, dan di sana ada pula
hikmah lain yang disebutkan di tempat lain. Setelah memahami hal itu, Engkau harus
menyadari bahwa Allah ‘azza wajalla telah menjelaskan dalam ayat ini bahwa alasan
dibangunkannya mereka adalah untuk menerangkan kepada orang-orang yang mana dari
kedua kelompok yang paling tepat dalam menghitung waktu yang telah mereka habiskan. Dan
Allah menjelaskan di tempat lain alasan lain: “Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka
agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri,” dan di antara alasan lain adalah
untuk memberi tahu kepada manusia bahwa kebangkitan itu nyata, dan hari Kiamat adalah
benar adanya dengan menyimpulkan kisah dari para penghuni Gua, “Dan demikian (pula)
Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa
janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.”
(18: 21)
Islamic Online University Tafsir 202
82
Engkau harus tahu bahwa firman Allah ‘azaa wajalla dalam ayat mulia ini, ",
"Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui..." tidak menunjukkan
bahwa Dia tidak tahu apa sebelum dibangunkannya mereka dan bahwa Dia hanya tahu apa
setelah dibangunkannya mereka, seperti yang diklaim oleh sebagian orang kafir dan ateis.
Sebaliknya, Dia subahanu wata’ala- tahu apa yang akan terjadi sebelum itu, dan tidak ada
yang tersembunyi darinya.
122
Ayat-ayat yang menunjukkan hal itu banyak sekali. Di antara
ayat-ayat dengan kata-kata yang paling jelas yang menunjukkan bahwa Dia tidak memperoleh
pengetahuan baru dari ujian dan cobaan Maha Suci Allah dari semua itu - adalah firman-
Nya,



“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam
dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah
Maha mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran 3: 154)
Pernyataan Allah, “Dan Allah Maha Mengetahui isi hati,” setelah pernyataan-Nya,
“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji …” merupakan dalil yang sangat jelas
tentang hal itu. Jika hal itu telah jelas maka makna, "Kemudian Kami bangunkan mereka,
agar Kami mengetahui..." adalah “untuk mengetahui ilmu yang akan mengungkapkan apa
yang sebenarnya kepada orang-orang,” dan ini tidak bertentangan dengan Ilmu-Nya yang
mengetahui apapun sebelum terjadinya, berbeda halnya dengan makhluk yang tidak ada
satupun yang mengetahui hal ini…
Jika ditanya apa manfaat penting dari orang-orang mengetahui yang mana dari dua
kelompok yang paling tepat dalam menghitung waktu yang dihabiskan di dalam gua sehingga
122
Ini adalah inti dari pernyataan Muhammad Iqbal dalam karyanya The Reconstruction of Religious Thought in
Islam. "Masa depan tentu saja ada di seluruh organik kehidupan kreatif Tuhan, tetapi pra-eksis sebagai
kemungkinan terbuka bukan sebagai urutan peristiwa yang pasti dengan garis besar yang pasti ... Tidak
diragukan lagi munculnya ego yang dikaruniai kekuatan spontan dan karenanya Dalam beberapa hal, tindakan
yang tidak dapat diduga adalah pembatasan terhadap kebebasan Ego yang serba eksklusif (yaitu Allah). Tetapi
batasan ini tidak dipaksakan secara eksternal. Itu lahir dari kebebasan kreatif-Nya sendiri di mana Dia telah
memilih ego yang terbatas untuk menjadi partisipan dari kekuatan dan kebebasan hidup-Nya. ”(Hal. 79)
Shabbir Ali menyatakan bahwa Allah mengetahui masa depan yang luas sebagai serangkaian kemungkinan,
tetapi tidak tahu peristiwa individu sampai mereka benar-benar terjadi. Dia tahu konsekuensi dari setiap pilihan
Anda, tetapi tidak tahu pilihan mana yang akan Anda buat sampai Anda membuatnya.
Islamic Online University Tafsir 202
83
itu menjadi alasan bagi Allah ‘azza wajalla untuk berfirman, "Kemudian Kami bangunkan
mereka, agar Kami mengetahui..." Dan apa manfaat penting dari mereka saling bertanya
sehingga menjadi alasan bagi firman-Nya, “Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka
agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri,” jawabannya adalah - dan aku
belum melihat siapa pun yang telah membahas hal ini - yang menurutku- dan Allahu a’lam -
adalah bahwa apa yang disebutkan dari memberitahukan kepada orang-orang tentang
kelompok yang paling tepat dalam menghitung lamanya waktu yang dihabiskan dan mereka
saling bertanya satu sama lain tentang hal itu mengharuskan bagi orang-orang untuk
mengetahui realitas (apa yang terjadi pada) para pemuda itu dan bahwa Allah telah membuat
mereka tertidur selama 309 tahun, kemudian Dia membangunkan mereka dalam keadaan
masih hidup dan dengan tubuh mereka segar dan tidak berubah. Dan ini adalah salah satu
mukjizat dari Allah ‘azza wajalla yang menunjukkan kesempurnaan kemampuan-Nya untuk
membangkitkan manusia setelah kematiannya. Dan karena keharusan ini Dia menjadikan
alasan dan tujuan sebagaimana yang telah aku sebutkan—Allahu a’lam.”
123
Ringkasan: Allah melindungi para pemuda dan membangkitkan mereka kembali
sebagai ujian bagi manusia dan ujian bagi para pemuda itu sendiri, karena mereka tidak
mengetahui berapa lama mereka telah tidur. Pesan dari ayat tersebut adalah bahwa, Allah
mengabulkan doa mereka dengan menjauhkan orang-orang dari mereka ketika mereka tidur di
gua dan menyebabkan mereka secara ajaib selamat selama bertahun-tahun. Allahlah yang
dapat melakukan hal yang tidak terduga. Kita harus percaya bahwa walaupun situasi
tampaknya tidak ada harapan, Allah selalu bisa menyelesaikan masalahnya. Ini adalah
pengingat bagi kita tentang krisis dalam kehidupan kita sendiri yang tampaknya tidak ada
harapan, tetapi dengan bantuan Allah kita dapat melewatinya. Kisah ini dengan caranya
sendiri mengekspresikan konsep yang sama. Jika kita menaruh kepercayaan pada Allah maka
Dia akan menemukan jalan bagi kita seperti yang Dia firmankan,

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan
baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. At Talaq 65: 2-3)
123
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 18-23.
Islamic Online University Tafsir 202
84




13. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar.
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada
Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
Dari ayat 13 dan seterusnya, Allah mulai mengisahkan cerita ini secara rinci.
"Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar," Syaikh Al Utsaimin
mengatakan tentang penggunaan kata "Kami" dalam hubungannya dengan Allah bahwa [Dia]
satu tanpa keraguan, tetapi juga tidak ada keraguan bahwa Dia adalah Maha Besar dari semua
yang besar dan menurut bahasa Arab. Maka setiap kali seseorang menyebut dirinya
menggunakan bentuk jamak, itu menunjukkan bahwa ia hebat. Diketahui bahwa tidak ada
yang lebih besar dari Allah ... Jadi, maksud dari setiap kata ganti jamak yang merujuk kepada
Allah subhanahu wata’ala adalah sebagai bentuk pujian.
124
Ini juga digunakan dalam bahasa
Inggris oleh para penguasa seperti Ratu Inggris, dan dalam dokumen hukum, dan dikenal
sebagai "kerajaan" kita atau kami yang "Mulia"
Al-Qurthubi mengatakan bahwa pernyataan Allah ‘azza wajalla: ""Kami kisahkan
kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar," adalah sebagai implikasi adanya
ketidaksepakatan tentang berapa lama waktu yang dihabiskan oleh mereka tinggal di gua yang
ini dapat ditemukan di dalam pernyataan-Nya sebelumnya: "Kemudian Kami bangunkan
mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat
dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). Jadi, Allah
melanjutkannya dengan informasi bahwa Dia, ‘azza wajalla, tahu kebenaran apa yang terjadi
mengenai mereka.
125
124
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 26
125
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 9-10, hlm. 302
Islamic Online University Tafsir 202
85
Para sejarawan Kristen dan Barat pada umumnya menyebut cerita itu sebagai legenda
yang menunjukkan keraguan mereka tentang keasliannya, meskipun gereja-gereja Katolik
Roma dan Ortodoks Timur secara resmi meyakini kisah itu sebagai mukjizat. Namun,
menurut catatan sejarah yang ada, cerita itu telah beredar selama bertahun-tahun sebelum
benar-benar ditulis. Itu adalah cerita populer yang beredar dari mulut ke mulut dan akibatnya
samar-samar tentang tanggal dan banyak detailnya. Di suatu tempat sekitar abad ke-6, seorang
sejarawan Syria merangkumnya menjadi tulisan. Dia menulis bahwa para pemuda itu
berjumlah tujuh dan bahwa mereka pergi tidur di bawah kendali Kaisar Decius. Karena itu,
Allah menunjukkan bahwa kisah yang Dia ceritakan adalah kebenaran dari apa yang
sebenarnya terjadi.
"Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan
mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk." Pernyataan ini menyiratkan
bahwa jika mereka sebenarnya orang Kristen, mereka pastinya berasal dari kalangan Kristen
pengikut Nabi Isa yang sejati, dari tradisi Unitarian Yakobus, mantan kepala Gereja
Yerusalem, dan bukan dari tradisi Tritunggal Yunani dan Romawi.
Asy-Syinqithi berkata tentang ayat ini, “Apa yang dipahami dari ayat mulia ini adalah
bahwa siapa pun yang beriman pada Tuhannya dan menaati-Nya, Tuhannya akan semakin
membimbingnya, karena ketaatan adalah penyebab ditambahnya hidayah dan keimanan.
Pemahaman dari ayat mulia ini tampak jelas di tempat lain [dalam Al-Qur'an]. Misalnya,
dalam firman Allah ‘azza wajalla:




“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah
petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya.” (QS.
Muhammad 47: 17)




"Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah
imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At Taubah 9: 124)
126
126
Lihat juga surat al-Fath: 4
Islamic Online University Tafsir 202
86
Ayat-ayat yang disebutkan ini adalah nash-nash jelas yang membuktikan bahwa iman
meningkat - dan dipahami dari nash-nash ini pula bahwa iman juga menurun, sebagaimana
Imam al-Bukhari menggunakannya sebagai hujjah. Dengan demikian, tidak ada tempat untuk
pertentangan dengan keberadaan nash-nash ini seperti yang dapat Anda lihat dengan jelas."
127
Pada abad kedua setelah Hijrah, perdebatan berkecamuk di kalangan para ulama
Muslim tentang apakah iman itu bertambah dan berkurang. Ayat ini digunakan sebagai dalil
bahwa iman itu bertambah oleh mayoritas ulama yang memegang pendapat bahwa iman
bertambah dan berkurang. Yang lain berpendapat bahwa yang ada adalah engkau mukmin
atau kafir, ketika engkau meyakini bahwa tidak ada kenaikan atau penurunan iman; maka
tidak ada yang disebut semakin beriman atau kurang beriman, itu hanyalah sebuah keadaan
keyakinan. Amal shalih dapat meningkat atau menurun, tetapi keyakinan/keimanan berada
dalam keadaan yang tetap. Jadi menurut mereka, begitu engkau masuk ke dalamnya, itulah
keadaannya. Mereka yang memegang pendapat ini digelari sebagai Murji'ah.
Pada dasarnya ada tiga jenis Murji’ah:
i) Jahmiyah
128
Murjia’ah: Mereka yang mengklaim bahwa iman hanyalah
mengilmui semata. Beberapa ulama terkemuka Salaf menyatakan
kelompok ini sebagai orang-orang kafir. "Jahmiyah ini dikaitkan dengan
Jahm ibn Shafwaan dan merupakan kelompok sesat yang rusak karena
menyiratkan bahwa Firaun dan umatnya termasuk orang-orang mukmin,
karena mereka tahu bahwa Musa dan Harun ‘alaihissalam adalah nabi
sejati meskipun mereka menentang mereka. Ahli Kitab tahu bahwa
Muhammad (
) adalah seorang nabi layaknya mereka mengenali putra-
putra mereka sendiri, tetapi mereka bukan orang yang beriman kepada
beliau
; sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang mendustakan
dan menentangnya. Sebenarnya, bahkan Iblis, juga akan menjadi mukmin
yang sempurna menurut pandangan al-Jahm. Iblis tidaklah dikatakan tidak
tahu akan Allah karena iblis mengenal Allah dengan sangat baik. "
129
ii) Karramiyah: Mereka yang membatasi iman hanya pada pengucapan di
lisan tanpa disertai [penegasan] hati. “[Karena itu,] menurut pandangan
mereka, orang-orang munafik adalah orang mukmin yang sempurna.
127
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 23.
128
Lihat catatan kaki 48.
129
Syarah Aqidah Thahawiyah, hlm. 282-3.
Islamic Online University Tafsir 202
87
Namun demikian, mereka percaya bahwa orang-orang munafik akan
mendapatkan siksaan yang dijanjikan Allah kepada mereka. Karena itu
mereka bertentangan dengan pandangan mereka sendiri. ”
130
iii) Murji’ah fuqaha: Mereka yang menyatakan bahwa iman adalah
pembenaran dengan hati dan pengucapan di lisan dan mereka menghilangkan
perbuatan dari definisi iman. “Di antara Murji’ah, ada yang mengatakan bahwa
iman adalah pembenaran (tashdiq) di hati dan pengucapan di lidah tetapi tidak
memasukkan perbuatan, mereka ini adalah sekelompok fuqaha Kuffah. Klaim
mereka tidak seperti klaim Jahm, karena mereka mengakui bahwa seseorang
tidak dikatakan mukmin jika dia tidak mengungkapkan kepercayaannya secara
lisan, meskipun dia mampu melakukannya. Mereka juga mengakui bahwa
Iblis, Firaun, dan yang lainnya adalah orang-orang kafir meskipun mereka
meyakini kebenaran di dalam hati mereka. Namun, jika mereka tidak
memasukkan perbuatan hati ke dalam definisi iman mereka, diharuskan bagi
mereka menerima pandangan Jahm ... Murji’ah, terutama para ulama dan
fuqaha di antara mereka [seperti Imaam Abu Hanifah], menganggap perbuatan
sebagai bagian dari iman secara kiasan, karena suatu perbuatan merupakan
buah sekaligus syarat iman.”
131
Klaim Murji’ah bahwa setelah menjadi seorang mu’min, tidak ada yang dapat
memengaruhi keimanan seseorang di mana keyakinan ini juga umum di kalangan orang
Kristen dewasa ini. Mereka mengklaim bahwa sekali seseorang telah menerima Yesus Kristus
sebagai penyelamat pribadinya, dia dijamin surga, tidak peduli dosa apa pun yang mungkin
dia lakukan sesudahnya. Keyakinan yang salah ini juga tersebar luas di kalangan kaum
muslimin. Banyak yang percaya bahwa sekadar dilahirkan di tengah keluarga Muslim dan
memiliki nama Muslim menjamin bahwa mereka akan masuk surga. Sebagian dari mereka
mengutip sabda Nabi
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,
))
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
ن
ُ
ُ
ْ
َ
ِ
ُ
أ
ُ
((
“Setiap umatku masuk surga”
130
Ibid, hlm. 282
131
Kitab al –Iman, hlm. 203-4
Islamic Online University Tafsir 202
88
Akan tetapi, pernyataan tersebut tidak lengkap. Hadits dari Nabi
di atas secara
lengkapnya adalah sebagai berikut,
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ُ
أ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر ﺎ
َ
ﻳ ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
ِ
إ
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
ن
ُ
ُ
ْ
َ
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
د
ِ
َ
ﻋﺎ
َ
َ
أ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ﱐﺎ
َ
َ
ْ
َ
َ
و
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, "Para sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa
yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti
ia enggan."
132
Sebagian menukil sabda Nabi dari Ubadah bin Shamit,
َ
َ
ِ
إ
َ
ْ
ن
َ
أ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
َ
ر ا
ً
َ
ُ
ن
َ
أ
َ
و
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
رﺎﻨﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
م
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain
Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah, niscaya Allah mengharamkan
neraka atasnya."
133
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
د
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
َ
لﺎ
َ
ْ
َ
"Barangsiapa yang mengucapkan: 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah)
selain Allah' niscaya dia masuk surga.'
134
132
Shahih al-Bukhari, Kitab: Berpegang teguh terhadap kitab dan sunnah, Bab: Mengikuti Sunnah-sunnah Rasul
Shallallahu ‘alaihi wasallam
133
Shahih Muslim, Kitab: Iman, Bab: Barangsiapa meninggal di atas tauhid akan masuk surga.
134
Ibis, Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Iman, Bab:Siapa meninggal mengucapkan asyhadu an laa ilaaha illallah
Islamic Online University Tafsir 202
89
Namun, ketika Imam az-Zuhri ditanya tentang hadits yang disebutkan di atas, beliau
menjawab bahwa begitulah pada permulaan Islam sebelum turun wahyu tentang rukun Islam
dan perintah-perintah serta larangan-larangan.
135
Lebih lanjut, dalam banyak hadits Nabi
(
) yang lain beliau menambahkan kalimat klarifikasi yang menegaskan bahwa persaksian
iman harus didasarkan pada ilmu, keyakinan, keikhlasan dan kebenaran. Misalnya beliau juga
bersabda,
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
د
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
ُ
َ
أ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
ُ
َ
و
َ
تﺎ
َ
ْ
َ
"Barangsiapa meningggal sedangkan dia mengetahui bahwa tidak ada tuhan
(yang berhak disembah) selain Allah, niscaya dia masuk surga."
136
ْ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ـﺗﺎ
َ
َ
ْ
َ
ـﻨ
ِ
ْ
َ
ْ
ذا
َ
لﺎ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ـﻧ
ِ
ﱐﺎ
َ
ْ
َ
أ
َ
و
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ﻫ ﺎ
َ
َ
أ ﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
ْ
ﳊا ا
َ
َ
ِ
ءا
َ
ر
َ
و
ْ
ِ
َ
ﺖﻴ
ِ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻗ ﺎ
َ
ِ
 ﺎ
ً
ِ
ْ
َ
ـﺘ
ْ
ُ
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
ْ
ن
َ
أ
ُ
َ
ْ
َ
ِ
ِ
ﺋﺎ
ِ
َ
ْ
ﳉﺎ
ِ
ُ
ْ
َ
َ
ـﻓ
Berkata beliau memberikan kedua sandalnya kepadaku: 'Wahai Abu
Hurairah, bawalah kedua sandalku ini, dan siapapun yang kau temui di balik
kebun ini ia bersaksi bahwa tidak tuhan (yang berhak disembah) selain Allah
dan ia menancapkan keyakinan ini dalam hatinya, maka berilah kabar
gembira kepadanya dengan surga.'
137
Dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata:
Ditanyakan: "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia
dengan syafa'atmu pada hari kiamat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak
135
Ibid,
136
Shahih Muslim, vol. 1, p. 19, no. 39.
137
Shahih Muslim, vol. 1, p. 20, no. 41.
Islamic Online University Tafsir 202
90
ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku
lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling
berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang
mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau
jiwanya".
138
Beliau juga bersabda,
"Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang
mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH ikhlas dari hatinya dengan
mengharap ridla Allah"
139
"Barangsiapa bersaksi, dengan ikhlas dari hatinya, bahwa tidak ada tuhan
(yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah,
niscaya Allah mengharamkan neraka atasnya."
140
Allah menguji orang-orang sesuai dengan keimanan mereka. Begitu mereka berhasil
melalui ujian tersebut maka iman mereka bertambah. Kesabaran membantu kita melewati
berbagai musibah dan meningkatkan keimanan kita, dan kesabaran pada akhirnya berasal dari
keimanan kepada Allah. Beriman kepada Allah dalam arti bahwa Allah mengatakan bahwa
bersama setiap kesulitan datang kemudahan dan kita beriman pada hal ini, jika kita tidak
bertindak secara rasional selama musibah menimpa dan tidak memiliki kesabaran, maka kita
tidak percaya pada apa yang Allah katakan dan kita tidak mempercayai firman-Nya.
Selain itu, fakta bahwa Allah mengkabarkan Dia dapat meningkatkan iman kita juga
berarti bahwa bahwa kita tidak boleh berpuas diri dan berpikir bahwa kita adalah orang
beriman yang shalih. Sebaliknya, kita harus selalu berusaha untuk meningkatkan iman kita
pada derajat yang lebih baik karena Setan selalu sibuk dan tidak pernah istirahat, dan ini
adalah salah satu cara syetan untuk menjadikan orang-orang mukmin jatuh ke dalam dosa.
Kita harus melihat pada orang mukmin yang jauh lebih baik dari kita dan berusaha menjadi
seperti mereka. Keimanan senantiasa berubah naik dan turun, jadi jika kita tidak menjadi lebih
baik, kita semakin buruk. Kita harus sadar bahwa kita perlu meningkatkan iman kita dengan
melakukan lebih banyak dan banyak lagi amal baik dan kita juga harus menghisab diri kita
sendiri sebagaimana yang biasa dikatakan ‘Umar ibn al-Khattaab, “Hisablah diri kalian
sebelum kalian dihisab. "
138
Shahih al-Bukhari, Jilid 1, hlm. 79, no. 98
139
Shahih al-Bukhari, Jilid 1, hlm. 250, no. 417, dan Shahih Muslim, Jilid 1, hlm. 319, no. 1384
140
Shahih al-Bukhari, Jilid 1, hlm. 96, no. 130
Islamic Online University Tafsir 202
91




14. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri
141
,
lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit
dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia,
Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan
yang Amat jauh dari kebenaran".
Syaikh Al-‘Utsaimin berkomentar bahwa "Kami meneguhkan hati mereka,"
maknanya adalah bahwa Allah membuat hati mereka mantap, memperkuat mereka dan
mengikat mereka karena kaum mereka menentang mereka. Sebab, bertentangan dengan kaum
sendiri itu membutuhkan ketabahan, terutama mengingat bahwa mereka masih muda. Ayah
seorang pemuda dapat memengaruhinya dan memerintahkannya untuk menjadi kafir. Namun,
Allah mengikat hati mereka dan menenangkan mereka. Ya Allah! Tenangkan kami, ya
Rabb.
142
141
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan juga banyak yang lainnya, disebutkan sebuah kisah tentang bagaimana para
pemuda yang secara secara terpisah menolak untuk menyembah berhala dan datang bersama. Ibnu Katsir
berkata: “Beberapa ulama Tafsir mutaqaddimin dan mutaakhirin telah menyebutkan bahwa para pemuda itu
adalah putra raja dan pemimpin Bizantium, dan suatu hari mereka pergi ke salah satu perayaan rakyat mereka.
Mereka biasa berkumpul setahun sekali di luar kota, dan mereka akan menyembah berhala dan
mempersembahkan korban kepada mereka. Mereka memiliki raja yang arogan dan tiran yang bernama
Decianus, yang memerintahkan dan mendorong orang untuk melakukan itu. Ketika orang-orang pergi untuk
menghadiri perayaan ini, para pemuda ini pergi dengan ayah mereka dan kaum mereka, dan ketika mereka
melihat apa yang dilakukan oleh oleh kaum mereka dengan pandangan yang jelas, mereka menyadari bahwa
penyembahan dan pengorbanan yang diberikan oleh kaum mereka kepada berhala seharusnya hanya
dipersembahkan kepada Allah saja, Allah Yang menciptakan langit dan bumi. Masing-masing mulai menarik
diri dari kaumnya dan menjauhkan diri dari mereka. Yang pertama dari mereka yang pindah sendirian pergi
dan duduk di bawah naungan pohon, lalu yang lain datang dan duduk bersamanya, lalu yang lain datang dan
duduk bersama mereka, lalu empat lagi mengikuti satu per satu. Tidak ada dari mereka yang tahu satu sama
lain, tetapi mereka disatukan oleh Dzat yang telah menanamkan iman di dalam hati mereka. " (Tafsir Ibnu
Katsir) Namun, tidak ada referensi shahih yang diberikan untuk kisah ini.
142
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 26
Islamic Online University Tafsir 202
92
Asy-Syinqithi mengatakan ayat ini berarti bahwa Allah “menenangkan hati mereka
dan memperkuat kesabaran mereka sehingga mereka tidak panik dan menjadi takut untuk
secara terbuka menyatakan kebenaran. Juga agar mereka bersabar karena telah meninggalkan
keluarga mereka dan kenyamanan duniawi, untuk melarikan diri bersama saudara mereka
seagama ke gua asing di gunung tanpa air atau makanan.
Apa yang dipahami dari ayat mulia ini adalah bahwa siapa pun yang taat kepada
Tuhannya, jalla wa’ala, Allah akan menguatkan hatinya dan membuatnya mantap untuk
menangani masa-masa yang sulit dengan penuh kesabaran.
Allah ‘azza wajalla juga menunjuk kepada peristiwa lain yang mengandung makna
yang sama di sejumlah tempat dalam Al-Qur'an. Misalnya, tentang mereka yang ikut serta
dalam Pertempuran Badr, Allah berbicara kepada Nabi
dan para sahabatnya dengan
berfirman:
    
  
 
  
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu
penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan
dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan
menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk
menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).
(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-
orang yang telah beriman". (QS. Al Anfal 8: 11-12)
Tentang Nabi Musa, Allah berfirman,
Islamic Online University Tafsir 202
93






“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia
menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan
hati- nya, supaya ia Termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji
Allah).” (QS. Al-Qashash 28: 10)
143
Syaikh Al Utsaimin berkomentar bahwa "di waktu mereka berdiri," artinya adalah
bahwa mereka berdiri di antara kaum mereka dan menyatakan keimanan mereka pada tauhid
dan menyatakan bahwa mereka berlepas diri atas apa yang dilakukan kaum mereka. "Lalu
mereka pun berkata: "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi," bukan
penguasa ini dan itu, tetapi Tuhan (Rabb) seluruh langit dan bumi. Dia, Yang Mahatinggi,
adalah Pemilik, Pencipta, dan Pemelihara langit dan bumi, karena Rabb, yang merupakan
salah satu nama Allah, berarti Pencipta, Pemilik, dan Pemelihara. Mereka tidak peduli dengan
apa yang dipikirkan atau dilakukan orang. Dalam hal ini, mereka seperti penyihir-penyihir
Firaun. Allah berfirman,

  
“Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu
daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada
Kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; Maka
putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu
hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (QS.
Thaaha, 20: 72)
Dan segala sesuatu di dunia ini pasti berlalu dan akan segera berakhir, baik itu
membutuhkan waktu yang lama bagi Anda atau waktu yang singkat. Setiap manusia harus
143
Adhwaul Bayan,jilid 4, hlm. 23
Islamic Online University Tafsir 202
94
mengalami salah satu dari dua keadaan: baik mencapai usia senja atau meninggal di usia
muda. Dan akhir dari usia senja hanyalah kematian, itulah sebabnya penyair berkata:
ِ
م
َ
ﺮﳍاو
ِ
ت
َ
ﳌا
ِ
رﺎﻛ
ِ
ُ
ُ
ﺗا
َ
ﻟ *
ً
َ
َ
ـﻨ
ُ
ْ
َ
ﻣا
َ
د ﺎ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
َ
ْ
ِ
َ
Tidak ada kebaikan dalam hidup, selama kesenangannya
Dimanjakan oleh kenangan akan kematian dan usia tua
Kapanpun seorang manusia ingat bahwa ia akan mati, baik hidupnya panjang atau
pendek, hidup tidak akan lagi menyenangkan baginya. Di antara rahmat Allah itulah manusia
melupakan masalah ini. Tetapi di antara mereka yang lupa adalah mereka yang melupakannya
dengan sibuk menaati Allah. Sementara yang lain melupakannya dengan menyibukkan diri
dalam kehidupan duniawi ini.
“Seluruh langit dan bumi,” merujuk pada tujuh langit dan tujuh bumi sebagaimana
yang disebutkan dalam nash yang shahih. Tidak perlu disebutkan di sini karena nash-nash itu
sangat terkenal. Alhamdulillah.
“Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia,” Kami sekali-kali tidak
menyeru selain Dia yang meminta sesuatu atau dalam peribadatan kepada tuhan-tuhan selain
Dia. Mereka menegaskan tentang Keesaan Allah (Tauhid ar-Rububiyyah) dalam kalimat
“Tuhan Kami”, dan Keesaan dalam Ibadah hanya kepada-Nya (Tauhid al-Uluhiyyah) dalam
kalimat "kami sekali-kali tidak akan menyeru tuhan selain Dia."
“Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat
jauh dari kebenaran," kalimat ini mengandung tiga unsur penekanan (taukid); dengan dua
partikel penekanan (harfu taukid), laam dan qad, dan sumpah tersirat di laam"
144
Asy-Syinqithi menerangkan bahwa ayat mulia ini dengan jelas menunjukkan bahwa
siapa pun yang menjadikan tuhan lain sebagai sekutu bagi Pencipta langit dan bumi maka ia
telah mendatangkan dengan sesuatu yang jauh menyimpang dari kebenaran; sesuatu yang
mengandung kedustaan di luar batas yang dapat diterima. Karena Dzat yang layak disembah
adalah Dia yang menciptakan makhluk menjadi ada dari tidak ada, karena sesuatu yang tidak
dapat menciptakan yang lain selain dirinya sendiri maka ia diciptakan dan membutuhkan
pencipta untuk membuatnya, memelihara, dan menjalankan urusannya. Dan makna yang
ditunjukkan oleh ayat mulia ini dengan jelas diungkapkan dalam banyak ayat lainnya.
Misalnya dalam firman-Nya,
144
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 26-7
Islamic Online University Tafsir 202
95



“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki
untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi
Allah[30], Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah 2: 22)


“Maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak
dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran.” (QS. An Nahl 16: 17)



“Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat
menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa
menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta
segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."
(QS. Ar-Ra’d 13: 16)
Islamic Online University Tafsir 202
96



“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala
yang tak dapat menciptakan sesuatupun? sedangkan berhala-berhala itu
sendiri buatan orang.” (QS. Al-A’raf 7: 191)






“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk
disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan
mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu
kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu
kemanfaatanpun dan (juga) tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan
tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al-Furqan 25: 3)
145
Para pemuda itu dengan berani menentang kepercayaan kaumnya yang salah.
Nabi (
) diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri bersabda,
َ
ْ
ِ
ٍ
ل
ْ
َ
ُ
َ
ِ
َ
ِ
دﺎ
َ
ِ
ْ
ﳉا
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ٍ
ِ
ﺋﺎ
َ
ٍ
ِ
َ
أ
ْ
و
َ
أ
ٍ
ِ
ﺋﺎ
َ
ٍ
نﺎ
َ
ْ
ُ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jihad yang paling utama
adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang dhalim, atau
pemimpin yang dhalim."
146
145
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 24-5
146
Sunan Abu Dawud. Kitab: Peperangan besar, Bab: Perintah dan Larangan
Islamic Online University Tafsir 202
97
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Nabi (
) mengenai berbagai tingkatan
yang mengharuskan umat Islam untuk melarang dari kejahatan. Jika umat Islam tidak dapat
secara langsung mencegah kemungkaran dalam suatu masyarakat, mereka diperintahkan
untuk berbicara menentangnya melalui perkataan. Namun, jika dampak buruknya dalam
masyarakat lebih besar daripada kebaikan yang mereka lawan, mereka harus membencinya
dalam hati mereka. Allah menggambarkan orang-orang beriman sebagai umat yang terbaik
dari seluruh umat manusia karena mereka memerintahkan kepada kebenaran, melarang dari
yang munkar dan karena keimanan mereka yang benar kepada Allah.









“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih
baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran 3: 110)
Sangat penting bagi umat Islam untuk menyadari aspek yang sangat penting dari
politik Islam ini, terutama pada masa-masa ini ketika musuh-musuh Islaam secara terbuka
menyerang kaum Muslim menggunakan berbagai sarana untuk menyembunyikan niat mereka
yang sebenarnya dan beberapa dari kalangan Muslim merespons dengan menggunakan
metode yang tidak sah. Di satu sisi, umat Islam harus menentang kekuatan jahat yang
berusaha untuk memberantas Syari’ah dan menggantinya dengan sekularisme, demokratis
atau sebaliknya, dan pada saat yang sama mereka harus menentang metode perlawanan
berlebihan yang tidak Islami yang digunakan oleh beberapa dari mereka yang mengaku
membela umat (Umat Muslim).
Perlu dicatat bahwa meskipun kaum muda cenderung memberontak dan gigih dalam
pendirian mereka untuk apa yang mereka anggap benar, pada saat yang sama, mereka
cenderung mudah dipengaruhi oleh kelompok sebaya mereka dan pendapat mereka dapat
Islamic Online University Tafsir 202
98
berubah secara radikal untuk menyesuaikan diri dengan teman mereka. Hudzaifah
meriwayatkan bahwa Nabi (
) bersabda:
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
)) ا
ُ
ُ
َ
َ
ا
ُ
َ
و
ْ
ِ
َ
َ
و
َ
ْ
َ
َ
ا
ُ
َ
َ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
ْ
َ
أ
ُ
سﺎﻨﻟا
َ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ن
ِ
إ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﺗ
ً
َ
ِ
إ
ا
ُ
ِ
ْ
َ
َ
َ
ﻓ او
ُ
ءﺎ
َ
َ
أ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و ا
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ن
َ
أ
ُ
سﺎﻨﻟا
َ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ن
ِ
إ
ْ
ُ
َ
ُ
ْ
ـﻧ
َ
أ
((
dari Hudzaifah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah kalian menjadi orang yang suka mengekor orang lain. Dimana
kalian mengatakan: 'Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan
berbuat baik. Dan jika mereka berbuat dhalim, maka kami juga akan berbuat
dhalim.' Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik
kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian
berbuat dhalim."
147
Orang mukmin harus menonjol dalam amal yang dilakukan dari gaya hidup orang-
orang kafir. Prinsip ini dapat dilihat dengan jelas dalam banyak perintah yang diberikan Nabi
(
) untuk membedakan Muslim dari non-Muslim; apakah itu dalam menumbuhkan jenggot
dan memotong kumis atau puasa sehari sebelum atau sehari setelah puasa Muharram, dan
sebagainya.
147
Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Al-Birr was Shilah, Bab: Maa jaa fil ihsan wal ‘afw
Islamic Online University Tafsir 202
99





15. “Kaum Kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan
(untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan
yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih
zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah?”
Syaikh Al-Utsaimin menyebutkan bahwa pernyataan para pemuda, "Kaum kami ini
telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah)," adalah untuk
menjelaskan alasan mereka mengasingkan diri dari kaum mereka.
148
Asy-Syinqithi mencatat bahwa permintaan dalam pernyataan mereka, "Mengapa
mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka),"
adalah sebuah tantangan untuk melakukan hal yang mustahil, karena diketahui bahwa tidak
ada yang dapat membawa dalil yang jelas dan alasan yang mengizinkan peribadatan kepada
selain Allah subhanahu wata’ala. Tantangan yang disebutkan Allah dalam ayat-ayat mulia ini
kepada orang-orang kafir untuk mendatangkan alasan untuk penyembahan berhala dan
kekafiran mereka diklarifikasi dalam banyak ayat. Sebagai contoh,





“Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga
dapat kamu mengemukakannya kepada kami?" kamu tidak mengikuti
148
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 27.
Islamic Online University Tafsir 202
100
kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”
(QS. Al An’am 6: 148)











Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah
selain Allah; perlihatkan kepada-Ku Apakah yang telah mereka
ciptakan dari bumi ini atau Adakah mereka berserikat (dengan Allah)
dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al
Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu),
jika kamu adalah orang-orang yang benar" (QS. Al Ahqaf 46: 4)
149
Ada banyak ayat-ayat serupa yang mengisyaratkan bahwa kaum musyrikin tidak
memiliki dasar untuk penyembahan berhala yang mereka lakukan selain dari mengikuti nenek
moyang mereka yang sesat secara membabi buta.
Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah?” ini berarti bahwa mengada-adakan kebohongan terhadap
Allah dengan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya merupakan dosa paling besar yang telah
disebutkan dengan jelas pada banyak ayat. Misalnya dalam firman Allah,



“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat
Dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang
149
Lihat juga surat az-Zukhruf: 21; Ar-Rum: 35; Faathir: 40; al-Mu’minun: 117.
Islamic Online University Tafsir 202
101
kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi
orang-orang yang kafir?” (QS. Az-Zumar 39: 32)







“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat
Dusta terhadap Allah?. mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan
mereka, dan Para saksi[716] akan berkata: "Orang-orang Inilah yang
telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah
(ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (QS. Hud, 11: 18)
150
Syaikh Al-‘Utsaimin membahas bagaimana ayat ini dapat dipadukan dengan ayat
berikut dari Surat al-Baqarah:








“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang
menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya,
dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya
150
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, hlm. 25-6
Islamic Online University Tafsir 202
102
masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada
Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat
siksa yang berat.” (QS. Al Baqarah 2: 114)
Beliau berkata, “Ayat ini membahas kesalahan terburuk dalam kategori menghalangi
disebutkannya nama Allah, sedangkan ayat sebelumnya merujuk pada kesalahan terburuk
dalam berbohong. Tidak ada yang lebih salah dari orang yang berbohong tentang Allah
dengan menjadikan sekutu bagi-Nya dengan cara apa pun, baik dalam sifat-Nya atau dalam
uluhiyah-Nya. Jika seseorang berbohong tentang orang lain itu salah, dan jika seseorang
berbohong tentang Dzat yang lebih Agung dari itu tentu akan menjadi kesalahan yang lebih
besar. Dengan demikian, kebohongan tentang Allah menjadi kebohongan terbesar yang
mungkin terjadi."
151
Mereka yang menyembah dan berdoa kepada orang lain selain Allah tidak benar-benar
memiliki dalil untuk melakukannya, bahkan dalam kitab suci mereka yang menyimpang.
Misalnya, praktik pemujaan berhala dalam agama Hindu ditolak oleh kitab suci awal mereka.
Demikian juga, praktik para penganut agama Buddha yang memuja Buddha sebagai dewa
tidak memiliki dasar dalam tulisan-tulisan awal yang dikaitkan dengan Buddha. Dan orang-
orang Kristen yang menyembah Yesus bertentangan dengan ajaran dan praktik Yesus (Nabi
Isa) sendiri. Menurut Injil, Yesus mengatakan kepada para pengikutnya untuk menyembah
Tuhan dengan mengatakan: "Bapa kami yang ada di Surga ...", dan ia tercatat telah
menyembah Tuhan pada beberapa kesempatan, jelas menunjukkan bahwa ia bukanlah Tuhan.
Salah satu kebohongan terbesar abad ke-19 terhadap Allah adalah teori evolusi
Darwin, yang menyiratkan bahwa Allah tidak ada dengan mengklaim bahwa kehidupan di
dunia ini tidak diciptakan secara khusus, melainkan berevolusi. Begitu Anda menyingkirkan
Tuhan dari masyarakat manusia, Anda menghilangkan landasan bagi moralitas dan definisi
yang jelas tentang benar dan salah. Sebaliknya, definisi yang diciptakan manusia cenderung
relatif dan dengan demikian ia selalu berubah. Dengan demikian satu-satunya dasar yang tetap
untuk menentukan benar dan salah pada akhirnya adalah dari Allah.
151
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 29.
Islamic Online University Tafsir 202
103







16. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka
sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua
itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya
kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam
urusan kamu.
Syeikh Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa ayat ini adalah pernyataan dari para pemuda
di antara mereka yang artinya: "Karena kamu telah melepaskan dirimu dari orang-orang,
maka pergilah ke gua." Gua itu bisa merujuk kepada sebuah gua yang diketahui oleh mereka
yang sebelumnya pernah mereka kunjungi atau di mana berlindung di sana, atau ke sebuah
gua yang akan melindungi mereka dari musuh mereka. "Niscaya Tuhanmu akan
melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna
bagimu dalam urusan kamu.
152
Artinya, jika engkau melakukan hal itu, maka Allah akan
membuat urusanmu lebih mudah, karena Nabi (
) bersabda,
((
ُ
ْ
ِ
ﻣ ا
ْ
َ
ﺧ ﷲا
ُ
َ
ﺿ
َ
ﻋ ﷲ ﺎ
َ
ْ
َ
َ
ك
َ
َ
ـﺗ
ْ
َ
ﻣ))
“Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena mengharap wajah Allah,
niscaya Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”
153
152
Naafi’ dan Ibnu Amir membaca kalimat terakhir dari ayat ini dengan marfiqan, sementara qira’ah sab’ah
yang selain keduanya membacanya mirfaqan. Ada dua dialek yang maknanya sama-sama, “sesuatu yang
berguna” sama halnya seperti bagian tubuh manusia yang disebut mirfaqun (siku).
153
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 30-1. Hadits berikut ini mengandung makna yang sama:
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
َ
ُ
ْ
ﳉا
ٍ
َ
َ
أ
ِ
ْ
ِ
ذﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
Islamic Online University Tafsir 202
104
Allah menyebutkan dalam firman-nya terkait dengan mereka yang berhijrah demi
mengharap wajah-Nya,


“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di
muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak.” (QS.
An Nisa 4: 100)
Asy Syinqithi menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman
meninggalkan dari orang-orang kafir dan berhala-berhala mereka adalah salah satu penyebab
kelemahlembutan dan rahmat Allah bagi mereka. Makna ini juga ditunjukkan dalam
firmanAllah ‘azzawajalla mengenai Nabi Ibrahim, ‘alaihissalam wa’ala nabiyyina,












“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru
selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan
ْ
َ
َ
ُ
ر
ِ
ْ
َ
ـﻳ
َ
ُ
َ
و
ِ
ِ
ﻟ ﺎ
ً
ُ
ﺿا
َ
َ
ـﺗ
َ
سﺎ
َ
ﻠﻟا
َ
ك
َ
َ
ـﺗ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ِ
َ
َ
د
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
ءﺎ
َ
ِ
نﺎ
َ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
َ
ُ
ي
َ
أ
ْ
ِ
ُ
َ
ـﻴ
َ
ُ
َ
ِ
ِ
َ
َ
ْ
ﳋا
ِ
سو
ُ
ء
ُ
ر ﻰ
َ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ﻩﺎ
Dari Sahal bin Mu'adz bin Anas Al Juhani dari ayahnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Salam bersabda: Barangsiapa meninggalkan pakaian (mewah) karena merendah kepada Allah
padahal ia mampu, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua makhluk
hingga Ia mempersilahkan untuk memilih pakaian dari perihasan mana saja yang ia mau."
(Sunan at Tirmidzi, Kitab: Sifat al Qiyamah war Riqaq)
Islamic Online University Tafsir 202
105
aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." Maka ketika
Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka
sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub.
dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi. Dan Kami
anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami
jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam 19: 48-
50)
Konsep pemuda meninggalkan masyarakat yang menyembah berhala dan zhalim dan
bersembunyi agar bisa menjalankan agama yang benar dikenal dalam Islam sebagai Hijrah
(migrasi/emigrasi). Dalil paling mendasar tentang wajibnya hijrah karena mendapatkan
penganiayaan atau penindasan atau dapat ditemukan dalam Al-Qur'an. Allah ‘azza wajalla
berfirman,







“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan
Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam
Keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah Kami
orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata:
"Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi
itu?". orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa 4: 97)
Nabi (
) juga menegaskan prinsip ini dan menjadikan niat hijrah sebagai faktor
yang menentukan terkait dengan pahalanya. Diriwayatkan dari ‘Umar ibn al-Khattaab
radhiyallahu ‘anhu beliau (
) bersabda,
Islamic Online University Tafsir 202
106
))
ِ
ﻠﻟا
َ
ِ
إ
ُ
ُ
َ
ْ
ِ
ْ
َ
ﻧﺎ
َ
ْ
َ
َ
ﻓ ى
َ
َ
ـﻧ ﺎ
َ
ٍ
ئ
ِ
ْ
ِ
ﻻ ﺎ
َ
ِ
إ
َ
و
ِ
ـﻨﻟﺎ
ِ
ُ
لﺎ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا ﺎ
َ
ِ
إ
ْ
و
َ
أ ﺎ
َ
ُ
ـﺒﻴ
ِ
ُ
ﻳ ﺎ
َ
ْ
ـﻧ
ُ
ِ
ُ
ُ
َ
ْ
ِ
ْ
َ
ﻧﺎ
َ
ْ
َ
َ
و
ِ
ِ
ُ
َ
ر
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
ِ
إ
ُ
ُ
َ
ْ
ِ
َ
ِ
ِ
ُ
َ
ر
َ
و
َ
ِ
إ
ُ
ُ
َ
ْ
ِ
َ
ﻓ ﺎ
َ
ُ
و
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻳ
ٍ
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣا
ِ
ْ
َ
ِ
إ
َ
َ
ﺟﺎ
َ
ﻫ ﺎ
َ
((
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya amalan itu
tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu
yang diniatkannya, barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk
memperoleh dunia atau seorang wanita yang akan dinikahinya, maka
hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya."
154
Hijrah ke kota Madinah selama masa hidup Nabi
juga wajib hukumnya. Sebagai
hasilnya, setelah Makkah dibebaskan dari penyembahan berhala (fathul makkah) hijrah ke
Madinah tidak lagi diwajibkan. Dalam konteks inilah, Nabi
bersabda sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas,
ٌ
ِ
َ
و
ٌ
دﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ة
َ
ْ
ِ
َ
او
ُ
ِ
ْ
ﻧﺎ
َ
ْ
ُ
ْ
ِ
ْ
ُ
ـﺘ
ْ
ﺳا ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
و
"Tidak ada lagi hijrah setelah kemenangan (Makkah) akan tetapi yang tetap
ada adalah jihad dan niat. Maka jika kalian diperintahkan berangkat
berjihad, berangkatlah!"
155
Akan tetapi, beliau juga menegaskan bahwa prinsip umum hijrah dari kerusakan
tidaklah terbatas pada zaman beliau, tetapi tetap berlaku sampai Hari Kiamat.
154
Shahih Al-Bukhari, jilid 1, hlm. 1, no. 1 dan Shahih Muslim, jilid. 3, hlm. 1056, no. 4692.
155
Shahih Al-Bukhari, Kitab: Jihad wa siyar, Bab: Fadl al-Jihad wa Siyar, Shahih Muslim, Kitab: Imarah, Bab:
Mubaaya’ah ba’d Fath Makkah
Islamic Online University Tafsir 202
107
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ِ
وﺎ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
َ
َ
و
ُ
َ
ْ
ـﺘﻟا
َ
ِ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ـﺗ
َ
ُ
ة
َ
ْ
ِ
ْ
ﳍا
ُ
ِ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ـﺗ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ـﺘﻟا
ُ
ِ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ـﺗ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
ُ
ْ
ﺸﻟا
Dari Mu'awiyah, ia berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Tidaklah hijrah terputus hingga taubat terputus, dan
tidaklah taubat terputus hingga matahari terbit dari barat."
156
Karena itu, umat Islam diwajibkan untuk hijrah dari lingkungan yang didominasi oleh
orang-orang kafir. Selain itu, Rasulullah (
) melarang hidup di antara non-Muslim dan
bersosialisasi dengan mereka,
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﺮﻳ
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ـﺑ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
َ
ِ
َ
ذ
َ
َ
َ
ـﺒ
َ
ـﻓ
َ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ﻬﻴ
ِ
َ
ع
َ
ْ
َ
َ
ِ
د
ُ
ﺴﻟﺎ
ِ
ٌ
سﺎ
َ
َ
َ
َ
ْ
ﻋﺎ
َ
ٍ
َ
ْ
ـﺜ
َ
َ
ِ
إ
ً
ِ
َ
َ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
ِ
ِ
ْ
ُ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
ِ
ٌ
ءي
ِ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ِ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ُ
ْ
َ
أ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
ﻢﻴ
ِ
ُ
ٍ
ِ
ْ
ُ
ُ
َ
ُ
ﳘا
َ
رﺎ
َ
ﻧ ﺎ
َ
ﻳا
َ
َ
ـﺗ
dari Jarir bin Abdullah bahwaRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
mengutus ekspedisi kepada Khats'am, lalu ada beberapa orang (Khats'am)
yang bersujud. Namun pasukan ekspedisi tersebut segera membunuh mereka.
Kabar tersebut akhirnya sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
lalu beliau pun memerintakan mereka untuk memberi setengah tebusan,
kemudian Beliau bersabda: "Aku berlepas diri dari setiap muslim yang
tinggal bersama orang-orang musyrik." Para sahabat bertanya, "Wahai
156
Sunan Abu Dawud, Kitab: Jihad, Bab: Hijrah telah terputus
Islamic Online University Tafsir 202
108
Rasulullah, kenapa?" beliau menjawab: "Tidak pantas rumah mereka saling
berhadapan."
157
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ٍ
ب
َ
ْ
ُ
ُ
ْ
ُ
ة
َ
ُ
َ
ى
َ
و
َ
ر
َ
و
َ
ُ
َ
ـﻓ
ْ
ُ
َ
َ
ﻣﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ْ
ُ
َ
ـﻨ
َ
َ
ْ
َ
َ
ْ
ُ
ُ
ِ
ﻣﺎ
َ
ُ
َ
َ
و
َ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا ا
ُ
ِ
َ
ُ
ْ
ُ
ُ
ْ
ـﺜ
ِ
Sedangkan Samurah bin Jundab meriwayatkan dari Nabi Shallahu 'alaihi Wa
sallam Beliau bersabda: "Janganlah kalian bertempat tinggal dengan orang-
orang musyrik dan jangan pula bergaul dengan mereka, oleh karena itu
barang siapa yang bertempat tinggal atau bergaul dengan mereka maka dia
seperti mereka."
158
َ
ة
َ
ُ
َ
ْ
َ
ٍ
ب
ُ
ْ
ُ
ِ
ْ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ـﺑ
َ
أ
ُ
ُ
ْ
ـﺜ
ِ
ُ
ِ
َ
ُ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
و
َ
ك
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
َ
ﻣﺎ
َ
ْ
َ
dari Samurah bin Jundub, adapun selanjutnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda "Barangsiapa yang bersahabat dengan orang musyrik dan
tinggal bersamanya, maka ia adalah sepertinya."
159
Bagaimanapun juga, inti dari Hijrah adalah ditinggalkannya kejahatan dalam segala
bentuknya. Sebagai akibatnya, bahkan jika seseorang hidup di tengah-tengah umat Islam,
prinsip Hijrah tetap berlaku baginya.
157
Sunan at-Tirmidzi, Kitaab: Siyar; Baab: Maa jaa’a fi kiraahiyat al maqaam bayna azhar al musyrikin.
158
Sunan at-Tirmidzi, Kitaab: Siyar; Baab: Maa jaa’a fee kiraahiyat al maqaam bayna azhar al
mushrikeen.
159
Sunan Abu Dawud, Kitab: Jihad, Bab: Tinggal di negeri musyrik
Islamic Online University Tafsir 202
109
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر و
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ْ
َ
ُ
ِ
ﺟﺎ
َ
ُ
ْ
ﻟا
َ
و
ِ
ِ
َ
َ
و
ِ
ِ
ﻧﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
ن
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
ْ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
َ
ـﻧ ﺎ
َ
َ
َ
َ
dari Abdullah bin 'Amru radliyallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam, bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin
selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang
meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."
160
Pada masa Nabi (
), umat Islam pertama hijrah ke Abyssinia dan kemudian ke
Madinah untuk menghindari penganiayaan karena agama dari orang-orang kafir Mekah.
Peristiwa Hijrah kedua juga merupakan titik balik dalam kenabian. Karena sangat pentingnya,
Khalifah kedua, ‘Umar ibn al-Khattaab, memilihnya sebagai titik awal untuk penanggalan
Muslim alih-alih menggunakan hari kelahiran Nabi (
). Peristiwa ini tetap menjadi bagian
tak terpisahkan dari cetak biru kenabian untuk kebangkitan Islam yang telah diabaikan di
sebagian besar dunia Muslim saat ini. Alih-alih berhijrah dari daerah yang dikendalikan oleh
orang-orang kafir, sebagian besar kaum Muslimin menjadi imigran ke tanah orang-orang
kafir. Dan setelah menjadi warga negara-negara ini, mereka memilih untuk hidup berserakan
di antara orang-orang kafir daripada berkumpul dalam komunitas seagama seperti yang
dilakukan para imigran lain berdasarkan pertimbangan etnis.
Mengenai pengasingan diri yang dilakukan oleh para pemuda, Ibnu Katsir berkata,
"Ini adalah apa yang ditentukan dalam Syari‘at selama masa penuh ujian dan penganiayaan -
seseorang yang takut dengan agamanya harus melarikan diri dari para penganiaya, seperti
yang disebutkan dalam hadits berikut,
160
Shahih al-Bukhari, Kitab: Iman, Bab: Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan
dan tangannya.
Islamic Online University Tafsir 202
110
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ُ
َ
ِ
َ
ُ
َ
أ
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ُ
ْ
ِ
َ
ا
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ُ
ﺮﻟا
ِ
لﺎ
َ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ٌ
نﺎ
َ
َ
ز
ِ
سﺎﻨﻟا ﻰ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ُ
َ
َ
ْ
ِ
َ
ِ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ِ
ِ
ﻨﻳ
ِ
ِ
ِ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ﻗا
َ
َ
َ
و
ِ
لﺎ
َ
ِ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
ﺷ ﺎ
َ
ِ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
Dari Abu Sa'id Al Khudzri bahwasanya ia mendengarnya mengatakan,
kudengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan datang suatu
Zaman bagi manusia, yang ketika itu sebaik-baik harta seorang muslim
adalah kambing yang ia gembalakan di puncak-puncak gunung dan tempat-
tempat turunnya hujan, ia lari menyelamatkan agamanya dari fitnah (krisis
agama)."
161
Dalam kasus-kasus seperti itu, diperbolehkan untuk mengasingkan diri dari orang-
orang, tetapi ini tidak disyariatkan dalam kasus lain, karena dengan pengasingan seperti itu
seseorang akan kehilangan manfaat dari shalat wajib berjama’ah setiap harinya dan shalat
Jum’at berjama’ah. Para pemuda ini bertekad untuk melarikan diri dari kaumnya, dan Allah
menetapkan itu untuk mereka, seperti yang Dia katakan tentang mereka,
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain
Allah,” artinya, ketika kamu pergi dari mereka dan mengikuti agama yang berbeda,
menentang sesembahan mereka kepada selain Allah, kemudian terpisah dari mereka dalam
arti fisik juga,
Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan
melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu” yang berarti, Dia akan melimpahkan
rahmat-Nya kepadamu, yang dengannya Dia akan menyembunyikanmu dari kaummu dan
menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
“Dan akan memudahkan urusanmu denganmu,” artinya, Dia akan memberimu apa
yang kamu butuhkan.
Maka mereka meninggalkan mereka dan pergi ke gua tempat mereka mencari
perlindungan. Kemudian orang-orang mereka memperhatikan bahwa mereka hilang, dan raja
mencari mereka, dan dikatakan ketika dia tidak dapat menemukan mereka bahwa Allah
menyembunyikan mereka darinya, sehingga dia tidak dapat menemukan jejak mereka atau
161
Shahih al-Bukhari, Kitab: Riqaq, Bab: al ‘uzlah raahah
Islamic Online University Tafsir 202
111
kapar apapun tentang mereka. Dengan cara yang sama Allah menyembunyikan Nabi
Muhammad (
) dan sahabatnya [Abu Bakr] as-Shiddiq, ketika mereka mencari
perlindungan di Gua Tsur. Para penyembah berhala datang mengejar mereka, tetapi mereka
tidak menemukan mereka meskipun mereka melewati keduanya. Ketika Rasulullah (
)
memperhatikan bahwa as-Siddiq cemas dan berkata, “Wahai Rasulullah! Jika salah satu dari
mereka melihat ke bawah ke tempat kakinya, niscaya ia pasti akan melihat kita," maka
berkata Rasulullah (
) kepadanya: "Wahai Abu Bakr! Apa pendapatmu tentang dua orang
yang memiliki Allah sebagai yang ketiganya?” Dan Allah berfirman:








“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya
Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin
Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari
dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata
kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah
beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak
melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang
rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9: 40)
Islamic Online University Tafsir 202
112
Sebenarnya, kisah tentang peristiwa di gua ini (Tsur) jauh lebih agung dan lebih
menakjubkan dari pada kisah tentang para penghuni Gua.
162
162
Tafsir Ibn Katsir, Jilid. 5
Islamic Online University Tafsir 202
113







17. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua
mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi
mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang
Luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang
mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka
kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat
memberi petunjuk kepadanya.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: Penggambaran dalam ayat ini
menunjukkan bahwa pintu masuk ke dalam gua menghadap ke utara, karena Allah memberi
tahu kita bahwa sinar matahari memasuki gua ketika matahari terbit. "Matahari ketika
terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan," berarti bahwa keteduhan berkurang ke
arah kanan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas, Sa'id bin Jubair dan Qatadah: (condong)
berarti "tergelincir." Setiap kali matahari terbit di atas cakrawala, sinarnya menurun sampai
tidak ada yang tersisa ketika mencapai puncaknya. Jadi Allah berfirman, "dan bila matahari
terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri," yang berarti, sinarnya memasuki gua mereka
dari sisi kiri pintu masuknya, yang artinya masuk dari barat. Ini adalah pandangan yang kami
pegang, karena jelas bagi siapa saja yang merenungkan masalah ini dan memiliki pengetahuan
tentang astronomi dan pergerakan matahari, bulan dan bintang. Jika pintu masuk gua
Islamic Online University Tafsir 202
114
menghadap ke timur, tidak ada sinar matahari yang akan masuk ketika matahari terbenam,
dan jika menghadap ke arah Kiblat (dalam hal ini, selatan), tidak ada sinar matahari yang akan
masuk ke sana pada saat matahari terbit atau terbenam , dan bayangannya tidak akan condong
ke kanan atau ke kiri. Jika menghadap ke barat, tidak ada sinar matahari yang akan masuk
pada saat matahari terbit, sampai setelah matahari melewati puncaknya, dan itu akan tetap
sampai matahari terbenam. Deskripsi dalam ayat tersebut mendukung apa yang telah kami
nyatakan, dan segala puji hanya bagi Allah. Ibnu Abbas, Mujaahid dan Qataadah semuanya
mengatakan bahwa "menjauhi mereka ke sebelah kiri" berarti bahwa sinarnya akan bersinar
pada mereka dan kemudian meninggalkan mereka.
Allah telah memberi tahu kita hal ini, karena Dia ingin kita memahaminya dan
merenungkan maknanya. Namun, Dia tidak memberi tahu kita tentang lokasi gua, karena
tidak ada manfaatnya bagi kita untuk mengetahui hal itu, dan tidak ada tujuan hukum di
belakangnya. Jika ada kepentingan spiritual atau keagamaan yang dapat dihasilkan dari
mengetahui bahwa, Allah dan Rasul-Nya akan mengajarkan kita tentang hal itu, seperti yang
disabdakan Nabi (): “Aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang akan mendekatkan diri
kalian ke surga dan menjauhkan dari api Neraka kecuali pasti sudah aku ajarkan tentang hal
itu padamu.”
163
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa "bila matahari terbenam" di sebelah kiri
gua mereka, maka matahari akan "meninggalkan mereka" atau "menangkap mereka."
164
Arti kedua [lebih dekat dengan makna yang dimaksudkan atau] lebih mungkin makna yang
dimaksudkan. Manfaat dari disentuh/ditangkap [oleh matahari] ini adalah mencegah tubuh
mereka berubah karena matahari sehat untuk tubuh manusia.
165
[Terlalu banyak bisa
berbahaya] "sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu," berarti
bahwa mereka tidak berada di mulut gua, tetapi di dalam, yang lebih terlindung bagi
mereka.
166
Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa [kalimat] condong dari gua
mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri
sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu,” berarti bahwa matahari
163
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6. Nabi bersabda, “Aku tidak meninggalkan sesuatupun yang mendekatkan
kalian kepada Allah tanpa aku memerintahkan kalian untuk melakukannya.” (Dikeluarkan oleh at-Tabarani
dari Abu Dzar dalam al-Mu’jam al Kabir (1648) dan disahihkan dalam Silsilah al Ahadits as Shahihah, Jilid 4,
hlm. 416-7, no. 1803).
164
Dua makna yang mungkin untuk kata taqriduhum
165
Kurang cahaya matahari sebagai sumber utama vitamin D menyebabkan rapuhnya tubuh.
166
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 32
Islamic Online University Tafsir 202
115
memasuki gua tanpa menyentuh mereka, karena jika menyentuh mereka, itu akan membakar
tubuh dan pakaian mereka. Ini adalah pandangan Ibnu ‘Abbas.
167
Syaikh al-Utsaimin menyimpulkan dari penggambaran matahari terbit dan terbenam di
sini dan dalam nash-nash lain dari Al Quran dan Sunnah bahwa Matahari-lah yang
mengelilingi matahari dan bukan kebalikannya. Beliau mengatakan, “matahari ketika
terbit… bila matahari terbenam” merupakan dalil bahwa matahari-lah yang bergerak dan
karena pergerakannya ini terjadilah matahari terbit dan matahari terbenam. Hal ini
bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang saat ini bahwa bumi yang
mengelilingi matahari sementara matahari tetap di tempatnya. Di sini kita memiliki dalil dari
firman Allah. Menjadi kewajiban bagi kita untuk memahaminya dengan makna zhahirnya dan
tidak menyimpangkannya dari makna yang Nampak (zhahir) kecuali ada dalil yang sharih
yang menyatakan sebaliknya. Maka, jika sudah jelas bagi kita dengan dalil tertentu bahwa
pergantian malam dan siang merupakan akibat dari revolusi bumi, maka menjadi kewajiban
bagi kita untuk menafsirkan ayat-ayat tersebut berdasarkan makna yang sesuai dengan
kenyataan. Maka kita mengatakan: Bahwa matahari terbit "sesuai dengan apa yang dilihat
mata" ... Namun, kita tidak akan pernah menerima bahwa matahari itu tetap ditempatnya
sebelum menjadi jelas dengan dalil yang tak terbantahkan bahwa matahari tetap dan bumi
berputar dan bahwa dengan revolusi bumi terjadilah siang dan malam. Adalah wajib bagi kita
untuk mengatakan bahwa matahari berputar dan revolusinya menyebabkan siang dan malam
karena Allah telah mengaitkan terbit dan terbenamnya matahari dengan terjadinya siang dan
malam. Selanjutnya, [pada satu kesempatan] ketika matahari terbenam Nabi () bertanya
pada Abu Dzar, "Tahukah engkau ke mana ia pergi?"
168
Beliau menggunakan kata "pergi"
untuk matahari, dan kita tahu dengan pasti bahwa Allah subhanahu wata’ala lebih mengenal
makhluk-Nya. Jadi, kita tidak menerima dalam tempatnya adanya sangkaan atau dugaan."
169
Bagi yang lain, perjalanan Pangeran Salman dari Saudi dengan pesawat ulang-alik dan
pengamatannya merupakan bukti yang cukup dapat diamati bahwa matahari tidak berputar
mengelilingi bumi. Di Eropa peralihan besar-besaran pada sains modern terjadi dalam
pertempuran melawan teori Copernicus - revolusi Copernicus. Galileo adalah pahlawan dari
pertempuran besar ini. Dia mengklaim bahwa pengamatan langit yang dia lakukan dengan
teleskop barunya membuktikan teori Copernicus bertentangan dengan apa yang dipikirkan
orang selama berabad-abad, matahari tetap dan bumi mengorbit di sekitarnya dan berputar
pada porosnya. Gagasan baru ini menjengkelkan bagi pengikut Aristoteles yang berkonspirasi
167
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
168
Shahih al-Bukhari, Kitab: Bad’ul Khaq, Bab: Sifat matahari dan bulan
169
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 32-3.
Islamic Online University Tafsir 202
116
menentangnya agar Gereja membungkamnya dan akhirnya menghukumnya sebagai bid’ah.
170
Dengan melakukan itu, Gereja selamanya mendiskreditkan doktrinnya di benak banyak orang
yang berpikir. Hal ini mengorbankan klaimnya bahwa gereja memonopoli kebenaran.
Galileo dihukum dan buku-bukunya secara resmi dilarang. Tetapi idenya menang, dan
bersama ide-ide tersebut datanglah akhir dari ilmu Aristotelian.
Ibn Katsir menjelaskan bahwa "Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Allah," merujuk pada bagaimana Dia membimbing para pemuda ke gua tempat Dia menjaga
mereka tetap hidup, dan bagaimana matahari dan angin memasuki gua menjaga tubuh
mereka.
171
Syaikh Al-Utsaimin menyebutkan bahwa frasa ini merujuk pada para pemuda; (1)
mereka meninggalkan kaum mereka, (2) mencari perlindungan di gua khusus ini, dan (3)
Allah memudahkan mereka untuk menemukan gua yang cocok. Semua ini, tidak diragukan
lagi, adalah dari tanda-tanda Allah yang menunjukkan kebijaksanaan dan kasih sayang-
Nya.
172
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah,”
maksudnya adalah bahwasanya Allah lah Dzat yang memberi petunjuk kepada para pemuda
ini kepada agama yang benar di antara kaum mereka, karena siapa saja yang diberi petunjuk
oleh Allah maka ia akan berada di atas jalan yang lurus, dan siapa saja yang disesatkan Allah,
maka tidak ada seorang pun yang mampu menunjukinya.
173
Syaikh Al-‘Utsaimin mencatat: "Dalam informasi dari Allah ini mengandung
peringatan bagi kita bahwa kita tidak boleh meminta petunjuk kepada siapa pun selain Allah
dan bahwa kita tidak boleh khawatir atau berduka ketika kita melihat seseorang tersesat
karena kesesatan ada di tangan Allah. Kita percaya pada Qadar dan tidak boleh kesal dengan
kesesatan yang datang dari Allah, tetapi kita harus menunjukkan jalan kepada mereka yang
tersesat. Di sini ada Hukum (Syar’i) dan Takdir (Qadar). Anda harus ridha terhadap Takdir
dalam semua keadaan, tetapi dalam kasus apa yang ditakdirkan ada beberapa perbedaan.
Secara hukum, Anda harus puas dengan apa yang diatur oleh hukum syar’i dalam semua
keadaan. Jadi, kita ridha bahwa Allah telah membagi manusia menjadi dua kelompok;
mendapatkan petunjuk dan sesat. Meskipun demikian, tetap menjadi kewajiban bagi kita
untuk berusaha membimbing manusia.
174
170
The Truth in the Light, hlm. 45-46
171
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
172
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 33
173
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
174
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 34
Islamic Online University Tafsir 202
117
"Dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan
seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya," memiliki implikasi
yang sama dengan Allah mengunci mati hati manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat
berikut:




“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan
penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang Amat berat.”
(QS. Al-Baqarah 2: 7)
175
Syaikh As-Sa‘di mengatakan bahwa ini berarti Allah telah menutup hati dan telinga
mereka dengan penutup yang mencegah iman untuk masuk atau membekas pada mereka,
sehingga mereka tidak akan peduli pada apa yang bermanfaat bagi mereka atau
mendengarkan apa yang akan menguntungkan mereka. Penutup ini mencegah mata dari
melihat apa yang bisa membantu mereka. Jalan pengetahuan dan kebaikan ini terhalang,
sehingga tidak ada harapan bagi mereka, tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari
mereka. Mereka dicegah dari itu dan pintu-pintu iman dihadang di depan mereka karena
kekafiran mereka, penolakan mereka akan kebenaran dan keras kepalanya mereka bahkan
setelah kebenaran nampak jelas bagi mereka, seperti yang difirmankan oleh Allah subhanahu
wata’ala:









175
Lihat juga 17: 98, 7: 178: 28: 56; 5: 41; 16: 37; 6: 125 (Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 32)
Islamic Online University Tafsir 202
118
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku,
mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?" Maka tatkala
mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati
mereka[1473]; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang
fasik.” (QS. Ash Shaff: 61: 5)
176
Mungkin terjemahan yang lebih baik dari kalimat "barangsiapa yang Allah sesatkan
maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk," adalah "barangsiapa yang Allah biarkan
tersesat maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk," karena pemahaman bahwa Allah
menyesatkan manusia pada dasarnya tidak benar. Sebab, apa gunanya pengadilan jika
seseorang yang dengan tulus menginginkan petunjuk tapi ditolak oleh Allah, sedangkan orang
lain yang tidak menginginkan petunjuk malah diberi hidayah oleh Allah? Tidak akan ada
artinya bagi yang baik dan yang jahat, ketaatan dan dosa. Jika Allah menyebabkan seseorang
tersesat, tidak adil bagi-Nya untuk menghukum orang itu karena kesesatannya. Alih-alih,
Allah menggambarkan dirinya sebagai hakim terbaik yang mencintai keadilan. Sebenarnya,
siapa saja yang mencari petunjuk biscaya ia akan mendapatkan petunjuk dan dan siapa saja
yang mencari kejahatan dan menolak setiap kesempatan kepada petunjuk maka ia tersesat.
Pada akhirnya, jika Allah ingin memaksa mereka untuk mendapatkan petunjuk maka Dia dia
bisa melakukannya.


“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa
seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah
memberi petunjuk kepada manusia semuanya.” (QS. Ar-Ra’d 13: 31)
Kekuasaan Allah diwujudkan dalam diberinya petunjuk dan kesesatan mereka.
Akibatnya, Allah memilih ungkapan: "Barangsiapa yang Dia sesatkan maka tidak ada yang
bisa memberinya petunjuk." Namun sesungguhnya orang yang sesat itu, dia tidak dapat
memilih untuk menjadi jahat kecuali Allah mengizinkannya menjadi jahat. Lebih jauh, pilihan
menjadi jahat tidak bisa dilaksanakan kecuali Allah mengizinkannya terjadi. Dengan
demikian, ada unsur kebenaran dalam argumen yang salah dari orang-orang kafir:
176
Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 31-2.
Islamic Online University Tafsir 202
119



“Dan berkatalah orang-orang musyrik: "Jika Allah menghendaki,
niscaya Kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik
Kami maupun bapak-bapak Kami,” (QS. An Nahl 16: 35)
Argumen ini tidak benar karena wahyu turun kepada mereka yang memerintahkan
kepada mereka yang berkebalikan dari apa yang mereka katakan dan mereka malahan
memilih untuk melanjutkan penyembahan mereka yang batil.
Seseorang boleh jadi berniat untuk melakukan sesuatu yang jahat namun tidak dapat
melakukannya karena keadaan yang tidak mendukung. Manusia tidak memiliki kendali atas
keadaan di sekitar mereka. Dengan demikian, satu-satunya cara di mana seseorang dapat
mewujudkan niat buruknya menjadi perbuatan nyata adalah jika Allah membiarkan keadaan
yang diperlukan untuk tindakan tersebut terjadi.




Katakanlah: "Hai manusia, Sesungguhnya teIah datang kepadamu
kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu Barangsiapa yang
mendapat petunjuk Maka Sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan
dirinya sendiri. dan Barangsiapa yang sesat, Maka Sesungguhnya
kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu." (QS. Yunus 10: 108)
177
177
Lihat juga, 17: 15 dan 27: 92
Islamic Online University Tafsir 202
120
Syekh asy-Syinqithi menyebutkan bahwa ayat ini dan ayat-ayat lain yang sejenisnya
adalah bukti batilnya aliran Qadariyah yang mengklaim bahwa manusia bebas dalam
perbuatan baik dan jahat yang mereka lakukan dan bahwa perbuatan mereka tidak sesuai
dengan kehendak Allah tetapi sesuai dengan keinginan manusia. Mahasuci Allah dari
pemahaman bahwa sesuatu yang dapat terjadi dalam kekuasaan-Nya melawan kehendak-
Nya.
178
178
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 32
Islamic Online University Tafsir 202
121









18. Dan kamu mengira mereka itu bangun, Padahal mereka tidur; dan
Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing
mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika
kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari
mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan
dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.
Ayat 18 melengkapi deskripsi tentang keadaan mereka selama mereka tinggal di
dalam gua. Menurut Syekh Al ‘Utsaimin, "Dan kamu mengira mereka itu bangun… "
berarti bahwa mereka tidak menunjukkan tanda-tanda istirahat normal yang biasanya terjadi
pada orang yang tidur. Sebaliknya mereka tampak terjaga.
179
Beberapa ahli tafsir berpendapat
bahwa alasan mereka tampak seperti terjaga adalah karena mereka tidur dengan mata terbuka.
Yang lain mengatakan hal itu karena mereka sering berbalik dari satu sisi ke sisi yang lain.
180
Pendapat kedua didukung oleh kalimat yang mengikutinya, "Dan Kami balik-balikkan
mereka ke kanan dan ke kiri."
Perlu dicatat bahwa Allah tidak menyebutkan dalam kalimat, "Dan Kami balik-
balikkan mereka ke kanan dan ke kiri…. " membalikkan mereka di punggung atau perut
179
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 34
180
Adwaa al-Bayaan, vol. 4, p. 33. Asy-Syinqithi melanjutkan dengan mengatakan: "Pernyataan para ulama
Tafsir mengenai berapa kali mereka berpaling dari satu sisi ke sisi yang lain (Abu Hurairah mengatakan dua
kali per tahun, yang lain mengatakan sekali per tahun, sekali setiap tujuh tahun menurut Mujaahid, dll. Al -
Jaami 'li Ahkaam al-Qur'aan, jilid. 9-10, hlm. 306), sering atau jarang, tidak memiliki dalil yang mendukung.
Sebagai hasilnya, aku menghindari dari menyebutkannya.
Islamic Online University Tafsir 202
122
mereka karena tidur di di sisi kanan dan kiri tubuh adalah lebih sempurna.
181
Faktanya, tidur
di atas perut (tengkurap) itu berbahaya karena itulah Nabi () sangat tidak
menganjurkannya.
َ
لﺎ
َ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ً
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر ى
َ
أ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
َ
ﺑ ﻰ
َ
َ
ﻋ ﺎ
ً
ِ
َ
ْ
ُ
))
ُ
ﻠﻟا ﺎ
َ
ـﺒ
ِ
ُ
َ
ٌ
َ
ْ
َ
ﺿ
ِ
ِ
َ
ن
ِ
إ
((
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
melihat seseorang tengkurap, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya tengkurap
tidak disukai Allah."
182
َ
لﺎ
َ
ي
ِ
رﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
ٍ
ْ
َ
ـﻗ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
ﺶﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
بﺎ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ِ
َ
أ
َ
نﺎ
َ
ِ
ﺼﻟا….
ْ
ُ
ﻣ ﺎ
َ
َ
أ ﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺒ
َ
ـﻓ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ِ
َ
ﺴﻟا
ْ
ِ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ٌ
ِ
َ
َ
لﺎ
َ
ُ
ﻠﻟا ﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
ٌ
َ
ْ
ِ
ﺿ
ِ
ِ
َ
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
ِ
ِ
ِ
ُ
َ
ُ
ٌ
ُ
َ
ر ا
َ
ذ
ِ
إ
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر ا
َ
ذ
ِ
َ
ُ
ت
ْ
َ
َ
َ
ـﻓ
Dari Ya'isy bin Thakhfah bin Qais Al Ghifari ia berkata:"Bapakku termasuk
ahli suffah." ….. Perawi berkata: "Ketika aku tidur dalam masjid dengan
telungkup, tiba-tiba di waktu sahur seseorang membangunkan aku dengan
kakinya. Laki-laki itu berkata: "Ini adalah cara tidur yang dibenci oleh
Allah." Lalu aku melihatnya dan ternyata laki-laki itu adalah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam."
183
181
Ibid, hlm. 35.
182
Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Adab, Bab: Dimakruhkan tidur menindih perutnya sendiri.
183
Dikeluarkan oleh Abu Dawud (Sunan Abu Dawud (English Trans.), vol.3, pp.1400-1, no.502) dan Ibnu
Maajah, dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibn Maajah, vol.2, p.305, no.3000)
Islamic Online University Tafsir 202
123
َ
لﺎ
َ
ر
َ
ذ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
ٌ
ِ
َ
ْ
ُ
ﻣ ﺎ
َ
َ
أ
َ
و
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
ِ
َ
ِ
رﺎﻨﻟا
ِ
ْ
َ
أ
ُ
َ
ْ
ِ
ﺿ
ِ
ِ
َ
ﻫ ﺎ
َ
ِ
إ
ُ
ب
ِ
ْ
َ
ـﻨ
ُ
ﺟ ﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
و
ِ
ِ
ْ
ِ
ِ
ِ
َ
َ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
َ
Dari Abu Dzar dia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
melewatiku yang sedang berbaring diatas perutku (tidur telungkup), maka
beliau mendorongku dengan kakinya sambil bersabda: "Wahai Junaidib, ini
adalah cara berbaringnya penghuni neraka."
184
Alasan di balik larangan ini, selain yang diberikan dalam hadits, telah diajukan selama
berabad-abad, namun, tidak satupun dari alasan-alasan tersebut yang sangat meyakinkan.
Misalnya, alasan bahwa tidur dalam posisi ini menyebabkan mimpi basah tetap perlu
dibuktikan, dan bahkan jika diterima, selain terbatas pada pria, itu adalah proses alami yang
tidak melanggar hukum dengan cara apa pun. Bagaimanapun, setelah penelitian yang luas
tentang penyakit tulang belakang dan penyebabnya pada bagian akhir abad kedua puluh, para
peneliti medis dan ahli bedah di AS membuat rekomendasi berikut,
“Posisi tidur yang buruk sebagia pemicu sakit punggung adalah suatu hal
yang pasti. Gunakan kasur yang kuat. Berbaringlah miring dengan menekuk
ke lutut. Hindari berbaring di atas perut, posisi yang meningkatkan lumbar
tulang belakang, yang menyebabkan gangguan yang sering disebut
swayback.
185
Oleh karena itu, tidak hanya larangan tidur tengkurap itu bermanfaat, tetapi juga
merupakan cara tidur Nabi
di mana beliau biasa berbaring di sisi kanannya dengan lutut
ditekuk dan beliau memilih tempat tidur yang kokoh dari serabut kurma dengan hanya
selembar kulit di atasnya. Lebih jauh lagi, pada akhir tahun delapan puluhan, setelah
penelitian mendalam tentang faktor-faktor yang terkait dengan sindrom kematian mendadak
pada bayi atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) yang disebut juga Cot Death, para
peneliti medis di Inggris menemukan bahwa menempatkan bayi dan anak kecil untuk tidur di
perut mereka menjadi penyebab umum. Akibatnya, peringatan diberikan di surat kabar dan
rumah sakit di Barat. Survei lebih lanjut yang dilakukan sepuluh tahun kemudian menemukan
bahwa kasus-kasus Cot Death telah menurun secara drastis.
184
Dikeluarkan oleh Ibnu Maajah dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibn Maajah, vol.2, p.305, no.3001.
185
Time Magazine, (European Edition: July 14, 1980), p. 34, paragraf ke 3.
Islamic Online University Tafsir 202
124
Kalimat "Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, ..." mengandug
dalil bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang sedang tidur tidak dapat disandarkan kepada
dirinya sendiri. Sebaliknya, perbuatan itu lebih tepat jika disandarkan kepada Allah. Jadi, jika
seorang lelaki berkata saat tidur, "Aku menceraikan istriku," atau "Aku berutang sekian dan
sekian 1.000 Riyal," ini tidaklah memiliki implikasi hukum karena itu terjadi tanpa
keinginannya.
186
Karena inilah Nabi () bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh
‘Ali,
ِ
ِ
ﺋﺎﻨﻟا
ْ
َ
ٍ
َ
َ
َ
ْ
َ
ُ
َ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ُ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ـﻳ
َ
ِ
ن
ُ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ْ
َ
َ
و
َ
ِ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ﺼﻟا
ْ
َ
َ
و
َ
ِ
ْ
َ
ـﺘ
ْ
َ
Dari nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Pena pencatat amal
dan dosa itu diangkat dari tiga golongan: orang tidur hingga ia bangun,
anak kecil hingga ia bermimpi dan orang gila hingga ia berakal."
187
Allah menyebabkan tubuh mereka berbalik dari satu sisi ke sisi lain. Selama tidur
manusia biasanya membalik-balikkan tubuh mereka dari satu sisi ke sisi lain tanpa
menyadarinya. Namun, jika tubuh seseorang yang sedang koma dibaringkan, tubuh itu tidak
akan bergerak. Perawat atau anggota keluarga diharuskan untuk mengubah posisi orang itu
dari satu sisi ke sisi lain untuk mencegah terjadinya luka pada tubuh karena luka baring
(decubitus/bedsores) dan membusuk karena berkurangnya sirkulasi darah pada titik-titik di
mana tubuh bersentuhan dengan tempat tidur. Al-Qurtubi mengutip Ibnu 'Abbaas yang
mengatakan bahwa mereka dibalik-balikkan oleh Allah adalah agar bumi tidak memakan
daging mereka.
188
Syeikh As Sa'di juga menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dibalik-
balikannya tubuh mereka adalah untuk melindungi tubuh mereka, karena itu adalah sifat dari
bumi untuk memakan tubuh yang bersentuhan dengannya.
189
Berkembangnya luka dan
pembusukan daging nampak dipahami oleh orang-orang di masa lalu sebagai akibat dari bumi
memakan daging.
Menurut Syeikh Al ‘Utsaimin, apa yang dikatakan sebagian ulama tentang hikmah
Allah membalikkan tubuh mereka dari satu sisi ke sisi lain untuk menghindari bumi memakan
186
Ibid, hlm. 35
187
Sunan Abu Dawud (English Trans.), vol. 3, p. 1226, no. 4384, at -Tirmidzi dan Ibnu Maajah, dan
dishahihkan dalam Sunan at- Tirmidzi, vol. 2, p. 64, no. 1150.
188
Al-Jami’ li ahkamil Qur’an, jilid 9-10, hlm. 306.
189
Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 472
Islamic Online University Tafsir 202
125
sisi yang bersentuhan dengannya tidak benar. Dia berkata, “Yang benar adalah ini bukanlah
hikmah yanh dimaksud. Sebaliknya, itu adalah untuk menjaga keseimbangan aliran darah
dalam tubuh. Darah bersirkulasi ke seluruh tubuh. Jadi, jika darah hanya mengalir di satu sisi
tubuh (misal, Sisi yang lebih rendah), sisi yang lebih tinggi akan kehilangan darah hingga
mencapai tingkat yang besar. Namun, Allah dengan hikmah-Nya membuat mereka berbalik
dari satu sisi ke sisi lain.”
190
"Sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua...."
artinya, wallahu a’lam, bahwa ia tidak tidur.
191
Semua mamalia tampaknya tidur miring.
Karena anjing itu merentangkan cakarnya seperti pose sphinx ini menunjukkan bahwa ia
terjaga. Syaikh Al ‘Utsaimin mencatat bahwa deskripsi ini berisi hukum diperbolehkannya
memelihara anjing untuk menjaga manusia. Bolehnya menggunakan anjing untuk menjaga
atau menggembalakan hewan dan untuk melindungi tanah pertanian dapat ditemukan dalam
riwayat Sunnah. Sebagai contoh,
َ
ْ
ﺑا
ُ
ْ
ِ
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﳊا
ِ
َ
أ
ْ
َ
ُ
ث
َ
ُ
َ
َ
ُ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ْ
ِ
ُ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ـﻳ
ٍ
ْ
َ
ْ
و
َ
أ
ٍ
َ
َ
ْ
و
َ
أ
ٍ
ع
ْ
ر
َ
ز
َ
ْ
َ
ِ
إ
ً
ْ
َ
َ
َ
ﲣا
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ٌ
طا
َ
ِ
ٍ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ِ
ِ
ْ
َ
أ
Dari Abu Al Hakam dia berkata, Saya mendengar Ibnu Umar menceritakan
dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa
memelihara anjing, selain anjing untuk menjaga tanaman atau binatang
ternak atau untuk berburu, maka pahalanya akan dikurangi satu qirath setiap
harinya."
192
Menjaga manusia tentu lebih diperbolehkan, karena, jika diperbolehkan memelihara
anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman dan untuk berburu yang merupakan
kebutuhan sekunder manusia, maka untuk melindungi rumah dan diri seseorang dengan
memelihara seekor anjing bahkan lebih masuk akal.
193
190
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 35.
191
Ibid
192
Shahih al-Bukhari, Kitab: Muzara’ah, Bab: Memelihara anjing untuk menjaga tanaman, Shahih Muslim,
Kitab: Pengairan, Bab: Perintah membunuh anjing.
193
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 35-6.
Islamic Online University Tafsir 202
126
Asy-Syinqithi menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa apa yang
dimaksud dengan "anjing" dalam ayat ini adalah salah satu dari kaum muda dan bukan anjing
yang sebenarnya. Mereka menggunakan dalil beberapa qira’ah yang tidak biasa seperti: wa
kaalibuhum dan wa kaali'uhum (penjaga mereka). Namun, Firman Allah subhanahu wata’ala:
"mengunjurkan kedua lengannya ..." adalah dalil batilnya pernyataan ini karena
mengunjurkan/merentangkan kaki depan adalah salah satu karakteristik nyata dari anjing yang
sesungguhnya. Adapun qira’ah kedua, itu tidak bertentangan bahwa itu merujuk pada anjing
karena anjing menjaga dan mengawasi keluarga.
Beliau melanjutkan dengan mengatakan, “Perlu dicatat bahwa Allah menyebutkan
anjing ini dalam kitab suci-Nya, dan dengan mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu
masuk gua ini menandakan bahwa berteman dengan orang-orang yang shalih mendatangkan
banyak manfaat. Ibnu Katsir mengatakan, “Nikmat yang mereka dapatkan meluas hingga
kepada anjing mereka, sehingga tidur yang menguasai mereka juga menguasai anjing mereka.
Ini adalah manfaat yang didapatkan dari menemani orang-orang yang baik, dan karenanya
anjing ini juga mendapatkan kedudukan dan nama baik.”
194
Hal ini juga diisyaratkan dari
pernyataan Nabi
kepada seseorang yang mengatakan, "Sesungguhnya Aku hanya
mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda: "Kamu bersama dengan yang kau
cintai."
195
Yang juga dipahami dari hal itu adalah bahwa berteman dengan orang-orang yang
jahat menimbulkan bahaya yang besar, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
















   
194
Tafsir Ibnu Katsir.
195
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Islamic Online University Tafsir 202
127
Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sesungguhnya aku dahulu
(di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata: "Apakah kamu
sungguh-sungguh Termasuk orang-orang yang membenarkan (hari
berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah
dan tulang belulang, Apakah Sesungguhnya kita benar-benar (akan
dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" Berkata pulalah ia: "Maukah
kamu meninjau (temanku itu)?" Maka ia meninjaunya, lalu Dia melihat
temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula):
"Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir
mencelakakanku, Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku
Termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (QS. Ash Shaffat 37: 51-
7)
196
Qadar dan Doa
Ayat-ayat ini menggambarkan keadaan mereka yang berada di dalam gua, dan bagaimana
Allah mengabulkan doa mereka yang memohon perlindungan. Islam mengajarkan bahwa doa
dapat mengubah keadaan. Tampaknya sulit untuk memahami bagaimana doa dapat mengubah
apa pun, karena Islam juga mengajarkan bahwa segala sesuatu yang akan terjadi telah ditulis.
Yaitu, jika semua hal sudah ditulis, lalu apa gunanya berdoa? Ini adalah pertanyaan yang
mengejutkan banyak orang. Namun, kenyataannya adalah bahwa apa yang tertulis adalah apa
yang dilakukan seseorang. Bukannya orang melakukannya karena ada tertulis. Itu ditulis,
karena itulah yang akan kita lakukan. Bagi banyak orang, kedua konsep ini adalah satu dan
sama. Jika yang dilakukan seseorang adalah apa yang ditulis, maka ia terpaksa melakukannya
karena itu tertulis. Namun, kenyataannya adalah bahwa begitu seseorang menerima bahwa
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahwa Dia Mahatahu, maka tulisan itu hanya
merupakan ungkapan dari pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu, bukanlah artinya Dia
memaksa sesuatu untuk terjadi dalam kehidupan seseorang. Namun, ada beberapa situasi di
mana Allah campur tangan secara langsung yang tidak ada hubungannya langsung dengan
196
Adwaaul -Bayaan, vol. 4, p. 34. Asy-Syinqithi melanjutkan dengan mengatakan: "Apa yang disebutkan oleh
para ulama Tafsir tentang nama anjing itu tidak layak disebutkan karena tidak ada manfaatnya. Dalam Al-
Qur'an yang penuh Mukjizat ada banyak hal yang Allah tidak jelaskan bagi kita atau Nabi-Nya, dan tidak ada
yang shahih dari penjelasannya, dan penelitian tentang hal itu tidak menghasilkan apa-apa dan tidak
memberikan manfaat. Namun banyak di kalangan ulama Tafsir yang berusaha keras untuk menyebutkan semua
pendapat tentang hal itu tanpa ilmu atau manfaat. Saya selalu menghindari itu. Seperti warna anjing Para
Penghuni GUa, namanya; nama pemuda yang dibunuh al-Khidir, jenis kayu yang digunakan untuk membuat
Kapal Nabi Nuh, panjang Tabut, berapa lantai yang dimilikinya, dan seterusnya dan seterusnya dari apa yang
tidak bermanfaat untuk diketahui dan tidak ada dalil untuk mendasarinya."
Islamic Online University Tafsir 202
128
pilihan seseorang. Ketika seseorang kembali kepada Allah dalam doa, Dia akan menjawab
doa itu sebagaiman Dia berfirman,

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. " (QS. Ghafir 40: 60)
Jika kenyataannya adalah bahwasanya segala sesuatu telah tertulis maka ini berarti doa
tidak akan menghasilkan apa-apa, lalu pernyataan Allah ini menjadi tidak masuk akal—yang
merupakan hal yang mustahil. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi
dengan tegas
menyatakan poin ini sebagai berikut,
ْ
َ
ِ
َ
أ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ر
ِ
ﻠﻟا
َ
ُ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
و ا
ُ
ْ
دا
َ
ﻠﻟا
ْ
ُ
ْ
ـﻧ
َ
أ
َ
و
َ
ن
ُ
ِ
ُ
ِ
َ
ﺑﺎ
َ
ِ
ْ
ﻹﺎ
ِ
ا
ُ
َ
ْ
ﻋا
َ
و
ن
َ
أ
َ
ﻠﻟا
َ
ُ
ﺐﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ً
ءﺎ
َ
ُ
د
ْ
ِ
ٍ
ْ
َ
ـﻗ
ٍ
ِ
ﻓﺎ
َ
ٍ
َ
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan,
dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai."
197
Tetapi jika seseorang berdoa kepada Allah karena sudah menjadi ritual/kebiasaan,
doanya tidak akan dijawab melebihi doa orang-orang kafir, karena tidak ada keimanan yang
sesungguhnya. Doa yang dijawab dan yang dikabulkan oleh Allah kepada seseorang adalah
doa yang mana ia berdoa kepada Allah dengan diiringi keyakinan yang sungguh-sungguh
bahwa Allah akan mengabulkan doanya.
Ketika sesuatu terjadi dan seseorang berkata: 'Apapun yang Allah kehendaki, pasti
terjadi,' maksudnya, terlepas dari usaha yang kita lakukan tidak ada yang terjadi kecuali atas
kehendak Allah. Pernyataan seperti itu tidak berarti bahwa usaha seseorang tidak memiliki
hubungan dengan apa yang Allah kehendaki, tetapi pada akhirnya apa pun yang terjadi hanya
197
Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan dihasankan (Hasan) oleh al-Albaani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, vol.3,
p.164, no.2766.
Islamic Online University Tafsir 202
129
atas kehendak Allah. Ketika sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang, alih-alih menyesali
dan menangisi hal itu, akan lebih baik jika ia mengatakan: "Ini adalah kehendak Allah."
Dengan mengatakan ini ia menerima taqdir Allah dalam hidupnya dan menghilangkan
kemungkinan ia menyesalinya. Nabi (
) bersabda,
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
َ
ﺑﺎ
َ
َ
أ
ٌ
ء
ْ
َ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ـﺗ
ْ
َ
َ
أ
ُ
ْ
َ
َ
ـﻓ
َ
نﺎ
َ
ا
َ
َ
ا
َ
َ
َ
و
ْ
ِ
َ
َ
و
ْ
ُ
ُ
ر
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
َ
و
َ
ءﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﻓ
ن
ِ
َ
ْ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
َ
ِ
نﺎ
َ
ْ
ﺸﻟا
“Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu
mengatakan: 'Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak
akan menjadi begini dan begitu'. Tetapi katakanlah: 'lni sudah takdir
Allah”
198
Jika seseorang berada dalam keadaan lemah secara psikologis disebabkan kegagalan
yang ia alami, setan mempermainkan kelemahannya dan menenggelamkannya jauh ke dalam
depresi dan penyesalan melalui berbagai jenis bisikan ini. Jika ia tidak hati-hati, bisikan-
bisikan semacam itu pada akhirnya akan membawanya pada kekafiran.





198
Shahih Muslim, Kitab: Takdir, Bab: Perintah untuk kuat dan tidak lemah.
Islamic Online University Tafsir 202
130




19-20. Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling
bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara
mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)." Mereka
menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata
(yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu
berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk
pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia
lihat manakah makanan yang paling baik, Maka hendaklah ia
membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-
lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada
seorangpun. 20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui
tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau
memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian
niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya"
Allah mulai menggambarkan fase selanjutnya dari kisah mereka di mana Dia secara
ajaib membangunkan mereka. Bagaimana Allah membangunkan mereka sama ajaibnya
dengan bagaimana Dia menidurkan mereka. Mayat dapat disimpan selama berabad-abad
karena berbagai alasan, seperti dalam kasus mumi orang-orang Mesir dan lainnya yang
diawetkan karena proses alami seperti dibekukan di gletser, dikeringkan di padang pasir, atau
disimpan dalam bentuk yang sama seperti dikubur karena komposisi kimia tanah. Namun,
hidup kembali setelah berabad-abad tidur hanyalah dapat terjadi dengan kekuasaan Allah
Islamic Online University Tafsir 202
131
yang luar biasa. Karena inilah, Allah berfirman, “Dan Demikianlah Kami bangunkan
mereka …” mengacu pada cara ajaib bagaimana Dia menjadikan mereka tertidur.
199
"Agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri..." Sudah menjadi sifat
alami manusia ketika mereka bangun dari tidur mereka akan bertanya satu sama lain atau
orang-orang di sekitar mereka tentang lama waktu mereka tertidur.
200
Ketika para pemuda
berdiskusi di antara mereka sendiri tentang berapa lama waktu mereka tidur, tidak ada dari
mereka yang bisa menentukan waktu tidur mereka. Hanya seseorang yang belum tidur dengan
mereka yang bisa memberi tahu mereka secara akurat. Dengan demikian, beberapa di antara
mereka merasa bahwa mungkin mereka berada di sana selama "sehari atau setengah hari."
Beberapa ulama Tafsir seperti al-Qurthubi menyatakan bahwa sebagian pemuda bisa sampai
pada kesimpulan bahwa mereka hanya tidur selama sehari atau setengah hari saja karena
mereka memasuki gua di pagi hari dan bangun pada penghujung hari.
201
Adapun sebagian
yang lain, Allah berfirman: "Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui
berapa lamanya kamu berada (di sini)," seolah-olah mereka yang mengatakan itu
menyadari bahwa tidur mereka panjang tetapi tidak dapat memperkirakannya. Bagaimanapun,
199
Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 36
200
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 36. Syeikh Al Utsaimin menjelaskan tentang liyatasaa aluu di sini bukanlah
berarti bahwa mereka dibangunkan “agar” mereka saling bertanya di antara mereka sendiri (sebagaimana yang
diisyaratkan oleh lam), namun maknanya adalah mereka dibangunkan “dan” mereka saling bertanya di antara
mereka, sebagaimana dalam firman Allah,




“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya Dia menjadi musuh dan
Kesedihan bagi mereka. sesungguhnya Fir'aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah
orang-orang yang bersalah.” (QS. Al Qashash 28: 8)
Beliau melanjutkan dengan menjelaskan bahwa lam dapat juga berarti “alasan” karena Fir’aun tidaklah
memungutnya agar dia menjadi musuhnya atau menjadi penyebab kesedihan atau penyesalan dalam dirinya,
akan tetapi ia memungutnya “dan” dia menjadi musuhnya dan sumber kesedihan baginya (hlm. 37).
Pandangan inilah yang dipegang Al Qurthubi yang menggunakan contoh yang sama dari ayat tentang Fir’aun
ini dalam Tafsir-nya (Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 9-10, hlm. 310). Akan tetapi Asy Syinqithi
menafsirkan ayat ini menurut makna zhahirnya, beliau mengatakan, “Agar mereka saling bertanya di antara
mereka sendiri tentang berapa lama waktu mereka yang mereka habiskan tinggal di dalam gua selama
mereka tertidur.” (Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 35)
201
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 9-10, hlm. 310 dan Tafsir Al Quran al Karim,
hlm. 37.
Islamic Online University Tafsir 202
132
ketidakmampuan mereka untuk memperkirakan lamanya tidur mereka menandakan
nyenyaknya tidur mereka.
202
Ayat ini pada umumnya membahas masalah berlalunya waktu. Yaitu menyebutkan
fenomena umum bahwa ketika seseorang tertidur, waktu berlalu tanpa dia sadari berlalunya.
Waktu sering terasa lama karena orang hidup sebagian besar dalam keadaan terbangun.
Ketika Allah menggambarkan orang-orang yang mati dan dibangkitkan, Dia menyebutkan
bahwa mereka juga akan berpikir bahwa mereka ada di bumi hanya untuk satu hari atau
setengah hari saja. Allah ‘azza wajalla berfirman,





Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari,
Maka Tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." (QS. Al
Mu’minun 23: 112-3)
Itulah masalahnya, karena ketika seseorang merenungkan kembali tahun-tahun
kehidupannya yang telah berlalu, waktu yang bertahun-tahun itu tampaknya berlalu dengan
cepat, sedangkan masa sekarang dan masa depan tampaknya membutuhkan waktu lebih lama.
Allah menyebutkan fenomena ini di berbagai tempat dalam Al-Qur'an sebagai pengingat bagi
manusia bahwa, pada akhirnya waktu di dunia ini sangat singkat sehingga mereka harus
memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya. Nabi (
) diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas
telah menegaskan hal itu dengan sabda beliau:
َ
لﺎ
َ
ﻗ ﺎ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ٍ
سﺎ
َ
ِ
ْ
ﺑا
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
لﺎ
َ
ُ
غا
َ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
ُ
ﺼﻟا
ِ
سﺎﻨﻟا
ْ
ِ
ٌ
ِ
َ
َ
ِ
ﻬﻴ
ِ
ٌ
ن
ُ
ْ
َ
ِ
نﺎ
َ
َ
ْ
ِ
202
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 37.
Islamic Online University Tafsir 202
133
Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan
manusia adalah kesehatan dan waktu luang."
203
Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak boleh menyia-nyiakan waktunya dengan
berangan-angan bahwa mereka akan selalu memiliki cukup waktu untuk mengingat Allah dan
melakukan amalan-amalan shalih. Mereka juga tidak boleh berangan-angan bahwa kondisi
kesehatan mereka akan selalu prima, sehingga amal ibadah apapun yang harus mereka
lakukan, mereka pasti akan mampu melaksanakannya. Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas,
Nabi menasehati seseorang seraya bersabda,
َ
ِ
َ
َ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
ِ
َ
و
َ
ِ
َ
َ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
ﺑﺎ
َ
َ
ﺷ :
ٍ
َْ
َ
ْ
َ
ـﻗ ﺎ
ً
َْ
ْ
ِ
َ
ْ
ِ
ا
َ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
ﺗﺎ
َ
َ
َ
و
َ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
ﻏا
َ
َ
ـﻓ
َ
و
َ
ك
ِ
ْ
َ
ـﻓ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
كﺎ
َ
ِ
َ
و
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu
sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa
luangmu sebelum datang masa sibukmu,(5) Hidupmu sebelum datang
matimu.”
204
Dari Abdullah ibnu Umar ibn Al Khattab,
َ
لﺎ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
َ
ُ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
أ
ُ
ِ
ﺑﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ٌ
ﺐﻳ
ِ
َ
َ
َ
َ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ِ
ْ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
َ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ٍ
ﻞﻴ
ِ
َ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
َ
ْ
َ
ْ
َ
أ ا
َ
ذ
ِ
إ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
ُ
ُ
ْ
ﺑا
َ
نﺎ
َ
َ
و ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
و
َ
ح
َ
ﺼﻟا
ْ
ِ
203
Shahih Bukhari, Kitab: Hal-hal yang melunakkan hati, Bab: Tak ada kehidupan yang hakiki selain kehidupan
akhirat.
204
Al Hakim menyebutkannya dalam Fathul Bar dan menshahihkannya
Islamic Online University Tafsir 202
134
َ
ِ
ﺗﺎ
َ
َ
ْ
ِ
َ
و
َ
ِ
ﺿ
َ
َ
ِ
َ
ِ
ِ
ْ
ِ
ْ
ُ
َ
و
َ
ءﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
َ
ْ
َ
ْ
َ
أ
َ
ِ
ْ
َ
ِ
Dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma dia berkata: "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memegang pundakku dan bersabda:
'Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang
pengembara." Ibnu Umar juga berkata: 'Bila kamu berada di sore hari, maka
janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di
pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu
sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.'
Hadits ini dan perkataan Ibnu Umar menekankan pentingnya untuk menghabiskan
waktu dengan benar dan tidak melewatkannya begitu saja. Ungkapan "time to kill (hanya
untuk menghabiskan waktu)" dan sejenisnya tidak boleh ada dalam kosakata seorang Muslim.
Seharusnya lebih tepat jika seperti "waktu adalah uang"; modal spiritual. "Waktu adalah
emas," "Rebut momen ini," harus menjadi moto seorang Muslim. Atau dalam istilah Al-
Quran,
  
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada
Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Asy Syarh 94: 7-8)
Ayat ini juga menunjukkan mengapa menunggu dalam alam kubur sebenarnya bukan
perkara yang membingungkan. Mereka yang meninggal puluhan ribu tahun yang lalu di masa
lalu dan mereka yang mati puluhan ribu tahun di masa depan sama-sama akan dibangunkan
pada hari kiamat. Seperti yang dikatakan al-Qurthubi dalam kitabnya, al-Mufhim, “Tidur dan
mati keduanya sama-sama bentuk istirahat dalam hubungannya ruh dengan jasad.
205
Jadi,
tidur secara umum disebut sebagai saudara maut. Dalam dua keadaan ini, tidur dan mati,
manusia tidak menyadari berlalunya waktu, sehingga mereka yang mati di masa lalu tidak
akan merasa tertekan dengan lamanya waktu menunggu di alam kubur sampai semua manusia
mati.
205
Fathul Bar, Bismika Allahumma Amutu wa ahya, 5837 Hadits CD
Islamic Online University Tafsir 202
135
Setelah Allah membangunkan para penghuni gua dari tidur mereka yang ajaib, mereka
merasa lapar
206
diskusi mereka berubah yang mulanya tentang lamanya tidur mereka menjadi
tentang bagaimana untuk menemukan makanan yang cocok. Mereka yang ragu jika tidur
mereka hanya untuk sehari atau setengah hari saja mengatakan: "Maka suruhlah salah
seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan
hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang paling baik." Para ulama menyebutkan
sejumlah permasalahan dari kalimat ini.
Pertama, kalimat ini mengandung bolehnya melibatkan orang lain sebagai agen
dalam jual dan beli.
207
Dalil dari sunnah dapat ditemukan dalam hadits seperti berikut ini,
َ
ة
َ
و
ْ
ُ
ْ
َ
ِ
ِ
ُ
َ
ي
ِ
َ
ْ
َ
ا
ً
رﺎ
َ
ﻨﻳ
ِ
د
ُ
ﻩﺎ
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ن
َ
أ
ٍ
ةﺎ
َ
َ
و
ٍ
رﺎ
َ
ﻨﻳ
ِ
ِ
ُ
َ
ءﺎ
َ
َ
و
ٍ
رﺎ
َ
ﻨﻳ
ِ
ِ
َ
ُ
ﳘا
َ
ْ
ِ
إ
َ
ع
َ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
َ
ـﺗﺎ
َ
ِ
ِ
ُ
َ
ى
َ
َ
ـﺘ
ْ
ﺷﺎ
َ
ً
ةﺎ
َ
ْ
َ
َ
نﺎ
َ
َ
و
ِ
ِ
ْ
َ
ـﺑ
ِ
ِ
َ
َ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟﺎ
ِ
ُ
َ
ﻟ ﺎ
َ
َ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
َ
َ
با
َ
ـﺘﻟا ى
َ
َ
ـﺘ
ْ
ﺷا
Dari 'Urwah bin Abi al Ja’d al Baariqi bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor kambing, dengan uang
itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu
dinar, lalu dia menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang
satu dinar. Maka beliau mendoa'akan dia keberkahan dalam jual belinya itu.
Sungguh dia apabila berdagang debu sekalipun, pasti mendapatkan untung.
208
Kedua, di dalamnya juga terkandung dalil bahwa tidak mengapa bagi seseorang untuk
mencari makanan yang paling baik.
209
206
Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 9-10, hlm. 310.
207
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vols. 9-10, p. 311, Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, p. 36 dan Tafseer al-
Qur’aan alKareem, p. 38. Asy yinqithi menyebutkan bahwa sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah dan
Sahnun dari Maliki berpendapat bahwa ayat ini tidak mengisyaratkan diperbolehkannya secara umum untuk
bersikap tawakul, knamun itu hanya boleh dalam keadaan bahaya, karena jika semuanya meninggalkan tempat
untuk berbelanja kebutuhan mereka, musuh-musuh mereka akan mengetahui tentang mereka. (p. 36)
208
Sahih Al BukhariKitaab : manaaqib, Baab: Orang-orang Musyrik meminta kepada Nabi agar ditunjukkan
pada mereka. Syaikh Al Utsaimin menyimpulkan dari hadits ini bolehnya tasarruf al-fudoolee yakni
diperbolehkan bagi seseorang untuk menggunakan kekayaan milik orang lain jika ia mengetahui bahwa mereka
akan senang dengan itu. ( Tafseer al-Qur’aan alKareem, p. 38.)
209
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 38.
Islamic Online University Tafsir 202
136
Ketiga, di dalamnya juga terkandung dalil tentang lemahnya pendapat ulama yang
menyatakan bahwa menggambarkan sesuatu yang dijual sebagai “yang terbaik” itu tidak
diperbolehkan. Misalnya, mereka berpendapat bahwa, mengatakan, “Saya menjual gandum
terbaik kepada Anda,” ini tidak boleh karena segala sesuatu yang baik pasti ada sesuatu yang
lain yang lebih baik darinya. Pendapat yang benar terkait permasalahan ini harus ditinjau
menurut kebiasaan setempat. Nabi
menyetujui perbuatan salah seorang sahabat yang
menjual kurma berkualitas rendah untuk mendapatkan kurma berkualitas baik agar dapat
diberikan kepada Nabi
.
210
“Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik,” menurut Ibnu
Katsir, maknanya adalah makanan yang paling suci, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat
lain dalam Al Quran,










“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-
langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan,
Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang
keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu
bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-
lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan
Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. An Nur, 24: 21)
210
See Sahih Al Bukhari, Kitaab: wakaalah; Bab: Ithnaa baa’ al wakeel shayan faasidan and Sahih
Muslim, Kitaab: musaaqaat; Baab: Bay‘ ta‘aam. Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, p. 38
Islamic Online University Tafsir 202
137

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,” (QS.
Asy Syams 91: 9)
Kata “zakat” juga berasal dari akar kata yang sama. Zakat merujuk pada sesuatu yang
menjadikan harta kekayaan seseorang menjadi baik dan mensucikannya.
211
Kalimat dalam ayat ini menyinggung tentang pentingnya memilih makanan yang baik;
memastikan bahwa apa yang dimakan itu bermanfaat bagi tubuh manusia dan halal menurut
ajaran Islam. Misalnya, jika kita diundang makan di rumah seseorang yang pendapatannya
berasal dari sumber yang haram (misalnya dari bunga atau riba) maka haram bagi kita untuk
memakan makanannya, kecuali jika Anda mengunjungi mereka dalam rangka untuk
menasehati mereka tentang (haramnya) pendapatan mereka. Makanan yang haram dapat
menyebabkan ditolaknya doa kita yang paling tulus. Perhatikan contoh berikut yang diberikan
oleh Nabi
,
ْ
َ
ِ
َ
أ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
ﻟﺎ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ر
ِ
ﻠﻟا
َ
ُ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
و ))
َ
ـﻳ
َ
أ
ُ
سﺎﻨﻟا
ن
ِ
إ
َ
ﻠﻟا
ٌ
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ِ
إ
ً
َ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
أ
َ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
َ
َ
أ
ِ
ِ
َ
ِ
َ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ }
َ
َ
ـﻳ
َ
أ
ﺮﻟا
ُ
ُ
ا
ُ
ُ
ْ
ِ
ِ
تﺎ
َ
ﻄﻟا ا
ُ
َ
ْ
ﻋا
َ
و
ً
ِ
ﳊﺎ
َ
ِ
إ
َ
ِ
َ
ن
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
ٌ
ﻢﻴ
ِ
َ
{
َ
لﺎ
َ
َ
و }
َ
َ
ـﻳ
َ
أ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا ا
ُ
َ
ﻣآ ا
ُ
ُ
ْ
ِ
ِ
تﺎ
َ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ْ
ـﻗ
َ
ز
َ
ر {
ُ
َ
َ
َ
ذ
َ
ُ
ﺮﻟا
ُ
ﻞﻴ
ِ
ُ
َ
َ
ﺴﻟا
َ
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
ُ
َ
ِ
ْ
َ
َ
َ
ِ
إ
ﺴﻟا
ِ
ءﺎ
َ
َ
ب
َ
ر
َ
ب
َ
ر
ُ
ُ
َ
ْ
َ
َ
و
ٌ
ما
َ
َ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
َ
و
ٌ
ما
َ
َ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
َ
و
ٌ
ما
َ
َ
َ
ي
ِ
ُ
َ
و
ِ
ما
َ
َ
ْ
ﳊﺎ
ِ
َ
َ
ُ
بﺎ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ِ
َ
ِ
((
211
Tafsri Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
138
dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak
akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah
telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang
diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul!
Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'
212
Dan
Allah juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki
yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami
rezekikan kepadamu.'"
213
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena
jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan
berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai
Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram,
minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi
makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan
memperkenankan do'anya?."
214
Dalam contoh ini, seorang laki-laki menggabungkan banyak sebab yang pada
umumnya akan menjamin doa-doanya akan dikabulkan. Pertama, ia adalah seorang musafir
yang tengah menempuh perjalanan yang jauh. Kedua, penampilannya yang kusut menandakan
bahwa ia dalam kesulitan. Ketiga, ia menengadahkan tangannya kepada Allah, yang mana
Allah malu jika hambanya menariknya kembali dengan tangan kosong. Keempat, ia
menggunakan nama-nama Allah yang paling agung dan paling sempurna, ar-Rabb, untuk
bertawassul (meminta syafaat). Dan yang kelima, ia mengulang-ulang doanya sehingga lebih
banyak kemungkinan doanya akan dikabulkan. Akan tetapi, meskipun dengan banyak sebab
ini dan tidak peduli betapa ia mengikuti adab-adab berdoa yang dibutuhkan, doanya tidak
dikabulkan dan Nabi
mencemooh usahanya ini. Maka, sangat penting bagi seseorang
yang ingin doa-doanya dikabulkan agar memastikan bahwa ia makan dari uang yang halal
yang didapatkan dari sumber-sumber yang halal, dan dia memakan makanan yang halal, yang
boleh untuk dimakan.
215
“Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali
menceritakan halmu kepada seorangpun.” Manakala para pemuda mengutus salah satu di
212
QS. Al Mu’minun 51: 23
213
QS. Al Baqarah 2: 172
214
Shahih Muslim, Kitab: Zakat, Bab: Menerima sadaqah dari usaha yang baik.
215
Sharh al-Arba‘een, p. 275. Quoted in Du‘a: The Weapon of the Believer, pp. 156-7
Islamic Online University Tafsir 202
139
antara mereka untuk mendapatkan makanan, mereka memerintahkannya untuk memasuki
kota dan membeli makanan dengan hati-hati. Mereka melakukan hal itu mencoba untuk
menghindari agar tidak ditemukan, karena khawatir jika mereka ditemukan mereka akan
dipaksa kembali kepada kekafiran atau mereka akan dibunuh karena keyakinan mereka yang
tidak tergoyahkan pada agama mereka. Mereka tidak tahu bahwa uang dan pakaian yang
mereka kenakan dari tiga abad sebelumnya pastilah akan menjauhkan mereka.
Kemudian mereka lanjut mengatakan bahwa jika mereka kembali ke negeri mereka
mereka pasti tidak akan berhasil karena mereka akan kehilangan agama, kehidupan dunia,
serta akhirat mereka.
Menurut ajaran Islam, jika nyawa seseorang terancam ia boleh melakukan persaksian
palsu atau mengucapkan kalimat kekafiran atau kemurtadan dalam rangka untuk
menyelamatkan nyawanya.
Sebagian ulama menyimpulkan dari ayat, “Sesungguhnya jika mereka dapat
mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau
memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak
akan beruntung selama lamanya," bahwa ajaran yang menyatakan mereka yang dipaksa
melakukan dosa itu dimaafkan hanya khusus untuk umat Nabi
. Pernyataan “Dan jika
demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya," menandakan bahwa
dipaksa itu tidak bisa dijadikan alasan. Pemahaman ini didukung oleh makna tersirat dari
sabda Nabi
,
ِ
ْ
َ
َ
ﻋ ا
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﺳا ﺎ
َ
َ
و
َ
نﺎ
َ
ْ
ﻨﻟا
َ
و
َ
َ
َ
ْ
ﳋا
ِ
ُ
أ
ْ
َ
َ
ز
َ
وﺎ
َ
َ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
"Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku sesuatu yang dilakukan karena
salah, lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya."
216
Dipahami dari kalimat, "Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku,” bahwa umat-
umat yang lain tidak dimaafkan darinya. Adapun bagi umat ini, Allah telah mengumumkan
secara terang-terangan bahwa mereka yang dipaksa adalah dimaafkan melalui firman-Nya,
216
Narrated by Aboo Tharr, collected in Sunan Ibn-i-Majah, vol. , p. , no . Kitaab: Talaaq; Baab: Talaaq al
Mukrah and authenticated in Saheeh Sunan Ibn Maajah, vol.1, p.347, no.1662.
Islamic Online University Tafsir 202
140






“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia
mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal
hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi
orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan
Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An Nahl 16:
106)
217
Faidah-faidah dari Ayat 19 dan 20
Asy Syaikh As Sa’di menyatakan bahwa dua ayat ini mengandung faidah-faidah berikut
ini:
218
1. Pentingnya ilmu dan anjuran untuk menuntut ilmu. Faidah ini didapatkan dari fakta
bahwa Allah membangunkan mereka karena alasan ini, (“agar mereka saling
bertanya di antara mereka sendiri”).
2. Adab-adab yang diharuskan bagi seseorang yang bingung atau tidak yakin tentang
suatu permasalahan ilmu adalah ia menyerahkannya pada orang yang lebih
mengetahui dan bahwa ia berhenti (diam) dalam keterbatasan ilmunya sendiri.
("Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)).
3. Bolehnya memakan makanan yang baik dan lezat, selama seseorang tidak mencapai
batasan yang tidak diperbolehkan (berlebih-lebihan). Hal ini berdasarkan pernyataan
Allah, “Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik, Maka
hendaklah ia membawa makanan itu untukmu.” Hal ini khususnya terjadi pada
217
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 58-9.
218
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 550.
Islamic Online University Tafsir 202
141
mereka yang terbiasa hanya dengan makanan semacam itu. Dan mungkin ini menjadi
dasar yang digunakan oleh banyak ulama tafsir yang mengatakan bahwa para pemuda
ini adalah anak-anak para raja. Hal ini dapat disimpulkan dari fakta bahwa mereka
meminta makanan yang paling baik, yang biasa dimakan oleh orang-orang kaya.
4. Dorongan untuk menerapkan kehati-hatian agar bersembunyi, dan menjauh dari
keadaan yang bisa menjadi sumber fitnah (cobaan) bagi agama seseorang. Dan bahwa
seseorang harus merahasikan perihal dirinya dan saudara-saudaranya seagama dalam
permasalahan ini.
5. Contoh tekat dan komitmen agama yang kuat yang dimiliki oleh para pemuda ini demi
agama mereka, dan mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjadi sumber
cobaan dalam agama mereka, serta hijrah mereka dari tanah dan negeri mereka demi
Allah semata.
6. Ayat-ayat ini menyebutkan bahaya dan kerusakan yang terkandung dalam
kemaksiyatan, yang harus mendorong seseorang agar membenci dan meninggalkannya
sepenuhnya. Dan bahwa inilah jalan yang ditempuh orang-orang mukmin di masa lalu
dan masa kini, sebagaimana yang dikatakan para pemuda, Dan jika demikian
niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya."
Islamic Online University Tafsir 202
142







21. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan
mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar,
dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.
Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang
itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan
mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang
berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya Kami akan
mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya."
"Dan demikian (pula) kami mempertemukan (manusia) dengan mereka,"
artinya, "sama seperti kami menyebabkan mereka tidur lalu membangunkan mereka secara
fisik seutuhnya, Kami pula menjadikan kisah mereka diketahui oleh orang-orang pada waktu
itu."
219
Para mufassirin menjelaskan bahwa ketika para pemuda pergi ke kota untuk membeli
makanan dan membayarnya dengan uang yang berusia 309 tahun, orang-orang di kota itu
awalnya mungkin curiga bahwa para pemuda itu telah menemukan harta terpendam. Namun,
cara mereka berpakaian dan dialek mereka pasti telah menimbulkan kecurigaan yang lebih
besar di antara orang-orang kota. Allah membawa mereka ke kota dengan cara ini untuk
membuktikan kebenaran tentang dibangkitkannya orang yang telah mati dan menunjukkan
kekuatan mukjizat-Nya.
219
Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 6
Islamic Online University Tafsir 202
143
“Agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar,” bahwa Dia akan
menyelamatkan orang-orang mukmin dari orang-orang kafir, karena ketujuh pemuda itu
melarikan diri dari sebuah umat yang besar yang berupaya mencegah mereka dari beribadah
hanya kepada Allah saja.
220
“Dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya,” ini merujuk
pada fakta bahwa banyak manusia dari periode ini meragukan akan dibangkitkannya jasad
mereka karena tanah telah memakannya. Mereka berpendapat bahwa hanya ruh-lah yang akan
dibangkitkan. Untuk membuktikan bahwa jasad juga dapat dibangkitkan, Allah
membangunkan para pemuda tersebut pada masa mereka.
221
“Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, Allah menjadikan
kisah mereka dikenal secara luas, dan pentingnya kisah tersebut tetap agung hingga mereka
yang menemukan mereka menjadi begitu takjub, sehingga “orang-orang itu berkata:
"Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui
tentang mereka." Pernyataan ini berarti bahwa mereka harus menutup pintu masuk gua dan
membiarkannya sebagaimana adanya.
222
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya
Kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." Alih-alih mendirikan
bangunan untuk menutupi dan menyembunyikan mereka sehingga tidak ditemukan jejak
mereka yang tertinggal, pihak penguasa memutuskan untuk membangun sebuah masjid di
atasnya untuk beribadah.
223
Mereka membangunnya di atasnya agar mereka dapat beribadah
di dalamnya untuk mengingat Allah sembari mengingat keadaan mereka dan apa yang terjadi
pada mereka.
224
Allah tidak menyebutkan dalam ayat tersebut pendapat siapa di antara mereka
yang menang, apakah orang-orang beriman ataukah orang-orang kafir. Akan tetapi,
kemungkinan besar itu adalah pendapatnya orang-orang mukmin karena membangun tempat
ibadah adalah di antara ciri-ciri orang-orang mukmin. Akan tetapi, bisa saja dibantah secara
logis bahwa membangun masjid di atas kuburan adalah perbuatan yang dimurkai dan
bukanlah perbuatan orang-orang mukmin.
225
Disebutkannya pendirian masjid di atas kuburan mereka di sini tidaklah menandakan
bolehnya hal itu dalam konteks kisah para pemuda penghuni gua dan keadaan mereka. Pada
220
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 40.
221
Ini adalah pendapat ‘Ikrimah (Tafsir Ibnu Katsir). Percaya bahwa yang akan dibangkitkan hanyakah ruh saja
menjadi kepercayaan umum orang-orang Kristen.
222
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
223
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 40.
224
Taisir Al Karimir Rahman, hlm. 637.
225
Adhwaul Bayan , Jilid 4, hlm. 59.
Islamic Online University Tafsir 202
144
kenyataannya, perbuatan mendirikan tempat ibadah di atas kuburan merupakan di antara
jalan-jalan yang mengantarkan pada kesyirikan, yang ditentang keras oleh syari’at sedemikian
kerasnya hingga larangan itu adalah hal terakhir yang dikatakan oleh Nabi () di atas
tempat tidur menjelang wafat beliau.
226
َ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
َ
ِ
ﺋﺎ
َ
ْ
َ
ِ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ْ
ِ
ِ
ﺋﺎ
َ
ِ
ْ
َ
أ
َ
ر
ُ
ُ
ـﻗ او
ُ
َ
ﲣا ى
َ
رﺎ
َ
ﻨﻟا
َ
و
َ
د
ُ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
تﺎ
َ
ي
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ﺿ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
ُ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
َ
ْ
َ
أ
َ
أ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ُ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻗ او
ُ
ز
َ
ْ
ـﺑ
َ
َ
َ
ِ
َ
ذ
َ
ْ
َ
َ
و
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
ا
ً
ِ
ا
ً
ِ
ْ
َ
Dari 'Aisyah radliyallahu 'anha dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau
bersabda ketika Beliau sakit yang membawa kepada kematiannya: "Allah
melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani disebabkan mereka menjadikan
kuburan para nabi mereka sebagai masjid". 'Aisyah radliyallahu 'anha
berkata: "Kalau bukan karena sabda Beliau tersebut tentu sudah mereka
pindahkan kubur beliau (dari dalam rumahnya), namun aku tetap khawatir
nantinya akan dijadikan masjid."
227
Fakta bahwa menyembah kuburan merupakan hal terakhir yang Nabi ()
peringatkan atas umatnya sebelum meninggalkan dunia selama-lamanya menandakan bahwa
perbuatan ini menjadi ujian berat bagi umatnya sendiri. Pada tahun-tahun pembentukan Islam,
Nabi () bahkan melarang umatnya dari berziarah kubur, dan hal ini terus berlangsung
sampai tauhid tertanam kuat di antara mereka sehingga larangan ini kemudian dihapus. Nabi
() diriwayatkan oleh Buraidah bahwasanya beliau bersabda,
ْ
َ
ِ
ْ
ﺑا
َ
ة
َ
ْ
َ
ُ
ـﺑ
ْ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
226
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 40.
227
Sahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol. 1, p. 255, no. 427, Sahih Muslim, (English Trans.), vol. 1, p. 269
no. 1082, dan Sunan Abu Dawud, (English Trans.), vol. 2, p. 917, no. 3221
Islamic Online University Tafsir 202
145
َ
لﺎ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ر
ِ
ﻠﻟا
َ
ُ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
و
َ
ـﻧ
ْ
ُ
ُ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ة
َ
رﺎ
َ
ِ
ز
ِ
ر
ُ
ُ
ْ
ﻟا
َ
و
ُ
رو
ُ
َ
ـﻓ
ن
ِ
َ
ِ
َ
ِ
َ
رﺎ
َ
ِ
ز
ً
ة
َ
ِ
ْ
َ
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang
berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan
(mengingatkan kematian)."
228
Akan tetapi meskipun ziarah kubur diperbolehkan, Nabi () memberikan batasan-
batasan tertentu dalam ziarah kubur ini dalam rangka menghindari kerusakan dijadikannya
kuburan sebagai tempat ibadah pada generasi setelahnya:
1. Sebagai cara untuk menetapkan penghalang terhadap disembahnya kuburan, shalat di
kuburan benar-benar dilarang terlepas dari apapun niatnya. Abu Sa’id al-Khudri
meriwayatkan dari Nabi () bahwa beliau bersabda,
))
َ
مﺎ
َ
ْ
ﳊا
َ
و
َ
ة
َ
َ
ـﺒ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
إ
ٌ
ر
ُ
َ
َ
و
ٌ
ِ
ْ
َ
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
ُ
((
"Semua tempat di bumi ini adalah masjid dan tempat bersuci, kecuali
kuburan dan kamar mandi."
229
Ibnu Umar juga meriwayatkan bahwa Nabi () bersabda,
))
َ
َ
و
ْ
ُ
ِ
ُ
ُ
ـﺑ
ِ
ﰲ ا
َ
ا
ً
ر
ُ
ُ
ـﻗ ﺎ
َ
و
ُ
ِ
َ
ـﺗ((
"Shalatlah di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikannya
sebagai kuburan."
230
Shalat Sunnah diperintahkan untuk dikerjakan di rumah sebagai contoh bagi
keluarga. Jika tidak ada shalat yang dikerjakan di dalam rumah, maka rumah itu
menyerupai kuburan di mana tidak diperbolehkan untuk melakukan shalat apapun di
sana. Meskipun sholat di atas kuburan itu sendiri tidaklah mengandung kesyirikan di
228
Sahih Muslim, (English Trans.), vol. 2, pp. 463-4 no. 2131 dan Sunan Abu Dawud, (English Trans.) vol. 2,
p. 919, no. 3229). Lafadz ini dalam Sunan Abu Dawud
229
Musnad Ahmad no. 11358.
230
Sahih Al-Bukhari, (Arabic-English), vol.2, p.156, no.280 dan Sahih Muslim, vol.1, p.376, no.1704.
Islamic Online University Tafsir 202
146
dalamnya, akan tetapi orang-orang yang jahil, di bawah bisikan dari syetan, dapat
berasumsi bahwa shalat dikuburan adalah untuk orang yang meninggal dan bukan
untuk diri mereka sendiri. Karena itulah, jalan yang membuka kepada penyembahan
berhala ini dengan tegas diblokir. Pada satu kesempatan, Khalifah kedua, ‘Umar ibn
al-Khattaab, memperhatikan sahabat Nabi yang lain, Anas ibn Maalik, shalat di dekat
kuburan dan berseru kepadanya,“ Kuburan! Kuburan!”
231
2. Batasan kedua yang diletakkan oleh Nabi adalah beliau melarang dari shalat
menghadap kuburan dengan sengaja karena perbuatan ini dapat dipahami oleh orang-
orang jahil yang datang belakangan bahwa shalat itu ditujukan bagi orang-orang mati
di kuburan tersebut. Abu Martsad al-Ghanawi meriwayatkan bahwa Nabi
bersabda,
))
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ﻋ ا
ُ
ِ
ْ
َ
َ
َ
و
ِ
ر
ُ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ِ
إ ا
َ
ُ
َ
((
"Janganlah kalian shalat dengan menghadap kuburan dan jangan pula
kalian duduk di atasnya."
232
3. Membaca Al Quran di kuburan hukumnya haram (tidak boleh), karena baik Nabi
maupun para sahabat beliau tidak diketahui pernah melakukan hal yang seperti itu.
Ketika istri Nabi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bertanya kepada beliau apa yang
harus dibaca ketika berziarah kubur, beliau memerintahkannya agar memberikan
salam dan doa bagi mereka yang dikuburkan di sana dan beliau tidak
231
Shahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol. 1, p. 251, no. 48). Hadits juga membenarkan bahwa larangan
Nabi untuk shalat di kuburan bukanlah karena daerah yang dianggap tidak suci untuk beribadah (Najis).
Kuburan para nabi adalah suci, karena, menurut Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam), Allah tidak mengizinkan
bumi memakan tubuh mereka. Oleh karena itu, Nabi melaknat orang-orang Yahudi dan Kristen karena
mengambil kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah adalah karena Syirik di dalamnya dan bukan
karena najisnya daerah tersebut. (Tayseer al-‘Azeez al-Hameed, hlm. 328)
232
Shahih Muslim (Trans Bahasa Inggris), vol. 2, hal. 460, no. 2122, Sunan Abu Dawud, (Trans Bahasa Inggris),
vol.2, p.917, no.3223, an-Nasa’i dan Sunan Ibnu-Majah. Ini termasuk bahkan doa (doa sunnah) ke arah
mereka, karena Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) mengatakan bahwa doa adalah ibadah (Dikumpulkan oleh
al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad), Sunan Abu Dawud, (Bahasa Inggris Trans .), vol. 1, hal. 387, tidak.
1474, dan Sunan Ibnu-Majah, Du'aa harus dipanjatkan dengan menghadap arah yang sama seperti shalat
(sholat wajib, menuju kiblat (Mekah). Catatan: Perlu dicatat juga bahwa dalam Islam, upacara pemakaman
tidak diadakan di kuburan, tetapi di tempat sholat yang disisihkan. untuk shalat jamaah yang besar atau di
masjid. Selanjutnya, karena jenazah ditempatkan di depan jamaah, langsung di depan Imaam (pemimpin doa),
dalam Salaatul-Janaazah tidak ada membungkuk (Ruku' ) atau sujud, agar tidak memberi kesan kepada siapa
pun bahwa shalat itu untuk orang mati dan tidak hanya untuk orang mati seperti yang ditunjukkan oleh lafadz-
lafadz yang dibaca saat shalat.
Islamic Online University Tafsir 202
147
memerintahkannya untuk membaca surat Al Fatihah atau surat yang lain dalam Al
Quran.
233
Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
)) ي
ِ
ﻟا
ِ
ْ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻳ
َ
نﺎ
َ
ْ
ﺸﻟا
ن
ِ
إ
َ
ِ
ﺑﺎ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ُ
ُ
ـﺑ ا
ُ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ة
َ
َ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟا
ُ
ة
َ
ر
ُ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ُ
أ
َ
ْ
ُ
ـﺗ((
"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan,
sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya
dibacakan surat Al Baqarah."
234
Hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan bahwa Al Quran
tidak untuk dibaca dikuburan. Membaca Al Quran dianjurkan agar dilakukan di rumah
masing-masing, dan menjadikannya seperti kuburan, di mana tidak dibacakan Al
Quran di dalamnya, adalah perkara yang dilarang.
235
4. Nabi melarang untuk mengapuri kuburan, mendirikan bangunan di atasnya,
236
menulis di atasnya,
237
atau meninggikan tanah di atasnya.
238
Beliau juga
memerintahkan agar bangunan-bangunan semacam itu harus dihancurkan dan agar
kuburan-kuburan diratakan dengan tanah. Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa
Nabi memerintahkan kepadanya untuk menghancurkan setiap berhala yang ia
233
As-Salaamu ‘alaa Ahlid-Diyaari minal-Mu’mineen wal-Muslimeen Yarhamullaahu al-Mustaqdimeena
minnaa walMusta’khireen wa Innaa in Shaa Allahu bikum Laahiqoon. Semoga keselamatan atas kaum
mukminin dan muslimin di antara penghuni tempat ini. Semoga Allah merahmati mereka yang telah
mendahului kami, dan mereka yang akan mengikuti kami. Dan kami pun pasti akan mengikuti kalian.” (Sahih
Muslim, (English Trans.), vol.2, pp.461-2, no.2127). 234 Sahih Muslim, (English Trans.), vol.1, p.377,
no.1707.
234
Shahih Muslim, (English Trans.), vol.1, p.377, no.1707.
235
Adapun untuk pembacaan surat Yasin, tidak ada hadits yang menyebutkan tentang kuburan dan hadits yang
menyebutkan untuk membacanya kepada orang yang menghadapi sakaratul maut adalah hadits dhaif. Lihat
ahkamul Janaiz, hlm. 11 dan hlm. 192, cttn kaki 2.
236
Dirwayatkan oleh Jabir Sahih Muslim, (English Trans.), vol.2, p.459, no.2116 dan Sunan Abu Dawud,
(English Trans.), vol.2, pp.216-7, nos.3219-20.
237
Reported by Jaabir in Sunan Abu Dawud (English Trans.), vol.2, p.216, no.3219.
238
Reported by Jaabir in Sahih Muslim (English Trans.), vol.2, pp.459-60, no.2116 and Sunan Abu Dawud
(English Trans.), vol.2, p.216 no.3219.
Islamic Online University Tafsir 202
148
jumpai, dan agar meratakan kuburan setinggi kira-kira satu telapak tangan lebih dari
ketinggian tanah di sekelilingnya.
239
Membangun masjid di atas kuburan secara khusus dilarang oleh Nabi .
Istri Nabi, ‘Aisyah, meriwayatkan bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah
menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka melihat gereja
di Habasyah yang di dalamnya terdapat gambar. Maka beliau pun bersabda
))
َ
َ
ا
ْ
َ
ـﻨ
َ
ـﺑ
َ
تﺎ
َ
َ
ُ
ِ
ﻟﺎ
ﺼﻟا
ُ
ُ
ﺮﻟا
ْ
ِ
ﻬﻴ
ِ
َ
نﺎ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
ِ
َ
و
ُ
أ
ن
ِ
إ
َ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﳋا
ُ
را
َ
ِ
َ
ِ
َ
و
ُ
َ
َ
ر
َ
ﺼﻟا
َ
ْ
ِ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ﻓ او
ُ
ر
َ
َ
و ا
ً
ِ
ْ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﻗ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ِ
ﻠﻟا((
"Sesungguhnya jika orang shalih dari mereka meninggal, maka
mereka mendirikan masjid di atas kuburannya dan membuat
patungnya di sana. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di
sisi Allah pada hari kiyamat."
240
5. Demi mencegah disembahnya kuburan, Nabi juga melarang perayaan tahunan
atau musiman (lazim disebut haul, pent.) bahkan jika itu dilakukan di makam beliau
sendiri. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa beliau bersabda,
239
Sahih Muslim, (English Trans.), vol.2, p.459, no.2115, Sunan Abu Dawud, (English Trans.), vol.2, pp.914-15,
no.3212. The text of the hadeeth is reported by Abul-Hayyaaj al-Asadee wherein he said that ‘Alee ibn Abee
Taalib said to him, Shall I send you as the messenger of Allah sent me? To deface every statue or picture in
houses and level all elevated graves.
Note: Hadits ini telah dilupakan di banyak negara Muslim di mana kuburan telah dipenuhi dengan berbagai
bangunan yang dibangun di atas kuburan untuk meniru negara-negara lain. Di beberapa negeri seperti Mesir,
kuburan menyerupai kota-kota dengan jalan-jalan yang jelas. Kuburan untuk mengubur orang mati menyerupai
rumah, sedemikian rupa sehingga di beberapa tempat keluarga miskin membobolnya dan mendirikan tempat
tinggal permanen di dalamnya di tempat-tempat seperti Kota Orang Mati di Kairo. Berdasarkan hadits ini dan
yang lainnya seperti itu, tidak hanya makam seperti itu yang harus dihancurkan, tetapi juga makam seperti Taj
Mahal di India, yang didirikan di atas kuburan pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, di Karachi, Pakistan,
makam tersebut dari Mahdi yang diklaim di Sudan, kuburan Sayyid al-Badawi di Mesir, dll. Langkah seperti
itu juga akan menghapus peran Sadanah (penjaga) kuburan yang hidup dari sumbangan dermawan pengunjung
yang percaya bahwa kemurahan hati kepada penjaga dapat mempermudah disampaikannya doa mereka kepada
para wali dan menjamin dikabulkannya.
240
Sahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol.1, p.255, no.427, Kitaab: Shalat; Baab: Hal tanbash quboor mushrikee
al jaahiliyyah, Sahih Muslim, (English Trans.), vol.1, p.269 no.1082 Kitaab: Masaajid wa mawaadi as salaah;
Baab: nahy ‘an binaa masaajid ‘alaa quboor .
Islamic Online University Tafsir 202
149
))
َ
َ
ﻋ ا
َ
َ
و ا
ً
ﺪﻴ
ِ
ﻋ ي
ِ
ْ
َ
ـﻗ ا
ُ
َ
ْ
َ
َ
َ
و ا
ً
ر
ُ
ُ
ـﻗ
ْ
ُ
َ
ُ
ُ
ـﺑ ا
ُ
َ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ِ
ُ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﺗ
ْ
ُ
َ
َ
َ
ن
ِ
َ
ْ
ُ
ْ
ُ
ُ
((
"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan
(tidak pernah dilaksanakan di dalamnya shalat dan juga tidak
pernah dibacakan ayat-ayat Al Quran, sehingga seperti kuburan),
dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai 'id (hari raya, yakni
tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu
dan saat), dan Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat
kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada."
241
6. Mengadakan perjalanan untuk berziarah ke berbagai makam juga dilarang oleh
Nabi . Praktik semacam ini membentuk dasar ziarah mengunjungi berhala-
berhala pada agama lain. Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri keduanya
meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
))
َ
َ
ْ
ﳊا
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
ِ
َ
َ
َ
َ
ِ
إ
ِ
إ
ُ
لﺎ
َ
ﺮﻟا
َ
ُ
َ
ِ
ما
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
ِ
ِ
ْ
َ
َ
و
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا((
241
Sunan Abu Dawud, (English Trans.), vol.2, p.542-3, no.2037. Jika pertemuan tahunan di sekitar makam Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam dilarang, maka pertemuan dan perayaan besar yang dilakukan pada saat yang
berbeda seperti ulang tahun, di kuil yang dibangun di atas kuburan yang mereka namakan wali, benar-benar
keluar dari ajaran Islam. Tidak hanya bangunan itu harus diratakan dengan tanah, sebagaimana diisyaratkan
dalam perintah Nabi yang diriwayatkan oleh Khalifah Ar Rasyidin ke empat, Ali, namun juga perayaan-
perayaan keagamaan (haul) di kuburan-kuburan harus dihentikan.
Islamic Online University Tafsir 202
150
"Janganlah melakukan perjalanan kecuali pada tiga masjid:
masjidil haram, masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan masjidil Aqso."
242
Abu Bashrah Al Ghifari menemui Abu Hurairah saat ia tiba dari Thur, bertanya
Abu Bashrah Al Ghifari: Dari mana kamu? Abu Hurairah menjawab: Dari Thur,
aku shalat di sana. Berkata Abu Bashrah Al Ghifari: Andai aku menemuimu
sebelum kau pergi meninggalkannya pasti kau tidak pergi, aku pernah mendengar
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Binatang tunggangan tidak
boleh diikat kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku dan Masjidil
Aqsa."
243
“Menjadikan Kuburan sebagai Tempat Ibadah”
Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
))
َ
ر
ُ
ُ
ْ
ﻟا
ُ
ِ
َ
ـﻳ
ْ
َ
َ
و
ٌ
ءﺎ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ُ
َ
و
ُ
َ
ﻋﺎ
ﺴﻟا
ُ
ُ
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
َ
ِ
سﺎﻨﻟا
ِ
را
َ
ِ
ْ
ِ
ن
ِ
إ
َ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
((
"Sesungguhnya orang yang paling buruk adalah orang yang kalian dapati
hidup ketika hari kiamat terjadi dan orang yang menjadikan kubur sebagai
masjid."
244
Jundub bin ‘Abdillah meriwayatkan bahwa lima hari menjelang wafatnya
Nabi
Ia mendengar beliau
bersabda,
))
ْ
ِ
ﻬﻴ
ِ
ِ
ﳊﺎ
َ
َ
و
ْ
ِ
ِ
ﺋﺎ
َ
ِ
ْ
َ
أ
َ
ر
ُ
ُ
ـﻗ
َ
نو
ُ
ِ
َ
ـﻳ ا
ُ
ﻧﺎ
َ
ْ
ُ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻗ
َ
نﺎ
َ
ْ
َ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
َ
أ
َ
َ
أ
َ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
َ
ِ
َ
ذ
ْ
َ
ْ
ُ
َ
ْ
ـﻧ
َ
أ
ِ
إ
َ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
َ
ر
ُ
ُ
ْ
ﻟا او
ُ
ِ
َ
ـﺗ
َ
َ
((
242
Sahih Al-Bukhari, (Arabic-English), vol.2, p.157, no.281 and Sahih Muslim, (English Trans.), vol.2, p.699,
no.3218
243
Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thayaalasi dan dinilai Shahih (authentic) oleh al-Albaani dalam Ahkaam al-
Jaanaa’iz, p. 22
244
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad.
Islamic Online University Tafsir 202
151
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu
menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai
masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai
masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu".
245
Setelah memahami dengan jelas hadits-hadits di atas yang menunjukkan bahwa Nabi
melarang untuk menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat ibadah. Perlu untuk untuk
mendefinisikan dengan tepat apa yang dimaksud dengan kalimat, “Menjadikan kuburan
sebagai tempat ibadah (masjid).” Ada tiga makna yang mungkin yang bisa disimpulkan dari
kalimat tersebut dalam bahasa ‘Arab”
1. Melakukan sujud di atas atau menghadap kuburan. Shalat di atas kuburan dengan
jelas dilarang sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di mana Nabi
bersabda,
“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula di atasnya.
246
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Martsad yang telah disebutkan
sebelumnya.
2. Membangun sebuah masjid di atas kuburan atau meletakkan kuburan di dalam
masjid. Membangun masjid di atas kuburan dilarang sebagaimana yang disebutkan
dalam hadits dari Ummu Salamah di Mana Nabi
menjelaskan bahwa mereka
yang mendirikan tempat-tempat ibadah di atas kuburan adalah seburuk-buruk makhluk
di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Meletakkan kuburan di dalam masjid juga
dilarang menurut penafsiran ‘Aisyah terhadap pernyataan akhir Nabi
, Semoga
Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai
masjid.”
247
Maka ketika muncul usulan untuk menguburkan Nabi di dalam masjidnya,
beliau menentang dengan keras berdasarkan kalimat terakhir dari Nabi
ini.
3. Shalat di masjid yang ada kuburannya. Shalat di masjid yang dibangun di atas
kuburan adalah haram, karena ini merupakan akibat yang otomatis mengikuti dengan
dilarangnya mendirikan masjid di atas Masjid. Larangan terhadap suatu jalan secara
otomatis juga larangan terhadap apa yang menjadi akhir/tujuan dari jalan tersebut.
Misalnya, Nabi
melarang alat-alat musik yang ditiup dan bersenar (ma’azif). Abu
Malik Al Asy’ari meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi
bersabda,
245
Sahih Muslim, (English Trans.), vol.1, p.269, no.1083.
246
Dikeluarkan oleh At-Tabarani
247
Sahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol.1, p.255, no.427 and vol.2, p.232, no.414, and Sahih Muslim (English
Trans., vol. 1, p. 269, no. 1082
Islamic Online University Tafsir 202
152
))فزﺎﻌﻤ
ْ
ﻟا
َ
و ﺮ
ْ
َ
ﳋا
َ
و ﺮ
ْ
ِ
َ
ْ
ﳊا
َ
و
ِ
ْ
ﳊا
َ
ن
ُ
ُ
ِ
َ
ْ
َ
ٌ
ما
َ
ْ
ـﻗ
َ
أ
ِ
ُ
أ
ْ
ِ
َ
ُ
َ
َ
((
“Akan terjadi kepada sekelompok kaum dari Ummat ku yang menghalalkan
perzinahan, Kain Sutra , Minuman Keras dan Alat nyanyian (Musik).”
248
Baik memainkan alat-alat musik ini atau mendengarkan musik keduanya otomatis
haram karena inilah tujuan diciptakannya alat-alat musik. Sama halnya, tidaklah
larangan untuk mendirikan masjid di atas kuburan atau perintah untuk mendirikannya
di tempat lain merupakan tujuan dari perbuatan membangun, karena membangun itu
sendiri adalah suatu hal yang mubah (diperbolehkan). Sesungguhnya yang menjadi
tujuan atau maksud adalah melakukan shalat di dalamnya, di mana shalat inilah yang
menjadi tujuan dibangunnya masjid-masjid. Oleh karena itu larangan membangun
masjid di atas kuburann otomatis mengisyaratkan atas larangan shalat di dalam masjid
semacam itu.
Masjid yang ada Kuburannya
Masjid semacam itu terdiri dari dua jenis terkait dengan asalnya:
a. Masjid yang dibangun di atas kuburan, dan
b. Masjid yang di dalamnya diletakkan kuburan, selang beberapa waktu setelah masjid
itu dibangun.
Tentu saja, tidak ada perbedaan di antara keduanya sejauh itu terkait dengan shalat
yang dilakukan di dalamnya. Dalam kedua kasus di atas, melakukan shalat sama-sama dibenci
jika tidak ada maksud untuk menghormati kuburan, dan menjadi haram hukumnya jika
dimaksudkan untuk kuburan. Akan tetapi ada beragam metode untuk memperbaiki masjid-
masjid seperti itu menurut asalnya:
1. Masjid yang dibangun di atas kuburan harus dirobohkan dan kuburannya diratakan
dengan tanah jika ada bangunan di atasnya. Karena masjid itu asalnya adalah
kuburan, dan harus dikembalikan kepada keadaan asalnya.
2. Masjid yang di didalamnya ada kuburan harus dibiarkan berdiri, akan tetapi
kuburannya harus dipindahkan. Dalam kasus ini, masjid itu pada asalnya adalah
masjid dan bukan kuburan; dengan demikian ia harus dikembalikan kepada keadaan
asalnya.
248
Shahih al-Bukhari, (Arabic-English), vol.7, p.345, no.484 [B]
Islamic Online University Tafsir 202
153
Makam Nabi
Keberadaan makam Nabi
di masjid beliau di Madinah bisa jadi digunakan untuk
membenarkan tindakan untuk menguburkan orang yang meninggal di masjid-masjid yang lain
dan bukannya mendirikan masjid di atas kuburan. Nabi
tidak pernah memerintahkan agar
beliau dikuburkan di masjidnya, tidak pula para sahabatnya meletakkan kuburan beliau di
masjid. Para sahabat Nabi
dengan bijaksana telah menghindari untuk memakamkan Nabi
di pemakaman setempat karena khawatir generasi setelahnya akan berlebih-lebihan
dalam mengagungkan makam beliua. ‘Umar, seorang budak yang dimerdekakan yang berasal
dari Bani Ghafrah, meriwayatkan bahwa ketika para sahabat Nabi
berkumpul untuk
memutuskan tentang pemakaman Nabi
, salah seorang berkata, “Mari kita makamkan
beliau di tempat beliau biasa shalat.” Abu Bakr menjawab, “Semoga Allah menjaga kita dari
menjadikannya sebagai salah satu berhala yang disembah.” Orang-orang lalu mengatakan,
“Mari kita makamkan beliau di Baqi’ (pemakaman di Madinah) di mana saudara-saudara
beliau dari kalangan Muhajirin (mereka yang hijrah dari Mekkah) dimakamkan.” Abu Bakr
kemudian menjawab, Sungguh, memakamkan Nabi
di pekuburan Baqi’ adalah perkara
yang tercela karena sebagian orang akan mencoba untuk memohon perlindungan kepadanya
dimana ini adalah hak yang menjadi milik Allah semata. Maka, jika kita menguburkan beliau
ke luar (di pemakaman), kita akan merusak apa yang menjadi hak Allah, bahkan jika kita
berhati-hati dalam menjaga makam Rasulullah
.” Lalu, apa pendapatmu wahai Abu
Bakr?” Abu Bakr menjawab, “Aku mendengar Rasulullah
bersabda, “Tidaklah Allah
mencabut nyawa salah seorang pun dari nabi-nabi-Nya kecuali dikuburkan di tempat mereka
meninggal.” Sebagian dari mereka kemudian berkata, “Demi Allah, apa yang engkau katakan
sungguh melegakan dan meyakinkan.” Lalu mereka membuat garis di sekitar tempat tidur
Nabi
(di rumah Aisyah) dan menggali kuburan di bekas tempat tidur beliau. ‘Ali, al
‘Abbas, al Fadl, dan keluarga Nabi
mengambil jenazah Nabi dan mempersiapkannya
untuk dimakamkan.
249
Rumah ‘Aisyah terpisahkan dari masjid dengan dinding dan rumah tersebut memiliki
pintu di mana Nabi
biasa melaluinya ketika masuk ke dalam masjid untuk mengimami
shalat. Para shahabat kemudian menyegel pintu ini untuk memisahkan antara makam Nabi
dengan masjid secara sempurna. Sebagai akibatnya, satu-satunya cara makam ini bisa
diziarahi adalah dari luar masjid.
249
Dihimpun oleh Ibnu Zanjuyah dan dinukil Al –Albani dalam Tahdzir as-Saajid, (Beirut: al-Maktab al-
Islaamee, 2nd. ed., 1972), pp.13-4.
Islamic Online University Tafsir 202
154
Perluasan masjid Nabawi terjadi pasa masa khalifah ke dua, ‘Umar dan Khalifah ke
tiga, Utsman. Akan tetapi keduanya dengan hati-hati menghindari agar tidak memasukkan
baik rumah ‘Aisyah ataupun rumah-rumah para istri Nabi
yang lain. Jika perluasan
dilakukan dengan mengarah pada rumah-rumah para istri Nabi
maka otomatis akan
memasukkan makam Nabi
ke dalam masjid. Akan tetapi, setelah para shahabat yang
tinggal di Madinah wafat semuanya
250
Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (memerintah
tahun 705-715 M) adalah yang pertama memperluas masjid ke arah timur. Ia memasukkan
rumah ‘Aisyah ke dalam masjid, akan tetapi ia merobohkan rumah-rumah para istri Nabi
yang lain. Perluasan ini diriwayatkan telah dilaksanakan oleh Gubernur Al-Walid yang
bernama Umar bin Abdul Aziz.
Ketika rumah ‘Aisyah dimasukkan ke dalam masjid, sebuah tembok melingkar tinggi
dibangun di sekitarnya sehingga tidak akan terlihat sama sekali dari dalam masjid. Dua
dinding tambahan kemudian dibangun pada sudut dari dua sudut utara rumah sedemikian rupa
sehingga mereka bertemu satu sama lain membentuk segitiga. Ini dilakukan untuk mencegah
siapa pun menghadap makam tersebut secara langsung.
251
Bertahun-tahun kemudian, kubah yang lebih lazim ditambahkan ke atap masjid dan
ditempatkan tepat di atas makam Nabi
.
252
Makam itu kemudian dikelilingi oleh kurungan
dari kuningan dengan pintu dan jendela, dan dinding makam itu sendiri terbungkus kain hijau.
Terlepas dari hambatan yang telah ditempatkan di sekitar makam Nabi
, banyak
kesalahan yang masih tersisa untuk diperbaiki. Sekali lagi dinding-dinding harus ditempatkan
untuk memisahkannya dari masjid sehingga tidak ada yang bisa shalat dengan menghadap ke
arahnya atau mengunjunginya di dalam masjid.
Shalat di Masjid Nabawi
Hukum larangan shalat di masjid yang ada kuburan di dalamnya ini berlaku untuk semua
masjid kecuali masjid Nabi . Hal ini dikarenakan ada begitu banyak keutamaan terkait
sholat di dalamnya, yang tidak ditemukan di masjid-masjid selainnya yang ada kuburannya.
253
250
Sahabat terakhir yang meninggal di Madinah adalah Jaabir ibn ‘Abdillaah. Ia meninggal di sana pada tahun
699 M, semasa pemerintahan Khalifah ‘Abdul-Malik (berkuasa tahun 685-705 M).
251
Diriwayatkan oleh al-Qurtubi dan dinukil dalam Taisir al-‘Aziz al-Hamid, p. 324
252
Sultan Kalawoon as-Salaahee membangun kubah pertama di atas kamar (kuburan) pada tahun 1282 CE dan
awalnya dicat hijau atas perintah Sultan Abdul-Hamid pada tahun 1837 (Chapters from the History of
Madinah, pp.78-9)
253
Tidak ada kebenaran dalam cerita bahwa Nabi Ismail dan ibunya atau nabi-nabi yang lain dikubur di bagian
terbuka dari Ka’bah yang umumnya disebut dengan “Hijr Ismaa‘il.”
Islamic Online University Tafsir 202
155
Nabi sendiri menekankan keistimeaan ini dengan bersabda, "Janganlah bersusah payah
melakukan perjalanan kecuali pada tiga masjid: masjidil haram, masjidil aqsha dan masjidku
ini."
254
Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa beliau bersabda,
))
ِ
إ
ُ
ﻩا
َ
ِ
ﺳ ﺎ
َ
ﻤﻴ
ِ
ٍ
ة
َ
َ
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ٌ
ْ
ـﻴ
َ
ﺧ ا
َ
َ
ﻫ ي
ِ
ِ
ْ
َ
ِ
ٌ
ة
َ
َ
َ
ما
َ
َ
ْ
ﳊا
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا((
"Shalat di masjidku ini nilainya seribu kali lebih baik dibandingkan pada
masjid lain kecuali pada Al Masjidil Haram".
255
Beliau bahkan memberikan keistimewaan khusus pada suatu bagian dalam
masjid beliau dalam sabdanya,
َ
ْ
ﳉا
ِ
ضﺎ
َ
ِ
ر
ْ
ِ
ٌ
َ
ﺿ
ْ
و
َ
ر ي
ِ
َ
ْ
ِ
َ
و
ِ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ْ
َ
ـﺑ ﺎ
َ
ِ
"Tempat yang ada diantara rumahku dan mimbarku adalah raudlah (taman)
diantara taman-taman surga".
256
Jika shalat di masjid Nabi itu dianggap makruh (dibenci), keutamaan masjid Nabi akan
hilang dan akan sama kedudukannya dengan masjid-masjid lainnya. Sebagaimana halnya
shalat itu dilarang pada waktu-waktu tertentu, namun diizinkan jika shalat itu memiliki tujuan
khusus (misalnya shalat jenazah), di luar shalat-shalat sunnah, maka shalat di masjid Nabi itu
disukai karena keistimewaan yang ada padanya.
257
Dan meskipun Allah melarang jika
kuburan diletakkan baik di Masjidil Haram atau Masjidil Aqsha, shalat di kedua masjid
tersebut masih disukai karena keutamaan keduanya dan sebagai tempat yang mulia di sisi
Allah.
258
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika Amirul Mukminin, Umar ibn Khattab,
menemukan kuburan Nabi Danial di Iraq, selama masa pemerintahannya, ia kemudian
254
Reported by Abu Hurayrah in Sahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol.2, p.157, no.281, Sahih Muslim
(English Trans.), vol. 2, p. 699, no. 3218 and Sunan Abu Dawud (English Trans.), vol.2, p.699, no.3218
255
Sahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol.2, p.157, no.282) and Sahih Muslim (English Trans.), vol.2, p.697,
no.3209
256
Narrated by ‘Abdullaah ibn Zayd al-Maazinee inSahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol.3, pp.61-2,
no.112 and Sahih Muslim (English Trans.), vol.2, p.696, no.3204
257
Tahdheer as-Saajid, pp.196-200
258
Fundamentals of Tawheed, pp. 192-202.
Islamic Online University Tafsir 202
156
memerintahkan agar berita tentang makam ini disembunyikan dari orang-orang dan agar sisa-
sisa peninggalan dalam prasasti yang menyebutkan tentang peperangan yang mereka temukan
di sana juga harus dikubur.
259
As-Sa'di menyebutkan bahwa kisah ini mengandung dalil bahwa siapa saja yang
melarikan diri demi agamanya dari kerusakan dan godaan akan diselamatkan oleh Allah, dan
siapa saja yang memohon perlindungan kepada-Nya maka ia akan diberikan perlindungan dan
ia kemudian dijadikan sumber hidayah bagi orang lain, dan bahwa siapa saja yang dengan
sabar menanggung celaan karena ia berpegang teguh pada jalan Allah dan demi Allah, maka
pada akhirnya, ia akan diangkat derajatnya dan dihormati dengan cara yang tak terduga.
259
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
157













22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah
tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain)
mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam
adalah anjing nya," sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan
(yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke
delapan adalah anjingnya." Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui
jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka
kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar
tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu
menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada
seorangpun di antara mereka.
Beberapa saat setelah ditemukannya orang-orang yang tertidur di dalam gua ini,
orang-orang menjadi tidak yakin dengan jumlah pasti mereka. Beberapa mengatakan jumlah
mereka adalah tiga, yang lain mengatakan lima dan yang lain tujuh. Atau mereka ragu,
kadang mengatakan tiga, kadang lima, dan kadang tujuh.
260
Allah menegaskan bahwa jumlah
260
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 41-2
Islamic Online University Tafsir 202
158
mereka adalah tujuh karena setelah mengatakan bahwa mereka berjumlah tiga dan lima, Allah
melanjutkan dengan mengatakan bahwa ini hanyalah tebakan, tetapi setelah menyebutkan
nomor tujuh, Allah tidak mengatakan bahwa itu salah yang menyiratkan bahwa ini adalah
jumlah yang sebenarnya.
261
Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang
mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Ini mengindikasikan bahwa yang terbaik
untuk dilakukan dalam masalah seperti ini adalah mengembalikannya kepada Allah, karena
tidak ada nilainya membahas masalah seperti ini tanpa ilmu. Jika kita diberi ilmu tentang
suatu perkara, maka boleh bagi kita untuk berbicara tentang perkara tersebut, jika tidak kita
harus menahan diri (dari berbicara tentangnya).
262
Ikrimah dan as-Sammak meriwayatkan dari
Ibnu ‘Abbas bahwa setelah membaca ayat ini ia berkata, “Dan aku adalah di antara sedikit
orang yang mengetahui jumlah yang sebenarnya dan mereka ada tujuh.”
263
Atau Tidak ada
orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit" berarti bahwa hanya sedikit
orang yang mengetahui jumlah mereka sebelum Allah menyatakan bahwa jumlah mereka
adalah tujuh orang yang ke delapan adalah anjingnya.
264
Di akhir ayat, Allah berfirman, Karena itu janganlah kamu (Muhammad)
bertengkar tentang hal mereka, kecuali dengan bukti yang nyata,” maksudnya adalah
kita hanya boleh membahas tentang ashabul kahfi dengan apa yang telah diwahyukan, yakni
dengan mengembalikan ilmu tentang berapa jumlah mereka yang sebenarnya kepada Allah.
265
Ini juga berarti bahwa kita harus menghindari dari membahas tentang mereka karena
merupaka perkara yang sisa-sia untuk memperbincangkan dan berdebat tentang suatu pokok
permasalahan yang tidak memiliki manfaat dan juga karena pengetahuan tentang hal itu hanya
pada Allah semata.
266
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa kalimat ini maknanya adalah membahas
tentang para penghuni gua haruslah dengan lembut dan hati-hati, karena tidak banyak yang
bisa diperoleh dari mengetahui tentang hal itu.
267
Syeikh Al-Utsaimin berpendapat bahwa itu
berarti perdebatan yang ada haruslah hanya bersifat dangkal, tidak mendalam dan mencapai
hati. Karena jika perdebatannya sampai mencapai hati seseorang yang berdebat, ia akan
menjadi semakin keras dalam mempertahankan pendapatnya, timbul kemarahan dan egonya
membuncah. Karena manfaatnya hanya sedikit sekali dari berdebat dengan orang-orang
seperti ini, Allah berfirman demikian seperti dalam ayat ini. Kita juga bisa menyimpulkan
261
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 637 dan Adwa’ul Bayan, jilid 4, hlm. 59
262
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
263
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
264
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 43
265
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vols. 9-10, p. 319
266
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 637-8
267
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
Islamic Online University Tafsir 202
159
dari bagian ayat ini tentang prinsip bahwa apa saja yang tidak ada manfaat dalam
memperdebatkannya, perkara itu harus diperlakukan dengan ringan dan tidak menggalinya
lebih dalam. Perdebatan yang mendalam pada masalah-masalah sepele banyak terjadi pada
generasi selanjutnya, terutama dalam bidang teologi skolastik (‘Ilmul-kalaam). Para ulama
Kalaam, yang mempelajari Tauhid dan ‘Aqidah, muncul dengan banyak konsep yang tidak
berguna. Misalnya, klaim mereka bahwa mungkin ada ‘rantai peristiwa yang tak terbatas ke
masa lalu dan masa depan,' dan hukum-hukum dan pernyataan Kalaam yang tidak berguna
dan tidak perlu lainnya yang menyerupai itu. Mereka juga menulis berjilid-jilid tulisan yang
menegaskan atau meniadakan perkara ini meskipun akhirnya tidak ada manfaat di
dalamnya.
268
“Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada
seorangpun di antara mereka,” maksudnya adalah keadaan ashabul kahfi tidak boleh
ditanyakan kepada ahli kitab, karena dasar dari pembahasan mereka hanyalah tebakan dan
perkiraan saja. Bagian ayat ini mengandung dalil larangan mencari fatwa dari seseorang yang
tidak memenuhi syarat untuk memberikan fatwa, baik karena kurangnya ilmu yang ada
padanya tentang permasalahan yang ia tanyakan, atau karena ia tidak peduli tentang apa yang
ia tanyakan dan tidak memiliki rasa malu untuk menahan dirinya dari berfatwa demi
keuntungannya sendiri. Jika Allah melarang untuk menanyakan kepada mereka, maka
larangan-Nya untuk mengambil jawaban mereka tentu lebih besar.
Ayat ini juga berisi dalil bahwa mungkin dilarang untuk meminta fatwa dari seseorang
tentang beberapa perkara dan bukan perkara yang lain. Orang ini boleh dimintai fatwa tentang
sesuatu yang ia memenuhi syarat untuk berfatwa tentangnya, karena Allah tidak melarang
untuk bertanya kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani secara umum, namun hanya tentang
kisah ashabul kahfi dan hal-hal yang semisalnya.
269
Sebagian orang mengklaim bahwa tidak diperbolehkan untuk menggunakan dalil dari
kitab-kitab suci Yahudi dan Nashrani dalam memberikan dakwah.
270
Mereka berdalil
menggunakan ayat yang serupa dengan ini serta peristiwa terkenal berikut ini yang terjadi
pada masa kehidupan Nabi ,
268
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 43
269
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 637-8
270
Lihat, misalnya Dakwah Berdasarkan Al Quran dan Sunnah, hlm. 108-109.
Islamic Online University Tafsir 202
160
َ
لﺎ
َ
ٍ
ِ
ﺑﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ﻨﻟا
َ
ِ
إ
ِ
بﺎ
َ
ْ
ﳋا
ُ
ْ
ُ
َ
ُ
َ
ءﺎ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
َ
َ
ْ
َ
ُ
ـﻗ
ِ
َ
ْ
ِ
ِ
ٍ
خ
َ
ِ
ُ
ت
ْ
ر
َ
َ
ِ
إ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ْ
َ
و
َ
ـﻴ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻓ
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
ُ
ﺿ
ِ
ْ
َ
أ
َ
َ
أ
ِ
ةا
َ
ر
ْ
ـﺘﻟا
ْ
ِ
َ
ِ
ﻣا
َ
َ
ِ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
َ
ى
َ
َ
ـﺗ
َ
َ
أ
ُ
َ
ُ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ر
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
َ
ﻨﻴ
ِ
ﺿ
َ
ر
ُ
َ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
ِ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ي
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
ً
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ٍ
َ
ُ
ِ
َ
و
ً
ﻨﻳ
ِ
د
ِ
م
َ
ْ
ِ
ْ
ﻹﺎ
ِ
َ
و
ْ
ُ
ﻜﻴ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ِ
َ
ِ
ﺑ ﻲ
ِ
ْ
َ
ـﻧ ي
ِ
ﻟا
َ
و
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
َ
أ
َ
و
ِ
َ
ُ
ْ
ﻷا
ْ
ِ
َ
ْ
ُ
ِ
إ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
َ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ـﺗ
َ
و
ُ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﺒ
ـﺗا
ُ
َ
ُ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
ِ
ْ
ُ
َ
Dari Abdullah bin Tsabit berkata: 'Umar bin Khathab datang kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, saya pernah
bertemu dengan saudaraku dari Bani Quraidzah, lalu dia mencatatkan
untukku ringkasan kitab Taurat, maukah saya tunjukkan kepada anda?
(Abdullah bin Tsabit Radliyallahu'anhu) berkata: kontan wajah Rasulullah
Shallallahu'alahiwasallam berubah. Saya bertanya kepada ('Umar
Radliyallahu'anhu) tidakkah kau melihat gerangan yang terjadi pada wajah
Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam? Umar bergegas berkata: " Kami ridla
Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam sebagai seorang Rasul". Serta merta hilanglah kesedihan
dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda: "Sungguh Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalaulah di antara kalian terdapat Musa,
lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, sungguh kalian sesat.
Islamic Online University Tafsir 202
161
Sungguh kalian adalah umat yang diperuntukkan bagiku, dan aku adalah
nabi yang diperuntukkan bagi kalian'.
271
Akan tetapi, ada pula beberapa peristiwa yang terjadi pasa masa Rasulullah di mana
beliau mengizinkan untuk membaca dari Taurat dengan kehadiran beliau untuk membangun
pendahuluan hukum. Misalnya, dalam kasus perzinahan berikut ini,
َ
ر
َ
َ
ُ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
ِ
ﻨﻟا
َ
ِ
إ او
ُ
ءﺎ
َ
َ
د
ُ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
ن
َ
أ
َ
ْ
َ
ْ
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
ـﻧ
َ
ز
ْ
َ
ٍ
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣا
َ
و
ْ
ُ
ْ
ـﻨ
ِ
ٍ
ُ
َ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ُ
ِ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
ُ
ُ
ـﺑ
ِ
ْ
َ
َ
و
َ
ُ
ُ
َ
ُ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ْ
ُ
ْ
ِ
َ
َ
ز
ْ
َ
ِ
َ
ن
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
ِ
َ
نو
ٍ
م
َ
َ
ُ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ْ
َ
ْ
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ً
ْ
َ
َ
ﻬﻴ
ِ
ُ
ِ
َ
َ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
ْ
ﺮﻟا
ِ
ةا
َ
ر
ْ
ـﺘﻟا
ي
ِ
ﻟا
َ
ُ
ﺳا
َ
ر
ْ
ِ
َ
َ
ﺿ
َ
َ
ـﻓ
َ
ِ
ِ
دﺎ
َ
ْ
ُ
ْ
ُ
ْ
ن
ِ
إ
َ
ُ
ْ
ـﺗﺎ
َ
ِ
ةا
َ
ر
ْ
ـﺘﻟﺎ
ِ
ا
ُ
ْ
َ
ْ
ُ
ْ
ـﺑ
َ
َ
ﻟا
ِ
َ
ﻳآ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ُ
ْ
ـﻨ
ِ
َ
ُ
ر
َ
ُ
َ
َ
ءا
َ
ر
َ
و
َ
َ
و
ِ
ِ
َ
َ
نو
ُ
د ﺎ
َ
ُ
أ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
ِ
َ
َ
ِ
ْ
ا
ْ
و
َ
أ
َ
ر
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
ﺮﻟا
ِ
َ
ﻳآ
ْ
َ
ُ
َ
َ
َ
ع
َ
َ
ـﻨ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
ﺮﻟا
َ
َ
ﻳآ
ُ
أ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
و
ُ
ِ
ﺿ
ْ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ِ
ً
ﺒﻳ
ِ
َ
َ
ِ
ُ
َ
ـﻓ
َ
ِ
ِ
َ
َ
َ
َ
ِ
ْ
ﺮﻟا
ُ
َ
ﻳآ
َ
ِ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
ِ
َ
ذ
َ
ة
َ
رﺎ
َ
ِ
ْ
ﳊا ﺎ
َ
ﻬﻴ
ِ
َ
ﻳ ﺎ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ﳛ ﺎ
َ
َ
ـﺒ
ِ
ﺣﺎ
َ
ُ
ْ
َ
أ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ْ
ِ
ِ
ِ
ﺋﺎ
َ
َ
ْ
ﳉا
Dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma bahwa,
Orang-orang Yahudi menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan
membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berzina. Lalu
Nabi bertanya kepada mereka: "Apa yang kalian lakukan kepada orang yang
271
Musnad Ahmad, Kitab: Musnad Al-Makkiyyi, Bab: Hadits Abdullah bin Tsabit, no. 15303
Islamic Online University Tafsir 202
162
berzina?" Mereka menjawab: "Kami mencoret-coret wajah keduanya dengan
warna hitam dan memukulnya." Nabi bertanya: "Apakah kalian tidak
menemukan hukuman rajam di dalam Taurat?" Mereka menjawab: "Kami
tidak mendapatkannya sedikit pun." Maka Abdullah bin Salam berkata
kepada mereka: "Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat kalian dan
bacalah jika kalian orang-orang yang jujur." Maka mereka pun meletakkan
kitab yang mereka pelajari dan di antara mereka ada yang menutupinya
dengan tangan pada ayat rajam, dengan cepat dia membaca apa yang ada
disamping kanan kirinya tanpa membaca ayat rajam. Abdullah bin Salam pun
segera menyingkirkan tangannya, seraya berkata: "Apa ini?" Tatkala mereka
melihat hal itu, mereka menjawab: "Ini adalah ayat rajam." Maka Rasulullah
memerintahkan untuk merajam keduanya di dekat kuburan samping masjid.
Kata Abdullah: 'Aku melihat lelakinya melindungi dan menutupi wanitanya
dari lemparan batu dengan cara membungkukkan badannya.'
272
Lebih lanjut lagi, terdapat ayat-ayat dalam Al Quran yang menyebutkan dalil yang
menegaskan bahwa kenabian Muhammad ditemukan pula dalam kitab suci umat Yahudi dan
Nashrani,







“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat
273
dan Injil
274
yang
ada di sisi mereka. (QS. Al A’raf 7: 157)
272
Shahih Bukhari, Kitab: Tafsir, Bab: Fa’tuu bit taurah fatluha
273
Ulangan, 18: 15
274
Yohanes, 14: 16
Islamic Online University Tafsir 202
163







“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil,
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab
sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan
(datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya
Ahmad (Muhammad)." (QS. Shaff 61: 6)
Begitu juga, Nabi Muhammad sendiri memperjelas pernyataan yang
memperbolehkan periwayatan kabar dari sumber-sumber Yahudi dan Nasrani. Hadits berikut
ini adalah salah satunya,
و
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ن
َ
أ
َ
ا
ُ
َ
ـﺑ
َ
لﺎ
َ
َ
ا
ً
َ
َ
ـﺘ
ُ
َ
َ
َ
ب
َ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
ج
َ
َ
َ
َ
و
َ
ﻞﻴ
ِ
ﺋا
َ
ْ
ِ
إ
ِ
َ
ْ
َ
ا
ُ
َ
َ
و
ً
َ
ﻳآ
ْ
َ
َ
و
ِ
رﺎﻨﻟا
ْ
ِ
ُ
َ
َ
ْ
َ
ْ
أ
َ
ـﺒ
َ
َ
ْ
َ
ـﻓ
Dari 'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian
dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak mengapa (dosa). Dan siapa yang
berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat
duduknya di neraka."
275
275
Shahih Bukhari, Kitab: Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para nabi, Bab: Bani Israil
Islamic Online University Tafsir 202
164
Terkait dengan kontradiksi yang nampak antara nash-nash yang melarang dan
memperbolehkan hal ini, Ibnu Hajar mengatakan sebagai berikut:
Pernyataan Nabi , Dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari
Bani Isra’il dan itu tidak mengapa (tidak ada dosa),” berarti bahwa tidak ada
batasan dalam berbicara tentang mereka karena Nabi sebelumnya telah
mencegah dari mengambil apapun dari mereka atau melihat kitab-kitab
mereka. Kemudian diberikan izin terkait hal itu. Hal itu seolah-olah larangan
diberikan sebelum hukum-hukum Islam prinsip-prinsip agama terbangun
kokoh, karena khawatir akan munculnya kebingungan. Kemudian, ketika
kekhawatiran itu hilang, izin diberikan dikarenakan berbagai pelajaran yang
dapat diperoleh dari mendengarkan kisah-kisah mereka di masa itu. Imam
Asy Syafi’i berkata, “Diketahui bahwa Nabi tidak memperbolehkan kita
berbicara dusta. Maka yang dimaksud dengan “Dan ceritakanlah (apa yang
kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak mengapa (tidak ada dosa),”
adalah engkau boleh bercerita tentang mereka terkait apa yang engkau
ketahui bukanlah dusta. Tentang kisah-kisah mereka yang engkau pikir itu
benar, juga tidak berdosa untuk menceritakan tentang kisah-kisah itu. Oleh
karena itu, serupa dengan pernyataan Nabi , “Apabila ada ahli kitab
yang berkata kepadamu, maka janganlah kamu benarkan dan jangan pula
kamu dustakan.” Jadi tidak ada izin yang diberikan tidak pula larangan untuk
menceritakan tentang suatu hal yang tanpa keraguan (adalah) kebenaran.”
276
Penulis kitab syarah Sunan Tirmidzi yang paling terkenal mengatakan,
“Sayyid Jamaaluddin mengatakan bahwa cara untuk memadukan antara
larangan untuk menyibukkan diri dengan apa yang datang dari mereka
dengan izin yang diberikan yang dipahami dari hadits ini adalah bahwa
makna yang dimaksudkan dari “menceritakan” di sini adalah
berbicara/menceritakan tentang kisah-kisah terkait dengan tanda-tanda yang
luar biasa, seperti riwayat dari ‘Auj ibn ‘Unuq, bahwa orang-orang bani Israil
membunuh diri mereka sendiri dalam rangka bertaubat karena telah
menyembah anak sapi. Sebagian rincian dari kisah ini ada dalam Al Quran.
Berbicara tentang kisah mereka dari sumber-sumber Yahudi diperbolehkan
karena terdapat pelajaran dan nasehat yang berharga dalam kisah tersebut
bagi orang-orang mukmin. Pertentangan yang ada juga dapat diselesaikan
276
Fathul Bari
Islamic Online University Tafsir 202
165
dengan memahami bahwa tujuan dari larangan di sini adalah larangan untuk
mengambil hukum dari kitab suci mereka, karena semua sistem hukum dan
ajaran agama mereka telah dihapus dengan sistem hukum Nabi kita
.”
277
277
Tuhfaul Ahwatsi
Islamic Online University Tafsir 202
166







23-4. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:
"Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali
(dengan menyebut): "Insya Allah." Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika
kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan
memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari
pada ini."
Dalam ayat ini, Allah Yang Maha Agung, mengajarkan kepada Rasul-nya
adab
yang benar yang harus diikuti ketika mengungkapkan tekat untuk melakukan sesuatu di masa
depan. Dia menjelaskan bahwa ungkapan semacam itu harus selalu dikembalikan kepada
kehendak Allah, Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang Maha Mengetahui apa
yang telah lalu, yang belum terjadi dan yang tidak akan terjadi, dan bagaimana itu akan terjadi
jika memang terjadi. Terkait hal ini, diriwayatkan bahwa Abu Hurairah menceritakan bahwa
Rasulullah
bersabda,
ُ
َ
َ
َ
د
ُ
وا
َ
د
ُ
ْ
ُ
نﺎ
َ
ْ
َ
ُ
َ
لﺎ
َ
ٍ
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣا
ُ
ُ
ِ
ْ
َ
ً
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣا
َ
ِ
ْ
َ
ﺳ ﻰ
َ
َ
َ
َ
ْ
ـﻴ
ﻠﻟا
َ
ْ
َ
َ
و
ْ
ُ
َ
ـﻳ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ُ
ﻠﻟا
َ
ءﺎ
َ
ْ
ن
ِ
إ
ُ
ُ
ِ
ﺣﺎ
َ
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ﻞﻴ
ِ
َ
ِ
ُ
ِ
ﻫﺎ
َ
ُ
ً
ِ
رﺎ
َ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
ِ
ُ
َ
َ
أ
ً
ِ
ﻗﺎ
َ
ا
ً
ِ
ﺣا
َ
و
ِ
إ
ً
ْ
َ
ْ
ِ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ِ
ﻠﻟا
ِ
ﻞﻴ
ِ
َ
ِ
ﰲ او
ُ
َ
ﻫﺎ
َ
َ
ﳉ ﺎ
َ
َ
ﳍﺎ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
Islamic Online University Tafsir 202
167
"Nabi Sulaiman bin Daud berkata: "Suatu malam aku akan menggilir (jima')
tujuh puluh orang istriku
278
yang setiap istriku itu akan mengandung (dan
melahirkan) seorang penunggang kuda yang akan berjihad di jalan Allah."
Kemudian temannya berkata kepadanya:
279
"Ucapkanlah Insya Allah (Jika
Allah menghendaki)." Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkan insya Allah
sehingga tidak ada satu pun istrinya yang mengandung kecuali satu orang
yang kemudian melahirkan anak yang dadanya hilang sebelah (berbadan
sebelah). Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seandainya dia
mengucapkan insya Allah pasti anak-anaknya itu akan berjihad di jalan
Allah."
280
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku
akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah" Dengan
menambahkan “Insya Allah,” pada apa yang dikatakan, seseorang akan mendapatkan dua
manfaat: Yang pertama adalah Allah akan menjadikan urusannya mudah selama ia
mengembalikannya kepada Allah, Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Yang kedua adalah
jika ia gagal melakukannya, ia tidak melanggar sumpah apapun.
Jika seorang berkata, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini,” sebagai cara
untuk memberitahu dan bukan sebagai kepastian tentang terjadinya, penambahan Insya
Allah” (jika Allah menghendaki) tidak diperlukan. Misalnya, teman Anda bertanya kepada
Anda, “Akankah kamu melewati tempatku besok?” dan Anda menjawab, “Ya,” tanpa
mengatakan “Insya Allah,” maka ini tidak mengapa, karena ini hanyalah informasi tentang
niat Anda, dan apa yang ada di dalam hati Anda telah diizinkan Allah; hal itu telah ada di sana
sehingga tidak perlu untuk menyatakan hal itu tergantung pada kehendak Allah. Akan tetapi,
jika Anda meniatkannya itu akan terjadi, itu adalah sesuatu yang belum terjadi, maka Anda
harus mengatakan; “Insya Allah,” karena Anda tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak.
“Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa,” maksudnya adalah agar kalian
mengingat perintah Tuhanmu dengan mengucapkan, “Insya Allah,” jika kalian lupa
mengucapkannya, karena manusia memang bisa lupa dan jika mereka lupa, Allah ‘azza
wajalla mengajarkan kepada orang-orang beriman untuk membaca doa,
278
Menurut satu riwayat, sembilan puluh atau seratus istri.
279
Menurut satu riwayat, malaikatlah yang mengatakan hal ini.
280
Shahih Bukhari, Kitab: Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para nabi, Bab: Firman Allah: “Dan Kami
karuniakan kepada Dawud dan Sulaiman kenikmatan..”, Shahih Muslim, Kitab: Iman, Bab: Istitsna. (Tafsir
Ibnu Katsir, Jilid 6)
Islamic Online University Tafsir 202
168


(Mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami
jika Kami lupa atau Kami tersalah.” (QS. Al Baqarah 2: 286)
Anas juga meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
َ
ُ
ْ
ن
َ
أ ﺎ
َ
ُ
ـﺗ
َ
رﺎ
َ
َ
ﻓ ﺎ
َ
ْ
ـﻨ
َ
َ
مﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ً
ة
َ
َ
َ
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
ذ ا
َ
ذ
ِ
إ ﺎ
َ
َ
ـﻴ
"Barangsiapa lupa shalat atau ketiduran karenanya, maka kaffaratnya
adalah menunaikannya disaat ingat."
281
Ada dua persoalan terkait penyebutan ‘Insya Allah’ yang perlu diklarifikasi.
1. Yang pertama adalah, apakah telat ketika mengucapkan ‘Insya Allah’
akan memberikan manfaat kepada orang yang mengucapkannya, jika
sumpahnya dilanggar? Sebagian ulama berpendapat bahwa mengucapkan
‘Insya Allah’ setelah sebelumnya lupa untuk mengucapkannya akan
bermanfaat bagi seseorang, kapan saja ia ingat, baik setelah dua hari atau dua
tahun, karena Allah dalam firman-Nya menyebutkan secara umum, “Dan
ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa.” Mayoritas ulama berpendapat
bahwa itu hanya akan bermanfaat jika ia mengingatnya segera setelahnya
untuk menetapkan pengecualian Insya Allah’, jika Allah menghendaki dari
apa yang dikecualikan. Misalnya, jika seseorang mengucapkan, “Demi Allah
sesungguhnya aku akan mengerjakan ini,” lalu ia lupa untuk mengucapkan,
‘Insya Allah,’ kemudia ia ingat setelah berlalu sepuluh hari dan ia
mengucapkan, ‘Insya Allah,’ dan ia tidak mengerjakannya. Menurut pendapat
pertama bahwa siapa saja yang mengucapkan, ‘Insya Allah,’ tidaklah
melanggar sumpahnya, sebagian ulama berpendapat bahwa itu bermanfaat
karena Allah ‘azza wajalla berfirman, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu,”
sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa itu tidak ada manfaatnya
karena masing-masing bagian dari pernyataan tidaklah dibangun di atas yang
lainnya. Mereka mengatakan bahwa manfaat dari perintah Allah untuk
281
Sahih Al-Bukhari (Arabic-English), vol.2, p.157, no.282) Kitaab: Mawaaqeet salaat; Baab: man nasiya
salaat and Sahih Muslim (English Trans.), vol.2, p.697, no.3209. Kitaab: Masaajid wa mawaadi‘ salaat;
Baab: Qadaa Salaat faa’itah
Islamic Online University Tafsir 202
169
menyebut-Nya jika kita lupa adalah untuk menghilangkan dosa, karena Allah
memerintahkan, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang
sesuatu…” Maka, jika seseorang lupa, ia harus mengucapkannya ketika ia
lupa.
2. Yang kedua adalah, apakah apakah orang itu akan dikecualikan dari
pengampunan dosa jika ia telat menyebutkan ‘Insya Allah’? Yakni, apakah
bermanfaat bagi orang itu dan sumpahnya tetap utuh atau apakah itu
menggugurkan dosa namun tidak dengan hukum terkait pelanggaran sumpah?
Yang nampak adalah pendapat kedua, bahwa itu menggugurkan dosa namun
ia melanggar sumpahnya jika ia tidak memenuhinya, karena pengecualian
hanya akan sah jika itu berhubungan. Mereka yang memegang pendapat ini
juga berbeda pendapat terkait dengan apa-apa yang membangun ‘hubungan’
ini. Sebagian berkata bahwa ‘hubungan’ di sini maksudnya adalah semua
bagian dari ucapan harus berkesinambungan, sementara yang lain
mengatakan bahwa itu terhubung selama diucapkan sekali duduk diwaktu
yang sama dan jika ia telah bangkit dari tempat duduknya maka sudah
terputus karena Nabi diriwayatkan oleh Hakim ibn Hizam telah
bersabda,
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﺑ
ِ
َ
ُ
َ
َ
ك
ِ
ر
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﺑ
َ
و
َ
َ
َ
ْ
ن
ِ
َ
َ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻳ
ْ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
ِ
ْ
ﳋﺎ
ِ
ِ
نﺎ
َ
ـﻴ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
َ
َ
َ
ـﺑ
ْ
َ
ِ
ُ
ﳏ ﺎ
َ
َ
َ
َ
و ﺎ
َ
َ
َ
"Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk
melangsungkan atau membatalkan jual beli) selama keduanya belum
berpisah." Atau sabda Beliau: "hingga keduanya berpisah. Jika keduanya
jujur dan menampakkan cacat dagangannya maka keduanya diberkahi dalam
jual belinya dan bila menyembunyikan cacatnya dan berdusta maka akan
dimusnahkan keberkahan jual belinya."
282
Beliau menjadikan perpisahan [antara penjual dan pembeli] sebagai pembeda.
Sebagian yang lain berpendapat bawa prinsip yang mengaturnya adalah
282
Sahih Al Bukhari, vol. , p. , no. , Kitaab: Buyoo; Baab: Kam yajooz al khiyaar; Sahih Muslim, vol. , p. , no. .
Kitaab: Buyoo; Baab: Sidq fil bay
Islamic Online University Tafsir 202
170
hubungan antara bagian-bagian ucapan dengan satu sama lain. Apa yang
nampak di sini, dan Allahu a’lam, adalah bahwa selama bagian-bagian
ucapan itu diucapkan dalam sekali duduk dan tidak ada yang diucapkan untuk
memutus percakapan, pengecualian ini bermanfaat baginya dan sumpahnya
tidaklah dilanggar.
283
Mujaahid meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas biasa berkata tentang seorang yang
bersumpah, “Dia boleh mengatakan, ‘Insya Allah,’ bahkan jika itu setahun setelahnya.” Ibnu
‘Abbas menafsirkan ayat, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa” seperti ini.
284
Akan tetapi, makna dari pendapat Ibnu ‘Abbas ini, bahwa seorang boleh mengatakan, ‘Insya
Allah,’ bahkan jika itu setahun setelahnya adalah jika ia lupa untuk mengatakannya ketika ia
mengucapkan sumpahnya atau ketika ia berbicara, dan ia ingat kemudian, bahkan jika itu
setahun kemudian, Sunnahnya adalah ia harus mengucapkannya, sehingga ia masih mengikuti
Sunnah dengan mengucapkan, ‘Insya Allah,’ bahkan jika itu setelah ia melanggar sumpahnya.
Ini juga merupakan pendapat Ibnu Jarir, tetapi ia menyatakan bahwa ini tidak bisa digunakan
untuk melanggar sumpah atau untuk memaksudkan bahwa seorang tidak lagi berkewajiban
untuk membayar kafarah. Apa yang dikatakan Ibnu Jarir ini benar, dan lebih tepat untuk
memahami perkataan Ibnu ‘Abbas seperti ini. Allahu a’lam.
285
“Dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk
kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini," yakni jika kamu (wahai Nabi)
ditanya tentang sesuatu yang kamu tidak mengetahui tentangnya, tanyakanlah kepada Allah
tentang hal itu, dan kembalilah kepada-Nya sehingga Dia akan memberimu petunjuk
kepadamu apa yang benar. Dan Allah Maha Mengetahui.
286
Syeikh Al Utsaimin menjelaskan bahwa penggalan kalimat, asaa, “mudah-
mudahan” menandakan harapan, jika dinyatakan oleh makhluk. Akan tetapi ketika
dinyatakan oleh Sang Pencipta, itu menandakan kepastian akan terjadinya. Allah subhanahu
wata’ala, berfirman,
283
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 47-8.
284
Mustadrak al-Haakim, authenticated see at-Tafseer as-Sahee
285
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6.
286
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
171









“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun
anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui
jalan (untuk hijrah), Mereka itu, Mudah-mudahan Allah
memaafkannya. dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
(QS. An Nisa 4: 98-9)
287
Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa penggalan kalimat, Dan ingatlah kepada
Tuhanmu jika kamu lupa” tidaklah terkait dengan bagian ayat yang sebelumnya. Akan
tetapi, yang dimaukan adalah jika kamu lupa tentang sesuatu, kamu harus menyebut nama
Allah karena lupa itu datangnya dari Syaitan, sebagaimana Allah ‘azza wajalla
menyebutkannya melalui lisan pelayan/murid Nabi Musa alaihissalam,




Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat
berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan
tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke
laut dengan cara yang aneh sekali". (QS. Al Kahfi 18: 63)
287
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 48.
Islamic Online University Tafsir 202
172
Allah ‘azza wajalla juga berfirman,

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa
mengingat Allah; (QS. Al Mujadilah 58: 63)
Di tempat lain Allah ta’ala berfirman,




“Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka
janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah
teringat (akan larangan itu).” (QS. Al An’am 6: 68)
Mengingat Allah (dzikrullah) juga akan menyebabkan syaitan lari menjauh, sebagaimana
yang ditunjukkan dalam firman Allah,





“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha
Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan)
Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”
(QS. Az-Zukhruf 43: 36)
288
288
Adhwaul Bayan, Jilid 4, hlm. 62.
Islamic Online University Tafsir 202
173








25-6. Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan
ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: "Allah lebih mengetahui
berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua
yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-
Nya dan Alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang
pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak
mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan
keputusan".
Di sini Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya
tentang berapa lama
sebenarnya yang dihabiskan para pemuda itu di gua mereka, dari manakala Dia menyebabkan
mereka tertidur hingga saat Dia membangkitkan mereka dan menjadikan orang-orang pada
zaman itu menemukan mereka. Lamanya waktu yang mereka habiskan adalah tiga ratus di
tambah sembilan tahun menurut penanggalan bulan, yaitu tiga ratus tahun menurut
penanggalan matahari. Perbedaan antara seratus tahun penanggalan bulan dan seratus tahun
penanggalan matahari adalah tiga tahun, itulah sebabnya setelah menyebutkan tiga ratus,
Allah berfirman, “di tambah sembilan tahun (lagi).”
289
Menurut syaikh Al Utsaimin, alasan mengapa Allah tidak secara langsung mengatakan
tiga ratus sembilan tahun [Allah berfirman dengan menyatakan tiga ratus tahun dan ditambah
289
Tafsir Ibn Kathir, vol. 6, p. . See also al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vols. 9-10, pp. 321-2 where al-
Qurtubee attributes this opinion to an-Naqqaash and al-Ghaznawee. See also Fat’h al-Qadeer, vol. 3, p.
387 where ashShawqaanee attributes this opinion to az-Zujjaaj.
Islamic Online University Tafsir 202
174
sembilan tahun (lagi)] adalah bahwa keduanya sebenarnya sama, tetapi Al Quran yang penuh
mukjizat adalah kitab yang paling fasih, jadi disebutkan dengan cara demikian demi
keseragaman akhir ayat-ayat. syaikh Al Utsaimin berkata, "Tiga ratus tahun dan ditambah
sembilan tahun (lagi)," tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa tahun-tahun
itu adalah tiga ratus tahun sesuai dengan kalender matahari dan mereka menambahkan
sembilan tahun untuk kalender bulan. Tidak mungkin bagi saya untuk bersaksi bahwa Allah
memaksudkan seperti ini. Meskipun tiga ratus tahun matahari setara dengan tiga ratus
sembilan tahun bulan, saya tidak dapat bersaksi bahwa Allah memaukan seperti itu karena
hanya ada satu perhitungan di sini Allah, yakni menurut fase-fase bulan. Oleh karena itu, saya
berpendapat bahwa klaim tiga ratus adalah tahun matahari dan tiga ratus sembilan adalah
menurut kalender bulan adalah klaim yang lemah. Allah ‘azza wajalla berfirman,




“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan
sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”
(QS. Al Baqarah 2: 189)
290
Terkait ayat kedua, Katakanlah "Allah lebih mengetahui berapa lamanya
mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di
bumi,” beberapa ahli tafsir seperti Qatadah dan Mutarrif ibn ‘Abdillah menekankan bahwa
periode 309 tahun adalah menurut apa yang dikatakan oleh orang-orang pada masa itu dan
hanya Allah yang mengetahui periode waktu sebenarnya yang dihabiskan oleh para pemuda
di dalam gua. Menurut informasi yang didapatkan dari berbagai catatan Kristiani, waktu yang
dihabiskan oleh para pemuda itu beragam antara 200 tahun hingga 372 tahun
.
291
Bagaimanapun juga, Allah menyatakan bahwa Dia lebih mengetahui tentang berapa lamanya
mereka tinggal di gua yang sebenarnya. Mereka yang berpendapat bahwa 309 tahun bukanlah
pernyataan Allah menjelaskan bahwa ayat sebelumnya menjadi tidak masuk akal jika periode
waktu yang sebenarnya adalah 309 tahun. Cara lain untuk memahami ayat ini adalah bahwa
309 tahun itu adalah periode waktu yang sebenarnya karena jika Allah mengatakan 309 tahun
itu berarti memang itulah yang sebenarnya, karena Allah Maha Mengetahui.
Sebagian ulama seperti Mujahid mengatakan bahwa, Katakanlah "Allah lebih
mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua),” merujuk pada waktu setelah mereka
meninggal hingga turun wahyu Al Quran yang menceritakan kisah mereka. Ad-Dahhak
290
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 49.
291
The New Encyclopedia Britannica
Islamic Online University Tafsir 202
175
berpendapat bahwa waktu yang dimaksud adalah merujuk pada berapa lama mereka
tinggal/hidup sampai mereka meninggal.
292
Terkait ayat ini Syeikh Al Utsaimin mengatakan, “Menurut mereka yang berpendapat
bahwa ayat 25 merupakan pernyataan dari orang-orang yang mendiskusikan lamanya ashabul
kahfi (para pemuda penghuni gua) tinggal dalam gua mereka, “mereka tinggal” menjadi
obyek dari subyek yang dihapus yang bisa diperkirakan sebagai, “Dan mereka berkata, “Dan
mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”
Kemudian Allah berdirman, ‘[Wahai Muhammad], Katakanlah: "Allah lebih mengetahui
berapa lamanya mereka tinggal …’ Akan tetapi, meskipun dipegang oleh sebagian ahli tafsir
terkemuka, pendapat ini tidaklah benar. pernyataan, “mereka tinggal” merupakan salah satu
dari pernyataan Allah, dan "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di
gua),” digunakan sebagai penekanan. Karena hanya Allah yang paling mengetahui berapa
lamanya mereka tinggal. Tidak pernyataan dari seseorang yang memiliki nilai setelahnya.
Pernyataan Allah ‘azza wajalla, “Dan kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi
di langit dan di bumi,” dapat berarti bahwa isi dan peristiwa yang tersembunyi dari tujuh
langit dan tujuh bumi semuanya adalah kepunyaan-Nya, bahwa pengetahuan tentang hal yang
ghaib dari tujuh langit dan tujuh bumi adalah milik-Nya. Kedua arti itu benar. Hanya Allah
yang memiliki pengetahuan tentang yang gaib. Oleh karena, siapa pun yang mengaku-aku
memiliki pengetahuan tentang hal ghaib berarti kafir. Yang dimaksud dengan hal yang ghaib
adalah masa depan. Adapun tentang perkara-perkara ghaib di masa kini dan masa lalu, siapa
pun yang mengklaim memiliki ilmu tentang urusan ini bukanlah orang yang kagir karena
sudah terjadi dan beberapa manusia mungkin mengetahuinya sementara yang lain tidak. Di
sisi lain, peristiwa masa depan yang ghaib hanyalah diketahui oleh Allah semata. Jadi, siapa
pun yang mengklaim memiliki pengetahuan itu atau bahkan mendatangi orang yang
mengklaimnya dan meyakini apa yang ia ceritakan tentang masa depan maka ia menjadi
orang yang kafir terhadap Allah, Yang Maha Besar dan Maha Agung. Karena kedua orang itu
mengingkari firman Allah ‘azza wa jalla,


 
292
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vols. 9-10, p. 322.
Islamic Online University Tafsir 202
176
Katakanlah: "tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak
mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An Naml 27: 65)
293
Dan Abu Hurairah serta Al Hasan juga meriwayatkan dari Nabi ,
ِ
َ
َ
ْ
ﳊا
َ
و
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ٍ
َ
ُ
ﳏ ﻰ
َ
َ
َ
ل
ِ
ْ
ُ
أ ﺎ
َ
ِ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ ﺎ
َ
ِ
ُ
َ
َ
َ
ﻓ ﺎ
ً
ﻓا
َ
ْ
و
َ
أ ﺎ
ً
ِ
ﻫﺎ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
beliau bersabda: "Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal
kemudian membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap
wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam."
294
Dalam kalimat, Alangkah terang penglihatan-Nya dan Alangkah tajam
pendengaran-Nya,” Allah menggunakan bentuk perbandingan superlatif yang paling agung
dalam bahasa Arab untuk menggambarkan sifat-Nya yakni sifat melihat dan mendengar.
295
Allah subhanahu wa ta’ala, benar-benar melihat segalanya. Dia melihat jejak kaki seekor
semut hitam yang merayap di atas batu hitam di tengah malam tanpa bulan dan Dia melihat
hal-hal yang lebih kecil dan tersembunyi yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Demikian
pula dalam mendengar, Dia mendengar segala sesuatu dan mengetahui segala rahasia dan apa
yang lebih tersembunyi. Dia berfirman,


“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia
mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaha 20: 7)
293
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 51
294
Collected by Ahmad, Sunan Abu Dawud (English), vol. 3, p. 1095, no. 3895)and al-Bayhaqee.
295
Allah describes Himself with these two attributes in a number of other locations in the Qur’aan, eg., 42: 11;
22: 75; 58: 1, etc
Islamic Online University Tafsir 202
177
Pada peristiwa terkait seorang perempuan yang mengajukan gugatan (al-mujadilah)
296
di mana suaminya
297
menceraikannya [dengan mengatakan, “Kamu bagiku seperti punggung
ibuku.”], dia datang mengadukan masalahnya kepada Rasulullah , ketika ‘Aisyah berada
di kamarnya, Rasulullah berbicara dengan perempuan tersebut membahas masalahnya
dan ‘Aisyah mendengar sebagian dari apa yang dibicarakan, namun sebagian yang lain
tersembunyi darinya. Dan Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah telah mendengar Perkataan wanita yang
mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan
(halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu
berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat” (QS.
Al Mujadilah 58: 1)
‘Aisyah berkata, "Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi semua suara.
Telah datang seorang perempuan mengajukan gugatan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam sedang aku berada di samping rumah, ia mengadukan suaminya. Aku tidak mendengar
apa yang ia ucapkan, namun Allah menurunkan ayat: "Sesungguhnya Allah telah
mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya."
298
Allah berada di atas segala sesuatu, namun meskipun demikian Dia mendengar perempuan itu
dan pembicaraannya bersama Rasulullah .
Beriman bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki penglihatan yang sempurna di mana
tidak ada yang lolos dan penglihatan-Nya dan bahwa Dia memiliki pendengaran yang
sempurna di mana tidak ada suara yang tersembunyi dari-Nya mengharuskan setiap mukmin
agar berusaha sekuat tenaga untuk menghindari dari melakukan perbuatan yang tidak disukai
oleh Rabbnya atau mengatakan sesuatu yang Dia benci. Ini harus menjadikan seseorang takut
kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi karena iman kita lemah, akan didapati bahwa
ketika kita ingin mengatakan atau melakukan sesuatu, tidak terlintas dalam pikiran kita bahwa
296
Namanya adalah Khaulah bintu Tsa’labah
297
Nama suaminya Aus ibnu ash-Shamit
298
Sunan Ibnu Majah, no. 188, Kitaab: al Muqaddamah; Baab: Pengingkaran al-Jahmiyyah
Islamic Online University Tafsir 202
178
Allah mendengar atau melihatnya, kecuali jika Allah menjadikan kita tersadar. Kelalaian
adalah hal terjadi secara umum dan luas sehingga wajib sehingga bagi kita semua untuk
menyadari situasi yang mengerikan ini.
299
“Mereka” dalam kalimat, “Tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari
pada-Nya,” dapat merujuk pada para pemuda di dalam gua
300
atau bisa juga merujuk pada
siapa saja yang ada di langit dan bumi. Maksudnya adalah tidak ada seorang pun yang
memiliki penjaga selain Allah. Bahkan orang-orang kafir hanya memiliki Allah, Yang Maha
Agung dan Maha Mulia, sebagai penjaga mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,



“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara
kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-
Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka
(hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang
sebenarnya.” (QS. Al An’am 61-2)
Perlindungan (perwalian) Allah atas makhluk-makhluk-Nya dikenal dalam bidang
aqidah sebagai ‘perwalian umum’ (al wilaayah al ‘ammah)
301
. Menurut prinsip ini, Allah
memberikan kenikmatan kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir sama rata,
dan menjadikan tubuh mereka tumbuh dan berkembang. Demikian juga, Dia menundukkan
untuk umat manusia seisi langit dan bumi; matahari, bulan, dan bintang-bintang, laut, sungai
dan hujan serta tanah, gunung, tanaman dan hewan. Ini semua adalah di antara unsur-unsur
"perwalian umum." Di sisi lain, "perwalian khusus" Allah (al-wilaayah alkhaassah)
diperuntukkan hanya bagi orang-orang yang beriman. Allah ‘azza wajalla berfirman,
299
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 52-3
300
Ash-Shanqeetee held that the pronoun “they” in this verse referred to the youths in the cave. (Adwaa ul-
Bayaan, vol. 4, p. 64
301
Also referred to as Wilaayat Mulk wa Qahr (Guardianship of Dominion and Power). See Adwaa ul-Bayaan,
vol. 4, p. 64.
Islamic Online University Tafsir 202
179







“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang
kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka
daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran).” (QS. Al Baqarah, 2: 257)
Demikian juga firman-Nya,




“Yang demikian itu karena Sesungguhnya Allah adalah pelindung
orang-orang yang beriman dan karena Sesungguhnya orang-orang kafir
itu tidak mempunyai Pelindung.” (QS. Muhammad 47: 11)
"Perwalian khusus" ini memerlukan perhatian yang khusus pula, di mana Allah
memperbaiki urusan hamba-Nya dengan membuka pintu bagi ilmu yang bermanfaat dan
perbuatan yang mengandung ketaatan. Karena itu, Dia berfirman: “Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan dengan cara membukakan kepada mereka ilmu. Dia pertama-tama mengajar
mereka, dan kemudian Dia mengeluarkan mereka dengan membiarkan mereka melakukan
perbuatan yang diperlukan untuk mendapatkan ilmu.
302
Perlindungan ini merupakan salah
satu balasan, pembelaan, kesuksesan, dan kemenangan
Dalam hidup ini manusia meminta perlindungan dari manusia lainnya ketika mereka
menghadapi masalah, namun pada kenyataannya mereka hanyalah bisa memberikan
pertolongan jika Allah menghendaki mereka untuk melakukan yang demikian. Jika mereka
bermaksiyat kepada Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari
hukuman-Nya kecuali jika Dia menghendaki.
302
Ibid, hlm. 54
Islamic Online University Tafsir 202
180
“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan
keputusan," maksudnya adalah manusia tidak boleh menyerahkan segala urusan yang Dia
perintahkan kepada orang lain. Misalnya, jika seseorang diperintahkan untuk melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah lalu ia tetap melanjutkan dan
melakukannya, maka ia sebenarnya telah berbuat syirik melawan perintah Allah. Perbuatan
semacam itu adalah suatu kesalahan dan dosa. Sesungguhnya, Allah menggambarkan dalam
bagian lain dalam Al Quran bahwa memberontak/menentang perintah-perintahnya merupakan
kekufuran. Allah mengingatkan orang-orang mukmin bahwa jika mereka beriman kepada-
Nya maka keimanan itu harus diwujudkan dengan mereka menerima perintah-perintah-Nya.
Hal ini tidaklah berarti bahwa semua manusia itu kafir karena semua umat manusia pasti
pernah untuk tidak menaati-Nya dalam satu atau beberapa hal dari waktu ke waktu, ini
sesungguhnya merupakan bagian dari kekafiran, jika penentangan ini banyak dan menumpuk
maka sampailah pada kekafiran.
“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan
keputusan,” ini serupa dengan firman Allah,
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS. Al An’am 6: 57)
Dan,

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah)
kepada Allah. (QS. Asy Syura 42: 10)
“Ketetapan” (hukum) bisa berupa ketetapan kauniyah (penciptaan) atau syar’iyyah
(hukum syariat). Menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan mengurusnya merupakan
“Ketetapan Kauni” (hukum kauni), dan mengatur manusia dengan memberikan perintah dan
larangan merupakan “ketetapan hukum” (hukum syar’i). Firman-Nya, “Dan Dia tidak
mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan,” mencakup
Islamic Online University Tafsir 202
181
kedua bentuk ketetapan ini. Tidak ada seorangpun yang bersekutu bersama Allah dalam
menetapkan keputusan-Nya baik itu kauni maupun syar’i.
Bagian dari ayat ini mengandung dalil bahwa wajib untuk bergantung pada keputusan
hukum Allah dan bahwa manusia tidak memiliki hak untuk membuat hukum apa pun dalam
agama Allah yang bukan bagian darinya, baik dalam amal ibadah maupun dalam hubungan
sosial (muamalah). Klaim bahwa kita dapat membuat hukum sendiri dalam bidang muamalah
apa saja yang sesuai pada masa itu adalah salah. Berdasarkan pernyataan itu, seseorang dapat
melegalkan riba, perjudian, dan semua bentuk penghasilan tidak sah lainnya, di mana ini
jelas-jelas salah. Hukum Ilahi (Syari‘at) cocok untuk semua orang di setiap waktu dan tempat.
Seperti yang dikatakan Imam Maalik,
(ﺎ
َ
َ
و
َ
أ
َ
َ
ْ
ﺻأ ﺎ
َ
ﻣ ﻻإ
ِ
ُ
ْ
ا
ِ
ِ
ﺬﻫ
َ
ﺮﺧآ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
و)
“Tidak akan baik akhir urusan umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan baik urusan
umat generasi terdahulu”
303
Tidak ada seorangpun yang menjadi sekutu bersama Allah dalam membuat ketetapan
kauni dan tidak ada seorang pun yang berakal yang mengklaim hal itu. Apakah ada seseorang
yang mampu menyebabkan hujan tutun sesuka hati? Adakah seseorang yang mampu
mencegah langit dan bumi dari kemusnahan? Akan tetapi, di ranah keputusan hukumlah
pendapat manusia yang berbeda beradu dengan ketetapan Allah. Dan bahkan di antara
kaumMuslimin ada sebagian dari mereka yang mengklaim bahwa mereka memiliki hak untuk
menetapkan hukum di antara manusia dengan apa saja yang mereka anggap sesuai.
304
Bagian dari ayat, “Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya
(yusyrik) dalam menetapkan keputusan,” menandakan bahwa orang-orang yang mengikuti
hukum yang dibuat selain-Nya adalah musyrik, ia telah berbuat syirik kepada (menyekutukan)
Allah. Pemahaman ini dijelaskan lebih lanjut lagi dalam ayat-ayat Al Quran, misalnya, firman
Allah tentang siapa saja yang mengikuti hukum syaitan untuk menghalalkan bangkai untuk
dimakan dengan mengklaim bahwa itu adalah Allah yang membunuhnya,
303
Lihat Asy Syifa oleh Al Qadi ‘Iyyad, jilid 2, hlm. 87-8.
304
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 54-5
Islamic Online University Tafsir 202
182






“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut
nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang
semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu
membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu;
dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi
orang-orang yang musyrik.” (QS. Al An’am 6: 121)
Allah secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka termasuk orang-orang
musyrik karena ketaatan mereka [kepada syaitan], yang dikenal sebagai al isyrak fit tha’ah
(Syirik dalam ketaatan). Ini juga apa yang maksudkan oleh Al Quran dengan pernyataan
menyembah syaitan. Misalnya, Allah berfirman,







“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya
kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagi kamu" Dan hendaklah kamu menyembah-Ku.
Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin 36: 60-1)
Dan Allah berfirman ketika mengutip perkataan Nabi Ibrahim,




Islamic Online University Tafsir 202
183
“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam
19: 44)
Demikian pula ketika Adi bin Hatim bertanya kepada Nabi tentang ayat,










“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka
sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al
masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah
Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah 9:
31)
Rasulullah menjelaskan kepadanya bahwa dengan mengikuti para rahib dan
biksu mereka yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah, orang-orang Yahudi dan Nashrani telah menjadikan mereka sebagai
sesembahan bersama Allah.
305
Di antara dalil yang paling langsung dan jelas dalam hal ini adalah bahwa Allah, jalla
wa ‘ala, mengungkapkan keheranan pada mereka yang mengaku sebagai orang beriman
sementara menginginkan hukum selain dari syariat Allah. Dan itu hanyalah dikarenakan
pengakuan mereka bahwa mereka beriman bersama dengan keinginan mereka untuk
mengikuti hukum sesembahan-sesembahan yang batil adalah kebohongan yang nyata.
305
Shahih Sunan At-Tirmidzi, Kitab: Tafsir Al Quran, Bab: Min Surah At Taubah
Islamic Online University Tafsir 202
184






“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim
kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut
itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan
yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa 4: 60)
Syaikh mengatakan berikut ini terkait ayat di atas, “Sangat jelas dari nash-nash yang
diturunkan oleh Allah yang disebutkan di atas bahwa hanya mereka yang Allah tutupi
pandangan mereka dan yang Allah butakan dari cahaya wahyu beserta orang-orang lain
seperti mereka yang akan meragukan tentang kekafiran (kekufuran) dan kesyirikan dari
mereka yang mengikuti hukum yang diatur oleh Setan melalui lisan dari teman-teman dan
pendukungnya, yang bertentangan dengan syariat Allah yang disampaikan melalui lisan
Rasul-Nya .
Catatan: Namun, harus dibedakan antara sistem hukum manusia yang mengharuskan
diterapkannya hukum kafir terhadap Sang Pencipta langit dan bumi, dan sistem mana yang
tidak. Ada dua jenis sistem: administrasi dan hukum. Tidak ada yang salah dengan sistem
administrasi yang bertujuan untuk mengatur dan mengimplementasikan berbagai urusan
dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat. Para sahabat dan generasi yang datang
sesudah mereka tidak keberatan dengan sistem semacam itu. ‘Umar ibn al-Khattaab
menerapkan banyak hukum administrasi yang tidak ada pada zaman Nabi . Sebagai
contoh, ia memiliki nama-nama tentara yang dicatat dalam register untuk mengetahui siapa
yang hadir dan siapa yang tidak hadir, dan ia juga membeli rumah Shafwaan ibn Umayyah
dan mengubahnya menjadi penjara di Mekah, meskipun baik Nabi maupun Abu Bakr
tidak pernah mendirikan penjara. Praktik administrasi semacam itu yang menata dan
mengatur urusan masyarakat baik-baik saja selama tidak bertentangan dengan syariat, karena
aturan-aturan semacam itu melayani kesejahteraan umum masyarakat.
Islamic Online University Tafsir 202
185
Adapun sistem hukum yang bertentangan dengan syariat dari Sang Maha Pencipta
langit dan bumi, maka menerapkan hukum-hukum semacam itu adalah perbuatan kafir pada
Sang Pencipta. Misalnya, klaim bahwa memihak laki-laki daripada perempuan dalam
pewarisan adalah tidak adil dan curang dan bahwa keduanya harus diperlakukan sama, atau
bahwa poligami itu bersifat opresif, atau bahwa rajam sampai mati dan hukum potong tangan
adalah hukuman yang kejam yang tidak manusiawi dan harus dihentikan. Institusi sistem
ekonomi, sosial, dan politik semacam itu yang ada di antara anggota masyarakat sama dengan
kekafiran kepada Pencipta dan pemberontakan melawan sistem yang diwahyukan secara ilahi
yang diatur untuk semua makhluk oleh Dia yang paling mengetahui kesejahteraan makhluk-
makhluk-Nya.






“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang
mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?
Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah
mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim
itu akan memperoleh azab yang Amat pedih.” (QS. Asy Syura 42: 21)






“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan
Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya Haram dan
(sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan
Islamic Online University Tafsir 202
186
izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap
Allah ?" (QS. Yunus 10: 59)







“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh
lidahmu secara Dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-
adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl
16: 116)
306
Ini adalah yang mendasari "benturan peradaban" saat ini dari abad kedua puluh dan
dua puluh satu. Upaya-upaya untuk mengglobalisasi pondasi demokrasi sekuler Peradaban
Barat bertentangan secara langsung dengan pondasi Peradaban Islam [berupa] Hukum Allah
(Syari’ah). Sekularisme menolak segala bentuk keyakinan dan ibadah agama dan berpendapat
bahwa pendidikan publik dan hal-hal lain dari kebijakan sipil harus dilakukan tanpa
pengenalan unsur agama.
307
Di sisi lain, Syari’ah mensyaratkan dimasukkannya hukum dan
prinsip agama di semua tingkat kebijakan pemerintah dan organisasi sosial.
Untuk membuat undang-undang dari basis sekuler, dipilihlah sistem demokrasi di
Barat. Nama dan konsep demokrasi keduanya berasal dari Yunani kuno. Yaitu berarti
"pemerintahan rakyat". Di negara-kota Yunani, khususnya Athena, budak dan wanita
dikecualikan dari pemungutan suara sehingga hanya sebagian kecil dari penduduk (20-30%)
yang menjadi warga negara aktif.
308
Realita demokrasi Barat saat ini tidak jauh berbeda. Bahkan, minoritas yang
memerintah menjadi semakin kecil. Di Amerika Serikat, yang mengikuti gerakan pemilihan
306
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, pp. 65-7
307
The Living Webster Encyclopedic Dictionary of the English Language, p. 869.
308
Colliers Encyclopedia, vol. 8, p. 76 and 80
Islamic Online University Tafsir 202
187
umum, untuk memberi ilusi kepada penduduk bahwa demokrasi berpartisipasi aktif dalam
mengatur dirinya, tidak adanya pendidikan gratis dari TK hingga Ph.D. memastikan bahwa
masyarakat luas tidak akan dapat berpartisipasi dalam pemerintahan. Sebaliknya, negara-
negara miskin seperti Sudan telah berhasil menyediakan pendidikan gratis terlepas dari
kesulitan ekonomi mereka.
Demokrasi, sebagaimana yang dipahami oleh para pemikir Barat, tidaklah semata alat
politik, namun juga prinsip dan falsafah sosial. Mereka dengan berani menyatakan,
“Demokrasi Barat menjangkau hingga melampaui batas-batas pemerintahan dan
mempengaruhi semua fase hubungan manusia."
309
Sebagai jalan hidup, demokrasi berdasarkan atas tiga prinsip utama. Prinsip pertama
adalah ‘kesetaraan.’ Dari sudut pandang humanis/rasionalis, semua umat manusia memiliki
satu sifat yang sama (di atas dan melebihi perbedaan kelas, ras, jenis kelamin,
kewarganegaraan dan agama); kemampuan untuk menalar.
310
Prinsip ini tidak bertentangan
dengan ajaran-ajaran Islam. Akan tetapi, penekanan pada kesetaraan dalam Islam terletak
pada keimanan pada Tuhan dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan. Nabi
diriwayatkan pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas keadaan beriman kepada Rabb-
nya (yaitu di atas fitrah).”
311
Prinsip kedua "empirisme rasional" secara fundamental menyiratkan keyakinan penuh
pada akal dan pengalaman manusia. Seharusnya pikiran manusia memiliki kemampuan untuk
menyimpulkan dari pengalaman sejarah dan pribadi apa yang sebenarnya terbaik untuk
masyarakat manusia. Namun, tidaklah benar-benar seperti ini kasusnya. Sebagai contoh,
Konstitusi Amerika, yang ditulis oleh para pemikir terbaik dan paling tepercaya pada abad ke-
18, memuat sebuah artikel yang pada dasarnya tidak adil dan tidak benar, sehingga
bertentangan dengan pemahaman dengan pikiran modern yang tercerahkan. Pasal 1, Bagian 2,
berjudul The Three-Fifth Compromise menyatakan bahwa laki-laki kulit hitam (budak pada
saat itu) harus dihitung sebagai tiga perlima dari seorang kulit putih
312
. Penulis konstitusi
tersebut semuanya memiliki budak dan tidak pernah menganggap budak mereka setara
dengan diri mereka. Akibatnya, ketika menulis dokumen itu, mereka hanya mengekspresikan
309
It holds that reason is applicable not only to the understanding and mastery of nature, but also to the
understanding and conduct of social problems.
310
Colliers Encyclopedia, vol. 8, p. 77
311
Sahih Al Bukhari, vol.8, book 77, no.597
312
The Constitution of the United States of America 1787, Article 1, Section 2 states: “[Representatives and
direct Taxes shall be apportioned among the several States which may be included within this Union,
according to their respective Numbers, which shall be determined by adding to the whole number of free
Persons, including those bound to Service for a Term of Years, and excluding Indians not taxed, three
fifths of all other Persons.].” Source: U.S. Government Printing Office 1988 – 203 – 017 / 80002.
Islamic Online University Tafsir 202
188
ide dan keyakinan kelas penguasa pada zaman mereka. Akal dan pengalaman manusia gagal
mencapai apa yang sebenarnya adil. Setiap tinjauan sistem hukum Eropa, Asia atau Afrika
semuanya menunjukkan bahwa pembuat hukum manusia membuat hukum sesuai dengan
kepentingan golongan atau kelas mereka sendiri. Mereka mengalami kesulitan besar untuk
menjadi benar-benar objektif. Akibatnya, peradaban Islam berpendapat bahwa hanya Tuhan,
yang menciptakan manusia, yang mengetahui kebutuhan mereka dan yang tidak memiliki
kepentingan dalam golongan apa pun, yang dapat menciptakan undang-undang yang benar-
benar adil. Masukan manusia terbatas pada penerapan hukum ilahi dan pengurangan hukum
sekunder.
Prinsip ketiga disebut sebagai "diskusi dan persetujuan". Ini adalah mekanisme dimana
keputusan demokratis dibuat. Diskusi didasarkan pada pandangan demokratis bahwa tidak ada
yang memiliki kebenaran yang bersifat absolut; oleh karena itu, semua pihak yang bertikai
harus diberi kebebasan berekspresi. Tidak ada kebenaran yang begitu pasti sehingga tidak
dapat ditentang.
313
Setelah mendengar pandangan semua orang, keputusan dibuat dengan
suara terbanyak. Akibatnya, kebenaran, kepalsuan, kebaikan, dan kejahatan semua menjadi
relatif. Seperti yang sering dikatakan, "Daging satu orang adalah racun bagi orang lain".
Lebih jauh, sesuatu yang dianggap yang baik hari ini bisa menjadi sesuatu yang buruk besok
dan sebaliknya. Konsekuensi sosial dari prinsip ini adalah dihilangkannya landasan untuk
moral yang stabil dalam masyarakat. Misalnya, buku Catcher in the Rye, dinyatakan sebagai
pornografi dan dilarang pada tahun lima puluhan, sementara saat ini buku itu menjadi bacaan
wajib di sekolah menengah Kanada. Sejak tahun 1976, setiap edisi surat kabar utama Inggris,
The Sun, memuat foto-foto bugil dan semi-telanjang wanita di halaman 3. Gambar serupa di
majalah Playboy menyebabkannya diberi label pornografi pada tahun enam puluhan.
Contoh klasik lainnya adalah serangan gencar kepada kaum homoseksual di bagian
akhir abad ke-20. Jika rata-rata orang Barat ditanya bagaimana pandangan mereka tentang
homoseksualitas di tahun 50-an dan 60-an, mereka akan segera menjawab bahwa itu penyakit,
kemerosotan, sesat, dll. Jika mereka orang yang beragama mereka bahkan mungkin mengutip
Alkitab yang disebut di dalamnya sebagai "Kekejian terhadap Tuhan". Psikiater pada periode
itu memasukkannya ke dalam karya referensi utama mereka sebagai penyakit mental dengan
perawatan yang disarankan mulai dari terapi kejut hingga terapi obat. Namun, jika pertanyaan
yang sama diajukan pada tahun 70-an dan awal 80-an, jawabannya adalah bahwa
homoseksualitas adalah pilihan pribadi, gaya hidup alternatif, 'pukulan yang berbeda untuk
orang yang berbeda', dll. Akibatnya, homoseksualitas dihapus dari Alkitab psikiater, hanya
untuk digantikan oleh penyakit lain yang disebut homofobia. Mereka yang membenci
homoseksualitas dan mereka yang mempraktikkannya sekarang diberi label 'homofobik' dan
313
Colliers Encyclopedia, jilid 8, hlm. 77.
Islamic Online University Tafsir 202
189
dikirim ke sofa psikiater untuk perawatan. Peradaban Barat berayun dari satu ujung spektrum
moral yang ekstrim menuju ujung yang berlawanan berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi
yang dianutnya.
Selama tahun lima puluhan dan enam puluhan, sebuah revolusi seksual dimulai di
Barat yang berpuncak pada dihapusnya percabulan dan perzinaan dari kitab-kitab hukum
sebagai kejahatan yang dapat dihukum. Selama periode itu para anggota parlemen
menyimpulkan sebuah prinsip baru untuk menentukan legalitas hubungan seksual di antara
masyarakatnya. Karena pemerkosaan secara bulat dianggap tidak dapat diterima, mereka
menyimpulkan bahwa prinsip persetujuan harus ada agar hubungan semacam itu dapat
diterima secara hukum. Mereka juga semua sepakat bahwa hubungan seksual antara orang
dewasa dan anak-anak adalah salah (yakni, Pedofilia) karena anak-anak dapat dengan mudah
dimanfaatkan oleh orang dewasa karena ketidakdewasaan mereka. Akibatnya, mereka
menambahkan prinsip kedua yaitu kedewasaan untuk hubungan seksual yang sah. Ungkapan
orang dewasa yang saling setuju (suka sama suka)
314
menjadi seruan pertempuran dari
revolusi seksual ini yang mengakibatkan semakin maraknya pesta pertukaran istri, hubungan
seksual secara kelompok, sadomasokisme, telanjang dada di dalam sangkar, dll, di antara
banyak elemen masyarakat. Homoseksual juga mengibarkan panji revolusi seksual ‘orang
dewasa yang suka sama suka’ dan secara terbuka menantang adat istiadat masyarakat.
Awalnya, para anggota parlemen menolak keras. Homoseksualitas suatu hal yang secara
mutlak ‘tidak’. Masyarakat Amerika, sejak awal, membenci praktik semacam itu. Namun,
para intelektual homoseksual mengingatkan para pembuat undang-undang bahwa keberatan
mereka terhadap homoseksualitas didasarkan pada agama, dan agama tidak seharusnya
mencampuri kehidupan pribadi atau publik masyarakat dalam demokrasi sekuler. Akhirnya,
para legislator tunduk pada prinsip hukum yang mereka temukan sendiri dan hak-hak
homoseksual diabadikan dalam hukum.
Sayangnya, itu baru permulaan. Di Swedia, prinsip suka sama suka oleh orang dewasa
digunakan beberapa tahun yang lalu untuk menjadikan inses bukanlah kriminalitas. Karena
itu, secara hukum diperbolehkan bagi seorang pria untuk melakukan hubungan seksual
dengan ibu, saudara perempuan atau anak perempuannya selama mereka adalah orang dewasa
yang suka sama suka.
314
“In recent years, in Europe and the United States, a number of highly respected legal, medical, and
religious organizations have deliberated on the whole issue of the legal control of human sexuality. They have
been unanimous in the conclusion that, while the laws protecting person and public sensibilities should be
retained, the purely moral laws should be dropped. Specifying what consenting adults do sexually in private, it
is argued, should not be subject to legal control.” (The New Encyclopaedia Britannica, vol. 27, p. 247)
Islamic Online University Tafsir 202
190
Di sisi lain, Peradaban Islam, menganggap hukum yang diwahyukan oleh Tuhan
adalah mutlak dan tidak dapat diubah dan tidak pula diganggu gugat. Apa yang Allah tetapkan
sebagai kejahatan moral seribu empat ratus tahun yang lalu tidak pernah dapat menjadi suatu
kebaikan secara moral karena sifat dasar manusia dan masyarakat manusia tidak dan tidak
akan pernah berubah. Tanpa dasar moral yang kuat peradaban manusia akan menjadi rusak.
Dan menyerahkannya kepada manusia untuk mengembangkan fondasi itu adalah hal yang
dengan sendirinya cacat. Allah berfirman dalam Al Qur'an:





“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah
langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami
telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka
tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al Mu’minun 23: 71)
Tidak peduli apa dalil ilmiah yang diajukan untuk membuktikan bahwa
homoseksualitas itu adalah berdasarkan genetik atau biologis, itu akan tetap dianggap sebagai
kekejian sebagaimana halnya perzinahan dan percabulan dianggap sebagai kekejian terlepas
dari kecenderungan manusia kepadanya. Islaam berpendapat bahwa manusia dewasa yang
waras masih bertanggung jawab atas pilihan mereka. Mereka bukan robot, tidak mampu
melampaui pemrograman mereka. Beberapa ilmuwan saat ini mengklaim bahwa bahkan
kejahatan seperti perampokan dan pembunuhan memiliki asal genetik. Tersisa pertanyaan:
Jika para ilmuwan juga membuktikan bahwa pedofilia dan perkosaan memiliki dasar secara
genetis, akankah masyarakat Barat juga mendekriminalisasi dua kejahatan itu dan
menghapuskan prinsip rasional mereka tentang dua orang dewasa yang suka sama suka?
Hukum Islam tidak menolak peran masyarakat dalam merumuskan sebagiand ari
hukumnya. Akan tetapi hukum yang dimaksud di sini adalah hukum sekunder atau tersier dan
bukan hukum primer. Peran demokrasi dalam prinsip konsultasi Islam memang ada tapi
terbatas, sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran,
Islamic Online University Tafsir 202
191
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara
mereka” (QS. Asy Syura 42: 38)
Sebagai contoh, rakyat dalam masyarakat dapat menentukan dengan suara terbanyak
untuk memasang lampu rambu-rambu lalu lintas pada persimpangan yang sibuk di mana
sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Dan kemudian mereka dapat menetapkan untuk
menghilangkannya dan membangun underpass dengan berdasarkan prinsip yang sama.
Komitmen total peradaban Barat terhadap sekularisme yang bahkan ditempuh dengan
mengorbankan demokrasi menjelaskan mengapa Barat sangat mendukung kediktatoran
militer di Turki dan Aljazair. Wanita di Turki dilarang mengenakan kerudung ketika berada di
lembaga pemerintah manapun, baik pendidikan atau politik. Ketika Merve Sefa Kavakci,
seorang anggota Parlemen baru-baru ini menentang undang-undang ini dengan muncul di
majelis dengan mengenakan jilbab untuk mengambil sumpah parlemennya, ia diberhentikan
secara paksa dan kewarganegaraan Turki-nya kemudian dicabut. Hak untuk mengenakan
jilbab di depan umum dipertahankan di sebagian besar negara Barat di bawah kebijakan
demokrasi "kebebasan beragama," namun Barat mentolerir penindasan Turki terutama karena
komitmen Turki terhadap sekularisme. Di sisi lain, Barat menutup mata ketika militer Aljazair
membatalkan hasil pemilihan umum bebas untuk menghentikan F.I.S. (Partai Islam) dari
mendirikan pemerintahan Islam melalui pemilihan demokratis di mana mereka siap untuk
menang. Meskipun Barat menekankan pentingnya demokrasi, sekularisme lebih penting bagi
mereka.
Baik peradaban Cina dan India keduanya telah menyerah pada globalisasi peradaban
Barat. Ketika Cina menganut komunisme di bawah pimpinan Ketua Mao Tse Tung, mereka
menganut demokrasi sekuler. Selain itu, negara-negara komunis bahkan lebih anti-religius
daripada rekan-rekan kapitalis mereka. Atheisme menjadi agama negara baru di negara-
negara komunis dan agama-agama lain dihilangkan secara sistematis.
Di sisi lain, India, dengan minoritas kaum Muslimin berjumlah lebih dari 100 juta
jiwa, memilih demokrasi sekuler untuk menghindari gejolak internal. Bagaimanapun juga,
Hinduisme adalah campuran yang saling bertentangan antara kultus dan agama yang tidak
memiliki sistem sosial ekonomi. Nasionalisme Hindu, seperti yang saat ini diwujudkan dalam
BJP (Partai Bharatiya Janata), hanyalah pernyataan Hinduisme sebagai identitas budaya.
Akibatnya, hanya Islam yang memiliki alternatif yang layak bagi peradaban dan
budaya Barat. Namun, meskipun dasar-dasar peradaban Islam jelas bertentangan langsung
dengan masyarakat dari peradaban Barat, itu tidak berarti bahwa tidak ada landasan bersama
dan bahwa konflik militer adalah selalu yang diperlukan. Masih ada banyak bidang yang baik
Islamic Online University Tafsir 202
192
yang diraih oleh Barat yang dapat dimanfaatkan oleh peradaban Islam, karena peradaban
Barat diuntungkan oleh pencapaian umat Islam di masa lalu.
315
315
The Clash of Civilizations: An Islamic View
Islamic Online University Tafsir 202
193
  
 
27. Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab
Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah
kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat
berlindung selain dari padanya.
Pada umumnya, pernyataan Allah, “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan
kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran),” merupakan konsekuensi dari firman-Nya
yang sebelumnya,
“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam
menetapkan keputusan".
Yang artinya adalah, karena tidak ada seorangpun yang bisa menjadi sekutu-Nya dalam
membuat keputusan, maka bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu.
316
Lebih khusus lagi, sebagian ulama
317
berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan akhir
dari kisah tentang para pemuda penghuni gua. Yakni, menurut mereka, hal ini berarti bahwa
Al Quran harus diikuti terkait dengan kisah para pemuda penghuni gua karena perkataan
Allah tidak dapat dirubah dan tidak ada hal lain yang perlu diketahui lebih lanjut setelah
penjelasan Allah ini.
Ats Tsa’labi dan yang lainnya mencatat bahwa ketika Mu’awiyah
bertempur di Pertempuran al-Madiq dekat Byzantium, Ibnu ‘Abbas bersamanya. Setelah
pertempuran mereka mencapai daerah di mana [bangunan yang menutupi] gua milik Ashabul
316
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 55
317
According to al-Qurtubee, al-Qushayree and Aboo Nasr ‘Abdur-Raheem both held this position.
Islamic Online University Tafsir 202
194
kahfi itu berada, Mu'awiyah ingin [meruntuhkan bangunan dan] membuka gua untuk melihat
mereka, tetapi Ibnu 'Abbas mengatakan kepadanya bahwa Allah telah mencegah seseorang
yang lebih baik darinya, dan dia mengutip ayat,

“Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling
dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan
dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. (QS. Al Kahfi 18: 18)
Akan tetapi, Mu’awiyah bersikeras untuk melanjutkan keinginannya agar mengetahui
lebih banyak tentang mereka. Maka ia mengirim sebagian pasukannya di depan untuk
[meruntuhkan bangunan di deoan gua dan] menyelidiki gua. Namun, ketika mereka
[mencoba] masuk ke dalam gua, Allah mengirim angin kencang yang menghempaskan
mereka keluar dari gua.
318
Perintah dari Allah ‘azza wajalla, “Bacakanlah,” meliputi baik “membaca dengan
lisan” dan “membaca dengan penerapan.” Adapun untuk “membaca dengan lisan,” ini
merujuk pada membaca kata per kata dalam teks Al Quran. Membaca dengan penerapan
merujuk pada menerapkan ajaran-ajaran Al Quran yang telah dibaca. Dalam konteks bahasa
Arab, jika seseorang berbuat sesuai dengan ajaran dalam Al Quran, sama artinya bahwa
mereka telah membacanya, maksudnya yakni mereka mengikutinya. Karena itu, dinyatakan
bahwa firman Allah,





“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan,
mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS.
Faathir 35: 29)
318
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vols. 9-10, p. 323
Islamic Online University Tafsir 202
195
Adalah mencakup “membaca dengan lisan” dan “hukum-hukum pembacaan.”
319
Juga
terdapat banyak ayat Al Quran yang secara langsung memerintahkan agar perintah-perintah
atau ajaran-ajaran yang terkandung dalam wahyu harus diikuti. Misalnya,




“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak
ada Tuhan selain dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS.
Al An’am 6: 106)
320
Orang yang dituju dalam perintah, “Bacakanlah,” adalah Nabi Muhammad,
Rasulullah . Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pernyataan yang ditujukan kepada
Rasulullah terdiri dari tiga jenis:
1. Lafadz-lafadz yang mengandung dalil yang menandakan bahwa lafadz-lafadz
tersebut khusus untuk beliau.
Misalnya,

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Asy
Syarh 94: 1)


“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungimu?” (QS. Adh Dhuha 93: 6)
319
Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, p. 57
320
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, p. 67
Islamic Online University Tafsir 202
196
Tidak diragukan lagi bahwa dua ayat di atas ditujukan secara khusus kepada Nabi
Muhammad .
2. Lafadz-lafadz yang mengandung dalil yang menandakan bahwa dalil itu bersifat
umum.
Misalnya,



“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, Maka hendaklah
kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi)
iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu(QS. Ath Thalaq
65: 1)
“Apabila kamu menceraikan isteri-isterimu,” disebutkan dalam bentuk jamak [dalam
lafadz aslinya] dan merujuk kepada kaum Muslimin, namun Allah menyebutkannya
dengan memanggil pemimpin dan Rasul mereka karena mereka adalah pengikut beliau.
Oleh karena itu, panggilan ini mencakup Nabi dan seluruh umat.
3.
Lafadz-lafadz yang mengandung apa yang mungkin ditujukan kepada beliau sendiri
atau kepada beliau dan umatnya.
Sebagian ulama menyimpulkan bahwa panggilan itu bersifat umum sementara sebagian
yang lain mengatakan bahwa itu khusus, namun umat harus mengikutinya, bukan karena
implikasi dari sapaan/panggilan itu namun karena implikasi beliau sebagai teladan
mereka. Misalnya,
 
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Tuhanmu (Al
Quran).”
Sebagian mungkin berkata bahwa ayat ini mengandung konteks yang menandakan
bahwa ini khusus untuk beliau, sebagaimana akan disebutkan nanti, In syaa Allah. Akan
Islamic Online University Tafsir 202
197
tetapi, ada banyak contoh dari jenis ketiga. Pemahaman yang benar dari permasalahan ini
adalah bahwa perintah, “Bacakanlah,” ditujukan kepada umat semuanya, namun yang diajak
bicara adalah pemimpin dan teladan mereka, karena pembicaraan itu paling baik ditujukan
kepada para pemimpin dan tokoh-tokoh yang dijadikan panutan.
Firman Allah, Apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Tuhanmu (Al
Quran),” merujuk pada Al Quran. Dengan menyebut Allah sebagai “Tuhanmu” dan
bukannya “Tuhan” terdapat dalil bahwa apa yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya
merupakan bagian dari perhatian-Nya yang sempurna kepada beliau.
321

Dalam penggalan kalimat, “Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-
kalimat-Nya,” Allah ‘azza wajalla menjelaskan bahwa perkataan-Nya tidak dapat dirubah
karena informasi yang terkandung di dalamnya adalah benar adanya dan hukum-hukum di
dalamnya adalah adil. Tidak ada seorang pun yang dapat merubah kebenarannya kepada
kebatilan dan keadilannya kepada ketidak-adilan. Apa yang disebutkan di sini dijelaskan lebih
lanjut di lain tempat. Misalnya,




“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang
benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-
Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al
An’am 6: 115)
Di tempat lain dalam Al Quran, Allah ‘azza wajalla menjelaskan bahwa Dia
dapat merubah atau mengganti ayat mana saja sesuai dengan kehendak-Nya,
321
Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, pp. 55-6
Islamic Online University Tafsir 202
198

“Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai
penggantinya Padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-
Nya.” (QS. An Nahl 16: 101)
322
“Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya,” juga berarti
bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merubah ‘kalam kauniyah-Nya’ atau ‘kalam
syar’iyah-Nya.’ Terkait dengan ‘kalam kauniyah-Nya,’ sudah jelas bahwa tidak ada seorang
pun yang dapat merubahnya. Karena, jika Allah telah mengatakan, “Jadilah!” terkait sesuatu,
maka tidak ada seorang pun yang dapat merubahnya. Adapun untuk ‘kalam syar’iyah-Nya,’
ditiadakannya perubahan di sini tidaklah terkait dengan eksistensi dari perubahan, namun
tentang kemungkinan hukumnya. Tidak mungkin secara hukum bagi seseoranag untuk
merubah ‘kalam syar’iyah-Nya.’ Wajib bagi semua manusia untuk berserah diri kepada Allah
dan menyerahkan semua kehendak mereka kepada-Nya. Jika seseorang mengklaim bahwa
mereka menemukan orang-orang yang merubah kalimat Allah, di mana Allah menyebutkan
terkait orang-orang Badui,



“Mereka hendak merobah kalam (janji) Allah.” (QS. Al Fath 48: 15)
Ini merujuk pada “perubahan hukum.” Jenis perubahan ini dapat terjadi di tangan
manusia yang menyebabkan mereka merubah perkataan Allah dan menyimpangkanya dari
konteksnya, serta menafsirkannya secara berbeda dari apa yang dimaukan oleh Allah.
Termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang salah menafsirkan nama-nama dan sifat-
sifat Allah, baik secara sebagian atau keseluruhan.
323
322
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, p. 68
323
Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, p. 57.
Islamic Online University Tafsir 202
199
Kaidah Pertama
Apa yang menjadi kewajiban terkait nash-nash Al Quran dan Sunnah dalam kaitannya
dengan Nama dan Sifat Allah.
Wajib untuk mempertahankan implikasi dari nama dan sifat Allah berdasarkan makna yang
nampak dari nama dan sifat tersebut tanpa perubahan apapun karena Allah menurunkan Al
Quran dalam bahasa ‘Arab yang jelas dan Nabi juga berbicara menggunakan bahasa
Arab. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mempertahankan implikasi dari pernyataan Allah
dan Rasul-Nya sesuai dengan maknanya secara linguistik karena merubahnya dari makna
yang zhahir (nampak) berarti berbicara tentang Allah tanpa ilmu di mana hal ini merupakan
perkara yang haram, sebagaimana Allah berfirman,

   


“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji,
baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa,
melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan)
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan
hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah
apa yang tidak kamu ketahui."
Contoh untuk hal ini dapat ditemukan dalam ayat,
“(tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia
menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.”
Islamic Online University Tafsir 202
200
Makna yang nampak (zhahir) dari ayat ini adalah bahwa Allah memiliki dua tangan
yang sebenarnya. Oleh karena itu, kedua tangan Allah ini harus ditetapkan sebagai sifat Allah.
Jika seseorang mengatakan bahwa makna yang dimaukan dari kedua tangan Allah adalah
‘kekuatan,’ maka dikatakan kepadanya bahwa apa yang ia lakukan adalah menyelewengkan
kata dari makna zhahirnya, yang mana ini tidak diperbolehkan, karena itu merupakan bentuk
berbicara tentang Allah tanpa ilmu.
Kaidah ke-Dua
Ada empat sub-kategori terkait nama-nama Allah
1. Semua Nama Allah itu Indah
Karena semua nama-nama Allah mengandung sifat yang sempurna bagi Allah, yang
bebas dari segala kekurangan dari setiap sisinya.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al A’raf 7: 180)
Misalnya, nama Allah Ar Rahman di antara asmaul husna milik Allah menandakan
sifat Allah yang agung yaitu maha mengasihi yang luas kasih sayangnya. Dengan
dasar prinsip ini, diketahui bahwa Ad Dahr (Masa) bukanlah merupakan salah satu
dari nama-nama Allah karena ia tidak mengandung keindahan tanpa batas. Adapun
sabda Nabi ,
))
ُ
ْ
ﺪﻟا
َ
ُ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
َ
َ
ْ
ﺪﻟا ا
ُ
َ
َ
((
Janganlah kalian mencela masa, Karena sesungguhnya Allahlah pencipta
masa."
324
324
Sahih Muslim, vol. 4, p. 1217, no. 5580 diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ada riwayat lain yang shahih dari
Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, di mana Nabi bersabda,
Islamic Online University Tafsir 202
201
Ini berarti bahwa Allah-lah pemilik masa yang dapat melakukan apa saja sesuai
dengan kehendak-Nya di dalam masa dan tentang masa sebagaimana disebutkan
dalam riwayat lain dari Allah dalam hadits qudsi dari Nabi bahwa Allah
berfirman,
))
َ
رﺎ
َ
ـﻨﻟا
َ
و
َ
ْ
ﻠﻟا
ُ
َ
ـﻗ
ُ
أ
ُ
ْ
َ
ْ
ﻷا ي
ِ
َ
ِ
((
“Di tangan-Ku lah segala urusan, Akulah yang membolak-balikkan siang
dan malam'."
325
2. Nama-nama Allah yang Indah tidak terbatas jumlahnya dengan bilangan
tertentu.
Hal ini ditunjukkan dengan doa Nabi yang terkenal berikut ini,
))
ً
َ
َ
أ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
و
َ
أ
َ
َ
ْ
َ
ـﻧ
ِ
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ُ
ٍ
ْ
ﺳا
ُ
ِ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
ﻣ ا
َ
ك
َ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
ِ
ِ
ِ
ِ
َ
ت
ْ
َ
ـﺛ
ْ
َ
ْ
ﺳا
ْ
و
َ
أ
َ
ِ
ﺑﺎ
َ
ِ
ِ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ـﻧ
َ
أ
ْ
و
َ
أ((
“Aku memohon kepadaMu dengan segenap namaMu atau yang Engkau
namai diriMu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah
seorang dari makhlukMu atau engkau turunkan di dalam kitabMu atau
yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisiMu”
326
ُ
َ
َ
َ
ﻬﻴ
ِ
ْ
ُ
أ
َ
و ﺎ
َ
ُ
د
َ
ُ
أ
ِ
ِ
ﱄﺎ
َ
ﻠﻟا
َ
و
ُ
مﺎ
َ
ْ
ﻷا
ُ
ْ
ﺪﻟا ﺎ
َ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
و
َ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
َ
َ
ْ
ﺪﻟا ا
ٍ
ك
ُ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ٍ
ك
ُ
ُ
ِ
ِ
ﰐآ
َ
و
"Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah 'azza wajalla adalah masa,
Dia berfirman: 'Aku adalah masa, siang dan malam adalah milik-Ku, Aku perbaharui
dan Aku pergilirkan, dan Aku datangkan para raja setelah para raja."
Ibnul Qayyim menyatakan tentang ini:
“Seseorang yang mencela masa di antara dua keadaan, ia pasti terjatuh dalam salah satu di antara kedua hal
berikut: Baik ia mencela Allah atau berbuat syirik kepada-Nya. Karena jika ia meyakini bahwa hanya
Allah-lah yang menciptakannya dan ia mencela seseorang yang melakukannya, maka ia telah mencela
Allah.” (Zaadul Ma’ad, jilid 3, hlm. 355)
325
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih Al-Bukhari, Jilid 9, hlm. 443, no. 583 dan Shahih Muslim
Jilid 4, hlm. 1257, no. 5823.
326
Musnad Ahmad, Jilid 1, hlm. 394, 452 dan dishahihkan dalam Silsilah al-Ahadits ash Shahihah, jilid 1, no.
199.
Islamic Online University Tafsir 202
202
Apa yang Allah simpan secara khusus untuk diri-Nya sendiri dalam ilmu ghaib di sisi-
Nya tidaklah dapat dibatasi ataupun diketahui.
Terkait dengan hadits Nabi yang lain yang menyatakan bahwa jumlah
nama-nama Allah yang indah dibatasi dengan bilangan tertentu,
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
د ﺎ
َ
ﻫﺎ
َ
ْ
َ
أ
ْ
َ
ﻣ ا
ً
ِ
ﺣا
َ
و
ِ
إ
ً
َ
ﺋﺎ
ِ
ﻣ ﺎ
ً
ْ
ﲰا
َ
ِ
ْ
ِ
َ
و
ً
َ
ْ
ِ
ِ
ِ
ن
ِ
إ
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus
kurang satu. Siapa yang menghitungnya (menjaganya) maka dia akan
masuk surga."
327
Kontradiksi yang nampak dari kedua hadits Nabi ini dapat dipadukan
dengan menjelaskan bahwa hadits yang baru saja disebutkan di atas merujuk pada
seseorang yang menghafalkan sembilan puluh sembilan nama Allah yang mana saja,
akan masuk surga. Hal ini sama seperti perkataan, “Aku memiliki 100 dirham yang
aku siapkan untuk sadaqah.” Pernyataan ini tidaklah bertentangan dengan kenyataan
bahwa aku memiliki lebih banyak uang dirham yang aku persiapkan untuk sesuatu
yang lain.
3. Nama-nama Allah tidaklah ditetapkan melalui akal namun melalui wahyu.
Nama-nama Allah bersifat tetap (tauqifiyah) melalui apa yang datang dalam syari’ah
dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi karena akal manusia tidak mampu
menggapai nama-nama apa yang layak bagi Allah. Oleh karena itu, membatasi nama-
nama tersebut sesuai dengan apa yang sudah diturunkan adalah wajib. Karena
menamai-Nya dengan apa yang Dia tidak menamai diri-Nya dengannya atau menolak
apa yang telah Dia namai diri-Nya adalah perbuatan dosa terkait dengan hak Allah.
Maka wajib untuk mengikuti adab-adab yang selayaknya terkait dengan hal ini.
4. Setiap nama Allah mengacu pada Dzat Allah, pada sifat yang terkandung dalam
nama itu dan pada akibat darinya jika berbentuk transitif.
Beriman kepada nama-nama Allah tidaklah sempurna tanpa menetapkan semua dari
nama-nama tersebut. Misalnya, terkait nama Allah yang bersifat intransitif, “Maha
Agung” (Adzim), beriman kepadanya tidaklah lengkap sampai ia juga beriman
kepadanya sebagai salah satu dari nama-nama Allah yang merujuk kepada Dzat-Nya
dan sifat ‘Keagungan’ (al-‘adzimah) yang terkandung di dalamnya. Kemudian terkait
327
Narrated by Aboo Hurayrah in Sahih Al-Bukhari, vol. 9, p. 363, no. 489. and Sahih Muslim, vol. 4, p.
1409, no. 6475.
Islamic Online University Tafsir 202
203
nama Allah yang bersifat transitif “Maha Pengasih” (ar-Rahman), keimanan yang
sempurna kepada nama ini mencakup menetapkannya sebagai salah satu dari nama-
nama Allah, bahwa ia mengandung sifat ‘kasih sayang’ (ar-rahmah) dan
akibat/dampaknya di mana Allah menunjukkan kasih sayang (rahmat) kepada siapa
saja yang Dia kehendaki.
Kaidah ke-Tiga
Ada empat sub-kategori terkait dengan sifat-sifat Allah
1. Semua sifat Allah mengandung keagungan, merupakan sifat-sifat
kesempurnaan, terpuji, tanpa cacat di segala sisinya.
Misalnya, Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Mendengar, Maha
Melihat, Maha Melihat, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, Maha Tinggi dsb.
Berdasarkan firman Allah ta’ala,

“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nahl 16: 60)
Jika suatu sifat menunjukkan kekurangan tanpa ada unsur kesempurnaan, sifat itu
mutlak tidak dapat disandarkan kepada Allah. Sebagai contoh, mati, bodoh, tidak
mampu, tuli, buta, dsb. Karena Allah ta’ala menyiksa orang-orang yang
menyandarkan kekurangan dan ketidaksempurnaan kepada diri-Nya dan Dia
menyucikan diri-Nya jauh di luar kekurangan yang mereka sandarkan kepada-Nya
karena sifat kurang dan tidak sempurna itu bertentangan dengan sifat Ketuhanan dan
Kekuasaan Allah (Rububiyah).
Jika sifat itu menunjukkan kesempurnaan dari satu sisi dan ketidaksempurnaan
dari sisi lainnya, maka penyandaran sifat ini tidak akan ditetapkan atau ditolak
sepenuhnya. Sebagai gantinya, harus ada perincian lebih lanjut: sifat itu akan
ditetapkan kepada Allah jika mengandung kesempurnaan dan akan ditolak jika
menunjukkan ketidaksempurnaan. Misalnya, merencanakan (membuat rencana),
menipu, dsb. Sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan ketika ia merupakan balasan
untuk perbuatan yang serupa karena itu menunjukkan bahwa pelakunya tidaklah
lemah dan tidak berdaya untuk melakukan yang serupa kepada musuh-musuhnya.
Islamic Online University Tafsir 202
204
Akan tetapi sifat ini menandakan kekurangan dan ketidaksempurnaan jika pada situasi
yang lain selain ini. Maka itu ditetapkan untuk Allah pada kasus yang pertama dan
ditiadakan pada kasus yang kedua. Sebagaimana Allah berfirman,







“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya
upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau
membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan
Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas
tipu daya.” (QS. Al Anfal 8: 30)



“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat
dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula)
dengan sebenar-benarnya.” (QS. Ath Thariq 86: 15-6)


“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah
akan membalas tipuan mereka” (QS. An Nisa 4: 142)
Jika diajukan pertanyaan, “Apakah Allah dapat digambarkan dengan menggunakan
istilah ‘membuat rencana’? Jangan katakan iya atau tidak. Tapi katakanlah bahwa Dia
membuat rencana bagi mereka yang berhak mendapatkannya, dan Allah Maha
Mengetahui.
Islamic Online University Tafsir 202
205
2. Sifat-sifat Allah dapat dibagi menjadi dua kategori: penegasan/positif dan
peniadaan/negatif.
Sifat yang merupakan penegasan adalah sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya,
seperti, Maha Hidup, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa. Sifat-sifat ini harus
ditetapkan bagi Allah sesuai dengan apa yang sesuai bagi-Nya, karena Allah
menetapkan untuk diri-Nya dan Dia Maha Mengetahui tentang sifat-sifat-Nya.
Sifat yang negatif (peniadaan) adalah sifat-sifat yang Allah tiadakan dari diri-
Nya, seperti, menganiaya. Sifat-sifat seperti ini harus ditiadakan dari Allah karena Dia
meniadakannya dari diri-Nya, tapi seseorang harus meyakini bahwa kebalikan dari
sifat-sifat itu merupakan sifat-sifat Allah dari sudut pandang yang paling sempurna,
karena peniadaan tidaklah sempurna sampai ia mengandung penetapan.
“Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun."
(QS. AL Kahfi 18: 49)
Maka wajib untuk menolak penyandaran sifat ‘menganiaya’ ini kepada Allah
dengan disertai keyakinan pada sifat Allah yang menjadi kebalikannya yakni keadilan
yang sempurna.
3. Sifat-sifat yang merupakan penegasan dapat dibagi lagi ke dalam dua kategori:
Dzatiyyah dan Fi’liyyah
Sifat Dzatiyyah adalah sifat yang disandarkan kepada-Nya sejak dulu, hingga sekarang
dan pada masa yang akan datang, seperti, “Maha Mendengar” dan “Maha Melihat.”
Sifat fi’liyyah adalah sifat-sifat yang terkait dengan kehendak-Nya; jika Allah
menghendaki Dia melakukannya dan jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak
melakukannya, seperti bahwa Allah beristiwa di atas ‘Arsy, atau bahwa Dia turun.
Mungkin juga bagi satu sifat untuk jatuh ke dalam dua kategori, baik Dzatiyyah
maupun Fi’liyyah, dari dua perspektif yang berbeda. Misalnya sifat Kalam (berbicara),
jika ditinjau dari segi asalnya maka sifat ini termasuk sifat Dzatiyyah, karena Allah lah
yang berbicara. Sementara jika ditinjau dari perspektif sebagian dari Kalam-Nya, ini
merupakan sifat fi’liyyah karena terkait dengan kehendak-Nya. Dia berbicara apa yang
Dia kehendaki dan ketika Dia menghendaki.
Islamic Online University Tafsir 202
206
4. Ada tiga pertanyaan yang dapat diajukan tentang setiap dan masing-masing dari
sifat-sifat Allah:
i) Apakah sifat itu harus dipahami secara harfiah dan mengapa?
Jawabannya adalah ya, karena prinsip dasar untuk memahami suatu
ucapan adalah berdasarkan maknanya yang sebenarnya (harfiah). Makna
harfiah tidak boleh dihindari [dengan beralih mempertimbangkan sifat
kiasan] kecuali jika ada dalil shahih yang mencegah darinya. [Misalnya,
Allah berfirman,


“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf,
50: 16)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah berada dalam diri manusia
karena urat leher berada di dalam leher manusia. Akan tetapi, makna
semacam itu akan mengisyaratkan bahwa manusia boleh menyembah
sesama manusia lainnya dan juga dirinya sendiri, yang mana kedua hal ini
haram hukumnya. Lebih lanjut lagi, Allah berfirman di tempat lain dalam
Al Quran bahwa,





“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka
dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada
mereka). (QS. An Nahl 16: 50)
Islamic Online University Tafsir 202
207
Nabi Muhammad juga menyatakan seorang budak wanita sebagai
seorang mukmin sejati berdasarkan jawaban yang ia berikan pada
pertanyaan beliau, “Dimana Allah?” bahwa Dia ada di atas langit.
328
]
ii) Apakah mungkin untuk menjelaskan bagaimana sifat itu dan
mengapa? Jawabannya adalah tidak, tidak diperbolehkan untuk
menggambarkan bagaimana (kaifiyah sifat-sifat Allah) berdasarkan firman
Allah,



“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa
yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak
dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaha 20: 110)
Akal manusia tidak akan mampu memahami bagaimana kaifiyah sifat
Allah itu. [Misalnya, akal manusia sulit memahami bagaimana mereka
bisa melihat; bagaimana gambar terbalik yang mengenai retina di bagian
belakang mata ditransformasikan menjadi sinyal yang dibaca oleh otak.
Untuk memahami bagaimana Allah melihat tanpa menggunakan alat mata
dsb., adalah mustahil.]
iii) Apakah sifat itu menyerupai sifat manusia dan mengapa? Jawabannya
adalah tidak, sifat-sifat ilahiyah tidak menyerupai sifat-sifat makhluk
sebagaimana Allah berfirman,

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-
lah yang Maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy Syura 42:
11)
328
Sahih Muslim (English Trans.), vol. 1, pp. 271-2, no. 1094
Islamic Online University Tafsir 202
208
Allah berhak atas kesempurnaan yang mutlak, sehingga tidak mungkin
bagi-Nya untuk serupa dengan makhluk karena itu merupakan tanda
ketidaksempurnaan.
Perbedaan antara penyerupaan (tamtsil) dengan mempertanyakan
bagaimana/membagaimanakan (takyif) yaitu bahwa tamtsil menggambarkan
bagaimana suatu sifat itu dalam hubungannya dengan sesuatu yang serupa dengannya,
sementara takyif menggambarkan bagaimana suatu sifat itu tanpa membatasinya
dengan sesuatu yang serupa. Misalnya, mengatakan bahwa tangan Allah seperti tangan
manusia adalah bentuk tamtsil, adapun membayangkan deskripsi tangan Allah yang
berbeda dengan setiap tangan makhluk adalah bentuk takyif. Penggambaran imajiner
ini dilarang [karena tidak didasarkan pada ilmu, dan setiap apa yang dipikirkan oleh
benak manusia adalah berdasarkan pada apa yang pernah diamati dengan inderanya
dari makhluk. Akibatnya, tangan yang dibayangkan akan menjadi gabungan dari
berbagai karakteristik makhluk, yang berarti bahwa tangan Allah akan dibuat serupa
dengan karakteristik makhluk-Nya.]
Kaidah ke-Empat
Terkait dengan apa yang digunakan untuk menyangkal mereka yang menolak nama-nama
dan sifat-sifat Allah (Al Mu’aththilah)
Mu’aththilah adalah mereka yang menolak setiap nama dan sifat Allah dengan
menyelewengkan makna-makna nash dan membelokkannya dari makna yang sebenarnya.
Mereka juga disebut sebagai ‘penakwil’ (al Mu’awwilah). Aturan umum untuk menyangkal
klaim mereka adalah dengan menunjukkan bahwa:
1. Takwilan-takwilan itu bertentangan dengan makna yang sebenarnya (zhahir)
dari nash-nash yang ada. [Misalnya, dalam istilah istiwa’ (tinggi di atas) yang
didapati dalam Al Quran,


“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang ber’istiwa di atas 'Arsy.”
(QS. Thaha 20: 5)
Islamic Online University Tafsir 202
209
Istilah ini ditafsirkan bermakna istaula (menguasai sesuatu) oleh Mu’tazilah
329
dan Asy’ariyah
330
untuk menghindari dari menetapkan konsep Allah tinggi di atas
‘Arsy-Nya yang mereka anggap itu sama artinya dengan menyerupakan Allah dengan
manusia yang duduk di atas singgasana.]
2. Mereka menyelisihi metodologi salaf. [Misalnya, ketika Imam malik ditanya tentang
bagaimana istiwa’nya Allah, beliau mengatakan kepada orang yang bertanya bahwa
‘istiwa’ dalam bahasa ‘Arab adalah ma’lum (diketahui), tentang bagaimana
kaifiyahnya (tata caranya) adalah majhul (tidak diketahui) dan menanyakan
tentangnya adalah bid’ah.
3. Al Mua’aththilah tidak memilki dalil yang shahih untuk mendukung pendapat
mereka. [Misalnya, penafsiran istaula (menguasai) untuk istiwa’ (tinggi di atas)
mengisyaratkan bahwa ‘Arsy Allah berada di bawah kekuasaan orang lain dan Allah
mengambil alih kekuasaan itu, yang mana ini merupakan konsep yang jauh lebih
buruk dari pada apa yang menurut persangkaan mereka telah mereka hindari [yaitu
untuk menyerupakan Allah dengan makhluk] dalam penafsirannya.
4. Pada permasalahan tentang sebagian sifat ada prinsip ke-empat atau lebih untuk
menyangkal mereka. [Misalnya, prinsip bahwa “Apapun yang dikatakan tentang dzat
329
Kelompok Mu‘tazilah adalah pengikut Waashil ibn ‘Atha’ yang mengeluarkan dirinya dari majlis al-Hasan
al-Basri dan menegaskan bahwa pelaku dosa berada dalam suatu tempat di antara keimanan dan kekafiran dan
bahwa mereka akan selamanya berada di dalam neraka. ‘Amr ibn‘ Ubaid mengikutinya dalam keyakinan ini.
Mereka menyangkal sifat Allah seperti orang-orang Jahmiyah, dan menyangkal Taqdir Allah ada kaitannya
dengan perbuatan manusia seperti Qadariyah, dan mengklaim bahwa orang yang melakukan dosa besar akan
selamanya berada di dalam neraka seperti klaim orang-orang Mu‘tazilah. (Syarh Lum‘atul-I‘tiqaad, hlm. 163)
330
Asy‘ariyah yang merupakan pengikut Abul-Hasan Hasan Ali ibn Ismaa‘il al-Asy‘ari (873-935). Ia dilahirkan
dan dibesarkan di Basra, tempat ia mendukung pemikiran Mu‘tazillah sebagai murid al-Jubbaaee, sampai ia
mencapai usia empat puluh dan ia secara terbuka mengumumkan taubatnya dan menjelaskan kesalahannya.
Lalu ia berpegang teguh pada jalan ahlus-Sunnah. Adapun mereka yang menamai diri mereka dari namanya
setelahnya, mereka terus mengikuti sekte tertentu, yang hanya mengakui tujuh sifat ilahi yang, menurut
mereka, menunjukkan kecerdasan manusia. Mereka menafsirkan sifat yang tersisa sebagai manifestasi dari
ketujuh yang disebutkan dalam baris puisi.
Mereka juga memiliki banyak pernyataan bid’ah lainnya mengenai makna bicara, kemampuan, dll.
(Syarh Lum'atulI'tiqaad, hlm. 163) Juga orang-orang Maturidi yang dinamakan demikian karena pendirinya
Abu Mansur Muhammad (w. 944), seorang teolog skolastik yang lahir di Samarkand, yang, bersama-sama
dengan kaum Asy’ariyyah dan yang lainnya adalah pendiri teologi skolastik ('Ilm al-Kalaam). Sedikit yang
diketahui tentang orang itu sendiri ketika alirannya menjadi mapan sebagai hasil tulisan para muridnya,
khususnya An-Nasafi. Perbedaan doktrinal antara aliran-aliran Maturidiyah dan Asy’ariyah secara tradisional
berjumlah 13, di antaranya tujuh adalah semantik. Perbedaan yang paling penting adalah bahwa al-
Maturidiyah berpendapat bahwa orang yang bertakwa diselamatkan karena keadilan mereka, sedangkan orang-
orang Asy’ariyah menyatakan bahwa kehendak Allah tidak dapat diduga; Dia mungkin memasukkan orang
yang bertakwa ke neraka.
(The Concise Encyclopaedia of Islam, p. 262)
Islamic Online University Tafsir 202
210
Allah bisa dikatakan itu adalah terkait dengan ciri-ciri-Nya. Maksudnya bahwa mereka
menerima bahwa Allah itu Hidup dan begitu pula manusia, akan tetapi, hidupnya
Allah tidak seperti hidupnya manusia. Maha Hidup Ilahiah adalah tidak berawal atau
berakhir dan itu tidak tergantung kepada siapa saja atau apa saja demi keberadaannya.
Sementara, kehidupan manusia memiliki awal dan akhir, serta tergantung pada Allah
demi keberadaannya. Demikian pula, bisa dikatakan bahwa Allah beristiwa’ di atas
‘Arsy tidaklah sama dengan seorang manusia yang duduk di atas singgasana.]
Jalan penafsiran ini bahkan menyebabkan mereka bersama dengan orang-orang
Khawarij
331
untuk menolak bahwa ‘Arsy Allah itu nyata dan benar adanya. Mereka
mengklaim bahwa ‘Arsy itu sebenarnya merujuk pada “kekuasaan” atau “dominasi.” Namun,
hal itu membawa pada permasalahan lebih jauh lagi dalam menafsirkan ayat:
331
Khariji (Ar. Khawaarij) yang berarti "orang-orang yang membelot" adalah sekte pertama yang muncul di
kalangan umat Islam. Sempalan Khawarij terjadi selama Perang Shiffin (657CE), ketika Mu‘aawiyah
mengajukan usulan kepada ‘Ali untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka mengenai hukuman para
pembunuh Khalifah‘ Utsmaan, yang telah memicu perang saudara. Mu‘aawiyah menyarankan agar masalah
tersebut dirujuk ke dua juru damai yang akan mengumumkan keputusan berdasarkan Al-Qur'an. Mayoritas
tentara ‘Ali siap menerima usulan ini. Namun, satu kelompok, terutama dari suku Tamim, dengan keras
memprotes didirikannya pengadilan manusia di atas penghakiman ilahi di medan perang. Mereka berpisah dari
‘tentara Ali, sementara dengan keras memprotes bahwa "Hukum/penghakiman adalah milik Allah saja (laa
hukma illaa lillaah)" dan mundur ke sebuah desa tidak jauh dari K ufah yang disebut Harurah. Di sana mereka
memilih sebagai kepala mereka seorang tentara tak dikenal bernama ‘Abdullaah ibn Wahb ar-Raasibi dan
mengambil nama Haruriyah atau Muhakkimiyah. Jumlah mereka meningkat karena pembelotan berturut-turut.
Ketika perdamian berakhir dengan buruk, sekelompok besar pendukung partisan Ali membelot dan
meninggalkan Kufah untuk bergabung dengan perkemahan Ibn Wahb di sepanjang sungai Nahrawaan. Dan
sehubungan dengan pembelotan ini maka nama Khawaarij atau Khaariji diberikan.
Fanatisme Khawarij segera memanifestasikan dirinya dalam serangkaian proklamasi dan aksi teroris
ekstremis. Mereka menyatakan batalnya kekhalifahan Ali, mengutuk khalifah 'perilaku Utsmaan dan mencap
‘Ali dan Mu‘aawiyah kafir bersama dengan siapa saja yang tidak menerima sudut pandang mereka. Mereka
melakukan banyak aksi pembunuhan yang melibatkan wanita dan anak-anak. Ketika jumlah mereka
bertambah, kerusakan mereka menyebar. Akhirnya Khalifah ‘Ali dipaksa untuk menetralisir ancaman mereka
dengan menyerang kamp mereka. Ibn Wahb dan sebagian besar pengikutnya terbunuh dalam Pertempuran
Nahrawaan, Juli 658. Khalifah ‘Ali sendiri dibunuh pada tahun 661 oleh seorang Khawarij,‘ Abdur-Rahmaan
bin Muljam, yang istrinya telah kehilangan sebagian besar anggota keluarganya di Nahrawaan.
Keyakinan: Khawarij berpendapat bahwa dosa besar membuat pelakunya menjadi murtad. Sayap ekstrem
mereka, orang Azraqi berpendapat bahwa siapa pun yang menjadi kafir dengan cara ini tidak akan pernah bisa
masuk kembali ke dalam iman dan harus dibunuh karena kemurtadannya bersama dengan istri dan anak-
anaknya. Semua Muslim non-Khawarij dianggap sebagai murtad. Atas dasar ini mereka mengembangkan
prinsip isti‘raad (pembunuhan agama), yang diterapkan sejak awal kemunculan gerakan, bahkan sebelum
dirumuskan secara teori. Prinsip ganas ini membentuk kontras yang aneh dengan semangat toleransi yang
diperlihatkan oleh kaum Khawarij kepada non-Muslim. Mereka lebih lanjut berpendapat bahwa menjadi
kewajiban agama untuk memberontak terhadap seorang Imam/penguasa yang berbuat dosa. (Shorter
Encyclopaedia of Islam, p. 246-8, The Concise Encyclopaedia of Islam, pp. 222-3, Maqaalaat Al-Islamiyyin,
vol. 1, pp. 167-8, al-Milal wan-Nihal, p. 106-110, dan Wastiyyah Ahlis-Sunnah bayna al-Firaq, pp. 291-2)
Islamic Online University Tafsir 202
211



“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada
hari itu delapan orang Malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas
(kepala) mereka.” (QS. Al Haqqah 69: 17)
Lebih lanjut lagi, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda,
))
َ
ْ
و
َ
أ
ُ
ِ
َ
َ
س
ْ
و
َ
د
ْ
ِ
ْ
ﻟا
ُ
ُ
َ
ْ
ﺳﺎ
َ
َ
ﻠﻟا
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ُ
ﻩا
َ
ر
ُ
أ
ِ
َ
ْ
ﳉا
َ
ْ
َ
أ
َ
و
ِ
َ
ْ
ﳉا
ُ
ِ
َ
ْ
ﺮﻟا
ُ
ش
ْ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻓ((
“Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus
karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah
diperlihatkan bahwa diatas Firdaus itu adalah singgasanannya Allah Yang
Maha Pemurah”
332
Para misionaris dan yang lain membantah bahwa karena Allah menyebutkan di sini
bahwasanya tidak ada seorang pun yang dapat merubah perkataan-Nya, kitab-kitab suci yang
diturunkan oleh Allah, yakni kitab-kitab suci terdahulu (Perjanjian Lama dan Injil serta yang
lainnya) pastilah benar karena semuanya adalah perkataan Allah. Akan tetapi makna yang
sebenarnya dari firman-Nya, Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-
kalimat-Nya” adalah bahwa kalimat-kalimat dalam Al Quran tidak akan berubah, karena
Allah telah berfirman sebelum ini, “apa yang diwahyukan kepadamu (wahai Nabi),” yang
berarti itu adalah Al Quran. Maka yang dimaksud di sini adalah Al Quran dan bukan kitab-
kitab suci lain sebelumnya. Adapun tentang kitab-kitab suci sebelumnya, mereka telah
dirubah-rubah setelah masa Nabi
sebagaimana yang difirmankan Allah,





332
Sahih Al-Bukhari, vol.4 , pp. 39-40, no. 48.
Islamic Online University Tafsir 202
212
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah Perkataan dari tempat-
tempatnya” (QS. An Nisa 4: 46)
333










“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab
dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah",
(dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan
perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa
yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah
bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah 2: 79)

Bagian terakhir dari ayat ini, Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat
berlindung selain dari padanya,” memberitahukan kepada Nabi
bahwa selain Allah,
Yang Maha Besar dan Maha Agung, beliau tidak akan mampu menemukan seseorang untuk
dimintai perlindungan. Oleh karena itu, kapan saja seseorang di timpa oleh sesuatu yang
buruk atau ketika ia takut terhadap sesuatu, ia hanya dapat berpaling kepada Allah. Ayat ini
serupa dengan firman Allah ta’ala,
333
Lihat juga Surat al Maidah 5: 13 & 41.
Islamic Online University Tafsir 202
213





“Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu
kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan".
Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat
melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan
memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya." (QS. Al Jinn 72: 22-
3)
334
Ayat ini mengandung perintah kepada Nabi untuk melaksanakan perintah-
perintah Allah yang telah diberikan kepada beliau. Bukan karena mungkin beliau tidak
melakukannya, namun untuk menekankan bahwa ini adalah kewajibannya dan jika beliau
tidak melakukannya beliau tidak akan diminta bertanggung jawaba untuk itu.



“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu
tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al Maidah 5: 67)
Ada berbagai ayat serupa dalam Al Quran yang memerintahkan kepada Nabi tentang
tanggung jawabnya dan inilah alasan mengapa pada hari ketika haji wada’, setelah
memberikan perintah umum kepada para jama’ah haji di Mina, beliau bersabda,
))
ٍ
تا
َ
َ
ث
َ
َ
ْ
َ
ْ
ﺷا
ُ
ﻠﻟا
َ
لﺎ
َ
ٍ
تا
َ
َ
ث
َ
َ
ْ
َ
َ
ـﻧ ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا((
334
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 57.
Islamic Online University Tafsir 202
214
“Ya Allah, saksikanlah. Apakah aku telah menyampaikan?" Mereka berkata:
"Ya." Tiga kali. Beliau berkata: "Ya Allah, saksikanlah." Beliau
mengucapkannya sebanyak tiga kali.
335
Ayat-ayat ini beserta sabda Nabi di atas juga menyelisihi mereka (yakni Syi’ah
atau sufi) orang-orang yang mengklaim bahwa ada sebagian dari risalah yang disembunyikan
dan bahwa bagian-bagian itu hanya disampaikan kepada beberapa orang khusus, padahal yang
sebenarnya, keseluruhan risalah amatlah gamblang,
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
َ
ْ
َ
ضﺎ
َ
ْ
ِ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
ُ
َ
أ
ِ
َ
ﺴﻟا و
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
ْ
ﺮﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
َ
و
ُ
ن
ُ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ْ
َ
َ
ر
َ
ذ
ً
َ
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ا
َ
ذﺎ
َ
َ
ٍ
ع
د
َ
ُ
ُ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ِ
ِ
َ
ن
ِ
إ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ُ
ب
ُ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ْ
َ
ِ
َ
و
َ
و
َ
ـﻨ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ِ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟا
َ
َ
ْ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ـﺗ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ِ
إ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻎﻳ
ِ
َ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
َ
ـﻓ ا
ً
ِ
َ
ً
َ
ِ
ْ
ﺧا ى
َ
َ
ـﻴ
َ
َ
ْ
ُ
ْ
ِ
ْ
ِ
َ
ْ
َ
ٌ
ِ
ﻟﺎ
َ
ِ
إ ي
ِ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ا
َ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ﻦﻳ
ِ
ِ
ﺷا
ﺮﻟا
ِ
ءﺎ
َ
َ
ُ
ْ
ﳋا
ِ
ُ
َ
و
ِ
ُ
ْ
ِ
ْ
ُ
ْ
ـﻓ
َ
َ
ِ
ِ
ﺟا
َ
ـﻨﻟﺎ
ِ
Dari Abdurrahman bin 'Amru As Sulami bahwasanya ia mendengar 'Irbadl bin
Sariyah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi kami satu
nasehat yang membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka kami
berkata kepada beliau: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ini merupakan nasihat
perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?" Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku telah tinggalkan untuk kalian
petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling
darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian
hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib
berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah
335
This text is from Sunan Abu Dawud, vol. p. , no. . Kitaab: Buyoo; Baab: fee wad’ir Ribaa. But it is also
collected in Sahih Al Bukhari, vol. Kitaab: Hajj; Baab: Khutbah Minaa and Sahih Muslim, vol. , p. , no. ,
Kitaab:
Islamic Online University Tafsir 202
215
para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu
dengan gigi geraham kalian.
336
Akan tetapi, terdapat riwayat shahih dari Abu Hurairah di mana disebutkan bahwa ia
menyampaikan sebagian ilmu dan menyembunyikan sebagian yang lain,
َ
ُ
ُ
َ
َ
أ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ءﺎ
َ
ِ
و
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
ْ
ِ
ُ
ْ
ِ
َ
ُ
م
ُ
ْ
ُ
ـﺒ
ْ
ﻟا ا
َ
َ
َ
ِ
ُ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ـﺑ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ُ
َ
ْ
ﻵا ﺎ
َ
أ
َ
و
ُ
ُ
ْ
َ
َ
َ
ـﻓ
"Aku menyimpan ilmu (hadits) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
pada dua wadah.
337
Yang satu aku sebarkan dan sampaikan, yang satu lagi
sekiranya aku sampaikan maka akan terputuslah tenggorokan ini."
338
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bagian yang disembunyikan
mengandung nama-nama dari para penguasa zalim, negeri mereka dan zaman di mana mereka
berkuasa. Abu Hurairah dulunya secara tidak langsung mengisyaratkan sebagian dari mereka,
tanpa terang-terangan menyebutkan nama mereka karena khawatir akan nyawanya. Misalnya,
beliau biasa berkata, “Aku berlindung dari suatu masa di awal tahun 60-an dan berkuasanya
anak-anak,” yang mengisyaratkan Khalifah Yazid, putra khalifah Mua’awiyah, yang berkuasa
pada tahun ke 60 setelah Hijrah. Allah mengabulkan doa Abu Hurairah dan beliau wafat satu
tahun sebelum tahun 60 H. Ibnul Munir mengatakan, “Kaum Batiniyah menggunakan hadits
ini untuk membenarkan kesesatan mereka di mana mereka meyakini bahwa syari’ah itu terdiri
aspek luar dan aspek dalam, dan bahwa esensi dari aspek dalam adalah meninggalkan aturan-
aturan agama. Akan tetapi, yang dimaksudkan Abu Hurairah dengan yang disembunyikan”
adalah bahwa orang-orang jahat itu akan semakin keras jika mereka mendengarnya
mengecam tindakan mereka dan melabeli jalan mereka sebagai jalan orang-orang yang
menyimpang.
339
336
Sunan Ibnu Majah, Kitab: Mukadimah, Bab: Mengikuti Sunna Khulafaur Rasyidin
337
This is a common Arabic linguistic euphemism in which the term “container” is used, but the knowledge
contained in it was intended. In some narrations “three containers” are mentioned; two were spread and one
was kept hidden. That is, if all that Aboo Hurayrah memorized were written it would have filled two or three
large containers.
338
Shahih Al Bukhari, Jilid 1, hlm. 89, no. 121.
339
Fat’hul-Baaree, vol. 1, p. 27, no. 120
Islamic Online University Tafsir 202
216







28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu
melewati batas.
Pada bagian pertama ayat ini,




“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya;” Allah
Islamic Online University Tafsir 202
217
memerintahkan Nabi dan orang-orang mukmin untuk duduk bersama dengan mereka yang
mengingat-Nya; mereka yang mengucapkan la ilaaha illa Allah, yang memuji-Nya,
mengagungkan-Nya, menyatakan kebesaran-Nya dan menyeru kepada-Nya dalam
peribadatan mereka dan untuk segala kebutuhan mereka, siang dan malam; semua hamba-
hamba Allah, baik ia kaya, miskin, kuat atau pun lemah.
340
Perintah dalam ayat tersebut adalah agar bersabar di atas ketaatan. Sabar umumnya
dikaitkan dengan ujian dan cobaan, akan tetapi sabar juga memiliki berbagai bentuk dan
keadaan. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa sabar itu diwajibkan dalam tiga bidang
kehidupan:
1. Dalam beribadah kepada Allah dan menaati perintah-perintah-Nya.
2. Dalam menjauhi perbuatan-perbuatan doa.
3. Dalam menerima taqdir dan hukum/keputusan Allah (qadha dan qadhar)
Ketiga bidang kesabaran ini dapat ditemukan disebutkan dalam nasehat yang
diberikan oleh Luqman kepada puteranya,





“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan
yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS.
Luqman 31: 17)
Amar ma’ruf (menyuruh pada kebaikan) termasuk mengerjakan perbuatan-perbuatan
baik itu sendiri dan mencegah dari perbuatan yang mungkar termasuk menjauhi perbuatan-
perbuatan yang mungkar.
340
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
218
Sabar dalam beribadah kepada Allah
Sabar dalam beribadah kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintahnya berarti
bahwa engkau melakukan amalan-amalan ibadah yang telah disyariatkan secara teratur, ikhlas
dan dengan ilmu. Ibadah yang tidak dilaksanakan secara teratur tidak ada nilainya. Di sisi
lain, ada dua bahaya dalam ibadah yang dilakukan secara teratur [I.e. berulang kali]: Pertama,
kita berisiko kehilangan keikhlasan kita, jika niat untuk melakukan sholat bukanlah untuk
mendapatkan ridha Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Karenanya, untuk melindungi
nilai ibadah kita, kita harus memastikan bahwa niat kita ikhlas karena Allah. Kedua, kita
harus yakin bahwa kita tidak pernah menyimpang dari jalan Nabi (), yakni dengan hanya
menyembah Allah menurut Sunnah.
341
Kita manusia memiliki asalnya adalah enggan/malas untuk melakukan ibadah, seperti
shalat wajib, karena rasa malas yang melekat dalam diri kita. Jika seorang manusia mengeras
hatinya dan melakukan banyak perbuatan mungkar, terlalu banyak memikirkan kesenangan
fisik dan bergaul dengan orang-orang yang tidak mengingat Allah, maka ia hampir-hampir
tidak melakukan shalatnya. Bahkan jika dia berhasil melaksanakan shalat, dia akan
melakukannya dengan linglung dan terburu-buru. [Ini termasuk amal ibadah yang dianjurkan
seperti shalat sunnah, membaca Al-Quran, menghadiri majlis taklim, dan sebagainya.]
Di setiap langkahnya, manusia membutuhkan kesabaran dalam melakukan ibadah.
Sebelum seseorang mulai melakukan ibadah, ia harus memastikan bahwa niatnya benar. Dia
harus memeriksa keikhlasannya, dan berusaha untuk tidak pamer/riya’ dalam melakukan amal
ibadah apa pun. Ketika ia melakukan setiap amal ibadah, apa pun itu, ia harus berusaha untuk
menyempurnakannya, untuk menjaga niatnya agar ikhlas dan pikirannya fokus pada
tujuannya melakukan amal ibadah itu, yaitu, untuk mendapatkan keridhaan Allah. Setelah
menyelesaikan suatu ibadah, ia juga harus menjauhkan diri dari melakukan sesuatu yang
dapat merusak ibadahnya. Allah telah memberitahukan kepada kita,


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima); (QS. Al Baqarah 2: 264)
341
Sabar dan Syukur, hlm. 16-8.
Islamic Online University Tafsir 202
219
Dia harus melatih kesabaran dalam menahan dari memuji dan merasa bangga
atas ketaatannya, karena hal ini lebih merusak dibandingkan jika ia mengerjakan
banyak perbuatan dosa lain yang lebih nampak. Demikian halnya, ia harus selalu
menjaga dan menahan diri dari menceritakan kepada orang lain tentang amal
ibadahnya.
342
Para ulama ahli tafsir umumnya mengomentari ayat, “Dan bersabarlah kamu
bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja
hari dengan mengharap keridhaan-Nya” diturunkan terkait dengan orang-orang
miskin dari kalangan kaum Muhajiran seperti Ammar, Shuhaib, Bilal, dan Ibnu
Mas’ud, ketika para pemuka kaum kafir Quraisy meminta agar Nabi mengusir mereka
dan duduk [menemui] mereka tanpa kehadiran mereka orang-orang miskin itu.
343
Meskipun riwayat ini lemah, namun ada hadits lain yang shahih yang semakna dengan
ini terkait ayat tersebut,
َ
لﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٍ
َ
َ
ـﻧ
َ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
َ
ُ
َ
ن
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
َ
ن
ُ
ِ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ء
َ
ُ
َ
ْ
د
ُ
ْ
ﻃا
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻠ
ِ
َ
ِ
ﻬﻴ
َ
ُ
أ
ُ
ْ
َ
ِ
ن
َ
ُ
َ
ر
َ
و
ٌ
ل
َ
ِ
َ
و
ٍ
ْ
َ
ُ
ْ
ِ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
و
ٍ
د
ُ
ْ
َ
ُ
ْ
ﺑا
َ
و
َ
َ
أ
ُ
ْ
ُ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
ِ
ْ
َ
ـﻧ
ِ
َ
َ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
َ
ءﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
و
َ
َ
و
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ل
َ
ْ
ـﻧ
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻧ
َ
ث
َ
َ
ْ
ُ
ـﺑ
َ
ر
َ
ن
ُ
ْ
َ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
ْ
د
ُ
ْ
َ
َ
َ
و}
{
ُ
َ
ْ
َ
و
َ
نو
ُ
ﺪﻳ
ِ
ُ
ِ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
ِ
ةا
َ
َ
ْ
ﻟﺎ
ِ
Dari Sa'ad dia berkata: "Pada suatu hari, kami berenam menyertai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian orang-orang musyrik berkata kepada
Rasulullah: 'Usirlah orang-orang yang tidak akan berani melawan kami! '
orang-orang tersebut adalah saya (Sa'ad), lbnu Mas'ud, seorang laki-laki dari
Hudzail, Bilal, dan dua orang laki-laki yang tidak saya kenal namanya. Tak
342
Sabar dan Syukur, hlm. 32-38.
343
Adhwaul Bayan, Jilid 4, hlm. 69. Akan tetapi, tidak ada riwayat shahih untuk mendukung klaim ini.
Islamic Online University Tafsir 202
220
lama kemudian terlintas sesuatu dalam benak Rasulullah dan mengatakannya
dalam hati. Maka Allah pun menurunkan firman-Nya:
{
ُ
َ
ْ
َ
و
َ
نو
ُ
ﺪﻳ
ِ
ُ
ِ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
ِ
ةا
َ
َ
ْ
ﻟﺎ
ِ
ْ
ُ
ـﺑ
َ
ر
َ
ن
ُ
ْ
َ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
ْ
د
ُ
ْ
َ
َ
َ
و}
"Janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan petang hari, sedangkan mereka sangatlah mengharapkan keridhaan-
Nya." (QS. Al An’am 6: 52)
344
Para pemimpin pada masa Nabi Nuh (alaihissalam) juga merendahkan Nabi
Nuh dan risalah yang beliau bawa dikarenakan kenyataan bahwa banyak dari
pengikutnya yang merupakan kaum papa, orang-orang miskin dan tidak berbudaya.









“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami
tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti
Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu,
melainkan orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya
saja, dan Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun
atas Kami, bahkan Kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang
dusta." (QS. Hud 11: 27)
345
Nabi Nuh juga menyangkal argumen mereka seraya berkata,
344
Shahih Muslim, Kitab: Keutamaan Sahabat, Bab: Keutamaan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
345
Lihat juga Surat Asy Syu’aro 42: 111
Islamic Online University Tafsir 202
221











“Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah
beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan
tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak Mengetahui". Dan (dia
berkata): "Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab)
Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil
pelajaran? (QS. Hud 11: 29-30)
346
Ayat ini mengandung perintah umum untuk mendampingi orang-orang yang benar dan
untuk berjuang dengan keinginan seseorang untuk menemani mereka dan bergaul dengan
mereka, bahkan jika mereka miskin dan berstatus rendah. Sebab, dalam menemani mereka
ada manfaat yang tak terhitung banyaknya.
347
Pentingnya untuk berteman dengan orang-orang yang baik ini ditekankan dalam
sejumlah hadits Nabi . Misalnya, tentang memilih teman:
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ﻦﻳ
ِ
د
َ
َ
ُ
ُ
ﺮﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ن
َ
أ
ُ
ِ
ﻟﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ْ
ُ
ْ
َ
ـﻴ
ْ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ﻠﻴ
ِ
َ
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Seorang laki-laki itu bergantung dengan agama teman gaulnya, maka
hendaklah salah seorang melihat siapa yang menjadi temannya bergaul."
348
346
Lihat juga Surat Asy Syu’aro 42: 114-5
347
Taisirul Karimir Rahman
348
Sunan Abu Dawud, Kitab: Adab, Bab: Orang yang Layak dijadikan Teman
Islamic Online University Tafsir 202
222
Dalam memilih teman duduk,
َ
لﺎ
َ
ٍ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
))
َ
و
َ
ْ
ﳉا
ُ
َ
َ
ِ
ﺲﻴ
ِ
ْ
ِ
َ
َ
ﺑﺎ
َ
َ
أ
ٌ
ء
ْ
َ
ُ
ْ
ِ
َ
ْ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ن
ِ
إ
ِ
ْ
ِ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ﺣﺎ
َ
ِ
َ
َ
َ
ِ
ِ
ﻟﺎ
ﺼﻟا
ِ
ِ
دا
َ
َ
ْ
ِ
َ
ْ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ن
ِ
إ
ِ
ِ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ﺣﺎ
َ
ِ
َ
َ
َ
ِ
ء
ﺴﻟا
ِ
ﺲﻴ
ِ
َ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ِ
ِ
ر
ِ
ِ
ﻧﺎ
َ
ُ
د
ْ
ِ
َ
َ
ﺑﺎ
َ
َ
أ((
Dari Anas ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Dan
permisalan kawan yang baik adalah seperti pemakai minyak wangi, jika kamu
tidak mendapatkannya maka kamu mendapatkan bau harumnya, Dan
permisalan kawan yang buruk adalah seperti tukang besi, jika kamu tidak
mendapatkan hitamnya, maka paling tidak kamu akan mendapatkan
asapnya."
349
َ
لﺎ
َ
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
))
ْ
ن
َ
َ
ُ
ْ
ﺸﻟا
َ
ُ
ْ
َ
َ
ِ
ةا
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ة
َ
َ
ْ
ِ
َ
ﱃﺎ
َ
َ
ـﺗ
َ
ﻠﻟا
َ
نو
ُ
ُ
ْ
َ
ٍ
م
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻗ
َ
أ
ِ
إ
ِ
َ
َ
و
ْ
ِ
ً
َ
َ
ـﺑ
ْ
ر
َ
أ
َ
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ن
َ
أ
ْ
ِ
َ
ِ
إ
َ
َ
أ
ٍ
م
ْ
َ
ـﻗ
َ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻗ
َ
أ
ْ
ن
َ
َ
َ
و
َ
ﻞﻴ
ِ
َ
ْ
ْ
ن
َ
أ
ْ
َ
َ
ِ
إ
َ
َ
أ
ُ
ْ
ﺸﻟا
َ
ب
ُ
ْ
َ
ـﺗ
ْ
ن
َ
أ
َ
ِ
إ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ة
َ
َ
ْ
ِ
َ
ﻠﻟا
َ
نو
ُ
ُ
ْ
َ
ً
َ
َ
ـﺑ
ْ
ر
َ
أ
َ
ِ
ْ
َ
أ((
Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah
Ta'ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku
349
Sunan Abu Dawud, Kitab: Adab, Bab: Orang yang Layak dijadikan Teman
Islamic Online University Tafsir 202
223
membebaskan empat anak Isma'il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu
kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat 'Ashar hingga matahari
tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat
orang."
350
Kalimat,
,
“dengan berharap keridhaan-Nya” berarti bahwa mereka
hanya mencari keridhaan Allah dengan ibadah dan doa mereka.
351
Hal ini merujuk pada
ikhlasnya niat yang dibutuhkan agar seseorang bisa mendapatkan manfaat (pahala) dari
amalannya.
352
Tanpa adanya niat yang ikhlas, amalan-amalan ketaatan akan menjadi
kebiasaan yang tidak memiliki jiwa yang tidak mampu memberikan manfaat bagi orang-orang
yang melakukannya. Akibatnya, meskipun Allah telah mengkhabarkan bahwa shalat wajib
bisa mencegah dari perkataan dan perbuatan mungkar,

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. (QS. Al Ankabut 29: 45)
Banyak dari orang-orang yang mereka shalat dengan teratur namun tidak mampu
menahan dirinya dari berdusta, mengucapkan kata-kata keji, mengadu domba dan perbuatan-
perbuatan dosa lainnya yang melibatkan anggota badan,

“Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan
perhiasan dunia ini.” Dalam potongan ayat ini, Allah melarang Nabi-Nya dari memalingkan
pandangannya dari orang-orang yang miskin dan lemah dari kalangan orang-orang yang
beriman, dengan harapan untuk memenangkan orang-orang kaya dan para pembesar mereka
350
Sunan Abu Dawud, Kitab: Ilmu, Bab: Penjelasan tentang kisah.
351
Fathul Qadir, Jilid 3, hlm. 389.
352
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 61
Islamic Online University Tafsir 202
224
karena harta benda dunia mereka serta kekuasaan mereka. Akan tetapi, ini juga mengandung
larangan umum dari memandang gemerlap dan kemewahan kehidupan dunia, yang
disebutkan pula di tempat lain dalam Al Quran. Misalnya,




“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah
Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga
kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia
Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha 20: 131)
353
Nabi
juga mendorong agar umatnya menghindari dari memandang kepada orang-
orang kaya dan bangsawan karena bahaya yang ditimbulkannya pada hati.
َ
لﺎ
َ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ِ
إ او
ُ
ُ
ْ
ﻧا
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ او
ُ
ر
َ
د
ْ
َ
ـﺗ
َ
ْ
ن
َ
أ
ُ
ر
َ
ْ
َ
أ
َ
ُ
َ
ـﻓ
ْ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻓ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ِ
إ او
ُ
ُ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
و
ْ
ُ
ْ
ِ
ﻠﻟا
َ
َ
ْ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang
ada di atas kalian, itu lebih baik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat
Allah."
Dan karena manusia tidak dapat kecuali memandang orang-orang yang lebih
beruntung dari mereka, Nabi
menasehati mereka yang melakukan hal itu agar juga
memandang orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan diri mereka.
353
Lihat juga Surat Al Hijr 15: 88
Islamic Online University Tafsir 202
225
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
ْ
َ
َ
َ
ْ
َ
أ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ِ
إ
ْ
ُ
ْ
َ
ـﻴ
ْ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
َ
ْ
ﳋا
َ
و
ِ
لﺎ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ْ
َ
َ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ِ
إ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ِ
ُ
ْ
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: "Jika salah seorang diantara kalian melihat orang yang dilebihkan
harta dan fisiknya, maka hendaknya dia melihat orang yang ada
dibawahnya."
354
Penting kiranya untuk menanyakan kepada diri sendiri, “Berapa banyak orang miskin
yang aku ketahui? Berapa kali aku mengunjungi mereka dan mengundang mereka untuk
datang kerumahku?” Bahkan seorang muslim yang berniat baik sekalipun cenderung untuk
berteman dan berhubungan dengan orang lain berdasarkan status mereka sendiri.
َ
لﺎ
َ
ر
َ
ذ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ة
َ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
َ
ِ
ْ
َ
أ
ُ
ْ
ُ
ِ
َ
ﻨﻳ
ِ
َ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
ْ
َ
ِ
إ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
َ
ن
َ
ـﻗ
َ
ْ
ﻷا
ْ
ُ
َ
ﻦﻳ
ِ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
ِ
ْ
َ
َ
و
ِ
ِ
ﻨﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ﻋ ا
َ
َ
َ
َ
و ا
َ
َ
َ
َ
و ا
َ
َ
َ
ْ
ُ
ﻫ ﺎ
َ
ٌ
ﻞﻴ
ِ
َ
َ
و
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
َ
و
ِ
ِ
ﻟﺎ
Dari Abu Dzarr ia berkata: Pada suatu senja, aku berjalan bersama Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam di tanah berbatu-batu hitam Tiba-tiba
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku dan bersabda: “Sungguh
orang-orang yang berbanyak-banyak (mengumpulkan harta) akan menjadi
sedikit (melarat) pada hari kiamat, kecuali orang yang berkata seperti ini,
seperti ini dan seperti ini!" Sambil mempraktekkan ke kanan, kiri dan
belakangnya- kecuali hanya sedikit dari mereka yang seperti itu.”
355
354
Shahih Al-Bukhari (Arab-Inggris), jilid. 8, hlm. 328, no. 497, dan Shahih Muslim (English Trans.), vol. 4, p.
1530, no. 7070.
355
Shahih al-Bukhari, (Arab-Inggris), jilid 8, hlm. 302-3, no. 451.
Islamic Online University Tafsir 202
226
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
أ
ي
ِ
ِ
ﻋﺎ
ﺴﻟا
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ ا
َ
َ
ِ
َ
ُ
ْ
أ
َ
ر
َ
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
ُ
َ
ْ
ِ
ٍ
ُ
َ
ﺮﻟ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ْ
ن
َ
أ
َ
َ
َ
ْ
ن
ِ
إ
ي
ِ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
و ا
َ
َ
ِ
سﺎﻨﻟا
ِ
فا
َ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ْ
ن
َ
أ
َ
َ
َ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
ُ
َ
ﺧآ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ ا
َ
َ
ِ
َ
ُ
ْ
أ
َ
ر
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٌ
ُ
َ
ر ا
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ْ
ن
َ
أ
َ
َ
َ
ْ
ن
ِ
إ
ي
ِ
َ
ا
َ
َ
َ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ءا
َ
َ
ُ
ـﻓ
ْ
ِ
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ْ
ن
َ
أ
َ
لﺎ
َ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
َ
ُ
َ
ْ
ن
َ
أ
َ
َ
َ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
ا
َ
َ
َ
ْ
ِ
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
ِ
ء
ْ
ِ
ْ
ِ
ٌ
ْ
ـﻴ
َ
ﺧ ا
َ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
Dari Sahl bin Sa'd As Sa'idi bahwa seorang laki-laki melintasi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, lantas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
kepada orang yang duduk di dekat beliau: "Apa pendapat kalian dengan laki-
laki ini?" Maka seorang yang terpandang menjawab: 'Demi Allah, bahwa dari
bangsawan, bila dia meminang, pasti akan diterima, dan bila dimintai bantuan
pasti akan dibantu.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diam. Beberapa saat
kemudian, lewatlah seorang laki-laki lain, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bertanya kepadanya: 'Apa pendapatmu dengan orang ini? ' Dia
menjawab: 'Wahai Rasulullah, menurutku: orang ini adalah orang termiskin
dari kalangan kaum Muslimin, apabila ia meminang sudah pantas pinangannya
untuk ditolak, dan jika dimintai pertolongan dia tidak akan ditolong, dan
apabila berkata: maka perkataannya tidak akan didengar.' Maka Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Sungguh orang ini (orang yang terlihat
miskin) lebih baik dari dunia dan seisinya daripada orang yang ini (yaitu
orang yang kelihatanya bangsawan).'
356
356
Shahih Al Bukhari, 8/304-5/454
Islamic Online University Tafsir 202
227
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari
mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati
batas.”
Di bagian akhir ayat ini, Allah melarang Nabi
dari mematuhi atau menuruti
permintaan orang-orang yang hatinya telah Allah lalaikan dari mengingat Allah, seperti
mereka yang meminta kepada beliau agar mengusir orang-orang miskin dari pertemuan.
Mereka meminta agar orang-orang yang menyeru kepada tuhan mereka dengan sebenar-
benarnya ini dikeluarkan, sementara mereka sendiri lalai dari mengingat-Nya. Lebih lanjut
lagi, mereka mengikuti hawa nafsunya dan lebih memilih menurutinya dibandingkan
mengikuti kebenaran; mereka memilih kesyirikan di atas tauhid.
357
Meskipun Nabi meniatkan kebaikan dengan mengundang orang-orang ini, karena
masuknya mereka ke dalam Islam akan menjadikan kaum muslimin kuat di Mekkah, Allah
melarang beliau dari melakukan itu. Demikian pula, jika mereka yang sedang berusaha
menerapkan apa yang benar, didorong untuk melakukan apa yang tidak diridhai Allah,
mereka tidak boleh menerima saran mereka karena mereka akhirnya akan dimurkai Allah
sehingga tujuan yang dicari tidak akan diridhai Allah pula.
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari
mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa bagian dari ayat ini mengandung pengingkaran
terhadap kedua sekte Qadariyyah. Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati seorang hamba
lalai dari mengingat-Nya, maka lalailah ia. Perbuatan untuk menjadikan lalai ini adalah
perbuatan Allah, sementara kelalaian itu sendiri adalah perbuatan makhluk. Allah kemudian
memberitahukan tentang ia mengikuti hawa nafsunya, yang pada kenyataannya merupakan
perbuatan makhluk.
358
357
Fathul Qadir, vol. 3, p. 390.
358
Ad Daw’al Munir ‘ala at-Tafsir, jilid 4, hlm. 156.
Islamic Online University Tafsir 202
228









29. Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka
Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami
telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya
mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya
mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih
yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan
tempat istirahat yang paling jelek.”

Kata perintah Katakanlah,” ditujukan kepada Rasulullah yang memerintahkan
beliau agar mengumumkan bahwa “Kebenaran (secara umum) itu datangnya dari
Tuhanmu,” dan bukan dari seorang pun selain-Nya. Maka, kebenaran tidak boleh dicari dari
jalan apa pun selain dari jalan yang telah ditetapkan oleh Allah.
359
Ayat ini memerintahkan
kepada Nabi untuk mengingatkan manusia bahwa semua kebenaran itu datangnya dari Allah
karena manusia umumnya menyangka bahwa kebenaran itu adalah apa yang disepakati oleh
kebanyakan manusia. Akan tetapi, yang benar tentang kebenaran itu adalah bahwa itu
359
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 62
Islamic Online University Tafsir 202
229
datangnya dari Allah dan apa saja yang dipikirkan manusia atau yang mereka lakukan yang
bertentangan dengan kebenaran yang berdasarkan wahyu ilahi maka itu adalah kebatilan.
“Kebenaran” itu juga bisa merujuk kepada Al Quran. Maka ayat ini akan bermakna,
“Kebenaran yang aku bawa kepadamu dalam Al Quran yang luar biasa ini, yang mengandung
[ajaran-ajaran] agama Islam, datangnya dari tuhanmu, subhanahu wata’ala. Itu bukanlah
bukanlah berasal dari syetan, bukan pula dari ramalan-ramalan, bukan pula cerita-cerita kuno,
atau apa saja selainnya. Itu adalah dari Penciptamu yang harus ditaati dan satu-satunya patut
disembah. Tidak ada yang datang dari-Nya selain dari informasi yang mengandung kebenaran
dan hukum yang adil, dan tidak ada kebenaran selain apa yang datang dari-Nya.” Kenyataan
ini disebutkan dalam tempat yang lain dalam Al Quran, misalnya:




“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
Termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah 2: 147)
360
Pernyataan ini juga bisa berarti, “Katakanlah kepada manusia, ‘Apa yang aku bawa
kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran, di mana tidak ada kebingungan atau keraguan di
dalamnya.’”
361
[Jalan] Petunjuk menjadi jelas dari [jalan] kesesatan, ciri-ciri orang-orang
yang berbahagia dan ciri-ciri orang yang akan binasa juga dijelaskan secara gamblang oleh
Allah melalui lisan Rasul-Nya.
362
Pada pernyataan selanjutnya, “Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah
ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir," perintah “Biarlah ia
kafir,” merupakan tantangan dan peringatan serta bukanlah pernyataan yang mengandung
diperbolehkannya. Hal ini diisyaratkan dengan pernyataan yang mengikutinya,
360
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 72.
361
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
362
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 552.
Islamic Online University Tafsir 202
230




“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang
gejolaknya mengepung mereka.” Ini berarti bahwa barang siapa yang kafir maka ia akan
menghadapi api neraka yang telah dipersiapkan bagi mereka.
363
Dengan demikian, dengan
kebenaran yang jelas dari kebatilan, hanya ada dua jalan yang harus diikuti dalam kehidupan
ini, menurut apakah Allah merahmati seseorang atau tidak. Lebih jauh, Allah telah membekali
manusia dengan kehendak bebas untuk memilih antara beriman atau kafir, baik atau buruk.
Siapa pun yang memilih untuk beriman maka ia telah dirahmati sehingga mampu menemukan
kebenaran dan siapa saja yang kafir maka ia tidak memiliki alasan untuk pilihannya yang
buruk itu, karena bukti-bukti dan dalil-daliltelah diberikan kepadanya dan ia tidak dipaksa
untuk beriman, seperti yang firmankan oleh Allah subhanahu wata’ala:
 
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya
telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah 2:
256)
364
Istilah “orang-orang yang zhalim” dalam ayat, “Sesungguhnya Kami telah
sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka”
mengacu pada orang-orang kafir sebagaimana firman Allah,
 
“Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah
2: 264)
Tidak ada yang lebih zhalim dibandingkan dengan seorang yang tidak beriman kepada
Allah atau seorang yang menjadikan sekutu di sisi-Nya sementara Dia-lah yang
363
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 62-3.
364
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 552-3.
Islamic Online University Tafsir 202
231
menciptakannya, yang memberinya rezeki, dan mencukupi segala sesuatu baginya untuk
hidup di dunia ini.



“Neraka, yang gejolaknya mengepung mereka,” berarti bahwa mereka tidak akan
mampu untuk melarikan diri dari neraka.
365
Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi
bersabda,
))
َ
ِ
َ
ْ
ر
َ
أ
ِ
ة
َ
ِ
َ
ُ
ْ
ِ
ٍ
را
َ
ِ
ُ
ُ
َ
ِ
ٍ
ر
ُ
ُ
ُ
َ
َ
ـﺑ
ْ
ر
َ
أ
ِ
رﺎﻨﻟا
ِ
ق
ِ
دا
َ
ُ
ِ
ً
َ
َ
((
"Tenda neraka memiliki empat dinding yang tebal. Setiap dinding memiliki
ketebalan semisal jarak empat puluh tahun."
366
  
“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan
air seperti besi yang mendidih
367
yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang
paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”
Ini berarti bahwa ketika para penduduk neraka merasakan haus yang teramat sangat
dikarenakan makan dari pohon yang bernama az zaqqum dan yang lainnya [dari makanan-
makanan neraka yang mengerikan] lalu mereka meminta air, mereka akan diberi cairan dari
besi yang mendidih, atau sesuatu yang mengerikan seperti endapan minyak yang bahkan mata
pun memberontak tidak ingin melihatnya, sebagaimana Firman Allah ‘azza wajalla,
365
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 63.
366
Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Sfat Jahannam, Bab: Gambaran minum penghuni neraka.
367
Al Muhl dalam ash –Shihah adalah besi yang mendidih/mencair. Menurut Ibnul Arabi itu adalah besi yang
mendidih dan menurut sebagian ulama yang lain itu adalah muntahan dan nanah. (al-Jaami’ li Ahkam al-
Quran, jilid 10, hlm. 328)
Islamic Online University Tafsir 202
232








“Di hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air
nanah. Diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa
menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap
penjuru, tetapi Dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab
yang berat. (QS. Ibrahim 14: 16-7)
Ketika air mendekati wajah mereka, air itu akan menjadikan mereka melepuh dan kulit
wajah mereka akan jatuh dari tulang tengkorak mereka karena panas yang menyengat dan
ketika mencapai usus mereka maka air itu akan mencabik-cabik mereka, sebagaimana firman
Allah yang Mahakuasa:


“Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong
ususnya.” (QS. Muhammad 47: 15)
Betapa menyakitkannya bagi seseorang yang ususnya terkoyak di dalam dirinya.
Namun terlepas dari itu, kulitnya akan diganti terus menerus,



“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak
akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka
Islamic Online University Tafsir 202
233
hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka
merasakan azab.” (QS. An Nisa 4: 56)
368
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ِ
ْ
ﺰﻟا
ِ
َ
َ
َ
ﻛ{
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟﺎ
َ
}
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ِ
ِ
ْ
َ
و
ُ
ة
َ
و
ْ
َ
ـﻓ
ْ
َ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ِ
إ
َ
ب
ُ
ـﻗ
Dari Abu Sa'id Al Khudri dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau
bersabda: "{Seperti besi yang mendidih} yaitu seperti endapan minyak, apabila
didekatkan maka wajahnya (penghuni neraka) niscaya jatuh mengelupas ke
dalamnya."
369
Ini hanyalah sedikit dari banyak gambaran siksaan yang dipersiapkan bagi penghuni
neraka yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah menggambarkan mereka dalam hal yang
tidak ada seorang pun manusia yang akan menikmatinya. Kenyataan mereka berada jauh di
luar penggambaran ini.
368
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 63
369
Sunan at-Tirmidzi, Kitab: Sifat Jahannam, Bab: Gambaran minuman penghuni neraka.
Islamic Online University Tafsir 202
234



30. “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah
Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”
Ini adalah sebuah contoh dengan gaya penuturan Al Quran bahwa kapan saja Allah
menyebutkan tenta para penghuni neraka, Dia juga menyebutkan tentang para penghuni surga.
Dan inilah sebagian makna dari,
“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran
yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang.” (QS. Az Zumar 39:
23)
Yakni, maknanya, keadaan dan deskripsinya diulang-ulang dengan tujuan agar
manusia bisa mengumpulkan antara rasa takut dan harapan dalam jalan yang ia tempuh
menuhu Rabb-nya.
370
Bahkan disebutkan bahwa berapa kali banyaknya neraka disebutkan dalam Al Quran
persis sama dengan berapa kali banyaknya surga disebutkan.
 
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh,”
370
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 64.
Islamic Online University Tafsir 202
235
Yakni, mereka yang menggabungkan antara beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan taqdir yang baik dan yang buruk dengan amal shaleh
dari amalan-amalan yang wajib dan sunnah.
371
“Tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan
amalan(nya) dengan yang baik.”
Allah tidak mengatakan, “Kami tidak akan membiarkan pahala mereka hilang,” untuk
menjelaskan alasan untuk pahala mereka, yang merupakan kesempurnaan amalan mereka.
Sebagaimana Allah berfirman,



“Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
(QS. Ar Rahman 55: 60)
372
Konsep ini telah dijelaskan dalam banyak ayat yang lainnya, misalnya:




“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari
Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
beriman.” (QS. Ali Imran 3: 171)
371
Taisirul Karimir Rahman, hlm. 553.
372
Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, pp. 64-5
Islamic Online University Tafsir 202
236
“Tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan
amalan(nya) dengan yang baik,” merujuk pada pahala orang-orang yang beriman. Karena
orang-orang kafir yang sempurna amalan kebaikannya, pahala untuk amalan itu akan hilang di
akhirat.
373



“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-
hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk
orang-orang merugi.” (QS. Al MAidah 5: 5)
Dalam pengertian umum, kesempurnaan amalan membutuhkan dua prinsip:
1. Ikhlas hanya kepada Allah, ‘azza wa jalla
2. Mengikuti jalan (ajaran) Rasulullah
Ayat yang mulia ini mendorong kesempurnaan setiap amalan.
374
Lebih lanjut, ayat ini juga
mengandung jaminan bagi orang-orang yang beriman bahwa tidak peduli sekecil apa amal
shalih yang nampak mereka kerjalan, itu akan tetap diberi pahala. Oleh karena itu mereka
harus bersegera melakukan amal shalih.
Perlu dicatat bahwa Allah berfirman bahwa 'Dia tidak akan menyebabkan hilangnya
pahala dari orang yang menjadikan baik amal perbuatannya’ dan bukan orang yang
melakukan banyak perbuatan baik. Ini berarti bahwa yang penting bukanlah kuantitas
perbuatan baik tetapi kualitas perbuatan itu sendiri. Nabi () menggambarkan fakta ini
dengan menyebutkan bahwa tiga kelompok pertama manusia yang akan dilemparkan ke
dalam Api Neraka adalah orang-orang yang melakukan perbuatan besar (syuhada, ulama dan
orang-orang amal) karena tidak adanya keikhlasan dalam amal perbuatan mereka itu.
375
373
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol. 10, p. 328
374
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, pp. 64-5
375
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah yang Maha tinggi dan Maha
suci akan turun kepada hamba pada Hari Kiamat untuk memberikan keputusan di antara mereka. Dan setiap
umat dalam kondisi berlutut. Kemudian orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal Al-
Qur`an, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang banyak harta. Maka Allah berkata kepada sang
qari` (orang yang biasa membaca Al-Qur`an): ‘Tidakkah Kuajarkan kepadamu apa yang saya turunkan
kepada RasulKu?’Dia menjawab: ‘Benar wahai Tuhanku’. Allah berkata lagi: ‘Apa yang kamu perbuat
Islamic Online University Tafsir 202
237








terhadap apa yang sudah kamu ketahui itu?’ Dia menjawab: ‘Saya menjalankannya sepanjang malam dan
sepanjang siang’. Maka Allah berkata: ‘Kamu telah berdusta’. Dan para Malaikat berkata kepadanya:
‘Kamu telah berdusta’. Kemudian Allah berkata kepadanya: ‘Justru kamu melakukan hal itu dengan maksud
agar dikatakan: Si fulan adalah qari`’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu. Kemudian didatangkan orang
yang mempunyai banyak harta. Allah berkata kepadanya: ‘Tidakkah sudah Kulimpahkan harta kepadamu
hingga kamu tidak membutuhkan siapa pun?’ Orang itu menjawab: ‘Benar wahai Rabbku’ Allah bertanya
lagi: ‘Apa yang kamu kerjakan terhadap harta yang Kuberikan kepadamu itu?’ Dia menjawab: ‘Saya
menggunakannya untuk menyambung silaturrahmi dan bersadaqah’. Allah berkata kepadanya: Kamu telah
berdusta’. Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta.’ Kemudian Allah berkata: ‘Justru
kamu melakukan itu dengan maksud agar dikatakan: Si Fulan adalah lelaki yang dermawan’. Dan hal itu
sudah dikatakan kepadamu. Kemudian didatangkan orang yang terbunuh di jalan Allah. Maka Allah berkata:
‘Dalam rangka apa kamu terbunuh?’ Dia menjawab: ‘Saya diperintah berjihad di jalan Engkau. Maka saya
berperang hingga terbunuh’. Allah berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Para Malaikat juga berkata
kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Allah berkata: ‘Justru kamu melakukan itu agar dikatakan kepadamu: Si
Fulan adalah pemberani’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam menepuk kedua lututku sambil berkata: ‘Wahai Abu Hurairah! Ketiga golongan itu adalah makhluk
yang pertama kali Neraka dinyalakan untuk mereka pada Hari Kiamat’.”
(Authenticated in Saheeh at-Targheeb wat-Tarheeb, no. 20. The parts between the square brackets [ ] are from
other authentic narrations. This narration is also found in Saheeh Sunan at-Tirmithee vol. 2, pp. 281-2,
no.1942.)
Islamic Online University Tafsir 202
238
31. Mereka Itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn,
mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi
dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera
Halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di
atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan
tempat istirahat yang indah;
Ayat ini menggambarkan pahala bagi orang-orang yang shalih yang disebutkan dalam
ayat sebelumnya; yakni mereka yang beriman dan beramal shalih. Ada sejumlah ayat yang
serupa dalam Al Quran yang di dalamnya diberikan penjelasan yang lebih rinci. Misalnya,
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Insan yang dimulai dengan,





“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas
(berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (QS. Al Insan 76:
5) dan berlanjut sampai dengan ayat 22.
376
Orang-orang yang disebutkan dalam, Mereka Itulah (orang-orang yang) bagi
mereka surga 'Adn,” adalah mereka yang beriman dan beramal sholeh dan surga (taman-
taman) itu berada di tempat kediaman yang disiapkan oleh Allah untuk mereka, berisi apa-apa
yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga atau pun terfikirkan dalam
benak manusia. Di antara faktor-faktor yang membuat kesenangan taman ini menjadi
sempurna adalah bahwa tidak ada seorang pun di dalamnya yang akan melihat orang lain
memiliki kesenangan lebih daripada dirinya. Demikian juga, di antara faktor-faktor yang
melengkapi siksa bagi para penghuni Neraka adalah bahwa tidak seorang pun akan melihat
orang lain memiliki hukuman yang lebih berat daripada dia. Alasan mengapa para penghuni
376
Lihat juga surat Al Waqi’ah, 56: 10-38 (Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 77-8)
Islamic Online University Tafsir 202
239
surga tidak akan melihat siapa pun selain mereka memiliki kesenangan yang lebih banyak dari
mereka adalah bahwa kesenangan mereka akan terganggu dengan melihat bahwa nikmat yang
mereka terima itu kurang dari orang lain.
Istilah Jannaatu ‘adn (Surga Eden) juga dikatakan merujuk pada taman di pusat surga,
dikelilingi oleh taman-taman lainnya. Bentuk jamak digunakan karena luasnya, dimana setiap
bidang di dalamnya bisa menjadi taman itu sendiri.
377
“Mengalir sungai-sungai di bawahnya,” yakni merujuk pada empat jenis sungai berikut ini
yang disebutkan Allah,








“(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada
orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air
yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang
tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya
bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring;” (QS.
Muhammad 47: 15)
Dalam ayat lain, “di bawahnya,”
378
digunakan untuk menggambarkan lokasi sungai-
sungai yang mengalir dan bukan “di bawah mereka.” Akan tetapi, tidak ada pertentangan di
sini, makna keduanya masih tetap sama
379
karena jika sungai-sungai mengalir di bawah istana
377
Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 10, hlm. 328.
378
2: 25, 266; 3: 15, 136, 195, 198; 4: 13, 57, 122; dll
379
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 65
Islamic Online University Tafsir 202
240
dan pohon-pohon di surga, maka sungai-sungai itu juga mengalir di bawah para penghuni
istana-istana tersebut dan mereka yang berada di bawah naungan pohon-pohon dan mereka
yang makan dari pohon-pohon itu.

“Dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas” berisi deskripsi perhiasan-
perhiasan dan bahannya. Perlu juga dicatat bahwa dalam surat Al Fatir dan Al Hajj, gelang-
gelang itu berasal dari mutiara dan dalam surat Al Insan gelang-gelang itu dari perak. Tidak
ada pertentangan antara deskripsi-deskripsi ini.
380
Gelang-gelang di surga berupa gelang
emas, perak dan mutiara atau dari bahan apapun yang lain yang diinginkan oleh para
penghuni surga.
Terkait tentang di mana gelang itu akan dipakai, Abu Hurairah mengatakan, Aku
mendengar kekasihku Nabi
bersabda,
))
ُ
ء
ُ
ﺿ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
ُ
ْ
َ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ُ
َ
ْ
ِ
ْ
ﳊا
ُ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﺗ((
"Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudlunya membasuh."
381
Akan tetapi gelang-gelang itu tidak boleh dianggap seperti perhiasan dunia ini.
Sebaliknya, mereka sama sekali dan sangat berbeda, seperti yang dikatakan Allah, Subhanahu
wata’ala dalam Hadits qudsi berikut ini:
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
َ
و
ْ
َ
ِ
َ
ٌ
ن
ُ
ذ
ُ
أ
َ
َ
و
ْ
ت
َ
أ
َ
ر
ٌ
ْ
َ
َ
ﻻ ﺎ
َ
َ
ِ
ِ
ﳊﺎ
ﺼﻟا ي
ِ
دﺎ
َ
ِ
ِ
ُ
ت
ْ
د
َ
ْ
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
ِ
ْ
ن
ِ
إ او
ُ
ء
َ
ْ
ـﻗﺎ
َ
ٍ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ـﻗ ﻰ
َ
َ
َ
َ
َ
ْ
380
Dalam upaya untuk menemukan kontradiksi dalam Al Quran, para misionaris Kristen selalu mempertanyakan
apakah gelang-gelang surga berupa gelang emas, perak atau mutiara.
381
Shahih Muslim, Kitab: Thaharah, Bab: Menjangkau janggut dalam wudhu.
Islamic Online University Tafsir 202
241
{
ٍ
ُ
ْ
َ
أ
ِ
ة
ُ
ـﻗ
ْ
ِ
ْ
ُ
َ
َ
ِ
ْ
ُ
أ ﺎ
َ
ٌ
ْ
َ
ـﻧ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
ﻓ }
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Allah berfirman: "Aku telah menyediakan bagi hamba-
hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya,
telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia". Bacalah firman-
Nya jika kamu mau “(Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang telah
disediakan untuk mereka (kenikmatan) yang menyedapkan mata)” (QS.
As-Sajadah: 17).
382
Andaikan emas di sini seperti emas di dunia ini, tentulah mata manusia pasti pernah
melihatnya.



“Dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera Halus dan sutera tebal.”
383
Dikhususkan dengan pakaian berwarna hijau di sini karena cantiknya warna hijau dan
menyejukkan mata jika memandangnya.


“Sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah.” Mereka
digambarkan tengah duduk sambil bersandar menandakan keadaan mereka yang beristirahat
dan damai. Mereka juga memakan buah-buahan surga dengan keadaan bersandar, di mana ini
merupakan hal yang dibenci oleh Nabi
. Abu Juhaifah juga menukil bahwa Rasulullah
bersabda,
382
Shahih Al-Bukhari, Kitab: Permulaan penciptaan makhluk, Bab: Penjelasan tentang sifat surga dan neraka.
and Sahih Muslim, vol. , p. , no. , Kitaab: Jannah wa sifat na‘eemuhaa wa ahluhaa
383
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 66.
Islamic Online University Tafsir 202
242
))
ً
ِ
ُ
ُ
ُ
ﻛآ
َ
((
"Aku tidaklah makan sambil bersandar."
384

“Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah,” berisi puji-pujian
kepada surga dan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya.
385
Ada sebagian orang Kristen yang mengajukan keberatan terhadap penggambaran
tentang surga dalam Al Quran sebagai sesuatu yang sangat materialistik karena disebutkannya
emas dan sutera, sedangkan bagi mereka, surga adalah tempat di mana Anda berubah menjadi
roh dan menjadi satu dengan Tuhan. Allah menyebutkan gelang Emas karena adanya
kenyataan bahwa ada sebagian orang yang tidak mampu memakai emas dalam kehidupan ini
dalam keadaan mereka sangat menginginkannya. Maka Allah memenuhi keinginan mereka
dan bahwa emas di dunia ini tidak akan bertahan selamanya karena setelah kita mati, emas
tidak lagi berguna bagi kita dan kehidupan ini sangat singkat sedangkan kehidupan akhirat
adalah abadi dan demikian pula emas (di akhirat).
Poin lainnya adalah bahwa laki-laki tidak diperbolehkan memakai emas dalam
kehidupan ini karena emas adalah simbol kekayaan, kekuasaan dan otoritas, yang ketika
dipakai menjadi tampilan yang membanggakan sedangkan Islaam lebih memilih kerendahan
hati dan kesetaraan. Namun, wanita Muslimah diizinkan untuk memakai emas karena mereka
tidak menunjukkannya di hadapan masyarakat karena tertutupi oleh hijab mereka dan mereka
kebanyakan tinggal di rumah mereka. Meskipun mereka dapat memamerkan perhiasan
mereka di depan wanita lain, itu tidak sama karena mereka bukan pemimpin dan itu tidak
akan mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Hal yang sama terjadi pada sutra, karena
juga merupakan tanda kekayaan dan biasanya dikenakan oleh para penguasa dan orang-orang
kaya. Akibatnya, Islam tidak mengizinkan pria untuk memakainya. Jika mereka ingin
memakainya, mereka diperintahkan dengan ayat-ayat seperti ini agar mereka bersabar dan
384
Sahih Al Bukhari. Kitaab: Al At’imah; Baab: Akl Muttaki’an. Alasan pernyataan ini dapat ditemukan dalam
riwayat ‘Abdullaah ibn Busr di mana ia berkata, “Aku memberikan (daging kambing panggang) kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau duduk di atas lututnya dan makan. Seorang Badui bertanya kepadanya,
“Makan seperti apakah ini?Beliau menjawab, “Sesunggunya Allah telah menjadikanku hamba yang mulia,
bukan raja yang sombong.” (Sunan Ibn-i-Majah)
385
Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, p. 67
Islamic Online University Tafsir 202
243
beramal shalih sehingga mereka akan mendapatkannya di akhirat. Akan ada juga singgasana-
singgasana bagi mereka karena semua ini adalah barang-barang mewah yang diinginkan
manusia dan Allah menyiapkannya bagi orang-orang yang bertakwa.
Islamic Online University Tafsir 202
244







32-4. Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua
orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang
kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu
dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami
buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan
kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai
di celah-celah kedua kebun itu, dan Dia mempunyai kekayaan besar,
Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-
cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan
pengikut-pengikutku lebih kuat"
Firman Allah, “Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-
laki” merupakan perumpamaan untuk mereka orang-orang kafir yang merasa banggga dengan
hal-hal yang bersifat duniawi dan secara arogan membenci untuk duduk bersama orang-orang
Islamic Online University Tafsir 202
245
mukmin.
386
Ayat ini merupakan lanjutan daari ayat 28 di mana Allah memerintahkan kepada
Nabi
untuk duduk bersama orang-orang yang mengingat-Nya dengan berfirman,
   
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya
di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya;”
387
Para ulama tafsir berbeda pendapat terkait apakah keduanya hanya bersifat
hipotetis/pengandaian
388
atau orang-orang yang memang sebenarnya ada. Mereka yang
berpendapat bahwa orang-orang itu adalah orang yang nyata ada kemudian berbeda pendapat
lebih lanjut tentang siapakah yang dimaksud dengan mereka. Sebagian berkata bahwa mereka
adalah dua saudara dari Bani Israel, dan yang lain berkata bahwa mereka adalah dua saudara
dari Bani Makhzum dari Makkah, salah seorang dari mereka adalah seorang mu’min yang
bernama Abu Salamah ‘Abdullah ibn Abdil Asad (suami Ummu Salamah) dan yang lainnya
kafir yang bernama Al Aswad ibn Abdil Asad, yang merupakan dua bersaudara yang
disebutkan dalam surat Ash Shaffat,




“Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sesungguhnya aku dahulu
(di dunia) mempunyai seorang teman.” (QS. Ash Shaffat 37: 51)
Allah menjelaskan keadaan mereka dalam kehidupan (dunia) ini dalam surat ini, dan
dalam sepuluh ayat dari surat Ash SHaffat (51-61). Dia menggambarkan keadaan mereka di
akhirat. Kedua bersaudara ini mewarisi empat ribu dinar. Abu Salamah menginfakkan harta
kekayannya di jalan Allah; dan ketika ia meminta sesuatu dari saudaranya yang kafir,
saudaranya ini membanggakan diri dengan sombong untuk mempermalukan dirinya.
389
386
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, hlm. 151.
387
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 10, hlm. 330.
388
Seperti dalam Surat An Nahl, 16: 76 dan Az Zumar, 39: 29.
389
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 10, hlm. 331-2
Islamic Online University Tafsir 202
246
“Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur,”
merujuk pada orang kafir yang Allah memberikan nikmat kepadanya berupa simbol kekayaan
di dunia ini.
*



“Dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua
kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan
kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah
kedua kebun itu.”
Kebun yang ideal berisi kebun anggur, ladang; dipagari oleh pohon kurma dan dengan
pengairan irigasi secara alami oleh sungai yang mengalir melewatinya. Selanjutnya, seluruh
tanaman anggur, ladang dan kurma itu menghasilkan buah tanpa kecuali; panen yang
sempurna, impian setiap petani.

“Dan Dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia berkata kepada kawannya (yang
mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada
hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat" Kekayaan atau buah-buahnan miliknya
yang melimpah digabungkan dengan kurangnya iman menjadikannya menyombongkan diri di
hadapan saudaranya bahwa ia memiliki harta, pengikut-pengikut, pelayan dan anak-anak yang
Islamic Online University Tafsir 202
247
lebih banyak. Qatadah berkata, “Ini adalah keinginan dasar yang merusak, untuk memiliki
banyak harta dan banyak pengiring.”
390
Karena dunia ini adalah pusat perhatian dari orang-orang kafir, akumulasi
kesenangannya menjadi masa lalu utama mereka. Akibatnya, sebagian besar percakapan
mereka adalah tentang tipu daya dunia ini. Selain itu, percakapan mereka biasanya berbentuk
sesumbar, baik secara terbuka maupun halus. Mereka tidak menyadari apa tujuan kekayaan
yang sebenarnya dan menganggapnya sebagai tujuan hidup; semakin banyak yang bisa
dikumpulkan, semakin memuaskan hidup menurut persangkaan mereka. Allah ‘azza wa jalla
berfirman,




“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke
dalam kubur.” (QS. At Takatsur 102: 1-2)
Jika kekayaan merupakan kunci kebahagiaan, orang terkaya di dunia pastilah menjadi
orang yang paling bahagia. Akan tetapi kenyatannya, depresi dan bunuh diri paling tinggi
terjadi di antara masyarakat industri yang paling makmur, dan kehidupan yang tragis dari
orang-orang yang kaya dan terkenal mengisi kolom tabloid harian mereka.
Saling berlomba-lomba untuk bermegah-megahan ini mengambil bagian yang sangat
besar dalam kehidupan mereka sehingga mereka menjadi buta dan tuli untuk menerima
risalah kebenaran. Ketika risalah itu datang kepada mereka, mereka memandang kedudukan
dunia sang pembawa risalah (rasul) dan menolak risalahnya dengan dasar itu. Allah ‘azza
wajalla berfirman,
 
  
 
390
Tafsir Ibn Katsir, vol. 6, p. 152 menukil dari At Tabari, vol. 18, p. 22.
Islamic Online University Tafsir 202
248
“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi
peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
berkata: "Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk
menyampaikannya." Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak
mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali
tidak akan diazab.” (QS. Saba 34: 34-5)
Bagaimanapun juga, kekayaan sejati tidaklah dapat ditemukan dalam kepemilikan
materi dari dunia yang fana ini. Kekayaan sejati hanyalah dapat ditemukan dalam dunia
spiritual berupa keimanan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi
bahwa beliau bersabda,
ِ
ْ
ـﻨﻟا
َ
ِ
َ
ِ
ْ
ﻟا
ِ
َ
َ
و
ِ
ض
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ة
َ
ْ
ـﺜ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
ْ
َ
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu
adalah kaya hati."
391
391
Shahih al-Bukhari, Kitab: Hal-hal yang melunakkan hati, Bab: Kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.
Islamic Online University Tafsir 202
249








35-6. Dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya
sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-
lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika
Sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan
mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun
itu."
Allah ‘azza wajalla menyebutkan dalam ayat yang mulia ini tentang keadaan orang
kafir dalam perumpamaan yang menunjukkan para pemuka kaum musyrikin Quraisy, yang
mana mereka merasa bangga dengan kekayaan dan kedudukan mereka atas kaum yang masuk
Islam dari kalangan orang-orang miskin dan lemah, bahwa

“Dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri.”
392
Ungkapan
“dia dzalim terhadap dirinya sendiri,” “menganiaya dirinya sendiri” digunakan oleh Allah
untuk menjelaskan mereka yang mengingkari perintah ilahiah di berbagai tempat lain dalam
Al Quran. Misalnya, Allah membagi manudia ke dalam tiga kelompok dalam hubungannya
dengan tanggapan mereka terhadap Al Quran dengan firman-Nya,
392
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 78
Islamic Online University Tafsir 202
250




“Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di
antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula)
yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.” (QS. Fathir 35: 32)
Allah ‘azza wajalla memerintahkan kepada para lelaki agar membiarkan istrinya pergi
dengan adil dan dengan patut jika perceraian menjadi keharusan, Dia lalu berfirman,




“Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena
dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat
demikian, Maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya
sendiri.” (QS. Al Baqarah 2: 231)
Allah melarang dari mengusir para istri dari rumah-rumah mereka selama masa
menunggu setelah perceraian mereka (‘iddah) dan berfirman,
“Maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”
(QS. Ath Thalaq 65: 1)
Islamic Online University Tafsir 202
251
Alasan disebutkannya kemungkaran terhadap Allah sebagai "berbuat dzalim terhadap
dirinya sendiri" adalah karena kerugian terbesar yang dihasilkan dari kemungkaran tersebut
adalah kepada orang yang mungkar itu sendiri baik dalam kehidupan ini atau di akhirat kelak
atau keduanya. Karena itu, orang yang berbuat dosa pada akhirnya lebih merugikan dirinya
sendiri daripada ia merugikan orang lain. Sedangkan kerugian yang ia timbulkan bagi orang
lain adalah ujian yang dapat menyucikan dosa-dosa mereka, atau mengingatkan mereka
karena telah menyimpang dari jalan yang benar.
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ِ
ج
ْ
و
َ
ز
َ
َ
َ
َ
م
ُ
أ
ْ
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ِ
ُ
ِ
ْ
َ
ُ
َ
ِ
إ
ِ
ِ
ْ
ﻟا
ِ
ءﺎ
َ
ِ
إ
ِ
ُ
ب
َ
ْ
َ
ي
ِ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
َ
رﺎ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
Dari Ummu Salamah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang yang minum dari bejana yang
terbuat dari perak, hanyasanya ia menuangkan neraka Jahannam ke dalam
perutnya."
393
Lafadz, “kebunnya,” digunakan di sini dan bukannya “kedua kebunnya,” karena tidak
mungkin baginya untuk masuk ke dalam kedua kebunnya dalam waktu yang bersamaan.
394
“Ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,” menandakan
bahwa ia menjadi begitu percaya diri dan sombong sehingga ia tidak bisa membayangkan ia
akan kehilangan kekayaannya. Harta benda dan para pengikutnya begitu menakjubkan
baginya sehingga ia lupa bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang akan kekal abadi.
395
Ia
membiarkan dirinya tertipu oleh keindahan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, pepohonan dan
393
Shahih al-Bukhari, Kitaab: Minuman; Baab: Bejana Perak; Shahih Muslim, Kitaab: Pakaian dan
perhiasan; Baab: Haramnya menggunakan bejana dari emas dan perak untuk makan dan selainnya.
394
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 49. Syaikh Al Utsaimin menjelaskan bahwa “kebun” maknanya adalah umum
atau itu merujuk pada kebun yang lebih besar dari keduanya. (Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 69).
395
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 69-70
Islamic Online University Tafsir 202
252
sungai yang mengalir melalui bagian-bagian yang berbeda dari kebun-kebunnya. Selain itu, ia
mulai membayangkan bahwa semua itu tidak akan pernah binasa karena kurangnya
pemahamannya akan hakikat dunia ini, karena imannya yang lemah, karena begitu
terpesonanya ia dengan dunia ini dan segala perhiasannya, dan karena pengingkarannya akan
hari akhir.
396
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda,
))
ِ
ﱄﺎ
َ
ِ
ﱄﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ْ
و
َ
أ
َ
ْ
ـﻓ
َ
َ
َ
َ
َ
أ
َ
ٌ
ث
َ
َ
ِ
ِ
ﻟﺎ
َ
ْ
ِ
ُ
َ
َ
ِ
إ
ُ
ُ
ِ
رﺎ
َ
َ
و
ٌ
ِ
ﻫا
َ
ذ
َ
ُ
َ
ـﻓ
َ
ِ
َ
ذ ى
َ
ِ
َ
َ
و
َ
َ
ـﺘ
ْ
ـﻗﺎ
َ
َ
ْ
َ
أ
ْ
و
َ
أ
َ
ْ
ـﺑ
َ
َ
َ
ِ
َ
ِ
سﺎﻨﻠ
ِ
((
"Manusia berkata: 'Hartaku, hartaku, ' sesungguhnya hartanya ada tiga: yang
ia makan lalu ia habiskan, yang ia kenakan lalu ia usangkan atau yang ia
berikan (sedekahkan) lalu ia miliki, selain itu akan lenyap dan akan ia
tinggalkan untuk manusia'."
397

Dalam ayat 26, kesombongannya mencapai puncaknya dengan ia mengatakan “Dan aku
tidak mengira hari kiamat itu akan datang.” Di sini ia secara terang-terangan mengingkari
akan datangnya hari kebangkitan setelah mengingkarinya secara tersirat dengan mengklaim
bahwa kebunnya tidak akan pernah musnah.




396
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
397
Shahih Muslim, Kitab: Zuhud dan Kelembutan hati
Islamic Online University Tafsir 202
253
“Dan jika Sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat
tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu." Meskipun ia tidak percaya
akan datangnya hari kebangkitan, ia tetap berkata bahwa meskipun ia dikembalikan kepada
(Tuhannya), kekayaannya yang melimpah dan kedudukannya di kehidupan dunia ini akan
menjaminnya bahkan dengan tempat yang lebih baik di kehidupan kelak. Ini adalah keyakinan
Fir’aun, raja-raja Mesir, yang membantai budak-budak mereka, dan mengubur mereka
bersama dengan diri mereka agar mereka dapat tetap melayani mereka di kehidupan
mendatang. Dengan melakukan hal itu seolah-olah ia mengatakan bahwa karena Allah
memberikan nikmat kepadaku di kehidupan ini, Dia pasti juga akan memberikan kenikmatan
kepadaku di kehidupan yang akan datang. Itu adalah kias yang batil. Itu juga merupakan
cerminan dari kebodohan orang-orang kafir dan pada tingkatan mana materi duniawi telah
mengelabui mereka. Logika yang batil dari orang-orang kafir ini diulang pada sejumlah
tempat dalam Al Quran. Misalnya Allah berfirman,
  
 
“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami
sesudah Dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: "Ini adalah
hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan
jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan
memperoleh kebaikan pada sisiNya." (QS. Fushshilat 41: 50)
398
Orang ini diberkati dengan semua hal yang menakjubkan dalam kehidupan ini, dan
bukannya bersyukur atas karunia itu ia menjadi sombong dan membanggakan diri. Sombong
sangatlah ditentang dalam ajaran Islam karena itu mengarah pada kekafiran seperti pada kasus
Iblis dan terus berlanjut mengarah pada kekafiran seperti pada kasus seseorang dalam
perumpamaan dalam ayat ini. ‘Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan dari Nabi bahwa
beliau bersabda,
398
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, pp. 78-9
Islamic Online University Tafsir 202
254
))
ن
ِ
إ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ٍ
ْ
ِ
ْ
ِ
ٍ
ة
ر
َ
ذ
ُ
لﺎ
َ
ْ
ـﺜ
ِ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﻗ
ِ
َ
نﺎ
َ
ْ
َ
َ
َ
ْ
ﳉا
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ٌ
ﻞﻴ
ِ
َ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
ً
َ
َ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻧ
َ
و
ً
َ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﺛ
َ
ن
ُ
َ
ْ
ن
َ
أ
ِ
ُ
َ
ُ
ﺮﻟا
ُ
َ
َ
ُ
ْ
ـﺒ
ِ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ُ
ِ
سﺎﻨﻟا
ُ
ْ
َ
َ
و
َ
ْ
ﳊا((
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji
sawi dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki
menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?"
Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.
Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
399
Kesombongan adalah salah satu sifat Allah, karena tidak ada seorang pun yang layak
untuk bersikap sombong kecuali Dia. Sifat ini khusus milik-Nya dikarenakan fakta bahwa
manusia tidak patut untuk dapat bersikap sombong tentang sesuatu yang bukan menjadi milik
mereka. Sementara hanya Allah, sang Maha Pencipta dan pemilik segala sesuatu yang dapat
sepatutnya sombong. Oleh karena itu, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda,
ا
ً
ِ
ﺣا
َ
و
ِ
َ
َ
زﺎ
َ
ْ
َ
َ
ﻓ ي
ِ
را
َ
ز
ِ
إ
ُ
َ
َ
َ
ْ
ﻟا
َ
و ﻲ
ِ
ﺋا
َ
د
ِ
ر
ُ
ءﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
ﻟا
َ
َ
و
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
لﺎ
َ
ِ
رﺎﻨﻟا
ِ
ُ
ُ
ْ
ـﻓ
َ
َ
ﻗ ﺎ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
ِ
"Allah azza wa jalla berfirman: 'Kesombongan adalah selendang-Ku,
kebesaran adalah sarung-Ku, barangsiapa mengambil salah satu dari
keduanya dari-Ku, maka ia akan Aku lemparkan ke dalam neraka.'"
400
399
Shahih Muslim, Kitab: Iman, Bab: Haramnya takabur dan penjelasannya.
400
Shahih Muslim, vol. 4, p. 1381, no. 6349 dan Sunan Abu Dawud, vol. 3, pp. 1141-2, no. 4079.
Islamic Online University Tafsir 202
255



37. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang Dia
bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu
Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
Dalam ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita bagaimana kawan orang kaya yang
beriman itu menanggapi bualannya dengan pertama-tama mengingatkannya tentang
rububiyah Allah (sifat ketuhanan).

“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang Dia bercakap-cakap
dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu?” Meskipun
orang yang kafir itu memulai dengan membangga-banggakan kekayaannya yang melimpah
dan pengikutnya yang banyak, kawannya ini tidak menanggapi hal ini pertama kali karena
semuanya itu hanyalah perkara nomor dua jika dibandingkan dengan dakwaannya bahwa
kebunnya itu abadi. Lebih lanjut lagi, pengingkarannya terhadap hari akhir bahkan lebih
serius dari pada keyakinannya tentang kebunnya. Maka, kawannya yang miskin ini mulai
menanggapi dari klaim yang paling menyimpang dari orang kaya itu, yakni pengingkarannya
atas Hari Kebangkitan. Dia mulai dengan argumen logis dari Al-Qur'an bahwa, pada skala
manusia, semua orang mengakui bahwa mencipta kembali itu lebih mudah daripada
penciptaan [untuk pertama kali].
401
401
Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 10, hlm. 334
Islamic Online University Tafsir 202
256



“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan
kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang
Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” (QS. Ar Ruum 30: 27)
Dia menegur temannya yang kaya, menunjukkan betapa berat pengingkarannya
terhadap Tuhan yang menciptakannya, seperti dalam firman Allah:


“Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, lalu
Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan
dihidupkan-Nya kembali?” (QS. Al Baqarah 2: 28)
Berarti bahwa bagaimana engkau mengingkari Tuhan-mu dan tanda-tanda
[kekuasaan)-Nya yang nyata kepadamu, yang setiap manusia mengenalinya dalam dirinya
sendiri, karena tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang tidak mengetahui bahwa dulunya
dia bukanlah apa-apa, lalu ia tercipta, dan keberadaannya bukanlah karena dirinya sendiri atau
karena makhluk lain. Ia mengetahui bahwa keberadaannya adalah karena Penciptanya, yang
selain Dia tidak ada pencipta lain atas segala sesuatu.
402
Fakta bahwa ia mengatakan, "Apakah kamu kafir” merupakan dalil bahwasanya
ragu akan adanya hari Kebangkitan setara dengan kafir kepada Allah ‘azza wa jalla
sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas di tempat lain:
402
Tafsir Ibn Kathir, vol. 6, p. 154.
Islamic Online University Tafsir 202
257







“Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, Maka yang patut
mengherankan adalah Ucapan mereka: "Apabila Kami telah menjadi
tanah, Apakah Kami Sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi
makhluk yang baru?" orang-orang Itulah yang kafir kepada
Tuhannya; dan orang-orang Itulah (yang dilekatkan) belenggu di
lehernya; mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Ar Ra’d 13: 5)
403

Pernyataan Allah, “Kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah,” berarti
bahwa ia menjadikan asal mula penciptaanmu dari tanah yang darinya bapakmu Adam
diciptakan. Itulah asal mulamu dan asal mula seluruh umat manusia.
404
“Kemudian dari setetes air mani," berarti bahwa setelah penciptaan Adam dari
tanah, dan penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam dan menjadikannya istrinya, cara
menciptakan manusia adalah dengan reproduksi seksual (prokreasi). Tahap penciptaan dari
403
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, p. 81.
404
Fat’hul-Qadir, vol. 3, p. 396.
Islamic Online University Tafsir 202
258
tanah diikuti oleh tahap setetes ari mani (nutfah), tahap segumpal darah (‘alaqah), dan
seterusnya melalui berbagai tahap (Surat al-Mu'minun, 23: 12-4).
405
“Lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?,” berarti bahwa Dia
menjadikanmu berdiri tegak, dilengkapi dengan anggota tubuh yang proporsional, dan dalam
bentuk yang terbaik. Ini mirip dengan pernyataan Allah ‘azza wajalla,





“Dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami
menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi
penantang yang nyata!” (QS. Yasin 36: 77)
405
Adwaa ul-Bayaan, vol. 4, p. 80
Islamic Online University Tafsir 202
259




38. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak
mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.
Ketika temannya yang beriman itu melihat saudaranya yang bersikeras untuk tetap
berada di atas kekafiran dan penentangan, ia mengungkapkan perasaannya sendiri sebagai
ungkapan syukur kepada Tuhannya dan ia menyatakan agamanya di hadapan argumen dari
temannya yang kafir dengan mengatakan,


“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku.” Di sini ia menetapkan sifat
rububiyah (Penciptaan, Kekuasaan dan Pengaturan) Allah.
406
Segala sesuatu yang
dibanggakan oleh temannya yang kafir pada akhirnya akan kembali pada Allah. Itu semua
dikaruniakan kepadanya oleh Allah, dipelihara oleh Allah, dan semuanya itu menghasilkan
buah dengan izin Allah.
Lebih lanjut ia menyatakan bahwa kekuasaan itu semata-mata milik Allah
407
dan
mengumumkan kesetiaannya pada ketaatan dan peribadatan hanya kepada Tuhannya.
408
Karena setiap makhluk membutuhkan seseorang untuk menciptakan dan memelihara mereka,
hanya Pencipta dan Pemelihara mereka yang berhak atas peribadatan mereka.
406
Taisir al-Karim ar-Rahman
407
The uniqueness of Allah’s dominion is implied by the addition of huwa. He could have said instead,
“LaakinAllahu rabbee.
408
Implied in the usage of “my” instead of saying “the Lord”.
Islamic Online University Tafsir 202
260

Pernyataannya, “Dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku,”
meniadakan kesyirikan dari dalam dirinya dan bersamaan itu ia mengisyaratkan bahwa
temannya itu telah berbuat kesyirikan.
409
Pengingkaran yang dilakukan oleh temannya tentang
akan datangnya hari kebangkatan sama artinya dengan menyandarkan sifat ketidakmampuan
kepada Allah dan menyamakan-Nya dengan makhluk-Nya, yang merupakan satu bentuk
kesyirikan.
410
409
Fat’hul-Qadeer, vol. 3, p. 397.
410
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol. 10, p 335
Islamic Online University Tafsir 202
261


39. “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki
kebunmu "Maasya Allaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas
kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu
dalam hal harta dan keturunan,”
Kemudian ia memberitahukan temannya yang kafir bahwa nikmat Iman dan Islam yang Allah
berikan kepadanya, meskipun dengan kekayaan dan anak yang hanya sedikit, inilah sebenar-
benarnya nikmat, dan segala sesuatu selainnya pasti akan binasa atau akan mendatangkan
siksa (dimintai pertanggungjwaban).
411
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "Maasya
Allaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud,
tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah),” berarti bahwa kebunnya itu tidaklah
terwujud karena kekuasaan temannya itu tidak pula karena kehendaknya, namun karena
kehendak dan kekuasaan Allah.
Maka setiap kali ada sebagian bentuk dari kekayaan dunia yang menyenangkan hati
seseorang, ia harus berkata, "Maa syaa Allaha laa hawla wa laa quwwata illaa billaah
(sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud. Tiada kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah)," untuk menyerahkan suatu urusan hamba kepada Allah dan bukan dengan
menyandarkannya kepada upaya dan kekuatannya sendiri. Ada beberapa riwayat namun tidak
shahih yang menyatakan bahwa jika seseorang mengatakan ini, dia tidak akan mendapati
411
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, vol. 10, p 335
Islamic Online University Tafsir 202
262
keburukan yang menimpa harta bendanya yang menyenangkannya itu
412
atau bahwa ia tidak
akan terpengaruh oleh pandangan mata orang yang dengki (‘ain).
413
Nabi
menganjurkan agar sering-sering mengucapkan kalimat hauqalah dan
menyebutnya sebagai salah satu perbendaharaan surga,
َ
لﺎ
َ
ي
ِ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
ِ
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
ِ
ٍ
َ
ِ
َ
َ
َ
َ
ُ
د
َ
أ
َ
َ
أ
َ
َ
َ
و
ِ
ز
ُ
ُ
ْ
ِ
ٍ
ْ
َ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ز
ُ
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
ِ
إ
َ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
َ
ل
ْ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ ﻰ
َ
َ
ـﺑ
ُ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ِ
َ
ْ
ﳉا
dari Abu Musa Al Asy'ari dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata kepadaku: "Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu
perbendaharaan surga? ' Saya menjawab: 'Tentu ya Rasulullah? ' Rasulullah
bersabda: Laa haula wala quwwata illaa billaah' (Tiada daya dan upaya
kecuali dengan pertolongan AIIah)."
414
Beliau
lebih lanjut menganjurkannya agar senantiasa mengucapkannya di
sepanjang hari. Misalnya,
Ketika terbangun dari tidur
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
ﻣﺎ
ﺼﻟا
ِ
ْ
َ
ة
َ
دﺎ
َ
ُ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
و
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
ُ
ِ
ْ
َ
ـﺘ
ْ
َ
َ
ِ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ْ
ﻠﻟا
ْ
ِ
رﺎ
َ
َ
ـﺗ
ْ
َ
َ
َ
نﺎ
َ
ْ
ُ
ٌ
ﺮﻳ
ِ
َ
ٍ
ء
ْ
َ
ُ
َ
َ
َ
ُ
َ
و
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
ُ
َ
َ
و
ُ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ُ
َ
ُ
َ
َ
ﻚﻳ
ِ
412
Tafseer al-Qur’aan al-Kareem, 72. The narration is collected in Musnad Abee Ya‘laa, no. 5376, Shu‘ab al-
Eemaan, no. 4060 and al-Mu‘jam as-Sagheer, no. 577
413
Collected by Ibn as-Sunnee in ‘Amal al-Yawm wal-laylah, no. 207 from Anas ibn Maalik. It contains in its
chain Aboo Bakr al-Hathalee labeled matrook al-hadeeth
414
Sahih Al Bukhari, vol. , p. , no. Kitaab: Da’awaat; Baab: Qawl laa hawla wa laa quwwat…Sahih Muslim,
vol. , p. , no . Kitaab: Thikr, Du’aa, tawbah was istighfaar; Baab: Istihbaab khafd as sawt bith-thikr
Islamic Online University Tafsir 202
263
ِ
إ
َ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
َ
ل
ْ
َ
َ
َ
و
ُ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
َ
و
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
َ
و
ِ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
و
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
ِ
ْ
ﻏا
ب
َ
ر
َ
َ
د
ُ
ِ
ﻢﻴ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ِ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
َ
لﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ُ
ﺪﻴ
ِ
َ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
َ
ِ
ُ
ُ
ُ
َ
َ
ْ
َ
ِ
ُ
ﻗ ﻰ
َ
ُ
َ
ﺿ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻓ
َ
مﺎ
َ
ْ
ن
ِ
َ
ُ
َ
َ
ﺐﻴ
ِ
ُ
ْ
ﺳا ﺎ
َ
َ
د
Dari 'Ubadah bin Shamit dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Barangsiapa terbangun di malam hari, dan ketika terbangun ia
mengucapkan: "Tidak ada ilah selain Allah yang Maha Esa, yang tidak ada
sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, d an segala puji bagi Allah
serta tidak ada ilah selain Allah dan Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya
melainkan Allah yang Maha Agung." Kemudian dia berdo'a: "Ya Allah,
ampunilah aku." Niscaya ia akan di ampuni." Al Walid berkata: "atau beliau
bersabda: "Jika ia berdo'a, niscaya do'anya akan di kabulkan. Dan jika ia
bangun untuk berwudlu' lalu shalat, maka shalatnya pasti di terima."
415
Ketika memakai baju
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٍ
َ
َ
أ
ِ
ْ
ِ
ذﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
َ
ْ
ﳊا
َ
لﺎ
َ
ُ
ً
ﻣﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ا
َ
َ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ ي
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ُ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
ذ
ْ
ِ
َ
م
َ
َ
ـﺗ
َ
ُ
َ
َ
ِ
ُ
ٍ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
ِ
ٍ
ل
ْ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
َ
ز
َ
ر
َ
و
َ
مﺎ
َ
ﻄﻟا
ا
َ
َ
ِ
ﱐﺎ
َ
َ
ي
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ً
ْ
َ
ـﺛ
َ
ِ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
و
415
Sunan Ibn-i-Majah, vol. , p. , no. , Kitaab: Du’aa; Baab: Maa yad’oo bihi ithaa intabaha min al
layl, and authenticated in Saheeh Sunan Ibn Maajah, vol. 2, no. 335.
Islamic Online University Tafsir 202
264
َ
َ
ز
َ
ر
َ
و
َ
ب
ْ
ـﺜﻟا
ِ
ِ
ْ
َ
ذ
ْ
ِ
َ
م
َ
َ
ـﺗ
َ
ُ
َ
َ
ِ
ُ
ٍ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
ِ
ٍ
ل
ْ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
َ
َ
ﺗ ﺎ
َ
َ
و
Dari Sahl bin Mu'adz bin Anas dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa memakan makanan kemudian
membaca doa: 'ALHAMDULILLAHIL LADZII ATH'AMANII HADZA ATH
THA'AAMA WA RAZAQANIIHI MIN GHAIRI HAULIN MINNI WA LAA
QUWWATIN (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini
kepadaku sebagai rizki, tanpa daya dan kekuatan dariku).' Maka akan
diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan barangsiapa
memakai baju lalu membaca doa: 'ALHAMDULILLAHIL LADZII KASAANII
HADZA ATS TSAUBA WA RAZAQANIIHI MIN GHAIRI HAULIN MINNI WA
LAA QUWWATIN (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini
kepadaku sebagai rizki, tanpa daya dan kekuatan dariku).' Maka akan
diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang."
416
Ketika selesai makan
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٍ
َ
َ
أ
ِ
ْ
ِ
ذﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ُ
ً
ﻣﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ا
َ
َ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ ي
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ذ
ْ
ِ
َ
م
َ
َ
ـﺗ ﺎ
َ
ُ
َ
َ
ِ
ُ
ٍ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
ِ
ٍ
ل
ْ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
َ
ز
َ
ر
َ
و
َ
مﺎ
َ
ﻄﻟا
Dari Sahl bin Mu'adz bin Anas dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa memakan makanan kemudian
membaca doa: 'ALHAMDULILLAHIL LADZII ATH'AMANII HADZA ATH
THA'AAMA WA RAZAQANIIHI MIN GHAIRI HAULIN MINNI WA LAA
QUWWATIN (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini
416
Sunan Abu Dawud, vol. , p. , no. Kitaab: libaas; and authenticated in Irwaa al-Ghaleel, no. 1989
Islamic Online University Tafsir 202
265
kepadaku sebagai rizki, tanpa daya dan kekuatan dariku).' Maka akan
diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.
417
Ketika keluar rumah
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
ج
َ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ن
َ
أ
َ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
َ
ل
ْ
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ـﺗ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
ِ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
ِ
ُ
ُ
ﺮﻟا
ُ
و
َ
و
َ
ﺖﻴ
ِ
ُ
َ
و
َ
ﺖﻳ
ِ
ُ
ٍ
ِ
َ
ﻨﻴ
ِ
ُ
لﺎ
َ
ُ
ـﻳ
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
ِ
إ
ُ
َ
َ
َ
ـﺘ
َ
َ
ـﻓ
َ
ﺖﻴ
ِ
َ
ِ
ُ
َ
و
َ
ي
ِ
ُ
ْ
َ
ٍ
ُ
َ
ِ
َ
َ
َ
ْ
َ
ُ
َ
ﺧآ
ٌ
نﺎ
َ
ْ
َ
ُ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
ِ
ﻃﺎ
َ
ﺸﻟا
َ
ِ
ُ
و
َ
و
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Jika
seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: BISMILLAHI
TAWAKKALTU 'ALAALLAHI LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA
BILLAH (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya
dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). Beliau bersabda: "Maka pada saat
itu akan dikatakan kepadanya: 'Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi
kecukupan dan mendapat penjagaan.' Hingga setan-setan menjauh darinya.
Lalu setan yang lainnya berkata: "Bagaimana (engkau akan menggoda)
seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan
penjagaan?"
418
417
Sunan Abu Dawud, vol. , p. , no. Kitaab: libaas; and authenticated in Saheeh Sunan at-Tirmithee, vol. , p. ,
no. , Kitaab: Da’awaat; Baab: Maa yuqaal ithaa faragha min at ta’aam
418
Sunan Abu Dawud, vol. , p. , no. (4/325) Kitaab: Adab; Baab: Maa yuqaal ithaa kharaja… and
authenticated in Saheeh Sunan at-Tirmithee, vol. 3, no. 151.
Islamic Online University Tafsir 202
266

Orang mukmin yang miskin itu melanjutkan dengan mengatakan itu, “Sekiranya
kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,” apa yang ada
pada Allah lebih baik dan lebih kekal. Dan apa yang diharapkan dari kebaikan-Nya lebih
utama daripada semua yang diperebutkan manusia di dunia ini.
419
Apa yang dianggap sebagai
simbol utama kekayaan dalam hidup ini adalah kenikmatan singkat yang hanya dimiliki
beberapa saat kemudian hilang dengan cepat. Kekayaan sejati itu adalah kekayaan yang kekal,
yang bermanfaat baik dalam kehidupan ini dan di akhirat, dan itulah, sebagaimana yang
dikatakan Nabi (
), adalah amal shalih. Beliau menyinggung tentang hal itu dalam riwayat
berikut tentang kematian,
ُ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ْ
َ
َ
َ
ـﺛ
َ
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
أ
َ
ِ
َ
ٍ
م
ْ
َ
ِ
ْ
و
ِ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ِ
َ
أ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ٌ
َ
َ
َ
َ
َ
ْ
ﻟا
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
ُ
َ
َ
َ
و
ُ
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
و
ُ
ُ
ْ
َ
أ
ُ
ُ
َ
ـﺒ
ْ
َ
ـﻳ
ٌ
ِ
ﺣا
َ
و
ُ
َ
َ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
َ
و
ِ
نﺎ
َ
ْ
ـﺛا
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
ُ
َ
َ
ﻋ ﻰ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
َ
و
ُ
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
و
ُ
ُ
ْ
َ
أ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Bakar bin Amru bin Hazm
ia mendengar Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Mayyit diiringi tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang
satu terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya.
Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap
bersamanya."
420
419
Taisir al-Karim ar-Rahmaan, p. 656
420
Shahih al-Bukhari, Kitab: Hal-hal yang melunakkan hati, Bab: Sakaratul Maut, dan Shahih Muslim, Kitab:
Zuhud dan Kelembutan hati
Islamic Online University Tafsir 202
267





40. Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku
(kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-
mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada
kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; Atau airnya
menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat
menemukannya lagi".
  
“Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik
dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari
langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.”
Pernyataan penutup dari orang mukmin yang miskin ini bisa mengandung dua makna yang
mungkin:
Pertama: Pernyataan itu berisi permohonan doa dan harapan; doa agar Allah memberikan
kepadanya sesuatu yang lebih baik dari pada kebun temannya itu dan agar adzab turun dari
langit kepada temannya itu karena ia menghina dan merendahkannya, jadi ia mendoakan
[keburukan] atasnya setara dengan kejahatan yang dilakukan terhadapnya. Tidak ada dosanya
Islamic Online University Tafsir 202
268
bagi seseorang untuk mendoakan agar turun adzab kepada seseorang yang berbuat zhalim
kepadanya. Mungkin juga ia berdoa demikian agar orang yang menyombongkan diri itu bisa
mengetahui Tuhannya dan meninggalkan kesenangannya pada kekayaannya, yang menjadi
perhatian utamanya. Maka itu seolah-olah ia berdoa agar Allah memberikan apa yang
dibanggakan temannya dan agar Allah menghancurkan kebunnya sehingga ia sadar bahwa
kebun-kebun dan pengikutnya itu adalah milik Allah. Ia berdoa agar musibah menimpanya di
mana itu mendatangkan manfaat yang lebih besar. Lebih baik bagi seseorang untuk tahu diri
dan kembali kepada Rabb-nya daripada menyombongkan kekayaan dan kekuasaan yang
dimilikinya.
Kedua: Pernyataan itu mengandung harapan. Diharapkan agar Allah mengambil apa yang ia
rendahkan dan remehkan pada temannya yang beriman.
421
“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat
menemukannya lagi." Doanya adalah agar kebunnya itu musnah baik dengan banjir hingga
tidak tersisa dari kebunnya kecuali tanah yang licin atau agar gagal semua panennya dan mati
tanaman-tanamannya karena kekurangan air.
422
421
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 73-4.
422
Tafsir Al Quran Al Karim, hlm. 74-5.
Islamic Online University Tafsir 202
269













42-4. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan
kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah
belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-
paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak
mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku." Dan tidak ada bagi
Dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-
kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya
dari Allah yang hak. Dia adalah Sebaik-baik pemberi pahala dan
Sebaik-baik pemberi balasan.
Islamic Online University Tafsir 202
270
 
“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya
(tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon
anggur itu roboh bersama para-paranya.” Allah mengabulkan doa orang mukmin yang
miskin itu dan mengirim badai yang menghantam kebun temannya yang sombong sehingga
menghancurkan semua hasil panennya dengan tidak menyisakan apa pun. Pemilik kebun
menjadi sangat menyesal atas seluruh waktu, usaha dan kekayaan yang dia habiskan untuk
kebunnya karena semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Dia juga menyesal telah melakukan
kesyirikan dan kezhaliman dan berharap yang terjadi adalah sebaliknya.
423



“Dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun
dengan Tuhanku." Namun, penyesalan setelah waktu pertobatan tidaklah bermanfaat pada
saat itu sehubungan dengan adzab. Sebaliknya, mereka yang mendengar cerita itu akan
mendapat manfaat dari kesedihannya.
424
Di sini teman yang kafir ini menyebut pernyataannya yang mengandung kekafiran
sebagai kesyirikan, sementara temannya yang mukmin sebelumnya menyebutnya sebagai
kekafiran.


Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang Dia bercakap-cakap
dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah?”
Oleh karena itu, sebagian ulama seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani berpendapat bahwa
syirik dan kufur itu bersinonim, semua bentuk kesyirikan adalah juga kekafiran dan semua
423
Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 656-7.
424
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 75
Islamic Online University Tafsir 202
271
bentuk kekafiran adalah juga kesyirikan. Akan tetapi sebagian besar ulama berpendapat
bahwa semua bentuk kesyirikan adalah juga kekafiran namun tidak semua bentuk kekafiran
yang tergolong kesyirikan. Maksudnya, syirik merupakan salah satu kategori di bawah
kekafiran.


“Dan tidak ada bagi Dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan
sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.” Ketika azab itu meluluh-lantakkan kebunnya
semua pengikutnya meninggalkannya, tidak mampu mencegah terjadinya bencana itu. Mereka
tidak mampu menolongnya melawan taqdir Allah, yang sekali ditetapkan tidak ada yang bisa
melawannya.
425
Dia tidak dapat menolong dirinya sendiri karena dia telah kafir dan berdebat
membela kekafirannya itu sehingga pantas menerima hukuman yang menghinakan ini.
426
Tidaklah terlalu mengada-ada bahwa karena rahmat dan kebaikan Allah maka sang
pemilik kebun memperbaiki keadaannya, bertobat dan kembali ke jalan yang benar dan
meninggalkan penentangannya, berdasarkan penyesalannya yang secara terang-terangan kare
na telah menjadikan sekutu-sekutu di sisi Allah, karena Allah mengambil apa
menyebabkan kesesatannya, dan menghukumnya dalam kehidupan ini. Jika Allah
menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia mempercepat hukumannya dalam kehidupan ini.
Rahmat Allah tidak dapat dipahami oleh pikiran dan imajinasi manusia dan hanya orang
zhalim lagi jahil yang mengingkarinya.
427


“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang hak.” Pada hari Kiamat tidak ada
penolong maupun pembela atas siapa pun selain Allah. Jika itu yang terjadi, maka semua
selain Allah tidak akan mampu untuk memberikannya manfaat dengan cara apapun.
425
Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 657.
426
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 75
427
Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 657
Islamic Online University Tafsir 202
272
Ada dua bacaan yang mungkin untuk al walayah (pembela) dan wilayah (kekuasaan,
wewenang). Sebagian membacanya dengan walayah, yang memberikan makna bahwa semua
kesetiaan hanya milik Allah, sebagaimana Allah berfirman,






“Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah,
Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka,
sebelum mereka berhijrah” (QS. Al Anfal 8: 72)
428
Yaitu, pada hari itu ketika hukuman dijatuhkan kepada semua orang, orang yang
beriman atau yang kafir, semuanya akan kembali kepada Allah, untuk memberikan kepadanya
kesetiaan dan kepatuhan mereka. Ini seperti ayat berikut,


“Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: "Kami
beriman hanya kepada Allah saja, dan Kami kafir kepada sembahan-
sembahan yang telah Kami persekutukan dengan Allah." (QS. Ghafir 40:
84)
Sebagian yang lain membacanya wilayah yang bermakna pada hari Kiamat hukum
yang berlaku hanya milik Allah, sebenar-benarnya Rabb. Sementara yang lain membaca al-
haqq dengan haqqu merujuk kepada wilayah tersebut, yakni kerajaan yang haq, sebagaimana
dalam ayat,
428
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 76
Islamic Online University Tafsir 202
273
 

“Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan yang Maha
Pemurah. dan adalah (hari itu), satu hari penuh kesukaran bagi orang-
orang kafir.” (QS. Al Furqan 25: 26).
Ada pula sebagian yang lain yang membacanya haqqi dengan merujuk kepada Allah,
subhanahu wata’ala,s ebagaimana dalam ayat,

“Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa
mereka yang sebenarnya.” (QS. Al An’am 6: 62)
429

“Dia adalah Sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan,” maksudnya
adalah bahwa jika Dia memberikan pahala karena suatu amalan, pahala dari-Nya adalah yang
terbaik karena, sementara yang lain memberikan imbalan atas suatu perbuatan, biasa imbalan
itu setara atau sedikit lebih banyak. Adapun Allah, Allah memberikan pahala suatu amalan
paling sedikit sepuluh kali lipat dari nilai perbuatan itu atau hingga tujuh ratus kali lipat atau
lebih dari nilainya.
“… dan sebaik-baik pemberi balasan,” berarti bahwa setiap urusan yang diserahkan pada
perlindungan Allah tidak diragukan lagi akan menjadi lebih baik dari pada perlindungan lain
429
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
274
selainnya. Semua akhir urusan umat manusia yang berada di tangan manusia lain akan pudar
dan lenyap, akan tetapi akhir urusan di sisi Allah akan selalu tetap.
430
Faidah-faidah
Perumpamaan ilahiyah ini mengandung faidah-faidah yang di antaranya sebagai berikut:
1. Tentang seseorang yang Allah telah berikan berkah duniawi yang telah
mengalihkannya dari kehidupan setelah kematiannya dan menjadikannya buruk dan
dia tidak menaati Allah bersamaan dengan semua berkah yang ia terima.
2. Bahwa akhir dari nikmat duniawi adalah bahwa semuanya itu memudar dan lenyap
dan bahwa bahkan jika dia bersenang-senang dengan itu semua untuk waktu yang
sesaat saja, dia akan menyesalinya untuk waktu yang sangat lama.
3. Bahwa jika seorang hamba senang dengan sebagian harta atau anak-anaknya, ia harus
mengaitkan nikmat itu kepada Tuhannya dan berkata: "Maasya Allaah, laa quwwata
illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah),” sebagai tanda ia bersyukur dan karena itu menjadi alasan
bagi nikmat itu untuk bertahan lama.
4. Petu juk untuk menemukan pelipur lara dalam kebaikan yang Allah simpan (untuknya)
bukan dari kesenangan dunia ini.
5. Bahwa kekayaan dan anak-anak tidak ada gunanya jika mereka tidak membantu
seseorang untuk menaati Allah, seperti dalam ayat,



“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak
kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.”
(QS. Saba 34: 37)
430
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 76
Islamic Online University Tafsir 202
275
6. Bahwa dibolehkan untuk berdoa demi dicabutnya kekayaan seseorang yang
kekayaannya menyebabkannya menjadi zhalim, kafir, dan menjadi kerugian baginya,
terutama jika dia menganggap dirinya lebih utama dari orang-orang mukmin dan
mencela mereka.
7. Bahwa pertolongan Allah dan kurangnya pertolongan-Nya, konsekuensinya akan
menjadi jelas ketika debu mengendap dan pahala serta hukuman dijatuhkan.
431
431
Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 657
Islamic Online University Tafsir 202
276






45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan
dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, Maka menjadi
subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian
tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin.
Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia,” Allah
berfirman, “Wahai Muhammad! Berilah perumpamaan kepada manusia sebuah cerita untuk
menggambarkan kebenaran spiritual tentang realitas kehidupan dunia ini, sifatnya yang fana
dan bagaimana pada akhirnya ia akan hilang dan berujung pada suatu akhir.

“Sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur karenanya
tumbuh-tumbuhan di muka bumi.” Allah menggambarkan bahwa kesenangan dan
kenikmatan di dunia ini tak ubahnya seperti air hujan yang yang bercampur dengan biji-bijian
Islamic Online University Tafsir 202
277
di bumi yang menyebabkan kebun memiliki berbagai jenis tanaman yang menumbuhkan
berbagai jenis daun dan mengeluarkan bunga seperti di Musim Semi atau seperti kebun raya
yang berisi setiap spesies tanaman.
  
“Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin.”
Setelah beberapa saat lamanya tumbuh-tumbuhan itu menjadi layu dan hancur. Kemudian
angin bertiup dan meniup butiran-butirannya ke segala arah.
Allah menggambarkan kenyataan hidup ini sebagai dunia yang berkembang dan
makmur bagi manusia untuk sementara waktu sampai mereka tiba-tiba mati atau kemakmuran
itu hilang. Entah karena suatu keadaan atau yang lain yang lain harus terjadi, setiap manusia
pasti akan mati dan kehilangan kemakmuran atau kedua-duanya, kehilangan kemakmuran dan
mati. Perumpamaan dalam ayat ini sangat cocok dengan kehidupan nyata dan Allah
menggunakannya di banyak tempat di Al-Qur'an, dengan beberapa variasi, agar orang-orang
beriman tidak tertipu oleh dunia dan menjadi kecanduan dengannya.
432
Misalnya, dalam Surat
Yunus Allah ‘azza wajalla berfirman,











432
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 77.
Islamic Online University Tafsir 202
278
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air
(hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya
karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan
manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna
keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-
permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684], tiba-tiba
datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami
jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami
menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang
berfikir.” (QS. Yunus 10: 24)
Dan dalam surat Az Zumar,




“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah
menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air
di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang
bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya
kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az Zumar 39: 21)
Dan dalam Surat Al-Hadid,
Islamic Online University Tafsir 202
279













“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan
anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani;
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan
ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid 57: 20)
Dan dalam hadits shahih,
433
Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda,
))
َ
ْ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ﻬﻴ
ِ
ْ
ُ
ُ
ِ
ْ
َ
ْ
ُ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
َ
و
ٌ
ة
َ
ِ
َ
ٌ
ة
َ
ْ
ُ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ن
ِ
إ
ْ
َ
ﻧﺎ
َ
َ
ﻞﻴ
ِ
ﺋا
َ
ْ
ِ
إ
ِ
َ
ِ
َ
ْ
ـﺘ
ِ
َ
ل
و
َ
أ
ن
ِ
َ
َ
ءﺎ
َ
ﻨﻟا ا
ُ
ـﺗا
َ
و ﺎ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا ا
ُ
ـﺗﺎ
َ
َ
ن
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
ِ
ءﺎ
َ
ﻨﻟا
ِ
((
433
Shahih Muslim, Kitab: Dzikir, Doa, Taubat dan Istighfar, Bab: Kebanyakan penduduk surga adalah orang-
orang miskin.
Islamic Online University Tafsir 202
280
"Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah
menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu
(memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah
dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani
Isarail adalah wanita."
434
Al Qurthubi mengutip perkataan para ahli hukum (hukamaa) yang mengatakan bahwa
Allah Yang Mahakuasa mengumpamakan dunia dengan air karena berbagai alasan yang
berkaitan dengan sifat air:
1. Air tidak mengendap di lokasi mana pun, sama halnya dengan dunia ini yang
tidak tinggal menetap.
2. Air tidak tetap dalam satu keadaan, sama halnya dengan dunia ini.
3. Air tidak tahan lama, ia menghilang setelah beberapa waktu, sama halnya dunia
ini yang akan menghilang cepat atau lambat.
4. Tidak ada yang bisa masuk air tanpa menjadi basah; sama halnya dengan siapa
pun yang memasuki dunia ini tidak akan aman dari cobaan dan kesengsaraannya.
5. Dalam jumlah dengan batasan tertentu air bermanfaat dan bisa menumbuhkan
tanaman. Tetapi jika melampaui jumlah yang bermanfaat itu air menjadi
berbahaya dan merusak. Demikian pula, mengambil apa yang cukup itu
bermanfaat, sementara mengambil dengan berlebihan itu berbahaya.
435
ِ
صﺎ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
ﺑ و
ِ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ُ
ُ
ْ
ﳊا
ِ
َ
ْ
ﺮﻟا
ِ
ْ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ن
َ
أ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
))
َ
ق
ِ
ز
ُ
ر
َ
و
َ
َ
ْ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
ْ
ـﻓ
َ
أ
ْ
َ
ُ
ﻩﺎ
َ
ﺗآ ﺎ
َ
ِ
ُ
ﻠﻟا
ُ
َ
ـﻨ
َ
ـﻗ
َ
و ﺎ
ً
ﻓﺎ
َ
َ
((
dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk
Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana'ah terhadap apa yang
diberikan Allah."
436
434
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6.
435
Al Jami’ li Ahkam al-Quran, Jilid 10, hlm. 341.
436
Shahih Muslim, Kitab: Zakat, Bab: Merasa cukup dan qana’ah
Islamic Online University Tafsir 202
281
Sungguh menakjubkan bahwa manusia tetap bisa dibodohi oleh dunia terlepas dari
kenyataan bahwa segala pergolakan, masalah, kesusahan dan kekhawatiran yang ditimbulkan
olehnya lebih besar dari ketenangan dan kedamaian, kenyamanan dan kemudahannya. Bahkan
mereka yang diberkati (dengan dunia) pun tidak merasa damai.

“Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu,” Berarti bahwa segala sesuatu yang
ada, maka Allah berkuasa untuk menjadikannya tidak ada dan apa yang tidak ada Allah
berkuasa untuk menjadikannya ada. Tidak ada apapun antara keberadaan dan ketiadaan
kecuali dengan kalimat Allah, “Jadilah!” Allah ‘azza wajalla berfirman,




“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu
hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” (QS.
Yasin 36: 82)
437
Namun, perlu dicatat bahwa Allah mampu melakukan apa saja dan segala sesuatu
merujuk pada hal-hal yang bersifat Ketuhanan dan bukan hal-hal yang tidak bersifat
ketuhanan. Perbuatan-perbuatan yang menjadikan Tuhan tidak lagi Tuhan atau kurang sifat
ke-Tuhan-nya, maka tidak termasuk dalam “segalanya”, bertindak seperti Tuhan menjadi
manusia, memiliki seorang putra, dilahirkan dan mati, dan seterusnya dan seterusnya. Hal
yang semacam itu disebut sebagai kemustahilan dan tidak dapat digunakan untuk menantang
keberadaan Tuhan seperti yang dilakukan oleh para filsuf ateis Eropa dalam perdebatan
mereka dengan para teolog Kristen selama masa Renaisans ketika mereka bertanya kepada
mereka, “Jika Allah Maha Kuat dan mampu melakukan segala hal, dapatkah ia
melakukannya? Dapatkah Dia menciptakan sebuah batu yang terlalu berat bagi-Nya untuk
bisa mengangkatnya?”
437
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 78.
Islamic Online University Tafsir 202
282







46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di
sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
Ayat ini adalah kelanjutan dari teguran Allah kepada para pemimpin kafir yang
menyombongkan diri tentang kekayaan dan pengikut mereka, seperti pemilik kedua kebun itu,
dan para pemimpin Quraisy yang meminta agar Nabi () menyingkirkan dari sekeliling
majelisnya sahabat-sahabatnya yang lemah dan miskin sehingga mereka bersedia duduk
bersama beliau.
438
Allah menguraikan lebih jauh tentang realitas kesenangan dari dunia ini
dengan berfirman,
 
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia,” karena harta kekayaan
memberikan hal-hal yang indah dan bermanfaat dan anak laki-laki memberikan kekuatan dan
perlindungan.
439
Manusia, dari zaman dulu hingga sekarang, mendapati bahwa memiliki
banyak putra di sekeliling mereka itu indah, baik mereka berperan sebagai penolong untuk
melayani tamu mereka atau sebagai kawan dalam pertempuran.
440
Allah ‘azza wa jalla menyebutkan anak laki-laki dan bukan anak perempuan karena itu
adalah kebiasaan pada masa itu bahwa orang-orang Arab hanya membanggakan diri tentang
anak laki-laki mereka. Anak perempuan dianggap memalukan di Masa Kegelapan (al-
Jaahiliyyah) sebagaimana dicatat Allah dalam Surat an-Nahl, (16: 58-9),
438
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 401.
439
Al Jami’ li Ahkam al-Quran, Jilid 10, hlm. 342.
440
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 79.
Islamic Online University Tafsir 202
283



“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran)
anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat
marah.”

“Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya
berita yang disampaikan kepadanya.”



“Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?
Ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”
Pilihan ketiga untuk menjaga anak perempuan itu tetap dalam kehormatan adalah hal
yang tidak mungkin.
441
Tradisi ini masih hidup di kalangan masyarakat non-Muslim dan Muslim di Sub-
benua India di mana anak perempuan dianggap sebagai malapetaka karena mahalnya mahar
yang diperlukan untuk menikahkan mereka. Bidan sering dibayar untuk melenyapkan anak
perempuan saat lahir dan bagi orang-orang kaya, pemeriksaan USG memungkinkan mereka
untuk menggugurkan anak perempuan sebelum lahir.


Akan tetapi, “amalan-amalan yang kekal lagi saleh,” seperti perkataan dan
perbuatan yang ma’ruf seperti shadaqah, puasa, memerintahkan pada yang ma’ruf dan
melarang dari yang mungkar dan yang selainnya dari “amalan-amalan yang kekal lagi saleh”
441
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 78-9.
Islamic Online University Tafsir 202
284
adalah lebih bernilai dan bermanfaat.
442
Ibnu Abbas diriwayatkan pernah mengatakan,
“Bahwa yang dimaksud dengannya ialah zikrullah (zikir kepada Allah), yaitu ucapan "laa
ilaaha illallah, allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah, tabaarakallah, laa haula wala
quwwata illa billah, astaghfirullah, shallallahu ‘ala rasulillah, (Tidak ada Tuhan selain
Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tidak ada
daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, istigfar, dan salawat untuk
Rasulullah,) serta saum (puasa), haji, sedekah, memerdekakan budak, jihad, silaturahmi, dan
semua amal kebaikan. Semua itu adalah amalan-amalan yang kekal lagi saleh, yaitu amalan-
amalan yang mengekalkan pelakunya di dalam surga selama masih ada bumi dan langit (yakni
untuk selama-lamanya).”
443
Hal yang sama dikatakan pula oleh Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan ketika
ditanya mengenai makna al-baqiyah ini, maka ia menjawab bahwa hal itu adalah ucapan:
ﻠﻟﺎ
ِ
ِ
إ
َ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
َ
ل
ْ
َ
َ
َ
و ،
ُ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
َ
و ،ﷲ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
و ،
ِ
ﻠﻟا
َ
نﺎ
َ
ْ
ُ
َ
و ،
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
ِ
(Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan Allah
Mahabesar, dan tidak ada upaya (untuk menghindari kedurhakaan) dan tidak ada
kekuatan (untuk melakukan ibadah) kecuali hanya dengan(pertolongan) Allah, Yang
Mahatinggi lagi Mahaagung.)
444
ِ
ﺪﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ٍ
دﺎ
َ
ِ
ْ
َ
ة
َ
رﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ِ
َ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
ِ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ُ
َ
ِ
َ
ُ
َ
أ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
نﺎ
َ
ْ
ُ
َ
و
ُ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ل
ْ
َ
ـﻗ
َ
ـﻧ
ِ
إ
ِ
تﺎ
َ
ِ
ﳊﺎ
ﺼﻟا
ِ
تﺎ
َ
ِ
ﻗﺎ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
ِ
إ
َ
ة
ُ
ـﻗ
َ
َ
و
َ
ل
ْ
َ
َ
َ
و
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
َ
و
ِ
ِ
Dari Umarah bin Shayyad dari Sa'id bin Musayyab Bahwasanya ia
mendengarnya berkata tentang Al Baaqiyaatus Shaalihat, "Yang dimaksud
dengan itu adalah ucapan seorang hamba, 'ALLAHU AKBAR WA
SUBHAANALLAHI WAL HAMDU LILLAHI WA LAA ILAAHA
ILLALLAH WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH (Allah
442
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 79.
443
Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Jilid 6.
444
Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 382 no 513 dan dishahihkan oleh at-Tafsir ash- Shahih, jilid 3, hlm. 308.
Islamic Online University Tafsir 202
285
Maha Besar, Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain
Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah) '."
445
Syaikh asy-Syinqithi mengatakan bahwa berbagai pendapat ulama tentang al-Baqiyat
ash-Shalihat semuanya kembali kepada satu sumber: setiap amalan yang diridhoi Allah, baik
kita katakan itu adalah shalat wajib lima waktu sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok
salaf, di antara mereka yaitu Ibnu Abbas, atau pun lima dzikir yang disebutkan sebelumnya, di
mana ini merupakan pendapat sebagian besar ulama dan yang memiliki riwayat dari Nabi
yang disandarkan kepada Abu Sa’id al-Khudri, Abu Dardaa, Abu Hurairah, an-Nu’man ibn
Bashir, dan selain mereka.
446
 
Amalan-amalan shalih semacam itu “Adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta
lebih baik untuk menjadi harapan,” karena mereka kekal. Amalan-amalan itu lebih baik
daripada perhiasan dunia yang fana dan akan sirna.
447
Allah telah menjanjikan pahala yang
besar untuk amalan-amalan shalih tersebut di akhirat, sehingga mereka membentuk dasar
harapan bagi orang-orang yang beriman. Kesenangan-kesenangan dunia ini, sebaliknya, tidak
akan bermanfaat di akhirat kecuali jika itu digunakan untuk memperbanyak amalan shalih.
Syekh asy-Syinqithi menunjukkan bahwa maksud dari ayat ini adalah untuk membawa
kepentingan yang besar dari amal-amal shalih untuk menjadi perhatian manusia agar mereka
tidak menjadi begitu tersibukkan dengan keindahan dunia ini sehingga mereka mengabaikan
dan melupakan perbuatan baik yang kekal yang akan bermanfaat bagi mereka di kehidupan
akhirat. Konsep ini disebutkan secara rinci dalam sejumlah ayat lain di seluruh Al-Qur'an.
Misalnya, firman Allah ‘azza wajalla:
445
Muwatha’ Imam Malik, Kitab: Adzan, Bab: Dzikir kepada Allah.
446
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 85-6
447
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, hlm. 79-80
Islamic Online University Tafsir 202
286
 
  
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat
demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-
Munafiqun 63: 9)
 

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang
mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.” (QS. Saba 34: 37)
448
448
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 85.
Islamic Online University Tafsir 202
287





47. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan
gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan
Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan
seorangpun dari mereka.
Allah mulai menggambarkan dengan sangat jelas kengerian di Hari Kiamat, dan hal-
hal luar biasa yang akan terjadi. Dia mulai dengan kenampakan yang paling menonjol di
muka bumi, yakni gunung-gunung, dan Dia berfirman,

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung,”
maksudnya, gunung-gunung itu akan berpindah dari tempatnya masing-masing dan hancur.
Sebagaimana Allah berfirman di tempat lain,



“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di
tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (QS. An Naml
27: 88)
Gunung-gunung itu akan kehilangan kekokohannya dan menjadi lembut seperti bulu
yang dihambur-hamburkan, sebagaimana Allah berfirman,
Islamic Online University Tafsir 202
288


“Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”
(QS. Al-Qari’ah 101: 5)
Kemudian gunung-gung itu akan hancur menjadi debu dan sirna, sebagaimana dalam
firman Allah,







“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, Maka
Katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat)
sehancur-hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-
gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu Lihat padanya
tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” (QS. Thaha 20: 105-107)
449

Kemudian Allah menjelaskan bagaimana bumi itu sendiri akan terlihat dengan
berfirman, "dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar." Ketika Dia menyebabkan
gunung-gunung menghilang, bumi akan dibiarkan seperti dataran halus, dengan permukaan
rata yang datar sama sekali tanpa ada tanah yang menonjol ataupun cekungan di dalamnya,
tiada lembah tiada pula perbukitan. Bumi tidak akan memiliki kenampakan yang dapat
449
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6 dan Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 86-7
Islamic Online University Tafsir 202
289
dikenali siapa pun dan tidak ada bagi manusia untuk membayangkan bisa bersembunyi di
baliknya. Semua makhluk akan disingkapkan di tempat terbuka di hadapan Tuhan mereka.
450
َ
لﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
سﺎﻨﻟا
ُ
َ
ْ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
َ
ءا
َ
ْ
َ
َ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ٍ
ض
ْ
ر
َ
أ
ٍ
َ
َ
ِ
ٌ
َ
َ
ﻋ ﺎ
َ
ﻬﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ﻨﻟا
ِ
َ
ْ
Dari Sahl bin Sa'd dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Pada hari kiamat kelak manusia akan dikumpulkan di bumi
berwarna putih kemerahan berbentuk seperti roti bulat pipih dan datar tanpa
ada tanda bagi siapapun di atasnya."
451


Pada saat yang sama bumi mengubah wujudnya, Allah menyebutkan bahwa semua
makhluk akan dikumpulkan seraya berfirman, “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia,
dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.”







“Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-
orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu
tertentu pada hari yang dikenal.” (QS. al-Waaqi‘ah, 56: 49,50)
450
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
451
Sahih Muslim, vol. 4, p. 1463, no. 6708
Islamic Online University Tafsir 202
290
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Pada Hari Kiamat, Allah
kemudian menghimpun seluruh manusia kemudian berfirman: 'Siapa yang menyembah
sesuatu, hendaklah ia mengikuti sesembahannya, 'Orang-orang pun mengikuti yang pernah
disembahnya, ada yang mengikuti matahari karena menyembahnya, ada yang mengikuti
bulan karena menyembahnya, ada yang mengikuti thaghut (segala sesembahan selain Allah)
karena menyembahnya, sehingga yang tersisa adalah umat ini yang didalamnya terdapat
orang-orang munafiknya.”
452
Penyebutan yang sesungguhnya tentang dikumpulkannya makhluk lain selain manusia
dapat ditemukan di tempat lain dalam al-Qur’aan. Misalnya, Allah ‘azza wajalla, berfirman,

“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,” (QS. At Takwir 81: 5)




“Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung
yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti
kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian
kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. al-An‘aam, 6: 38)
452
Shahih Al-Bukhari, vol. 1, pp. 427-30, no. 770
Islamic Online University Tafsir 202
291
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ن
د
َ
ُ
ـﺘ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ِ
ةﺎ
ﺸﻟا
ْ
ِ
ِ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ةﺎ
ﺸﻠ
ِ
َ
دﺎ
َ
ُ
ـﻳ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ ﺎ
َ
ِ
ْ
َ
أ
َ
ِ
إ
َ
ق
ُ
ُ
ْ
ﳊا
ِ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ْ
ﻟا
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Semua hak
itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun
akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk."
453
453
Shahih Muslim, vol. 4, p. 1366, no. 6252.
Islamic Online University Tafsir 202
292
  

48. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris.
[dan Dia berfirman] “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami,
sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama;
bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan
menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.”
Setelah dikumpulkan bersama dengan makhluk-makhluk lain di bumi yang baru,
manusia akan dibawa ke hadapan Tuhan mereka.

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris,” berarti bahwa
manusia akan dibariskan untuk diadili oleh Allah, yang Maha Agung lagi Maha Perkasa.
Akan tetapi, orang-orang mukmin akan menyendiri bersama Rabb-nya dan akan mengakui
semua dosa-dosanya ketika ditanya tentang dosa-dosa itu hingga ia berfikir bahwa ia pasti
akan binasa. Kemudian Tuhan Yang Maha Mulia akan berfirman kepadanya,
((
َ
م
ْ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
َ
َ
ﻟ ﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
َ
أ
َ
و ﺎ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ِ
َ
ْ
َ
َ
ﻋ ﺎ
َ
ُ
ـﺗ
ْ
َ
ـﺘ
َ
ﺳ))
Islamic Online University Tafsir 202
293
"Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia dan Aku mengampuninya buatmu
hari ini."
454
Allah akan mengampuninya dan tidak menghukumnya karena dosa-dosa itu setelah
menyembunyikan semua dosanya dari hadapan manusia dalam kehidupannya di dunia.
Banyaknya dosa-dosa yang tersembunyi yang dilakukan oleh orang-orang terbaik sekalipun
tidak terhitung jumlahnya, apakah itu karena amalan anggota badan atau hati. Sebagai contoh,
kejahatan hati seperti kekafiran, iri dan dengki, serta mengharapkan keburukan bagi orang
lain ada pada kebanyakan orang tetapi semua itu disembunyikan oleh Allah. Demikian juga,
banyak perbuatan buruk dari anggota badan yang dilakukan, tetapi Allah menyembunyikan
dosa-dosa itu bagi hamba-Nya. Seorang mukmin sejati berharap bahwa dosa-dosanya yang
tersembunyi dalam kehidupan ini akan diampuni di kemudian hari.
455
454
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar dalam Shahih al-Bukhari vol. 3, p. 372, no. 621 dan Shahih Muslim, vol. 4, p.
1444, no. 6669. Hadits ini lengkapnya adalah sebagai berikut:
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
َ
ُ
ِ
ْ
ﺑا
َ
َ
ﻣ ﻲ
ِ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
َ
أ ﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
زﺎ
َ
ْ
ﻟا
ٍ
ز
ِ
ْ
ُ
ِ
ْ
َ
نا
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
ض
َ
َ
ْ
ذ
ِ
إ
ِ
ِ
َ
ِ
ٌ
ِ
ﺧآ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ْ
ِ
َ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
ُ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ ى
َ
ْ
ﻨﻟا
ِ
ْ
َ
ـﺗ
َ
أ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
ُ
ُ
ـﺘ
ْ
َ
َ
و
ُ
َ
َ
ـﻨ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
َ
َ
َ
ـﻓ
ْ
ي
َ
أ
ْ
َ
َ
ـﻧ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ ا
َ
َ
َ
ْ
َ
ذ
ُ
ف
ِ
ْ
َ
ـﺗ
َ
أ ا
َ
َ
َ
ْ
َ
ذ
ُ
ف
ِ
َ
َ
أ
َ
و
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
ُ
ـﺗ
ْ
َ
ـﺘ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
ُ
َ
أ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﻧ
ِ
ى
َ
أ
َ
ر
َ
و
ِ
ِ
ُ
ُ
ِ
ُ
َ
ر
َ
ـﻗ ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
ب
َ
ر
َ
أ
َ
و
ِ
ِ
ﺗﺎ
َ
َ
َ
َ
بﺎ
َ
ِ
َ
ْ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
م
ْ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
َ
َ
ﻟ ﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
َ
أ
ُ
دﺎ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ن
ُ
ِ
ﻓﺎ
َ
ُ
ْ
ﻟا
َ
و
ُ
ِ
ﻓﺎ
َ
ْ
ﻟا
{
َ
ِ
ِ
ﻟﺎ
ﻈﻟا ﻰ
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
َ
ْ
َ
َ
َ
أ
ْ
ِ
َ
ر ﻰ
َ
َ
ﻋ ا
ُ
َ
َ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
ِ
ء
َ
ُ
َ
ﻫ }
Dari Shafwan bin Muhriz Al Maziniy berkata: Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu 'Umar
radliyallahu 'anhuma, ada seorang yang memegang tangannya ketika menyodorkannya lalu
berkata: "Bagaimana kamu mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang
An Najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hambaNya pada hari Qiyamat)?" Maka
dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesunggunnya
Allah ketika orang beriman didekatkan lalu bagian sisi badannya diletakkan kemudian ditutup,
Allah berfirman: "Apakah kamu mengenal dosamu yang begini?, apakah kamu mengenal
dosamu yang begini?" Orang beriman itu berkata: "Ya, Tuhanku." Hingga ketika sudah diakui
dosa-dosanya dan dia melihat bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman: "Aku telah
merahasiakannya bagimu di dunia dan Aku mengampuninya buatmu hari ini." Maka orang
beriman itu diberikan kitab catatan kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafiqin, maka
para saksi akan berkata: {HAA-ULAA-IL LADZIINA KADZABUU 'ALAA RABBIHIM ALAA
LA'NATULLAAHI 'ALADH DHAALIMIIN} (Itulah orang-orang yang mendustakan Tuhan
mereka. Maka laknat Allah untuk orang-orang yang zhalim)" (Huud: 18).
455
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, pp. 82-3
Islamic Online University Tafsir 202
294
Orang-orang yang jahat di antara mereka, yang mengingkari para rasul, yang
memberontak melawan Tuhan mereka dan sombong di negeri-negeri mereka, akan dibawa
dalam keadaan terbelenggu.









“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat
bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin
(ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” (QS. Ibraahim, 14: 49-
50)
Allah ‘azza wa jalla juga menjelaskan di tempat lain tentang dibawanya semua
makhluk ke hadapan Rabb mereka dan apa yang dikatakan kepada mereka,













“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat
Dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan
mereka, dan Para saksi akan berkata: "Orang-orang Inilah yang telah
berdusta terhadap Tuhan mereka." Ingatlah, kutukan Allah
(ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang
menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan
Islamic Online University Tafsir 202
295
itu bengkok. dan mereka Itulah orang-orang yang tidak percaya akan
adanya hari akhirat. (QS. Hud, 11: 18-9)
Dikarenakan dahsyatnya kengerian pada hari itu, setiap umat akan berlutut ketika
manusia dipanggil untuk memberikan pertanggung-jawaban.




“Dan (pada hari itu) kamu Lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat
dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu
diberi Balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-
Jaatsiyah, 45: 28)
 
Allah akan menegur mereka yang mengingkari akan datangnya Hari Akhir dan
menegur mereka di hadapan semua makhluk seraya berfirman: Sesungguhnya kamu
datang kepada Kami,
456
sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang
pertama” yang berarti bahwa manusia akan dikembalikan kepada-Nya tanpa kekayaan,
pakaian atau apa pun. Tidak hanya itu, bahkan setiap bagian tubuh yang hilang juga akan
dikembalikan kepada mereka.
Istri Nabi
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda,
456
Digunakannya fi’il madhi (kata kerja lampau) meskipun yang dimaksudkan untuk di masa yang akan datang
adalah hal yang umum dalam Al Quran (lihat surat al-Kahfi: 99; az-Zumar: 71). Ini adalah susunan yang
menegaskan kejadian di masa yang akan datang sehingga diperlakukan seolah-olah itu telah terjadi. (Adhwaul
Bayan, jilid 4, hlm. 90)
Islamic Online University Tafsir 202
296
))
ً
ْ
ُ
ً
ةا
َ
ُ
ً
ةﺎ
َ
ُ
َ
نو
ُ
َ
ْ
ُ
((
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ُ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ُ
َ
ِ
ﺋﺎ
َ
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٍ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ِ
إ
ْ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ءﺎ
َ
ﻨﻟا
َ
و
ُ
لﺎ
َ
ﺮﻟا))
ْ
ن
َ
أ
ْ
ِ
َ
َ
أ
ُ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ِ
كا
َ
ذ
ْ
ُ
ِ
ُ
((
“Kalian dikumpulkan dengan keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan
tidak beralas kaki." 'Aisyah menyela: 'Hai Rasulullah, laki-laki dan
perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya? ' Nabi menjawab:
"Kejadian ketika itu lebih dahsyat sehingga memalingkan mereka dari
keinginan seperti itu."
457
Manusia Pertama yang Diberi Pakaian
َ
لﺎ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ٍ
سﺎ
َ
ِ
ْ
ﺑا
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
ً
ةا
َ
ُ
ً
ةﺎ
َ
ُ
ِ
ﻠﻟا
َ
ِ
إ
َ
نو
ُ
ر
ُ
ْ
َ
ْ
ُ
ِ
إ
ُ
سﺎﻨﻟا
َ
ـﻳ
َ
أ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
ُ
ً
ْ
ُ
َ
و
ُ
ُ
ﺪﻴ
ِ
ُ
ٍ
ْ
َ
َ
ل
و
َ
أ
َ
ْ
أ
َ
َ
َ
َ
}
َ
ِ
ِ
ﻋﺎ
َ
ﻓ ﺎﱠ
ُ
ِ
إ ﺎ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ا
ً
ْ
{
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
َ
ْ
ُ
ِ
ِ
َ
َ
ْ
ﳋا
َ
ل
و
َ
أ
ن
ِ
إ
َ
و
َ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
ُ
ِ
َ
ْ
ﻵا
ِ
ِ
ﺧآ
َ
ِ
إ
ُ
ﻢﻴ
ِ
ﻫا
َ
ْ
ـﺑ
ِ
إ
Dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam berkhutbah beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia,
sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tidak
beralas kaki, telanjang dan berkulup (tidak dikhitan)." Kemudian beliau
bersabda: "(Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah
Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati.
457
Sahih al-Bukhari (Arabic-English), vol. 8, p. 350, no. 534 and Sahih Muslim (English Trans.), vol. 4, p.
1486, no. 6844.
Islamic Online University Tafsir 202
297
Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya) (QS. Al Anbiyaa`: 104)
Ketahuilah, sesungguhnya makhluk pertama yang diberi pakaian pada hari
Kiamat adalah Ibrahim.
458
Para ulama berbeda pendapat tentang mengapa harus Nabi Ibrahim manusia yang
pertama diberi pakaian sebelum semua orang pada Hari Kiamat. Sebagian ulama menyatakan
bahwa itu karena beliau takut kepada Allah lebih daripada siapa pun, sehingga pakaiannya
disegerakan baginya untuk membuat hatinya tenang. Hal ini mungkin karena diriwayatkan
bahwa beliaulah orang pertama yang mengenakan celana di bawah pakaiannya ketika shalat
untuk bersungguh-sungguh dalam menutupi bagian pribadinya dan untuk memastikan bahwa
auratnya tidak akan menyentuh tempat shalatnya, jadi beliau dimuliakan dengan menjadi
manusia yang pertama kali yang ditutupi (auratnya) pada Hari Kiamat. Mungkin juga hal ini
karena orang-orang yang dahulu melemparkannya ke dalam api melucuti pakaiannya di depan
orang-orang sama seperti yang dilakukan terhadap mereka yang akan dibunuh. Jadi beliau
diberi imbalan dengan menjadi yang pertama diberi pakaian pada Hari Kiamat di hadapan
semua saksi. Dan inilah [penjelasan] terbaik.”
459
Ada beberapa riwayat shahih yang menyatakan bahwa manusia akan dibangkitkan
dalam keadaan berpakaian sebagaimana dulunya mereka meninggal dunia. Misalnya, Abu
Sa’id Al-Khudri tatkala ia berada di atas tempat tidur menjelang wafatnya, ia meminta
pakaian baru dan lalu dipakainya seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
))
َ
ﻬﻴ
ِ
ُ
ت
ُ
َ
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ﺑﺎ
َ
ِ
ِ
ُ
َ
ْ
ـﺒ
ُ
ـﻳ
َ
َ
ْ
ﻟا
ن
ِ
إ((
"Sesungguhnya orang yang meninggal akan dibangkitkan dengan memakai
pakaiannya yang ia pakai tatkala meninggal."
460
Imaam al-Baihaqi menyelesaikan konflik yang tampak ini menurut tiga perspektif:
1. Bahwa pakaian akan hancur setelah mereka bangkit dari kuburan mereka
sehingga mereka akan telanjang di tempat berkumpul (mahsyar), kemudian
mereka akan mengenakan pakaian surga.
458
Shahih Muslim, vol. 4, p. 1487, no. 6847
459
At-Tadzkirah, hlm. 209.
460
(Sunan Abu Dawud, vol. 2, p. 887, no. 3108 and authenticated in Silsilah al-Ahaadeeth as-Saheehah, 4: 234,
no. 1671)
Islamic Online University Tafsir 202
298
2. Ketika para nabi, orang-orang yang benar lagi saleh, kemudian orang-orang
setelah mereka menurut derajat mereka diberi pakaian, setiap orang akan
mengenakan pakaian seperti yang mereka pakai tatkala meninggal. Kemudian
ketika mereka memasuki surga mereka akan mengenakan pakaian surga.
3. Arti "pakaian" di sini mengacu pada perbuatan mereka. Artinya, mereka akan
dibangkitkan dalam perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan ketika
mereka mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”
(QS. Al A’raf 7: 26)
Jabir juga meriwayatkan hadits berikut,
َ
لﺎ
َ
ٍ
ِ
ﺑﺎ
َ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
ُ
ْ
ِ
َ
))
ِ
ْ
َ
َ
َ
تﺎ
َ
ﻣ ﺎ
َ
ﻣ ﻰ
َ
َ
ٍ
ْ
َ
ُ
ُ
َ
ْ
ـﺒ
ُ
ـﻳ((
Dari Jabir berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam
bersabda: "Setiap hamba dibangkitkan di atas kondisi saat ia meninggal."
461
َ
لﺎ
َ
ْ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ٍ
سﺎ
َ
ِ
ْ
ﺑا
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ْ
ذ
ِ
إ
َ
َ
َ
َ
ِ
ٌ
ِ
ﻗا
َ
و
ٌ
ُ
َ
ر ﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ْ
و
َ
َ
َ
لﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ُ
ْ
َ
َ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
َ
ِ
ﺣا
َ
ر
ْ
َ
َ
َ
و
ٍ
ر
ْ
ِ
َ
و
ٍ
ءﺎ
َ
ِ
ُ
ُ
ِ
ْ
ﻏا
ُ
ِ
َ
ُ
َ
ْ
أ
َ
ر او
ُ
َ
ُ
َ
َ
و
ُ
ُ
َ
ُ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
َ
ـﺛ
ِ
ُ
ُ
ً
ـﺒ
َ
ُ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
َ
ْ
ـﺒ
ُ
ـﻳ
461
Sahih Muslim, vol. 4, p. 1492, no. 6878
Islamic Online University Tafsir 202
299
Dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhum berkata: "Ada seorang laki-laki ketika
sedang wukuf di 'Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia
terinjak" atau Ibnu 'Abbas berkata: "Hingga orang itu mati seketika".
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mandikanlah dia
dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain
dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala
(serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam
keadaan bertalbiyyah".
462
Tidak boleh dipahami bahwa hamba akan dibangkitkan dengan pakaian yang
menyelimutinya atau yang dipakainya ketika meninggal. Namun ia akan dibangkitkan dalam
keadaan apa ia meninggal, dalam keadaan beriman atau kafir, dalam keadaan yakin atau ragu
dan perbuatan apa yang ia lakukan pada saat ia meninggal. Hal ini ditunjukkan dengan
riwayat berikut dari ‘Abdullaah ibn ‘Amr di mana ia meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda,
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ِ
ﻠﻟا
َ
ْ
َ
ن
َ
أ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
ا
ُ
ِ
ُ
ُ
ْ
ِ
ﻬﻴ
ِ
َ
نﺎ
َ
ْ
َ
ُ
با
َ
َ
ْ
ﻟا
َ
بﺎ
َ
َ
أ ﺎ
ً
ﺑا
َ
َ
ٍ
م
ْ
َ
ِ
ُ
ﻠﻟا
َ
دا
َ
ر
َ
أ ا
َ
ذ
ِ
إ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ْ
ِ
ِ
ﳍﺎ
َ
ْ
َ
أ ﻰ
َ
َ
Bahwasanya Abdullah bin Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Bila Allah hendak mengadzab suatu
kaum, adzab menimpa orang yang ada ditengah-tengah mereka lalu mereka
dibangkitkan berdasarkan amal-amal mereka."
463
Al Miqdad bin Al Aswad berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Salam bersabda, "Pada hari kiamat, matahari di dekatkan ke manusia hingga sebatas satu
mil -berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak
bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata- lalu mereka berada dalam keringat sesuai
462
Sahih Al-Bukhari, vol. 2, pp. 199-200, no. 355 and Sahih Muslim, vol. 2, p. 597, no. 2751
463
Sahih Muslim, vol. 4, p. 1492, no. 6880 [Yawm al-Aakhir, pp. 59-61. See also Fat’h al-Baaree,
Islamic Online University Tafsir 202
300
amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang
berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-
benar tenggelam oleh keringat." Al Miqdad berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam
menunjuk dengan tangan ke mulut beliau.
464
Kemudian orang-orang kafir akan semakin direndahkan dengan dikatakan kepada mereka,
“Bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu
waktu (memenuhi) perjanjian.” Kalian mengingkari bahwa amal-amal tidak akan diadili
dan Allah berjanji serta telah memperingatkan bahwa itu sungguh akan terjadi. Sekarang
kalian telah melihatnya dan menyadari bahwa dakwaan kalian itu batil.
465
464
Shahih Muslim, vol. 4, pp. 1487-8, no. 6852
465
Taisir al-Karim ar-Rahman, p. 557
Islamic Online University Tafsir 202
301








49. Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang
bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan
mereka berkata: "Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak
meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia
mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka
kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang
juapun."
Dalam ayat ini Allah melanjutkan untuk menggambarkan sebagian peristiwa pada hari
Kiamat setelah manusia dibangkitkan dan dibariskan di hadapan-Nya untuk diadili.
“Dan diletakkanlah Kitab
466
[di tangan-tangan mereka],” berarti bahwa kitab catatan
amal akan dibagikan di antara manusia, sebagian dari mereka menerimanya dengan tangan
kanan dan yang lain dengan tangan kiri.
467
466
Kitab di sini menunjukkan suatu induk kitab yang berisi semua catatan perbuatan makhluk.
467
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 84.
Islamic Online University Tafsir 202
302










“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka
Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan Dia akan
kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.
Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka Dia
akan berteriak: "Celakalah aku." Dan Dia akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka).” (QS. Al Insyiqaq 84: 7-12)





“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah
kirinya, Maka Dia berkata: "Wahai Alangkah baiknya kiranya tidak
diberikan kepadaku kitabku (ini). 26. dan aku tidak mengetahui apa
hisab terhadap diriku.” (QS. Al Haqqah 69: 25-6)
Setiap makhluk akan melihat semua amal baik dan buruk mereka sampai mereka
mampu menilai diri mereka sendiri tanpa ada alasan lagi.
Islamic Online University Tafsir 202
303




“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya
(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan
baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS.
Al Israa 17:13)



“Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis)
di dalamnya,” berarti bahwa manusia akan melihat bahwa orang-orang kafir ketakutan akan
dinampakkannya perbuatan-perbuatan jahat yang tertulis dalam kitab catatan amal mereka,
karena mereka mengetahui apa yang telah mereka perbuat semasa hidup di dunia.
468



“Dan mereka berkata: "Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak
meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat
semuanya;”
“Yang kecil dan tidak (pula) yang besar” di sini merujuk pada dosa-dosa kecil dan besar. Para
ulama berbeda pendapat tentang pengertian dosa-dosa besar (kabirah). Allah ‘azza wajalla
468
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 84
Islamic Online University Tafsir 202
304
menyebutkan bahwa Dia akan mengampuni dosa-dosa kecil bagi mereka yang meninggalkan
dosa-dosa besar:
  
 
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang
kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang
mulia (surga). (QS. An Nisa 4: 31)
Disebutkannya dosa-dosa kecil sebelum dosa-dosa besar mengisyaratkan bahwa
perlakuan khusus harus diberikan terkait hal itu sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam,
))
ﺬﻟا
ِ
تا
َ
َ
ُ
َ
و
ْ
ُ
ِ
إ
ٍ
د
ُ
ِ
ا
َ
ذ
َ
ءﺎ
َ
َ
ٍ
دا
َ
و
ِ
ْ
َ
ِ
ا
ُ
َ
َ
ـﻧ
ٍ
م
ْ
َ
َ
ِ
ب
ُ
ْ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
َ
ِ
ب
ُ
ﺬﻟا
ِ
تا
َ
َ
ُ
ن
ِ
إ
َ
و
ْ
ُ
َ
ـﺗ
َ
ْ
ـﺒ
ُ
ﺧ ا
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
ٍ
د
ُ
ِ
ﺑ ا
َ
ذ
َ
ءﺎ
َ
َ
و
ُ
ْ
ِ
ْ
ُ
ـﺗ ﺎ
َ
ُ
ـﺒ
ِ
ﺣﺎ
َ
ﺻ ﺎ
َ
ِ
((
"Jauhilah dosa-dosa yang dianggap ringan, karena dosa ringan itu laksana
kaum yang tinggal di perut lembah, setiap orang membawa sepotong kayu,
hingga mereka bisa memasak roti, sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap
Islamic Online University Tafsir 202
305
ringan saat hukumannya ditimpakan kepada pemiliknya akan
membinasakannya."
469
Catatan: Ayat ini mengindikasikan bahwa orang-orang kafir diwajibkan untuk mengikuti
perkara-perkara sekunder dalam syari’at karena mereka akan mendapati dalam buku mereka
amal-amal kecil yang diperhitungkan melawan mereka. Jika mereka tidak diwajibkan untuk
mengikuti hukum, tentu dosa-dosa kecil itu tidak akan dicatat dalam kitab catatan amal
mereka.
470

“Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis),” berarti bahwa
mereka akan mendapati konsekuensi dari perbuatan-perbuatan mereka yang terjaga
sepenuhnya dan diperhitungkan untuk melawan mereka.
“Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun,” merupakan suatu ungkapan yang
menyatakan sempurnanya keadilan Allah.
471
Dia tidak akan menambah banyaknya perbuatan
jahat yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat dosa dengan satu dosa pun, dan tidak
pula Dia mengurangi amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang shalih dengan
satu kebaikan pun. Sebagaimana Dia berfirman,


469
Musnad Ahmad, no. 21742 (CD Hadits)
470
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 92.
471
Ungkapan yang sama dapat ditemukan dalam berbagai tempat lainnya dalam Al Quran, di antaranya surat
Yunus: 44; An Nisa: 40; Al Anbiya: 47; Fushshilat: 46; dan An Nahl: 33, 118.
Islamic Online University Tafsir 202
306
“Dan Barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam
Keadaan beriman, Maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak
adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS.
Thaha 20: 112)
Ayat ini mengandung sifat yang dinafikan dari Allah, sedangkan sebagian besar sifat
Allah adalah sifat yang berupa penegasan seperti hidup (al-hayyu), ilmu dan kuasa. Sifat yang
dinafikan (ditiadakan) dalam Al-Qur'an dan Sunnah sangat sedikit, dan beriman kepada sifat-
sifat itu tidaklah lengkap dua syarat terpenuhi:
1. Sifat yang dinafikan harus dinegasikan.
2. Kebalikan yang sempurna dari sifat yang dinafikan itu harus ditegaskan.
Penafian yang tidak mengandung kesempurnaan tidak bisa menjadi sifat Allah.
Dengan demikian, setiap sifat yang dinafikan Allah dari diri-Nya harus mengandung
penegasan tentang kesempurnaan sifat kebalikannya. Jika penafian tidak mengandung
kesempurnaan, itu bisa disebabkan oleh tidak adanya kemampuan untuk memiliki sifat itu.
Misalnya, dapat dikatakan bahwa tembok itu tidak adil. Namun, itu tidak mengandung sifat
kesempurnaan untuk dinding, karena dinding tidak dapat digambarkan dengan sifat adil atau
tidak adil. Akibatnya, meniadakan ketidakadilan dari dinding tidak mengandung
kesempurnaan. Jika penafian tidak mengandung kesempurnaan, bisa jadi itu karena
kekurangan karena kelemahan. Sebagai contoh, jika seseorang digambarkan dengan sifat adil
karena dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan karena ketidakmampuannya untuk
membela diri, di mana hal ini tidaklah dianggap pujian baginya.



“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah
yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena
menciptakannya, Kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan)
Islamic Online University Tafsir 202
307
Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Ahqaf 46:
33)
Berdasarkan aturan yang disebutkan sebelumnya, meniadakan kekurangan yakni sifat
lelah dari Allah harus mencakup penegasan kesempurnaan dari sifat kebalikannya yang
merupakan Maha Kuasa. Karena itu, seseorang harus meyakini bahwa Allah, Yang Maha
Besar dan Maha Agung, memiliki kemampuan tanpa batas yang terbebas dari segala
kelemahan.
Allah Maha Adil kepada siapa pun karena kesempurnaan keadilan-Nya dan tidak,
seperti apa yang didakwahkan oleh Jahmiyah,
472
karena tidak mungkin Allah memiliki sifat
tidak-adil yang relatif. Mereka mengklaim bahwa itu bukan karena Allah dapat menindas
tetapi karena Dia tidak melakukannya. Menurut mereka, semua makhluk diciptakan oleh-Nya
dan semua adalah milik-Nya. Jika mereka milik-Nya dan Dia menghukum orang yang
bertakwa, Dia menghukum harta milik-Nya di mana hal itu tidak dapat berupa
penindasan/ketidakadilan karena Dia dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki dengan
makhluk-Nya. Namun, ini adalah pernyataan yang salah. Jika Allah, subahanu wata’ala,
berjanji untuk memberi pahala kepada orang yang bertakwa dan menghukum orang yang
berdosa dan kemudian Dia menghukum orang yang bertakwa dan memberi pahala kepada
orang yang berdosa, yang paling tidak bisa dikatakan mengenai Dia adalah yang melanggar
janji-Nya, dan itu, tanpa ada bayang-bayang keraguan adalah hal yang bertentangan dengan
keadilan dan kebenaran. Lebih jauh lagi, Allah, Yang Mahabesar dan Agung menyatakan
berikut ini dalam Hadits Qudsi:
))
ُ
ُ
ْ
َ
َ
َ
و ﻲ
ِ
ْ
َ
ـﻧ ﻰ
َ
َ
َ
ْ
ﻈﻟا
ُ
ْ
َ
ِ
إ ي
ِ
دﺎ
َ
ِ
ﻋ ﺎ
َ
َ
َ
ﻓ ﺎ
ً
َ
ُ
ْ
ُ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ
ا
ُ
َ
ﻟﺎ
َ
َ
((
"Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk
berbuat zhalim dan perbuatan zhalim itu pun Aku haramkan diantara kamu.”
473
472
Lihat catatan kaki 48.
473
Shahih Muslim, Kitab: Berbuat baik, menyambung silaturahim dan adab, Bab: Haramnya kezhaliman.
Islamic Online University Tafsir 202
308
Ini adalah dalil bahwa Dia mampu untuk berbuat tidak adil, namun, Dia menjadikan
sifat itu haram bagi diri-Nya karena kesempurnaan sifat keadilan-Nya. Dengan demikian,
seseorang harus mengatakan bahwa Allah tidak menzhalimi siapa pun karena kesempurnaan
keadilan-Nya dan bukan karena bahwa kezhaliman itu tidak mungkin relatif terhadap-Nya,
seperti yang didakwahkan oleh orang-orang Jahmiyah.
474
Ini adalah Hari Penghakiman yang telah Allah peringatkan kepada kita di sepanjang
Al-Qur'an. Pada hari ini, semua perbuatan kita akan dinampakkan di hadapan kita. Allah
mengingatkan kita pada saat itu karena sangat mudah bagi kita untuk melupakannya dan
itulah sebabnya hal itu sering disebutkan dalam Al-Qur'an.
Allah menutup ayat ini dengan mengatakan bahwa Dia tidak akan berbuat tidak adil
kepada siapa pun sebagai pengingat bahwa musibah dan malapetaka yang menimpa manusia
memang pantas mereka dapatkan atau bahwa musibah dan malapetaka tersebut adalah
hukuman dari Allah atas seluruh kelompok manusia meskipun ada sebagian orang baik dan
shalih di antara mereka. Orang jahat pantas mendapatkannya tetapi bagi orang yang baik itu
adalah cobaan. Allah menguji kesabaran mereka dan jika mereka sabar maka Allah akan
membalas mereka untuk itu.
474
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 85-7.
Islamic Online University Tafsir 202
309







50. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat:
"Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali iblis.
Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah
Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya
sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah
musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi
orang-orang yang zalim.
Dalam dua ayat berikut Allah beralih dari deskripsi Hari Kiamat kepada kejahatan
yang telah ada sejak permulaan zaman; dosa pertama yang dicatat dan pelakunya yang telah
berbuat dosa pertama itu, yakni Setan. Allah membawa pembaca (Al Quran) kembali ke masa
tak lama setelah penciptaan Adam, manusia pertama:
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad: Ceritakan kepada manusia “Dan (ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam,”” agar
mereka dapat mengambil pelajaran penting tentang kekuatan-kekuatan yang berperan di dunia
ini dan agar menjadi nampak jelas keutamaan umat manusia.
Islamic Online University Tafsir 202
310
MALAIKAT
Para malaikat
475
adalah bagian dari dunia ghaib yang diciptakan oleh Allah dari
cahaya menurut hadits shahih yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, di mana beliau bersabda,
))
َ
ِ
ُ
َ
و
ٍ
رﺎ
َ
ْ
ِ
ٍ
ج
ِ
رﺎ
َ
ْ
ِ
نﺎ
َ
ْ
ﳉا
َ
ِ
ُ
َ
و
ٍ
ر
ُ
ْ
ِ
ُ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ْ
َ
ِ
ُ
َ
ِ
ُ
و ﺎ
ِ
ُ
م
َ
دآ
ْ
ُ
َ
((
"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-
nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya)
untuk kalian."
476
Meskipun malaikat pada umumnya tidak bisa dilihat oleh manusia,
477
sebagian dari
mereka diperlihatkan oleh Allah, sebagaimana halnya dengan malaikat Jibril, yang dilihat
oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada dua kejadian dalam bentuk aslinya.
478
Malaikat
475
Berasal dari bahasa Arab malak (jamaknya: malaaikah)
476
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1540, no. 7134.
477
Akan tetapi, para malaikat dapat dilihat oleh sebagian hewan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda,
ً
َ
َ
ْ
ت
َ
أ
َ
ر ﺎ
َ
ـﻧ
ِ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
َ
ﻠﻟا ا
ُ
َ
ْ
ﺳﺎ
َ
ِ
َ
َ
ﺪﻟا
َ
ح
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
ِ
َ
ﲰ ا
َ
ذ
ِ
إ
"Jika kalian mendengar suara kokok ayam mohonlah kepada Allah karunia-Nya karena saat
itu ayam itu sedang melihat malaikat." (Sunan Abu Dawud, vol. 3 , p.1415, no. 5083, Shahih
Al-Bukhari, vol. 4, p. 332, no. 521 dan Shahih Muslim, vol. 4, p. 1428, no. 6581)
478
Dalam bentuk aslinya, malaikat bukanlah makhluk seperti manusia yang memiliki sepasang sayap mirip
sayap burung, sebagaimana yang digambarkan dalam legenda Yunani-Romawi dan karya seni yang
terpengaruh ajaran Kristen. Akan tetapi mereka biasanya berukuran besar dan jumlah sayap mereka bisa jadi
dua atau lebih dari itu.





“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai
utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap,
masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya
Islamic Online University Tafsir 202
311
Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sementara
beliau shallallahu 'alaihi wasallam berada di tengah-tengah para sahabatnya, dan tidak ada
seorang pun dari mereka yang melihatnya. Aisyah dinukil pernah mengatakan,
))
َ
م
َ
ﺴﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ُ
أ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ﻞﻳ
ِ
ْ
ِ
ﺟ ا
َ
َ
ُ
َ
ِ
ﺋﺎ
َ
ﻋ ﺎ
َ
((
ُ
م
َ
ﺴﻟا
ِ
ْ
َ
َ
َ
و
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
َ
ـﻓ
ى
َ
ر
َ
أ
َ
ﻻ ﺎ
َ
ﻣ ى
َ
َ
ـﺗ
ُ
ُ
ﺗﺎ
َ
َ
َ
ـﺑ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
ُ
َ
ْ
َ
ر
َ
و
"Wahai 'Aisyah, ini Jibril datang menyampaikan salam kepadamu". 'Aisyah
berkata: "Wa'alaihis salaam wa rahmatullahi wa barakatuh (Dan baginya
keselamatan dan rahmat Allah serta barakah-Nya). Dia melihat apa yang
aku tidak lihat"
479
apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu…”
(QS. Faathir 35: 1)
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ُ
َ
َ
و
ِ
ِ
َ
ر
ُ
ِ
َ
ﻞﻳ
ِ
ْ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر ى
َ
أ
َ
ر
ْ
ِ
ِ
ِ
ﺣﺎ
َ
َ
ْ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
ُ
ْ
ﻷا
َ
ْ
َ
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ٍ
ح
َ
َ
ُ
ٍ
ح
َ
َ
ِ
َ
ﺋﺎ
ِ
ِ
َ
ـﺘﻟا
ٌ
ﻢﻴ
ِ
َ
ِ
ِ
ُ
ﻠﻟا ﺎ
َ
ِ
ت
ُ
ﻗﺎ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
ر
ﺪﻟا
َ
و
ِ
ﻞﻳ
ِ
وﺎ
“Dari Abdullah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Jibril dalam
bentuk aslinya, ia memiliki enam ratus sayap, setiap sayap dapat menutupi antara langit
dan bumi, dari sayapnya berjatuhan aneka warna warni, mutiara dan yaqut. Allah Maha
Mengetahui itu semua. (Dikeluarkan oleh Ahmad. Ibnu Katsir menilai sanadnya jayyid
(bagus). Lihat al-Bidaayah wa an-Nihaayah, vol. 1, p. 47. Penggambaran Malaikat Jibril
memiliki enam ratus sayap disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, vol. 4, p. 301, no. 455.)
Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan
yangberikut ini tentang Malaikat Jibril,
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ُ
َ
ِ
ﻋ ا
دﺎ
َ
ِ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
ْ
ِ
ﻣ ﺎ
ً
ِ
َ
ْ
ـﻨ
ُ
ُ
ُ
ْ
ـﻳ
َ
أ
َ
ر
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
َ
ِ
إ
ِ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
َ
ْ
َ
ـﺑ
Aku melihatnya semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar
sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi.' (Diriwayatkan oleh Aisyah dalam Shahih
Muslim, jilid 1, hlm. 111-112, no. 337)
479
Sahih al-Bukhari,
vol. 5, p. 75, no. 112 and
Sahih Muslim,
vol. 4, p. 1302, no. 5997
Islamic Online University Tafsir 202
312
Para malaikat juga bisa menyerupai bentuk manusia. Salah satu contohnya dalam Al
Quran dapat ditemukan dalam peristiwa yang dialami oleh Maryam, ketika malaikat Jibril
datang untuk memberitahukannya tentang kehamilannya yang akan segera datang:




“Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia
menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.
Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu
Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di
hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam
19: 16-17)
Kadang-kadang malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam
bentuk manusia yang juga terlihat oleh orang lain. Terkadang para sahabat Nabi
menyaksikannya mengunjungi Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) di Masjid
Nabawi dengan menyerupai seorang sahabat tampan yang bernama Dihyah ibn Khalifah al-
Kalbi,
480
dan pada waktu lain dalam rupa seorang Badui yang tidak dikenal.
481
Namun, meskipun malaikat mengambil bentuk seorang manusia laki-laki, mereka
tidak dianggap laki-laki atau perempuan,
482
juga tidak ada dalil dalam nash-nash Islam untuk
480
Pada kesempatan lain, ‘Aisyah, istri Nabi (
), meriwayatkan bahwa dia melihat Nabi meletakkan
tangannya di surai kuda Dihyah al-Kalbi sambil berbicara dengannya. Ketika dia bertanya kepadanya tentang
hal itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab bahwa itu adalah malaikat Jibril dan bahwa dia telah
mengirim salam kepadanya. (Musnad Ahmad, vol. 6, p. 146 dan dishahihkan dalam Silsilah al-Ahadits as-
Shahihah, vol. 3, hal. 105, no. 1111.)
481
Shahih
al-Bukhari,
vol. 1, p. 17, no.7 dan
Shahih Muslim,
vol. 1, pp. 9-10, no. 18.
482
Kisah-kisah Haarut dan Marut menghasilkan godaan seksual, seperti yang dikumpulkan oleh Ibn Abi
Syaibah, ‘Abd ibn Humaid, Ibn Abid-Dunyaa (dalam Kitaab al-'Uqubaat), Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir, Ibn Abi
Haatim dan Al-Baihaqi (dalam Syu'ab al-Imaan), dari orang Yahudi yang pindah agama, Ka'b al- Ahbaar
(lihat ad-Durr al-Mantsur as-Suyuthi fi at-Tafsir al-Ma'tsur, vol. 1, hlm. 239-240), telah menyebabkan
beberapa teolog Muslim menyimpulkan bahwa para malaikat berhubungan seks, tetapi tidak
menggunakannya untuk menyebarkan jenis mereka. (Lihat Shorter Encyclopaedia of Islam, hlm. 319).
Islamic Online University Tafsir 202
313
menunjukkan bahwa mereka bereproduksi. Di dalam Al-Quran, orang-orang Arab kafir
diperingatkan karena menyebut para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah atau
bahkan para perempuan.
483
Meskipun banyak nama telah dikaitkan dengan malaikat dalam cerita rakyat
Muslim,
484
hanya sedikit dari nama mereka yang telah diverifikasi menurut sumber-sumber
Islam yang shahih. Malaikat Jibril (Ing. Gabriel) adalah malaikat yang bertugas
menyampaikan wahyu, Mikail (atau Meekaal, Ing. Michael)
485
bertanggung jawab atas
turunnya hujan.
486
Israfil
487
adalah malaikat yang akan bertugas meniup sangkakala/tanduk (saur) yang
menandakan akhir dunia,
488
Maalik adalah nama malaikat utama penjaga neraka,
489
Munkar
dan Nakir
490
adalah dua malaikat yang bertugas menanyai setiap manusia setelah kematian
mereka, Harut
491
dan Marut
492
adalah dua malaikat yang dikirim kepada orang-orang
Babilonia sebagai ujian atas iman mereka.
493
Malaikat bertanggung jawab atas langit dan bumi. Jadi, setiap gerakan yang terjadi di
alam semesta adalah hasil dari [kegiatan] para malaikat.
494
Beberapa malaikat dapat membaca
pikiran manusia. Malaikat yang bertugas mencatat amal mengetahui niat manusia dan
mencatat perbuatan yang dimaksudkan (yang diniatkan) baik yang mungkin atau mungkin
tidak terwujud. Nabi (
) diriwayatkan oleh sahabat beliau, Aboo Hurayrah, bahwa beliau
bersabda,
Namun, semua riwayat ini tidak shahih. Elemen-elemen dari kisah-kisah ini ditemukan dalam midrash
Yahudi dan juga dalam Perjanjian Baru. (Shorter Encyclopaedia of Islam, hal. 135.)
483
Surat Ash Shaffat 37: 149-50 dan az-Zukhruf (43): 19.
484
Dictionary of Islam, hlm. 15-16.
485
Lihat Al Quran 2: 97-98
486
Syarh Aqidah at-thahawiyah, hlm. 336.
487
Kata pinjaman dengan varian dialek lain “Israfin” (Mukhtarus Shihah, hlm. 296) kemungkinan dari kata
dalam bahasa Ibrani ‘Serafin’ (Shorter Encyclopaedia of Islam, hal. 184). Perlu diperhatikan bahwa
penggambaran malaikat ini, semacam itu yang terdapat dalam Shorter Encyclopaedia of Islam, hal. 184, tidak
memiliki dasar dalam nash Islam yang shahhih dan merupakan produk dari mitos dan legenda.
488
Al Bidayah wan Nihayah, jilid 1, hlm. 45.
489
Surat az-Zukhruf (43): 77.
490
Kedua nama tersebut berasal dari akar kata bahasa Arab nakira yang berarti, “mennjadi jahat, buruk,
mengerikan, busuk.” Kata munkar secara bahasa berarti “setiap perbuatan yang dicela atau dilaknat sebagai
perbuatan jahat, curang, dibenci” dan nakir berarti “penyangkalan, atau semacamnya, dan manifestasi
semestinya.” (Arabic –English Lexicon, jilid 2, 2849-2851)
491
Umumnya dianggap sebagai nama asing (Arabic –English Lexicon, jilid 2, 2890)
492
Menurut Ahli Kata Serapan (Lexicopher) Bahasa Arab, kata ini bisa jadi berasal dari bahasa asing atau
diperoleh dari asal kata murutah, yang berarti keadaan tanah gurun pasir tanpa air atau tanaman. (Arabic
English Lexicon, jilid 2, 2703)
493
Surat Al Baqarah 2: 102.
494
Syarh Aqidah at-thahawiyah, hlm. 335. Lihat Surat An-Naziat 79: 5, dan Adz-Dzariyat 51: 4
Islamic Online University Tafsir 202
314
))ا
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
ِ
ِ
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
ُ
َ
و
ً
َ
َ
َ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ُ
ﺪﻳ
ِ
ُ
َ
ك
ُ
ْ
َ
َ
كا
َ
ذ
ب
َ
ر
ُ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ﻟ ﺎ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ﻓ ﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﺗ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و ﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
ِ
ُ
َ
ﻟ ﺎ
َ
ُ
ُ
ْ
َ
ﻓ ﺎ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ن
ِ
َ
ُ
ُ
ُ
ـﻗ
ْ
را
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
يا
َ
ْ
ِ
ﻣ ﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﺗ ﺎ
َ
ِ
إ
ً
َ
َ
َ
((
“Para Malaikat berkata kepada Allah, “Hamba-Mu berkeinginan untuk
berbuat kejelekan” -dan Dia lebih mengetahuinya (dari pada mereka)-
seraya Dia berfirman, 'Kalian awasilah dia. Jika dia mengerjakan kejelekan
maka kalian tulisnya dengan semisalnya, dan apabila dia meninggalkannya
maka tulislah untuknya satu kebaikan. Karena dia meninggalkannya karena
Aku'."
495
Malaikat pada dasarnya adalah hamba Allah yang selalu taat dan tidak memiliki
kemampuan untuk tidak menaati Allah
496
dan mereka terus-menerus berhubungan dengan
manusia. Mereka melakukan berbagai tugas di semua tahapan keberadaan manusia - dari lahir
sampai mati, dan bahkan di jauh alam kubur.
Mereka ditugaskan ke rahim seorang ibu sejak awal konsepsi setiap manusia hingga
kelahirannya, melaksanakan perintah Allah sehubungan dengan masing-masing individu.
Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Anas ibn Maalik, meriwayatkan bahwa beliau
bersabda,
ٌ
َ
َ
َ
ب
َ
ر ﺎ
َ
ٌ
َ
ْ
ُ
ب
َ
ر ﺎ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ ﺎ
ً
َ
َ
ِ
ِ
ﺮﻟﺎ
ِ
َ
َ
و
َ
َ
و
َ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
ْ
م
َ
أ
ِ
َ
ﺷ ﻰ
َ
ْ
ـﻧ
ُ
أ
ْ
م
َ
أ
ٌ
َ
َ
ذ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
َ
دا
َ
ر
َ
أ ا
َ
ذ
ِ
َ
ٌ
َ
ْ
ُ
ب
َ
ر ﺎ
َ
ْ
َ
ِ
ُ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ُ
َ
َ
ْ
ﻷا
َ
و
ُ
ق
ْ
ز
ﺮﻟا ﺎ
َ
َ
ٌ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
ُ
أ
ِ
"Sesungguhnya Allah Ta'ala menugaskan satu Malaikat dalam rahim
seseorang. Malaikat itu berkata: 'Ya Rabb, (sekarang baru) sperma, Ya
Rabb, segumpal darah!, Ya Rabb, segumpal daging!' Maka apabila Allah
berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, Malaikat itu bertanya: 'Apakah laki-
495
Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 75, no. 235
496
Surat an-Nahl, (16):49-50.
Islamic Online University Tafsir 202
315
laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan
ajalnya?' Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam
perut ibunya."
497
Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
َ
ْ
ِ
ً
َ
َ
َ
ُ
ن
ُ
َ
ُ
ﰒ ﺎ
ً
ْ
َ
ـﻳ
َ
ِ
َ
ْ
ر
َ
أ
ِ
ُ
أ
ِ
ْ
َ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
ُ
َ
ْ
ُ
ْ
ُ
َ
َ
َ
أ
ن
ِ
إ
ِ
َ
ْ
ر
َ
ِ
ُ
َ
ْ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ ﺎ
ً
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
ُ
َ
ِ
َ
ذ
َ
ْ
ِ
ً
َ
ْ
ُ
ُ
ن
ُ
َ
ُ
َ
ِ
َ
ذ
َ
و
ُ
َ
ْ
ز
ِ
ر
َ
و
ُ
َ
َ
َ
ْ
ُ
ْ
ا
ُ
َ
ُ
لﺎ
َ
ُ
ـﻳ
َ
و
ٍ
تﺎ
َ
ِ
َ
ُ
ٌ
ﺪﻴ
ِ
َ
ْ
و
َ
أ
ِ
َ
َ
و
ُ
َ
َ
َ
أ
ُ
حو
ﺮﻟا
ِ
ﻪﻴ
ِ
ُ
َ
ْ
ـﻨ
ُ
ـﻳ
"Sesungguhnya setiap orang dari kalian dikumpulkan dalam penciptaannya
ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian
menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah
(segumpal daging), selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat
yang diperintahkan empat ketetapan dan dikatakan kepadanya, tulislah
amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan
ruh kepadanya.”
498
Dari kelahirannya sampai kematiannya, seorang malaikat ditugaskan kepadanya, yang
mengilhaminya untuk berbuat baik dan menjaganya dari kejahatan. 'Abdullaah ibn Mas'ud
meriwayatkan bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda, "Setiap orang dari
kalian telah diberi teman dari kalangan jin dan satu dari kalangan malaikat ..."
499
Malaikat-
malaikat ini dipercayakan dengan tanggung jawab untuk membimbing dan menasihati setiap
individu, atas kehendak Allah, kepada jalan kebenaran.
500
Al-Qur'an juga berbicara tentang
malaikat penjaga sebagai berikut: “Bagi setiap [orang] ada [malaikat] yang berturut-
497
Shahih al-Bukhari, vol. 8, no. 594, p. 388 dan Shahih Muslim, vol. 4, p. 1391, no. 6397.
498
Shahih al-Bukhari, vol. 8, no. 593 dan Shahih Muslim, vol. 4, p. 1391, no. 6390.
499
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad dan Muslim (disebutkan hanya bilangannya saja dalam
Shahih Muslim, vol. 4, p. 1472, no. 6758). Lihat Shahih Muslim, Syarh an-Nawawi, vol. 17, p. 158 untuk
teks arabnya secara lengkap, sementara teks Inggrisnya dihapus dalam terjemahan yang disebutkan
sebelumnya.
500
Lihat al-Bidaayah wa an-Nihaayah, vol. 1, p. 52.
Islamic Online University Tafsir 202
316
turut
501
di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya dengan perintah Allah ... ”
502
Namun, malaikat penjaga meninggalkan manusia yang mereka ditugaskan untuk menjaganya
pada kesempatan tertentu. Misalnya, Abu Thalhah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
َ
ﻞﻴ
ِ
ﺛﺎ
َ
َ
ُ
ة
َ
ر
ُ
َ
َ
و
ٌ
ْ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ﻓ ﺎ
ً
ْ
َ
ـﺑ
ُ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ُ
ْ
َ
َ
"Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing
dan (atau) gambar patung."
503
Dua malaikat juga ditugaskan kepada setiap manusia dengan tugas untuk mencatat
amal perbuatan mereka. Al-Qur'an merujuk kepada mereka dalam ayat-ayat berikut:
"Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu
itu),"
504
Abu Umamah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam)
menggambarkan mereka sebagai berikut, Sungguh, [malaikat di sebelah kiri] mengangkat
pena [dari catatan] seorang Muslim yang melakukan kesalahan selama enam jam. Jika dia
bertobat dan meminta ampun kepada Allah, perbuatan itu tidak dicatat; kalau tidak maka
dituliskan sebagai satu [perbuatan dosa]."
505
Menurut Nabi Muhammad
ada juga malaikat-malaikat yang berdoa kepada Allah
bagi manusia pada kesempatan tertentu. Misalnya, beliau diriwayatkan telah bersabda,
ُ
َ
ﻟ ﻮ
ُ
ْ
َ
ْ
ث
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
ﱂ ﺎ
َ
ٍ
ة
َ
َ
ِ
َ
ة
َ
ﺼﻟا
ُ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
ـﻗ ﺎ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
ُ
َ
ْ
ِ
ْ
ﻏا
ُ
ﻠﻟا
ُ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ْ
َ
ْ
را
501
Istilah Arab yang digunakan dalam ayat ini adalah mu‘aqqibaat, yang ditafsirkan Ibn ‘Abbaas sebagai
malaikat yang akan melindungi setiap orang sampai sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah menimpa atasnya.
Lihat al-Bidaayah wa an-Nihaayah, vol. 1, p. 50.
502
Soorah ar-Ra‘d, (13):11.
503
Shahih al-Bukhari, vol. 4, pp. 297-298, no. 448.
504
Surat Al Infithar (82): 10-11. Lihat pula Surat Qaaf (50): 17-8
505
Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-kabir dan dihasankan oleh Al-Albani dalam shahihul
jami’as shaghir, jilid 2, hlm. 422, no. 2097.
Islamic Online University Tafsir 202
317
"Salah seorang diantara kalian dihitung dalam shalatnya selama duduk
menunggu shalat, dan tidak berhadats, malaikat juga akan mendoakannya:
"Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia."
506
Ada juga malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia dari
tubuh mereka pada saat kematian mereka. Referensi dibuat untuk para malaikat ini dalam Al
Qur'an sebagai berikut: “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua
hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila
datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-
malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”
507
Namun ada juga malaikat-malaikat lain yang diberi tugas untuk mengambil ruh yang telah
dicabut dalam perjalanan spiritual keluar dari dunia ini dan kembali ke dalamnya. Al-Baraa
'ibn ‘Aazib menyatakan bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda,
“Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia
dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit para
malaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa
kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin
tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikat pencabut
nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat
pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau
untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya’. Maka nyawa itu
(dengan mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya
air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil
oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada
para malaikat yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga
dan diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum
seharum wewangian yang paling harum di muka bumi.
Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati
sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang
amat mulia itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para malaikat
yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di
dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk
506
Shahih al-Bukhari, vol. 4, p. 299, no. 452 dan Shahih MuslimKitaab: al masaajid wa mawaadias salaah;
Baab: Fadl Salaatul Jamaa’ah wa intizaar as salaah. Lafadz ini terdapat dalam Shahih Muslim
507
Surat as-Sajdah, (32):11 dan al-An ‘aam, (6):61.
Islamic Online University Tafsir 202
318
memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikat yang ada di langit itu
ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai di
langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah nama hambaku ini di
dalam kitab ‘Iliyyin
508
. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi, karena
darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku
akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan.’
509
Lalu
nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia…
510
Dua malaikat lainnya, Munkar dan Nakir, ditugaskan untuk menanyai ruh di alam
kubur. Sebagai kelanjutan dari hadits sebelumnya, Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam)
melanjutkan dengan mengatakan,
Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk
duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Rabbku adalah
Allah’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’,
‘Agamaku Islam’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang
yang telah diutus untuk kalian?’ “Beliau adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam” jawabnya. ‘Dari mana engkau tahu?’ tanya mereka
berdua. ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan
mempercayainya.’
511
,
512
Beriman kepada malaikat-malaikat Allah merupakan rukun Islam yang ke 2
sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits Jibril
yang terkenal.
513
Malaikat berbeda dari Jin sebagaimana hal ini jelas menurut ayat ini; para malaikat
memiliki kemampuan yang lebih besar dan lebih suci daripada jin. Para malaikat mampu naik
508
“Sekali-kali tidak, Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin.
Tahukah kamu Apakah 'Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis.” Qur’aan, 83, 18-20.
509
Pernyataan ini bertepatan dengan ayat Al Quran berikut, Dari bumi (tanah) Itulah Kami menjadikan
kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan
kamu pada kali yang lain.” Qur’aan, 20:55.
510
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (Misykaah al-Masaabih, vol. 1, pp. 340-342) dan Abu Daawud (Sunan Abu
Dawud, vol. 3, p. 1330, no. 4735) dan dishahihkan oleh al-Albaani dalam Shahih al-Jaami‘ as-Shaghir, vol.
1, pp. 344-346, no. 1676.
511
Lihat juga Shahih al-Bukhari, jilid 2, hlm. 257-8 no. 456
512
A Clash of Civilization: An Islamic View, hlm. 105-114.
513
Shahih al-Bukhari, jilid 1, hlm. 17 no. 7 dan Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 9-10, no. 18.
Islamic Online University Tafsir 202
319
serta masuk ke atas langit dan membawa ruh manusia kepada Allah,
514
sementara jin yang
mencoba untuk masuk ke langit diusir dengan lemparan bintang (meteor) dan komet.
515
Kaum muslimin wajibkan untuk memiliki keimanan yang kokoh yang tidak
tergoyahkan pada alam malaikat yang ghaib
516
sebagai sarana untuk memperkuat kesadaran
mereka akan pengetahuan Allah dan catatan semua amal perbuatan mereka. Kesadaran ini
akan membawa mereka agar hati-hati dan tidak terburu-buru dalam apa saja yang mereka
berencama untuk mengerjakannya bukannya terburu-buru dan tidak peduli dengan akibat dari
perbuatan mereka.
SUJUD
Perintah Allah kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam,” dijelaskan
oleh beberapa ulama sebagai sujud salam dan bukan sujud di dahi untuk menghindari dari
peribadatan terkait implikasi sujud sempurna yang hanya diperbolehkan kepada Allah saja.
Namun, harus diambil pernyataan sesuai dengan maknanya yang nampak; yakni sujud dengan
meletakkan dahi. Jika sujud ini dilakukan dalam rangka taat pada perintah Allah, maka itu
bukan suatu kesyirikan, begitu juga halnya bahwa membunuh seseorang adalah dosa besar
tetapi jika itu terjadi sebagai bentuk menaati perintah Allah maka itu adalah perbuatan benar.
Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri dan beliau mematuhi
perintah itu dan mulai melaksanakannya, terlepas dari kenyataan bahwa membunuh putra
sendiri adalah suatu perbuatan besar yang memutus ikatan keluarga. Tetapi karena mengikuti
perintah Allah, hal itu menjadi perbuatan sebagai bentuk kepatuhan untuk memenuhi maksud
514
Musnad Ahmad (See Mishkaah al-Masaabeeh, vol. 1, pp. 340-342) and Sunan Abu Dawud, vol. 3, p. 1330,
no. 4735
and authenticated in Saheeh al-Jaami‘ as-Sagheer, vol. 1, pp. 344-346, no. 1676.
515
Lihat surat Al-Hijr 15: 17-8








“Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan
yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu Dia
dikejar oleh semburan api yang terang.”
516
Tafsir Al-Quran al-Karim, hlm. 87-8.
Islamic Online University Tafsir 202
320
Allah untuk mengujinya, sehingga Allah membatalkan perintah tersebut dan menghilangkan
kesulitan.
517
Secara umum dikatakan bahwa perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud
bukanlah sujud menyembah, tetapi sebagai tanda penghormatan. Ibnu Katsir menyebut sujud
ini sebagai sujud tasyrif, takrim, dan ta‘zim, (sujud kehormatan, hormat, dan pemuliaan).
Perintah ini adalah perintah Allah kepada para malaikat, tetapi manusia dilarang bersujud
kepada siapa pun atau apa pun selain Allah sebagaimana yang dipraktikkan oleh banyak
Muslim di Nigeria Utara dan Malaysia, dan umat Hindu di India dan Sri Lanka. Poin ini perlu
klarifikasi lebih lanjut karena ada beberapa Muslim yang jahil yang salah menafsirkan ayat
ini. Seorang yang dianggap wali yang populer di kalangan Sufi, al-Hallaaj (858-992 M),
dieksekusi sebagai seorang yang murtad karena menolak untuk secara terang-terangan
menarik kembali pernyataannya. "Aku adalah yang haq (Ana al-Haqq)" di mana ia mengaku
bahwa ia menyatu dengan Allah.
518
Pernyataan Al-Hallaaj dapat ditemukan dalam kitabnya,
Kitabut-Tawasin.
"Jika Anda engkau mengenali Tuhan, setidaknya kenalilah tanda-Nya, akulah
al haq/kebenaran (Ana al-Haqq), karena melalui kebenaran, akulah kebenaran
abadi. Teman dan guruku adalah Iblis dan Firaun. Iblis diancam dengan api
Neraka, namun, dia tidak gentar. Firaun ditenggelamkan di laut, namun dia
tidak mengakui kesalahannya, karena dia tidak mau mengakui apa pun di
antara dia dan Tuhan
519
Meskipun saya terbunuh dan disalibkan dan
meskipun tangan dan kaki saya terpotong; Saya tidak mengakui kesalahan.
520
Seorang manusia yang gila ini membuat pernyataan seperti itu karena keyakinannya
pada (dunia) Fanaa, yang sangat mirip dengan kepercayaan Hindu/Buddha pada alam
“Moksha/Nirvana.” Di alam ini, menurut kepercayaan Hindu/Buddha, ego menghilang dan
jiwa manusia, setelah melalui serangkaian reinkarnasi akhirnya bersatu kembali dengan jiwa
dunia, Brahman.
517
Tafsir Al-Quran al-Karim, hlm. 88-9.
518
Allah berfirman di dalam Al Quran, “Karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq.” Surat al-Hajj 22: 6,
dan 62. Lihat pula Surat 24: 25 dan 31: 30.
519
Yakni, Hallaaj merasa bahwa Iblis menolak untuk sujud kepada Adam dan pernyataan Firaun “Akulah
Tuhanmu, yang maha tinggi,” kedua-duanya benar. A.J. Arberry, Muslim Saints and Mystic, (London:
Routledge and Kegan Paul, 1976) hlm. 266-71.
520
Nicholson, Idea of Personality, hlm. 32
Islamic Online University Tafsir 202
321
Al-Hallaaj mengklaim bahwa ia telah menjadi Allah dengan melakukan perbuatan
ibadah yang mengangkatnya secara spiritual. Dengan mengatakan bahwa Firaun adalah
gurunya, Hallaaj mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain dia. Demikian pula Iblis adalah
gurunya, karena ketika Allah menguji Iblis dengan memerintahkan kepadanya untuk bersujud
kepada Adam ia menolak melakukannya karena manusia tidak diperbolehkan untuk bersujud
kepada siapa pun selain Allah. Al-Hallaaj mengklaim bahwa sebab Iblis tidak mau bersujud
adalah untuk mempertahankan kepercayaannya kepada satu Tuhan, tetapi jelas al-Hallaaj
keliru dalam berpikir demikian, karena Allah mengutuk Iblis karena tidak bersujud kepada
Adam. Ayat ini jangan disalahartikan karena sujud yang dimaksud dalam ayat ini bukan
ibadah melainkan sujud penghormatan.
ADAM
Adam merupakan bapak dari bangsa manusia, yang Allah ciptakan dari tanah dengan
kedua Tangan-Nya sendiri, sebagaimana yang Dia firmankan,

“Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud
kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah
kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-
orang yang (lebih) tinggi?" (QS. Shaad 38: 75)
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam juga menerangkan bahwa pada hari
Kiamat Nabi Musa akan memanggil Nabi Adam dengan mengatakan,
))
ِ
ِ
َ
ِ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
َ
ﺧ ي
ِ
ﻟا
ُ
م
َ
دآ
َ
ْ
َ
أ((…
Islamic Online University Tafsir 202
322
“‘Engkaulah Adam yang telah diciptakan Allah dengan kedua Tangan-
Nya...”
521
Para ulama mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan sesuatupun selain Adam, dan
Surga And dengan tangan-Nya. Dia juga menulis Taurat dengan tangan-Nya.
522
Inilah tiga hal
yang Allah kerjakan dengan tangan-Nya sendiri. Selain bahwa Adam diciptakan dengan
kalimat-Nya, “Jadilah!” dia juga seorang Nabi tapi bukan seorang rasul karena rasul pertama
yang diutus kepada umat manusia adalah Nabi Nuh setelah manusia berpecah-belah di antara
mereka sendiri. Dalam hadits tentang syafa’at, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
))
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
ِ
ْ
َ
أ
َ
ِ
إ
ِ
ُ
ﺮﻟا
ُ
ل
و
َ
أ
َ
ْ
َ
أ
ُ
ح
ُ
ﻧ ﺎ
َ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ ﺎ
ً
ُ
َ
ن
ُ
ْ
َ
َ
ـﻓ((
“Maka mereka menemui Nuh dan berkata: "Wahai Nuh, kamulah Rasul
pertama kepada penduduk bumi ini……”
523
Nabi Adam juga merupakan salah satu dari para nabi yang Allah ajak bicara secara
langsung, sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
dalam hadits berikut dari Abu Dzar,
521
Shahih Muslim, Kitaab: al Qadar; Baab: Hijaaj Adam wa Moosaa.
522
Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) juga meriwayatkan bahwa pada Hari Kimata Nabi Musa akan
memanggil Nabi Adam seraya berkata,
ِ
ِ
َ
ِ
َ
ةا
َ
ر
ْ
ـﺘﻟا
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ِ
َ
َ
ِ
ُ
ﻠﻟا
َ
كﺎ
َ
َ
ْ
ﺻا ﻰ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ
'Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya dan menulis Taurat untukmu
dengan tangan-Nya..
.”
(Shahih Muslim, Kitaab: al Qadar; Baab: Hijaaj Adam wa Moosaa)
523
Shahih Al Bukhari, Kitaab: Ahaadits al anbiyaa; Baab: Qaulullah: Laqad arsalnaa nuuhan ilaa qaumihi
dan Shahih Muslim, Kitaab: al Iman; Baab: Adnaa ahl al jannah manzilatan minhaa.
Islamic Online University Tafsir 202
323
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر ﺎ
َ
َ
نﺎ
َ
ِ
َ
َ
و
َ
أ
ُ
ْ
ُ
ـﻗ
ُ
م
َ
دآ
َ
لﺎ
َ
َ
ل
و
َ
أ
َ
نﺎ
َ
ِ
ءﺎ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ي
َ
َ
ُ
ْ
ُ
ـﻗ
ِ
َ
َ
لﺎ
َ
ٍ
َ
ﺋﺎ
ِ
ُ
ث
َ
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر ﺎ
َ
َ
ن
ُ
َ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ْ
َ
َ
ُ
ْ
ُ
ـﻗ
ٌ
َ
ُ
ا
ً
ِ
َ
ﻏ ﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َْ
َ
و
Aku bertanya lagi, 'Siapa Nabi yang pertama? ' Beliau menjawab: "Adam."
Aku bertanya lagi, 'Nabi yang bagaimanakah ia wahai Rasulullah? ' Beliau
menjawab: "Seorang Nabi yang diajak berbicara langsung oleh Allah." Aku
bertanya lagi, 'Berapa jumlah rasul yang diutus wahai Rasulullah? ' Beliau
menjawab: "Tiga ratus lima belas, suatu jumlah yang sangat banyak."
524
Dia adalah seorang nabi dan bukan seorang rasul karena tidak ada kebutuhan akan
turunnya pesan ilahi (risaalah) karena orang-orang pada masa itu adalah satu umat yang satu
dan belum menyebar ke seluruh bumi. Umat manusia hanya terdiri dari beberapa orang, ujian
hanya sedikit dan mereka biasa mengikuti jalan bapak mereka dan melakukan apa yang dia
lakukan. Ketika jumlah mereka menjadi banyak dan mereka saling berbeda di antara mereka
sendiri, Allah mulai mengirim para rasul.
525


Pernyataan Allah, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan
jin. Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya,” berarti bahwa mereka bersujud dalam
rangka menaati perintah Allah kecuali Iblis
526
yang menolak untuk sujud.
524
Musnad Ahmad, 5/178, Musnad Abi Daawud at-Thayaalasee, 1/65 dan Shahih Ibn Hibbaan, no. 361
dan dishahihkan al-Albaani dalam Misykaat al-Masaabih.
525
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 89-90
526
Iblis berasal dari kata ablasa, yang berarti “ia putus asa atau menyerah pada harapan akan diampuni Allah.”
Akan tetapi, sebagian filologis Arab menganggapnya berasal dari kata Asing (Arabic-English Lexicon, vol.
1, p. 248) dan orientalis menganggapnya sebagai kerusakan berasal dari kata Yunani diabolos (tukang
Islamic Online University Tafsir 202
324
IBLIS
Iblis adalah setan
527
dan Allah menjelaskan mengapa ia menolak untuk sujud kepada
Adam dengan firman-Nya, “Dia adalah dari golongan jin…” Bahkan, ia adalah bapak
mereka. Ia memberontak melawan Allah dan mendurhakai perintah-Nya.
528
Ketika
perkaranya sangat penting, setiap bejana membocorkan isinya dan berkhianat dengan sifat
aslinya. Iblis biasa melakukan apa yang dilakukan para malaikat dan menyerupai mereka
dalam pengabdian dan penyembahan mereka, jadi dia dimasukkan ketika mereka
diperintahkan oleh Allah, tetapi iblis tidak menurut dan menentang apa yang diperintahkan
kepadanya untuk dilakukan. Jadi Allah menunjukkan di sini bahwa pemberontakannya
disebabkan oleh fakta bahwa ia adalah dari kalangan jin.
529
Nampak jelas dari hadits yang shahih bahwa setan merupakan jin dan bukan malaikat.
Akan tetapi, ada beberapa ayat Al Quran, ketika dipahami terpisah, mengisyaratkan bahwa ia
mungkin dulunya merupakan seorang malaikat.
 
  
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami
bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat:
"Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud
kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.” (QS. Al A’raf
7: 11)
fitnah atau penghasut) (Shorter Encyclopedia of Islam, p. 145 dan The New Encyclopedia Britannica,
vol. 6, p. 216).
527
Kata Syaithan(jamak: syayatin ) berasal dari wazan fay‘aal, dari akar kata kerja syatana, yang berarti “ia
menjadi jauh atau menjauh dari kebenaran dan ampunan Allah.” Istilah ini memiliki makna yang sama
(bersinonim) dengan kata ‘iblis’ atau ‘setan’ ketika digunakan secara nakirah atau dalam bentuk jamal,
namun jika ditambah dengan awalan al itu secara khusus merujuk pada setan. (Arabic-English Lexicon, vol.
2, p. 1552.)
528
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 90-91.
529
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
325
Ayat di atas menandakan bahwa iblis berasal dari kalangan malaikat. Juga nampak
diisyaratkan bahwa ia adalah seorang malaikat, karena jika bukan, perintah untuk bersujud
tidak akan berlaku untuknya dan ia tidak akan berbuat dosa ketika tidak menaatinya.
530
Ada
sebagian ulama yang mendukung pandangan bahwa setan berasal dari golongan malaikat. Al
Qurtubi mengatakan:
Ini merupakan pendapat mayoritas ulama seperti, Ibnu ‘Abbas (wafat tahun
688 M) dan Ibnu Mas’ud (wafat tahun 654 M) [dari kalangan sahabat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam]; Ibnu Juraij,
531
Sa’id Ibnu Musayyib,
532
Qatadah
533
dan selain mereka. Ini juga merupakan pendapat yang dipilih oleh
Abul Hasan al-Asy’ari,
534
Ibnu Qudamah
535
dan para ulama terkemuka dari
madzhab Maliki. Ath-Thabari
536
lebih condong pada pendapat ini
530
Pendapat ini disandarkan kepada Ibnu ‘Abbaas, Ibnu Mas‘ud dan para sahabat Nabi () yang lain dalam
sejumlah riwayat yang menggambarkan kehidupan Iblis di antara para malaikat sebelum kemungkarannya
terhadap Allah. Sebagai contoh, diriwayatkan bahwa para sahabat mengatakan, “Ketika Allah selesai
menciptakan apa yang Dia inginkan dan naik di atas ‘Arsy, Dia menunjuk Iblis di antara para malaikat di
surga terendah. Dia berasal dari suku malaikat yang disebut 'Jin', karena mereka adalah penjaga Jannah
(Surga)." (Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, vol. 1, hlm. 55 dan Ahkaam al-Jaann, hlm. 201- 202.)
531
‘Abdul-Maalik bin ‘Abdul-‘Aziz ibn Juraij (699-767 M), seorang ahli hukum (faqih) Mekah, adalah ulama
terkemuka Hijaaz pada masanya dan orang pertama yang menulis karya-karya Islam di Mekah. Meskipun
lahir di Mekah, ia adalah budak yang bebas dari asal Bizantium. (Al-A‘laam, vol. 4, p. 160.)
532
Sa‘id ibn al-Musayyab (634-713 M), seorang Tabi’in terkemuka, adalah di antara tujuh fuqaha terkemuka
Madinah. Beliau adalah seorang ulama dalam ilmu hadits dan fiqh dan dan terkenal dengan sifat zuhudnya.
Beliau juga perawi terkemuka dari dari masa Khalifah 'Umar. (Al-A‘laam, vol. 3, hal. 102.)
533
Qataadah ibn Di‘aamah (680-736 M), buta sejak lahir, adalah ulama hadits terkemuka di masanya di Basrah.
Beliau juga seorang ahli tafsir Al-Qur'an yang sangat dihormati dan filolog Arab. Beliau meninggal di Waasit
karena wabah. (Al-A‘laam, vol. 5, hal. 189.)
534
Abu al-Hasan ‘Ali ibn Ismaa‘il al-Asy‘ari (874-935 M) adalah seorang teolog terkenal, lahir di Basrah.
Hingga usianya yang ke-40, ia adalah murid yang tekun dari faham Mu‘tazilah, al-Jubbaa'i; Namun, studinya
tentang hadits menjelaskan baginya kesalahan pemikiran itu. Dia selanjutnya memperjuangkan pandangan
salaf melawan Mu‘tazilah dan menyusun sejumlah besar karya yang menyangkal pandangan mereka. Jumlah
kitabnya berjumlah sekitar 300. Yang paling signifikan dari karya-karyanya yang diterbitkan adalah al-
Ibaanah Ushul ad-Diyaanah dan Maqaalaat al-Islaamiyyin, katalog aliran sesat, karya pertama dari jenisnya
dalam literatur Islam. (Shorter Encyclopedia of Islam, hlm. 46-47)
535
‘Abdullaah ibn Muhammad ibn Qudaamah (1146-1223 M), lahir di Palestina, menjadi salah satu ahli fiqh
terkemuka di antara para ulama mazhab fiqih Hanbali. Karya-karyanya yang paling terkenal adalah al-Mugni
dalam bidang fiqih, Rawdah an-Naatsir dalam ilmu fiqih. (Al-A‘laam, vol. 4, hal. 66.)
536
Abu Ja‘far Muhammad ibn Jarir at-Thabari (839-923 M), sejarawan dan penafsir Arab, lahir di Amul di
provinsi Tabaristan. Dia melakukan perjalanan secara luas ke Baghdaad, Basrah, Koofah, Suriah dan Mesir
untuk mencari pengetahuan di tahun-tahun awalnya; kemudian dia menghabiskan waktunya terutama
mengajar dan menulis. Syarahnya yang luar biasa tentang Al-Qur'an, Jaami ‘al-Bayaan, Tafsir al-Qur'aan,
adalah karya paling awal dari jenisnya. Karya ini menjadi karya standar yang menarik syarah kemudian.
Karyanya yang besar lainnya adalah 12 volume sejarah dunia, Taarikh al-Umam wa al-Muluk. (Shorter
Encyclopedia of Islam, hlm. 556-557).
Islamic Online University Tafsir 202
326
(dibandingkan dengan pendapat kebalikannya], dan al-Baghawi
537
mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang dipegang oleh sebagian besar
mufassirin. Ini juga merupakan makna zhahir dari ayat,




Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis;
Dia menyombongkan diri dan adalah Dia Termasuk orang-orang yang
kafir. (QS. Shaad 38: 73-74)
538
Akan tetapi, ketika Iblis ditanya mengapa ia tidak mau bersujud, ia menjawab bahwa
ia lebih baik dari Adam:




“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud
(kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya
lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia
Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Al A’raf 7: 12)
Alasan yang diajukan iblis untuk mendukung pernyataannya bahwa ia lebih utama
daripada Adam adalah karena ia diciptakan dari api. Karena malaikat diciptakan dari cahaya,
537
Al-Husain ibn Mas‘ud al-Farraa 'al-Baghawi (1044-1117 M), dari sebuah kota di Khuraasaan antara Heraat
dan Marwa yang disebut Baghaa, menjadi seorang ulama terkemuka dalam bidang fiqh, ilmu hadis dan tafsir.
Karya-karyanya yang paling terkenal yang diterbitkan adalah Syarhus-Sunnah, koleksi 14 volume Sunnah, dan
Anwaar at-Tanzil wa Asraar at-Ta'wil, penafsiran 4 volume Al-Qur'an. (Al-A‘laam, vol. 2, hal. 259.)
538
Al Jami’ Li Ahkamil Quran, jilid 1, hlm. 294.
Islamic Online University Tafsir 202
327
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan jin
dari api, pembenaran tentang keutamaan pada pihak Setan ini menyiratkan bahwa ia adalah
seorang jin dan bukan malaikat. Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah yang Mahakuasa
memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis dimasukkan ke dalam
perintah itu, meskipun ia tidak berasal dari penciptaan yang sama dengan mereka, karena ia
menyerupai mereka dan disifatkan dengan perbuatan mereka. Sebagai akibatnya, dia
dimasukkan dalam perintah yang ditujukan kepada mereka dan dikutuk karena tidak
mematuhi perintah tersebut.”
539
Az-Zamakhsharee
540
berkata, "Perintah itu juga itu juga
ditujukan kepadanya, meskipun itu khusus untuk para malaikat, karena Iblis ada bersama
mereka mereka dan ia biasa menyembah Allah, Yang Mahakuasa, dan sama dalam cara
mereka menyembah-NYA. Jadi ketika mereka diperintahkan untuk bersujud kepada Adam
dan merendahkan diri untuk menghormatinya, itu bahkan lebih tepat jika Jin [yaitu, Iblis],
yang bersama mereka, merendahkan dirinya.”
541
Lebih jauh lagi, nash-nash Al-Qur'an yang dikutip di bagian sebelumnya menunjukkan
bahwa para malaikat tidak memiliki kehendak bebas tetapi melakukan apa pun yang
diperintahkan Allah kepada mereka. Ada ayat lain dalam Al-Qur'an yang membahas masalah
ini tanpa syarat yang tidak pasti: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para
Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia
adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu
mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang
mereka adalah musuhmu? ... ” (18: 50)
Asy-Syinqithi
542
mengatakan bahwa yang nampak/zhahir [dari makna dari ayat ini]
menunjukkan bahwa alasan ketidaktaatannya terhadap perintah Tuhannya adalah karena dia
adalah seorang jin; karena merupakan prinsip yang sudah tetap/tsabit dalam aturan dasar tafsir
Alquran berkenaan dengan bagaimana menyikapi nash yang sudah jelas, implikasi teks dan
539
Tafsir Al Quranul Adzim, jilid 1, hlm. 117
540
Mahmud ibn ‘Umar bin Muhammad az-Zamakhshari (1075-1144 M), salah satu cendekiawan terbesar bahasa
Arab dan pendukung utama doktrin Mu‘tazilah, lahir di Khwaarizm di Asia Tengah. Dia kemudian
melakukan perjalanan ke Khurasaan, Baghdaad dan Makkah, di mana dia tinggal selama beberapa waktu.
Bukunya al-Mufassal, tentang tata bahasa Arab, menghasilkan banyak komentar. Dia paling terkenal karena
tafsir kontroversialnya tentang Al-Qur'an, al-Kasysyaf, yang menghasilkan banyak bantahan atas pandangan
Mu‘tazilah-nya. (Siyar A‘laam an-Nubalaa ’, vol. 20, hlm. 151-6
541
Al- Kasysyaf ‘an Haqaa’iq at-Tanzil, vol. 2, hal. 555.
542
Muhammad al-Amin ibn Muhammad al-Jakani asy-Syinqithi (wafat tahun 1974 M), seorang ulama Arab
terkenal dan ahli fiqih madzhab Maaliki di tanah kelahirannya, Mauritania, mengajar tafsir di Masjid Nabi di
Madinah dan ilmu fiqh di Riyaadh dan Madinah. Kitab-kitabnya digunakan di perguruan tinggi Syari’ah.
Tulisan-tulisannya yang paling terkenal adalah Adhwaa 'al-Bayaan li Tafsir al-Qur'aan bi al-Qur'aan,
penafsiran Al-Qur'an. (Adhwaa 'al-Bayaan, vol. 10, lampiran, hlm. 18-55).
Islamic Online University Tafsir 202
328
rekomendasi teks, bahwa fa [maka, karena itu, untuk, karena, sehingga], adalah di antara kata
sambung yang menunjukkan 'penyebab' ... Misalnya, dalam pernyataan Allah subhanahu
wata’ala:






“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah
tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan
dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (5: 38)
Yakni tangan mereka harus dipotong karena perbuatan mereka yakni mencuri.
543
Kedurhakaannya kepada Allah adalah dikarenakan ia seorang jin: “Dia adalah dari golongan
jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” Sifat inilah yang membedakannya dari
para malaikat. Mereka semua taat kepada perintah tersebut, dan ia sendiri yang tidak.
544
Dalam pendapat yang dinyatakan oleh Ibnu al-Haitsami
545
jelas bahwa dalil [bahwa
iblis berasal dari kalangan jin] dapat ditemukan dalam kalimat, “Dia adalah dari golongan
jin,” lebih kuat dari dalil bahwa ia berasal dari kalangan malaikat yang terdapat dalam
pengecualian [Maka sujudlah mereka (yakni, malaikat) kecuali iblis], karena pengecualian
[dalam bahasa ‘Arab] seringakali datang dalam bentuk munqathi’ (terputus),
546
sebagaimana
juga dalam pernyataan Allah subhanahu wata’ala,
543
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 119
544
Ibid.
545
Ahmad ibn Muhammad ibn Hajar al-Haitsami (1504-1567 M) adalah seorang ahli fiqh terkemuka dari Mesir
yang belajar di Universitas alAzhar dan meninggal di Mekah. Dia menulis sejumlah kitab di berbagai bidang,
di antaranya adalah as-Sawaa‘iq al-Muhriqah dan al-Fataawaa al-Haditsiyyah. (Al-A‘laam, vol. 1, p. 234.)
546
Suatu jenis pengecualian di mana benda yang dikecualikan dipisahkan jenisnya dari yang darinya
pengecualian tersebut dibuat. (Kamus Bahasa Arab-Bahasa Inggris, vol. 2, hlm. 2990). Lihat juga W. Wright,
A Grammar of the Arabic Language, vol. 2, hal. 336.
Islamic Online University Tafsir 202
329











“Ibrahim berkata: "Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa
yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang
dahulu? Karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah
musuhku, kecuali Tuhan semesta alam. (Yaitu Tuhan) yang telah
menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku.” (QS. Asy
Syuaro 26: 75-78)
“Tuhan semesta alam” bukanlah dari [kelompok] sebelumnya [di mana Allah
dikecualkan darinya].
547
Juga ditunjukkan oleh sebagian pensyarah bahwa ayat yang diberikan sebelymnya
(surat al-Kahfi ayat 50) merujuk pada “anak keturunan” setan. Dan malaikat, karena tidak
berjenis kelamin, tidaklah memiliki keturunan.
548
Mengenai pendapat yang tersebar luas di antara para mufassirin bahwa Iblis adalah
seorang malaikat, ash-Syanqiti berkata, “Apa yang telah disandarkan oleh para mufassirin
kepada banyak ulama generasi, seperti Ibn 'Abbaas dan yang lainnya, bahwa ia [yaitu, Iblis]
adalah dari kelompok malaikat yang paling mulia yang menjadi penjaga Surga, bahwa ia
bertanggung jawab atas surga terendah, dan bahwa namanya adalah Azazil,
549
semuanya
berasal dari sumber-sumber Yahudi [isra'iliyyaat], yang tidak dapat diandalkan.”
550
Dengan
demikian, Pendapat yang lebih benar adalah bahwa Iblis hadir di antara para malaikat, tetapi
sama sekali bukan bagian dari mereka. Bagaimana iblis bisa berada di antara mereka telah
dijelaskan dalam sejumlah riwayat tapi diragukan [keshahihannya] yang disandarkan kepada
sahabat Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) dan murid-murid mereka.
551
Apakah Setan adalah nenek moyang semua jin, seperti Aadam adalah bapak
moyangnya manusia, juga telah menjadi bahan perdebatan di antara sebagian ulama Muslim.
547
Al-Fataawaa al-Haditsiyyah, hlm. 125. Lihat juga Ruh al-Ma‘aanee, vol. 1, hal.210
548
Ahkaam al-Jaann, hlm. 199-202.
549
Lihat juga Shorte Encyclopedia of Islam, hlm. 143-144.
550
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 120-121
551
Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, vol. 1, hal. 56.
Islamic Online University Tafsir 202
330
Sebagian berpendapat menyatakan bahwa dia hanya satu di antara jin dan bukan nenek
moyang mereka. Lebih jauh dijelaskan, sama seperti Qabil sebagai manusia celaka yang
pertama, mereka menganggap iblis sebagai jin celaka pertama karena kedurhakaannya pada
perintah Allah untuk bersujud pada Adam.
552
Ayat berikut ini telah dikutip sebagai dalil untuk
mendukung pandangan ini:

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat:
"Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali iblis.
Dia adalah dari golongan jin….” (18: 50)
Makna yang nampak dari ayat ini mengisyaratkan bahwa Setan hanyalah salah salah
satu dari mereka dan bukanlah yang pertama di antara mereka.
553
Pandangan lain diungkapkan oleh al-Hasan al-Bashri dalam penafsirannya terhadap
kalimat dari ayat yang disebutkan di atas, "Dia adalah dari golongan jin." Dia menyatakan,
"Iblis bukan salah satu dari malaikat bahkan sekejap mata-pun tidak. Dia adalah asal mula jin
sebagaimana Adam adalah asal mula umat manusia.”
554
Ini juga merupakan pandangan yang
disukai oleh Ibn Taymeeyah.
555
Namun, mengenai masalah apakah Setan adalah nenek
moyang jin, tidak ada bukti konklusif baik dari Al-Qur'an atau Sunnah yang mendukung. satu
pendapat atas pendapat yang lain.
556
JIN
Meskipun umat Muslim modern cenderung mengabaikan informasi tentang dunia Jin
karena ketidakmungkinan mitos populer dan takhayul tentang mereka, Allah berbicara tentang
552
Al-Iman bi al-Malaa’ikah, hlm. 109.
553
Aalam al-Jinn wa asy-Syayatin, hlm. 18.
554
Jaami‘ al-Bayaan, vol. 1, p. 226.
555
Lihat Majmu‘ al-Fataawaa, vol. 4, p. 235.
556
The Exorcist Tradition in Islaam, pp. 54-9
Islamic Online University Tafsir 202
331
mereka dalam surat ke tujuh puluh dua Al-Qur'an yang dikenal sebagai Surat al-Jin, juga
seperti pada sejumlah surat lainnya.
Istilah jin berasal dari kata kerja ن
َ
janna yang berarti "menutupi, merahasiakan atau
menyembunyikan." Mereka menunjukkan makhluk Allah yang lain yang hidup berdampingan
dengan manusia di bumi. Allah menciptakan jin sebelum Dia menciptakan ras manusia dari
serangkaian unsur yang berbeda dari yang digunakan untuk menciptakan manusia pertama.
Allah berfirman,









“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat
panas.”
Mereka dinamai Jin karena mereka tersembunyi dari pandangan mata umat manusia.
Pertama-tama, jin dapat dibagi ke dalam tiga kategori besar sehubungan dengan mode
keberadaan mereka. Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda,
ٌ
ْ
ِ
َ
و ,
ِ
ءا
َ
َ
ْ
ﳍا
ِ
َ
نو
ُ
ِ
َ
ٌ
َ
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ُ
َ
ٌ
ْ
ِ
َ
ﻓ :
ٍ
فﺎ
َ
ْ
َ
أ
ُ
َ
ﺛﻼ
َ
ِ
ﳉا
َ
ن
ْ
ُ
ـﻨ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
ن
ْ
ِ
َ
ٌ
ْ
ِ
َ
و ،
ٌ
بﻼ
ِ
َ
و
ٌ
تﺎ
َ
“Jin ada tiga macam, ‘Pertama; jin yang mempunyai sayap, mereka biasa
terbang di udara. Kedua, jin berupa ular-ular dan kalajengking. Dan
ketiga, jin yang bertempat tinggal dan pindah-pindah serta
berpetualang.”
557
557
Diriwayatkan ath-Thabari dan al-Haakim dan dishahihkan al-Albaani dalam Mishkaah al-Masaabeeh edisi
beliau, vol. 2, p. 1206, no. 4148.
Islamic Online University Tafsir 202
332
Jin lebih lanjut dapat dibagi menjadi dua kategori dalam kaitannya dengan iman
mereka: Muslim (yang beriman) dan Kaafir (kafir).
558
Kelompok yang kafir di kalangan para
jin disebut dengan berbagai nama dalam bahasa Arab dan Inggris: 'Ifrit, Syaithaan, Qarin,
setan, iblis, roh, hantu, dll. Mereka mencoba menyesatkan manusia dengan berbagai cara.
Siapa pun yang mendengarkan mereka dan menjadi pekerja untuk mereka disebut sebagai
setan manusia. Allah berfirman: “Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu
musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin.”
559
Setiap manusia memiliki seorang Jin yang selalu menemaninya yang disebut sebagai
Qarin (yakni pendamping). Ini adalah bagian dari ujian manusia dalam kehidupan ini. Jin
mendorong hawa nafsu manusia rendah dan terus-menerus berusaha mengalihkannya dari
kebenaran. Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) menyebut hubungan ini sebagai berikut,
ِ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ُ
ُ
ﻨﻳ
ِ
َ
َ
و
ِ
ْ
ﳉا
ْ
ِ
ُ
ُ
ﻨﻳ
ِ
َ
ِ
ِ
َ
ُ
و
ْ
َ
َ
و
ِ
إ
ٍ
َ
َ
أ
ْ
ِ
ْ
ُ
ْ
ِ
ﻣ ﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ِ
َ
ﻧﺎ
َ
َ
أ
َ
ﻠﻟا
ِ
َ
َ
يﺎ
ِ
إ
َ
و
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر ﺎ
َ
َ
كﺎ
ِ
إ
َ
و ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ِ
ِ
إ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
"Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan telah disertakan untuknya
satu qarin (pendamping) dari jin dan satu qarin dari malaikat." Mereka
berkata: Kepada engkau juga, wahai Rasulullah, beliau bersabda: "Demikian
pula denganku, namun Allah menolongku atasnya lalu ia masuk Islam, ia
pun tidak menyuruhku selain terhadap kebenaran."
560
Nabi Sulaiman (Salomo) diberi mukjizat untuk mampu menguasai Jin, sebagai tanda
kenabiannya.
561
Tetapi kekuasaan ini tidak diberikan kepada orang lain selainnya. Tidak ada
orang lain yang diizinkan mengendalikan Jin dan tidak ada yang bisa. Abu Hurairah
meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda,
558
Surat al-Jinn, 72:1-4 dan 14-5.
559
Surat al-An‘aam, 6:112
560
Shahih Muslim, vol.4, p.1472, no.6757.
561
Surat an-Naml, 27:17.
Islamic Online University Tafsir 202
333
))
َ
َ
ْ
َ
ـﻴ
ِ
َ
َ
ْ
َ
ً
َ
ِ
َ
ْ
و
َ
أ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
ْ
ﻟا
َ
َ
َ
َ
َ
ـﺗ
ِ
ْ
ﳉا
ْ
ِ
ً
ﺘﻳ
ِ
ْ
ِ
ن
ِ
إ
َ
َ
ة
َ
ﺼﻟا
َ
َ
ْ
ِ
ٍ
َ
ِ
رﺎ
َ
َ
ِ
إ
ُ
َ
ِ
ْ
ر
َ
أ
ْ
ن
َ
أ
ُ
ت
ْ
د
َ
ر
َ
َ
ُ
ْ
ِ
ُ
ﻠﻟا
ِ
َ
َ
ْ
َ
َ
ل
ْ
َ
ـﻗ
ُ
ت
ْ
َ
َ
َ
ْ
ُ
ُ
ِ
ْ
َ
ِ
إ او
ُ
ُ
ْ
َ
ـﺗ
َ
و ا
ُ
ِ
ْ
ُ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا ي
ِ
را
َ
َ
{ ي
ِ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
ِ
ٍ
َ
َ
ِ
ﻷ ﻲ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
ﻻ ﺎ
ً
ْ
ُ
ِ
ْ
َ
ﻫ }
ب
َ
ر
َ
نﺎ
َ
ْ
َ
ُ
ﺳ ﻲ
ِ
َ
أ((
"Sesungguhnya 'Ifrit
562
dari bangsa Jin baru saja menggangguku untuk
memutus shalatku tapi Allah memenangkan aku atasnya, dan aku
berkehendak untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid sampai waktu
shubuh sehingga tiap orang dari kalian dapat melihatnya. Namun aku
teringat ucapan saudaraku Sulaiman Alaihis Salam ketika berdo'a: {Ya
Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh
seorangpun setelah aku}”
563
,
564
Perdukunan
Manusia tidak bisa mendapatkan kendali atas Jin karena ini adalah mukjizat khusus
yang hanya diberikan kepada Nabi Sulaiman. Bahkan, kontak dengan jin dalam keadaan
selain kerasukan, atau kecelakaan paling sering dilakukan dengan dilakukannya perbuatan-
perbuatan keji yang dilaknat dan diharamkan dalam agama.
565
Jin yang jahat yang dipanggil
dengan cara ini dapat membantu teman mereka dalam dosa dan dan kekafiran pada Tuhan.
Tujuan mereka adalah untuk menarik manusia sebanyak-banyaknya ke dalam dosa yang
paling mengerikan, menyembah kepada orang lain di samping atau bersama dengan Allah.
Ketika kontak dan kontrak dengan Jin dilakukan oleh peramal, para Jin dapat memberi tahu
mereka tentang peristiwa tertentu di masa depan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menggambarkan bagaimana Jin mengumpulkan informasi tentang masa depan. Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan bahwa Jin mampu melakukan perjalanan hingga
562
A strong or powerful evil Jinn (E.W.Lane, Arabic-English Lexicon,(Cambridge, England: Islamic
Texts Society, 1984), vol.2, p.2089
563
Surat Shaad 38:35.
564
Shahih Al-Bukhari, vol.1, p.268, no.75 dan Shahih Muslim, vol.1, p.273, no.1104.
565
Abu Ameenah Bilal Philips, Ibn Taymeeyah’s Essay on the Jinn, (Riyadh: Tawheed Publications, 1989), p.21.
Islamic Online University Tafsir 202
334
mencapai langit yang paling rendah dan mendengarkan beberapa berita tentang masa depan,
yang disampaikan oleh para malaikat di antara mereka sendiri. Mereka kemudian akan
kembali ke bumi dan memberi berita ini kepada rekan manusia mereka.
566
Ini dulu sering
terjadi sebelum masa kenabian Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) dan peramal sangat
akurat dalam informasi mereka. Mereka bisa mendapatkan posisi dalam pengadilan kerajaan
dan menikmati banyak popularitas dan bahkan disembah dalam beberapa agama di dunia.
Setelah Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) diutus dan memulai misinya
situasi berubah. Allah memiliki Malaikat menjaga bagian bawah langit dengan hati-hati, dan
sebagian besar jin diusir dengan meteor dan bintang jatuh.
567
Sahabat Nabi, Ibnu Abbaas,
berkata, “Ketika Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) dan sekelompok sahabatnya berangkat ke
pasar Ukaadz, para iblis terhalang dari mendengar berita dari langit. Meteor dilemparkan pada
mereka, jadi mereka kembali kepada kaum mereka. Ketika kaum mereka bertanya apa yang
terjadi, mereka memberi tahu kaumnya. Beberapa mengatakan bahwa sesuatu pasti telah
terjadi, sehingga mereka menyebar ke seluruh dunia mencari penyebabnya. Beberapa dari
mereka bertemu Nabi dan para sahabatnya ketika mereka sedang sholat dan mereka
mendengar Al-Qur'an. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri bahwa ini pasti yang
menghalangi mereka dari mendengar berita dari langit. Ketika mereka kembali kepada
kaumnya, mereka mengatakan,



“Lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al
Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan
yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak
akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami.” (QS. Al-
Jinn 72: 1-2)
568
Maka Jin tidak bisa lagi mengumpulkan informasi tentang masa depan semudah yang
biasa mereka lakukan sebelum Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diutus. Karena hal itu,
566
Shahih Muslim, vol.4, p.1210, no.5538.
567
Surat al-Jinn 72:8-9 dan al-Hijr 15:17-18
568
Shahih Al-Bukhari, vol.6, pp.415-16, no.443, Shahih Muslim, vol.1, pp.243-44, no.908, at-Tirmidzi dan
Ahmad.
Islamic Online University Tafsir 202
335
sekarang mereka mencampurkan ke dalam berita yang mereka dengar dengan banyak
kedustaan. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya
beliau bersabda,
ُ
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ِ
إ
ُ
َ
ْ
ﻵا
َ
ﻬﻴ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ِ
إ
َ
ﻬﻴ
ِ
ْ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ُ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
َ
ْ
َ
ـﻗ
ُ
بﺎ
َ
ﺸﻟا
َ
ك
َ
ر
ْ
د
َ
أ ﺎ
َ
ُ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ﻫﺎ
َ
ْ
ﻟا
ْ
و
َ
أ
ِ
ِ
ﺣﺎ
ﺴﻟا
ِ
نﺎ
َ
ِ
ﻟ ﻰ
َ
َ
ﻋ ﺎ
َ
َ
ـﻴ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
ْ
َ
أ
َ
ُ
ر
َ
و
َ
َ
ـﻴ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ٍ
َ
ْ
َ
َ
َ
ﺋﺎ
ِ
َ
َ
َ
ُ
ب
ِ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ُ
َ
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ن
َ
أ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
ﻫﺎ
َ
َ
ْ
ِ
ِ
ُ
ق
َ
ُ
َ
ـﻓ ا
َ
َ
َ
و ا
َ
َ
ا
َ
َ
َ
و ا
َ
َ
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
ْ
َ
َ
ْ
َ
َ
أ
ُ
لﺎ
َ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ِ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
ْ
ِ
َ
ِ
َ
ِ
ﻟا
ِ
َ
ِ
َ
ْ
ﻟا
“Maka Jin-jin pencuri berita mendengarkannya, dan para pencuri berita itu
seperti ini, mereka bersusun-susun sebagian di atas sebagian yang lainnya.
Sufyan mendemonstrasikan dengan memiringkan telapak tangannya dan
merenggangkan jari-jarinya. Maka mereka mencuri dengar kalimat, lalu
menyampaikannya kepada yang berada di bawahnya, kemudian yang kedua
menyampaikan lagi kepada yang dibawahnya, hingga disampaikan pada
lisan tukang sihir atau dukun. Bisa jadi jin itu diterjang bintang sebelum
dapat menyampaikannya dan bisa jadi mereka dapat menyampaikannya
sebelum diterjang oleh bintang. Kemudian berita langit itu dicampur
dengan seratus kebohongan. Kemudian berkata: "Bukankah dia telah
berkata kepada kita hari ini dan ini, akan begini dan begini? Maka dia
dipercaya karena kalimat itu yang di dengar dari langit."
569
Jin juga dapat memberikan informasi kepada kontak manusia mereka tentang masa
depan yang relatif. Sebagai contoh, ketika seseorang datang ke seorang dukun, Jin dukun ini
mendapatkan informasi dari qarin
570
pria yang dimaksud tentang rencana apa yang dia buat
sebelum kedatangannya. Jadi dukun itu dapat mengatakan kepadanya bahwa dia akan
569
Shahih Al-Bukhari, vol.8, p.150, no.2320 dan at-Tirmidzi.
570
Jin yang ditugaskan kepada setiap manusia.
Islamic Online University Tafsir 202
336
melakukan ini atau itu, atau pergi ke sini atau di sana. Dengan metode ini, dukun sungguhan
juga dapat belajar tentang masa lalu orang asing dengan sangat jelas. Dia mampu memberi
tahu orang asing tentang nama orang tuanya, di mana dia dilahirkan, perbuatan masa kecilnya,
dll. Kemampuan untuk menggambarkan masa lalu dengan jelas adalah salah satu tanda dukun
sejati yang telah melakukan kontak dengan jin. Karena Jin mampu melintasi jarak yang sangat
jauh dalam waktu sekejap mata, mereka juga dapat mengumpulkan banyak informasi tentang
hal-hal tersembunyi, berita-berita yang hilang dan kejadian yang tidak teramati. Dalil untuk
kemampuan mereka ini dapat ditemukan dalam Al-Qur'an, dalam kisah tentang Nabi
Sulaiman dan Bilqis, Ratu Saba. Ketika ratu Bilqis datang untuk menemuinya, ia meminta Jin
untuk membawa takhta/singgasana dari negeri Saba.







“Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang
kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu
berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat
untuk membawanya lagi dapat dipercaya." (QS. An Naml 27: 39)
Karena penistaan dan bid'ah yang terkandung dalam perdukunan, Islaam mengambil
sikap yang sangat keras terhadapnya. Islaam menentang segala bentuk hubungan dengan
mereka yang mempelajari perdukunan, dan untuk menyarankan mereka untuk meninggalkan
praktik terlarang mereka. Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) menetapkan prinsip-prinsip yang
jelas melarang segala bentuk kunjungan kepada dukun. Shafiyah meriwayatkan dari Hafsah
(istri Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam)) bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
))
ً
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ر
َ
أ
ٌ
ة
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ُ
ـﺗ
ْ
َ
ٍ
ء
ْ
َ
ْ
َ
ُ
َ
َ
َ
َ
ﻓ ﺎ
ً
ﻓا
َ
ﻋ ﻰ
َ
َ
أ
ْ
َ
((
Islamic Online University Tafsir 202
337
"Barangsiapa mendatangi tukang tenung lalu dia bertanya kepadanya
tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh
malam."
571
Hukuman dalam disebutkan dalam hadits ini adalah hanya karena mendekati peramal
(tukang tenung) dan mengajukan pertanyaan karena penasaran. Larangan ini selanjutnya
didukung oleh hadits dari Mu‘aawiyah bin al-Hakam as-Salami di mana ia berkata,
))
ً
ﻻﺎ
َ
ِ
ر ﺎ
ِ
ن
ِ
إ
َ
و
ْ
ِِ
ْ
َ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
نﺎ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ن
ُ
ْ
َ
((
“Sedangkan di antara kita ada beberapa laki-laki yang mendatangi dukun.'
Beliau bersabda, 'Janganlah kamu mendatangi mereka.'
572
Hukuman yang begitu berat yang diberikan hanya karena mengunjungi dukun ini
karena itu adalah langkah pertama untuk meyakini perdukunan. Jika seseorang pergi ke sana
dengan meragukan kebenarannya, dan kemudian sebagian ramalan dukun itu menjadi
kenyataan, ia pasti akan menjadi penyembah sejati dukun itu dan seorang yang sangat
meyakini perdukunan.
Seseorang yang berkunjung ke dukun masih berkewajiban melakukan shalat wajib
sepanjang periode 40 hari, meskipun ia tidak mendapat pahala dari shalat yang ia lakukan.
Jika dia juga meninggalkan shalat, dia telah melakukan dosa yang bahkan lebih besar. Setiap
kali shalat wajib dilakukan, itu menghasilkan dua buah dalam keadaan normal: (1) Shalat itu
menggugurkan kewajiban shalat dari individu, dan (2) shalat itu akan memberikannya pahala.
Konsekuensinya, meskipun pahalanya hilang selama 40 hari, kewajiban itu tetap ada.
Hukum Islam berkenaan dengan siapa pun yang mengunjungi peramal dan percaya
bahwa dukun itu mengetahui hal ghaib dan masa depan adalah kekufuran (orangnya kafir).
Sahabat Nabi, Abu Hurairah dan al-Hasan meriwayatkan dari Nabi (shallallahu 'alaihi
wasallam) bahwa beliau bersabda,
571
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1211, no. 5540.
572
Ibid, hlm. 1209, no. 5532.
Islamic Online University Tafsir 202
338
َ
َ
َ
ل
ِ
ْ
ُ
أ
َ
ِ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
ِ
ُ
َ
َ
َ
ً
ﻓا
َ
ْ
و
َ
أ
ً
ِ
ﻫﺎ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ٍ
َ
ُ
"Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian
membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap wahyu
yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam."
573
Percaya pada dukun berarti memberikan kepada sebagian dari sifat-sifat Allah
sehubungan dengan pengetahuan tentang hal ghaib dan masa depan. Akibatnya, itu
menghancurkan keimanan pada Keesaan Allah (tauhid) dan merupakan bentuk kesyirikan
(menyembah berhala). Hukum Kufur mencakup, dengan analogi (Qiyaas), mereka yang
membaca buku dan tulisan peramal, mendengarkan mereka di radio, menonton mereka di TV,
atau mendapatkannya di program komputer, karena ini adalah cara yang paling umum
digunakan oleh dukun/peramal abad ke-20 untuk menyebarkan ramalan mereka. Oleh karena
itu, semua dari berbagai metode yang digunakan di seluruh dunia oleh para dukun, peramal,
dan sejenisnya, dilarang untuk umat Islam. Membaca garis tangan, I-Ching, kue
keberuntungan, daun teh serta tanda-tanda Zodiak dan program komputer Bio-rhythm, semua
mengklaim mereka dapat memberitahu kepada orang-orang yang percaya pada mereka
tentang masa depan mereka. Namun, Allah telah menyatakan dengan tegas bahwa hanya Dia
yang mengetahui masa depan:






573
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud (Sunan Abu Dawud (English Trans.), vol.3, p.1095, no.3895)
dan al Baihaqi.
Islamic Online University Tafsir 202
339
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang
hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui
apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat
mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan
tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.
Luqman 31: 34)
Karena itu, umat Islam harus sangat berhati-hati dalam berurusan dengan buku,
majalah, surat kabar, serta individu yang, dengan satu atau lain cara, mengaku memiliki
pengetahuan tentang masa depan atau yang tidak terlihat (hal ghaib). Misalnya, ketika seorang
peramal-cuaca Muslim memperkirakan hujan, salju, atau kondisi iklim lainnya untuk besok ia
harus menambahkan kalimat, "In syaa Allah (Jika Allah menghendaki)." Demikian juga,
ketika dokter Muslim memberi tahu pasiennya bahwa ia akan melahirkan seorang anak dalam
9 bulan atau pada hari ini dan itu, dia harus berhati-hati untuk menambahkan kalimat in syaa
Allah, karena pernyataan seperti itu hanya perkiraan berdasarkan informasi statistik.
Sihir
Bidang utama lainnya di mana jin mengganggu dunia manusia adalah bidang sihir.
Meskipun telah menjadi populer di zaman modern untuk menyangkal bahwa sihir memiliki
realitas untuk itu semua, pertunjukan magis terus membangkitkan minat dan menghibur
penonton besar di Barat. Cerita-cerita Timur yang populer tentang efek sihir 'hitam' dijelaskan
sebagai akibat dari gangguan psikologis seperti histeria, dll., dan sering ditunjukkan bahwa
sihir hanya memengaruhi mereka yang mempercayainya.
574
Pencapaian magis semuanya
digambarkan sebagai tipuan berdasarkan serangkaian ilusi dan trik.
Terlepas dari kenyataan bahwa Islam menolak efek jampi-jampi dan jimat berkaitan
dengan mencegah mala petakan dan mendatangkan keberuntungan, Islam mengakui bahwa
beberapa aspek sihir itu nyata. Memang benar bahwa banyak keajaiban di sekitar kita hari ini
adalah produk tipu daya yang melibatkan gawai yang dirancang secara cerdik untuk menipu
574
Seorang ulama Asy’ariyyah, Fakhruddin ar-Raazi (w. 1210 M) mengusulkan ide ini dalam komentarnya pada
ayat 102 Surat al-Baqarah dan sejarawan terkemuka, Ibnu Khaldun mengembangkannya lebih lanjut.
Islamic Online University Tafsir 202
340
pemirsa. Tetapi, seperti dalam kasus peramalan, ada di seluruh dunia beberapa orang yang
melakukan sihir sungguhan sebagai hasil dari kontak mereka dengan jin.
Allah, dalam Al Qur'an menjelaskan pandangan Islam yang fundamental tentang sihir
dalam ayat berikut:








“Dan mereka (orang-orang Yahudi) mengikuti apa yang dibaca oleh
syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka
mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal
Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan
lah yang kafir (mengerjakan sihir). (QS. Al-Baqarah 2: 102)
Orang-orang Yahudi biasa membenarkan praktik sihir mereka dalam sistem mistik
esoteris yang disebut Kabala dengan mengklaim bahwa mereka telah mempelajarinya dari
Nabi Sulaiman sendiri. Orang-orang Yahudi yang mempelajari seni ini tahu betul bahwa
mereka dikutuk karena dilarang dalam kitab suci mereka sendiri. Ayat-ayat berikut masih
dapat ditemukan dalam Taurat:
“Ketika engkau datang ke tanah yang diberikan Tuhanmu Allah
kepadamu, engkau tidak boleh belajar untuk mengikuti perbuatan-
perbuatan keji dari umat-umat itu. Tidak akan ditemukan di antara kamu
seorangpun yang membakar putra atau putrinya sebagai persembahan,
siapa saja yang mempraktekkan perdukunan, peramal, tukang sihir, tukang
tenung, pemikat, perantara, seorang penyihir, atau seorang ahli nujum.
Bagi siapa pun yang melakukan hal-hal ini maka ia telah melakukan
kekejian kepada Tuhan; dan karena praktik-praktik keji ini, Tuhanmu
Allah, menghalau mereka sebelum kalian.”
575
575
Ulangan 18:9-12.
Islamic Online University Tafsir 202
341
Ada juga riwayat shahih yang menyebutkan bahwa pada satu kesempatan Nabi
(shallallahu 'alaihi wasallam) sendiri menderita dari pengaruh sihir. Sahabat Nabi, Zaid ibn
Arqaam melaporkan bahwa seorang Yahudi yang bernama Labibb ibn Aisam, mengucapkan
mantra sihir pada Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) dan ketika beliau mulai menderita
karenanya. Jibril datang kepadanya dan membacakan Mu‘awwidzatainn (Surat al-Falaq dan
an-Naas) kemudian berkata kepadanya, “Sungguh eorang Yahudi –lah yang memberikan
mantra ini pada Anda dan menyembunyikan mantra (buhulnya) di sumur tertentu.” Nabi
(shallallahu 'alaihi wasallam) mengirim‘ Ali ibn Abi Thalib untuk pergi dan mengambil buhul
tersebut. Ketika dia kembali dengan itu, Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) menyuruhnya
untuk menyatukan simpul di dalamnya, satu per satu, dan membaca sebuah ayat dari kedua
surat tersebut dengan setiap simpul. Ketika dia melakukannya, Nabi (shallallahu 'alaihi
wasallam) bangkit seolah-olah beliau telah dibebaskan dari ikatan.
576
Setiap umat di muka Bumi memiliki catatan tentang orang-orang yang mempraktikkan
beberapa bentuk sihir. Meskipun beberapa di antaranya mungkin salah, sangat tidak mungkin
bahwa seluruh umat manusia dapat sepakat untuk mengarang cerita serupa tentang peristiwa
magis dan supernatural. Siapa pun yang dengan serius merenungkan kehadiran luas dari
berbagai fenomena supernatural yang tercatat akan menyimpulkan bahwa pasti ada semacam
benang merah dari kenyataan bagi mereka. Rumah “berhantu”, pemanggilan arwah, papan
ouija, voodoo, kerasukan setan yang berbicara dalam bahasa roh, pengangkatan, dll.,
Semuanya merupakan teka-teki bagi mereka yang tidak terbiasa dengan dunia Jin. Semua
kejadian ini memiliki manifestasi mereka sendiri di berbagai belahan dunia. Bahkan dunia
Muslim diganggu dengan hal itu, terutama, di antara para syaikh (guru) dari berbagai aliran
sufi ekstremis (mistik). Banyak dari mereka nampak melayang, melakukan perjalanan sangat
jauh dalam waktu yang terbelah, mendatangkan makanan atau uang dari mana pun, dll. Para
pengikut mereka yang kafir percaya bahwa buah dari sihir ini adalah mukjizat ilahi dan
karenanya, dengan rela memberikan kekayaan dan kehidupan mereka untuk melayani syaikh
mereka. Tetapi di balik semua fenomena ini terletak dunia Jin yang tersembunyi dan
menyeramkan.
Meskipun jin pada dasarnya tidak terlihat kecuali bagi mereka yang dalam bentuk ular
dan anjing, beberapa dari mereka dapat berwujud apa saja yang mereka inginkan termasuk
bentuk manusia. Misalnya, Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata
576
Dikeluarkan ‘Abd bin Humayd dan al-Baihaqi dan sebagian besar darinya juga terdapat dalam Shahih Al-
Bukhari (Arabic-English), vol. 7, pp. 443-4, no. 660 dan Shahih Muslim (English Trans.), vol.3, pp.1192-3,
no.5428.
Islamic Online University Tafsir 202
342
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk
menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan
menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Demi
Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan
butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.” Abu
Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: Wahai Abu Hurairah,
apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam? Aku pun menjawab,
“Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan
juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga
aku melepaskannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Dia
telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.
Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya,
ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya.
Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku,
aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku
tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh
kasihan padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata padaku: Wahai Abu Hurairah, apa yang
dilakukan oleh tawananmu? Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia
mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh
karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Dia telah berdusta padamu
dan dia akan kembali lagi.
Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan
makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan
mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sudah
kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih
kembali. Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat
yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?Ia pun
menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat
kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum hingga engkau
menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu
Islamic Online University Tafsir 202
343
dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Abu Hurairah berkata,
“Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya padaku, Apa yang dilakukan oleh tawananmu
semalam? Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku
bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika
membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya, Apa kalimat tersebut? Abu Hurairah
menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang,
hendaklah membaca ayat kursi
577
hingga selesai yaitu bacaan Allahu laa
ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah
akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga
pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, Adapun dia kala itu
berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang
bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu
Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata, “Dia adalah setan.”
578
Karena baik melakukan dan mempelajari sihir diklasifikasikan dalam Islam sebagai
kekufuran, Syari’at (hukum) telah menetapkan hukuman yang sangat berat bagi siapa pun
yang tertangkap basah mempraktikkannya. Hukuman bagi siapa pun yang tertangkap basah
mempraktikkannya, yang tidak bertobat dan menyerah, adalah mati. Hukum ini didasarkan
pada Berikut hadits yang diriwayatkan oleh Jundub ibn Ka‘b, Para sahabat Nabi (shallallahu
'alaihi wasallam) berkata,
))
ِ
ْ
ﺴﻟﺎ
ِ
ٌ
َ
ْ
َ
ﺿ
ِ
ِ
ﺣﺎ
ﺴﻟا
َ
((
"Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal dengan pedang."
579
577
Ayat ke 255 Surat al-Baqarah (2)
578
Shahih Al-Bukhari, (Arabic-English), vol. 9, pp. 491-2, no. 530.
579
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Hadits ini, meskipun Dha‘if (lemah) dalam sanadnya telah terangkat ke
derajat hasan (cukup shahih) dengan adanya dalil pendukung lainnya. Tiga dari empat imam madzhab
(Ahmad, Abu Hanifah dan Maalik) berhukum menurut hadits ini. Sementara Imam yang keempat Asy
Syafi’i menghukumi bahwa tukang sihir harus dibunuh jika sihirnya sudah mencapai tingkat kekufuran
(Lihat Taisir al-‘Aziz al-Hamid, pp.390-91).
Islamic Online University Tafsir 202
344
Hukum ini diterapkan dengan penuh semangat oleh para Khalifah asr-Rasyidin yang
memimpin negara Muslim setelah wafatnya Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam). Bajaalah ibn
‘Abdah melaporkan bahwa khalifah ‘Umar ibn al-Khattaab mengirim surat kepada pasukan
Muslim yang melancarkan kampanye melawan Roma dan Persia yang memerintahkan mereka
untuk memberi tahu semua penganut Zoroaster yang menikah dengan ibu, anak perempuan
dan saudara perempuan mereka untuk membubarkan pernikahan semacam itu. Mereka juga
disuruh makan makanan orang-orang Zoroaster dan memasukkan mereka ke dalam kategori
"Ahl-ul-Kitaab."
580
Akhirnya, mereka diperintahkan untuk membunuh setiap peramal dan
tukang sihir yang mereka temukan. Bajaalah mengatakan bahwa berdasarkan perintah tersebut
dia secara pribadi mengeksekusi tiga penyihir.
581
Hukuman ini juga disebutkan dalam Taurat
hingga hari ini, yang jelas menunjukkan kepada orang Yahudi dan Kristen bahwa sihir
dilarang: "Seorang pria atau wanita yang merupakan perantara atau seorang penyihir akan
dihukum mati; mereka akan dirajam dengan batu, darah mereka akan dialirkan di atas
mereka.”
582
Tingkat beratmya hukum terhadap para penyihir terutama untuk melindungi elemen-
elemen masyarakat yang lebih lemah agar tidak jatuh ke dalam penyembahan berhala (syirik)
dengan menyandarka sifat-sifat Allah pada para penyihir di mana sidat-sifat itu hanya dimiliki
oleh Allah. Selain penistaan agama yang dilakukan oleh mereka yang sungguh-sungguh
melakukan sihir, para penyihir sering mengaku bahwa mereka memiliki kekuatan supernatural
dan sifat ilahi, untuk menarik pengikut dan mendapatkan ketenaran yang tidak semestinya.
Kerasukan setan
Jin juga dapat melakukan perjalanan jarak jauh secara instan dan memasuki objek
serta tubuh manusia yang disiapkan untuk masuknya mereka. Allah telah melihat bahwa
pantas untuk memberi mereka kemampuan luar biasa ini, karena Dia telah memberikan
kemampuan makhluk lain di luar kemampuan manusia. Namun, Dia telah memilih manusia
sebagai makhluk yang paling utama di atas semua makhluk. Jika fakta dasar tentang
kemampuan Jin ini diingat, semua insiden gaib dan magis yang bukan tipuan dapat dengan
mudah dijelaskan. Sebagai contoh, dalam kasus rumah "berhantu", di mana lampu menyala
dan mati, gambar jatuh dari dinding, benda terbang di udara, lantai berderit, dll. Jin bekerja
580
Mereka yang mengikuti kitab suci seperti Yahudi dan Nashrani. Bagian riwayat ini diriwayatkan oleh al-
Bukhari, At Tirmidzi, dan Nasa’i.
581
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daawud and al-Baihaqi.
582
Leviticus 20:27
Islamic Online University Tafsir 202
345
pada benda material sambil tetap dalam bentuk yang tidak terlihat. Ini juga berlaku dalam
kasus pemanggilan arwah di mana roh orang mati tampaknya berkomunikasi dengan yang
hidup. Orang-orang, yang mengetahui suara-suara kerabat mereka yang mati, mendengar
mereka berbicara kepada mereka tentang insiden-insiden dari kehidupan mereka. Hal ini
dicapai dengan medium memanggil jin yang ditugaskan untuk orang mati. Jin ini yang meniru
suara orang mati dan menceritakan peristiwa dari masa lalu orang itu. Demikian pula dalam
kasus papan ouija yang tampaknya menjawab pertanyaan.
Dorongan jin yang tak terlihat dapat dengan mudah menyebabkan hasil yang luar
biasa jika suasana yang tepat diatur. Dalam kasus orang-orang yang tampaknya mampu
melayang atau mengangkat benda tanpa menyentuhnya, mereka hanya diangkat ke udara oleh
tangan Jin yang tidak terlihat. Mereka yang mampu menempuh jarak yang sangat jauh dan
berada di dua tempat pada waktu yang hampir bersamaan diangkut oleh teman-teman mereka
yang tak terlihat atau Jin bahkan dapat terlihat dalam bentuk mereka. Demikian juga, orang-
orang seperti Sai Baba yang mampu mendatangkan makanan atau uang dari udara dibantu
oleh Jin yang tak terlihat dan bergerak cepat.583
583
Bahkan kasus reinkarnasi yang paling
menakjubkan seperti kasus seorang gadis berusia tujuh tahun di India dengan nama Shanti
Devi yang menceritakan hal-hal dari kehidupan sebelumnya dalam detail yang jelas dan
akurat. Dia menggambarkan bekas rumahnya di kota Muttra yang berada di provinsi yang
jauh dari tempat dia tinggal. Ketika orang-orang pergi ke sana untuk memeriksanya, orang-
orang setempat mengkonfirmasi bahwa rumah semacam itu pernah berdiri di tempat yang ia
gambarkan. Mereka juga membenarkan beberapa detail dari kehidupannya yang dulu.
584
Informasi ini dimasukkan ke dalam pikiran bawah sadarnya oleh Jin. Nabi (shallallahu 'alaihi
wasallam) membenarkan fenomena ini ketika beliau bersabda,
))
ْ
ِ
ٌ
ﻦﻳ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
ؤ
ﺮﻟا
َ
و
ِ
ﻠﻟا
ْ
ِ
ى
َ
ْ
ُ
ُ
َ
ِ
ﳊﺎ
ﺼﻟا
َ
ْ
ؤ
ﺮﻟﺎ
َ
ٌ
ث
َ
َ
َ
ْ
ؤ
ﺮﻟا
ُ
َ
ْ
َ
ـﻧ
ُ
ء
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ُ
ث
َ
ُ
ﳛ ﺎ
ِ
ﳑ ﺎ
َ
ْ
ؤ
ُ
ر
َ
و
ِ
نﺎ
َ
ْ
ﺸﻟا((
“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar adalah kabar gembira dari Allah,
mimpi yang menyedihkan adalah datang dari setan dan mimpi yang berasal
dari lamunan-lamunan seorang.
585
583
Lihat Ibnu Taimiyyah Essay on the Jinn, pp.47-59, untuk berbagai catatan peristiwa semacam itu.
584
Colin Wilson, The Occult, (New York: Random House, 1971), pp.514-15
585
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dikeluarkan dalam Sunan Abu Dawud, (English Trans.), vol.3, p.1395,
no.5001.
Islamic Online University Tafsir 202
346
Jin juga bisa memasuki tubuh manusia dengan merasuki pikiran. Kasus-kasus
kerasukan jin terlalu banyak untuk dihitung. Ini mungkin sementara seperti dalam kasus
banyak sekte Kristen dan musyrik di mana orang menyeret diri mereka sendiri dalam kegilaan
fisik dan spiritual, jatuh ke dalam keadaan tidak sadar dan mulai berbicara dalam bahasa
asing. Dalam keadaan lemah itu Jin bisa dengan mudah memasuki tubuh mereka dan
berbicara melalui bibir mereka. Fenomena ini juga telah dicatat oleh beberapa tarekat Sufi
586
ketika dalam sesi dzikr
587
mereka. Atau, itu mungkin fenomena jangka panjang di mana
perubahan kepribadian terjadi secara besar-besaran. Yang kerasukan sering bertindak di luar
akal sehat manusia; menunjukkan kekuatan manusia super atau Jin sebenarnya dapat
berbicara melalui mereka secara teratur.
Exorcisme (pengusiran setan)
588
menjadi praktik yang tersebar luas di Eropa selama
abad pertengahan. Praktik pengusiran setan oleh orang Kristen didasarkan pada banyak kisah
tentang Yesus yang mengusir orang-orang yang kerasukan yang disebutkan dalam Injil.
Dalam satu kisah, Yesus dan teman-temannya datang ke Gerasaen dan bertemu dengan
seorang yang kerasukan. Ketika Yesus memerintahkan iblis-iblis untuk meninggalkannya,
mereka meninggalkannya dan memasuki kawanan babi yang sedang mencari makan di lereng
bukit terdekat. Kawanan babi tersebut kemudian bergegas menuruni tebing curam ke danau
dan tenggelam.
589
Ini juga telah menjadi topik dari sejumlah film yang diproduksi pada akhir
tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan (misalnya "The Exorcist", "Rosemary’s Baby", dll.).
Sikap umum kaum materialis Barat adalah menolak terhadap segala sesuatu yang
supernatural. Jadi, bagi orang Barat, pengusiran setan tidak memiliki dasar rasional dan
dipandang sebagai hasil dari takhayul. Sikap ini merupakan reaksi terhadap skala luas
perburuan dan pembakaran yang terjadi di Eropa selama Zaman Kegelapan dan Abad
Pertengahan. Namun, dalam Islaam praktik pengusiran setan diakui sebagai cara yang sah
untuk mengobati kasus kerasukan jin yang sesungguhnya dan penyakit lain yang dihasilkan
darinya, jika metode tersebut sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Pada dasarnya ada tiga metode untuk menghilangkan jin dari orang yang kerasukan:
1. Jin yang merasukinya bisa dihilangkan dengan memanggil Jin lain yang lebih kuat.
Metode ini dilarang dalam Islaam karena memanggil jin seringkali memerlukan perbuatan
yang menistakan Islam. Prinsip Islam cenderung dinodai agar Jin bisa diberi isyarat. Ini
586
Sihir yang berkembang di tengah-tengah kaum Muslimin
587
Nama-nama Allah diulang-ulang secara terus menerus dan sering berirama sambil mengayunkan badan atau
bahkan menari.
588
Pengusiran roh jahat atau setan dari orang yang kerasukan atau tempat yang dihuni makhluk jahat tersebut.
589
Lihat Matthew 8:28-34, Markus 5:1-20 dan Lukas 8:26-39
Islamic Online University Tafsir 202
347
adalah kasus di mana penyihir atau dukun memecahkan mantra yang dilemparkan oleh yang
lain.
2. Jin bisa dihilangkan dengan membenarkan simbol-simbol penyembahan berhala di
hadapannya. Ketika Jin puas dengan tindakan kesyirikan yang dilakukan dari pengusir setan,
jin juga bisa pergi. Dengan melakukan itu, ia meyakinkan pengusir setan bahwa metode dan
keyakinannya benar. Ini adalah kasus para imam Kristen yang mengusir jin dengan
memanggil Yesus dan dengan menggunakan salib, serta para imam besar kafir yang mengusir
atas nama tuhan-tuhan batil mereka.
3. Jin juga bisa diusir dengan membacakan Al-Qur'an dan dzikir/doa-doa untuk
memohon perlindungan kepada Allah. Kalimat-kalimat dan rumus-rumus ilahi ini membantu
mengubah suasana di sekitar yang dirasuki. Namun, praktik-praktik ini sendiri tidak berguna
kecuali orang yang melakukannya memiliki Iman yang kokoh dan hubungan yang baik
dengan Allah berdasarkan amal-amal yang shalih.
Meskipun sebagian kaum Muslimin saat ini di bawah pengaruh sekuler Barat yang
secara terbuka menyangkal adanya kerasukan jin dan yang lainnya bahkan bertindak lebih
jauh dengan menyangkal keberadaan jin, namun Al-Qur'an dan Sunnah mengatakan yang
sebaliknya. Ada sejumlah hadits shahih di mana Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam)
diriwayatkan merukyah orang-orang yang kerasukan. Ada, juga, riwayat dari para sahabat
beliau yang meakukan hal yang sama dengan persetujuan dari beliau. Ya‘laa ibn Murrah
berkata,
))
ٍ
ة
َ
أ
َ
ْ
ﻣﺎ
ِ
َ
ْ
ر
َ
َ
ِ
ﻖﻳ
ِ
ﻄﻟا
ِ
ْ
َ
ـﺒ
ِ
ُ
ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
ٍ
َ
َ
ِ
ُ
َ
َ
ُ
ْ
َ
َ
ْ
َ
َ
ٌ
ء
َ
َ
ُ
َ
ﺑﺎ
َ
َ
أ
ِ
َ
ا
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
ِ
َ
َ
َ
َ
ٍ
َ
ِ
ﻟﺎ
َ
ْ
َ
ي
ِ
ر
ْ
د
َ
أ
َ
ِ
م
ْ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
ِ
ُ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
ٌ
ء
َ
َ
ُ
ْ
ِ
َ
َ
ـﺑﺎ
َ
َ
أ
َ
و
ِ
ﻪﻴ
ِ
ﻨﻴ
ِ
ِ
وﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
ً
ة
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
َ
َ
ـﻨ
َ
ـﻓ
ُ
ﻩﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﻓ
ُ
ِ
ْ
ﺮﻟا
ِ
َ
ِ
ﺳا
َ
و
َ
ْ
َ
ـﺑ
َ
و
ُ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ
ُ
ْ
ﺘﻠ
َ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ِ
إ
ُ
ْ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
ـﻓ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ُ
ﻩﺎ
ِ
إ
َ
َ
َ
وﺎ
َ
ُ
ِ
ﻠﻟا
و
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ﺧا
ِ
ﻠﻟا
ُ
ْ
َ
َ
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
ِ
َ
لﺎ
َ
َ
و
ً
َ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ْ
ﻟا
َ
ْ
ـﺒ
َ
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
ﻨﻳ
ِ
ِ
ْ
َ
َ
ِ
نﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا ا
َ
َ
ِ
ِ
َ
ْ
ﺮﻟا
ِ
Islamic Online University Tafsir 202
348
َ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٌ
ث
َ
َ
ٌ
ﻩﺎ
َ
ِ
َ
َ
َ
ِ
نﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
ذ
ِ
َ
ﻫﺎ
َ
ْ
َ
َ
َ
ـﻓ
َ
ْ
َ
َ
ر
َ
و
َ
ً
ْ
َ
ُ
ْ
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ْ
ﳊﺎ
ِ
َ
َ
َ
َ
ـﺑ ي
ِ
ﻟا
َ
و
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ﻟا
د
ُ
ر
َ
و
ً
ة
َ
ِ
ﺣا
َ
و ﺎ
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ْ
ُ
َ
ْ
ل
ِ
ْ
ﻧا
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
َ
ْ
ر
ِ
َ
ْ
ﺟﺎ
َ
ِ
َ
ﻋﺎ
ﺴﻟا
((
"Saya telah melihat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiga hal
yang belum pernah dilihat oleh seorang pun, baik sebelum atau setelahku.
Saya pernah keluar bersama beliau dalam suatu perjalanan, hingga ketika
kami sampai pada suatu jalan, kami melewati seorang wanita yang sedang
duduk membawa anaknya yang masih kecil. Wanita itu lalu berkata:
"Wahai Rasulullah, anak ini telah ditimpa penyakit, kami juga terkena
karenanya, saya tidak tahu pasti berapa kali ia kambuh dalam sehari."
Berliau berkata: "Bawalah kemari anak itu." kemudian wanita itu pun
mengangkat dan menyerahkan anaknya kepada beliau, ia letakkan anaknya
antara beliau dengan kayu pelana kendaraan beliau. Beliau kemudian
membukan mulut anak itu dan meninupnya
590
tiga kali sambil membaca:
"Bismillah, saya adalah Abdullah, keluar dan pergilah wahai musuh Allah."
Setelah itu, beliau menyerahkan kembali anak itu sambil mengatakan:
"Temuilah kami saat kembali di tempat ini, dan kabarkanlah kepada kami
apa yang dilakukannya." Ya'la bin Murrah berkata: "Kemudian kami
bergegas pergi, dan pada saat kembali kami mendapati wabita itu berada di
tempat yang sama dengan membawa tiga ekor domba. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya: "Apa yang dilakukan oleh
anakmu?" wanita itu menjawab, "Demi Dzat Yang telah mengutusmu
dengan kebenaran, hingga saat ini kami tidak medapati suatu kelainan pun
darinya. Karena itu ambil dan bawalah domba-domba ini." Beliau berkata:
"Turun (wahai Ya'la) dan ambillah satu ekor darinya lalu kembalikanlah
sisanya."
591
590
Kata Bahasa Arab yang digunakan di sini yakni ثﻔﻧ (nafatsa) yang berarti meletakkan ujung lidah di antara
bibir dan meniup. Jadi ini persilangan antara meniup (nafakha) dan meludah ringan (tafala)
591
Diriwayatkan oleh Ahmad.
Islamic Online University Tafsir 202
349
Kharijah ibnu ash-Shalt meriwayatkan bahwa pamannya berkata,
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
ﺼﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
ْ
َ
َ
ِ
إ ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
ـﻓ
ُ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
ٍ
م
ْ
َ
ِ
َ
ُ
َ
أ
ٍ
ُ
َ
ِ
ُ
ْ
َ
ـﺗ
َ
َ
َ
ُ
ﺮﻟا ا
َ
َ
َ
َ
ِ
ق
ْ
رﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ِ
ِ
ُ
ﺮﻟا ا
َ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
ِ
َ
ْ
ِ
َ
أ
َ
َ
َ
َ
ِ
نآ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
م
ُ
ِ
ُ
ﻩﺎ
َ
َ
َ
ـﻓ
ِ
د
ُ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ٍ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
َ
و
ً
ِ
َ
َ
و
ً
ة
َ
و
ْ
ُ
ٍ
مﺎ
َ
َ
َ
ً
ْ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ٍ
لﺎ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
ِ
ْ
ُ
أ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
ـﺗ
ُ
ُ
َ
ﻗا
َ
ُ
ـﺑ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ُ
َ
ُ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
َ
َ
و
َ
ٍ
َ
ْ
ـﻗ
ُ
ِ
َ
ْ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
ٍ
ِ
ﻃﺎ
َ
ٍ
َ
ْ
ـﻗ
ُ
ِ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
ﻟ ي
ِ
ْ
َ
َ
َ
ـﻓ
ْ
ُ
Dari Kharijah bin Ash Shalt, dari pamannya bahwa ia berkata, “Kami
pernah melewati sebuah kaum, kemudian mereka mendatanginya dan
berkata: "Engkau datang dari sisi orang ini (Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam) dengan membawa kebaikan, maka jampilah orang ini untuk
kami!" Kemudian mereka membawa orang yang hilang akalnya dalam
keadaan terbaring. Lalu paman Kharijah menjampinya dengan Al Fatihah
selama tiga hari, pagi dan sore, setiap kali ia menyelesaikan membaca Al
Fatihah ia mengumpulkan ludahnya kemudian meludah. Maka orang-orang
tersebut seolah-olah telah terlepas dari belenggu. Lalu mereka memberinya
sesuatu, kemudian ia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan
menceritakan hal tersebut kepada beliau. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Makanlah, sungguh ada orang yang makan dengan jampi yang
batil, sementara engkau makan dengan jampi yang benar."
592
592
Sunan Abu Dawud (English Trans), jilid 3, hlm. 1092, no. 3887.
Islamic Online University Tafsir 202
350



“Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin
selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?”
Ayat ini ditujukan kepada mereka yang mengambil Setan dan keturunannya sebagai
teman dekat selain Allah dan beribadah kepada Setan dan meninggalkan dari menyembah
kepada Allah Yang Maha Penyayang, sebagaimana Allah ‘azza wajalla berfirman,
 
    
“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam
supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu
adalah musuh yang nyata bagi kamu." Dan hendaklah kamu
menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin 36: 60-61)
Makna zhahir (yang nampak) dari "turunan-turunannya," adalah mereka yang lahir
darinya. Mengenai apakah iblis memiliki atau beristri, itu tidak dapat dibuktikan. Beriman
pada keturunannya adalah wajib seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. Baik apakah
mereka dilahirkan dari seorang istri atau tanpa istri, itu tidak diketahui dan tidak perlu
diketahui. Allah menciptakan Hawa dari Adam. Dia bisa dengan mudah menciptakan
keturunan Setan darinya secara langsung juga.
Kalimat: "sedang mereka adalah musuhmu," adalah dasar untuk teguran Allah.
Bagaimana mereka bisa menganggap mereka sebagai teman dekat dan sekutu ketika mereka
adalah musuh mereka? Adalah kebijakan yang bodoh, tidak cerdas, dan buruk bagi seseorang
untuk menjadikan musuhnya sebagai sekutu.
593
593
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 92.
Islamic Online University Tafsir 202
351

“Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.”
Allah ‘azza wajalla telah menyebutkan di tempat lain dalam Al Quran bahwa mereka
orang-orang yang mengambil setan sebagai sekutu mereka sebagai pengganti Allah
menyangka bahwa mereka telah benar dalam pilihan mereka. Misalnya Allah berfirman,
  
   
“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti
kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-
syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa
mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al A’raf 7: 30)
Pengganti yang baik bagi mereka seharusnya adalah untuk mengambil Allah sebagai
sekutu mereka dan bukannya Setan. “Orang-orang yang zalim” merujuk pada orang-orang
kafir yang menyembah Setan alih-alih Allah dan juga orang-orang yang kesalahannya belum
mencapai tingkat kekafiran yang nyata. Persekutuan mereka dengan Setan terkait dengan
sejauh mana tingkat mereka berpaling dari bersekutu dengan Allah Yang Maha Penyayang.
594
594
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 93.
Islamic Online University Tafsir 202
352




51. Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk
menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan
diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang
menyesatkan itu sebagai penolong.


Firman Allah subhanahu wata’ala: "Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak
cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi," berarti bahwa Iblis,
keturunannya dan pasukannya yang diambil oleh manusia sebagai pelindung dan penolong
selain Allah tidak memiliki andil dalam penciptaan dan pengaturan dunia ini. Allah tidak
berkonsultasi dengan mereka, bahkan Dia tidak mengizinkan mereka menyaksikan penciptaan
langit dan bumi karena mereka diciptakan sebelum keduanya.
595
Argumen logis yang menyatakan bahwa hanya pencipta yang pantas disembah telah
diulang dalam berbagai tempat di Al-Qur'an. Sebagai contoh:


“Maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak
dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?” (QS. An Nahl 16: 17)
595
Tafsir Al Quran Al-Karim hlm. 93.
Islamic Online University Tafsir 202
353




Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat
menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa
menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta
segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."
(QS. Ar Ra’d 13: 16)
596





“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah
olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain
Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun
mereka bersatu menciptakannya.” (QS. Al Hajj 27: 73)
"Dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri" yang berarti bahwa Allah tidak
membiarkan sebagian dari mereka menyaksikan penciptaan yang lain. Karena itu, bagaimana
mereka dapat dianggap sebagai penolong ketika mereka tidak turut serta dalam penciptaan,
dan tidak pula mereka menciptakan sesuatu pun dan bahkan tidak pula mereka menyaksikan
penciptaan? Kalimat ini berisi bukti bahwa siapa pun yang berbicara sesuatu tentang alam
596
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 97.
Islamic Online University Tafsir 202
354
semesta tanpa ada dalil dari wahyu yang diturunkan atau bukti-bukti yang bisa diamati indera
tidak boleh dipercaya. Jadi, jika seseorang mengatakan bahwa galaksi-galaksi tersusun dari
senyawa-senyawa tertentu dan planet-planet dari beberapa senyawa lain, atau bahwa bumi
dan planet-planet lain dari tata surya kita terbentuk dari matahari miliaran tahun yang lalu,
dan pernyataan serupa yang tidak memiliki bukti yang tidak terbantahkan sebagai dalil, maka
harus ditolak. Allah tidak membiarkan mereka menyaksikan penciptaan semesta.
597
Dua kalimat pertama ini dapat berarti bahwa jika setan adalah sekutu Allah dalam
penciptaan langit dan bumi dan dalam penciptaan mereka sendiri, mereka akan menjadi saksi
bagi makhluk dan keikutsertaannya di dalamnya. Namun, mereka tidak menyaksikannya dan
tidak pula Allah mengizinkan mereka untuk menyaksikannya. Karena itu, mereka tidak
mungkin menjadi sekutu bagi Allah.
598
Ini mirip dengan firman Allah:








“Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan)
selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di
langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun
dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara
mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (QS. Saba 34: 22)

“Dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong,”
berarti bahwa Allah tidak akan mengambil mereka sebagai pendukung dan penolong bagi
597
Tafsir Al Quran Al-Karim hlm. 93-4.
598
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 405.
Islamic Online University Tafsir 202
355
agama-Nya karena mereka yang sesat hanya akan menyesatkan orang lain. Oleh karena itu,
bahkan lebih tidak dapat diterima bagi manusia untuk mengambil orang-orang yang
menyimpang sebagai sekutu, karena tidak ada manfaatnya, hanya membahayakan. Bagian
dari ayat ini berisi larangan untuk bermajlis dengan orang-orang yang rusak, lingkaran teman
yang buruk, serta berteman dengan orang-orang yang tidak jujur, dan peringatan terhadap
bermajlis dengan orang-orang yang berbuat dosa.
599
599
Tafsir Al Quran Al-Karim hlm. 94.
Islamic Online University Tafsir 202
356




52. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: "Serulah
olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu."Mereka
lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan
mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).
Peristiwa yang dikisahkan dalam ayat-ayat itu kembali bergeser ke masa depan,
setelah berbicara tentang masa lalu yang jauh, asal-usul kejahatan, iblis dan para pengikutnya
agar manusia menyadari musuh bebuyutan mereka dan untuk melindungi diri kita dari
mereka. Pembahasan berlanjut kembali ke masa depan di mana Allah mengingatkan makhluk-
Nya tentang bagaimana Dia akan menegur dan murka kepada para penyembah berhala pada
Hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.
600



“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: "Serulah olehmu sekalian
sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu."Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-
sekutu itu tidak membalas seruan mereka.”
Mereka akan diperintahkan untuk memanggil berhala-berhala yang dulu mereka
sembah dalam rangka untuk menghinakan mereka karena berhala-berhala mereka itu tidak
akan membalas seruan mereka. Sebaliknya, mereka akan mengingkari penyembahan yang
mereka lakukan dan menentang mreka.
600
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, hlm. 173.
Islamic Online University Tafsir 202
357
  
   
“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar
sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali
tidak. kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari
penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka
(sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (QS.
Maryam 19: 81-2)
Lebih jauh lagi, para penyembah berhala dan berhala-berhala mereka keduanya akan
dilemparkan ke dalam neraka bersama-sama:




“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah
umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS. Al Anbiya 21:
98)
“Dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).”
Islamic Online University Tafsir 202
358
Tidak ada satu pun jalan bagi para penyembah berhala itu untuk mencapai tuhan-tuhan
mereka yang batil, karena Allah akan mengadakan bagi mereka padang kebinasaan
601
di
antara mereka.
602





“(Ingatlah) suatu hari (ketika itu). Kami mengumpulkan mereka
semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan): "Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di
tempatmu itu". lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-
sekutu mereka: "Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.
(QS. Yunus 10: 28).
Sebagian ulama tafsir menafsirkan jarak antara mereka sebagai jarak antara orang-
orang mukmin dan orang-orang kafir. Allah ‘azza wajalla menyebutkannya pada banyak ayat
di sepanjang Al Quran. Misalnya, akan dikatakan kepada orang-orang kafir,


“Dan (Dikatakan kepada orang-orang kafir): "Berpisahlah kamu (dari
orang-orang mukmin) pada hari ini, Hai orang-orang yang berbuat
jahat.” (QS. Yasin 36: 59)




601
Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa maubiq berarti “kebinasaan” (Tafsir ath-Thabari, jilid 18, hlm.
46)
602
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, hlm. 174.
Islamic Online University Tafsir 202
359
53. Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, Maka mereka
meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak
menemukan tempat berpaling dari padanya.
Allah melanjutkan dalam menyampaikan deskripsi tentang apa yang akan menimpa
orang-orang kafir pada Hari Kiamat. Dalam ayat ini, Dia menggambarkan kesedihan mental
dan perasaan tidak berdaya yang akan dirasakan oleh para penyembah berhala setelah apa-apa
yang dulunya mereka sembah dalam kehidupan ini dikeluarkan dari jangkauan mereka dan
pertanggung jawaban untuk hal itu diambil dari mereka. Orang-orang akan dipisahkan
menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan keimanan dan perbuatan mereka, hukuman
hukuman bagi orang berdosa akan diloloskan dan konsekuensi nyata dari kekafiran mereka
akan ditunjukkan kepada mereka dalam keseluruhannya yang mengerikan.
603


“Dan orang-orang yang berdosa (akan)
604
melihat neraka.”
Neraka dengan segala kengeriannya akan ditampakkan kepada mereka yang
melakukan dosa paling besar yakni kekafiran. Jahannam adalah makhluk mengerikan yang
diciptakan oleh Allah pada awal penciptaan bersama dengan diciptakannya surga. Abu
Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ketika selesai menciptakan surga, Allah berfirman kepada Jibril: "Pergi
dan lihatlah surga itu." Jibril kemudian pergi dan melihat surga, setelah itu
ia kembali lagi seraya berkata: "Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, tidak
seorang pun yang mendengar tentangnya kecuali ia ingin memasukinya."
Kemudian Allah menutupi (merintangi) surga dengan hal-hal yang tidak
disukai (oleh manusia). Lantas Allah berfirman: "Wahai Jibril, pergi dan
lihatlah surga itu." Jibril kemudian pergi dan melihat surga, setelah itu ia
kembali lagi seraya berkata: "Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku
kawatir tidak ada seorang pun yang hendak memasukinya." Beliau
603
Taisir al-Karimir-Rahman, hlm. 558
604
Bentuk lampau (fi’il madhi) dari ro’a secara harfiah berarti “melihat” dan ini merupakan ungkapan yang fasih
dari masa depan dengan menggunakan bentuk lampau karena kepastian mutlak tentang terjadinya. (Adhwaul
Bayan, jilid 4, hlm. 101)
Islamic Online University Tafsir 202
360
bersabda: "Ketika selesai menciptakan neraka, Allah berfirman: "Wahai
Jibril, pergi dan lihatlah neraka itu." Jibril kemudian pergi dan melihat
neraka, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata: "Wahai Rabb, demi
kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang mendengar tentangnya kemudian
timbul keinginan untuk memasukinya." Allah kemudian menutupi neraka
dengan syahwat (kesenangan atau yang disukai manusia), lantas Allah
berfirman: "Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka." kemudian Jibril pergi
dan melihat neraka, setelah itu ia kembali lagi dan berkata: "Wahai Rabb,
demi kemuliaan-Mu, aku kawatir tidak ada seorang pun yang bakal tersisa
(selamat)."
605
Dengan demikian, Neraka bukanlah istilah simbolis untuk kemurkaan Allah, atau
tidak adanya keridhaan-Nya, seperti yang diklaim oleh beberapa sekte yang menyimpang dari
masa lalu dan masa kini. Di antara pengusung dari klaim ini di dunia modern populer adalah
Harun Yahya, nama pena tokoh kultus Turki modern dengan nama Adnan Oktar. Meskipun
secara resmi ia adalah seorang Muslim Sunni, Oktar secara terbuka menyangkal keberadaan
surga dan neraka yang terpisah. Dalam sejumlah bukunya, di antaranya, Allah Diketahui
Melalui Akal dan Kebenaran Kehidupan Dunia Ini, penulis menyatakan hal berikut dalam
lampiran yang berjudul "Pendekatan yang Sangat Berbeda kepada dunia Materi":
"Seperti yang dikatakan sebelumnya, pertanyaan tentang kematian, surga,
neraka, akhirat, dimensi yang berubah, dan pertanyaan seperti "Di mana
Allah?" "Apa yang ada di hadapan Allah? " "Siapa yang menciptakan Allah?"
"Berapa lama kehidupan alam kubur akan berlalu?" "Di mana surga dan
neraka?" dan "Di mana surga dan neraka yang ada saat ini?" mudah dijawab.
Itu akan dipahami dengan tatanan seperti bagaimana Allah menciptakan
seluruh alam semesta ini dari ketiadaan, sedemikian rupa sehingga, dengan
rahasia ini, pertanyaan-pertanyaan “kapan?” Dan “di mana?” Menjadi
tidak berarti karena tidak ada waktu dan tidak ada ruang yang tersisa. Ketika
ruang kosong dipahami, akan dipahami bahwa neraka, surga, dan bumi
semuanya sebenarnya adalah tempat yang sama.”
606
605
Sunan Abu Dawud, jilid 3, hlm. 1327 dan disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud, no. 3970.
606
Allah diketahui melalui Akal (Allah is known through reason), hlm. 202-3.
Islamic Online University Tafsir 202
361
Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang berdosa akan
melihat nereka, sementara di tempat lain Dia juga menyebutkan bahwa nereka akan
melihat mereka dan menggeram.





“Bbahkan mereka mendustakan hari kiamat. dan Kami menyediakan
neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.
Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka
mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (QS. Al Furqan 25: 11-
12)
607
Dan pada ayat lain Allah menggambarkan bahwa neraka itu menggelegak ketika
orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya,



“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara
neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak.” (QS. Al
Mulk 67: 7)
Dengan demikian, neraka adalah makhluk yang mengerikan, yang menggeram,
mengamuk dan mengaum, begitu liar dan sangat marah sehingga Allah menugaskan empat
miliar sembilan ratus ribu malaikat untuk memegang kendalinya.
607
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 99
Islamic Online University Tafsir 202
362
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
َ
ٍ
مﺎ
َ
ِ
ز
َ
ْ
َ
أ
َ
ن
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ﺳ ﺎ
َ
َ
ٍ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
ـﻧو
ُ
َ
ٍ
َ
َ
َ
ْ
َ
أ
َ
ن
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ٍ
مﺎ
َ
ِ
ز
Dari Abdullah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Pada hari itu neraka jahannam didatangkan, ia mempunyai tujuh puluh
ribu tali kekang, setiap tali kekang terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang
akan menyeretnya."
608
Dan ketika Allah berbicara kepadanya pada hari kiamat, ia akan dengan lapar
menjawab,



“(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada
Jahannam : "Apakah kamu sudah penuh?" Dia Menjawab : "Masih
ada tambahan?" (QS. Qaaf 50: 30)
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ٍ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ْ
َ
ِ
رﺎﻨﻟا
ِ
{
ٍ
ﺪﻳ
ِ
َ
ْ
ِ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﺗ
َ
و }
ْ
َ
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﺘ
َ
ـﻓ
ُ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
Dari Anas radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau
bersabda: "Orang-orang dilemparkan ke neraka {Dan neraka itu berkata:
'Apakah ada tambahan lagi?} (QS. Qaf: 30). Maka Allah meletakan kaki-
Nya, dan neraka itu berkata: 'Cukup, cukup'."
609
608
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1482, no. 6810.
609
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 353, no. 371.
Islamic Online University Tafsir 202
363

“Maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya.”
Orang-orang kafir akan menyadari bahwa mereka tidak dapat melarikan diri dari
dilemparkan ke dalam api, dan itu hanya akan menambah kecemasan dan kebinasaan mereka,
karena kekhawatiran dan ketakutan akan hukuman itu sendiri adalah hukuman yang sangat
nyata.
610
Fakta ini ditegaskan oleh para napi di penjara selama beberapa dekade sementara
pengacara-pengacara mereka mengajukan banding yang akhirnya meminta agar semua
banding dihentikan dan mereka akhirnya diperkenankan untuk dieksekusi.
“Dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya.”
Mereka tidak akan dapat melarikan diri dari neraka begitu mereka melihatnya dan
neraka telah melihat mereka, karena mereka tidak memiliki seorang pun penolong dan tidak
pula pelindung serta tidak akan ada jalan keluar darurat atau tempat berlindung ke untuk
dituju. Neraka pasti akan melahap mereka.
610
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, hlm. 175.
Islamic Online University Tafsir 202
364
  

54. Dan Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia
dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia
adalah makhluk yang paling banyak membantah.
Ayat ini adalah kesimpulan Allah dari ayat-ayat sebelumnya yang berisi berbagai
perumpamaan, parabel, simile dan metafora. Allah mencatat bahwa ia telah menjelaskan jalan
lurus bagi umat manusia menggunakan segala macam contoh untuk membuat mereka sadar
akan apa yang benar dan apa yang salah.
 
“Dan Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini
bermacam-macam perumpamaan.” Gaya bahasa Al-Qur'an, khususnya yang berkaitan
dengan kisah-kisah yang ditemukan dalam kitab suci sebelumnya, berorientasi pada pelajaran.
Kehadiran kisah-kisah dalam Al-Qur'an yang ditemukan dalam Alkitab telah menyebabkan
beberapa penentang mengklaim bahwa Al-Qur'an dijiplak dari Alkitab oleh Nabi Muhammad
(shallallahu 'alaihi wasallam). Perbedaan dalam penyajiannya mereka katakan disebabkan
karena ingatan Nabi Muhammad yang salah. Namun, jika kita memperhatikan perbedaan itu,
menjadi jelas bahwa ini adalah kasus penghapusan detail yang tidak perlu dan pemusatan
perhatian pembaca pada pesan penting. Lebih jauh, kisah yang sama dapat diulang berkali-
kali di sepanjang Al-Quran yang memberi kepada pembaca yang santai akan adanya kesan
pengulangan. Namun, pandangan yang cermat pada bagian yang diulang menunjukkan bahwa
setiap kali aspek cerita yang berbeda difokuskan untuk menyoroti pelajaran yang berbeda
pula.
Islamic Online University Tafsir 202
365

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
Namun, banyak orang tidak mendapat manfaat dari permisalan-permisalan ini dan,
sebaliknya, mereka menentang kebenaran dengan menggunakan kebatilan atau mereka
membuat alasan dan menjauh dari nasehat yang terbaik.
ُ
َ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
ِ
َ
أ
َ
ْ
ِ
َ
ن
َ
أ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
َ
ﺴﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
ْ
ِ
َ
َ
ِ
ﻃﺎ
َ
َ
و
ُ
َ
َ
َ
ُ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ِ
نﺎ
َ
َ
ُ
َ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ً
َ
ْ
ـﻴ
َ
م
َ
ف
َ
َ
ْ
ﻧﺎ
َ
َ
َ
ـﺜ
َ
َ
ـﺑ
َ
َ
ـﺜ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
َ
ءﺎ
َ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
َ
ِ
َ
ُ
ُ
ْ
ـﻧ
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ُ
َ
ِ
َ
ُ
ب
ِ
ْ
َ
ل
َ
ُ
َ
ُ
َ
و
ُ
ُ
ْ
ِ
َ
ُ
ً
ْ
َ
َ
ِ
إ
ْ
ِ
ْ
َ
ـﻳ
ْ
َ
َ
و
َ
ِ
َ
ذ
َ
ْ
ُ
ـﻗ
َ
ِ
َ
ُ
َ
و
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ {
ً
َ
َ
ٍ
ء
ْ
َ
َ
َ
ـﺜ
ْ
َ
أ
ُ
نﺎ
َ
ْ
ِ
ْ
ﻹا
َ
نﺎ
َ
َ
و }
'Ali bin Abu Tholib radliyallahu 'anhu menceritakan kepadanya bahwa Pada
suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membangunkan dia
dan Fathimah putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata:
"Mengapa kalian tidak shalat malam?" Maka aku (Ali) menjawab: "Wahai
Rasulullah, jiwa-jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia menghendaki
membangunkan kami pasti kami akan bangun juga." Maka Beliau berpaling
pergi ketika kami mengatakan seperti itu dan Beliau tidak berkata sepatah
katapun. Kemudian aku mendengar ketika Beliau pergi sambil memukul
pahanya seraya membacakan ayat:

Islamic Online University Tafsir 202
366
“Memang manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
(Al Kahfi: 54)
611
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menasehatkan kepada mereka agar mereka
melaksanakan shalat Tahajjud (shalat Sunnah malam) dan apa yang dikatakan Ali adalah
benar, namun akan lebih baik baginya jika ia menerima saja nasehat Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam daripada berusaha membela diri. Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Ali tidak
ada bedanya dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan manusia.
Terkait dengan persoalan iman, orang mukmin tidak boleh banyak membantah.
Bahkan mereka harus berserah diri sepenuhnya kepada kebenaran tanpa ada penolakan
sedikitpun, sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala,




“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al
Ahzab 33: 36)
611
Sahih Al Bukhari,
Kitaab: Jumu’ah; Baab : Nabi sangat menganjurkan shalat malam dan shalat-shalat sunnah
lainnya kepada keluarganya namun tidak mewajibkannya dan
Shahih Muslim,
Kitaab : Shalaatul Musaafirin wa
qasruhaa; Baab: Maa ruwiya fiman namal lail
Islamic Online University Tafsir 202
367








“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati
mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa 4: 65)
Oleh karena itu, Abu Umamah diriwayatkan berkata,
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ﻣﺎ
َ
ُ
أ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ٌ
م
ْ
َ
ـﻗ
َ
ﺿ ﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
ُ
َ
ل
َ
َ
ْ
ﳉا ا
ُ
و
ُ
أ
ِ
إ
ِ
ْ
َ
َ
ا
ُ
ﻧﺎ
َ
ى
ً
ُ
َ
َ
ْ
ﻵا
ِ
ِ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ٌ
م
ْ
َ
ـﻗ
ْ
ُ
ْ
َ
ً
َ
َ
ِ
إ
َ
َ
ُ
ُ
َ
َ
ﺿ
َ
ﻣ}
{
َ
ن
ُ
ِ
َ
dari Abu Umamah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam
bersabda: "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapat petunjuk yang
ada pada mereka melainkan karena mereka suka berbantah-bantahan."
Kemudian beliau membaca ayat ini:




Islamic Online University Tafsir 202
368
"Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan
dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum
yang suka bertengkar."




“Dan mereka berkata: "Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan Kami
atau Dia (Isa)?" mereka tidak memberikan perumpamaan itu
kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya
mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (QS. Az-Zukhruf 43: 58)





“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah
bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfal 8: 25)
612
Jika seseorang merenungkan keadaan para sahabat, semoga Allah meridhoi mereka, ia
akan menemukan mereka berada di puncak penyerahan diri pada apa pun yang datang dalam
Syari’at. Mereka tidak berdebat atau bertanya "mengapa?" tentang perintah Allah. Misalnya,
ketika Rasulullah (shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda:
))
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ﻣ ا
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﺗ
َ
َ
و
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ﻣ ا
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ((
612
Sunan Ibnu Majah, Kitaab: Muqaddimah; Bab: Ijtinaab bid’ah wa jadal. Sunan at-Tirmitzi, Kitaab: Tafseer al
Qur’aan ; Bab: min Surah az-zukhruf.
Islamic Online University Tafsir 202
369
"Berwudlulah kalian karena daging unta, dan jangan berwudlu karena
daging kambing."
613
Para sahabat tidak bertanya mengapa. Akan tetapi mereka mendengar dan taat. Dan
seperti itulah yang terjadi dalam seluruh perintah Allah.
614
Yang mereka tanyakan adalah
hukum dan keteranggan lebih lanjut tentang hukum suatu perkara, sebagaimana yang terjadi
tentang shalat di kandang domba dan unta dalam hadits berikut ini,
َ
ُ
َ
ِ
ْ
ِ
ِ
ﺑﺎ
َ
ْ
َ
َ
ة
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ل
َ
َ
ً
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ْ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ
َ
َ
َ
ْ
ِ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
ْ
ﺿ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻓ
َ
ْ
ِ
ْ
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ
َ
أ
َ
أ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ْ
ﺿ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻓ
ْ
َ
َ
ـﻧ
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
ك
ِ
رﺎ
َ
َ
ِ
ﰲ ﻲ
َ
ُ
أ
َ
لﺎ
َ
ْ
َ
َ
ـﻧ
َ
لﺎ
َ
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ﺑا
َ
َ
ِ
ﰲ ﻲ
َ
ُ
أ
Dari Jabir bin Samurah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah kami harus berwudhu karena makan
daging kambing?" Beliau menjawab, "Jika kamu berkehendak maka
berwudhulah, dan jika kamu tidak berkehendak maka janganlah kamu
berwudhu." Dia bertanya lagi, "Apakah harus berwudhu disebabkan
613
Sunan Ibnu Majah, Kitaab: Tahaarah wa sunanuhaa; Baab: maa jaa’a fi al wudhu min luhum al ibil. Lafadz
hadits secara lengkap yakni sebagai berikut,
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ِ
ﻠﻟا
َ
ْ
َ
ُ
ْ
ِ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﺗ
َ
َ
و
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ا
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ
َ
َ
و
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
نﺎ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ا
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ
َ
و
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
م
ُ
ُ
ْ
ِ
ا
ُ
ﺿ
َ
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
ِ
ﻃﺎ
َ
َ
ِ
ﰲ ا
َ
ُ
َ
َ
و
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
حا
َ
ُ
ِ
ﰲ ا
َ
َ
و
ِ
َ
َ
ْ
ﻟا
ِ
نﺎ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ﻣ ا
ُ
ﺿ
َ
َ
ـﺗ
Aku mendengar Abdullah bin 'Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berwudlulah kalian karena daging
unta, dan jangan berwudlu karena daging kambing. Berwudlulah kalian
karena susu unta, dan jangan berwudlu karena susu kambing. Dan
shalatlah kalian di kandang kambing, dan jangan shalat di kandang unta..”
614
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 96-7.
Islamic Online University Tafsir 202
370
(makan) daging unta?" Beliau menjawab, "Ya. Berwudhulah disebabkan
(makan) daging unta." Dia bertanya, "Apakah aku boleh shalat di kandang
kambing?" Beliau menjawab, "Ya boleh." Dia bertanya, "Apakah aku boleh
shalat di kandang unta?" Beliau menjawab, "Tidak."
615
Dengan demikian, ketika suatu hukum telah ditetapkan, mereka tidak bertanya
mengapa. Akan tetapi pada sebagian kesempatan, beberapa sahabat Nabi bertanya,
sebagaimana dalam peristiwa anjing hitam yang memutuskan shalat fardhu dalam hadits
berikut,
َ
لﺎ
َ
ر
َ
ذ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ِ
ﻣﺎ
ﺼﻟا
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
َ
َ
ْ
َ
ـﺑ
َ
نﺎ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
ُ
ُ
ُ
ـﺘ
ْ
َ
ُ
ِ
َ
َ
ُ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
َ
مﺎ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ِ
َ
ِ
ْ
ﺮﻟا
ِ
ة
َ
ِ
ﺧآ
ُ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
َ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
ُ
َ
ْ
َ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ِ
ْ
ﺮﻟا
ِ
ة
َ
ِ
ﺧآ
ْ
ﻟا
َ
و
ُ
رﺎ
َ
ِ
ْ
ﳊا
ُ
َ
َ
َ
ُ
لﺎ
َ
َ
ر
َ
ذ
َ
َ
أ
َ
ُ
ْ
ُ
ـﻗ
ُ
د
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ُ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
ُ
ة
َ
أ
ْ
َ
َ
ْ
ﺑا
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ِ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ِ
د
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
َ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ْ
ﻟا
ٌ
نﺎ
َ
ْ
َ
ُ
د
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ُ
Dari Abdullah bin ash-Shamit dari Abu Dzarr dia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian
hendak shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di
hadapannya yang berbentuk seperti kayu yang diletakkan diatas hewan
tunggangan, apabila di hadapannya tidak ada sutrah seperti kayu yang
diletakkan diatas hewan tunggangan, maka shalatnya akan terputus oleh
keledai, wanita, dan anjing hitam.' Aku bertanya, 'Wahai Abu Dzarr, apa
perbedaan anjing hitam dari anjing merah dan kuning? Dia menjawab, 'Aku
pernah pula menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
615
Shahih Muslim, Kitab: Haid, Bab: Wudhu min luhumul ibil.
Islamic Online University Tafsir 202
371
sallam sebagaimana kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau,
'Anjing hitam itu setan'."
616
Tersisa ruang untuk pertanyaan dan peradaban Barat yang membanggakan diri akan
semangat bertanya mencari tahu dalam sistem pendidikan mereka. Bertanya dalam
pembelajaran itu penting, karena menerima secara buta menghambat kemajuan dan
penemuan. Namun, dengan munculnya sekularisme di Barat, semuanya menjadi subyek
pertanyaan, bahkan prinsip-prinsip moral yang paling mendasar. Tidak ada yang tetap suci
dan berada di atas semua pertanyaan itu.
617
Sebagai akibatnya, perzinaan, percabulan dan
homoseksualitas menjadi suatu hal yang sah di bawah lingkup bahwa yang melakukannya
orang yang dewasa dan saling menyetujui (suka sama suka) dan landasan moral peradaban
Barat dihancurkan. Di sisi lain, pendidikan Muslim mandek dalam pembelajaran menulis dan
menghafal tanpa ada pertanyaan. Namun, fondasi moral peradaban Muslim tetap utuh karena
umat Muslim umum menerima perintah-perintah Allah dasar sebagai sesuatu yang kekal. Jadi,
perkembangan baru-baru ini seperti Dr Amina Wadud yang mengimami shalat Jumat
berjama’ah yang bercampur (antara laki-laki dan perempuan) di Gereja Kota New York, atau
pendirian masjid homoseksual di AS dan Kanada tidak akan bisa diterima luas seperti yang
terjadi di negara-negara Kristen.
Ayat ini berisi dorongan umum bagi para pembaca dan pendengarnya untuk
mengamalkan apa saja yang mereka baca atau dengar dari dalam Al-Qur'an. Mereka
selanjutnya disarankan untuk menerima nasehat Al-Qur'an dengan sepenuh hati dan beramal
berdasarkan bimbingan tersebut daripada mencoba menggeliat keluar dari sana.
616
Shahih Muslim, Kitab: Shalat, Bab: Qadar ma yasturu al mushalli
617
Akan tetapi, diterima dalam ilmu pengetahuan bahwa ada kebenaran aksiomatik yang tidak bisa
dipertanyakan dan harus diterima bagi ilmu pengetahuan untuk memanfaatkannya. Misalnya, seseorang tidak
bisa mempertanyakan mengapa 2+2= 4 dan 2x2=4, sementara 3+3= 6 dan 3x3= 9.
Islamic Online University Tafsir 202
372



55. Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari
beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari
memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti)
datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang
dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.
Dalam ayat ini, Allah ‘azza wajalla memberikan alasan paling umum bagi orang-orang
yang menolak petunjuk ilahi yang ditemukan dalam berbagai perumpamaan dan ajaran Al-
Qur'an. Apa yang menghentikan mereka untuk percaya pada risalah bukanlah karena mereka
tidak menemukan kebenaran, tetapi, karena pembangkangan dan sikap mereka yang keras
kepala menuruti argumen yang sama yang digunakan oleh orang-orang dari masa lalu, mereka
ingin mengalami akibat dari kekafiran mereka pada diri mereka sendiri untuk memastikan
diri.

“Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk
telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya,” agar
manusia bertanggung jawab, mereka harus bebas memilih untuk beriman atau kafir dan untuk
bertobat atau tidak. Jadi, Allah menekankan di sini bahwa tidak ada yang mencegah mereka
dalam hal ini, yang berarti bahwa mereka tidak memiliki alasan untuk menolak kebenaran.
Lebih lanjut lagi, risalah yang dibawa disampaikan dengan jelas yang terbebas dari segala
Islamic Online University Tafsir 202
373
kerancuan sehubungan dengan pesan intinya. Maka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
diriwayatkan oleh al-‘Irbaad ibn Sariyah bahwa beliau bersabda,
))
َ
َ
ـﻨ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ِ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟا ﻰ
َ
َ
ْ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ـﺗ
ْ
َ
ِ
إ ي
ِ
ْ
َ
ـﺑ ﺎ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻎﻳ
ِ
َ
َ
ﻻ ﺎ
َ
ِ
رﺎ
ٌ
ِ
ﻟﺎ
َ
((
"Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti
siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan
binasa”
618
Penolakan mereka untuk beriman murni karena pembangkangan mereka.
619
Maksudnya tidak ada yang bisa menghentikan mereka dari mengikuti kebenaran kecuali
618
Sunan Ibnu Majah, Kitab: Muqaddimah, Bab: Ittiba’ sunnah khulafaur rasyidin
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
َ
ْ
َ
ضﺎ
َ
ْ
ِ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ْ
َ
َ
ر
َ
ذ
ً
َ
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
َ
و
َ
ُ
ُ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ِ
ِ
َ
ن
ِ
إ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ُ
ب
ُ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ْ
َ
ِ
َ
و
َ
و
ُ
ن
ُ
ُ
ْ
ﻟا ا
َ
ذﺎ
َ
َ
ٍ
ع
د
ِ
إ ي
ِ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻎﻳ
ِ
َ
َ
َ
ِ
رﺎ
َ
َ
ـﻨ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ِ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ـﺒ
ْ
ﻟا
َ
َ
ْ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ـ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ِ
إ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺗ
ِ
ُ
َ
و
ِ
ُ
ْ
ِ
ْ
ُ
ْ
ـﻓ
َ
َ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
َ
ـﻓ ا
ً
ِ
َ
ً
َ
ِ
ْ
ﺧا ى
َ
َ
ـﻴ
َ
َ
ْ
ُ
ْ
ِ
ْ
ِ
َ
ْ
َ
ٌ
ِ
ﻟﺎ
َ
َ
ُ
ْ
ﳋا
ا
ً
ْ
َ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
ِ
َ
ﻋﺎ
ﻄﻟﺎ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
َ
و
ِ
ِ
ﺟا
َ
ـﻨﻟﺎ
ِ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
ا
َ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ﻦﻳ
ِ
ِ
ﺷا
ﺮﻟا
ِ
ءﺎ
َ
َ
دﺎ
َ
ْ
ـﻧا
َ
ﺪﻴ
ِ
ﻗ ﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ِ
ِ
َ
ْ
ﻷا
ِ
َ
َ
ْ
ﳉﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا ﺎ
َ
ِ
َ
ﻓ ﺎ
ِ
َ
َ
Ia mendengar 'Irbadl bin Sariyah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi
kami satu nasehat yang membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka kami
berkata kepada beliau: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ini merupakan nasihat perpisahan,
lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti
siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa
di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib
berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjukk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi
geraham. Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habasyi. Orang mukmin itu
seperti seekor unta jinak, di mana saja dia diikat dia akan menurutinya."
Islamic Online University Tafsir 202
374
tuntutan mereka untuk menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri adzab yang mereka
diperingatkan darinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian dari mereka kepada Nabi
Syu’aib



“Maka jatuhkanlah atas Kami gumpalan dari langit, jika kamu
Termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Asy Syuaro 26: 187).
Sebagian yang lain berkata kepada Nabi Hud,
 
"Datangkanlah kepada Kami azab Allah, jika kamu Termasuk orang-
orang yang benar." (QS. Al Ankabut 29: 29)
Sementara orang-orang kafir dari umat ini mengatakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam,






“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya
Allah, jika betul (Al Quran) ini, Dialah yang benar dari sisi Engkau,
Maka hujanilah Kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah
kepada Kami azab yang pedih." (QS. Al Anfal 8: 32)
620
619
Tafsir Al Quran al Karim, hlm. 98.
620
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
375
“Dan dari memohon ampun kepada Tuhannya,” mengacu pada taubat yang harus sering-
sering dilakukan oleh orang-orang mukmin sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
))
ٍ
ة
َ
َ
َ
ﺋﺎ
ِ
ِ
ْ
َ
ِ
إ
ِ
م
ْ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
ِ
ُ
ب
ُ
َ
أ
ِ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ِ
إ ا
ُ
ُ
ُ
سﺎﻨﻟا ﺎ
َ
ـﻳ
َ
أ ﺎ
َ
((
'Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat seratus
kali dalam sehari.'
621
Begitu pula, jika seorang kafir masuk Islam, ia harus memohon ampun kepada Allah
atas dosa-dosanya yang telah lalu dan jika ia melakukannya, dosa-dosanya yang telah lalu
akan dihapus. Allah ‘azza wajalla berfirman,

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka
berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka
tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu.” (QS. Al Anfal 8: 38)
622
“Kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu
pada) umat-umat yang dahulu,”
621
Shahih Muslim, Kitab: Dzikir, Doa, Taubat dan Istighfar, Bab: Sunnahnya Istighfar dan Memperbanyaknya.
622
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 98-9.
Islamic Online University Tafsir 202
376
Sunnatul Awwalin, atau hukuman yang Allah turunkan pada umat-umat terdahulu
adalah hukuman umum yang menimpa semua orang sebagaimana yang terjadi pada umat
Nabi Nuh, Hud, dan Syu’aib dan sebagainya. Akan tetapi dalam kaitannya dengan umat ini,
Allah belum atau tidak akan menurunkan azab yang tersebar luas dan menyeluruh karena
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah berdoa agar Allah tidak melakukannya
dan doa beliau tersebut dikabulkan.
623


“Atau datangnya azab atas mereka dengan nyata,”
624
artinya “hingga mereka
melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.”
625
Ayat ini juga berarti bahwa tidak ada yang mencegah manusia dari beriman dan
bertaubat ketika para rasul membawakan kepada mereka bukti-bukti yang nyata, kecuali
karena ilmu Allah bahwa mereka tidak akan beriman. Allah telah mengetahui bahwasanya
mereka akan tetap berada dalam kekafiran mereka hingga datang kepada mereka adzab yang
menimpa umat-umat terdahulu dan atau hingga datangnya hari Kiamat kepada mereka.
Makna ini dinyatakan berulang-ulang di sepanjang Al Quran. Misalnya,







“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat
Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka
segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang
pedih.” (QS. Yunus 10: 96-7)
626
623
Shahih Muslim, Kitab: al fitan wa asyrat as-saa’ah, Baab: Halak hadzihil Ummah
624
Menurut para ulama tafsir, qubulan juga berarti “semua jenis” atau “satu jenis mengikuti yang lain.” Juga
dibaca oleh empat dari tujuh pembaca Al Quran dengan qibalan yang berarti “bertemu langsung” (al jami’ li
ahkamil Qur’an, jilid 11, hlm 7 dan adhwaul bayan, jilid 4, hlm. 106.
625
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 99.
626
Adhwaul bayan, jilid 4, hlm. 105.
Islamic Online University Tafsir 202
377
   

56. Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi
orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan
demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka
menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan- peringatan terhadap
mereka sebagai olok-olokan.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan tugas para nabi. Tugas mereka bukanlah untuk
membawa bukti akan azab yang akan datang kepada manusia, juga tidak menunjukkan kepada
mereka kehidupan akhirat dalam kehidupan ini seperti yang dituntut oleh orang-orang kafir.
Jika itu yang terjadi, iman tidak akan menjadi masalah penentu, karena iman mengandung
keyakinan pada yang tak terlihat (perkara ghaib) dan mengimana informasi yang telah dibawa
walaupun Anda tidak bisa melihatnya. Juga bukan tugas mereka untuk memaksa orang untuk
beriman pada risalah mereka. Tugas utama para rasul adalah untuk menyampaikan kabar
gembiar tentang surga bagi mereka yang menaatinya dan memperingatkan orang-orang akan
azab Neraka bagi mereka yang tidak menaatinya. Setelah itu terserah bagi manusia untuk
menerima risalah atau menolaknya.
  
Islamic Online University Tafsir 202
378
“Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira
dan sebagai pemberi peringatan," berarti bahwa mereka tidak dikirim tanpa tujuan, dan
mereka juga tidak dikirim untuk diangkat sebagai raja di sisi Allah.
627
Keyakinan pada para
rasul diangkat ke dalam rukun iman yang keempat karena mengingkari mereka yang dipilih
untuk menyampaikan risalah sama artinya dengan mengingkari risalah itu sendiri. Ini adalah
alasan mengapa beriman kepada rasul menjadi unsur kedua dari syahadat iman. Orang-orang
Yahudi yang beriman pada Nabi Yesus berarti mereka membenarkan iman mereka, sementara
mereka yang menolaknya berarti membatalkan iman mereka. Begitu pula dengan orang
Yahudi dan Kristen yang beriman pada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berarti
telah memvalidasi iman mereka, sementara mereka yang menolaknya membatalkan iman
mereka. Seperti yang dikatakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
"Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah
seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku,
kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus
dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka."
628
Klaim dari kaum Deist bahwa Allah tidak mengungkapkan apa pun kepada manusia,
bahwa Dia hanya menciptakan dunia ini dan membiarkannya berjalan sendiri, adalah bentuk
meremehkan Allah di mana hal ini mengungkapkan kebodohan mereka tentang sifat-sifat
Allah. Allah ‘azza wajalla membahas hal ini sebagai berikut:

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang
semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan
sesuatupun kepada manusia” (QS. Al An’am 6: 91)
Akal sehat mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada perusahaan di mana karyawan
tidak tahu deskripsi pekerjaan mereka yang bisa berhasil. Pemilik perusahaan semacam itu
akan dianggap tidak rasional dan tidak bijaksana, dan pasti akan gagal. Namun mereka
mengklaim bahwa dunia dibiarkan berjalan sendiri. Klaim semacam itu merupakan
627
Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 660-1.
628
Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 91, no. 284
Islamic Online University Tafsir 202
379
penghinaan keji terhadap Tuhan dengan akhirnya mengklaim bahwa Tuhan lelah pada hari
ketujuh penciptaan dan perlu istirahat.

"Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian
mereka dapat melenyap kan yang hak." Semua orang yang berdebat menggunakan
kebatilan untuk menentang kebenaran dibahas dalam ayat ini. Mereka memiliki unsur
pengingkaran di dalam diri mereka karena orang-orang kafirlah yang menggunakan
kebohongan untuk menentang dan mengalahkan kebenaran.
629
Di masa lalu, mereka yang
menentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut beliau penyihir, penyair dan peramal,
dan menyebut Al-Qur'an sebagai dongeng kuno. Di masa kini, para penginjil Kristen seperti
Jerry Fallwell dan yang lain telah mencap beliau sebagai seorang teroris dan seorang pedofil.
Namun, perbedaan harus dibuat antara yang sungguh-sungguh kesalahpahaman dan keraguan,
dan upaya yang disengaja untuk menumbangkan kebenaran, seperti yang Allah ‘azza wajalla
firmankan:




“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan
mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak
menyukai.” (QS. At-Taubah 9: 32)
Tidak peduli seberapa keras orang-orang kafir berusaha menyembunyikan kebenaran
dan memfitnahnya, mereka tidak akan berhasil. Bahkan, konsekuensi dari tindakan mereka
akan menjadi kebalikan dari apa yang mereka inginkan.
629
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 100
Islamic Online University Tafsir 202
380
"Dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan- peringatan terhadap
mereka sebagai olok-olokan," merujuk pada Al-Qur'an dan peringatan hukuman bagi
mereka yang tidak taat dan tidak beriman kepada Allah.
Islamic Online University Tafsir 202
381





57. Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah
diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu Dia berpaling dari
padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua
tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati
mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan
pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru
mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat
petunjuk selama-lamanya.
Dalam kalimat: “Dan siapakah yang lebih zalim,” berarti “siapakah yang lebih zalim
kepada dirinya sendiri,”
630
karena kezhaliman manusia tidak dapat merugikan Allah Yang
Mahakuasa. Apa pun yang dilakukan manusia yang paling bejat, baik terhadap manusia lain
630
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 100
Islamic Online University Tafsir 202
382
atau karena kekafirannya kepada Allah, pada akhirnya ia hanyalah merugikan diri mereka
sendiri. Dalam kasus terhadap manusia, mereka akan dihukum untuk setiap perbuatan zhalim
yang dilakukan terhadap orang lain, dan dalam kasus terhadap Allah, mereka akan diazab
untuk setiap perbuatan kafir dan pengingkarannya terhadap perintah Allah. Oleh karena itu,
Allah ‘azza wajalla berfirman,
“Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka
sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS.
Ath Thalaq 65: 1)

“Dari pada orang yang telah diperingatkan,” berarti bahwa orang yang telah mendapatkan
peringatan. Mereka telah mendengar risalah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau
utusan beliau. Salah satu nama Al Quran yang disebutkan Allah adalah “peringatan.”



“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran (adz-dzikr), dan
Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr 15: 9)

“Dengan ayat-ayat Tuhannya,” merujuk kepada perkara-perkara yang telah diberikan
peringatan baik berupa tanda-tanda Allah dalam penciptaan-Nya dan tanda-tanda (dalil-dalil)
hukum syari’at-Nya. Tanda-tanda penciptaan-Nya meliputi di dalamnya gerhana matahari dan
Islamic Online University Tafsir 202
383
bulan yang dengannya Allah meletakkan ketakutan dalam hati makhluk-makhluk-Nya.
Manusia berpaling dengan mengatakan bahwa gerhana adalah peristiwa alam dan bukanlah
peringatan dari Allah. Ketika bulan yang berputar pada porosnya berada di antara bumi dan
matahari, cahaya matahari tertutup sehingga kita mengalami gerhana matahari dan ketika
bumi berada di antara matahari dan bulan, pantulan cahaya matahari ke bulan menjadi
terhalang sehingga kita mengalami gerhana bulan. Semua itu tidak ada artinya.
631
Berpaling
dari tanda-tanda syar’i-nya meliputi menolak ayat-ayat Al Quran dan perintah dari as-Sunnah.
Terkait dengan firman Allah sebelumnya,
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah?” (18: 15) tidak ada pertentangan di dalamnya. Ayat ini merujuk kepada
mereka yang diperingatkan terhadap sesuatu di mana mereka mengabaikan peringatan
tersebut sementara ayat sebelumnya merujuk kepada mereka yang berkata dusta (mengada-
adakan kebohongan). Seburuk-buruk di antara mereka yang mengabaikan peringatan adalah
mereka yang diperingatkan dengan tanda-tanda Allah, dan seburuk-buruk pendusta adalah
yang berkata dusta tentang Allah.
632
“…. lalu Dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh
kedua tangannya?”
633
di antara perbuatannya berupa kemungkaran dan kekafiran yang tidak
akan Allah lupakan. Bahkan, Allah mencatat semua perbuatan, baik besar maupun kecilnya,
sebagaimana yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Allah ‘azza wajalla berfirman,
631
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 103.
632
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 102.
633
Istilah tangan (yadaahu) digunakan dalam kalimat ini karena tangan adalah anggota tubuh yang paling umum
digunakan. Ini merupakan metafora dalam bahasa Arab meskipun perbuatan yang sebenarnya dilakukan oleh
lisan dan hatinya seperti perbuatan kekufuran, perzinahan, dan sebagainya dengan anggota tubuh yang lain.
(Adhwaaul Bayan, jilid 4, hlm. 110-111)
Islamic Online University Tafsir 202
384




“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu
diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka
telah melupakannya. dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.”
(QS. Al-Mujaadalah 58: 6)
Sebagian ulama seperti al-Qurtubi, menjelaskan bahwa kalimat ini merujuk pada
amalan-amalan wajib yang ditinggalkan dengan sengaja dan manusia tidak bertaubat
karenanya.
634
Akibat dari Berpaling
Sebagai akibat karena mereka berpaling dari peringatan Allah, Allah ‘azza wajalla
meletakkan segel di atas hati-hati mereka sehingga mereka tidak akan memahami kebenaran
atau mendapatkan petunjuk selama-lamanya. Dia berfirman,


“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga
mereka tidak) memahaminya (Al Quran), dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga
mereka.”
Bagian dari ayat ini mengandung dorongan untuk memahami Al Quran dan bahwa
kita harus membaca Al Quran dan mempelajari maknanya sebagaimana yang dilakukan oleh
634
Adhwaaul Bayan, jilid 4, hlm. 110
Islamic Online University Tafsir 202
385
para sahabat. Mereka tidak akan melewati sepuluh ayat sampai mereka memahami ilmunya
dan perbuatan-perbuatan shalih yang terkandung di dalamnya.
635
Di antara akibatnya adalah Allah akan memberikan pembalasan, sebagaimana
disebutkan dalam Firman-Nya,





“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah
diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling
daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan
kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah 32: 22)
Di antara akibatnya pula yakni mereka yang berpaling akan menjadi seperti keledai
yang lari ketakutan,



“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan
(Allah) seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut?” (QS.
Al Muddatstsir 71: 49-50)
Di antara akibatnya yakni peringatan akan datangnya kebinasaan dengan petir
sebagaimana apa yang membinasakan umat-umat terdahulu,



635
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 104.
Islamic Online University Tafsir 202
386
“Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: "Aku telah
memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum
'Aad dan Tsamud." (QS. Fushshilat 41: 13)
Di antara akibat buruknya yakni keadaan yang menyedihkan dalam kehidupan di
dunia ini dan dibangkitkan dalam keadaan buta. Allah ‘azza wajalla berfirman,



“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta." (QS.
Thaha 20: 124)
Di antara akibat buruknya yakni setan akan ditugaskan kepada seorang yang berpaling
setelah melihat kebenaran. Allah ‘azza wajalla berfirman,





“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha
Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang
menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf 43: 36)
Allah ‘azza wajalla telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin di tempat lain
dalam Al Quran untuk menjauh dari mereka yang berpaling dari peringatan Allah yang mana
pandangan mereka hanya terbatas pada kehidupan duniawi semata,
Islamic Online University Tafsir 202
387



“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari
peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.
Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.” (QS. An Najm 53: 29-30)
Allah juga melarang orang-orang mukmin dari menaati mereka yang berpaling dari
peringatan Allah di bagian awal surat ini, dengan firman-Nya,

“Dan janganlah kedua matamu berpaling kepada mereka (karena)
mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti
orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta
menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
(18: 28)
636
Segel dipasang pada hati dan telinga mereka merupakan akibat dari mereka memilih
kesesatan dan bukanlah sengaja tersesat dikarenakan takdir yang sewenang-wenang. Allah
menyebutkan di tempat lain,
 
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan
hati mereka.” (QS. Ash Shaff 61: 5)
636
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 110
Islamic Online University Tafsir 202
388
Menurut kerangka inilah semua ayat dan pernyataan nabi yang di dalamnya ada
penyebutan, “mereka yang Allah sesatkan” harus dipahami.
Syeikh al-Utsaimin menyebutkan bahwa harus diketahui bahwa di antara hukuman
paling berat yang diakitabkan dari dosa-dosa adalah sakitnya hati. Jika seseorang dihukum
dengan kematian seorang teman tercinta, atau kehilangan kekayaan yang dia cintai, itu
memang merupakan hukuman, tanpa keraguan. Namun, jenis hukuman yang lebih buruk
adalah diasingkannya hati. Seperti yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam bait:
Demi Allah, yang aku takutkan bukanlah dosa karena dosa-dosa itu berada
di atas jalan maaf dan ampunan. Sebaliknya, apa yang aku takutkan adalah
kosongnya hati dari menjadikan wahyu dan Al-Qur'an sebagai hakim.
Inilah yang harus ditakuti oleh orang yang cerdas, seperti halnya ia takut terhadap
musibah-musibah lainnya; bahkan sesungguhnya musibah-musibah itu adalah sebagai
penyucian dan penebusan dosa yang bahkan dapat meningkatkan iman seseorang.
637
“Dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan
mendapat petunjuk selama-lamanya.”
Selama hati mereka ditutupi dan telinga mereka disumbat, mereka tidak akan pernah
menemukan petunjuk. Bagaimana petunjuk bisa datang jika telinga tidak dapat mendengarkan
kebenaran dan hati tidak bisa berserah diri (kepada kebenaran itu)? Apakah ini berarti
mematahkan semangat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam? Tidak. Ini adalah jaminan bagi
beliau bahwa jika mereka tidak menerima kebenaran, beliau tidak perlu mengkhawatirkannya
karena, “mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”
638
Jika dikatakan bahwa mereka tidak dapat mendengar, melihat dan memahami karena
Allah menempatkan tutupan di atas hati mereka yang mencegah mereka dari kemampuan
untuk memahaminya dan Allah juga menempatkan penyumbat telinga yang mencegah mereka
dari mendengar, berarti mereka dipaksa tanpa pilihan untuk berbuat dosa. Lalu bagaimana
mereka bisa dihukum karena sesuatu yang tidak dapat mereka hindari? Jawabannya adalah
637
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 103.
638
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 105.
Islamic Online University Tafsir 202
389
bahwa Allah menjelaskan dalam banyak ayat dari Kitab Suci-Nya yang agung bahwa tutupan-
tutupan yang Dia tempatkan di hati, pendengaran dan penglihatan, seperti meterai, segel,
cadar, dan sumbat, dan seterusnya, Dia menempatkan semua itu sebagai akibat dari pilihan
mereka yakni kekafiran, mengingkari para nabi, maka Allah membuat hati mereka berbelok
sebagai hukuman atas kekafiran mereka.

 
“Yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah
beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati;
karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS. Al Munafiqun 63: 3)
  
 
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya;
dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS.
Al Baqarah 2: 10)
  
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka
usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthaffifin 83: 14)
639
639
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 111-112.
Islamic Online University Tafsir 202
390




58. Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat.
jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan
menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang
tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan
menemukan tempat berlindung dari padanya.
Allah menyebutkan dalam kalimat, “Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun,
lagi mempunyai rahmat,” bahwa Dia selalu mengampuni. Ampunan-Nya begitu luas
sehingga meliputi seluruh dosa semuanya, sebagaimana firman-Nya,
 
  
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap
diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az Zumar
39: 53)
Islamic Online University Tafsir 202
391
Dan Dia Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat
dan kepada semua orang dan segala sesuatu di dunia ini.
  
  
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan
rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat
dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami." (QS. Al A’raf
7: 156)
Bahkan orang-orang yang masuk surga, tidaklah mereka masuk surga kecuali karena
rahmat Allah.
Abu Hurairah dan Aisyah keduanya meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda,
َ
َ
و
َ
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
و ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
َ
ْ
ﳉا
ُ
ُ
َ
َ
ا
ً
َ
َ
أ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
ـﻨ
َ
َ
َ
ـﻳ
َ
َ
و ا
ُ
ِ
رﺎ
َ
َ
و او
ُ
د
َ
َ
ٍ
َ
ْ
َ
ر
َ
و
ٍ
ْ
َ
ِ
ُ
ﻠﻟا
ِ
َ
َ
َ
ـﺘ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ِ
إ
َ
َ
أ
َ
أ
ُ
َ
َ
َ
ـﻓ
ً
ِ
ْ
ُ
ِ
إ
َ
ت
ْ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ْ
ن
َ
أ
ُ
َ
َ
َ
ـﻓ
ً
ﺌﻴ
ِ
ُ
ِ
إ
َ
و ا
ً
ْ
ـﻴ
َ
َ
دا
َ
د
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
ِ
ْ
َ
ـﺘ
ْ
َ
Abu Hurairah berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena
amalannya." Para sahabat bertanya: "Begitu juga dengan engkau wahai
Rasulullah?" beliau bersabda: "tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah
melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku, oleh karena itu berlaku
luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang dari kalian
mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah
Islamic Online University Tafsir 202
392
amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa
menjadikannya dia bertaubat."
640
Akan tetapi di tempat lain Allah menerangkan bahwa ampunan-Nya meliputi segala
dosa kecuali syirik, sebagaimana dalam firman-Nya,
 
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa 4: 48)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya
ialah neraka.” (QS. Al Maidah 5: 72)
Lebih lanjut lagi, Allah menjelaskan di tempat lain bahwa meskipun rahmat dan
ampunan-Nya amatlah luas, Azab-Nya juga sangat pedih.
     
  
640
Shahih al-Bukhari, jilid 8, hlm. 315, no. 474-dan lihat pula hlm. 313 no. 470.
Islamic Online University Tafsir 202
393
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-
lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan bahwa
Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al Hijr
15: 49-50)
641
Kalimat “Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat,”
juga berisi jaminan bagi Rasul (shallallahu 'alaihi wasallam) dari perspektif lain dari
pernyataan sebelumnya "niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-
lamanya.” Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) dapat saja bertanya mengapa azab bagi mereka
yang menolak petunjuk ditunda dan bagaimana orang-orang yang menolaknya tidak dihukum.
Jadi, Allah menjelaskan bahwa Dia memaafkan; Dia menyembunyikan dosa manusia dan
mengampuni mereka. Dia juga berbelas kasih ketika berurusan dengan orang-orang yang
berdosa, itulah sebabnya Dia berfirman:


“Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan
menyegerakan azab bagi mereka.” Allah ‘azza wajalla mengklarifikasi tentang azab ini
pada ayat yang lain dengan firman-Nya,
 
“Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya,
niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu
mahluk yang melatapun.” (QS. Faathir, 35: 45)
642
641
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 115-6.
642
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 105. Lihat juga, Surat An-Nahl 16: 61.
Islamic Online University Tafsir 202
394
Yaitu, karena kekejaman dosa yang dilakukan manusia, azab mereka harus dipercepat
dan itu akan menuntut agar semua kehidupan di bumi dimusnahkan. Namun, karena
kelemahlembutan Allah kepada makhluk-Nya, azab mereka tidak dipercepat. Sebaliknya, Dia
mengabaikan dan menunda hukuman mereka.
643
Dia sabar, Dia menyembunyikan kesalahan
dan mengampuni dosa. Dia membimbing beberapa dari mereka dari kesalahan kepada
petunjuk yang benar dan siapa pun yang terus-menerus berada di atas kejahatan mereka akan
bertemu suatu hari di mana rambut bayi akan berubah menjadi abu-abu dan setiap wanita
yang hamil akan menggugurkan kandungannya. Dia befirman:
644

"Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang
mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya," yang
berarti bahwa walaupun azab mereka tidak dipercepat sekarang, bukanlah artinya Allah tidak
mengetahui tentang dosa-dosa itu dan tidak pula Dia akan membatalkan azab mereka.
Sebaliknya, Allah Yang Mahakuasa telah menetapkan penunjukan untuk azab mereka yang
tidak akan diundur dan tidak pula dimajukan, seperti yang Dia firmankan:
   
 
  
“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya
tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk
yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu
yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan)
643
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 116.
644
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, hlm. 180.
Islamic Online University Tafsir 202
395
bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang
sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.”
Dan ada banyak lagi ayat dalam Al Quran di mana Allah menyebutkan bahwa Dia
tidak akan mengundurkan barang sesaat pun dari waktu yang telah ditentukan dan tidak pula
Dia melakukan sesuatupun sebelum waktunya.
645

"Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang
mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya," juga
berarti bahwa mereka akan mendapatkan hukuman di tangan orang-orang mikmin atau
dengan kebinasaan mereka dalam kehidupan ini, sebagaimana yang Allah sebutkan,
  
 
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka
dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan
mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati
orang-orang yang beriman dan menghilangkan panas hati orang-orang
mukmin.” (QS. At-Taubah 9: 14-15)
Atau apa yang akan mereka hadapi pada hari Kiamat, yang tidak ada tempat untuk
melarikan diri dari padanya.
646
645
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 116.
646
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 105-6.
Islamic Online University Tafsir 202
396
 
59. Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka
berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi
kebinasaan mereka.

“Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim,” mengacu
pada para penduduk kota di masa lalu yang dihancurkan ketika mereka kafir.
647
“Berbuat
zalim” yang disebutkan dalam ayat ini mengacu pada kesyirikan seperti yang terdapat dalam
perkataan Luqman kepada putranya,

  
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar" (QS. Luqman 31: 13)
647
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 106-7.
Islamic Online University Tafsir 202
397
“Dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” Allah melakukan
apa yang Dia kehendaki; jika Dia menghendaki Dia akan menyegerakan azab dan jika Dia
mengendaki Dia akan mengundurkannya. Akan tetapi, jika waktu yang ditentukan telah tiba,
tidak akan ada lagi penundaan. Dalam konteks ini, Nabi Nuh berbicara kepada kaumnya,
 
 
“Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan
menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan.
Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat
ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui." (QS. Nuh 71: 4)
Waktu yang ditentukan itu hanya Allah yang mengetahuinya yang ditetapkan dengan
kebijaksanaan-Nya.
648
Generalisasi dalam ayat ini bersifat relatif terhadap kota-kota tertentu, alasan
kehancurannya, dan jenis-jenis kehancuran yang menimpa mereka, dijelaskan secara rinci
dalam banyak ayat lainnya. Misalnya, kisah Kaum Nabi Nuh, Kaum Nabi Hood, Kaum Nabi
Shalih, Kaum Nabi Syu’aib, Kaum Nabi Musa, dan lainnya.
Kota-kota ini dirujuk karena kepada mereka-lah Al Quran pertama kali diturunkan
yang biasa disampaikan dalam perjalanan mereka, sebagaimana dinyatakan dalam firman
Allah ‘azza wajalla,
    
“Dan Sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan
melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam.
Maka Apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Shaaffaat, 37: 137-8)
649
648
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 107.
649
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 117.
Islamic Online University Tafsir 202
398
Negeri-negeri Barat menjadi terobsesi dengan peradaban masa lalu karena berbagai
alasan. Terutama kebanggaan mereka pada nasab/keturunan dan keinginan untuk
membuktikan secara historis bahwa Peradaban Barat, yang berarti Eropa, selalu unggul.
Sebagai akibatnya, pada masa awal penelitian arkeologis, peradaban Mesir pun
dipresentasikan sebagai bagian dari Eropa. Para arkeolog akhirnya menemukan peradaban
kuno di seluruh penjuru dunia, banyak dari mereka yang berasal dari masa-masa awal Yunani
dan Roma. Mereka menggali dan terus menggali kota-kota kuno yang hancur, satu demi satu.
Artefak yang indah dipamerkan di museum "nasional" yang indah di seluruh dunia. Dalam
beberapa kasus, alasan kehancuran kota itu jelas dan nyata, dan dalam kasus lain mereka
hanya dapat menduga penyebabnya. Banyak dari mereka dihancurkan oleh bencana "alam",
seperti Pompeii. Namun, manusia cenderung berpikir bahwa orang-orang dari bencana itu
tidaklah bersalah bahkan mereka menderita. Ketika orang melihat reruntuhan kuno, mereka
harus merenungkannya dan mengingat bahwa Allah dapat menghancurkan mereka kapan saja
dan di mana saja. Allah adalah pemberi hidup dan mati, dan Dia sangat Keras dalam
memberikan hukuman.
Islamic Online University Tafsir 202
399

60. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak
akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah
lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
Dua puluh tiga ayat selanjutnya berisi cerita tentang Nabi Musa dan gurunya, al-
Khidir, yang umumnya disebut dengan Khidr.
Percakapan antara Nabi Musa dan murid/pelayannya disebutkan dalam ayat ini, “Dan
(ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya,” didahului oleh peristiwa di masa Nabi
Musa yang diserahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk
menjelaskan kepada umatnya
650
, sebagaimana firman-Nya,
    
 
650
Peristiwa ini tidak diceritakan di tempat manapun dalam Injil.
Islamic Online University Tafsir 202
400
“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami
turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan.” (QS. An Nahl 16: 44)
Pada suatu kesempatan, seorang tabi’in bernama Sa‘id ibn Jubair memberi tahu Ibnu
‘Abbaas bahwa Nauf al-Bikali
651
menyatakan bahwa Musa yang disebutkan dalam Al-Qur'an
sebagai sahabat al-Khadir
652
bukan Musa, nabinya Bani Israil, tetapi Musa-Musa yang
lainnya. Ibnu 'Abbaas pertama kali mengkonfirmasi apakah Sa'id benar-benar telah
mendengar pernyataan ini dari Nauf,
653
dan ketika Sa'id menegaskannya, dia bereaksi dengan
marah seraya berkata, "Musuh Allah telah berbohong."
654
Kemudian Ibnu ‘Abbas
meriwayatkan kepadanya apa yang ia dengar dari Ubay ibn Ka‘b yang menukil dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentangnya.
Dalam riwayat lain, Ibn ‘Abbaas berdebat dengan al-Hurr ibn Qays ibn Hisn al-
Fazaari tentang siapa yang ditemani Musa. Ketika mereka berdebat, Ubay bin Ka‘b melewati
mereka sehingga Ibnu Abbaas bertanya kepadanya, “Temanku dan aku sedang berdebat
tentang orang yang ingin ditemui Musa. Engkau telah mendengar apa saja dari Rasulullah
(shallallahu 'alaihi wasallam) tentang dia? " Ubay menjawab, "Ya. aku mendengar Nabi
(shallallahu 'alaihi wasallam) menyebutkan hal berikut tentangnya:
655
651
Nauf adalah cucu Ka’ab al Ahbar. Ia adalah seorang yang berilmu, dan bijaksana. Ia menjadi qadhi/hakim dan
juga Imam bagi penduduk Damaskus. (Syarh Shahih Muslim).
652
Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebab dinamakan
Khidlir adalah karena ia duduk di atas tanah tandus putih lalu ada tanaman (khadhra') bergerak-gerak di
bawahnya -Nama Khidir diambil dari dari Khadhra' tersebut. (Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 406, no. 614).
Dalam Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1518-9, no. 7017, diriwayatkan bahwasanya seorang pemuda yang
mengumumkan bahwa Dajjal adalah dirinya. Dajjal membunuhnya dan menghidupkannya kembali, namun ia
tetap bersikeras bahwa ia adalah Dajjal, dan Dajjal berusaha membunuhnya kembali, namun ia tidak mampu
melakukannya. Perawi dalam Shahih Muslim dari Imam Muslim, Abu Ishaq (Ibrahim bin Sufyan)
meriwayatkan bahwa dikatakan bahwa dialah al-Khidr. Imam an-Nawawi menyatakan dalam syarahnya
tentang hadits ini bahwa ini adalah pernyataan yang jelas terkait dengan kehidupan Khidr selanjutnya, dan
menyatakan hal ini benar.
653
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1267-9, no. 5865.
654
Para ulama menjelaskan bahwa Ibnu Abbas tidak secara harfiah menyatakan bahwa Nauf adalah musuh
Allah, namun menyatakan hal ini sebagai pengingkaran keras bagi mereka yang menyelisihi pernyataan Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam. (Syarh Shahih Muslim).
655
Riwayat berikut ini yang membentuk penjelasan dasar tentang ayat-ayat ini diambil dari berbagai riwayat yang
terdapat dalam kitab himpunan hadits yang paling shahih: Shahih Al Bukhari, vol. 1, pp. 63-4, no. 74; vol. 4, pp.
401-2, no. 612 dan hlm. 402-6, no. 613; vol. 6, pp. 211-214, no. 249, (18:61) pp. 215-219, no. 250, (18: 63) pp. 220-
224, no. 251. Shahih Muslim, vol. 4, pp. 1267-9, no. 5864, pp. 1269-1270, no. 5865, pp. 1270-1, no. 5867.
Islamic Online University Tafsir 202
401
"Suatu ketika Nabi Musa berdiri untuk berkhutbah di hadapan kaum Bani israil.
Setelah itu, seseorang bertanya kepadanya: 'Hai Musa, siapakah orang yang paling banyak
ilmunya?' Nabi Musa menjawab: 'Tidak. Akulah orang yang paling banyak ilmunya.”
656
Oleh
karena itu, Allah sangat mencela Nabi Musa. Karena ia tidak menyadari bahwa ilmu yang
diperolehnya itu adalah pemberian Allah.
657
Lalu Allah mewahyukan kepada Musa:
'Sesungguhnya ada seorang hamba-Ku, Khidir,
658
yang lebih banyak ilmunya darimu
659
dan ia
sekarang berada di pertemuan dua lautan.'
660
Nabi Musa bertanya: 'Ya Rabb, bagaimana
caranya saya dapat bertemu dengannya?' Allah berfirman, 'Bawalah seekor ikan di dalam
keranjang dari daun kurma. Manakala ikan tersebut lompat, maka di situlah hambaKu
berada.'
661
Kemudian Musa pun berangkat ke tempat itu dengan ditemani seorang muridnya yang
bernama Yusya' bin Nun. Nabi Musa sendiri membawa seekor ikan di dalam keranjang yang
terbuat dari daun kurma, dan berkata kepada muridnya, “Aku tidak ingin merepotkanmu
kecuali agar engkau mengatakan kepadaku segera jika engkau kehilangan ikan itu.” Muridnya
itu menjawab, "Engkau tidak membebaniku dengan sesuatu yang berat"
662
Maka Musa
berjalan kaki bersama muridnya, Yusya’ bi Nun (Yoshua)
663
dan berkata kepadanya,
656
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 215-219, no. 250.
657
Seharusnya Nabi Musa berkata, Allahu a’lam. (Allah yang paling Mengetahui)
658
Ia disebutkan dengan nama dalam Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 401, no. 612. Hadits ini dimulai dengan
Ibnu Abbas bahwa ia berbeda pendapat dengan al-Hurr ibn Qais al Fazari tentang sahabat Nabi Musa. Ibnu
Abbas bersikeras bahwa ia adalah al Khidir, dan sementara mereka berdebat, Ubay bin Ka’ab lewat. Maka
Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata, “Aku dan temanku ini berbeda pendapat tentang sahabat Nabi Musa
yang ia tanyakan bagaimana cara untuk menemuinya. Bukankah engkau telah mendengar dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam yang menyebutkan sesuatu tentangnya? Kemudian Ubay meriwayatkan kisah
tersebut.
659
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 211, no. 249.
660
Lokasi geografis yang paling memungkinkan adalah di mana kedua cabang aliran Laut Merah bergabung,
yaitu Teluk Aqabah dan Teluk Suez. Mereka termasuk dalam Semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa dan Bani
Israel menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pengembaraan mereka. Juga telah dikemukakan (Shahih
Muslim, vol. 4, hal. 1268, ft. 2672) bahwa lokasi yang paling memungkinkan adalah di mana dua cabang
sungai Nil bertemu di Khartoum. Syaikh Al Utsaimin menyebutkan bahwa sebagian orang juga mengatakan itu
adalah tempat di mana Laut Mediterania bertemu dengan Laut Merah (Tafsir al-Qur'aan al-Karim, hal. 108).
Asy-Syanqithi menyebutkan bahwa menentukan pertemuan kedua laut tersebut berada di bawah kategori
penafsiran yang tidak memiliki dalil dari Al-Qur'an atau Sunnah, tidak pula ada manfaatnya untuk
mengetahuinya. Oleh karena itu penelitian dalam bidang ini termasuk perkara yang merepotkan dan tidak ada
titik temunya. (Adhwaul bayan, jilid 4, hlm. 121)
661
Shahih Al Bukhari, jilid 6, hlm. 216, no. 250.
662
Shahih Al Bukhari, jilid 6, hlm. 216, no. 250.
663
Shahih Al Bukhari, jilid 6, hlm. 211, no. 249.
Islamic Online University Tafsir 202
402
"Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan;
atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.”
Faidah-Faidah
1. Al-Qurtubi menyebutkan bahwa dalam kisah ini terdapat tauladan tentang hikmah
ulama melakukan perjalanan dalam rangka untuk menambah ilmu pengetahuan. Ini
juga mencakup prinsip mengambil bantuan dari seorang pelayan atau teman adalah
pelajaran seperti itu bukannya pergi sendiri. Ayat ini juga menunjukkan pentingnya
dari mengambil manfaat dari kesempatan untuk bertemu dengan jiwa mulia dan ulama
terkemuka bahkan jika tempat tinggalnya jauh. Ini menjadi praktik umum di kalangan
ulama generasi salafush shalih. Imam Bukhari menyebutkan bahwa sahabat Jabir ibn
‘Abdillaah melakukan perjalanan yang lamanya sebulan perjalanan untuk
mendapatkan satu hadits dari seorang sahabat lain, yaitu, ‘Abdullaah ibn Unais.
2. Allah menyebut pelayan Nabi Musa sebagai “pemudanya,” berisi contoh adab yang
baik dalam memperlakukan seorang pelayan/budak yang selanjutnya ditegaskan oleh
syariat dalam pernyataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh
Aboo Hurairah
664
)) ي
ِ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻴ
ْ
َ
و
َ
َ
ر
ِ
ْ
ﺳا
َ
َ
ر
ْ
ﺿ
َ
و
َ
َ
ر
ْ
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ْ
ُ
َ
ـﻳ
َ
ِ
َ
ُ
َ
و
ِ
ﰐﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
و
َ
يﺎ
َ
َ
ـﻓ
ْ
ُ
َ
ـﻴ
ْ
َ
و
ِ
َ
َ
أ ي
ِ
ْ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ْ
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
و
َ
ي
َ
ْ
َ
((
"Janganlah seorang dari kalian memerintahkan (budaknya) dengan
kalimat: Hidangkanlah makanan untuk rabb kamu, wudhukanlah rabbmu,
sajikanlah minuman untuk rabbmu tapi hendaklah dia berkata dengan
kalimat sayyidku, maulaku (pemeliharaku). Dan janganlah seorang dari
kalian mengatakan 'abdiy (budak laki-laki ku), atau amatiy (budak
664
Shahih Al Bukhari, jilid 3, hlm. 436, no. 729
Islamic Online University Tafsir 202
403
perempuan ku) tapi katakanlah: fataya (pemudaku), fatati (pemudiku) dan
ghulami (ghulamku)."
665
Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda,
))
َ
َ
َ
ـﺘ
ْ
َ
أ
َ
و
َ
َ
ـﺒﻳ
ِ
د
ْ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ـﺑ
د
َ
َ
ٌ
َ
ِ
رﺎ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ﻧﺎ
َ
ٍ
ُ
َ
ر
َ
َ
أ
ُ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ﻟا
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
ى
د
َ
أ
ٍ
ْ
َ
َ
َ
أ
َ
و
ِ
نا
َ
ْ
َ
أ
ُ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
و
َ
َ
ـﺗ
َ
و
ِ
نا
َ
ْ
َ
أ((
"Siapa saja dari seseorang yang memiliki seorang budak wanita lalu
dididiknya dengan sebaik-baik pendidikan, kemudian dibebaskannya lalu
dinikahinya maka baginya mendapat dua pahala, dan siapa saja dari
seorang hamba yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya maka baginya
mendapat dua pahala."
666
665
Al Jami’ li ahkamil qur’an, jilid 11, hlm. 11
666
Shahih Al Bukhari, jilid 3, hlm. 435, no. 723
Islamic Online University Tafsir 202
404

61. Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu,
mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil
jalannya ke laut itu.
Allah ‘azza wajalla melanjutkan dengan mengatakan: " Maka tatkala mereka sampai ke
Pertemuan dua buah laut itu," dan Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) melanjutkan untuk
menjelaskan: "Ketika mereka mencapai sebuah batu besar di samping laut, mereka melihat
sekeliling tetapi tidak menemukan siapa pun. Maka Musa pergi dan meninggalkan
pelayannya di sana.
667
Dan di dasar batu tersebut terdapat sumber mata air yang dinamakan
Al Hayat (Mata Air Kehidupan), dimana tidaklah sesuatu pun menyentuh airnya melainkan
akan menjadi hidup.
668
Nabi Musa kembali dan tidur di atas batu karang sementara
pelayannya berdiri berjaga di tempat teduh di dasar batu tempat tanah itu basah. Jadi, ketika
pelayan meletakkan keranjang dengan ikan, angin meniupkan air dari mata air ke ikan yang
mati. Kemudian sebagian air dari mata air itu pun jatuh mengenai ikan tersebut. Maka ikan
itu bergerak dan melompat keluar dari keranjang, lalu masuk ke dalam air laut.
667
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1269, no. 5865.
668
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 221, no. 251.
Islamic Online University Tafsir 202
405
Allah berfirman bahwa mereka berdua lupa akan ikan tersebut, "Mereka lalai akan
ikannya," meskipun hanya pelayannya yang benar-benar lupa. Susunan kalimat ini adalah
karena kedekatan subjek (suhbah) dengan subjek lain itu juga disebut ‘generalisasi kelompok
sementara memaksudkan hanya bagian.'
669
Ini adalah susunan tata bahasa yang cukup umum
ditemukan di sejumlah tempat di Al-Qur'an, seperti dalam ayat:
 
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. Ar-Rahman 55: 22).
Meskipun diketahui bahwa mutiara dan marjan hanyalah keluar dari laut asin dan
bukan dari laut air tawar.
Begitu juga halnya dalam ayat di mana Allah berfirman,
  
“Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum datang kepadamu
Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri” (QS. Al An’am 6: 130)
Meskipun diketahui bahwa hanya rasul-rasul dari golongan manusia yang diutus dan
bukan dari golongan jin.
670
Ikan yang melompat melarikan diri itu digambarkan dalam Al Quran, “Lalu ikan itu
melompat mengambil jalannya ke laut itu.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan
669
Al Qurthubi menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa nisyan (lupa) bermakna ta’khir (meninggalkan,
mengakhirkan, penundaan) sebagaimana halnya dalam doa ansa Allaahu fi ajalika (Semoga Allah
mengakhirkan ajalmu). Ketika mereka meninggalkan batu besar tersebut mereka berdua meninggalkan ikan
mereka, tidak ada seorang pun dari mereka yang membawanya. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 11, hlm. 12)
670
al-Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 11, hlm. 12
Islamic Online University Tafsir 202
406
bahwa ikan itu bergerak dan melompat keluar dari keranjang, lalu masuk ke dalam air laut.
Tatkala ikan itu mencapai air, ia berenang dalam terowongan air yang Allah menjadikannya
terpisah seperti lengkungan di sekeliling ikan.
671
[Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
melengkungkan tangan beliau menyerupai bentuk lengkungan]
672
Pemuda yang bersamanya
melihat dengan takjub dan berkata kepada dirinya sendiri: Aku tidak akan
membangunkannya.
673
Aku harus segera menemui Rasul Allah dan menceritakan kepadanya
[ketika ia sudah bangun].
674
Lalu ia merebahkan diri di atas batu dan tertidur serta lupa
memberitahu Nabi Musa ketika mereka sudah terbangun.
671
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 221, no. 251 dan hlm. 216, no. 216.
672
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 403, no. 613.
673
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 216, no. 250.
674
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1269, no. 5865.
Islamic Online University Tafsir 202
407



62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada
muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah
merasa letih karena perjalanan kita ini."
Allah berfirman, “Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh,” dan Nabi shallallahu
'alaihi wasallam lanjut menjelaskan, Maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari
perjalannannya.”
675


“Berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita;
Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menjelaskan, “Pada pagi harinya, Nabi Musa berkata kepada muridnya: 'Bawalah
makanan kita kemari! Sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan kita ini.'”
676
Perjalanan yang dimaksud Nabi Musa adalah jarak yang mereka tempuh setelah mereka
berhenti untuk istirahat di batu besar. Allah menjadikan mereka merasa lelah segera setelah
itu, sehingga mereka tidak akan pergi terlalu jauh melewati tempat seharusnya mereka
bertemu dengan guru mereka.
677
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga diriwayatkan telah
bersabda, “Tidaklah Musa merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang
dituju sebagaimana diperintahkan Allah Ta'ala.”
678
675
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 403, no. 613.
676
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 403, no. 613.
677
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 110.
678
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 403, no. 613.
Islamic Online University Tafsir 202
408
Tentang perkataan Nabi Musa, “Bawalah kemari makanan kita,” umumnya
dipahami bahwa makanan yang dimaksud Nabi Musa adalah ikan tersebut. Akan tetapi para
ulama menjelaskan bahwa ikan itu adalah petunjuk untuk menemukan lokasi al-Khidhir
sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits-hadits, misalnya dalam satu riwayat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menukil Allah berfirman kepada Nabi Musa, "Ambillah seekor
ikan dan tempatkan dalam suatu keranjang dan kapan saja kamu kehilangan ikan tersebut
itulah tanda petunjuknya."
679
Karena itulah para ulama mengambil kesimpulan bahwa bekal
makanan mereka adalah sesuatu selain ikan tersebut.
680
Al-Qurthubi mengidentifikasi suatu masalah yang dapat disimpulkan dari ayat ini:
membawa perbekalan saat melakukan perjalanan. Disebutkan di sini membantah kaum
mistikus yang jahil (Sufi) di mana memulai perjalanan besar tanpa membawa perbekalan,
dengan mengatakan bahwa itu adalah tawakkal yang sejati kepada Allah. Namun, di sini
Musa, Nabi Allah, yang diajak bicara langsung oleh Allah di antara manusia penduduk bumi,
membawa perbekalan terlepas dari pengetahuannya tentang Allah dan keimanannya kepada-
Nya.
Sebagian orang dari Yaman biasa melakukan ibadah haji tanpa membawa bekal
bersama mereka dengan mengatakan, “Kami percaya sepenuhnya pada Allah.” Dan ketika
mereka sampai mereka akan mengemis kepada manusia, maka Allah menurunkan ayat,



(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, Barangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji,
Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di
dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa
679
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 403, no. 613.
680
al-Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 11, hlm. 13.
Islamic Online University Tafsir 202
409
kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah!” (QS. Al
Baqarah 2: 197)
681

Firman Allah, “Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini,"
juga mengandung dalil bahwa memberitahu orang lain tentang kesulitan atau penyakitnya itu
diperbolehkan dan itu tidak bertentangan dengan ridha (menerima takdir) selama itu tidak
diungkapkan karena marah atau kecewa.
682
681
Ibid.
682
Shahih al-Bukhari (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 11, hlm. 13)
Islamic Online University Tafsir 202
410
 
 
63. Muridnya menjawab: "Tahukah engkau tatkala kita mencari
tempat berlindung di batu tadi, maka Sesungguhnya aku lupa
(menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku
untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil
jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."

“Muridnya menjawab: "Tahukah engkau tatkala kita mencari tempat berlindung di
batu tadi, maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu.” Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan ceritanya dengan mengatakan, “Maka muridnya,
Yusya’ bin Nun, berkata kepadanya, "Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di
batu tadi? Sesungguhnya aku lupa menceritakan ikan itu.”
683
Muridnya itu melihat
bagaimana ikan itu melompat ke laut dan ia sungguh-sungguh takjub bahwa ikan yang sudah
mati itu sekarang berenang ke laut dan meninggalkan jejak yang ajaib di laut yang ia lewati.
Muridnya itu memutuskan untuk tidak membangunkan Nabi Musa, dan sebaliknya ia ikut
tidur dengan niat untuk menceritakan kepada Nabi Musa ketika ia bangun. Akan tetapi ketika
ia bangun, ia lupa untuk menyebutkan kejadian itu kepada Nabi Musa dan tidak mengingat
tentang hal itu hingga Nabi Musa berkata kepadanya untuk membawa makanan pada hari
berikutnya.
683
Ibid
Islamic Online University Tafsir 202
411
  
Muridnya itu melanjutkan seraya berkata, “dan tidak adalah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara
yang aneh sekali." Dia menyandarkan lupa yang ia alami kepada syaitan karena lupa
merupakan salah satu alat utama yang digunakan syaitan untuk menyesatkan manusia.
Jalan hidup yang dikenal dengan nama Islam merupakan sistem yang dirancang untuk
menjaga agar orang-orang mukmin bisa senantiasa mengingat Allah sebanyak-banyaknya.
Sedemikian rupa, sehingga meskipun bersikap sederhana dalam semua bidang kehidupan,
baik material maupun spritual merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan dalam hukum
Allah, ada pengecualian terkait dengan mengingat Allah (dzikrullah). Sebenarnya tidak
mungkin untuk mengingat Allah terlalu banyak. Sebagai akibatnya, dalam wahyu terakhir,
surat Al Ahzab, Allah mendorong orang-orang beriman agar senantiasa mengingat Allah
sesering mungkin seraya berfirman,


“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut
nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al Ahzab 33: 41)
Mengingat Allah ditekankan karena dosa umumnya diperbuat ketika Allah dilupakan.
Kekuatan syaitan bekerja paling efektif ketika kesadaran akan Allah hilang. Sebagai
akibatnya, kekuatan syaitan selalu berusaha untuk menempati pikiran manusia dengan
berbagai hasrat dan pemikiran yang tidak relevan yang menjadikan manusia melupakan Allah.
Ketika Allah dilupakan, manusia akan dengan senang hati bergabung dengan golongan
mereka. Wahyu terakhir, menyebutkan fenomena ini sebagai berikut:
Islamic Online University Tafsir 202
412





“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa
mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa
Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.” (QS. Al-
Mujaadilah 58: 19)
Allah melalui hukum syari’atnya telah mengharamkan judi dan barang-barang yang
memabukkan terutama karena keduanya menyebabkan manusia lalai dari mengingat Allah.
Tubuh manusia bisa dengan mudah kecanduan dengan obat-obatan dan pikiran manusia juga
kecanduan dengan permainan kesempatan (judi). Begitu kecanduan, hasrat untuk selalu
dirangsang oleh kedua hal itu menuntun manusia kepada segala bentuk kerusakan dan
kekerasan di antara mereka sendiri. Allah berfirman,






“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum)
khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah
dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan
pekerjaan itu).” (QS. Al-Maaidah 5: 91)
Oleh karena itu, manusia perlu mengingat Allah demi keselamatan dan kebaikan
mereka sendiri. Semua manusia memiliki saat ketika iman melemah di mana mereka
melakukan dosa. Jika mereka tidak mencari cara untuk mengingat Allah, mereka akan
Islamic Online University Tafsir 202
413
tenggelam semakin dalam ke dalam kerusakan dengan setiap dosa. Namun, mereka yang
mengikuti hukum-hukum Allah akan terus-menerus diingatkan akan Allah, yang akan
memberi mereka kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Wahyu terakhir secara
akurat menjelaskan proses ini,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji
atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon
ampun terhadap dosa-dosa mereka” (QS. Ali Imran 3: 135)
Islamic Online University Tafsir 202
414









64 – 65. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari." Lalu keduanya
kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu
dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami
ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
 
“Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari." Lalu keduanya kembali, mengikuti
jejak mereka semula." Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) melanjutkan seraya menjelaskan
bahwa setelah pelayannya itu memberi tahu Nabi Musa tentang apa yang terjadi pada ikan,
“Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari." Jadi, keduanya menelusuri jejak mereka
sampai mereka menemukan jalur ikan di laut yang tampak seperti terowongan dan mereka
kembali ke batu besar di tepi laut.
684




Allah subhanahu wata’ala kemudian berfirman, “Lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami,” dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan,
“Ketika mereka kembali [menuju batu besar di tepi laut] mereka menemukan Khidhir di atas
684
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 222, no. 251.
Islamic Online University Tafsir 202
415
permadani hijau di tengah-tengah laut.
685
Khidhir berselimutkan baju yang salah satu ujung
bajunya di letakkan di bawah kedua kakinya dan ujung yang lain di bawah kepalanya.
686
Maka Musa mengucapkan salam kepadanya [seraya berkata, Assalamu’alaikum]
687
dan Khidhir menyingkap wajahnya dan menjawab [wa’alaikum salam]
688
dengan heran:
"Apakah di bumiku keselamatan? Siapa anda?" Musa menjawab: "Saya Musa". Khidhir
bertanya: "Musa bani Isra'il?" Nabi Musa menjawab: "Ya."
689



Allah menggambarkan Khidhir sebagai “Seorang yang telah Kami berikan
kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari
sisi Kami.”
Ilmu dari sisi Allah mengacu pada ilmu tentang perkara-perkara ghaib, bentuk ilmu
yang khusus yang tidak dapat diperoleh manusia dengan diri mereka sendiri.
690
Sifat rahmat Allah dan ilmu yang diberikan oleh Allah ini tidak dijelaskan. Apakah
merujuk pada rahmat kenabian dan ilmunya atau ke rahmat wilaayah (kewalian) dan
pengetahuannya tidaklah jelas. Akibatnya, para ulama berbeda pendapat mengenai apakah al-
Khidhir adalah seorang rasul, seorang nabi atau seorang wali. Sebagian ulama bahkan
mengatakan bahwa dia adalah malaikat. Namun, dapat dipahami dari beberapa ayat bahwa
rahmat yang disebutkan adalah rahmat kenabian dan pengetahuan ilahi adalah wahyu.
Pertama, istilah "rahmat" berulang kali digunakan dalam Al-Qur'an untuk merujuk
pada kenabian dan pengetahuan yang diberikan yang digunakan untuk wahyu. Sebuah contoh
rahmat dapat ditemukan dalam pernyataan Allah ‘azza wajalla,
685
Perawi Utsman bin Abi Sulaiman meriwayatkan lafadz tambahan ini dalam Shahih al Bukhari, Jilid 6, hlm.
217, no. 250.
686
Shahih al Bukhari, Jilid 6, hlm. 217, no. 250.
687
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1269, no. 5865.
688
ibid
689
Shahih al Bukhari, Jilid 6, hlm. 217, no. 250 dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268, no. 5864.
690
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 112.
Islamic Online University Tafsir 202
416






“Dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan
kepada seorang besar dari salah satu dua negeri
691
(Mekah dan Thaif)
ini?" Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?” (QS.
Az-Zukhruf 43: 31-2)
Yakni, akankah mereka yakin di mana kenabian harus diberikan dan kepada siapa Al
Quran harus diwahyukan di antara kota Makkah dan Thaif?
Satu contoh bahwa yang dimaksud rahmat adalah ilmu dapat ditemukan dalam firman
Allah berikut ini,


“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan Hikmah
kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu
ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An Nisa
4: 113)
Di antara bukti yang paling jelas bahwa rahmat Allah dan ilmu/hikmah-Nya diberikan
kepada Khidhir adalah dari jalan kenabian dan wahyu dapat ditemukan dalam pernyataannya
yang disebutkan Allah dalam firman-Nya,
691
Makkah dan Thaif
Islamic Online University Tafsir 202
417
“Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri."
(QS. Al-Anbiya 21: 45)
Yaitu, "Aku melakukannya berdasarkan perintah Allah," dan perintah Allah hanya
diberikan melalui wahyu, karena tidak ada cara lain untuk mengetahui perintah dan larangan
Allah kecuali dengan wahyu dari Allah, subhanahu wata’ala. Terutama membunuh jiwa yang
tampaknya tidak bersalah dan menghancurkan perahu orang lain, karena penindasan terhadap
nyawa dan harta benda orang tidak diperbolehkan kecuali melalui wahyu. Allah ‘azza wajalla
membatasi peringatan hanya melalui pada wahyu dengan firman-Nya:
“Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi
peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu"” (QS. Al-Anbiya 21:
45)
Pendapat bahwa ia melakukannya karena diperintahkan oleh Ilham (firasat/inspirasi)
tidak dapat diterima karena prinsip yang mendasar bahwa firasat kewalian tidak dapat
digunakan sebagai dalil untuk apapun karena itu bisa saja salah dan karena tidak ada dalil
untuk mendukung digunakannya. Sebaliknya ada dalil yang tidak membolehkannya untuk
digunakan sebagai hujjah.
Adapun klaim beberapa orang dari kalangan Sufi bahwa diperbolehkan bagi seseorang
yang mendapatkan ilham untuk bertindak atas ilhamnya tetapi tidak untuk orang lain, atau
klaim beberapa fatalis (jabriyyah) bahwa mungkin untuk ditindaklanjuti baik oleh dirinya
sendiri maupun orang lain, maka ini berarti mengangkat ilham sampai ke derajat wahyu.
Mereka menggunakan makna zhahir ayat berikut,

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya
petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)
Islam.” (QS. Al An’am 6: 125)
Islamic Online University Tafsir 202
418
Serta hadits,
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
أ
َ
َ
ـﻗ
ُ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ر
ُ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ِ
َ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
َ
َ
ﺳا
َ
ِ
ا
ُ
ـﺗا
ٍ
تﺎ
َ
َ
َ
ِ
َ
ذ
ِ
ن
ِ
إ }
{
َ
ِ
َ
َ
ـﺘ
ُ
ْ
ِ
Dari Abu Sa'id Al Khudri berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam
bersabda: "Takutlah pada firasat orang mu`min karena sesungguhnya ia
melihat dengan cahaya Allah." Lalu beliau membaca: "Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda."
692
,
693
(Al
Hijr: 75)
Dalil/hujjah semacam ini batil dan tidak didukung oleh bukti-bukti penafsirannya.
Tidak boleh diletakkan kepercayaan kepada firasat atau pemikiran seseorang yang tidak
maksum (terjaga dari dosa) karena bisa jadi itu merupakan hasil dari bisikan syaitan. Petunjuk
itu dijamin dengan mengikuti syari’at, di mana ini bukan merupakan hasil perenungan atau
ilham.
Barang siapa yang mengklaim bahwa ia tidak memerlukan para rasul untuk sampai
pada apa yang diridhai oleh Rabb-nya, tidak pula melalui apa yang mereka bahwa, tidak
diragukan sedikit pun bahwa ia adalah seorang yang kafir. Ayat-ayat dan hadits-hadits yang
menyatakan hal ini tidak terhitung banyaknya. Allah ‘azza wajalla berfirman,


“Dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang
rasul.” (QS. Al Israa 17: 15)
692
Surat Al-Hijr 15: 75
693
Sunan at-Tirmidzi, kitab: Tafsir, Bab: Surat Al-Hijr.
Islamic Online University Tafsir 202
419
Allah tidak mengatakan, “hingga Kami meletakkan ilham di hati”
Dengan itu, orang-orang kafir dari kalangan kaum jahil yang menyebut diri mereka
sufi menjadi jelas. Dakwaan mereka bahwa guru-guru mereka memiliki jalan dalam (tariqah)
yang sesuai dengan kebenaran ilahi yang langsung dari Allah bahkan jika dilihat dari luar
bertentangan dengan makna yang nampak (zhahir) dari syari’at, sama seperti bagaimana
Khidhir melakukan hal-hal yang bertentangan dengan makna zhahir ilmu dengan Nabi Musa,
juga merupakan kekafiran dan menjadi suatu sarana ketergelinciran dari agama Islam
berdasarkan klaim bahwa kebenaran itu terletak pada persoalan isoteris yang berlawanan
dengan amalan-amalan lahiriah.
694
694
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 121-3.
Islamic Online University Tafsir 202
420
  

  

66 70. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu
supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-
ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" 67 Dia menjawab:
"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama
aku. 68 Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu
belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 69
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang
yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu
urusanpun." 70 Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah
kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku
sendiri menerangkannya kepadamu."
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa setelah Nabi Musa
membenarkan bahwa ia adalah Musa-nya Bani Israil Khidhir bertanya lagi: "Apa
keperluanmu?" Musa menjawab: "Aku mendatangimu agar engkau mengajarkan kepadaku
ilmu-ilmu yang diajarkan kepadamu." Khidhir berkata: "Apakah tidak cukup dengan Taurat di
Islamic Online University Tafsir 202
421
tanganmu?
695
Dan wahyu pun turun kepadamu wahai Musa. Sesungguhnya aku memiliki ilmu
yang tidak layak bagimu untuk mengetahuinya, dan kamu pun memiliki ilmu yang tidak layak
bagiku untuk mengetahuinya."
696


“Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?"
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan, “Nabi Musa lalu memintanya, “Maka
perkenankan aku mengikutimu sehingga engkau dapat mengajarkan kepadaku sebagian dari
petunjuk dari apa yang telah diajarkan kepadamu.”
697
Permintaan Nabi Musa ini sangatlah
rendah hati. Akhlak Nabi Musa layak untuk dijadikan bahan renungan. Karena, meskipun dia
lebih mulia daripada Khidhir dan dia juga termasuk di antara nabi-nabi Allah yang istimewa,
ia tetap bersikap rendah hati di hadapan Khidhir karena ia ingin mendapatkan ilmu yang ia
tidak ketahui. Hal ini mengandung dalil bahwa seseorang yang menuntut ilmu harus rendah
hati, bersikap hormat dan baik kepada gurunya.
Nabi Musa menjelaskan bahwa ia tidaklah bermaksud untuk mengikutinya agar ia bisa
berbagi dengan makanan atau minumannya, namun untuk belajar petunjuk darinya. Tidak
diragukan lagi, Khidhir pastinya senang dengan seseorang yang ingin mendapatkan ilmu
darinya, karena ilmu yang diperoleh dari seseorang selama masa hidupnya akan bermanfaat
baginya setelah kematiannya,
698
sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah,
695
Shahih al Bukhari, Jilid 6, hlm. 217, no. 250
696
Shahih al Bukhari, Jilid 6, hlm. 222, no. 251, jilid 4, hlm. 403, dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268. No.
5864. Dalam riwayat lain (no. 250) Khidir mengatakan sampai kalimat ini, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu
yang tidak layak bagimu untuk mengetahuinya, dan kamu pun memiliki ilmu yang tidak layak bagiku untuk
mengetahuinya."
697
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268, no. 5864.
698
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 113
Islamic Online University Tafsir 202
422
))
ٍ
َ
َ
َ
ْ
ِ
ِ
إ
ٍ
َ
َ
َ
ْ
ِ
ِ
إ
ُ
ُ
َ
َ
ُ
ْ
َ
َ
َ
َ
ْ
ـﻧا
ُ
نﺎ
َ
ْ
ِ
ْ
ﻹا
َ
تﺎ
َ
ﻣ ا
َ
ذ
ِ
إ
ٍ
َ
ِ
رﺎ
َ
ُ
َ
ﻟ ﻮ
ُ
ْ
َ
ٍ
ِ
ﻟﺎ
َ
ٍ
َ
َ
و
ْ
و
َ
أ
ِ
ِ
ُ
َ
َ
ـﺘ
ْ
ُ
ـﻳ
ٍ
ْ
ِ
ْ
و
َ
أ((
"Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala
amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at
baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya."
699
Ayat ini merupakan dalil bahwa seorang penuntut ilmu harus mengikuti gurunya
bahkan jika ia sama derajatnya atau lebih utama darinya dalam beberapa atau sebagian besar
sisi.
700
Faidah-Faidah
(1) Ayat ini mengandung pelajaran bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang
membawa kepada kebaikan. Setiap jenis ilmu yang mengandung petunjuk kepada
ketakwaan dan peringatan dari jalan kemungkaran atau yang membawa padanya
berupa ilmu yang bermanfaat. Semua ilmu selain ini bisa jadi merusak atau sia-sia.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam biasa berdoa memohon dijauhkan dari
ilmu yang tidak bermanfaat dengan bersabda,
ْ
ِ
َ
و
ُ
َ
ْ
َ
َ
ٍ
ْ
َ
ـﻗ
ْ
ِ
َ
و
ُ
َ
ْ
ـﻨ
َ
ـﻳ
َ
ٍ
ْ
ِ
ْ
ِ
َ
ِ
ُ
ذ
ُ
َ
أ
ِ
إ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
ُ
بﺎ
َ
َ
ْ
ُ
َ
ٍ
ة
َ
ْ
َ
د
ْ
ِ
َ
و
ُ
َ
ْ
َ
َ
ٍ
ْ
َ
ـﻧ
ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ILMIN LAA YANFA'U
WAMIN QOLBIN LAA YAKHSYA'U WAMIN NAFSIN LAA TASYBA'U
WAMIN DA'WATIN LAA YUSTAJAABA LAHU' sesungguhnya aku
699
Shahih Muslim, jilid 3, hlm. 867, no. 4005 dan Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm. 812, no. 2874
700
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 413.
Islamic Online University Tafsir 202
423
berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak
khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.'"
701

“Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar
bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam melanjutkan kisah ini dengan menjelaskan, “Khidhir menjawab:
'Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup dan sabar bersamaku. Bagaimana
kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang hal itu? Kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar ketika melihat aku
melakukan hal-hal yang diperintahkan padaku untuk dikerjakan.”
702
Bagaimana ia bisa
bersabar dengan apa-apa yang nyata-nyata tampak sebagai kerusakan tanpa
mengetahui faktor-faktor tersembunyi di baliknya. Meskipun Nabi Musa memiliki
syari’at, ia tidak dapat diam saja atau menyatakan persetujuannya ketika menghadapi
kemungkaran yang jelas nampak.
Dalam riwayat ini, Khidhir memberitahukan kepada Nabi Musa sebelumnya bahwa
ada hal-hal yang telah diperintahkan kepadanya untuk ia lakukan, namun Nabi Musa
tidak akan mampu untuk memahaminya.
(2) Faktor utama untuk mencapai kesabaran bagi seseorang adalah dengan memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang menyeluruh tentang persoalan di mana kesabaran
dibutuhkan di dalamnya. Jika tidak, seseorang yang tidak mengetahui sesuatu atau
tujuannya atau hasilnya serta manfaatnya tidak akan memiliki alasan untuk
membuatnya bersabar.
703
701
Shahih Muslim, Kitab: Dzikir dan doa, Bab: Memohon perlindungan dari kebulukan amal
702
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1270, no. 5865.
703
Taisir al-Karimirrahman, hlm. 666
Islamic Online University Tafsir 202
424

Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang
sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun." Nabi Musa
mengatakan demikian berdasarkan apa yang ia yakini tentang dirinya sendiri dan
kemampuannya untuk bersabar pada saat itu. Akan tetapi ia menjadikan
pernyataannya itu sebagai keadaan yang bersyarat dengan kehendak Allah, agar di
dalamnya tidak terkandung kesombongan akan diri sendiri dan keangkuhan.
704
“Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan
kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya
kepadamu."”
Pernyataan Khidhir, “sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu,”
mengandung petunjuk bagi seorang guru kepada muridnya agar tidak berlaku tidak
sabar dan agar jangan tergesa-gesa untuk menyangkal gurunya. Bahkan sebaliknya, ia
harus menunggu sampai persoalannya jelas sepenuhnya.
705
(3) Perintah Khidhir menandakan bahwa siapa saja yang tidak memiliki keteguhan hati
yang diperlukan untuk dengan sabar menemani seorang ulama dalam perjalanannya
menuntut ilmu, maka ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk mendapatkan
pengetahuan tambahan. Semakin ia tidak bersabar semakin banyak yang luput
darinya.
706
704
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 114
705
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 114
706
Taisir al-Karimirrahman, hlm. 666
Islamic Online University Tafsir 202
425





71 – 73. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki
perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu
melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan
penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu
kesalahan yang besar. 72 Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah
berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama
dengan aku." 73 Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku
karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan
sesuatu kesulitan dalam urusanku."

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr
melobanginya,” Nabi melanjutkan seraya menjelaskan, “Setelah itu keduanya
707
berjalan di
707
Yang dimaksud di sini adalah Nabi Musa dan Khidir. Tidak disebutkan tentang pelayan Nabi Musa mulai dari
sini meskipun ia sebenarnya juga hadir. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini karena fokus kisahnya telah
beralih pada tokoh-tokoh utamanya, yakni Nabi Musa dan Khidir, dan pelayannya sekarang hanya tokoh
pendukung yang tidak memiliki kepentingan tertentu. (Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 115)
Islamic Online University Tafsir 202
426
sepanjang pantai
708
hingga mereka menemukan perahu kecil yang membawa orang-orang dari
satu pantai ke pantai yang lain.
709
[Ketika perahu itu melintas, mereka meminta awak kapal
untuk mengizinkan mereka naik perahu.]
710
Ternyata mereka orang-orang di perahu mengenal
Khidhir [dan salah satu dari mereka berkata], “Dia adalah hamba Allah yang shalih, mari kita
membawa mereka tanpa meminta upah.”
711
Ketika mereka berada di atas perahu, [seekor
burung kecil hinggap di sisi perahu kemudian mencelupkan paruhnya ke air laut.] Maka
Khidlir berkata kepada Musa: 'Tidaklah ilmu kamu dan ilmu saya serta ilmu seluruh makhluq
dibandingkan ilmu Allah melainkan hanya seperti air yang didapatkan burung ini dengan
paruhnya'.]
712
“Lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu
akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat
sesuatu kesalahan yang besar.”
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan, Kemudian Musa terkejut dengan apa
yang dilakukan Khidlir ketika dia mengambil kapak. Khidhir mencabut salah satu papan di
bagian perahu itu dengan kampak
713
[lalu melubangi perahu yang ditumpanginya dengan
sepotong kayu.]
714
Maka Musa berkata kepadanya: 'Mereka ini adalah orang-orang yang
mengangkut kita tanpa meminta upah, tetapi mengapa kamu malah melubangi perahu mereka
{untuk kamu tenggelamkan penumpangnya? Sungguh kamu telah berbuat sesuatu yang
besar.”
715
Meskipun Khidhir telah memperingatkan Nabi Musa bahwa ia akan melakukan
perbuatan tertentu berdasarkan perintah dari Allah yang mana Nabi Musa akan sulit untuk
menerimanya, Nabi Musa tidak bisa menerima perbuatan yang jelas-jelas berbahaya ini
708
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 213, no. 249.
709
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 217, no. 250.
710
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 404, no. 613 dan jilid 6, hlm. 213, no. 249.
711
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 217, no. 250 dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268, no. 5864.
712
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 222, no. 251. Dalam riwayat lain, Khidir diriwayatkan berkata sampai pada
perkataan ini, “Wahai Musa! Ilmuk dan ilmumu tidak mengurangi sedikitpun dari ilmu Allah melainkan seperti
burung ini mengurangi air laut dengan paruhnya.” (Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 404, no. 613.
713
Suatu alat yang menyerupai kapak, dengan ujung pisau yang melengkung
714
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 217-8, no. 250
715
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 213, no. 249 dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268, no. 5864.
Islamic Online University Tafsir 202
427
sebagai salah satu perbuatan di antara perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Allah untuk
dilakukan oleh Khidhir. Sebagai akibatnya, Nabi Musa bereaksi keras terhadaap kejahatan
sebagaimana hamba-hamba Allah yang shalih akan bereaksi di bawah keadaan yang normal,
ia menegur Khidhir dan menegaskan akibat perbuatannya itu yang berbahaya.


Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali
tidak akan sabar bersama dengan aku."
Khidhir menyebutkan syarat yang ia tetapkan jika Nabi Musa ingin belajar darinya;
suatu syarat yang ia tahu Nabi Musa tidak bisa menepatinya. Al-Khidhir bisa saja tetap diam
tentang pengetahuan ini dan peristiwa itu akan sama saja. Akan tetapi ia memilih untuk
memberitahu Nabi Musa dalam rangka untuk menekankan betapa ia sama sekali tidak
membantu dan batas dari pengetahuannya. Ini juga membantu agar Nabi Musa lebih rendah
hati.

“Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah
kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku."
Ketika diperingatkan, Nabi Musa segera menyadari kesalahannya, ia membuat alasan
yang karenanya Allah tidak meminta pertanggung-jawaban kepada hamba-Nya, sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
))
ِ
ْ
َ
َ
ﻋ ا
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﺳا ﺎ
َ
َ
و
َ
نﺎ
َ
ْ
ﻨﻟا
َ
و
َ
َ
َ
ْ
ﳋا
ِ
ُ
أ
ْ
َ
َ
ز
َ
وﺎ
َ
َ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
((
Islamic Online University Tafsir 202
428
"Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku sesuatu yang dilakukan
karena salah, lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya."
716
Maka Nabi Musa lalu dengan rendah hati memohon kepada Khidhir agar
memaafkannya dan mengizinkannya untuk melanjutkan perjalanan bersamanya.



 
716
Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hlm.
347, no. 1662.
Islamic Online University Tafsir 202
429
74 76. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya
berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa
berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena
Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan
suatu yang mungkar." 75 Khidhr berkata: "Bukankah sudah
kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat
sabar bersamaku?" 76 Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu
tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu
memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah
cukup memberikan uzur padaku".

“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak,
Maka Khidhr membunuhnya.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan untuk
menjelaskan, “Ketika mereka meninggalkan laut, mereka melewati seorang anak laki-laki
[yang kafir]
717
yang sedang bermain-main dengan anak-anak lain. Al-Khidhir [meraih anak
itu dan membekuknya ke tanah kemudian]
718
memegang kepala anak itu, [memutusnya
dengan pisau]
719
dan memetiknya dengan tangannya seperti ini. (Sufyaan, perawi kedua,
bergerak dengan ujung jari seolah-olah sedang memetik buah.
720
)”
721
717
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 218, no. 250. Dalam Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1399, no. 6434, Ubai bin
Ka’ab meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Pemuda yang dibunuh Khidir
adalah seorang yang kafir dari sifat bawaan aslinya dan seandainya nanti ia tumbuh dewasa ia akan
menjadikan orangtuanya memberontak dan kafir.”
718
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 218, no. 250.
719
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 223, no. 251.
720
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 405, no. 615; jilid 6, hlm. 213, no. 249 dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268,
no. 5864. Dalam riwayat lain, bagaimana anak laki-laki dibunuh digambarkan dengan cara yang lain.
Misalnya, dalam satu riwayat disebutkan bahwa, Khidr memegang anak itu, kemudian dia membaringkannya
di tanah dan menyembelihnya dengan pisau.” (Shahih al Bukhari, jilid 6, hlm. 218, no. 250) namun dalam
Islamic Online University Tafsir 202
430
“Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia
membunuh orang lain?” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan untuk menjelaskan,
“Dengan gusarnya Nabi Musa berupaya menghardik Khidhir: 'Mengapa kamu bunuh jiwa
yang tak berdosa, sedangkan anak kecil itu belum pernah membunuh?”
722
Dalam syariat
terakhir bahkan jika ada anak kecil yang membunuh seseorang, dia tidak akan diqishah karena
seorang anak kecil sebelum mencapai usia baligh tidak diwajibkan untuk bertanggung jawab.
Kemungkinan yang lain adalah bahwa anak kecil tersebut sudah hampir mencapai usia baligh,
sebagaimana yang diindikasikan dengan istilah ghulam (anak kecil, pemuda) yang digunakan
dalam ayat ini. Oleh karena itu Nabi Musa menyebutkan perkara tentang tidak berdosanya
anak kecil itu karena fakta bahwa ia belum pernah membunuh seseorang.
723
“Sungguh kamu telah melakukan suatu perbuatan yang mungkar." Pernyataan ini
mengandung teguran yang lebih keras daripada peringatan Nabi Musa karena Khidhir
melobangi perahu pada ayat 71.
“Sungguh kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”
Perbedaannya adalah ketika Khidhir melubangi perahu orang-orang mungkin bisa tenggelam
dan mungkin juga tidak tenggelam. Nabi Musa menegurnya untuk akibat yang mungkin
riwayat lain, Khidir memegang kepala anak kecil itu dan memotongnya,” (Shahih al Bukhari, jilid 6, hlm.
223, no. 251). Riwayat-riwayat ini dapat dikompromikan dengan menggabungkan penggambarannya untuk
menciptakan skenario berikut: al-Khadir meraih anak itu, menjepitnya di tanah dan mencabut kepalanya seperti
buah dengan memotongnya dari tubuhnya dengan pisau.
721
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 405, no. 613 dan jilid 6, hlm. 213, no. 249.
722
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 405, no. 613 dan jilid 6, hlm. 213, no. 249.
723
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 118.
Islamic Online University Tafsir 202
431
terjadi. Akan tetapi dalam kasus ini, membunuh seorang anak kecil adalah suatu kejahatan
yang pada kenyataannya telah terjadi.
724
Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu
tidak akan dapat sabar bersamaku?"
Al Khidhir mengingatkan Nabi Musa lagi dengan mengatakan, "Bukankah sudah
kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
725
Nabi Musa menjawab, “Tapi perbuatan ini melebihi dari yang sebelumnya.”
726
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menambahkan di sini, “'Semoga Allah memberikan rahmat dan
karuniaNya kepada kita dan kepada Nabi Musa 'Alaihis Salam. Sebenarnya aku lebih senang
jika Musa dapat sedikit bersabar, hingga kisah Musa dan Khidhir bisa diceritakan kepada kita
dengan lebih panjang lagi.”
727

Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka
janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup
memberikan uzur padaku."
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menukil jawaban Nabi Musa sebagaimana
disebutkan dalam Al Quran, “Janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, jika aku
724
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 118.
725
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 405, no. 613 dan jilid 6, hlm. 213, no. 249. Perawi kedua berkata, “Celaan ini
lebih kuat daripada yang pertama.” (Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 213, no. 249)
726
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268, no. 5864.
727
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1268, no. 5864.
Islamic Online University Tafsir 202
432
bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, sesungguhnya aku sudah cukup
memberikan uzur kepadamu [untuk meninggalkanku]."
728
Pernyataan Nabi Musa, “Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu,”
menandakan bahwa ia menganggap Khidhir berada pada derajat yang lebih tinggi dari pada
dia sendiri, jika tidak tentu ia akan mengatakan, “Jika aku menanyakan kepadamu perihal
sesuatu setelah ini, aku tidak akan lagi menyertaimu lebih jauh.”
729
728
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 405, no. 613 dan jilid 6, hlm. 213, no. 249 dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm.
1268-9, no. 5864.
729
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 119.
Islamic Online University Tafsir 202
433

  
  

77 78. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai
kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada
penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu
mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding
rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu.
Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah
untuk itu" 78 Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan
kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-
perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

Islamic Online University Tafsir 202
434
“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu
negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu
tidak mau menjamu mereka.”
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan seraya menjelaskan, “Maka keduanya berjalan:
hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka [pergi ke tempat di
mana para penduduk negeri itu berkumpul dan]
730
minta jamuan kepada penduduk negeri itu
tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka sebagai tamu.”
731
Mereka yang menggunakan cuplikan ayat ini untuk membenarkan perbuatan
mengemis maka mereka telah terjatuh dalam kesalahan, karena ada cukup banyak riwayat
shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang melarangnya, kecuali dalam kebutuhan
yang sangat mendesak.
732
Misalnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Selain tiga
orang ini wahai Qubaishah, adalah harta haram yang dimakan oleh pelakunya secara
haram
733
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan,
))
ِ
ِ
ْ
َ
و
ِ
َ
ْ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
َ
ِ
ْ
َ
َ
َ
سﺎﻨﻟا
ُ
ل
َ
ْ
َ
ُ
ُ
ﺮﻟا
ُ
لا
َ
َ
ـﻳ ﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ُ
َ
ْ
ُ
((
730
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1270, no. 5864.
731
Tidak diragukan lagi bahwa perilaku ini sama sekali tidak sopan dan bukti lemahnya iman [mereka],
sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
ُ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ﺿ
ْ
م
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
ﻵا
ِ
م
ْ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
َ
و
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
ُ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
نﺎ
َ
ْ
َ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya.” (Shahih al-
Bukhari, Kitab: Adab, Bab: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, Shahih Muslim,
Kitab: Iman, Bab: anjuran untuk memuliakan tetangga) (Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 119)
732
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 418.
733
Shahih Muslim, jilid 2, hlm. 498, no. 2271, Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm. 430, no. 1636 dan Ibnu
Khuzaimah (Misykat al-Masabih, (Terj. Inggris) jilid 1, hlm. 389)
Islamic Online University Tafsir 202
435
“Senantiasa ada seorang yang suka meminta-minta kepada orang lain
hingga pada hari qiyamat dia datang dalam keadaan wajahnya terpotong
(bagian) dagingnya.”
734
  
“Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir
roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau,
niscaya kamu mengambil upah untuk itu"
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan seraya bersabda, “Kemudian keduanya
mendapatkan sebuah dinding rumah yang hampir roboh.
735
Rasulullah bersabda: 'Dinding itu
miring, lalu tembok itu ditegakkan oleh Khidhir hanya dengan mengusapnya dengan
tangannya.”
736
Musa berkata kepada Khidhir: 'Penduduk negeri yang kita datangi ini tidak
mau memberi kita makan dan juga tidak mau melayani kita. Kalau kamu mau, sebaiknya
kamu minta upah dari hasil perbaikan dinding rumah tersebut [sehingga kita bisa membeli
makan dengannya
737
]
738
Nabi Musa tidak menegur Khidhir karena memperbaiki dinding tidak
pula ia mempertanyakan mengapa Khidhir melakukan hal itu, meskipun para penduduknya
tidak memperlakukan mereka dengan ramah. Nabi Musa hanya menyarankan agar mereka
mengambil upah karena telah memperbaiki dinding sehingga bisa mendapatkan makan dan
734
Shahih Al-Bukhari, (Arabic-English Trans.), vol.2, p.321, no.553, dan Shahih Muslim (English Trans.),
Vol.2, p.479, no.2265. Lihat pula Misykat Al-Masabih, (English Trans.), vol.1, p.387).
735
Istilah yang digunakan dalam Al Quran adalah arada (ia ingin) jatuh. Ini biasanya digunakan sebagai dalil
penggunaan perumpamaan matafora dalam Al Quran, akan tetapi, Syeikh Al-Utsaimin berpendapat bahwa ini
bukanlah dalil karena dinding bisa saja memiliki kehendak di mana hal ini bukanlah hal yang aneh
sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang Gunung Uhud, Ia mencintai kita dan kita
mencintainya.” (Shahih al-Bukhari,Kitab: Zakat, Bab: dan Shahih Muslim, Kitab: Haji, Bab: Uhud adalah
gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.) Dan cinta adalah suatu sifat tambahan untuk kehendak.
(Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 120)
736
Sufyan, perawi kedua, menjelaskan dengan tangannya, menggambarkan bagaimana Khidhir mengusapkan
tangannya ke dinding dari bawah ke atas. (Shahih al-Bukhari,jilid 4, hlm. 404, no. 613)
737
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 218, no. 250.
738
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 404, no. 613 dan jilid 6, hlm. 217, no. 250.
Islamic Online University Tafsir 202
436
minum serta tempat untuk beristirahat.
739
Udzur Nabi Musa yang pertama adalah karena ia
lupa,
740
udzurnya yang kedua menyebabkannya terikat dengan suatu aturan, dan yang ketiga
ia lakukan dengan sengaja.”
741
 
Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan
kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya.”
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menukil jawaban Khidhir sebagaimana disebutkan
dalam Al Quran, “Sekarang kita harus berpisah antara aku dengan kamu, dan aku akan
memberitahukan kepadamu penjelasan dari perbuatan-perbuatan yang kamu tidak bisa
bersabar terhadapnya.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menambahkan, “Sebenarnya aku
lebih senang jika Musa dapat sedikit bersabar, sehingga Allah dapat menceritakan kepada kita
kisah Musa dan Khidhir dengan lebih panjang lagi.”
742
739
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 120
740
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 404, no. 613 dan jilid 6, hlm. 217, no. 250
741
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 217, no. 250
742
Shahih Al Bukhari, vol. 4, p. 405, no. 613 dan vol. 6, p. 214, no. 249. Sufyaan, perawi, mengatakan bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah memberikan rahmat dan karunianya kepada Nabi
Musa! Seandainya dia lebih bersabar, tentu akan diceritakan kisah mereka lebih panjang lagi” (Shahih Al
Bukhari, vol. 4, pp. 405-6, no. 613 dan Sahih Muslim, vol. 4, p. 1268, no. 5864.)
Islamic Online University Tafsir 202
437






79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang
bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di
hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.



“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut.”
Imam Asy Syafi’i menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa istilah fakir merujuk kepada
seseorang yang keadaannya lebih buruk dari seorang yang miskin.
743
Karena Allah
743
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 419. Perkara ini memiliki kepentingan yang khusus ketika menafsirkan ayat
tentang pembagian zakat berikut ini,










“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah 9: 60)
Islamic Online University Tafsir 202
438
menggambarkan orang-orang yang miskin ini memiliki perahu dan bekerja.Sebagian ulama
yang lain menyimpulkan bahwa istilah “miskin” di sini maksudnya adalah “malang” dalam
artian yang sama dengan seorang kaya yang tertimpa musibah bisa disebut sebagai “orang
kaya malang yang sedang tertimpa kemalangan yang menyedihkan.”


“Dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang
raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan perkataan Khidhir, “Maka aku ingin jika
perahu ini melewatinya, raja tersebut meninggalkannya karena terdapat cacat di perahu
tersebut. Maka apabila mereka dapat melewatinya mereka dapat membenahinya dan dapat
memanfa'atkannya kembali.”
744
Beliau menerangkan lebih jauh, “Maka bila raja itu lewat dia
akan mendapati bahtera itu dalam keadaan rusak, hingga tidak jadi merampasnya dan
semuanya selamat, setelah itu mereka bisa kembali memperbaikinya dengan kayu.”
745
Apa yang dapat disimpulkan dari kejadian ini dan penjelasannya adalah perlunya
bersikap sabar pada masa-masa sulit karena terkandung faidah yang besar dalam apa yang
nampak dari luar sebagai kemalangan. Inilah maksud dari firman Allah,
“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu.”
(QS. Al Baqarah 2: 216)
746
Prinsip yang sama ini diungkapkan dalam pepatah Barat, "Setiap awan memiliki garis
perak." Ini juga berfungsi sebagai landasan untuk menjelaskan tujuan kejahatan di dunia yang
744
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 219, no. 250.
745
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1270, no. 5865.
746
Al-Jami’ li ahkamil quran, jilid 11, hlm. 32.
Islamic Online University Tafsir 202
439
diciptakan oleh Allah yang Maha Baik. Yang Mahakuasa tidak menciptakan kejahatan atau
mengizinkan kejahatan terjadi demi kejahatan itu sendiri, karena jika Dia melakukannya, Dia
akan menjadi Tuhan yang Jahat dan bukan Tuhan yang Maha Baik. Sebaliknya, Dia
menciptakan keburukan untuk kebaikan yang Dia tahu akan dihasilkan darinya. Tidak ada
yang diciptakan Allah benar-benar buruk. Setiap kejadian yang buruk memiliki sisi baik, yang
karena kebaikan itulah peristiwa itu dibuat atau dibiarkan terjadi.
Pengetahuan tentang realitas tentang dunia ini yang memberikan keyakinan pada
orang-orang mukmin untuk bersabar di saat-saat yang paling sulit. Dan dengan cara ini,
mereka mendekati kehidupan dari perspektif menang-menang, sebagaimana Nabi (shallallahu
'alaihi wasallam) diriwayatkan oleh Suhaib ibn Sinaan bahwa beliau bersabda,
))
ْ
َ
أ
ن
ِ
إ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ِ
ْ
َ
ِ
ﻷ ﺎ
ً
َ
َ
ِ
إ
ٍ
َ
َ
ِ
َ
كا
َ
ذ
َ
ْ
َ
َ
و
ٌ
ْ
ـﻴ
َ
ُ
ُ
ُ
َ
ُ
ءا
َ
ﺿ
ُ
ْ
َ
ـﺑﺎ
َ
َ
أ
ْ
ن
ِ
إ
َ
و
ُ
َ
ﻟ ا
ً
ْ
ـﻴ
َ
َ
نﺎ
َ
َ
َ
َ
َ
ُ
ءا
َ
ُ
ْ
َ
ـﺑﺎ
َ
َ
أ
ْ
ن
ِ
إ
ِ
ِ
ْ
ُ
ْ
ِ
ُ
َ
ﻟ ا
ً
ْ
ـﻴ
َ
َ
نﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﺒ
َ
((
"Perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya
baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa
kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa
musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya."
747
Perbuatan Khidhir merusak perahu termasuk dalam prinsip umum syari’at yaitu,
“Menolak dua mafsadah yang sama buruknya dengan mafsadah yang paling ringan dari
keduanya.” Dari prinsip ini manfaat selanjutnya yang lebih besar dapat disimpulkan, bahwa
merusak sesuatu dalam rangka untuk memperbaiki sisanya. Para dokter medis menggunakan
prinsip ini ketika mereka mengambil kulit dari betis seseorang untuk memperbaiki cacat pada
wajahnya atau kepalanya. Para ahli fiqh juga mengambil hukum darinya bahwa jika harta
benda wakaf rusak, sebagian darinya boleh dijual untuk memperbaiki yang lain.”
748
Sebagai prinsip umum, mungkin akan nampak bahwa prinsip Machiavellilan “tujuan
membenarkan cara” yang buruk diterapkan di sini. Akan tetapi, dalam kasus ini, keburukan
bisa jadi telah terjadi atau akan terjadi dan seseorang mencegah keburukan itu dengan
747
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1541, no. 7138.
748
Tafsir Al Quran al-Karim, hlm. 121-2.
Islamic Online University Tafsir 202
440
keburukan yang lebih ringan. Sementara, dalam kasus yang lain, tidak ada keburukan yang
terjadi atau akan terjadi, seseorang hanya ingin mendapatkan yang baik semata dan
menggunakan cara-cara jahat untuk mencapainya.
Catatan tentang Keburukan: Khidhir menyandarkan perbuatan merusak perahu dan
keinginan untuk melakukannya kepada dirinya sendiri dengan mengatakan:

“Dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu”
Hal ini adalah untuk menghindari dinisbatkannya (disandarkannya) keburukan secara
langsung kepada Allah. Ini umumnya digunakan dalam Al Quran sebagaimana dalam ayat,




“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai
Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya,” (QS. Al Falaq 113: 1-2)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengikuti prinsip adab yang sama dalam sabda
beliau tentang Allah. Misalnya, beliau mengajarkan bahwa ketika seseorang mengenakan baju
baru agar membaca doa,
))
ُ
َ
َ
ِ
ُ
ﺻ ﺎ
َ
ِ
ْ
َ
َ
و
ِ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
ْ
َ
َ
َ
ْ
َ
أ
ُ
ْ
َ
ْ
ﳊا
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
َ
َ
ِ
ُ
ﺻ ﺎ
َ
َ
َ
و
ِ
َ
ْ
ِ
َ
ِ
ُ
ذ
ُ
َ
أ
َ
و((
“Allahumma lakal hamdu anta kasawtaniihi. As-aluka min khoirihi wa
khoiri maa shuni’a lah, wa a’udzu bika min syarrihi wa syarri maa shuni’a
Islamic Online University Tafsir 202
441
lah (artinya: Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkaulah yang
memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada-Mu agar memperoleh
kebaikan dari pakaian ini dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang diciptakan
karenanya).”
749
Menurut Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga
menggunakannya untuk berdoa pada tiap-tiap awal shalat beliau.
))
َ
ْ
َ
ِ
إ
َ
ْ
َ
ﺸﻟا
َ
و
َ
ْ
َ
َ
ِ
ُ
ُ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ْ
ﳋا
َ
و
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
ْ
ـﺒ
َ
((
“LABBAIKA WA SA'DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIK WASY
SYARRU LAISA ILAIKA Labbaik wa sa'daik (Aku patuhi segala
perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di
tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu.”
750
749
Sunan Abu Dawud, jilid 3, hlm. 1125, no. 4009 dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Abu Dawud, jilid 2,
hlm. 760, no. 3393.
750
Shahih Muslim, Kitab: Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar, Kitab: Doa dalam shalat malam.
Islamic Online University Tafsir 202
442






80 - 81. Dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-
orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua
orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. 81 Dan Kami
menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan
anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih
dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

“Dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin,”
mengisyaratkan bahwa anak laki-laki mereka adalah seorang yang kafir. Ibnu ‘Abbas
mengatakan, “Adapun anak laki-laki itu, sesungguhnya ia adalah seorang yang kafir.”
751


“Dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada
kesesatan dan kekafiran.”
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menukil perkataan Khidhir, “Sejauh menyangkut anak laki-
laki ini, maka ia pada dasarnya adalah seorang yang kafir, sementara orang tuanya sangat
751
Shahih al- Bukhari, jilid 6, hlm. 224, no. 251.
Islamic Online University Tafsir 202
443
mencintainya. Seandainya dia dewasa, dia akan mendorong mereka dalam dosa dan
kekafiran.
752
Dawud ibn‘ Aashim mengatakan bahwa mereka akan memiliki seorang anak
perempuan setelahnya.
753
Ketika menyebutkan anak laki-laki ini, Khidhir mengatakan, Kami khawatir…”
yang berarti bahwa ia menyandarkan pengetahuan ini kepada Allah.

“Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak
lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya
(kepada ibu bapaknya).”
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak akan menakdirkan bagi
seorang mukmin sebagian taqdir, kecuali ada kebaikan baginya di dalamnya.”
754
Qatadah menerangkan peristiwa ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya apa yang
Allah takdirkan bagi orang mukmin yang tidak menyenangkan baginya, adalah lebih baik
laginya dari pada apa yang ia sukai. Ketika anak laki-laki ini lahir di tengah-tengah orang tua
mereka, mereka bahagia dan mereka sedih ketika ia dibunuh, namun jika anak laki-laki itu
tetap bersama mereka, ia akan menyebabkan kebinasaan bagi mereka. Maka, manusia harus
ridho dengan apa yang telah Allah takdirkan untuknya.”
755
Seorang mukmin tidak pernah mendapatkan cobaan kecuali apa yang baik baginya,
karena jika ia sabar dengannya, maka sesungguhnya Allah akan memberi pahala karena hal
itu atau ia akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya.
Prinsip kesabaran di masa-masa sulit juga bisa diterapkan dalam contoh ini,
sebagaimana Allah menyatakan,
752
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1279, no. 5865.
753
Shahih al-Bukhari, jilid 6, hlm. 219., no. 250.
754
755
Tafsir Ibnu Katsir
Islamic Online University Tafsir 202
444
“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu.”
(QS. Al Baqarah 2: 216)
Namun, keadaan ini berbeda dari contoh sebelumnya. Dalam kasus sebelumnya
mengenai kapal yang rusak, manfaat dari kejahatan yang tampak akan muncul dengan segera,
karena setiap manusia mendapatinya pada titik yang berbeda dalam hidup mereka. Namun,
dalam hal ini, manfaatnya tidak akan nampak bagi orang tua dari anak laki-laki ini dalam
kehidupan ini. Mereka akan membesarkan anak kedua mereka, seorang anak perempuan,
dengan bahagia, tetapi kehilangan anak pertama mereka akan tetap menjadi kenangan yang
menyedihkan. Manfaat tidak akan muncul bagi mereka sampai Hari Kiamag ketika semua hal
menjadi jelas, dan kebijaksanaan ilahi dalam dibunuhnya anak mereka akan terwujud. Contoh
ini mencakup kasus-kasus di mana manfaat dari bencana dan kejahatan tetap tidak diketahui
manusia. Seperti hilangnya lebih dari 300.000 jiwa yang sebagian mereka adalah kaum
Muslimin karena Tsunami baru-baru ini di Indonesia. Ateis sering menyebut bencana alam
seperti itu sebagai bukti bahwa Tuhan tidak ada, karena, seperti yang mereka tanyakan, jika
Dia ada dan Dia baik dan berkuasa, mengapa Dia tidak mencegah bencana semacam itu agar
tidak terjadi.
Islamic Online University Tafsir 202
445












82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di
kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka
berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu
menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya
dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;
dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri.
demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak
dapat sabar terhadapnya".




Allah menyebutkan penjelasan Khidhir karena telah memperbaiki dinding dengan
berfirman, “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu,
dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua.” Sebagian riwayat
perkataan dari para sahabat dan murid-muridnya menandakan bahwa harta benda yang
Islamic Online University Tafsir 202
446
dimaksud di sini adalah emas, namun ada riwayat shahih dari Abu Dzar di mana ia
meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Harta karun ini
sesungguhnya adalah lempengan emas yang terukir di atasnya kalimat-kalimat wahyu ilahi
yang berbunyi, “Bismillaahirrahmaanirrahim, (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang), Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Aku
merasa heran kepada orang yang beriman kepada takdir, mengapa dia bersedih hati. Dan
aku merasa heran kepada orang yang beriman kepada kematian, mengapa dia bersenang
hati. Dan aku heran kepada orang yang mengenal dunia serta silih bergantinya dengan para
ahlinya, mengapa dia merasa tenang kepadanya. Laailaahaillallah wa Muhammad ar
Rasuulullah (Tidak ada Tuhan yang Haq selain Allah dan Muhammad adalah utusan-
Nya)”
756
Allah mengungkapkan dalam pesan yang tertulis di atas lempengan emas di bawah
dinding, bahwa jika manusia benar-benar percaya pada takdir Allah, mereka seharusnya tidak
dikuasai oleh kesedihan. Sesekali merasa sedih adalah wajar dan yang demikian itu
diperbolehkan, selama ia tidak melakukan atau mengatakan apa pun yang tidak diridhai Allah
sebagai akibat dari kesedihannya dan perasaan sedihnya berada dalam batas yang dapat
diterima. Lempengan itu juga menyatakan bahwa jika manusia benar-benar percaya pada
kematian, mereka tidak seharusnya dikuasai dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.
Merasa bahagia, seperti halnya merasa sedih, adalah hal yang alami dan dengan demikian,
pada tingkat tertentu diperbolehkan. Namun, merasa sangat gembira sehingga ia melupakan
Allah tidak diizinkan karena tingkat kebahagiaan seperti itu mengarah pada dosa dan
kerusakan. Masalah ketiga yang disebutkan dalam oleh prasasti lempengan itu adalah bahwa
orang-orang melihat ketidakstabilan kehidupan di sekitar mereka, tetapi mereka menciptakan
ukuran keamanan bagi diri mereka sendiri dengan meyakinkan diri mereka bahwa malapetaka
yang menimpa orang lain tidak akan menimpa mereka. Akibatnya, mereka terus menjalani
kehidupannya di atas kemaksiatan sambil melihat orang lain di sekitar mereka dihukum. Di
dalam konteks ini, Allah berfirman,


“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-
orang yang merugi.” (QS. Al A’raf 7: 99)
756
Islamic Online University Tafsir 202
447
Pernyataan ini tidak mengacu pada ketenangan dan keamanan yang datang karena
menegakkan hukum Islam. Namun itu mengacu pada keyakinan mereka yang tidak berdasar
bahwa apa yang mereka miliki akan kekal selamanya dan bahwa mereka tidak akan pernah
mengalami mala petaka.
Adapun pernyataan terakhir pada lempengan emas tersebut menegaskan bahwa Allah
telah menurunkan pengetahuan tentang wahyu terakhir pada kitab-kitab terdahulu. Allah
berfirman,







“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada
di sisi mereka”
(QS. Al A’raf 7: 157)
Pernyataan ini dan pernyataan-pernyataan lain semisalnya dalam Al Quran
membimbing para akademisi perbandingan agama untuk dapat menemukan referensi baik
dalam Taurat (Ulangan, 18: 15) dan Injil (Yunus, 14: 16) yang membenarkannya.


Khidhir memberikan alasan mengapa ia ikut campur atas nama anak-anak yatim:
"Sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh." Sa’id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari
Ibnu Abbas: “Kedua anak itu terpelihara berkat kesalehan kedua orang tuanya, tetapi tidak
ada kisah yang menyebutkan bahwa keduanya berlaku saleh.”
757
Merupakan balasan dari
Allah untuk ayah yang shalih ini bahwa Dia berbuat baik kepada anak-anaknya. Ini
merupakan di antara rahmat kepada orang tua yang shalih bahwa Allah akan menjaga anak-
anaknya.
757
Tafsir Ibnu Katsir
Islamic Online University Tafsir 202
448



“Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya
dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” Di sini,
“kehendak” [agar mereka mencapai dewasa] disandarkan kepada Allah, ‘azza wajalla, karena
tidak ada seorang pun selainnya yang mampu menyampaikan mereka pada usia dengan
kekuatan penuh dan kedewasaan kecuali Allah. Sebaliknya, Dia berfirman tentang anak laki-
laki [pada ayat sebelumnya], “Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti
bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih
dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” Dan tentang perahu, “Aku bertujuan
merusakkan bahtera itu.” Dan Allah Maha Mengetahui.
758
Jika dinding itu roboh sebelum anak-anak itu mencapai usia baligh, para penduduk
kota akan mencuri harta terpendam tersebut.


“Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu
adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."
Khidhir dengan jelas menyatakan di sini bahwa ia tidak melakukan satu pun perbuatan dari
pemikiran dan kecerdasannya sendiri, namun semuanya adalah berasal dari ilmu yang
diwahyukan dan ilham dari Allah. Dengan demikian, ketika Najdah al-Haruri bertanya kepada
Ibnu Abbas tentang membunuh anak-anak, Ibnu Abbas menjawab, “Jika kamu mengetahui
tentang mereka sebagaimana Khidhir mengetahui tentang anak laki-laki [yang ia bunuh],
maka bunuhlah. Jika tidak, maka jangan membunuhnya.”
759
Selain itu, ketika Umar bin Khattab meminta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam untuk membunuh Ibnu Sayyad, ketika ia masih seorang pemuda, karena Umar
mengira ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Jika ia benar Dajjal,
758
Tafsir Ibnu Katsir
759
Shahih al-Bukhari.
Islamic Online University Tafsir 202
449
maka sungguh engkau tidaklah diberi kekuasaan atasnya. Dan jika ia bukanlah Dajjal, tidak
ada kebaikan dengan membunuhnya.”
760
FAIDAH-FAIDAH
761
1. Kesulitan dalam menuntut ilmu. Kisah ini mengandung anjuran untuk
mempersiapkan kesulitan yang bakal dihadapi dalam menuntut ilmu karena apa yang
membawa pada kebahagiaan kemungkinan besar melibatkan kesulitan dan Nabi
Musa tidaklah tercegah karena status kepemimpinannya dari mencapai derajat yang
tinggi dalam menuntut ilmu, bepergian di daratan dan lautan dalam rangka
mendapatkan ilmu, bertemu dengan alim, dan menahan berbagai kesulitan dan
bergantung pada mengikuti dengan rendah hati.
2. Berdiskusi dan berpendapat terkait ilmu. Alasan diceritakannya kisah Nabi Musa
dan Khidhir menandakan diperbolehkannya berdiskusi dalam persoalan ilmu tanpa
arogansi dan kesombongan serta kembali kepada mereka yang lebih berilmu ketika
ada perbedaan. Ibnu ‘Abbad dan al-Hurr ibn Qais berbeda pendapat tentang siapa
yang ditemui Nabi Musa dalam perjalanannya, apakah itu Khidhir atau seorang yang
lain. Ubay bin Ka’ab meriwayatkan hadits ini kepada mereka untuk menunjukkan
benarnya pendapat Ibnu ‘Abbas (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
3. Menyampaikan ilmu. Kisah ini mengajarkan bahwa menjadi kewajiban bagi ulama
untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari, terutama jika itu
mengklarifikasi persoalan di mana manusia berbeda pendapat. Ubay bin Ka’ab
meriwayatkan hadits ini atas permintaan Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Abbas
meriwayatkannya untuk membantah Nauf al-Bikali. Begitu pula halnya Khidhir yang
mengajari Nabi Musa atas permintaannya.
4. Mengutamakan kegiatan-kegiatan yang berdasarkan ilmu. Dari narasi
berdasarkan konteks kisah Al Quran, jelas bahwa Nabi Musa memberikan prioritas
kepada kegiatan menuntut ilmu tambahan dari pada semata terus mengajarkan apa
yang ia ketahui kepada umatnya.
760
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
761
Min qishash al-Maadin oleh Masyhur Hasan, hlm. 29-33, Shahih Qishash an-Nabawi, oleh Umar al-Asyqar,
hlm. 87-90 dan Taisir al-Karim-ar-Rahman, oleh As Sa’di
Islamic Online University Tafsir 202
450
5. Menyebutkan niat. Pernyataan Nabi Musa bahwa ia tidak akan menghentikan
perjalanannya sampai ia sampai pada pertemuan antara dua laut menandakan
bolehnya mengungkapkan niat seseorang terkait menuntut ilmu kepada orang lain di
mana di situ terdapat manfaat dan jika itu lebih baik dari pada menyembunyikannya.
Misalnya, dengan menyebutkannya, seseorang bisa mempersiapkan dengan baik dan
kemuliaan ilmu ditekankan.
6. Ilmu Khidir atas perkara-perkara ghaib. Kisah ini dengan jelas menunjukkan
bahwa Khidhir mengetahui perkara-perkara ghaib hanya yang Allah ajarkan
kepadanya. Oleh karena itu ia tidak mengetahui siapa Nabi Musa sampai ia bertanya
kepadanya, tidak pula ia mengetahui maksud kunjungan Nabi Musa hingga ia
memberitahukannya.
7. Dua jenis ilmu. Kisah Al Quran ini menandakan bahwa ilmu yang diajarkan Allah
kepada hamba-hamba-Nya terdiri dari dua jenis: 1) Ilmu yang didapatkan melalui
usaha manusia. 2) Ilmu yang Allah ajarkan dari diri-Nya. Allah menjelaskan Khidhir
sebagai, “Seorang yang Aku ajarkan Ilmu dari Aku sendiri.”
8. Ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang membawa kepada kebaikan secara khusus dicari
oleh Nabi Musa sebagaimana ia berkata, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?" Maka ilmu yang membawa kepada jalan kebaikan dan memperingatkan
dari kemunkaran merupakan ilmu yang bermanfaat dan semua selain ini bisa jadi
berbahaya/merusak atau tidak memiliki manfaat.
9. Sifat Allah al muhyii (Yang Menghidupkan). Kemampuan Allah untuk
menghidupkan yang mati menunjukkan bahwa ikan asin yang telah mati menjadi
hidup kembali dan berenang ke laut dengan cara yang ajaib.
10. Mengambil pembantu. Kisah ini menandakan diperbolehkannya melayani orang-
orang yang berilmu atau menyewa atau mengambil seorang pembantu ketika mukim
atau ketika melakukan perjalanan untuk membantu memenuhi kebutuhan dan untuk
kenyamanan.
11. Memperlakukan pembantu. Dalam kisah ini bersikap lembut kepada pembantu
ditunjukkan oleh Nabi Musa yang tidak menyalahkan Yusya’ bin Nun karena lupa
Islamic Online University Tafsir 202
451
untuk memberitahukannya tentang hilangnya ikan mereka seperti yang Nabi Musa
perintahkan kepadanya.
12. Makan bersama pembantu. Juga disimpulkan dari kisah ini bahwa dianjurkan
untuk memberi makan pelayan/pembantu dari makanannya sendiri dan makan
bersama mereka. Nabi Musa memerintahkan kepada pembantunya, “Bawalah kemari
makanan kita,” dengan merujuk kepada makanan yang menjadi milik mereka berdua
dan agar dibawakan agar mereka bisa makan bersama.
13. Ketaatan pada hukum Allah. Perbuatan Khidhir melubangi perahu dan membunuh
seorang anak kecil merupakan perintah Allah, oleh karena itu tidak diperbolehkan
bagi siapa saja yang tidak mendapatkan wahyu dari Allah untuk membunuh atau
merusak dengan mengaku bahwa ada hikmah tersembunyi di baliknya. Ini seperti
upaya Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, Ismail. Khidhir bukanlah umat
Nabi Musa dan tidak pula umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Jika ia
merupakan pengikut salah satu dari keduanya, maka ia tentu tidak akan
diperbolehkan untuk melampaui hukum Allah yang diwahyukan kepada keduanya.
14. Kabar dari satu perowi tunggal yang terpercaya. Konteks dari riwayat hadits
membuktikan sahnya beramal berdasarkan informasi yang disampaikan oleh satu
perowi yang tsiqah (terpercaya) atau disebut dengan khabar wahid dalam persoalan
aqidah. Ibnu ‘Abbas menerima riwayat tunggal Ubay bin Ka’ab dan murid-murid
Ibnu ‘Abbas menerima riwayat ahad ini.
15. Bepergian ke luar negeri. Perjalanan Nabi Musa pada kisah ini mengandung
anjuran untuk bepergian ke negeri yang lain untuk menuntut ilmu atau menambah
ilmu. Meskipun hadits yang umumnya dinukil yang berbunyi, "Tuntutlah ilmu
meskipun sampai ke negeri China," merupakan hadits palsu, yang berarti berdosa
untuk menisbatkan perkataan ini kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam), konsep
melakukan perjalanan hingga ujung dunia untuk menuntut ilmu yang bermanfaat
adalah benar.
16. Bekal untuk bepergian. Membawa perbekalan selama melakukan perjalanan
merupakan persyaratan yang ditentukan syariat. Tidak disukai atau bahkan tidak
diperbolehkan untuk melakukan perjalanan dan meninggalkan perbekalan dengan
sengaja berdasarkan klaim bahwa ia bertawakkal kepada Allah.
Islamic Online University Tafsir 202
452
17. Bersikap tawadhu’ dalam menuntut ilmu. Nabi Musa sangat bersemangat untuk
bertemu dengan Khidhir karena ketawadhu'annya, ia ingin belajar darinya agar ia
dapat mengajarkan kepada umatnya bagaimana belajar dari akhlak dan sebagai
peringatan kepada siapa saja yang memujinya agar bersikap tawadhu'.
18. Bersikap tawadhu’ (rendah hati) di hadapan guru. Adab yang ditunjukkan Nabi
Musa dalam cara bagaimana ia berbicara kepada gurunya dalam kisah ini
menandakan perlunya bersikap tawadhu' dari mereka yang lebih senior kepada siapa
saja yang mereka mengambil ilmu darinya. Hal ini ditunjukkan dengan adab yang
baik di hadapan guru dan berbicara kepada dengan adab yang sebaik-baiknya
sebagaimana yang dilakukan Nabi Musa dengan Khidhir. Nabi Musa berkata,
"Bolehkah aku mengikutimu..."
19. Ulama senior dapat belajar kepada orang yang di bawahnya. Kisah ini
menunjukkan bahwa meskipun Nabi Musa lebih senior dari pada Khidhir, ia tetap
bersemangat untuk belajar darinya. Dengan demikian, ulama senior dapat belajar dari
ulama yang lebih rendah tingkatannya dalam bidang yang berada di luar keahliannya
dan yang yang menjadi bidang keahliannya juga.
20. Menyandarkan ilmu kepada Allah. Ketika Nabi Musa meminta Khidhir untuk
mengajarkan "ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
ia mengakui bahwa ilmu Khidhir berasal dari Allah.
21. Bersabar dalam menuntut ilmu. Merupakan adab bagi seorang murid untuk
bersabar dengan gurunya dan mematuhi perintahnya sebagaimana yang ditunjukkan
oleh Nabi Musa dan gurunya Khidhir di dalam kisah ini. Seorang yang tidak
memiliki kesabaran dan ketekunan akan terluput darinya banyak ilmu sebagaimana
ditunjukkan dalam penjelasan Khidhir mengapa Nabi Musa tidak akan mampu
belajar darinya.
22. Ilmu adalah pondasi kesabaran. Khidir mengindikasikan bahwa alasan utama
mengapa Nabi Musa tidak akan mampu untuk bersabar adalah karena kurangnya
ilmunya. Dia berkata, “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu
belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Oleh karena itu
memiliki pengetahuan yang penuh dan kesadaran terhadap apa yang ia bersabar
darinya merupakan di antara sebab utama untuk mencapai kesabaran. Ilmu bahwa
Islamic Online University Tafsir 202
453
apapun yang Allah takdirkan merupakan kebaikan memberikan kepada orang-orang
mukmin kekuatan untuk bersabar selama masa-masa penuh cobaan dan musibah.
23. Tidak bolehnya bertanya. Kisah ini mengisyaratkan bahwa boleh bagi seorang guru
untuk melarang muridnya bertanya hingga setelah penjelasannya sempurna. Seorang
guru harus mempertimbangkan tingkatan muridnya serta situasi mereka dalam
rangka untuk menentukan apakah pertanyaan diizinkan selama kelas berlangsung,
setelah kelas atau keduanya.
24. Hikmah di balik perbuatan Allah. Perbuatan yang dilakukan oleh Khidhir murni
berasal dari takdir (ketentuan) Allah. Allah menjadikannya terjadi melalui tangan
Khidhir sehingga orang-orang mukmin dapat menggunakannya sebagai hujjah
tentang manfaat yang tersembunyi dalam apa yang Allah takdirkan dan bahwa hal-
hal yang mungkin sangat ia benci namun itu bermanfaat untuk agamanya
sebagaimana dalam kasus anak laki-laki (yang dibunuh), atau bermanfaat bagi
kehidupan dunianya seperti dalam kasus perahu (yang dilubangi). Maka Dia
menjadika semua itu sebagai contoh kelembutan dan kebaikan-Nya sehingga mereka
mengetahui dan sepenuhnya ridho dengan unsur takdir yang ia benci.
25. Pemikiran manusia dan kehendak Allah. Manfaat tersembunyi dari perbuatan-
perbuatan Khidhir juga menandakan bahwa Allah melakukan apa saja yang Dia
kehendaki pada kekuasaan-Nya dan menetapkan bagi hamba-Nya menurut yang Dia
kehendaki terkait dengan apa yang bermanfaat atau bermadharat. Dengan demikian,
tidak ada tempat bagi akal manusia terkait dengan perbuatan-Nya, dan tidak ada
penentangan yang bisa dimunculkan melawan hukum-Nya, bahkan wajib bagi setiap
hamba untuk ridho dan menerima pilihan-Nya.
26. Paradoks kehidupan. Terdapat paradoks (hal yang bertolak belakang) dalam
kehidupan di mana yang nampak sebagai kerugian pada kenyataannya merupakan
keuntungan dan apa yang nampak sebagai kekejaman pada kenyataannya merupakan
rahmat dan apa nampak sebagai membalas kejahatan dengan kebaikan pada
kenyataannya merupakan keadilan dan kemurahan hati.
27. Menyewa bantuan. Sahnya menyewakan bantuan ditegaskan dalam saran Nabi
Musa kepada Khidhir untuk mengambil upah dari memperbaiki dinding.
Islamic Online University Tafsir 202
454
28. Memenuhi persyaratan. Kisah ini mengandung dalil bahwa seseorang harus
berbuat menurut persyaratan yang telah ditetapkan. Khidhir mengakhiri
perjalanannya dengan Nabi Musa setelah janjinya yang terakhir untuk tidak bertanya
dilanggar Nabi Musa.
29. Disandarkannya keburukan kepada Allah. Dari pernyataan Khidhir terkait
perbuatannya, dapat disimpulkan bahwa adab yang benar dalam kaitannya terhadap
Allah dan keburukan adalah tidak menyandarkan keburukan langsung pada Allah.
30. Disandarkannya keburukan kepada syaitan. Ketika Yusya’ lupa untuk
memberitahu Nabi Musa dan ia ditanya tentang hal itu, ia menyandarkan lupa yang
ia alami kepada syaitan, meskipun segala sesuatu yang terjadi adalah menurut
ketetapan Allah (takdir). Keburukan disandarkan kepasa syaitan dari sisi syaitan
menghiasinya dan menjadikannya perangkap.
31. Pertanggungjawaban orang yang lupa. Prinsip bahwa seseorang yang lupa tidak
dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terlupa darinya dapat disimpulkan dari
pernyataan Nabi Musa, “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku.” Hal
ini benar baik apakah apa yang terlupakan merupakan hak Allah ataupun hak hamba-
Nya.
32. Mencegah keburukan yang lebih besar dengan keburukan yang lebih ringan.
Bolehnya melakukan keburukan yang lebih ringan dari dua keburukan untuk
mencegah dari yang lebih besar keburukannya dapat disimpulkan dari perbuatan
Khidhir melubangi perahu untuk mencegah perahu itu dirampas dan ia membunuh
seorang anak laki-laki untuk melindungi orang tuanya dari kekafiran yang
disebabkan karena dorongan dari anaknya tersebut.
33. Menghancurkan sebagian bangunan dalam rangka untuk menyelamatkan sisa
bangunan yang lain. Prinsip hukum ini ditemukan dalam perbuatan Khidhir
merusak sebagian dari perahu untuk menyelamatkan bagian perahu yang lain.
34. Meminta jamuan dan penginapan. Diperbolehkan untuk meminta makanan di
negeri atau kota asing jika tidak ada tempat yang menjual makanan sebagaimana
ditunjukkan dalam kisah negeri yang kikir penduduknya dan roboh temboknya.
Islamic Online University Tafsir 202
455
35. Apakah Khidhir abadi? Klaim yang menyatakan bahwa Khidhir masih hidup
hingga sekalang adalah klaim yang batil dan tidak memiliki riwayat shahih yang
mendukungnya. Jika ia masih hidup sampai masa Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam, tentu ia akan mendatanginya dan mengikutinya
762
karena beliau
diutus kepada seluruh umat manusia. Para ulama terkemuka seperti Ibnul Qayyim,
763
Ibnu Katsir,
764
dan Ibnul Jauzi
765
menekankan bahwa riwayat yang menunjukkan
kelanjutan hidup Khidhir semuanya tidak shahih.
36. Membantah ulama. Terdapat pelajaran dari kisah ini bahwa seseorang harus
menahan diri dari membantah ulama besar dan sebaliknya mencoba untuk
menemukan dari mereka bagaimana pendapat mereka terkait persoalan-persoalan
yang ia merasa itu salah. Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi Musa
memandang perbuatan Khidhir salah, perbuatan itu pada kenyataannya adalah benar.
37. Menilai dari yang nampak. Perkara-perkara biasanya dinilai dari apa yang nampak
dalam pengertian hukum-hukum yang terkait dengan berbagai hal dalam kehidupan
ini. Oleh karena itu, Nabi Musa menegur Khidhir karena melubangi perahu dan
membunuh seorang anak laki-laki karena hal itu nampak sebagai kejahatan. Akan
Nabi Musa berada dalam situasi yang khas dan ia seharusnya bersabar sampai apa
yang nampak sebagia kejahatan itu dijelaskan kepadanya oleh gurunya.
38. Kekayaan orang yang miskin. Al Quran menyebutkan pemiliki perahu adalah
orang miskin menandakan bahwa seseorang bisa dikatakan miskin sementara ia
memiliki kekayaan yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya.
39. Nasehat yang baik kepada teman. Dapat disimpulkan dari kisah ini bahwa
seseorang tidak boleh meninggalkan temannya tanpa menasehatinya dan
meyakinkannya bahwa ia tidak memiliki alasan untuk membenarkan perbuatannya.
40. Perlindungan Allah kepada orang yang shalih. Kisah ini mengandung rujukan
tentang pertolongan yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa dan kepada
762
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan hal ini terkait dengan Nabi Musa ketika beliau melihat Umar
bin Khattab membaca Taurat. (Irwaul ghalil, no. 159)
763
Al Manarul Munif, hlm. 67.
764
Al Bidayah wan Nihayah, jilid 1 hlm. 334.
765
Al Maudhuat, jilid 1, hlm. 197.
Islamic Online University Tafsir 202
456
keturunan mereka mengulangi prinsip umum yang disebutkan di tempat lain dalam
Al Quran seperti, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah,
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad
47: 7)
41. Melayani orang shalih. Alasan yang diberikan untuk memperbaiki dinding adalah
karena ayah dari dua pemuda itu adalah orang yang shalih menandakan bahwa
melayani orang-orang shalih dan mereka yang masih berkerabat dengan mereka lebih
baik daripada melayani orang-orang yang selain mereka.
42. Beriman kepada takdir. Tertulis dalam lempengan emas bahwa Allah heran dengan
kesedihan hati mereka yang mengaku beriman kepada takdir. Ini menandakan bahwa
beriman kepada takdir tidak hanya amalan batin namun juga penerimaan yang
ditanamkan kokoh pada keputusan Allah dalam kehidupan kita. Beriman yang
sesungguhnya dengan takdir akan menghalangi seseorang dari larut dalam kesedihan,
yang menjadi satu alasan mengapa Islam melarang berkabung ketika ada kematian
(meratapi jenazah) selama lebih dari tiga hari.
43. Mengingat kematian. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendorong umatnya agar
selalu mengingat kematian dan menyebutnya sebagai penghancur kenikmatan.
766
766
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Serinng-seringlah mengingat penghancur kenikmatan.” (Sunan
at-Tirmidzi no 2307 dan dishahihkan dalam Shahih al Jami’ ash shaghir, no. 1210) Beliau juga bersabda,
“Dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, karena itu akan melembutkan hati,
memenuhi mata dengan air mata dan mengingatkan pada akhirat. Namun jangan mengatakan sesuatupun yang
batil.” (al Mustadrak 1: 376 dan dishahihkan dalam Shahih al Jami’ ash shaghir, no. 4584 dan Shahih Sunan
an-Nasa’i jilid 2, hlm. 436, no. 1922. Lihat pula Shahih Muslim, jilid 2, hlm. 463 dan Sunan Abu Dawud, jilid
2, hlm. 919, no. 3229)
Islamic Online University Tafsir 202
457



83. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang
Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita
tantangnya.”
Mulai dari ayat 83 sampai ayat 99 Allah menceritakan kisah Dzulqarnain.

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain”
Riwayat bahwa kisah tentang orang-orang yang menghuni gua dan Dzulqarnain diwahyukan
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena para penduduk Makkah bertanya kepada
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal itu atas hasutan orang-orang Yahudi dari
Madinah adalah riwayat yang tidak benar sebagaimana diterangkan sebelumnya. Akan tetapi
susunan ayat ini menandakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang
Dzulqarnain.
Fakhruddin ar-Razi
767
berpendapat bahwa Dzulqarnain adalah Alexander Agung (356-
323 SM) tanpa ada keraguan karena buku-buku sejarah menegaskan bahwa ia sendiri
menaklukkan dari ujung Timur hingga ujung Barat,
768
namun penggambaran tentang
Dzulqarnain dalam Al Quran menandakan bahwa ia seorang pengikut risalah kenabian yang
767
Fakhruddin ibn Ali ar-Razi (1150-1210 M) adalah seorang ulama Syafi’i yang unggul dalam bidang ilmu tata
bahasa (nahwu) dan filsafat. Syarahnya, Mafatihul Ghaib, seperti ensiklopedia ilmu alam di mana di sana ia
mengevaluasi pendapat-pendapat dari ahli astronomi, ilmuwan dan filsuf dengan menggunakan terminologi
mereka sendiri (Ushulut Tafsir, hlm. 59)
768
Ar Razi menyebutkan bahawa ada masalah bahwa guru Alexander adalah Aristoteles dan ia mengikuti aliran
pemikirannya. Dengan demikian, jika Allah memuliakannya tentu membutuhkan penilaian bahwa pemikiran
Aristoteles itu benar di mana hal ini tidak mungkin. (Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 423) Muhammad Yusuf Ali
memasukkan dalam terjemahan Al Quran-nya satu lampiran panjang yang berisi bukti-bukti untuk
menunjukkan tanpa ada sedikit pun keraguan, menurut pendapatnya, bahwa Dzulqarnain adalah Alexander
Agung.
Islamic Online University Tafsir 202
458
shalih. Ia membenarkan keesaan Allah dan menerapkan hukum Allah, sementara Alexander
Agung adalah penyembah berhala, menurut catatan sejarah Yunani. Meskipun ia sangat kuat
dan memiliki kerajaan yang sangat luas, yang tersebar dari timur ke barat, dan ada kemiripan-
kemiripan lainnya, tidak ada bukti yang kuat untuk menentukan dengan tepat siapakan
Dzulqarnain ini dalam sejarah.
Ali bin abi Thalib ditanya tentang Dzulqarnain dan ia menjelaskan bahwa Dzulqarnain
adalah seorang hamba Allah yang shalih yang menyeru manusia kepada keesaan Allah dan
ketika melakukannya ia dipukul pada kepalanya bagian atas
769
dan ia meninggal. Akan tetapi
Allah menghidupkannya kembali dan ia melanjutkan dakwah menyebarkan kalimat-kalimat
Allah hingga ia dipukul pada kepalanya lagi dan meninggal. Oleh karena itu, dinamakanlah ia
dengan Dzulqarnain.
770
Menurut pendapat yang lain, dia dinamakan Dzulqarnain karena telah melanglang
buana ke belahan timur dan barat bumi hingga sampai di tempat terbit dan tenggelamnya
tanduk matahari.
771
Yang lain mengatakan bahwa nama itu merupakan perumpamaan dari
wilayah kekuasaannya yang luas yang tersebar dari timur dan barat sebagaimana yang
diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari Ibnu Umar, bahwasanya beliau
bersabda tentang terbitnya matahari,
))
َ
بﺎ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
و
َ
ز
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﺗ
َ
َ
ة
َ
ﺼﻟا ا
ُ
َ
َ
ِ
ْ
ﺸﻟا
ُ
ِ
ﺟﺎ
َ
َ
َ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
ْ
ُ
ِ
َ
َ
ِ
ا
ُ
ـﻴ
َ
َ
َ
َ
و
َ
ﺐﻴ
ِ
َ
َ
َ
ة
َ
ﺼﻟا ا
ُ
َ
َ
ِ
ْ
ﺸﻟا
ُ
ِ
ﺟﺎ
َ
ٍ
نﺎ
َ
ْ
َ
ْ
َ
ْ
َ
ـﻗ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
ُ
ْ
َ
ﺗ ﺎ
َ
ـﻧ
ِ
َ
ﻓ ﺎ
َ
َ
ـﺑو
ُ
ُ
َ
َ
و
ِ
ْ
ﺸﻟا
َ
ع
ُ
ُ
((
"Jika alis (bagian lingkar luar) matahari mulai terbit janganlah kalian
shalat hingga terang (selesai masa terbitnya), dan jika alis matahari mulai
terbenam janganlah kalian shalat hingga benar-benar telah hilang
(terbenam), dan janganlah kalian menunggu untuk shalat saat terbitnya
769
Istilah qarn digunakan dalam riwayat-riwayat yang berarti, “ujung kepala/tanduk”
770
Dikeluarkan oleh at-Thabari dalam tafsir-nya (jilid 8, hlm. 271) dalam riwayat dengan dua sanad, yang
pertama sanad denga perawi-perawi yang tsiqah dan sanad yang kedua shahih. (Tafsir Al Quran al-‘Adzim,
jilid 4, hlm. 242)
771
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
459
matahari atau saat terbenamnya, karena saat seperti itu dia terbit pada dua
tanduk syaitan."
772
Ada beberapa penjelesan lain tentang namanya ini namun semuanya hanya berupa
takhayul dan jika kita memperhatikan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib, itu adalah pendapat yang
paling kuat karena ia merupakan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan riwayatnya
shahih.

“Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya.”
Allah memerintahkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengatakan
bahwa beliau akan menceritakan kepada mereka tentangnya apa-apa yang dapat mereka
renungkan dan manfaat yang dapat mereka ambil sebagai pelajaran. Adapun untuk detail yang
lain, beliau tidak akan menceritakannya.
773
772
Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
773
Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 564.
Islamic Online University Tafsir 202
460



84. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di
(muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk
mencapai) segala sesuatu.
“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi” berarti
bahwa Allah memberinya kekuatan besar dan semua kekuasaan yang bisa dimiliki oleh raja-
raja. Jadi dia memperoleh kekuasaan atas timur dan barat, semua negara dan raja-raja mereka
tunduk kepadanya, dan semua bangsa; Arab dan non-Arab, melayaninya.
774


“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.”
Sabab (jalan) ditafsirkan dan diterjemahkan dalam beberapa cara oleh penerjemah yang
berbeda, namun Ibnu ‘Abbas yang dianggap sebagai ahli tafsir Al Quran yang terkemuka,
menerjemahkan sabab sebagai “pengetahuan”, maka maknanya di sini adalah “pengetahuan
yang luas.” Terkait dengan Ratu Saba’ Allah berfirman menukil ucapan burunng Hud hud,
775
774
Tafsir Ibnu Katsir.
775
Burung Hudhud yaitu burung berwarna salmon-pink dengan paruh panjang ke bawah, jambul besar, dan
sayap serta ekor hitam-dan-putih. (Pocket Oxford Dictionary, hlm. 435)
Islamic Online University Tafsir 202
461





“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah
mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai
singgasana yang besar.” (QS. An Naml 27: 23)
Yakni dianugerahi segala sesuatu yang dimiliki oleh para raja. Demikian pula
Zulqarnain, Allah telah memudahkan kepadanya semua jalan, yaitu jalan dan sarana untuk
membuka semua kawasan dan negeri yang ada di muka bumi, menghancurkan semua musuh,
serta menundukkan semua raja di bumi, dan mengalahkan semua orang musyrik.
Sesungguhnya dia telah dianugerahi semua jalan untuk mencapai segala sesuatu yang
diinginkannya. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
776
Habib ibnu Hammad yang telah menceritakan bahwa ketika ia berada di tempat
(majelis) Ali radhiyallahu ‘anhu ada seorang lelaki menanyakan kepadanya tentang
Zulqarnain, mengapa dia dapat sampai ke belahan timur dan belahan barat bumi. Ali
radhiyallahu ‘anhu menjawab, "Maha suci Allah, Allah telah menundukkan awan baginya,
telah menganugerahkan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu, serta
menganugerahkan kepadanya kekuasaan yang luas."
777
776
Tafsir Ibnu Katsir
777
Diriwayatkan oleh Ad-Diyaul Maqdisi dalam Al Mukhtarah (hlm. 409) dan dishahihkan editornya. (Tafsir Al
Quranul Adzim)
Islamic Online University Tafsir 202
462




85 86. Maka diapun menempuh suatu jalan 86 hingga apabila Dia
telah sampai ketempat terbenam matahari, Dia melihat matahari
terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan Dia mendapati di
situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh
menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”
Setelah menggambarkan situasi dasar Dzulqarnain, Allah mulai menggambarkan salah satu
perjalanannya: "Maka diapun menempuh suatu jalan," yang berarti bahwa dia mendapat
manfaat dari cara yang diberikan Allah kepadanya dan melakukan perjalanan melalui daratan.
Berbeda dengan beberapa orang yang diberi sarana tetapi tidak mendapat manfaat darinya.
778
"Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari," artinya dia
mengikuti rute sampai mencapai titik terjauh yang bisa dicapai ke arah perputaran matahari,
778
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 126.
Islamic Online University Tafsir 202
463
yaitu di sebelah barat bumi. Adapun gagasan tentang mencapai tempat di langit di mana
matahari terbenam, ini adalah sesuatu yang mustahil.
779
Seorang pensyarah Spanyol dari abad
ketiga belas, al-Qurthubi (w. 1273M), berkata, "Ini tidak dimaksudkan bahwa ia mencapai
dan menyentuh matahari yang sebenarnya di barat dan di timur karena ia berputar dengan
langit di sekitar bumi tanpa menyentuhnya. Dan itu terlalu besar untuk memasuki satu pun
dari mata air bumi; sebenarnya jauh lebih besar dari bumi. Makna yang dimaksudkan di sini
adalah bahwa ia mencapai titik peradaban terjauh di barat dan di timur.”
780
Para penafsir dari masa lalu dan masa kini menjelaskan bahwa ini berarti Dzulqarnain
mencapai ujung bumi ke barat yang setelahnya terbentang Samudra Atlantik karena ia tidak
memiliki sarana untuk melakukan perjalanan lebih jauh.
781
Namun, tidak ada bukti kuat yang
membatasi perjalanannya ke sini, ketika para peneliti abad ke-20 menetapkan adanya
kemungkinan kapal-kapal buluh dari samudera dari Mesir mencapai Amerika pada zaman
Firaun.
782
Jadi, titik terjauh barat bisa jadi adalah Amerika dan lautan di luarnya Samudra
Pasifik.
“Dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam,” yakni
menurut pandangan matanya ia melihat matahari tenggelam di lautan. Demikianlah halnya
setiap orang yang sampai di suatu pantai, akan melihat seakan-akan terbenam di dalamnya.
Padahal matahari itu sendiri tidak pernah meninggalkan garis edar yang telah ditetapkan
baginya. Hami-ah berakar dari kata al-hama-ah menurut salah satu di antara dua qiraat
(dialek) mengenainya, artinya lumpur hitam, seperti pengertian yang terdapat di dalam
firman-Nya:







779
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
780
Al-Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 11, hlm. 43.
781
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 425, Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 127, Adwaul Bayan, jilid 4, hlm. 138.
782
Thor vidal
Islamic Online University Tafsir 202
464
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al
Hijr 15: 28)
Ibnu ‘Abbaas dan Mujaahid juga berpendapat bahwa hami'ah berarti "lumpur
hitam."
783
Dalam hal ini ayat tersebut akan berarti bahwa matahari tampak terbenam dalam
pegas lumpur hitam.
Ibnu ‘Aamir,‘ Aashim, Hamzah, dan al-Kisaa'i menyebut hami'ah sebagai haamiyah
(panas)
784
yang berarti ayat ini berarti bahwa itu nampak akan terbenam di sumber mata air
panas.
Semua makna ini dapat diterima sebagai deskripsi lautan. Dari pantai terlihat hitam
dan di beberapa tempat karena endapan lumpur dapat terlihat berlumpur, atau karena gejolak
(turbulensi), dan di khatulistiwa airnya bisa panas mendidih di siang hari.
“Dan Dia mendapati di situ segolongan umat," yang berarti suatu negeri.
785
Tidak
ada detail lain yang diberikan tentang negeri mana itu karena pusat utama cerita adalah pada
karakter Dzulqarnain sendiri.


Firman Allah, Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau
boleh berbuat kebaikan terhadap mereka," berarti bahwa setelah Allah memberinya
783
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, dan dishahihkan dalam Tafsir Al Quranul Adzim, jilid 4, hlm. 245, catatan kaki.
167.
784
Fathul Qadir, jilid d3, hlm. 425.
785
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
Islamic Online University Tafsir 202
465
kemenangan dan kekuasaan atas mereka, Dia memberinya pilihan tentang bagaimana ia akan
memperlakukan bangsa yang kalah; jika dia mau, dia bisa membunuh para lelaki dan
menawan para perempuan dan anak-anak, atau jika dia mau, dia bisa membebaskan mereka,
dengan atau tanpa tebusan.
786

Menurut Imaam asy-Syaukani, kalimat atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka,”
berarti menyeru mereka kepada kebenaran dan mengajari mereka hukum yang diwahyukan.
787
Dalam kedua kasus itu, pilihan yang diberikan Allah kepadanya sebenarnya
merupakan ujian baginya untuk melihat apakah ia akan memanfaatkan posisinya seperti yang
biasa dilakukan oleh para penakluk atau ia akan sesuai dengan hukum Allah yang seharusnya
ia ikuti. Ratu Bilqis menyinggung perbuatan umum ini di kalangan penguasa dengan
mengatakan:





“Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu
negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan
penduduknya yang mulia Jadi hina; dan demikian pulalah yang akan
mereka perbuat.” (QS. An Naml 27: 34)
Keadilan dan keimananya menjadi nyata dalam hukum yang ia tetapkan.
788
786
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6. Ini sama dengan pilihan yang dihadapi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam sehubungan dengan para tawanan setelah perang Badar. Pada kesempatan tersebut, Nabi shallallahu
'alaihi wasallam memilih pilihan yang kedua, dan Allah menegur beliau karena tidak memilih pilihan pertama.
787
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 425.
788
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
Islamic Online University Tafsir 202
466





87. Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka Kami
kelak akan mengazabnya, kemudian dia akan dikembalikan kepada
Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada
taranya.

“Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, Maka Kami kelak akan
mengazabnya,” yakni ia akan menghukum mati, menurut Qatadah, mereka yang
tetap berada di atas kekufuran dan menyekutukan dengan yang selain Allah dalam
peribadatan kepada Rabb mereka
789
Zhalim “berbuat aniaya” dalam terminologi Al
Quran dapat berarti kesyirikan serta perbuatan mungkar lainnya, akan tetapi dalam
konteks ini, makna yang lebih jelas dimaksudkan adalah kesyirikan,
790
sebagaimana
yang dikatakan Lukman al Hakim kepada putranya,




“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar" (QS. Lukman 31: 13)
789
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
790
Tafsir Al Qurannul Karim, hlm. 127.
Islamic Online University Tafsir 202
467



“Kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab
yang tidak ada taranya,” yakni azab yang pedih, tiada tara dan menyakitkan di akhirat. Ini
mengisyaratkan pembenaran akan adanya Hari Akhir dan beserta pahala dan azabnya.
791
791
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
468



88. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka
baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan
kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami."

Dzulqarnain melanjutkan untuk menjelaskan bagaimana ia akan memperlakukan orang-orang
yang menanggapi seruannya kepada Allah. Dia berkata, “Adapun orang-orang yang
beriman dan beramal saleh,” yakni bahwa siapa saja yang beriman dan mengikuti
Dzulqarnain dalam dakwahnya untuk hanya menyembah Allah saja tanpa menyekutukan
dengan sesuatu yang lain,
792
dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dituntut dari keimanan
tersebut.
Barang siapa yang beriman dan beramal shalih, “Maka baginya pahala yang terbaik
sebagai balasan, yakni mereka akan dijamin dengan pahala terbesar yaitu taman-taman surga
di akhirat denngan Allah.
793
Allah ‘azza wajalla berfirman,
792
Tafsir Ibnu Katsir
793
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
469
 
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya,” (QS. Yunus 10: 26)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa "pahala terbaik" adalah surga
dan "tambahannya" adalah izin untuk melihat wajah Allah.
794
Ada dua poin yang harus diperhatikan di sini: Yang pertama adalah bahwa
Dzulqarnain mengikuti formula yang wahyukan dari Allah tentang mengaitkan antara iman
dengan amal shalih. Tidak ada dalam Al-Qur'an di mana iman disebutkan secara bersendiri.
Namun penyebutan iman selalu diikuti dengan penyebutan amal-amal shalih. Alasan yang
mendasari hal ini adalah bahwa iman tanpa diiringi amal shalih dapat dengan mudahnya
menjadi pengetahuan tentang keyakinan dan bukan keyakinan yang nyata. Di sisi lain, amal
shalih tanpa keyakinan biasanya untuk motif tersembunyi seperti, pamer untuk mendapatkan
pujian dari orang lain (agar orang lain kagum), atau untuk mendapatkan pengaruh atas orang
lain.
Poin kedua adalah bahwa pahala atas amal baik di kehidupan mendatang adalah
pahala sejati yang harus diperjuangkan oleh setiap orang yang beriman. Dalam kehidupan ini
kebaikan tampaknya dibalas oleh kejahatan, dan kejahatan mungkin tampaknya dibalas
dengan kebaikan. Mereka yang mencari pahala dalam kehidupan ini akan kecewa, karena
dasar dari ujian hidup ini adalah kepercayaan pada yang tak terlihat (perkara ghaib) dan
tunduk pada perintah-perintah dari Allah yang tak terlihat.

“Dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah
kami." Mujahid mengatakan bahwa ma'rufan artinya perintah (perkataan-perkataan) yang
794
Shahih Muslim, Kitab: Iman, Bab: Itsbat Ru’yatul mu’minin fil akhirah rabbahum
Islamic Online University Tafsir 202
470
baik.
795
Perkataan yang bebas dari kekerasan atau kesulitan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menggambarkan ajaran Islam dengan istilah yang sama, seraya bersabda, …
Menarik juga untuk dicatat bahwa Dzulqarnain memperingatkan orang-orang kafir
tentang dua masalah; bahwa dia akan menghukum mereka dan bahwa mereka akan kembali
kepada Tuhan mereka dan dihukum bahkan lebih berat. Dia juga membuat dua janji kepada
orang-orang yang beriman; salah satunya yakni surga di kehidupan akhirat dan yang lain dari
jenis kebaikan di dunia ini. Dalam kasus orang-orang kafir, ia mulai dengan hukumannya
sendiri untuk mereka di kehidupan ini, kemudian menambahkan hukuman Allah. Sementara,
dalam kasus orang beriman, ia mulai dengan pahala dari Allah terlebih dahulu kemudian
ditambahkan padanya perlakuan yang baik dalam kehidupan ini. Perbedaan antara keduanya
jelas karena tujuan orang beriman adalah surga yang lebih disukai daripada kata-kata lembut.
Di sisi lain, hukuman dalam kehidupan ini lebih ringan dan akan mendahului hukuman di
kemudian hari. Lebih jauh lagi, orang-orang kafir takut akan azab duniawi lebih dari azab di
akhirat karena dia tidak percaya pada azab akhirat.
796
795
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
796
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 128-9.
Islamic Online University Tafsir 202
471




89 90. Kemudian Dia menempuh jalan (yang lain) 90 hingga apabila
Dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) Dia
mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak
menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya)
matahari itu.

“Kemudian Dia menempuh jalan (yang lain) hingga apabila Dia telah sampai ke tempat
terbit matahari (sebelah Timur),” Allah memberi tahu kita bahwa Dzulqarnain kemudian
melakukan perjalanan dari titik terjauh ke barat di bumi menuju titik terjauh di timur. Timur
dan barat disebutkan dan bukan utara dan selatan karena sebagian besar peradaban bumi
terkonsentrasi antara timur dan barat. Oleh karena itu, ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
berbicara tentang seluruh bumi, beliau menggunakan ungkapan yang sama,
َ
لﺎ
َ
َ
نﺎ
َ
ْ
َ
ـﺛ
ْ
َ
ِ
ﱄ ى
َ
و
َ
ز
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ي
ِ
و
ُ
ز ﺎ
َ
ﻣ ﺎ
َ
ُ
ْ
ُ
ُ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
َ
ِ
ُ
أ
ن
ِ
إ
َ
و ﺎ
َ
َ
ـﺑ
ِ
رﺎ
َ
َ
َ
و ﺎ
َ
َ
ـﻗ
ِ
رﺎ
َ
َ
ُ
ْ
َ
أ
َ
َ
ـﻓ
َ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
َ
ْ
ـﻨ
ِ
ِ
Dari Tsauban berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan
Islamic Online University Tafsir 202
472
baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang
dihimpunkan untukku.”
797
Utara dan selatan tidak disebutkan sebagai titik terjauh karena titik terjauh yakni kutub
utara dan selatan benar-benar tertutup salju dan es dan hampir tidak ada yang tinggal di
sana.
798
Setiap kali dia menemukan sebuah bangsa, dia menaklukkan mereka dan menyeru
mereka untuk menyembah Allah saja sebagaimana yang dia lakukan pada jalan sebelah barat.
Jika mereka mematuhinya, dia memperlakukan mereka dengan mulia dan memberi mereka
status; kalau tidak, dia akan mempermalukan mereka dan mengambil kekayaan dan harta
benda mereka. Dari setiap negara yang dikalahkan dia akan mengambil apa yang dibutuhkan
pasukannya untuk menaklukkan bangsa berikutnya.
799
Ketika dia mencapai tempat di mana
matahari terbit, seperti Firman Allah,


“Dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan
bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” Mereka tidak
memiliki rumah tidak pula pakaian; mereka bertelanjang kaki dan telanjang.
800
Qatadah
mengatakan bahwa mereka tidak memiliki gua atau rumah untuk melindungi mereka dari
matahari karena bangunan-bangunan tidak bisa tegak berdiri di tanah mereka, maka mereka
tinggal di gua-gua besar di bawah tanah.
801
Sebagian dari mufassirin awal menyatakan bahwa
yang dimaksud kaum ini adalah Zenj, orang-orang di Afrika Timur (yang sekarang dikenal
dengan nama Zanzibar), sebagian dari mereka biasa berjalan dengan sungguh-sungguh
telanjang.
802
797
Shahih Muslim, Kitab: Al Fitan wa asyraatus saa’ah, Bab: Halaak hadzihil Ummah
798
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 129.
799
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
800
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 426.
801
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 11, hlm. 460.
802
Tafsir ‘Abdur-Razzaq, jilid 2, hlm. 412.
Islamic Online University Tafsir 202
473


91. Demikianlah. Dan Sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa
yang ada padanya.

Tidak ada detail tentang apa yang dilakukan Dzulqarnain terhadap orang-orang ini.
Kalimat, “Kadzalika (demikianlah, atau seperti itu) dapat berarti, “[Ia meninggalkan mereka
seperti] Demikianlah,” atau dapat berarti pula, “Matahari terbit menyinari manusia
sebagaimana ia menyinari mereka ketika terbenamnya dan Dzulqarnain memperlakukan
mereka sebagaimana ia memperlakukan bangsa yang tinggal di ujung barat terkait dengan
hukuman bagi orang-orang kafir dan orang-orang yang berbuat dosa, dan memberi imbalan
mereka yang beriman dan beramal shalih.”
“Dan Sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” Mujahid dan As
Suddi mengatakan, “Ini berarti bahwa Allah mengetahui tentang Dzulqarnain dan bala
tentaranya, tidak ada yang tersemnunyi dari-Nya, bahkan meskipun mereka berasal dari
begitu banyak bangsa dan negeri. Karena,

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di
bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali Imran 3: 5)
803
803
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6
Islamic Online University Tafsir 202
474





92 93. Kemudian Dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi), 93
hingga apabila Dia telah sampai di antara dua buah gunung, Dia
mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak
mengerti pembicaraan.
“Kemudian Dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi),” yakni yang berlawanan dengan
timur dan selatan, berarti ia menempuh perjalanan ke arah utara.
804
“Hingga apabila Dia telah sampai di antara dua buah gunung,” yakni ia mengikuti jalan
ke tiga menuju arah utara hingga ia mencapai lembah di antara dua gunung yang sangat besar.
804
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 429.
Islamic Online University Tafsir 202
475



Allah ta’ala menjelaskan bahwa, “Dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum
yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” Sebagian ulama mengatakan bahwa lokasi
bangsa ini berada di balik dua gunung sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa
mereka berada di hadapan gunung.
805
Kata yafqahuna (memahami) dapat juga dibaca
yufqihuna (memahamkan orang lain) menurut Hamzah dan al-Kasa’i. Bersama-sama, kedua
bacaan tersebut mengindikasikan bahwa mereka tidak dapat memahami apa yang dikatakan
orang lain dan tidak pula orang lain memahami apa yang dikatakan orang lain.
806
Dzulqarnain
dan orang-orang yang bersamanya mengalami kesulitan besar untuk memahami pembicaraan
mereka, karena bahasa mereka aneh dan bangsa ini mungkin telah terisolasi dari bangsa lain
dalam jangka waktu yang lama.
807
805
Istilah dunihima bisa bermakna keduanya. Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 429.
806
Al-Jami’ li ahkamil quran, jilid 11, hlm. 47 dan Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 429.
807
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
476


94. Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj
itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, Maka
dapatkah Kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya
kamu membuat dinding antara Kami dan mereka?"
“Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain,” Para ulama tafsir menduga bahwa kemampuan
Dzulqarnain untuk memahami bahasa mereka merupakan sarana yang dianugerahkankan
Allah kepadanya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa ini dikatakan kepada penerjemah
mereka.
808

“Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka
bumi.”
Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa umat manusia dari anak keturunan Adam,
alaihissalam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam
riwayat berikut dari Abu Sa’id al-Khudri berikut,
808
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 429.
Islamic Online University Tafsir 202
477
َ
ْ
َ
َ
ِ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
ْ
ﳋا
َ
و
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
ْ
ـﺒ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
م
َ
دآ ﺎ
َ
َ
ﱃﺎ
َ
َ
ـﺗ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
ِ
ٍ
ْ
َ
أ
ُ
ْ
ِ
َ
لﺎ
َ
ِ
رﺎﻨﻟا
ُ
ْ
َ
ـﺑ
َ
َ
و
َ
لﺎ
َ
ِ
رﺎﻨﻟا
َ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
ج
ِ
ْ
َ
أ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ُ
ِ
ﺼﻟا
ُ
ﺐﻴ
ِ
َ
ُ
َ
ْ
ِ
َ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
و
ً
َ
ْ
ِ
َ
و
ٍ
َ
ﺋﺎ
ِ
}
ٍ
ْ
َ
ِ
تا
َ
ذ
ُ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
با
َ
َ
ِ
َ
َ
و ى
َ
رﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
َ
َ
و ى
َ
رﺎ
َ
ُ
َ
سﺎﻨﻟا ى
َ
َ
ـﺗ
َ
و
َ
َ
ْ
َ
{
ٌ
ﺪﻳ
ِ
َ
ن
ِ
َ
او
ُ
ِ
ْ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
ُ
ِ
ﺣا
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
َ
ذ
َ
ـﻳ
َ
أ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ً
ْ
َ
أ
َ
ج
ُ
ْ
َ
َ
و
َ
ج
ُ
ْ
َ
ْ
ِ
َ
و
ً
ُ
َ
ر
ْ
ُ
ْ
ِ
ِ
ِ
َ
ِ
ِ
ْ
َ
ـﻧ ي
ِ
ﻟا
َ
و
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
ْ
ـﺒ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ْ
َ
أ
َ
ُ
ُ
ر ا
ُ
ُ
َ
ْ
ن
َ
أ ﻮ
ُ
ْ
ر
َ
أ
ِ
إ
"Allah Ta'ala berfirman: "Wahai Adam." Nabi Adam 'Alaihissalam
menjawab: "Labbaika, kemuliaan milik-Mu dan segala kebaikan berada di
tangan-Mu." Kemudian Allah berfirman: "Keluarkanlah utusan neraka."
Adam bertanya: "Apa yang dimaksud dengan utusan neraka? (berapa
jumlahnya?)" Allah berfirman: "Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan
puluh Sembilan dijebloskan neraka. Ketika perintah ini diputuskan, maka
anak-anak belia menjadi beruban, {Dan setiap wanita hamil kandungannya
berguguran dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidaklah mabuk
akan tetapi (mereka melihat) siksa Allah yang sangat keras.} (Al Hajj: 2),
Para shahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, adakah diantara kami
seseorang yang selamat?" Beliau bersabda: "Bergembiralah, karena setiap
seribu yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang Sembilan
ratus sembilan puluh sembilannya dari Ya'juj dan ma'juj." Kemudian Beliau
bersabda: "Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap
kalian menjadi di antara seperempat ahlu surga." Maka kami pun
bertakbir.
809
809
Shahih al-Bukhari, Kitab: Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para nabi, Bab: Kisah Ya’juj dan Ma’juj
dan Shahih Muslim, Kitab: Iman, Bab: Sabda beliau, “Allah berkata kepada Adam, “Masukkanlah ke dalam
neraka setiap seribu sejumlah sembilan ratus sembilan puluh orang.”
Islamic Online University Tafsir 202
478
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan penampilan [fisik] Ya’juj dan
Ma’juj dengan sangat jelas dan nyata dalam hadits berikut ini,
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
ِ
ِ
َ
ﻟﺎ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ْ
َ
ِ
ْ
ﺑا
ِ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
َ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﺗ
ْ
ُ
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ٍ
ب
َ
ْ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ْ
ِ
ُ
َ
َ
ـﺒ
ْ
ِ
إ
ٌ
ِ
ﺻﺎ
َ
َ
ُ
َ
و
َ
َ
َ
و
ُ
ِ
ﺗﺎ
َ
ُ
ـﺗ
َ
ن
ُ
ﻟا
َ
َ
ـﺗ
َ
ْ
ُ
ِ
إ
َ
و
و
ُ
َ
ُ
ج
ُ
ْ
َ
َ
و
ُ
ج
ُ
ْ
َ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ا
و
ُ
َ
َ
ن
َ
ن
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻳ
ٍ
ب
َ
َ
ُ
ْ
ِ
ِ
فﺎ
َ
ﺸﻟا
ُ
ْ
ُ
ِ
ن
ُ
ُ
ْ
ﻟا
ُ
رﺎ
َ
ِ
ِ
ُ
ُ
ْ
ﻟا
ُ
ضا
َ
ِ
ُ
َ
َ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
نﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ُ
َ
ُ
ُ
و
ن
َ
َ
Dari Ibnu Harmalah dari bibinya berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam berkhutbah seraya menegakkan jari beliau karena disengat
kalajengking, beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian mengatakan tidak ada
musuh dan sesungguhnya kalian akan senantiasa memerangi musuh hingga
Ya`juj dan Ma`juj muncul, mukanya lebar, matanya sipit, jambul rambutnya
berwarna putih, mereka turun dari tempat-tempat tinggi, wajah mereka
seperti perisai yang ditempa (tebal dan keras).
810
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga menggambarkan bangsa Turki dengan cara
demikian sebagaimana dalam riwayat berikut ini,
811
َ
لﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ُ
َ
ﻋﺎ
ﺴﻟا
ُ
م
ُ
َ
ـﺗ
َ
َ
ْ
ُ
ذ
ِ
ُ
ُ
ْ
ﻟا
َ
ْ
ُ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
ﻷا
َ
رﺎ
َ
ِ
َ
ك
ْ
ـﺘﻟا ا
ُ
ِ
ﺗﺎ
َ
ُ
ـﺗ
َ
ِ
ف
ُ
ُ
ْ
ﻷا
ْ
ﻟا
نﺎ
َ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ُ
َ
ُ
ُ
و
ن
َ
َ
َ
ُ
َ
ﻋﺎ
ﺴﻟا
ُ
م
ُ
َ
ـﺗ
َ
َ
و
ُ
َ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
ﺸﻟا
ْ
ُ
ُ
ﳍﺎ
َ
ِ
ﻧ ﺎ
ً
ْ
َ
ـﻗ ا
ُ
ِ
ﺗﺎ
َ
ُ
ـﺗ
810
Musnad Ahmad, no. 21299 (CD). Terdapat deskripsi lain yang dalam kitab-kitab tafsir yang menggambarkan
Ya’juj dan Ma’juj sebagai bangsa yang sangat kecil dan pendek, atau tinggi dan besar, sebagian mengatakan
mereka memiliki cakar seperti cakarnya binatang buas, namun semua itu tidak memiliki dalil yang shahih.
(Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 430)
811
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 11, hlm. 50.
Islamic Online University Tafsir 202
479
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian memerangi bangsa
Turki yang bermata kecil (sipit), berwajah merah dan berhidung pesek,
wajah-wajah mereka seperti perisai ditambal dan kiamat tidak akan terjadi
hingga kalian memerangi suatu kaum bersandalkan rambut."
812
Karena kesamaan dalam deskripsi, sebagian mufassirin Al-Qur'an merasa bahwa
mereka pastilah orang-orang Mongol yang terkait dengan Turki. Selama masa Jenghis Khan
(1162-1227), mereka keluar dari Mongolia seperti gelombang pasang yang menghancurkan,
memusnahkan segala sesuatu dengan cara mereka dan membantai orang sampai jalan-jalan
dan sungai mengalir dengan darah korban mereka. Mereka menyebarkan malapetaka dari
tanah air mereka di Mongolia sampai ke Baghdad. Akibatnya, sebagian mufassirin
menyimpulkan bahwa gerombolan buas ini pastilah Ya’juj dan Ma’juj.
Namun, ada sejumlah kisah terperinci lainnya tentang insiden besar yang diberikan
Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) tentang Ya’juj dan Ma’juj yang belum terjadi. Dengan
demikian, aman untuk mengasumsikan bahwa bangsa Mongol tidak mungkin mereka sebagai
Ya’juj dan Ma’juj.
Deskripsi Ya’juj dan Ma’juj dalam literatur Yahudi dan Kristen seringkali saling
bertentangan. Akibatnya, tidak ada gambaran yang jelas tentang siapa mereka sebenarnya.
“Ya’juj, dalam Alkitab, adalah kekuatan bermusuhan yang diperintah oleh Setan yang akan
memanifestasikan dirinya segera sebelum akhir dunia (Wahyu 20). Dalam perikop Alkitab
dalam Wahyu dan dalam literatur apokaliptik Kristen dan Yahudi lainnya, Ya’juj bergabung
dengan kekuatan musuh kedua, Ma’juj; tetapi di tempat lain (Yeh. 38; Kej. 10: 2) Ma’juj
rupanya adalah tempat asal Ya’juj.”
813
Alkitab juga menyebut "Ma’juj" sebagai putra kedua
Yafet antara Gomer (Cimmerians) dan Madai (Media). Tetapi dalam daftar negara-negara
dalam Kejadian 10, istilah ini berkonotasi dengan orang-orang barbar yang tinggal di ujung
utara dan timur laut bumi dan dalam Yehezkiel 39: 6, Ma’juj disebut sebagai orang utara,
yang pemimpinnya disebut Ya’juj. Menurut Jewish Encyclopaedia, artikel "Gog and Magog
(Ya’juj dan Ma’juj)," Josephus mengidentifikasi mereka sebagai Scythians, sebuah nama
812
Shahih Bukhari, kitab: Al Manaqib, Bab: Tanda-tanda kenabian dalam Islam, dan Shahih Muslim, Kitab:
Fitnah dan Tanda Kiamat, Bab: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ketika seseorang melewati kuburan
kemudian ia mengucapkan…, Misykat, jilid 2, hlm. 1129.
813
The New Encyclopaedia Britannica, jilid 5, hlm. 330.
Islamic Online University Tafsir 202
480
yang merujuk pada sejumlah suku ganas yang tidak diketahui. Menurut Jerome, Ma’juj
terletak di luar Kaukasus dekat Laut Kaspia.
814

Orang-orang mengeluh kepada Dzulqarnain tentang Ya'juj dan Ma'juj dengan mengatakan,
"Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka
bumi." Para ulama berbeda pendapat mengenai sifat kerusakan yang mereka lakukan.
Sebagian ulama mengatakan bahwa mereka memakan manusia; yang lain mengatakan bahwa
yang dimaksud adalah penindasan, pembunuhan dan bentuk kerusakan lainnya, dan yang lain
mengatakan mereka benar-benar menghabiskan hasil panen dari negara-negara tetangga.
815
Semua deskripsi ini, kecuali yang pertama, dapat ditemukan dalam ramalan tentang perbuatan
mereka yang merusak selama periode mereka menguasai dunia.
Setelah menjelaskan situasi mereka, orang-orang dengan hormat meminta bantuan
Dzulqarnain dengan mengatakan, "Maka dapatkah Kami memberikan sesuatu
pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara Kami dan mereka?"
Mereka meminta agar ia membangun dinding untuk memisahkan mereka dan melindungi
mereka dari perbuatan jahat Ya’juj dan Majuj. Mereka menawarkan sebagian dari kekayaan
mereka untuk memastikan mendapatkan bantuannya, bukan karena mereka berpikir bahwa
seorang penguasa yang telah menaklukkan timur dan barat membutuhkannya.
816
814
The New Encyclopaedia Britannica, jilid 5, hlm. 330.
815
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 430.
816
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 133.
Islamic Online University Tafsir 202
481
Faidah
Ayat ini berisi dalil untuk membangun penjara, dan memenjarakan para perusak dan
mencegah mereka dari berbuat sesuai keinginan mereka, dan tidak membiarkan mereka
melakukan apa pun yang mereka lakukan. Sebaliknya mereka harus dipukul dan dipenjara
atau didenda dan dibebaskan seperti yang dilakukan Umar ibn al-Khattaab.
817
Tidak ada
penjara selama masa kenabian atau Khalifah pertama, jadi dibangunnya penjara adalah
masalah ijtihaad dari pihak Khalifah kedua.
817
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 11, hlm. 51.
Islamic Online University Tafsir 202
482





95. Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku
kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, Maka tolonglah aku dengan
kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding
antara kamu dan mereka.”
Dzulqarnain, sebagai seorang yang shalih dan mengetahui bahwa Allah menyediakan
pahala yang lebih baik baginya jika ia menolong mereka, menolak untuk dibayar. Allah ta’ala
berfirman dengan menyebutkan perkataannya,



“Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku
terhadapnya adalah lebih baik,” yakni kekuatan dan kekuasaan yang diberikan Allah
kepadaku lebih baik bagiku dibandingkan dengan apa yang engkau kumpulkan. Pernyataan
ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman, alaihissalam, ketika hadiah-hadiah
dibawakan kepadanya dari Ratu Bilqis,




"Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang
diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya
kepadamu.” (QS. An Naml 27: 36)

Islamic Online University Tafsir 202
483
Sebagai gantinya, Dzulqarnain hanya meminta beberapa laki-laki untuk membantunya
membangun dinding yang bahkan lebih besar dari pada apa yang mereka minta
818
seraya
berkata, “Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku
membuatkan dinding antara kamu dan mereka.”
819
FAIDAH-FAIDAH TENTANG PENGUASA
Ayat ini berisi dalil bahwa wajib bagi penguasa (pemerintah) untuk melindungi jiwa
rakyatnya, memperbaiki kerusakan harta benda mereka, dan menjaga hak-hak dan kekayaan
mereka, bahkan jika kekayaannya sendiri digunakan untuk memenuhi hak-hak mereka dan
memberikan bantuan kepada mereka. Namun, rakyatnya juga harus mengganti kerugiannya
dari kekayaan mereka jika diperlukan. Penguasa juga harus memberi mereka manfaat dari
keragu-raguan ketika berurusan dengan mereka. Bantuan harus diberikan sesuai dengan tiga
syarat:
1. Pertama, ia tidak boleh memihak pada sebagian rakyatnya daripada yang lain.
2. Kedua, ia harus mulai dengan membantu yang paling membutuhkan, kemudian yang
membutuhkan dan seterusnya.
3. Ketiga, ia harus membelanjakannya secara setara atau merata sesuai dengan keadaan
mereka.
Ketika DzulQarnain ditawari uang untuk menghalangi serangan Ya’juj dan Ma’juj
yang mereka takuti, dia memberi tahu orang-orang bahwa kekayaan yang dia miliki sudah
mencukupi dan yang dia butuhkan adalah tenaga mereka. Dia dapat melihat bahwa kekayaan
mereka hampir tidak cukup untuk kebutuhan mereka sendiri. Jadi, jika dia menerima upah, itu
akan mengurangi apa yang dia butuhkan dari mereka dan pahala akan diberikan kepada
mereka. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa tenaga sukarela lebih tepat. Pedoman utama
yang harus diikuti dalam hal ini adalah bahwa tidak ada kekayaan yang dapat dibelanjakan
secara sah kecuali ada kebutuhan nyata. Jika memang ada, maka kekayaan tersebut harus
diambil secara terang-terangan dan tidak diam-diam, dan dibelanjakan secara adil dan tidak
ada pengistimewaan, dan itu harus dilakukan sesuai dengan pendapat masyarakat dan tidak
secara sepihak.
820
818
Mereka minta dibuatkan saddan (dinding) dan Dzulqarnain menjanjikan kepada mereka radman (dinding
yanng kokoh). Lihat Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 134
819
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
820
Al-Jami’ li ahkamil quran, jilid 11, hlm. 52.
Islamic Online University Tafsir 202
484




96. “Berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu
telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah
Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)," hingga apabila besi itu sudah
menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga
(yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu."

“Berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan
kedua (puncak) gunung itu,” Dzulqarnain menyuruh mereka untuk menumpuk potongan-
potongan besi di atas satu sama lain sampai dia membuat dinding yang membentang dari satu
sisi lembah ke yang lain menghubungkan sisi kedua gunung.

“Berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)," hingga apabila besi itu sudah menjadi
(merah seperti) api.”
Setelah tembok selesai, api dinyalakan di samping dinding, dengan sebuah puputan
(peniup api) digunakan untuk meniup udara dari api ke dinding sampai menjadi merah,
kemudian menjadi putih panas.
Islamic Online University Tafsir 202
485

“Diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas
besi panas itu."
Dia kemudian memerintahkan mereka untuk menuangkan tembaga cair ke dinding
yang sangat panas itu, melapisi dan menyatu dengannya, dan mengubahnya menjadi sebuah
bangunan tunggal yang kokoh.
821
Ibn Jarir meriwayatkan dari Qataadah bahwa seorang lelaki memberi tahu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bahwa ia telah melihat dinding Ya’juj dan Ma’juj, dan dia
bertanya, "Jelaskanlah kepadaku." Laki-laki itu menjawab, "Dinding itu seperti jubah warna-
warni, dengan garis-garis hitam dan merah." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata,
"Sesungguhnya kamu telah melihatnya."
822
Catatan sejarah Muslim menyebutkan bahwa pada abad ke-9, pada masa pemerintahan
Bani Abbasiyah Khalifah Al-Waatsiq, suatu ekspedisi dikirim untuk mencari dan
mengidentifikasi lokasi dinding Dzulqarnain di Asia Tengah. Mereka melakukan perjalanan
dari satu negara ke negara yang lain dan dari satu kerajaan ke kerajaan lain sampai mereka
menemukannya dan melihat strukturnya terbuat dari besi dan tembaga. Mereka menyebutkan
bahwa mereka melihat di dinding sebuah pintu besar dengan kunci yang sangat besar. Mereka
juga melihat beberapa balok bangunan sisa di menara dari bangunan aslinya. Utusan Al-
Waatsiq ini juga melihat penjaga menjaga tembok dari kerajaan sekitar. Dindingnya tidak bisa
ditembus dan sangat tinggi. Mereka kembali setelah periode penjelajahan selama lebih dari
dua tahun.
823
821
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 134.
822
Tafsir At-Thabari, jilid 8, hlm. 275. Hadits ini mursal sehingga digolongkan sebagai hadits yang tidak shahih.
823
Tafsir Al Quranul ‘Adzim, jilid 4, hlm. 251.
Islamic Online University Tafsir 202
486


97. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula)
melobanginya.

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.”
Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu untuk mengukurnya karena terlalu tinggi dan terlalu halus,
mereka juga tidak dapat mengebornya karena terlalu kuat.
824
Dalam kasus pertama digunakan
bentuk kata kerja istha’uu dan dalam kasus kedua digunakan kata kerja istatha’u. Keduanya
bersinonim, yang pertama hanya merupakan bentuk yang disingkat dari bentuk yang kedua.
Huruf-huruf tambahan dalam bentuk kedua menunjukkan kesulitan yang lebih besar daripada
yang pertama di mana hal ini merupakan faktanya. Menggali atau mengebor lubang melalui
dinding jauh lebih sulit daripada memanjat gunung atau dinding.
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
َ
َ
ْ
ـﻳ
َ
ز
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ن
َ
أ
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
َ
َ
َ
د
َ
َ
َ
و
ْ
َ
َ
ْ
ِ
ِ
ب
َ
َ
ْ
ِ
ٌ
ْ
َ
و
ُ
ﻠﻟا
ِ
إ
َ
َ
ِ
إ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ً
ِ
َ
ِ
ِ
َ
ْ
ِ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ِ
َ
ُ
ْ
ِ
َ
ج
ُ
ْ
َ
َ
و
َ
ج
ُ
ْ
َ
ِ
م
ْ
د
َ
ر
ْ
ِ
َ
م
ْ
َ
ـﻴ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ُ
َ
ب
َ
َ
ـﺘ
ْ
ـﻗا
ُ
َ
ر
َ
ُ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
ٍ
ْ
َ
ُ
ْ
ِ
ُ
َ
ْ
ـﻳ
َ
ز
ْ
َ
ﻟﺎ
َ
َ
ﻬﻴ
ِ
َ
ِ
ﻟا
َ
و
ِ
مﺎ
َ
ْ
ـﺑ
ِ
ْ
ﻹا
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
َ
ْ
ﳋا
َ
ُ
ـﺜ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
ْ
َ
َ
ـﻧ
َ
لﺎ
َ
َ
ن
ُ
ِ
ﳊﺎ
ﺼﻟا ﺎ
َ
ﻨﻴ
ِ
َ
و
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻧ
َ
أ
824
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 135.
Islamic Online University Tafsir 202
487
Dari Zainab binti Jahsy radliyallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: "Laa ilaaha
illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, hari ini
telah dibuka benteng Ya'juj dan Ma'juj seperti ini." Beliau memberi isyarat
dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy
berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa
sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?" Beliau
menjawab: "Ya, benar jika keburukan telah merajalela."
825
Allah subhanahu wata’ala telah memperingatkan orang-orang beriman dari azab-Nya
yang menimpa tidak hanya pada orang-orang yang fajir (buruk) saja namun juga menimpa
orang-orang yang baik,





“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa
Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfal 8: 25)
Oleh karena itu, orang-orang mukmin diperintahkan untuk memilih teman-teman
mereka dengan hati-hati dan untuk menghindari tempat-tempat kemungkaran.
َ
لﺎ
َ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ﻦﻳ
ِ
د ﻰ
َ
َ
ُ
ء
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
ِ
ﻟﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ٌ
َ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
و
ُ
ِ
ﻟﺎ
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
َ
أ
ْ
ُ
ْ
َ
ـﻴ
ْ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ﻠﻴ
ِ
َ
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Seseorang itu bergantung kapada agama teman dekatnya, maka
825
Shahih al-Bukhari, Kitab: Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para nabi, Bab: Kisah Ya’juj dan Ma’juj
Islamic Online University Tafsir 202
488
lihatlah salah satu dari kalian siapa yang dia jadikan sebagai temannya
bergaul."
826
826
Musnad Ahmad, no. 8065. (CD)
Islamic Online University Tafsir 202
489





98. Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku,
Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya
hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar".


Setelah selesai dibangun dinding itu, “Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat
dari Tuhanku.” Dia menyandarkan pelaksanaan proyek besar ini kepada Allah dan rahmat-
Nya, dan bukan kepada dirinya sendiri, dimana itu merupakan jalan yang ditempuh hamba-
hamba Allah yang shalih.
827

Dzulqarnain kemudian melanjutkan dengan menyampaikan nubuat tentang masa depan
tembok itu dengan mengatakan, "Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan
menjadikannya hancur luluh." Yang dimaksud "Janji Tuhanku" bisa jadi pada saat
kemunculan Ya’juj dan Ma’juj atau juga masa menjelang datangnya Hari Kiamat.
828
Ketika
waktu yang ditentukan tiba, terlepas dari ukuran dan kekuatan tembok yang sangat besar,
niscaya akan runtuh juga karena kehendak Allah.
827
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 135.
828
Al-Jami’ li ahkamil quran, jilid 11, hlm. 50, dan Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 431.
Islamic Online University Tafsir 202
490
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj menggali lubang setiap harinya. Ketika
mereka nyaris melihat cahaya matahari, maka pemimpin mereka berseru,
'Kembalilah, kita akan menggalinya esok hari.' Maka Allah
mengembalikannya melebihi dari yang sebelumnya. Dan ketika masa
mereka telah sampai, dan Allah hendak mengirim mereka kepada manusia,
maka mereka kembali menggali sampai ketika mereka nyaris melihat
cahaya matahari, maka salah satu dari pemimpin mereka berseru,
'Kembalilah, kalian akan menggalinya esok hari, jika Allah mengizinkan.'
Maka mereka menunggu, lalu mereka kembali lagi ke tempat penggalian
yang bentuknya masih seperti semula disaat mereka meninggalkannya.
Maka mereka terus menggalinya dan akhirnya mereka dapat keluar kepada
manusia….
829

Dzulqarnain mengakhiri ramalannya dengan mengatakan, "Dan janji Tuhanku itu adalah
benar," yang berarti bahwa janji Allah mengenai kemunculan Ya’juj dan Ma’juj pasti terjadi.
Jika itu tidak terjadi, itu bisa berarti bahwa Allah tidak dapat mewujudkannya atau bahwa Dia
berbohong tentang hal itu, di mana kedua hal ini mustahil disandarkan pada Allah.
829
Sunan Ibnu Majah, jilid 5, hlm. 389, no. 4080, dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3289
dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 2276
Islamic Online University Tafsir 202
491
 
99. Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu
dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami
kumpulkan mereka itu semuanya.
Allah ‘azza wajalla kemudian meggambarkan dengan singkat apa yang akan terjadi ketika
dinding itu runtuh dengan berfirman, Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk
antara satu dengan yang lain.” Dalam surat yang lain Allah menambahkan detail lebih
lanjut dengan firman-Nya,




“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka
turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.(QS. Al Anbiya
21: 96)
Tanda-Tanda Kiamat Kubra
Kemunculan Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu di antara tanda-tanda Kiamat Kubra.
Hudzaifah ibnu Usaid meriwayatkan bahwa pada satu kesempatan Nabi (shallallahu 'alaihi
wasallam) datang kepada para sahabat ketika mereka sibuk berdiskusi:
Islamic Online University Tafsir 202
492
Hudzaifah bin Usaid berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berada di
kamar sementara kami berada dibawah, beliau melihat kami dari atas lalu
bertanya: "Apa yang kalian bicarakan?" Kami menjawab: Kiamat. Beliau
bersabda: "Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda-
tanda: longsor di timur, longsor di barat dan longsor di jazirah arab,
kabut,
830
Dajjal, binatang bumi,
831
Ya'juj dan Ma'juj, terbitnya matahari
dari barat dan api muncul dari dasar lembah Aden yang menggiring
manusia."
832
Dalam hadits yang shahih Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan tentang
Ya’juj dan Ma’juj. Diceritakan bahwa kemunculan Ya’juj dan Ma’juj akan terjadi pada masa
Dajjal. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan bahwa Dajjal akan menguasai bumi
selama Empat puluh hari. Satu hari ketika Dajjal berkuasa seperti setahun, satu hari kedua
seperti sebulan, dan satu hari ketiga seperti satu pekan dan hari-hari lainnya seperti hari-hari
kita biasanya.
833
Para sahabat Nabi bertenya kepada beliau tentang bagaimana mereka
menentukan waktu-waktu shalat selama tiga hari pertama itu dan beliau menjawab agar
mereka memperkirakan sendiri ukuran waktu-waktunya. Fakta bahwa satu-satunya
pertanyaan yang mereka ajukan terkait masa Dajjal berkuasa adalah tentang shalat mereka
dan bukan tentang keselamatan mereka menunjukkan betapa ikhlasnya para sahabat dalam
beragama. Jawaban Nabi juga memberikan dasar untuk menghitung waktu-waktu shalat di
wilayah bumi yang mendapatkan siang hari selama enam bulan dan malam harinya juga
selama enam bulan, atau stasiun ruang angkas internasional di luar bumi atau bahkan di planet
Mars. Pada akhir masa berkuasanya Dajjal, Nabi Isa (alaihissalam) akan turun ke bumi dan
memimpin orang-orang beriman dalam perang melawan Dajjal. Nabi Isa dan orang-orang
beriman akan mengalahkan pasukan Dajjal dan Nabi Isa akan membunuhnya.
An Nawwas bin Sam’an meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda,
Setelah itu Isa putra Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh
Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan
tingkatan-tingkatan mereka disurga. Saat mereka seperti itu, Allah
mewahyukan padanya: 'Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-
830
Surat Ad Dukhan 44: 10.
831
Surat An-Naml 27: 82.
832
Shahih Muslim (Terj. Bahasa Inggris) jilid 4, hlm. 1503-1504, no. 6931
833
Shahih Muslim.
Islamic Online University Tafsir 202
493
hambaKu, tidak ada yang bisa memerangi mereka,
834
karena itu giringlah
hamba-hambaKu ke Thur. Allah mengirim Ya'juj dan Ma'juj, 'Dari segala
penjuru mereka datang dengan cepat.' (Al Anbiyaa`: 96)
835
Kekuasaan Ya’juj dan Ma’juj
Abu Sa'id Al Khudri ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
"Akan dibuka (tembok) Ya`juj dan Ma`juj hingga mereka keluar membaur
di tengah-tengah manusia, sebagaimana firman Allah: “…dan mereka
turun dengan cepat dari seluruh tempat yang Tinggi.”
836
Kemudian
mereka memenuhi bumi dengan kerusakan, dan orang muslim semuanya
bergabung di satu kota dalam satu benteng dan mengkandangkan semua
binatang ternaknya untuk menghindari kerusakan yang ditimbulkan oleh
Ya'juj dan Ma'juj. Kemudian Ya'juj dan Ma'juj meminum air dari bumi
sehingga sebagian dari mereka melintasi sebuah sungai lalu meminumnya
sampai sungai tersebut kering dan membuat orang yang datang setelahnya
terheran-heran seraya mengatakan: "Dahulu di sini pernah ada air!"
Sehingga tidak ada seorangpun yang hidup kecuali orang-orang yang
berada di dalam benteng atau kota, kemudian salah seorang dari mereka
berkata: "Penduduk bumi sudah kita habiskan semuanya, dan yang tersisa
hanyalah penduduk langit." Maka salah seorang dari mereka
mengacungkan tombaknya lalu melemparkannya ke langit dan kembali
dengan membawa darah sebagai fitnah bagi manusia.
837
Akhir Riwayat Mereka
An Nawwas bin Sam’an meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda,
834
Hikmah di balik Allah memberikan kekuasaan pada Nabi Isa untuk mengalahkan Dajjal dan tidak untuk
Ya’juj dan Ma’juj adalah untuk menekankan kekurangan Nabi Isa dan untuk menetapkan bahwa hanya Allah-
lah yang tidak terkalahkan. Ini untuk mencegah manusia dari kembali untuk menyembahnya lagi. Selain itu,
wafatnya beliau segera setelah itu di bumi juga menekankan bahwa beliau adalah manusia biasa.
835
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1516-8, no. 7015.
836
QS Al Anbiya 21: 96)
837
Sunan Ibnu Majah, jilid 5, hlm. 387-8, no. 4079 dan dishahihkan dalam Shahih SUnan Ibnu Majah, no. 3297.
Islamic Online University Tafsir 202
494
Nabi Allah Isa dan para sahabatnya dikepung hingga kepala kerbau milik
salah seorang dari mereka lebih baik dari seratus dinar milik salah seorang
dari kalian saat ini, lalu nabi Allah Isa dan para sahabatnya menginginkan
Allah mengirimkan cacing di leher mereka lalu mereka mati seperti matinya
satu jiwa….”
838
Abu Sa'id Al Khudri meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
Ketika mereka dalam keadaan demikian, Allah mengutus sekawanan
belatung di leher mereka keluar ulat belatung pada ingus belalang, dan
(sekawanan belatung itu) keluar dari leher mereka, sehingga mereka mati
terkapar yang tidak terdengar gerakan sedikitpun dari mereka. Kemudian
kaum muslimin berkata: "Siapakah kiranya seseorang yang akan
menggadaikan dirinya untuk melihat apa yang diperbuat oleh musuh?"
maka turunlah seorang laki-laki dari mereka yang menyiapkan dirinya
untuk menggadaikan dirinya, ia menyangka dirinya akan terbunuh,
kemduian laki-laki itu turun dan ia mendapati mereka (Ya'juj dan Ma'juj)
telah mati bertumpukan, lalu ia berseru: "Wahai kaum Muslimin,
bergembiralah, sesungguhnya Allah telah mencukupkan kalian dengan
membinasakan musuh kalian." Maka orang-orang pun keluar dari kota dan
benteng mereka sambil melepaskan ternak-ternak mereka. Tidaklah mereka
memiliki binatang ternak kecuali hanya tersisa daging-dagingnya saja,
lantas ia bersyukur atasnya sebagaimana sebaik-baiknya syukur dari
tumbuh-tumbuhan yang tidak pernah mendapatkan siraman air sama
sekali."
839
Tatanan Dunia Baru
An Nawwas bin Sam’an meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda,
838
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1516-18, no. 7015.
839
Dikeluarkan oleh Ahmad di bawah Bab: Musnad Abu Sa’id al-Khudri, jilid 3, Al-Albani mengatakan hadits
ini Hasan dalam Shahihul Jami’, no. 2973. Hakim menyatakannya Shahih menurut syarat Imam Muslim, lihat
al-Mustadrak ‘ala shahihain, jilid 4, Bab. 50, no. 8504/212.
Islamic Online University Tafsir 202
495
….Nabi Allah Isa dan para sahabatnya kemudian singgah di suatu tempat.
Tidaklah mereka mendapatkan tempat selebar satu jengkal pun, melainkan
pasti dipenuhi lemak dan bau busuk mayat Ya’juj dan Ma’juj. Nabi Allah
Isa dan para sahabatnya kemudian berdoa kepada Allah, Allah kemudian
mengirim burung-burung seperti leher unta, lalu membawa bangkai mereka
dan melemparkannya ke tempat yang dikehendaki Allah. Lalu Allah
mengirim hujan kepada mereka, tidak ada rumah dari bulu atau rumah dari
tanah yang menghalangi turunnya hujan, hujan itu membasahi bumi hingga
meninggalkan genangan di mana-mana. Kemudian dikatakan kepada bumi,
‘Keluarkan tumbuh-tumbuhanmu, dan kembalikan berkahmu.’
840
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga diriwwayatkan bahwa beliau bersabda,
“Selama tujuh tahun, kaum Muslimin menyalakan api dari busur dan panah
milik Ya’juj dan Ma’juj.”
841
Nabi Allah Isa akan tinggal di bumi selama empat puluh tahun di mana pada masa itu
kedamaian akan menguasai dan bumi penuh dengan kemakmuran. Selama tujuh tahun setelah
wafatnya beliau, manusia akan tetap hidup dalam kedamaian sampai Allah mengirimkan
angin yang akan mengambil nyawa setiap orang beriman.
842
Tetapi, tepat sebelum kedatangan
angin ini, matahari akan terbit dari Barat; seekor binatang buas akan dibangkitkan dari bumi
yang akan berbicara langsung kepada manusia
843
; Al-Qur'an akan dihapus dari kitab-kitab dan
dari hati manusia; Hukum Islaam [Syari’at] akan sepenuhnya ditinggalkan dan asap akan
menyelimuti bumi. Tanda-tanda terakhir adalah api yang berasal dari Aden yang lebih rendah,
di Yaman. Api ini akan menggiring orang-orang dari Timur dan Barat ke tempat
berkumpulnya mereka di Suriah, terus bersama mereka sampai mereka mencapai tujuan akhir
mereka.
844
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan mereka yang tersisa setelah
berhembusnya angin [yang mencabut nyawa setiap orang mukmin] sebagai seburuk-buruk
dari umat manusia dan bahwa mereka akan bersanggama di depan umum seperti keledai, dan
pada mereka itulah Hari Kiamat akan datang.
845
840
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1516-18, no. 7015.
841
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1516-18, no. 7015.
842
Shahih Muslim.
843
Surat An-Naml, 27: 82.
844
Shahih Muslim.
845
Shahih Muslim, Kitab: Fitnah dan tanda-tanda Kiamat.
Islamic Online University Tafsir 202
496

Allah ‘azza wajalla kemudian menandai peristiwa paling akhir dari kehidupan dunia ini
dengan firman-Nya, “Kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka
itu semuanya.” Yang bertugas meniup sangkakala adalah Israfil,
846
salah seorang malaikat
mulia. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa memulai shalat malamnya dengan doa istiftah
berikut ini,
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
َ
و
ِ
تا
َ
وﺎ
َ
ﺴﻟا
َ
ِ
ﻃﺎ
َ
َ
ﻞﻴ
ِ
ﻓا
َ
ْ
ِ
إ
َ
و
َ
ﻞﻴ
ِ
ﺋﺎ
َ
ﻜﻴ
ِ
َ
و
َ
ﻞﻴ
ِ
ﺋا
َ
ْ
ـﺒ
َ
ب
َ
ر
ُ
ﻠﻟا
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ْ
َ
أ
ِ
ة
َ
دﺎ
َ
ﺸﻟا
َ
و
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
ِ
ﱂﺎ
َ
َ
ن
ُ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ا
ُ
ﻧﺎ
َ
َ
ﻤﻴ
ِ
َ
ك
ِ
دﺎ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ِ
إ
ُ
ءﺎ
َ
َ
ْ
َ
ي
ِ
ْ
َ
ـﺗ
َ
ِ
إ
َ
ِ
ْ
ذ
ِ
ِ
َ
ْ
ﳊا
ْ
ِ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
ِ
ُ
ْ
ﺧا
َ
ِ
ِ
ِ
ْ
ﻫا
ٍ
ﻢﻴ
ِ
َ
ْ
ُ
ٍ
طا
َ
ِ
"ALLAHUMMA RABBA JABRAA`IIL WA MIIKAA`IIL WA
ISRAAFIIL FAATHIRAS SAMAAWAATI WAL ARDLI 'AALIMAL
GHAIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAINA 'IBAADIKA
FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN IHDINII LIMA
UKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BIIDZNIKA INNAKA TAHDII
MAN TASYAA`U ILAA SHIRAATHIN MUSTAQIIM (Ya Allah, Tuhan
Jibril, Mika`il, dan Israfil: Maha pencipta langit dan bumi, Maha
Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah hakim di antara hamba-
hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku jalan
keluar yang benar dari perselisihan mereka, sesungguhnya Engkau Maha
pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, bagi siapa yang Engkau
kehendaki)."
847
846
Kata pinjaman dengan variasi dialek lain “israfin” (Mukhtashar ash shihah, hlm. 296). Israfil disebutkan
sebagai malaikat yang bertugas meniup sangkakala dalam Al Bidayah wan Nihayah, jilid 1, hlm. 45.
847
Shahih Muslim, Kitab: Shalatnya Musafir, Bab: Doa dalam shalat malam.
Islamic Online University Tafsir 202
497
Mereka adalah malaikat-malaikat mulia yang masing-masing diberi tanggung jawab
pada kehidupan. Malaikat Jibril bertanggung jawab untuk memberi kehidupan pada hati,
Mikail bertanggung jawab untuk menurunkan hujan yang di dalamnya terkandung kehidupan
bagi tanaman dan Israfil bertanggung jawab atas kehidupan manusia pada saat hari
kiamat/kebangkitan.
848
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
))
َ
ْ
َ
أ
َ
و
ُ
َ
َ
ْ
ـﺒ
َ
َ
َ
َ
و
َ
ن
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ن
ْ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ِ
ﺣﺎ
َ
َ
َ
َ
ـﺘ
ْ
ﻟا
ْ
َ
َ
و
ُ
َ
ْ
ـﻧ
َ
أ
َ
ْ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
َ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ُ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
ُ
َ
ْ
َ
((
"Bagaimana aku merasa bahagia sementara (malaikat) peniup sangkakala
telah memasukkan sangkakala ke mulut, telah menundukkan dahinya dan
menyiapkan pendengarannya menanti perintah peniupan untuk meniup?"
849
Allah berfirman,




“Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di
bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup
sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu
(putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar 39: 68)
848
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 138.
849
Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi (al-Hadits, jilid 4, hlm. 92, no. 21) dan dishahihkan dalam Silsilah ahadits ash
shahihah, jilid 3, hlm. 66-8)
Islamic Online University Tafsir 202
498
Sangkakala Ditiup Dua Kali
1) nafkhotul faza’ wa ash-sha’qi, yaitu tiupan yang menyebabkan kaget, kepanikan,
atau terkejutnya seluruh makhluk sehingga menyebabkan kematian mereka.
Tiupan ini juga menyebabkan perubahan dan rusaknya keteraturan alam dunia.
2) disebut dengan nafkhotul ba’tsi wan nusyuur, yaitu tiupan dibangkitkannya
seluruh makhluk dari kuburan mereka.
850
Dalam satu hadits panjang yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr, Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
))
َ
لﺎ
َ
ً
ﺘﻴ
ِ
َ
َ
َ
ر
َ
و
ً
ﺘﻴ
ِ
َ
ْ
َ
أ
ِ
إ
ٌ
َ
َ
أ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
َ
َ
ِ
ر
ﺼﻟا
ِ
ُ
َ
ْ
ـﻨ
ُ
ـﻳ
ُ
ُ
سﺎﻨﻟا
ُ
َ
ْ
َ
َ
و
ُ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
َ
لﺎ
َ
ِ
ِ
ِ
ِ
إ
َ
ض
ْ
َ
ُ
ط
ُ
َ
ـﻳ
ٌ
ُ
َ
ر
ُ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
َ
ُ
ل
و
َ
أ
َ
و
َ
َ
ا
ً
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ل
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
لﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ِ
ْ
ُ
ـﻳ
ُ
ُ
نﺎ
َ
ْ
ُ
ـﻧ
ﻈﻟا
ْ
و
َ
أ
ﻄﻟا
ُ
ٌ
مﺎ
َ
ِ
ْ
ُ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ى
َ
ْ
ُ
أ
ِ
ﻪﻴ
ِ
ُ
َ
ْ
ـﻨ
ُ
ـﻳ
ُ
ِ
سﺎﻨﻟا
ُ
دﺎ
َ
ْ
َ
أ
ُ
ْ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﺘ
َ
ـﻓ
كﺎ
ﺸﻟا
َ
نو
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻳ((
“Kemudian sangkakala ditiup, tidak ada seorang pun yang mendengarnya
melainkan memiringkan leher dan mengangkat leher." Beliau bersabda:
"Orang pertama yang mendengarnya adalah seseorang yang tengah
memperbaiki telaga untuk untanya." Beliau bersabda: "Ia mati dan orang-
orang pun mati. Setelah itu Allah mengirim -atau bersabda: Menurunkan-
hujan seperti hujan rintik-rintik kemudian tubuh manusia bermunculan,
'Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri
menunggu (putusannya masing-masing)." (Az Zumar: 68)
851
850
Llihat pula surat Yasin 36: 51.
851
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1520, no. 7023.
Islamic Online University Tafsir 202
499
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
“(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” Para sahabat bertanya, “Wahai Abu
Hurairah, empat puluh harikah?” Abu Hurairah berkata, “Aku enggan menjawab.” Mereka
bertanya, “Empat puluh tahunkah?” Abu Hurairah berkata, “Aku enggan menjawab.” Mereka
bertanya, “Empat puluh bulankah?” Abu Hurairah berkata, “Aku enggan menjawab.” Dan
akan hancur segala sesuatu dari manusia kecuali tulang ekor. Dari tulang itulah semua makluk
akan disusun kembali.
852
“Kemudian ditiup lagi sangkakala.” Yang dimaksud ayat ini yaitu tiupan kedua,
sebagaimana bunyi ayat selanjutnya, Lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya,”
mengandung kata depan (harf) fa yang bermakna “dan segera setelah itu.” Tiupan yang
pertama tidak disebutkan karena tujuan yang dimaksud di sini adalah disebutkannya keadaan
pada Hari Kebangkitan.
853
Mereka yang tidak akan Jatuh Pingsan
Pada ayat dalam Surat Az-Zumar di atas, terdapat pengecualian yang diperuntukkan
bagi mereka yang tidak akan jatuh pingsan, “Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah
siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.”
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa tepatnya yang dimasukkan dalam
pengecualian ini:
(1) Ibnu Hazm berpendapat bahwa semua malaikat dikecualikan karena malaikat-
malaikat merupakan makhluk ghaib tanpa nyawa yang tidak akan mati menurut
pendapatnya.
854
Pendapat Ibnu Hazm bahwa para malaikat tidak mati ini
dipertanyakan karena mereka termasuk di antara makhluk Allah yang dapat
dihidupkan kembali dan dapat pula mati. Selain itu, diriwayatkan secara shahih
852
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1527-8, no. 7055.
853
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 434.
854
Fathul Bari, 6: 371.
Islamic Online University Tafsir 202
500
dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam oleh sejumlah sahabat bahwasanya beliau
bersabda, Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia
berbicara melalui wahyu; maka langitpun tergetarlah dengan getaran –atau dia
mengatakan dengan goncangan- yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘azza wa
jalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh
bersujudlah mereka itu kepada Allah.” Dan dala riwayat lain, Tatkala para
malaikat mendengar Firman-Nya, mereka pingsan.” (Al Baihaqi) Hadits ini
mengindikasikan bahwa mereka tidak sadar karena pingsan dan jika hal itu
mungkin, maka mungkin pula mereka tidak sadar dikarenakan kematian.
855
(2) Muqatil dan selainnya berpendapat bahwa pengecualian hanya diperuntukkan
untuk Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil dan Malakul Maut. Sebagian juga
memasukkan para malaikat pemikul ‘Arsy. Akan tetapi hadits yang digunakan
untuk mendukung pendapat ini derajatnya tidak shahih menurut para ulama
hadits.
856
(3) Imam Ahmad bin Hanbal memegang pendapat bahwa yang dimaksudkan adalah
mereka bidadari surga dan para pemuda surga.
857
Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun
mereka yang dikecualikan termasuk para bidadari surga karena tidak ada kematian
di dalam surga.”
858
(4) Abul ‘Abbas al-Qurthubi, penulis kitab al-Mufhim ila Syarh Muslim, memilih
pendapat bahwa yang dimaksud mereka adalah orang-orang yang sudah mati
karena mereka tidak lagi bisa merasakan dan oleh karena itu mereka tidak akan
pingsan.
859
Pendapat ini benar jika pingsan ditafsirkan dengan kematian, karena
manusia hanya akan mengalami kematian sekali saja, sebagaimana firman Allah,



855
Majmu’ al Fatawa, jilid 4, hlm. 260.
856
Fathul Bari, 6: 371.
857
Fathul Bari, 6: 371.
858
Majmu’ Fatawa, jilid 4, hlm. 261.
859
Fathul Bari, 6: 370
Islamic Online University Tafsir 202
501
“Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di
dunia.” (QS. Ad Dukhan 44: 56)
Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang matinya ruh
pada saat ditiupnya sangkakala. Beliau memilih pendapat yang menyatakan bahwa kematian
bagi ruh adalah berpisahnya ia dari jasad, dan menolak pendapat yang mengatakan bahwa ruh
menghilang karena nash-nash menunjukkan bahwa ruh tetap di alam Barzakh baik ia
mendapat azab atau kenikmatan.
860
Jika jatuh tidak sadarkan diri ditafsirkan dengan jatuh pingsan, ruh akan menjadi tidak
sadar dan tidak akan termasuk dari mereka yang dikecualikan. Manusia dapat jatuh pingsan
disebabkan apa yang ia lihat atau dengar, sebagaimana dalam kejadian yang dialami oleh
Nabi Musa ketika ia melihat gunung hancur luluh menjadi debu. “Dan Musa pun jatuh
pingsan." (QS. Al A’raf 7: 143). Bahwa orang-orang yanng mati juga akan jatuh pingsan
dinyatakan dengan jelas pada riwayat berikut ini dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
َ
ل
و
َ
أ
ُ
ن
ُ
َ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
َ
ن
ُ
َ
ْ
َ
َ
سﺎﻨﻟا
ن
ِ
َ
َ
ُ
َ
َ
ِ
و
ُ
ـﻴ
َ
ُ
َ
ِ
ُ
ْ
َ
ْ
َ
ﻤﻴ
ِ
َ
نﺎ
َ
َ
أ ي
ِ
ر
ْ
د
َ
أ
َ
َ
ِ
ش
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
ِ
ﻧﺎ
َ
ِ
ٌ
ِ
ﻃﺎ
َ
َ
ُ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ُ
ﻖﻴ
ْ
ِ
َ
نﺎ
َ
ْ
و
َ
أ ﻲ
ِ
ْ
َ
ـﻗ
َ
قﺎ
َ
َ
َ
َ
ِ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ْ
ـﺜ
َ
ْ
ﺳا
"Janganlah kalian mengistimewakanku di atas Musa, sebab manusia di hari
kiamat nanti akan pingsan sehingga akulah manusia pertama-tama yang
bisa siuman. Tiba-tiba Musa telah berdiri di samping 'arsy, sehingga aku
tidak tahu apakah dia termasuk yang pingsan ataukah dia telah siuman
sebelumku, atau dia diantara manusia yang Allah kecualikan (tidak
pingsan)."
861
Al Qurthubi, penulis kitab at-Tadzkirah, mengatakan, “Syaikh kami, Abul ‘Abbas
berkata, “Yang benar adalah tidak ada riwayat shahih yang datang pada kita untuk
menjelaskan siapa yang dikecualikan tersebut, dengan demikian semua pendapat adalah
860
Ar Ruh, hlm. 49.
861
Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 410, no. 620 dan Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1265, no. 5853.
Islamic Online University Tafsir 202
502
mungkin.”
862
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa,
863
berkata, “Jika Nabi shallallahu
'alaihi wasallam tidak memberitahukan tentang semua untuk siapa pengecualian itu diberikan,
tidak mungkin bagi kita untuk memastikannya. Maka ini menjadi seperti ilmu tentang waktu
kapan terjadi Hari Kiamat, semua nabi satu per satu, dll. yang belum pernah dikabarkan oleh
Allah dan ilmu ini hanya dapat diperoleh melalui wahyu, dan Allah lebih Mengetahui.”
864
Tanda-tanda Datangnya Hari Kiamat
Anas meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Sekiranya hari kiamat hendak terjadi sedangkan di tangan salah seorang
di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya
sebelum terjadinya hari kiamat, maka hendaklah dia menanamnya.”
865

Yang dimaksud firman Allah “Lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya,” adalah
dikumpulkannya manusia yang telah dibangkitkan dari kubur mereka semuanya untuk diadili
setelah ditiupnya sangkakala yang kedua. Perkumpulan ini dalam bahasa ‘Arab disebut
Hasyr. Bumi akan dihamparkan menjadi satu dataran luas tanpa ada pegunungan maupun
dataran rendah dan manusia akan dikumpulkan berkelompok-kelompok menurut apa yang
mereka sembah semasa kehidupan mereka di dunia.
َ
لﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
ْ
ُ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
َ
ﻬﻴ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ﻨﻟا
ِ
َ
ْ
ُ
َ
َ
ءا
َ
ْ
َ
َ
ءﺎ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ٍ
ض
ْ
ر
َ
أ ﻰ
َ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
سﺎﻨﻟا
ٍ
َ
َ
ِ
ٌ
َ
َ
862
At-Tadzkirah, hlm. 167
863
Majmu’ al Fatawa, 4:261.
864
Al Yaumul Akhir, hlm. 43-9.
865
Diriwayatkan Ahmad dalam al-Musnad, jilid 3, hlm. 183, 184, dan 191, dan al-Bukhari dalam Adabul
Mufrad, no. 479 dan dishahihkan oleh Al Albani, dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, jilid 1, hlm. 11,
no. 9.
Islamic Online University Tafsir 202
503
Dari Sahl bin Sa'd dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Pada hari kiamat kelak manusia akan dikumpulkan di bumi
yang sangat putih berbentuk bulat pipih dan datar tanpa ada tanda bagi
siapapun di atasnya."
866
866
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1463, no. 6708. Detail dari Dikumpulkannya manusia ini telah disebutkan dalam
keterangan sebelumnya pada ayat 47-48.
Islamic Online University Tafsir 202
504


100. Dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-
orang kafir dengan jelas.
Dalam ayat ini, Allah hanya memberikan satu deskripsi tentang apa yang akan dialami
oleh orang-orang kafir pada saat dikumpulkannya manusia setelah dibangkitkan. Dia
menjelaskan bahwa Neraka Jahannam akan ditampakkan sebagai peringatan keras,

“Dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan
jelas,” yakni bahwa Allah akan mengejutkan mereka yang baru dibangkitkan dengan
dinampakkannya keganasan Neraka secara penuh, makhluk yang begitu mengerikan dan liar
sehingga Allah telah menugaskan miliaran malaikat untuk menahannya.
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
َ
ـﻧو
ُ
َ
ٍ
َ
َ
َ
ْ
َ
أ
َ
ن
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ٍ
مﺎ
َ
ِ
ز
ُ
َ
َ
ٍ
مﺎ
َ
ِ
ز
َ
ْ
َ
أ
َ
ن
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ﺳ ﺎ
َ
َ
ٍ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
Dari Abdullah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Pada hari itu neraka jahannam didatangkan, ia mempunyai tujuh puluh
ribu tali kekang, setiap tali kekang terdapat tujuh puluh ribu malaikat
867
yang akan menyeretnya."
868
Orang-orang kafir juga akan dihadapkan ke neraka, sebagaimana firman Allah,
867
Jumlah keseluruhannya empat miliar sembilan ratus juta malaikat
868
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1482, no. 6810.
Islamic Online University Tafsir 202
505


“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke
neraka.” (QS. Al-Ahqaf 46: 20)
869
Ini adalah bagian dari hukuman yang akan dihadapi orang-orang kafir sebelum
pengadilan yang sebenarnya. Ini juga bentuk hukuman psikologis di mana mereka ketakutan
hanya dengan melihat neraka. Bagian dari hikmah Allah yang memberi tahu manusia tentang
kejadian ini, adalah bahwa ini seharusnya memotivasi orang-orang mukmin untuk
memperbaiki hubungannya dengan Tuhannya, ia harus takut terhadap hari ini dan
mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan membayangkan Neraka seolah-olah itu
berada di bawah kakinya. Dia harus menyadari bahwa semua yang tersisa sebelum pertemuan
hari ini hanyalah ketika ruhnya meninggalkan tubuhnya.
870
869
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 144.
870
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 140.
Islamic Online University Tafsir 202
506



101. Yaitu orang-orang yang matanya dalam Keadaan tertutup dari
memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak
sanggup mendengar.

Allah menggambarkan beberapa karakteristik orang-orang kafir yang akan
dinampakkan kepada Neraka sebelum pengadilan. Dia mengatakan bahwa mereka adalah
“Yaitu orang-orang yang matanya dalam Keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-
tanda kebesaran-Ku.” Mereka buta terhadap tanda-tanda Allah di dunia ini yang disaksikan
oleh mereka yang mau merenungkannya. Ketika mereka merenungkan tanda-tanda ilahi,
maka itu akan menuntun mereka untuk bersaksi tentang Keesaan Sang Maha Pencipta dan
memuji-Nya. Atau mereka buta terhadap Alquran yang Mulia dan tidak dapat merenungkan
makna dan faidah-faidah dari pelajaran dan kebijaksanaannya. Setelah menggambarkan
kebutaan relatif mereka terhadap bukti-bukti penciptaan dan bukti-bukti yang diwahyukan,
Allah beralih kepada ketulian mereka dari kebenaran dengan berfirman,

“Dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.” Ketulian mereka ditekankan
dengan menyebutnya sebagai ketidakmampuan untuk mendengar kebenaran dalam kata-kata
Allah dan risalah yang dibawa Rasul-Nya (shallallahu 'alaihi wasallam). Seandainya Allah
menyebut mereka tuli saja, itu akan menjadi kurang tegas karena orang tuli dapat mendengar
suara yang sangat keras dekat dengan telinganya. Di sisi lain, orang-orang kafir ini
digambarkan sama sekali tidak dapat mendengar apa pun.
871
871
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 434.
Islamic Online University Tafsir 202
507
Bagian dari ayat ini juga dapat diterjemahkan sebagai "Dan mereka yang tidak
tahan untuk mendengarnya," yang berarti bahwa mereka tidak ingin mendengarnya.
872
872
Al-Jami’ li ahkamil quran, jilid 11, hlm. 56 dan Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 140.
Islamic Online University Tafsir 202
508





102. Maka Apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka
(dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?
Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat
tinggal bagi orang-orang kafir.
Allah ‘azza wajalla berkata kepada orang-orang kafir yang buta dan tuli terhadap
tanda-tanda kebesaran-Nya, yang akan dihadapkan kepada neraka di akhirat agar mereka mau
merenungkannya. Allah mengajukan pertanyaan retorik berikut,



“Maka Apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil
hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?”
873
Yaitu, apakah mereka
membayangkan bahwa mereka akan mampu untuk mengambil manfaat dari apa-apa yang
mereka sembah secara batil sementara mereka berpaling dari merenungkan ayat-ayat-Nya dan
memberontak dari menerima kebenaran?
874

Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-
orang kafir.
873
Sebagian ulama berpendapat bahwa frase ini dihapus berdasarkan lanjutan ayat selanjutnya. (Adwaul Bayan,
jilid 4, hlm. 145)
874
Fathul Qadir, jilid 3, hlm. 343.
Islamic Online University Tafsir 202
509
Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan datang menghadap Rabb- mereka
sebagai seorang hamba sebagaimana Firman Allah ‘azza wajalla,




“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang
kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS.
Maryam 19: 93)
Oleh karena itu tidak ada di antara makhluk yang dapat memberi manfaat kepada
manusia kecuali Allah saja. Memohon pertolongan dan manfaat sendiri merupaka perbuatan
ibadah, berbeda dengan meminta bantuan ketika dalam situasi kehidupan dunia dimana
manfaat bisa diperoleh. Dengan demikian apa-apa yang diambil sebagai wali
(pelindung/auliya) adalah mereka yang disembah dan diseru untuk dimintai pertolongan
selain Allah di antara para malaikat,
875
para rasul,
876
sapi maupun binatang-binatang lain,
877
matahari dan bulan, pohon, sungai dan batu.
Allah secara retoris bertanya apakah mereka yang menyeru yang lain dan menyembah
mereka sebagai ganti menyembah-Nya atau bersama dengan-Nya benar-benar berpikir bahwa
mereka akan mendapatkan perlindungan dari azab-Nya untuk menekankan bahwa mereka
tidak akan tertolong.
878
Sebagai bagian dari siksaan mental pada Hari Kebangkitan, mereka yang menyembah
selain Allah akan diperintahkan untuk memanggil sembahan-sembahan mereka. Allah
berfirman,




875
Misalnya, Malaikat Mikail yang disembah oleh orang-orang Katolik pada tanggal 29 September (Hari Raya
Michaelmas)
876
Misalnya, Nabi Isa dan Maryam yang disembah oleh orang-orang Katolik sebagai tuhan.
877
Misalnya, dewa monyet, Hanuman, dan dewa gajah, Ganesha dalam agama Hindu.
878
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 141.
Islamic Online University Tafsir 202
510
“Dan diikatakan (kepada mereka) "Serulah olehmu sekutu-sekutu
kamu," lalu mereka menyerunya, Maka sekutu-sekutu itu tidak
memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat azab. (mereka
ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qashash 28: 64)

“Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-
orang kafir,” yakni bahwa Allah telah mempersiapkan neraka Jahannam sebagai tempat
tinggal mereka pada hari itu.
879
879
Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6.
Islamic Online University Tafsir 202
511




103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"



Allah subhanahu wata’ala memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad, (shallallahu 'alaihi
wasallam) untuk mengatakan "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu
tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Ini menyiratkan bahwa Allah
ingin memberi tahu tentang mereka yang akan merugi pada sebagian besar perbuatan yang
dilakukannya agar orang dapat menghindari karakteristik mereka dan agar berhasil dalam
kehidupan dunia dan akhirat. Dalam Surat al-‘Asr Allah menjelaskan bahwa semua manusia
akan berada dalam keadaan merugi kecuali mereka yang memiliki empat karakteristik: 1.
Iman yang Benar, 2. Amal shalih, 3. Jujur, dan 4. Sabar.
880
Ketika Sa‘d bin Abi Waqqash ditanya tentang apakah ayat ini merujuk pada kelompok
tertentu yang disebut Haruriyah yang akhirnya menjadi Khawarij
881
, ia menjawab: “Tidak,
mereka adalah orang-orang Yahudi dan Kristen. Adapun orang-orang Yahudi, mereka
mengingkari Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) dan untuk orang-orang Kristen,
mereka mengingkari surga dengan mengatakan bahwa di dalamnya tidak mengandung
makanan atau minuman. Haruriyyah adalah mereka yang melanggar perjanjian Allah setelah
mengesahkanna.”
882
Di lain pihak, 'Ali bin Abi Thalib dan ad-Dahhaak keduanya mengatakan
bahwa mereka adalah Haruriyyah.
883
880
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 142.
881
Kelompok yang menyempal dari pengikut Ali radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal karena keshalihan mereka
dalam artian amalan mereka, namun di saat yang bersamaan mereka pada akhirnya membantai kaum muslimin.
Mereka mengkafirkan Ali dan sebagian besar pemimpin Umat Muslim lain dari kalangan para sahabat.
882
Shahih Al Bukhari, Kitab: Tafsir Al Quran, Bab: Hal unabbiukum.
883
Tafsir at-Thabari, jilid 8, hlm. 294 dan dishahihkan dalam edisi Darul Fatah, kitab Tafsir Al Quranul Adzim,
hlm. 256.
Islamic Online University Tafsir 202
512
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tidak berarti ayat ini diturunkan mengenai salah satu
dari kelompok-kelompok ini secara khusus; ayat ini lebih umum dari itu, karena ia diturunkan
di Mekah, sebelum Al-Quran berbicara tentang orang-orang Yahudi dan Kristen, dan sebelum
orang-orang Khawarij ada. Jadi ayat ini bersifat umum dan merujuk kepada semua orang yang
menyembah Allah dengan cara yang tidak dapat diterima, yang menyangka bahwa ia benar
dalam melakukan hal itu dan bahwa perbuatannya akan diterima, tetapi ia salah dalam
persangkaannya dan perbuatannya itu akan ditolak.
884
884
Tafsir Ibnu Katsir
Islamic Online University Tafsir 202
513




104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka
berbuat sebaik-baiknya.
Dalam ayat ini Allah mulai memberikan jawaban atas pertanyaan yang Dia
kemukakan dalam ayat sebelumnya. Pertama-tama, Dia menjelaskan karakteristik mereka
terkait perbuatannya. Allah ‘azza wajalla menyatakan bahwa orang-orang yang sejatinya
merugi adalah,

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia
ini,” Yaitu, perbuatan mereka tidak akan dihitung, segala perbuatan yang tidak sesuai dengan
syariat yang telah ditetapkan Allah.
885
Dengan kata lain, syarat amal shalih yang kedua hilang.
Mereka menyimpang dari jalan yang benar dan sebagai akibatnya, amal perbuatan mereka
bisa saja salah dalam intisarinya atau salah dalam konteksnya.


Dan bagian terburuknya yaitu mereka menyia-nyiakan usaha mereka “sedangkan
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
885
Tafsir Ibnu Katsir
Islamic Online University Tafsir 202
514
Ini kasus yang menimpa kebanyakan manusia, seperti orang-orang Yahudi, Kristen,
Hindu, Budha dan Komunis yang semuanya percaya bahwa apa yang mereka ikuti adalah
benar. Dengan demikian, mereka terus mengikuti keyakinan mereka terlepas dari dalil/bukti
apapun yang membuktikan sebaliknya yang disajikan ke hadapan mereka. Ada juga beberapa
di antara mereka yang mengetahui keyakinan mereka tidaklah benar, tetapi tetap berada dalam
keyakinan tersebut karena kesombongan
886
atau untuk mendapatkan keuntungan materi. Abu
Thalib adalah contoh dari kelompok pertama dan banyak orang Kristen Arab yang
menjadikan agama Kristen sebagai budaya mereka. Mayoritas uskup Anglikan yang tidak
percaya bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan adalah contoh dari kelompok kedua.
887
Yang
paling terkenal di antara para uskup Gereja Inggris, yang meragukan keilahian Yesus, adalah
Pendeta Profesor David Jenkins, mantan Uskup Durham yang vokal, Inggris, yang secara
terbuka dan berulang kali menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan selama masa jabatannya
sebagai uskup.
888
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan contoh keadaan ini di antara umat
Muslim dalam riwayat berikut ini,
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
نو
ُ
ر
ْ
َ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
ا ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
ع
َ
َ
َ
َ
و
ُ
َ
َ
َ
ْ
ر
ِ
د
َ
ْ
َ
َ
ﻨﻴ
ِ
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ْ
َ
ِ
ْ
َ
َ
و
ٍ
ةﺎ
َ
َ
ز
َ
و
ٍ
مﺎ
َ
ِ
َ
و
ٍ
ة
َ
َ
ِ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ِ
ْ
َ
ِ
ُ
أ
ْ
ِ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ا
َ
َ
َ
ب
َ
َ
ﺿ
َ
و ا
َ
َ
َ
م
َ
د
َ
َ
َ
َ
و ا
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
أ
َ
و ا
َ
َ
َ
ف
َ
َ
َ
و ا
َ
َ
َ
َ
َ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ْ
َ
ـﻗ
ُ
ُ
ﺗﺎ
َ
َ
َ
ْ
َ
ِ
َ
ْ
ن
ِ
َ
ِ
ِ
ﺗﺎ
َ
َ
َ
ْ
ِ
ا
َ
َ
َ
و
ِ
ِ
ﺗﺎ
َ
َ
َ
ْ
ِ
ا
َ
َ
َ
ْ
ِ
َ
ح
ِ
ُ
ُ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ِ
ُ
َ
ْ
ُ
ﻫﺎ
َ
ﻳﺎ
َ
َ
ْ
ِ
َ
ِ
ُ
أ
ِ
ْ
َ
َ
َ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ِ
رﺎﻨﻟا
886
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 142.
887
Daily News, 25/6/84.
888
The Economist, 1/4/89, vol. 311, no. 7596, hlm. 19.
Islamic Online University Tafsir 202
515
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang
bangkrut itu?" Para sahabat menjawab: 'Menurut kami, orang yang
bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta
kekayaan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat
datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki,
menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti
orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap
orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka
banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang
dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga
akhirnya ia dilemparkan ke neraka.'
889
Mereka yang kehilangan nilai dari amal perbuatan mereka berarti mereka tidak
memenuhi persyaratan kedua dalam surat Al ‘Ashr, yakni amal shalih. Amal-amal perbuatan
mereka tidak shalih, namun mereka menyangkanya itu perbuatan shalih. Seperti mereka di
Filipina dan di tempat-tempat lain yang pada setiap tahunnya menjelang atau setelah Paskah,
mereka memaku diri mereka di atas salib untuk memperingati cerita palsu tentang penyalipan
Yesus dan sebagai penebusan dosa-dosa mereka.
889
Shahih Muslim, Kitab: Birr wa Silah wa Adab, Bab: Tahrim Dzulm
Islamic Online University Tafsir 202
516






105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat
Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka
hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu
penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
Allah subhanahu wata’ala kemudian melanjutkan dengan menggambarkan sifat orang-
orang yang merugi dengan lebih khusus dan akibat dari penolakan mereka.


“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka.”
Makna yang nampak dari ayat ini yaitu mereka mengingkari ayat-ayat kauniyah (penciptaan)
Allah dan ayat-ayat Syar’iyyah-Nya (hukum). Akan tetapi mereka yang mengingkari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam juga mengingkari ayat-ayat syar’iyyah Allah sementara mereka
meyakini ayat-ayat kauniyahnya. Dalilnya yakni Firman Allah,

  
“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah
yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan
bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah
Islamic Online University Tafsir 202
517
mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al Ankabut
29: 61)
Sementara itu kaum musyrikin Mekkah (Quraisy) tidak ada seorang pun dari mereka
yang mengatakan ada pencipta selain Allah. Akan tetapi, mereka hanyalah mengingkari ayat-
ayat syar’iyyahnya yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
890
“Dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia,” yakni mereka mengingkari
adanya Hari Pengadilan dan membantahnya dengan berbagai macam cara. Allah ta’ala
menyebutkan apa yang mereka katakan dengan menanyakan tentang,
 

“Dan ia membuat perumpamaan bagi kami; dan Dia lupa kepada
kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang
belulang, yang telah hancur luluh?" (QS. Yaasin 36: 78)
Dan Dia juga membantah argumen mereka yang lemah seraya berfirman,




“Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya
kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala
makhluk.” (QS. Yasin 36: 79)
Jika berbicara secara logis, menciptakan ulang itu lebih mudah dari pada penciptaan
yang pertama. Allah ta’ala berfirman,
890
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 143.
Islamic Online University Tafsir 202
518
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan
kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar Rum 30: 27)
Argumen ini menjadi salah satu di antara dalil bahwa mungkin-mungkin saja untuk
membangkitkan dan menghidupkan kembali dari tulang belulang dan debu.
891
Dengan demikian, orang-orang yang kehilangan nilai amal perbuatan mereka juga
kehilangan syarat pertama dan ketiga dalam Surat al-‘Ashr, iman yang benar dan amal shalih.
Pengingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan Hari Kiamat dan Hari Penghakiman
merupakan keyakinan yang salah dan, pada kenyataannya, tidak benar karena Allah telah
menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Nya yang terang benderang.
Kemudian Allah melanjutkan untuk menjelaskan tentang konsekuensi mengerikan dari
pengingkaran mereka terhadap ayat-ayat-Nya dan kufur terhadap hari Kebangkitan. Dia
menyatakan bahwa:

“Maka hapuslah amalan- amalan mereka,” berarti bahwa amal-amal tersebut tidak
akan bermanfaat bagi mereka di akhirat. Di tempat lain dalam Al Quran Allah
mengumpamakan nilai dari amal perbuatan mereka seperti debu dan anai-anai yang
beterbangan seraya berfirman,


“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami
jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Furqan 25:
23)
891
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 143.
Islamic Online University Tafsir 202
519



“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana
fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya
sesuatu apapun.” (QS. An-Nur 24: 39)
Tidak peduli amal baik apa yang dikerjakan oleh orang-orang kafir, semuanya itu
tidak akan memiliki nilai di akhirat. Jika Allah berkehendak untuk membalasinya, Allah akan
memberikannya dalam kehidupan ini. Seorang yang kembali kepada kekafiran setelah
dulunya beriman juga akan kehilangan semua pahala dari amal-amalnya baik dalam
kehidupan dunia ini maupun di akhirat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ‘azza
wajalla,








“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia
mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di
dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka
kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah 2: 217)
Jika karena rahmat Allah, ia kembali kepada Islam setelah murtad darinya, nilai dari
amal-amal shalihnya sebelum ia menjadi murtad akan dikembalikan kepadanya.
892
Setelah menjelaskan hukum-Nya tentang amal-amal perbuatan mereka orang-orang
yang benar-benar merugi, Allah mengabarkan bagaimana pengadilan-Nya bagi mereka,
892
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 145-6.
Islamic Online University Tafsir 202
520


“dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari
kiamat,” yakni perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan tidak akan memiliki nilai di sisi
Allah pada Hari itu. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bahwa amal-
amal mereka tidak akan ditimbang, karena timbangan di hari Kiamat digunakan untuk
menentukan apakah amalan baik lebih berat timbangannya daripada amalan-amalan yang
buruk atau sebaliknya, dan orang-orang kafir tidak memiliki amal baik untuk ditimbang.
893
Akan tetapi pendapat yang benar adalah bahwasanya semua amal akan ditimbang.
894
Ibnu
Katsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah, “Kami tidak akan
menjadikan timbangan [amal-amal] itu berat karena di dalamnya kosong dari kebaikan.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata bahwasanya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
))
َ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ْ
ِ
ُ
ن
ِ
َ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
ِ
ﺴﻟا
ُ
ﻢﻴ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ُ
ُ
ﺮﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ِ
إ
َ
ح
او
ُ
ء
َ
ْ
ـﻗا
َ
لﺎ
َ
َ
و
ٍ
َ
ﺿ
ُ
َ
ـﺑ { ﺎ
ً
ْ
ز
َ
و
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ُ
َ
ُ
ﻢﻴ
ِ
ُ
َ
َ
ﻓ }((
"Sungguh pada hari kiamat akan datang seseorang yang berbadan gemuk
namun di sisi Allah timbangannya tidak dapat melebihi berat sayap seekor
nyamuk. Bacalah ayat: {dan kami tidak memberikan penimbangan
terhadap (amal) mereka pada hari kiamat} (QS. Al Kahfi: 105).
895
Imam al-Qurthubi menyebutkan bahwa konteks hadits ini mengandung dalil
ditimbangnya manusia di atas mizan (timbangan),
896
dan tidak hanya amal-amal perbuatan
mereka. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini mengandung celaan terhadap badan yang
gemuk karena itu umumnya akibat lalai dari makan yang baik-baik dan beliau menambahkan
893
Ini merupakan pendapat al-Qurthubi, hlm. 145-6.
894
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 146.
895
Shahih al-Bukhari, Kitab: Tafsir, Bab: Ulaaikalladzina kafaruu dan Shahih Muslim, Kitab: Sifatul Qiyamah,
wal jannah wan nar.
896
Adhwaul Bayan, jilid 4, hlm. 149.
Islamic Online University Tafsir 202
521
hadits ini lebih lanjut mengisyaratkan larangan dari makan secara berlebihan. Beliau
kemudian menukil hadits berikut ini,
َ
لﺎ
َ
َ
ُ
ْ
ـﻨ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﺿ
َ
ر
ٍ
ْ
َ
ُ
َ
ْ
َ
نا
َ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
ُ
نا
َ
ْ
ِ
َ
لﺎ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻧ
ُ
َ
ـﻳ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
ُ
ْ
ُ
َ
ـﻧ
ُ
َ
ـﻳ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻗ
ْ
ُ
ُ
ْ
ـﻴ
َ
َ
َ
َ
و
ا
َ
َ
َ
ذ
َ
أ ي
ِ
ر
ْ
د
َ
أ
ِ
ﻨﻟا
َ
لﺎ
َ
ً
َ
َ
َ
ْ
و
َ
أ
ِ
ْ
َ
ـﻧ
ْ
َ
ـﻗ
ُ
ْ
َ
ـﺑ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟ
َ
نو
ُ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
ن
ُ
َ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
َ
و
َ
ن
ُ
ُ
َ
ً
ْ
َ
ـﻗ
ْ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ن
ِ
إ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
ْ
َ
َ
و
َ
ن
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
و
َ
نو
ُ
ر
ِ
ْ
َ
ـﻳ
َ
و
َ
نو
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ُ
َ
َ
و
ُ
َ
ﺴﻟا
ْ
ِ
ﻬﻴ
ِ
ُ
Aku mendengar 'Imran bin Hushain radliyallahu 'anhuma berkata: Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang hidup pada zamanku (generasiku)
kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang
yang datang setelah mereka." 'Imran berkata: "Aku tidak tahu apakah Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan lagi setelah (generasi beliau)
dua atau tiga generasi setelahnya." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Sesungguhnya setelah kalian akan ada kaum yang suka
berkhianat (sehingga) mereka tidak dipercaya, mereka suka bersaksi
padahal tidak diminta persaksian mereka, mereka juga suka memberi
peringatan padahal tidak diminta berfatwa dan nampak dari ciri mereka
orangnya berbadan gemuk-gemuk."
897
Pernyataan akhir dari hadits ini jelas-jelas mencela orang-orang yang berbadan
gemuk/ obesitas. Imaam al-Qurthubi mengatakan bahwa alasannya adalah karena orang-orang
yang berbedan gemuk biasanya akibat makan berlebihan, tidur berlebihan, dan membiarkan
hawa nafsunya bebas berkuasa. Orang seperti itu adalah penyembah hawa nafsunya dan
menjadi budak dari dirinya sendiri dan bukan Tuhannya. Siapa pun yang berada dalam
897
Shahih al-Bukhari, Kitab:
Islamic Online University Tafsir 202
522
keadaan ini pasti akan terjatuh ke dalam yang haram dan setiap potongan daging yang tumbuh
dari apa yang tidak diridhai Allah akan memasukkannya ke neraka. Allah Yang Mahakuasa
mengutuk orang-orang kafir karena makan berlebihan dengan firman-Nya,






“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka
Makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat
tinggal mereka.” (QS. Muhammad42: 12)
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam juga memperingatkan dari makan secara
berlebih-lebihan dalam sejumlah hadits. Misalnya, Ibnu ‘Umar, Jabir, Abu Hurairah dan Abu
Musa semuanya meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
))
ِ
َ
ْ
ـﺒ
َ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
ُ
ِ
ﻓﺎ
َ
ْ
ﻟا
َ
و
ٍ
ِ
ﺣا
َ
و ﻰ
ً
ِ
ِ
ُ
ُ
ْ
َ
ُ
ِ
ْ
ُ
ْ
ﻟا
ٍ
ءﺎ
َ
ْ
َ
أ((
"Orang mukmin makan dengan satu usus (perut)
898
sedangkan orang kafir
makan dengan tujuh usus (perut)."
899
Ibnu Umar juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
melarang siapa saja dari mengambil dua kurma sekali waktu tanpa persetujuan temannya yang
makan bersamanya.
900
898
Istilah Bahasa ‘Arab yang digunakan di sini yakni mi’an yang secara harfiah bermakna, “usus”
899
Shahih Muslim, jilid 3, hlm. 1137, no. 5113. Dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, pelayannya, Nafi’, ia berkata:
“Biasanya Ibnu Umar tidak makan hingga didatangnya kepadanya seorang miskin lalu makan bersamanya.
Maka aku pun memasukkan seorang laki-laki untuk makan bersamanya, lalu laki-laki itu makan banyak, maka
ia pun berkata: "Wahai Nafi', jangan kamu masukkan orang ini. sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Seorang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir
makan dengan tujuh usus.'” (Shahih al-Bukhari, Kitab: Ath’imah; Bab: Al Mukmin ya’kul min ma’in wahid)
900
Shahih Muslim, jilid 3, hlm. 1128, no. 5077.
Islamic Online University Tafsir 202
523
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
ب
ِ
َ
ﻜﻳ
ِ
ْ
َ
َ
ْ
َ
ما
َ
ْ
ِ
ْ
ﻟا
ْ
َ
ِ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ُ
ْ
ِ
َ
ِ
َ
د
ْ
ﻵا
ُ
ْ
َ
ٍ
ْ
َ
ْ
ِ
ا
َ
ً
ءﺎ
َ
ِ
و
ِ
َ
دآ
َ
َ
َ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ُ
َ
ْ
ِ
ُ
ٌ
تﺎ
َ
ْ
َ
ُ
ٌ
ُ
ُ
ـﺛ
َ
و
ِ
مﺎ
َ
ﻄﻠ
ِ
ٌ
ُ
ُ
ـﺜ
َ
ـﻓ
ُ
ُ
ْ
َ
ـﻧ
ِ
َ
د
ْ
ﻵا
ْ
َ
َ
َ
ْ
ن
ِ
ِ
َ
ـﻨﻠ
ِ
ٌ
ُ
ُ
ـﺛ
َ
و
ِ
با
َ
ﺸﻠ
ِ
“Saya mendengar Al Miqdam bin Ma'dikarib berkata: "Aku mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah anak Adam
memenuhi tempat yang lebih buruk daripada perutnya, ukuran bagi (perut)
anak Adam adalah beberapa suapan yang hanya dapat menegakkan tulang
punggungnya. Jika jiwanya menguasai dirinya, maka sepertiga untuk
makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas."
901
Imaam al-Qurthubi mengatakan dalam hal ini, “Jika orang-orang mukmin meniru orang-orang
kafir, menikmati kesenangan dari apa pun yang mereka sukai, di mana saja dan kapan saja, di
mana realitas Iman dan di mana penerapan ajaran-ajaran Islam? Semakin banyak seseorang
makan atau minum, semakin besar nafsu makannya, semakin besar pula keinginan dan
kepeduliannya terhadap makanan, dan menjadi semakin malas dia dan menjadi semakin berat
tidurnya
902
di malam hari.”
903
901
Sunan Ibnu Majah, Kitab: Al Ath’imah, Bab: Iqtishad fii akl, dan Sunan At-Tirmidzi.
902
Meskipun tidur nyenyak di malam hari mungkin menjadi sesuatu yang diinginkan oleh mereka yang
mengalami gangguan tidur, ini dianggap sebagai musibah bagi mereka yang ingin bangun malam untuk
melaksanakan shalat tahajjud (qiayamul lail)
903
Al Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 11, hlm. 56-7
Islamic Online University Tafsir 202
524


106. Demikianlah Balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan
kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku
dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.
Allah ‘azza wajalla sekarang menjelaskan konsekuensi utama dan ujung jalan karena
telah menjadi di antara orang-orang yang paling merugi sehubungan dengan perbuatan
seseorang:

“Demikianlah Balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka,”
yakni, ‘Kami akan menghukum mereka di Neraka karena kekafiran mereka.’
904
Tidak adanya
prinsip-kesuksesan yang pertama, yakni iman yang benar, secara otomatis akan memasukkan
seseorang ke neraka. Namun, beberapa alasan mungkin memberi orang-orang kafir
kesempatan lain, seperti orang-orang yang hidup pada masa interval [kenabian].
Akan tetapi orang-orang yang menambah cemoohan kekafiran mereka dengan
mengolok-olok ayat-ayat Allah berada dalam keadaan yang lebih buruk, seperti yang
difirmankan Allah:
“Dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-
olok.” Mereka yang mengolok-olok ayat Allah dan mencemooh rasul-rasul-Nya telah
904
Tafsir Ibnu Katsir
Islamic Online University Tafsir 202
525
mengunci takdir mereka dan telah memesan tempatnya di neraka. Merupakan hal yang umum
bagi mereka yang menentang Allah untuk mengejek iman yang benar dan para pengikutnya
[orang-orang yang beriman], meskipun jauh di dalam hati mereka, mereka mengetahui itulah
yang benar, sebagaimana Firman Allah,



“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan
(mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka
perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat
kebinasaan.” (QS. An-Naml, 27: 14))
Islamic Online University Tafsir 202
526



107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.
Berlawanan dengan orang-orang kafir yang akan mendapati tempat kembalinya di
neraka Jahannam untuk menyambut mereka, orang-orang mukmin akan mendapati surga
sebagai tempat tinggal mereka. Akan tetapi harus terpenuhi dua syarat pada mereka: Iman dan
amal shalih,


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” Ini adalah dua syarat
yang sama yang disebutkan pertama kali di antara empat syarat dalam Surat Al ‘Ashr untuk
menghindarkan diri dari kegagalan dan kerugian.
Tempat iman adalah di hati dan tempat amal shalih adalah anggota badan. Mungkin
juga bahwa yang dimaksud dengan ‘amal shalih’ adalah merujuk pada amalan-amalan hati
seperti, yakin, takut, menyesal, cinta dan emosi/perasaan-perasaan lain yang serupa.
Amal-amal shalih terutama amal-amal yang dilakukan ikhlas demi Allah dan sesuai
dengan tuntunan hukum syariat yang diturunkan oleh Allah. Suatu amal perbuatan tidak bisa
dianggap sebagai amal shalih yang sebenarnya tanpa memenuhi kedua syarat ini. Dengan
demikian amal perbuatan mereka yang berbuat syirik tidaklah diaggap sebagai amal shalih.
Amal-amal yang dilakukan oleh orang yang berbuat bid’ah dalam agama tidaklah disebut
amal shalih. Bahkan mereka akan dilempar dan tersungkur wajahnya. Dalil untuk hal ini dapat
ditemukan dalam hadits qudsi berikut ini,
Islamic Online University Tafsir 202
527
َ
لﺎ
َ
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ْ
َ
ِ
ءﺎ
َ
َ
ﺸﻟا
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
أ
َ
ﱃﺎ
َ
َ
ـﺗ
َ
و
َ
ك
َ
رﺎ
َ
َ
ـﺗ
ِ
ﻪﻴ
ِ
َ
ك
َ
ْ
َ
أ
ً
َ
َ
َ
ِ
َ
ْ
َ
ِ
ك
ْ
ﺸﻟا
ُ
َ
ْ
ِ
َ
و
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ـﺗ ي
ِ
ْ
َ
ﻏ ﻲ
ِ
َ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam
bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Aku adalah sekutu yang
paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan
dengan menyekutukanKu dengan selainKu, Aku meninggalkannya dan
sekutunya'."
905
‘Aisyah juga meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
))
د
َ
ر
َ
ُ
َ
ـﻓ ﺎ
َ
ُ
ْ
َ
أ
ِ
ْ
َ
َ
َ
ْ
َ
ً
َ
َ
َ
ِ
َ
ْ
َ
((
"Barangsiapa mengamalkan suaru perkara yang tidak kami perintahkan,
maka ia tertolak."
906
Syarat kedua, yakni sesuai dengan tuntunan hukum syariat yang diturunkan Allah,
lebih menyeluruh dibandingkan dengan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam karena itu juga mencakup orang-orang mukmin yang mengikuti nabi-nabi
sebelumnya.
905
Shahih Muslim, Kitaab: Zuhd wa Riqaaq; Baab: Man asyraka fi amalihi
906
Shahih Muslim, Kitaab: Aqdiyah; Baab: Naqd al Ahkaam al Baatilah
Islamic Online University Tafsir 202
528
“Bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” Kalimat/frase dalam bahasa
‘Arab yang tepatnya mengungkapkan apa yang akan diberikan kepada orang-orang yang
beriman dan beramal shalih adalah,
“Bagi mereka,” di mana digunakan bentuk lampau “memiliki/bagi.”
907
Fi’il ini bisa untuk
menyatakan kenyataan bahwa taman surga telah diberikan kepada mereka menurut ilmu Allah
sebelum mereka diciptakan da juga kepastian bahwa mereka pasti akan menerimanya.
908
“Adalah surga Firdaus” yakni bagian terbaik dari surga yang disebutkan oleh Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa beliau
bersabda,
))
َ
َ
َ
َ
نﺎ
َ
َ
نﺎ
َ
َ
َ
ر
َ
مﺎ
َ
َ
و
َ
ة
َ
ﺼﻟا
َ
مﺎ
َ
َ
أ
َ
و
ِ
ِ
ُ
َ
ِ
َ
و
ِ
ﻠﻟﺎ
ِ
َ
َ
ﻣآ
ْ
َ
َ
ِ
ُ
و
ِ
ﻟا
ِ
ِ
ﺿ
ْ
ر
َ
أ
ِ
َ
َ
َ
ْ
و
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ﻞﻴ
ِ
َ
ِ
َ
َ
ﻫﺎ
َ
َ
َ
ْ
ﳉا
ُ
َ
ِ
ْ
ُ
ْ
ن
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
َ
َ
ـﻓ
َ
ﻬﻴ
ِ
َ
َ
ﺋﺎ
ِ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ن
ِ
إ
َ
لﺎ
َ
َ
سﺎﻨﻟا
ُ
َ
ُ
ـﻧ
َ
َ
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ا
ُ
َ
َ
ِ
ْ
َ
ـﺘ
َ
َ
ر
ﺪﻟا
َ
ْ
َ
ـﺑ
َ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ﻞﻴ
ِ
َ
ِ
َ
ﻦﻳ
ِ
ِ
ﻫﺎ
َ
ُ
ْ
ِ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
أ
ٍ
َ
َ
ر
َ
د
ا
ُ
ُ
َ
ْ
ﺳﺎ
َ
َ
ﻠﻟا
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ا
َ
ذ
ِ
َ
ِ
ض
ْ
ر
َ
ْ
ﻷا
َ
و
ِ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
َ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
َ
ْ
و
َ
أ
ُ
ِ
َ
َ
س
ْ
و
َ
د
ْ
ِ
ْ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ُ
رﺎ
َ
ْ
ـﻧ
َ
أ
ُ
َ
َ
ـﺗ
ُ
ْ
ِ
َ
و
ِ
َ
ْ
ﺮﻟا
ُ
ش
ْ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ـﻓ
ُ
ﻩا
َ
ر
ُ
أ
ِ
َ
ْ
ﳉا ﻰ
َ
ْ
َ
أ
َ
و
ِ
َ
ْ
ﳉا((
907
Dalam bahasa Arab kata kerja “memiliki/bagi” diungkapkan dengan menggunakan kata kerja “kaana”
bersama dengan kata depan “li” (untuk)
908
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, pp. 147-8.
Islamic Online University Tafsir 202
529
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah, menegakkan shalat, berpuasa
bulan ramadhan, maka sudah pasti Allah akan memasukkannya ke dalam
surga, baik apakah dia berjihad di jalan Allah atau dia hanya duduk tinggal
di tempat di mana dia dilahirkan." Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai
Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami sampaikan berita gembira ini
kepada orang-orang?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada
seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya bagi para mujahid
di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit
dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga
Firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku
pernah diperlihatkan bahwa diatas Firdaus itu adalah singgasanannya
Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai
surga."
909
Qatadah mengatakan, “Firdaus adalah sebuah bukit di Surga [yang terletak] di tengah-
tengahnya dan tempat terbaik di surga.” Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda,
))
َ
أ
َ
و ﺎ
َ
ُ
َ
ْ
و
َ
أ
َ
و
ِ
َ
ْ
ﳉا
ُ
ة
َ
ْ
ـﺑ
َ
ر
ُ
س
ْ
و
َ
د
ْ
ِ
ْ
ﻟا
ُ
ـﻨ
َ
ْ
َ
((
“Firdaus adalah surga yang paling tinggi dan yang paling baik.
910
909
Shahih Al Bukhari, Kitaab: Jihaad dan Penjelajahan; Baab: Derajat orang yang berperang di jalan Allah.
Imaam Ibnu Hajar menjelaskan dalam syarahnya pada kitab Shahih al-Bukhaari, bahwa alasan mengapa
zakat dan haji tidak disebutkan dahulu bukanlah karena keduanya belum diwajibkan pada saat itu seperti yang
dikatakan oleh Ibnu Batthal, namun hal itu dikarenakan keduanya tidak disebutkan oleh sebagian perawi. Juga,
penjelasan yang lain adalah karena pernyataan tersebut bukan dalam konteks menjelaskan rukun Islam, maka
lebih tepat untuk disebutkan secara ringkas. Selain itu, Zakat hanya diwajibkan bagi mereka yang kelebihan
harta dan Haji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu dan hanya sekalil seumur hidup. (Fat’hul-Baari)
910
Dikeluarkan oleh ath-Thabari, (8/298) dan dishahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 2537, dan as
Silsilaj As Shahihah, no. 1811 dan 2003.
Islamic Online University Tafsir 202
530




108. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari
padanya.
Allah ‘azza wajalla mengambarkan keadaan orang-orang beriman yang mendapatkan
Firdaus dengan,


“Mereka kekal di dalamnya.” Ini dipahami sebagai tempat tinggal abadi menurut para
ulama Ahlus-Sunnah. Mereka yang menentang pemahaman ini terutama Jahm ibn Shafwaan
(w. 745CE)
911
dan orang-orang Mu‘tazilah yang mengklaim menurut akal mereka bahwa
semua yang diciptakan oleh Allah pasti berakhir. Jumlah ayat dalam Al-Qur'an yang
menegaskan sifat surga yang kekal sangatlah banyak dan jumlah hadits dari nabi juga tak
kalah banyaknya.

“Mereka tidak ingin berpindah dari padanya,” yakni mereka tidak akan meminta
perubahan apa pun karena setiap penduduk akan merasa senang dengan kesenangan yang
diberikan kepadanya. Di dunia ini, seseorang yang memiliki istana yang indah dan melihat
orang lain dengan istana yang lebih indah tidak akan mendapatkan kesenangan penuh dari
istananya. Namun, meskipun terdapat tingkatan-tingkatan di surga, setiap orang akan merasa
bahwa tidak ada yang memiliki lebih dari dirinya. Sebaliknya, orang-orang di neraka akan
berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang azabnya yang lebih berat daripada azab yang ia
terima.
912
911
Shorter Encyclopaedia of Islam, hlm. 83
912
Tafsir al-Qur’aan al-Karim, pp. 149.
Islamic Online University Tafsir 202
531





109. Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis
(ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan
tambahan sebanyak itu (pula)".
Ayat ini menjelaskan tentang kekuatan dan kekuasaan kalimat Allah dan
keistimewaan yang dengannya Al Quran ditulis. Allah mulai dengan memerintahkan kepada
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk memberikan perumpamaan tentangnya
agar bisa menerangkan dengan jelas Keagungan-Nya. Dia berfirman kepada beliau,



“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat
Tuhanku,” yakni seandainya lautan diubah menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat
Allah,

“Sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku,” karena
kalimat-kalimat Allah tidak ada habisnya, sebagaimana Dia berfirman di tempat lain,
Islamic Online University Tafsir 202
532

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.” (QS.
Luqman 31: 27)
“Meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)," atau tujuh laut lagi,
sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, maka air laut akan kering dan pena akan habis
semuanya dan kalimat-kalimat Allah tidak akan selesai ditulis.
Ayat ini menunjukkan dalil tekstual yang jelas dinisbatkannya sifat kalam (berbicara)
kepada Allah, subhanahu wata’ala.
913
Ulama Pakistan dari abad ke dua belas Ibnu Qudamah
mengatakan, “Di antara sifat-sifat Allah, ‘azza wajalla, adalah Dia berbicara dari zaman azali
(qadim)
914
yang mengizinkan siapa saja yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya untuk
mendengarnya. Nabi Musa alaihissalam, mendengarnya tanpa perantara,
915
Jibril,
913
Tafsir al-Qur’aan al-Karim.
914
Yakni, sifat kalam bagi Allah adalah abadi, namun perbuatan berbicara terjadi dalam lingkup waktu. Inilah
pendapat ahlus sunnah, meskipun pernyataan Ibnu Qudamah mengisyaratkan bahwa perbuatan berbicara
sendiri itu pun abadi. ‘Ibnu Abdil ‘Izz mengidentifikasikan pendapat ulama hadits dan sunnah terkemuka
adalah bahwa, “Allah telah berbicara dari zaman azali, kapan pun dan sebagaimana Dia kehendaki untuk
berbicara. Dia telah berbicara dengan kalimat-kalimat yang memiliki suara yang dapat didengar. Secara
keseluruhan, kalam-Nya abadi, meskipun suara tertentu itu sendiri tidak abadi.” (Syarah Aqidah Thahawiyah,
hlm. 97).
915
Dalil bahwa Allah berbicara secara langsung kepada Nabi Musa tanpa perantara dapat ditemukan dalam ayat
berikut,

“Dan aku telah memilih kamu, Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).”
(QS. Thaha 20: 13)
Islamic Online University Tafsir 202
533
alaihissalam, juga mendengarnya,
916
dan begitu juga siapa saja di antara para malaikat, dan
para rasul yang Dia izinkan
917
[Termasuk di antara sifat-sifat-Nya] bahwa Dia, ‘azza wajalla,
916
Dalil bahwa Malaikat Jibril mendengar firman Allah dapat disimpulan dari ayat berikut ini,

“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu.”
(QS. An Nahl 16: 102)
917
Dalil bahwa para malaikat mendengar kalam Allah terdapat dalam hadits berikut,
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻨﻟا
ِ
بﺎ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ٌ
ُ
َ
ر
ِ
َ
َ
ـﺒ
ْ
َ
أ
َ
لﺎ
َ
ٍ
سﺎ
َ
َ
ْ
ِ
ﻠﻟا
َ
ْ
َ
ن
َ
أ
ِ
رﺎ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ْ
ِ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
َ
ر
َ
َ
ً
َ
ْ
ـﻴ
َ
ٌ
س
ُ
ُ
ْ
ُ
َ
َ
ْ
ـﻴ
َ
ـﺑ
ْ
ُ
ـﻧ
َ
أ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ل
ُ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
ْ
ُ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
رﺎ
َ
َ
ـﺘ
ْ
ﺳﺎ
َ
ٍ
ْ
َ
ِ
َ
ِ
ُ
ر
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ا
َ
َ
ِ
ْ
ِ
ِ
َ
ِ
ُ
ر ا
َ
ذ
ِ
إ
ِ
ِ
ِ
ﻫﺎ
َ
ْ
ﳉا
ِ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﺗ
ْ
ُ
ْ
ُ
ا
َ
ذﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
ُ
ُ
َ
ْ
َ
أ
ُ
ُ
ُ
َ
ر
َ
و
ُ
ﻠﻟا
ٌ
ﻢﻴ
ِ
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
تﺎ
َ
َ
و
ٌ
ﻢﻴ
ِ
َ
ٌ
ُ
َ
ر
َ
َ
ْ
ـﻴ
ﻠﻟا
َ
ِ
ُ
و
ُ
ل
ُ
َ
ـﻧ
ٍ
َ
َ
أ
ِ
ت
ْ
َ
ِ
َ
ِ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
َ
ـﻧ
ِ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
ً
ْ
َ
أ
َ
َ
ا
َ
ذ
ِ
إ
ُ
ُ
ْ
ﲰا
َ
ﱃﺎ
َ
َ
ـﺗ
َ
و
َ
ك
َ
رﺎ
َ
َ
ـﺗ
َ
ـﺑ
َ
ر
ْ
ِ
َ
َ
و
ِ
ِ
ﺗﺎ
َ
َ
ِ
َ
َ
و
ِ
ش
ْ
َ
ْ
ﻟا
ُ
َ
َ
َ
َ
َ
ا
ِ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
ِ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ
ُ
ﺢﻴ
ِ
ْ
ﺘﻟا
َ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
َ
ْ
ُ
َ
ـﻧ
ُ
َ
ـﻳ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
ِ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
ُ
ْ
َ
أ
َ
َ
ُ
ْ
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ا
َ
ذﺎ
َ
ِ
ش
ْ
َ
ْ
ﻟا
ِ
َ
َ
َ
ِ
ِ
ش
ْ
َ
ْ
ﻟا
َ
َ
َ
َ
َ
ن
ُ
َ
ـﻳ
َ
ﻦﻳ
ِ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
ُ
َ
ـﻧو
ُ
ِ
ْ
ُ
َ
ـﻓ
َ
ً
ْ
َ
ـﺑ
ِ
تا
َ
وﺎ
َ
ﺴﻟا
ِ
ْ
َ
أ
ُ
ْ
َ
ـﺑ
ُ
ِ
ْ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
َ
لﺎ
َ
َ
لﺎ
َ
ا
َ
ذﺎ
َ
ْ
َ
ِ
إ
َ
ن
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ْ
ﺴﻟا
ِ
ْ
ﳉا
ُ
َ
ْ
َ
َ
ـﻓ
َ
ْ
ـﻧ
ﺪﻟا
َ
ءﺎ
َ
ﺴﻟا
ِ
ِ
َ
ُ
َ
ـﺒ
َ
ْ
ﳋا
َ
ُ
ْ
ـﺒ
َ
ـﻳ
َ
َ
ُ
َ
ـﻓ
ِ
ِ
ْ
َ
و
َ
َ
ِ
ِ
او
ُ
ءﺎ
َ
َ
َ
ِ
ِ
َ
ن
ْ
َ
ْ
ُ
ـﻳ
َ
و
ْ
ِ
ِ
ﺋﺎ
َ
ِ
ْ
و
َ
أ
َ
ن
ُ
ِ
ْ
َ
ـﻳ
ْ
ُ
ـﻨ
ِ
َ
َ
و
َ
نو
ُ
ﺪﻳ
ِ
َ
َ
و
ِ
ﻪﻴ
ِ
Islamic Online University Tafsir 202
534
akan berfirman kepada orang-orang beriman pada hari Kiamat dan mereka akan berbicara
kepada-Nya.
918
'Abdullah bin 'Abbas berkata: "Seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari
kalangan Anshar bercerita kepadaku: bahwa pada suatu malam ketika mereka sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba mereka dijatuhi
bintang (meteor) yang bersinar. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya
kepada mereka: 'Apa yang kalian katakan pada masa jahiliyah apabila dijatuhi bintang
seperti ini? ' Jawab mereka: 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Dahulu kami
berkomentar: 'Malam ini telah lahir orang yang besar dan telah meninggal orang yang
besar pula.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya
bintang (meteor) itu tidak jatuh karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena
lahirnya seseorang. Tetapi Rabb kita, yang nama-Nya penuh berkah dan Maha Tinggi,
apabila Dia memutuskan suatu urusan, maka bertasbihlah pemikul 'Arasy, kemudian
bertasbih pula penduduk langit setelah mereka, sehingga tasbih mereka terdengar pula
oleh penduduk langit dunia ini. Kemudian orang-orang yang dekat pemikul 'Arasy
berkata kepada mereka: 'Apa yang telah difirmankan Rabb kalian? ' Lalu mereka
ceritakan apa yang telah difirmankan Allah. Maka penduduk langit yang lainnya pun
saling mencari kabar tersebut sesama mereka, sehingga berita itu sampai pula kepada
penduduk langit dunia ini. Berita itu tertangkap oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya
kepada pemimpin-pemimpin mereka, tetapi mereka dilempar karenanya. Maka apa yang
disampaikannya menurut berita yang sebenarnya, itu benar. Tetapi biasanya mereka
bohong dan beritanya mereka tambah-tambah.' (Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1210, no.
5538.)
Adapun untuk dalil bahwa Allah berbicara kepada rasul lain selain Nabi Musa, telah dinyatakan dengan
shahih bahwa Allah berbicara kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pada alam hari di waktu
Mi’raj. Lihat Shahih Al-Bukhari, jilid 9, hlm. 449-54, no. 608 dan Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 103-4, no. 313.
918
Dalil bahwa Allah akan berbicara kepada penduduk Surga dan bahwa mereka akan berbicara kepada-Nya
terdapat dalam hadits shahih berikut ini,
َ
لﺎ
َ
ي
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
ﳋا
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
ﻠﻟا
ن
ِ
إ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻳ
َ
ﱃﺎ
َ
َ
ـﺗ
َ
و
َ
ك
َ
رﺎ
َ
َ
ـﺗ
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
و ﺎ
َ
ـﺑ
َ
ر
َ
ْ
ـﺒ
َ
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ِ
َ
ْ
ﳉا
َ
ْ
َ
أ ﺎ
َ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ْ
َ
ِ
ُ
ل
ُ
ا
ً
َ
َ
أ
ِ
ْ
ُ
ـﺗ
ْ
َ
ﱂ ﺎ
َ
ﻣ ﺎ
َ
َ
ـﺘ
ْ
َ
ْ
َ
أ
ْ
َ
َ
و ﻰ
َ
ﺿ
ْ
َ
ـﻧ
َ
ﻻ ﺎ
َ
َ
ﻟ ﺎ
َ
َ
و
َ
ن
ُ
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ْ
ُ
ﺘﻴ
ِ
ﺿ
َ
ر
ْ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
ْ
ِ
َ
َ
ْ
َ
أ
ْ
ُ
ﻜﻴ
ِ
ْ
ُ
أ ﺎ
َ
َ
أ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ِ
ٍ
ء
ْ
َ
ي
َ
أ
َ
و
ب
َ
ر ﺎ
َ
ﻳ ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
ِ
َ
ذ
ا
ً
َ
َ
أ
ُ
َ
ْ
َ
ـﺑ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
ِ
ﱐا
َ
ْ
ﺿ
ِ
ر
ْ
ُ
ْ
َ
َ
ِ
ُ
أ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻴ
َ
ـﻓ
َ
ِ
َ
ذ
ْ
ِ
ُ
َ
ْ
َ
أ
Islamic Online University Tafsir 202
535
Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS. An
Nisa 4: 164)





“Allah berfirman: "Hai Musa, Sesungguhnya aku memilih
(melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk
membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” (QS.
Al A’raf 7: 144)

“Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan
dia).” (QS. Al Baqarah 2: 253)
Abu Said Al Khudzri mengatakan, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasalalm bersabda: "Allah
tabaraka wata'ala berfirman kepada penghuni surga: 'Wahai penghuni surga! ' 'Baik, dan
kami penuhi panggilan-Mu, ' Jawab penghuni surga. Allah berfirman: 'telah puaskah
kalian? ' mereka menjawab: 'Bagaimana mungkin kami tidak puas, sementara Engkau
telah memberi kami yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-
Mu.' Maka Allah berrfirman: 'Sekarang Aku beri kalian suatu yang lebih utama daripada
itu.' Penghuni surga bertanya: 'Wahai rabbi, apa yang lebih utama dari kesemuanya? '
Allah berfirman: 'Kuhalalkan keridhaan-Ku untuk kalian, dan Aku tidak murka kepada
kalian selama-lamanya.'" (Shahih al-Bukhari, jilid 8, hlm. 363-4, no. 557).
Islamic Online University Tafsir 202
536





“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-
kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang
tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu
diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy Syura
42: 51)





“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.
Sesungguhnya Aku Inilah Tuhanmu, Maka tanggalkanlah kedua
terompahmu; Sesungguhnya kamu berada dilembah yang Suci,
Thuwa.” (QS. Thaha 20: 11-12)


“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.” (QS. Thaha 20: 14)
Tidak diperbolehkan untuk mengatakan bahwa [yang berbicara dalam ayat-ayat ini]
adalah orang lain selain Allah. Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
Islamic Online University Tafsir 202
537
))
َ
ﻮﺻ ﻊﲰ ﻲﺣﻮﻟﺎﺑ ﷲا ﻢﻠﻜﺗ اذإ ءﺎﻤﺴﻟا
ُ
ﻞﻫأ((
“Ketika Allah berfirman tentang suatu wahyu, suara-Nya didengar oleh
para penduduk langit,”
Dan Ibnu Mas’ud meriwayatkan ini dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
919
‘Abdullah bin Unais meriwayatkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
َ
َ
و
َ
ْ
ُ
ـﻗ
َ
لﺎ
َ
ً
ْ
ُ
ـﺑ
ً
ْ
ُ
ً
ةا
َ
ُ
ُ
دﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
سﺎﻨﻟا
ُ
َ
ْ
ُ
َ
َ
أ
ٍ
ب
ْ
ُ
ـﻗ
ْ
ِ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
ٍ
ت
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻬﻳ
ِ
دﺎ
َ
ُ
ـﻳ
ُ
ٌ
ء
ْ
َ
ْ
ُ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
ً
ْ
ُ
ـﺑ
َ
أ
ُ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ُ
نﺎ
ﺪﻟا ﺎ
َ
"Manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat", --atau bersabda dengan
redaksi para hamba--, dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam
keadaan buhman", lalu kami bertanya, "Apakah buhman itu?" Beliau
bersabda: "Tidak memakai pakaian sehelai benangpun", lalu ada suara
yang memanggil mereka dari dekat, 'Aku adalah raja dan Aku Dayyan
919
Shahih al-Bukhari, jilid 9, hlm. 426, Bab 32. Lafadz hadits secara lengkap dalam Shahih al-Bukhari adalah
sebagai berikut,
ِ
إ
َ
ﺴﻟا
ُ
ْ
َ
أ
َ
ِ
َ
ِ
ْ
َ
ْ
ﻟﺎ
ِ
ُ
ﻠﻟا
َ
َ
َ
ﺗ ا
َ
ذ
ِ
تا
َ
َ
ﻓ ﺎ
ً
ْ
َ
َ
و
ْ
ِ
ِ
ُ
ُ
ـﻗ
ْ
َ
َ
ع
ُ
ـﻓ ا
َ
ذ
ِ
َ
َ
َ
ا
ْ
و
َ
دﺎ
َ
َ
و
َ
ﳊا
ُ
َ
أ ا
ُ
َ
َ
ُ
ت
ْ
ﺼﻟا
ُ
َ
ر
َ
لﺎ
َ
ﻗ ا
َ
ذﺎ
َ
ْ
ُ
ﻟﺎ
َ
ا
َ
ْ
ﳊا
"Jika Allah berkata menyampaikan wahyu maka penduduk langit mendengar sesuatu,
Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, dan telah berhenti suara
itu mereka mengangkat [kepala mereka] berkata: 'Sungguh ini adalah sesuatu yang
benar.” Dan mereka saling menyeru, “Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb-mu?”
Mereka menjawab: '(Perkataan) yang benar, '
Islamic Online University Tafsir 202
538
(pemberi pembalasan)’” (Sebagian ulama hadits meriwayatkannya
920
dan
Imam Bukhari menggunakannya sebagai dalil.
921
920
Imam Ahmad mengeluarkannya dalam Musnad beliau, dalam Musnad penduduk Makkah, no. 15464.
َ
َ
و
َ
ْ
ُ
ـﻗ
َ
لﺎ
َ
ً
ْ
ُ
ـﺑ
ً
ْ
ُ
ً
ةا
َ
ُ
ُ
دﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
لﺎ
َ
ْ
و
َ
أ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
ُ
سﺎﻨﻟا
ُ
َ
ْ
ُ
َ
َ
أ
ٍ
ب
ْ
ُ
ـﻗ
ْ
ِ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
ٍ
ت
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻬﻳ
ِ
دﺎ
َ
ُ
ـﻳ
ُ
ٌ
ء
ْ
َ
ْ
ُ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
ً
ْ
ُ
ـﺑ
ُ
َ
َ
و
َ
رﺎﻨﻟا
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ن
َ
أ
ِ
رﺎﻨﻟا
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ٍ
َ
َ
ِ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
و
ُ
نﺎ
ﺪﻟا
َ
َ
أ
ُ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ُ
َ
أ
َ
َ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ٍ
َ
َ
أ
َ
ْ
ِ
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ٍ
َ
َ
ِ
ِ
َ
ْ
َ
ـﻳ
َ
َ
و
ُ
ْ
ِ
ُ
ُ
ْ
ِ
ُ
ُ
َ
أ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ِ
ِ
رﺎﻨﻟا
ِ
ْ
َ
أ
ْ
ِ
ٍ
َ
َ
ِ
َ
و
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
ُ
ْ
َ
ْ
ن
َ
أ
ِ
َ
ْ
ﳉا
ً
ْ
ُ
ً
ةا
َ
ُ
َ
َ
و
َ
َ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
َ
ِ
إ
ِ
إ
َ
و
َ
ْ
َ
َ
ْ
ُ
ـﻗ
َ
لﺎ
َ
ُ
َ
ْ
ﻠﻟا
َ
ً
ْ
ُ
ـﺑ
ِ
تﺎ
َ
ﺴﻟا
َ
و
ِ
تﺎ
َ
َ
َ
ْ
ﳊﺎ
ِ
َ
لﺎ
َ
"Manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat", --atau bersabda dengan redaksi para
hamba--, dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan buhman", lalu
kami bertanya, "Apakah buhman itu?" Beliau bersabda: "Tidak memakai pakaian sehelai
benangpun", lalu ada suara yang memanggil mereka dari dekat, 'Aku adalah raja dan Aku
Dayyan (pemberi pembalasan) tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk
neraka sedangkan dia mempunyai hak atas seseorang dari penduduk surga sampai Aku
memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk
syurga sedangkan seseorang dari penduduk nereka mempunyai hak atas dirinya sampai
Aku memberikan haknya. Sampai satu tamparan sekalipun. (Jabir bin Abdullah) berkata:
kami bertanya, Bagaimana ini? Kami mendatangi Allah Azzawajalla dalam keadaan
telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benangpun? Maka beliau
bersabda: "Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan".
921
Imam Bukhari menggunakannya sebagai dalil pendukung untuk pendapatnya bahwa kalam Allah bukanlah
makhluk (tidak diciptakan).
Lafadz dalam Shahih Bukhari yakni sebagai berikut,
ٍ
ْ
َ
ـﻧ
ُ
أ
ِ
ْ
ِ
ﻠﻟا
ِ
ْ
َ
ْ
َ
ِ
ﻨﻟا
ُ
ْ
ِ
َ
َ
لﺎ
َ
ُ
ﻠﻟا ﻰ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
َ
ُ
ل
ُ
َ
ـﻳ
ْ
َ
ُ
ُ
ُ
ﻠﻟا
ﻟا
َ
دﺎ
َ
ِ
َ
ِ
َ
ﻣﺎ
َ
ِ
ْ
ﻟا
َ
م
ْ
َ
ـﻳ
َ
ـﻓ
َ
ُ
ـﻴ
َ
ُ
ُ
َ
ْ
َ
ٍ
ت
ْ
َ
ِ
ْ
ِ
ﻬﻳ
ِ
دﺎ
َ
ـﻗ
ْ
ُ
َ
ب
ُ
نﺎ
ﺪﻟا ﺎ
َ
َ
أ
ُ
ِ
َ
ْ
ﻟا ﺎ
َ
َ
أ
Islamic Online University Tafsir 202
539
Dua kelompok utama yang menolak pemahaman ini adalah Jahmiyyah/Mu’tazilah dan
Asy’ariyyah. Jahmiyyah/Mu’tazilah mengatakan bahwa “kalam/berbicara” bukanlah satu dari
sifat-sifat Allah. Namun ia adalah salah satu dari makhluk Allah yang Dia ciptakan di udara
atau tempat-tempat yang darinya ia didengar. Maka menyandarkannya kepada Allah
merupakan bentuk penyandaran makhluk kepada sang Pencipta atau sebagai bentuk
pemuliaan, seperti dalam hal “Unta Allah” dan “Rumah Allah (baitullah).” Argumen ini
tertolak karena bertentangan dengan ijma’ Salaf. Selain itu, argumen ini tidak masuk akal,
karena berbicara adalah sifat dari pembicara, dan bukan sesuatu yang ada secara bebas
terlepas darinya (pembicaranya). Dan juga, Nabi Musa mendengar Allah berfirman,

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, Maka sembahlah Aku.” (QS. Thaha 20: 14)
Dan tidak mungkin bagi seorang pun selain Allah, ‘Azza wajalla untuk mengatakan
hal seperti itu.
Mereka lebih lanjut berargumen bahwa “berbicara” merupakan suatu hal yang
dimasukkan di dalam kategori “segala sesuatu” yang disebutkan dalam ayat,





“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala
sesuatu.” (QS. Az-Zumar 39: 62)
Dari ‘Abdullah bin Unais berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, "Allah akan mengumpulkan hamba-Nya pada Hari Kiamat lalu ada suara yang
memanggil mereka dari dekat, 'Aku adalah raja dan Aku Dayyan (pemberi pembalasan)."
(Shahih al-Bukhari, jilid 9, hlm. 427, Bab 32.) Imam Bukhari memasukkan hadits ini dalam bentuk
mu’allaq yakni tanpa sanad yang penuh. Akan tetapi, beliau mengeluarkannya dalam kitabnya yang lain,
Adabul Mufrad, no. 970, begitu juga Imam Ahmad dalam Musnad-nya, jilid 3, no. 495 dan al-Baihaqi dalam
Asma wash Shifat, hlm. 78-9. Dishahihkan Al-Albani dalam suntingan beliau pada kitab Syarhus Sunnah, no.
514.
Islamic Online University Tafsir 202
540
Hanya ada Pencipta dan makhluk; Allah adalah Pencipta dan segala sesuatu selain Dia
adalah makhluk. Karena itu kalam-Nya pastilah makhluk. Akan tetapi, kalam merupakan
salah satu sifat Allah dan sifat Sang Pencipta bukanlah makhluk. Lebih jauh, kalimat “segala
sesuatu” mungkin bersifat umum yang mungkin juga memaksudkan sesuatu yang khsus
seperti dalam firman Allah yang menggambarkan Ratu Saba’ dengan,

“Dan Dia dianugerahi segala sesuatu.” (QS. An-Naml 27: 23)
Istilah "segala sesuatu" digunakan, meskipun banyak hal yang tidak berada dalam
kekuasaannya. Sebagai contoh, kekuasaan Nabi Sulaymaan adalah khusus bagi dirinya
sendiri.
922
Penafsiran yang benar adalah bahwa ia diberikan sebagian dari segala sesuatu 'yang
dibutuhkan raja'. Kualifikasi ini dapat dipahami dari konteksnya. Apa yang ingin dikatakan
oleh burung Hud-hud
923
adalah bahwa dia memiliki segala sesuatu untuk memerintah
kerajaannya dan tidak membutuhkan apa-apa.
924
Ibn Abil-‘Izz menjelaskan tentang posisi Ahlus-Sunnah mengenai sifat kalamullah
sebagai berikut: “Ketika kita mengatakan bahwa Allah berbicara, kita menegaskan salah satu
sifat kesempurnaan-Nya. Pengingkaran untuk menyandarkan sifat ini kepada-Nya adalah
kebatilan. Ini dengan jelas ditunjukkan oleh dirman Allah, Dan kaum Musa, setelah
kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka
anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa
anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula)
menunjukkan jalan kepada mereka?”(7: 148). Para penyembah anak sapi, penyelewengan
mereka tidak bertahan lama, mereka mengenal Tuhan mereka lebih baik daripada Mu‘tazilah,
karena mereka tidak mengatakan kepada Nabi Musa bahwa Tuhannya tidak dapat berbicara.
Mengenai anak sapi itu, Allah juga berfirman: "Maka Apakah mereka tidak
memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada
mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula)
kemanfaatan?" (20: 89). Dari penjelasan ini jelas bahwa ketidakmampuan untuk menjawab
922
Syarh Lum’ah, hlm. 72-3 dan Syarh Aqidah al Wasithiyyah, hlm. 366.
923
Lihat Catatan Kaki 781.
924
Syarh Aqidah at-thahawiyah, hlm. 102.
Islamic Online University Tafsir 202
541
atau berbicara adalah argumen yang Allah gunakan untuk menyangkal keilahian anak sapi
tersebut.
Pengingkaran terkuat yang dinyatakan orang-orang Mu’tazilah menentang kalam
Allah adalah bahwa menetapkan sifat kalam bagi Allah berarti menyerupakan Allah dengan
manusia dan menyandarkan kepada-Nya suatu jasad. Namun, pengingkatan ini tidaklah valid.
Ketika kita mengatakan bahwa Allah berbicara, kita menambahkan syarat, 'dengan cara yang
sesuai dengan keagungan-Nya'. Allah berfirman, Pada hari ini Kami tutup mulut mereka;
dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka
terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (36:65). Kita percaya bahwa tangan dan
kaki akan berbicara, tetapi kita tidak tahu bagaimana mereka akan berbicara. Demikian pula,
Allah berfirman: "Mereka akan berkata kepada kulit mereka, Dan mereka berkata kepada
kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" kulit mereka menjawab:
"Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan Kami pandai
(pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya
kepada-Nya lah kamu dikembalikan" Kami percaya bahwa kerikil dan makanan
memuliakan Allah, dan bahwa batu memberi salam, dan suara kata-kata yang diucapkan
datang dari mereka bahkan mengira mereka tidak punya mulut. [SB, SM]”
925
Orang-orang Asy’ariyyah, di sisi lain, mengklaim bahwa ucapan Allah adalah makna
yang ada di dalam diri-Nya yang tidak terkait dengan keinginan-Nya. Lebih jauh, huruf-huruf
ini dan suara-suara yang terdengar ini dibuat [di udara] untuk mengungkapkan makna yang
ada dalam diri Allah. [Abu Mansur al-Maaturidi berpendapat bahwa kalam Allah adalah
gagasan yang ada dalam diri-Nya, yang kemudian Dia ciptakan dalam diri orang lain.
926
]
Klaim ini juga ditolak karena bertentangan dengan kesepakatan salaf; itu berbeda dengan dalil
yang menunjukkan bahwa kalam Allah didengar, dan hanya suara yang terdengar, bukan
makna yang keluar dari dalam. Ini juga bertentangan dengan pemahaman kebiasaan, karena
“kalam/ucapan” menurut adat (kebiasaan) adalah apa yang diungkapkan oleh pembicara dan
bukan apa yang dia sembunyikan di dalam dirinya sendiri.
927
Mengomentari pendapat orang-orang Asy’ariyyah, Ibnu Abil-‘Izz menulis: “Banyak
dari orang-orang Hanafi yang kemudian meyakini bahwa kalam Allah itu satu dan bahwa
keberagaman itu menyangkut ekspresinya dalam kata-kata, bukan dalam kalam itu sendiri.
Kata-kata adalah makluk; mereka disebut firman Allah karena kalam itu mengekspresikan
ucapan-Nya dan menyampaikannya. Ketika dikomunikasikan dalam bahasa Arab, itu menjadi
925
Syarh Aqidah at-thahawiyah, hlm. 98.
926
Syarh Aqidah at-thahawiyah, hlm. 97.
927
Syarh Lum’ah, hlm. 72-3.
Islamic Online University Tafsir 202
542
Al-Qur'an, dan ketika dikomunikasikan dalam bahasa Ibrani itu menjadi Taurat. Oleh karena
itu, bahasalah yang bervariasi, bukan kalamnya. Ketika kita mengatakan bahwa kata-kata itu
adalah kalam Allah, kita mengatakannya dalam pengertian metaforis. Pandangan ini salah. Ini
berarti bahwa kata-kata, "Dan janganlah kamu mendekati zina;" (17:32), memiliki arti
yang sama dengan "Dan dirikanlah shalat," (2: 143)" Demikian pula, Ayat Kursi (2: 255)
akan berarti sama dengan ayat tentang transaksi yang melibatkan utang (2: 282-3), dan makna
Surat al-Ikhlaas (112) akan sama dengan Surat al- Lahab (111). Diperlukan hanya sedikit saja
perenungan untuk meyakini bahwa pandangan ini batil dan bertentangan dengan keyakinan
salaf.”
928
Kalimat-kalimat Allah bersifat kauni dan syari’iyyah. Kalimat-kalimat syar’iyyah-Nya
adalah apa yang Dia ungkapkan kepada para rasul-Nya, sebagaimana dalam ayat, .
   
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu
hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” (QS.
Yasin 36: 82)
928
Syarh Aqidah at-thahawiyah, hlm. 107-8.
Islamic Online University Tafsir 202
543








110. Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu,
yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya."
Allah menutup surat ini dengan menetapkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam adalah manusia biasa dan juga menetapkan sifat Keesaan-Nya. Dia
mememerintahkan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengatakan,

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu,” dan bukan malaikat
bukan pula setengah dewa. Kalimat, “manusia biasa seperti kamu” ditambahkan untuk
menekankan lebih lanjut bahwa sifat kemanusiaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam selalu menekankan untuk menggunakan gelar “hamba Allah”
merujuk pada dirinya sendiri untuk menghindari pujian yang berlebihan kepada diri beliau.
Diriwayatkan oleh Umar bin Khattab bahwa beliau bersabda,
Islamic Online University Tafsir 202
544
))
ُ
ْ
َ
ا
ُ
ُ
َ
ـﻓ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
َ
أ
َ
ِ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
ْ
ﺑا ى
َ
رﺎ
َ
ﻨﻟا
ْ
ت
َ
ْ
َ
أ
َ
َ
ِ
و
ُ
ْ
ُ
َ
ُ
ُ
ُ
َ
ر
َ
و
ِ
ﻠﻟا((
"Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan)
sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan 'Isa bin Maryam.
Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah 'abdullahu
wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya)."
929
Karena inilah Allah mengoreksi beberapa kesalahan yang dibuat oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dalam Al Quran, untuk tetap menetapkan sifat kemanusiaan beliau. Dan
dalam Sunnah juga diriwayatkan sejumlah contoh dan peringatan yang beliau berikan. DI
antara contoh bahwa beliau adalah manusia biasa dalam kehidupan ini yakni dalam peristiwa
Pucuk Pohon Kurma di Madinah,
Musa bin Thalhah dari Bapaknya dia berkata: "Saya bersama Rasulullah
pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang berada di pucuk pohon
kurma. Tak lama kemudian beliau bertanya: 'Apa yang dilakukan orang-
orang itu? '" Para sahabat menjawab: 'Mereka sedang mengawinkan pohon
kurma dengan meletakkan benang sari pada putik agar lekas berbuah.' Maka
Rasulullah pun bersabda: 'Aku kira perbuatan mereka itu tidak ada
gunanya.' Thalhah berkata: 'Kemudian mereka diberitahukan tentang sabda
Rasulullah itu. Lalu mereka tidak mengawinkan pohon kurma.' Selang
beberapa hari kemudian, Rasulullah diberitahu bahwa pohon kurma yang
dahulu tidak dikawinkan itu tidak berbuah lagi. Lalu Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: 'Jika okulasi (perkawinan) pohon kurma itu
berguna bagi mereka, maka hendaklah mereka terus melanjutkannya.
Sebenarnya aku hanya berpendapat secara pribadi. Oleh karena itu,
janganlah menyalahkanku karena adanya pendapat pribadiku. Tetapi, jika
aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu dari Allah, maka hendaklah
kalian menerimanya. Karena, aku tidak pernah mendustakan Allah ‘azza
wajalla.'
930
929
Shahih al Bukhari, jilid 8, hlm. 537, no. 817.
930
Shahih Muslim, jilid 4, hlm. 1259, no. 5830.
Islamic Online University Tafsir 202
545
Akan tetapi meskipun sudah dijelaskan dengan nyata, berbagai sekte dan kultus
muncul di tengah-tengah kaum Muslimin yang mengklaim bahwa Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam bukanlah manusia biasa.
Bareilawisme
Sekte Bareilawis yang menjadi mayoritas di antara umat Muslim di Pakistan,
menganggap bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup dalam kuburnya dan
mampu menyampaikan doa kita kepada Allah. Selain itu mereka menambahkan kepercayaan
lain bahwa Nabis shallallahu 'alaihi wasallam adalah setengah ilahi. Mereka mengklaim,
dengan menggunakan hadits palsu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diciptakan Allah
dari cahaya dan makhluk lainnya diciptakan dari cahayanya. Bahkan hingga sampai pada
tingkatan sebuah buku diterbitkan di Pakistan yang dinamakan The Shadowless Prophet (Nabi
Tanpa Cahaya)
Ahmad Rida Bareilawi (1865-1921) pendiri sekte Bareilawi mengarang risalah yang ia
namakan, shalatush shafa fi Nuril Musthafa. Dalam pendahuluannya ia mengatakan,
“Ya Allah, pujian bagimu wahai Cahaya, wahai Cahayanya Cahaya, wahai
Cahaya sebelum setiap cahaya, wahai cahaya setelah setiap cahaya ...
berikan berkah dan damai sejahtera bagi cahaya terang-Mu yang Engkau
ciptakan dari Cahaya-Mu, dan ciptakan semua makhluk dari cahayanya,
berkatilah sinar cahayanya, keluarganya, teman dan bulan, berkatilah
mereka semua.”
931
Dia memasukkan dalam risalahnya hadits palsu berikut yang secara keliru
disandarkannya kepada Mushannaf (tulisan) ‘Abdur-Razzaaq:
“Rasulullah (shallallahu 'alaihi wasallam) berkata kepada Jaabir, ‘Wahai
Jaabir. Allah menciptakan cahaya Nabimu dari Cahaya-Nya sebelum Ia
menciptakan segala sesuatu. Dia kemudian membuat cahaya itu beredar,
dengan kekuatan-Nya, ke mana pun Dia mau. Pada waktu itu tidak ada
Lauhul Mahfudz, Qalam, surga, neraka, malaikat, surga, matahari, bulan,
jin, atau manusia. Ketika Allah bermaksud menciptakan makhluk, Dia
membagi cahaya menjadi empat bagian. Dari bagian pertama Dia
931
Al Bareilawi, Shalatus-Safa, termasuk dalam Majmu’ Rasail, jilid 1, hlm. 33,
Islamic Online University Tafsir 202
546
menciptakan Pena, dari kedua Lauhul Mahfudz, dari ketiga ‘Arsy, dan
kemudian Dia membagi bagian keempat menjadi empat bagian. Dari yang
pertama Dia menciptakan para pembawa Arasy, dari yang kedua Kursi, dari
yang ketiga sisanya dari para malaikat. Dia kemudian membagi bagian
keempat menjadi empat bagian. Dari yang pertama Dia menciptakan surga,
dari yang kedua Dia menciptakan bumi, dan dari yang ketiga dia
menciptakan surga dan neraka. Kemudian Dia membagi yang keempat
menjadi empat bagian ... ''
932
Salah satu ulama Bareilawi terkemuka, Didar Ali (1853-1935), mengatakan,
"Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) bukan Allah atau bukan pula
selain Allah. Dia adalah manifestasi dari sifat Allah. Ia memberi hidup bagi
jiwa-jiwa. Jin dan umat manusia diciptakan darinya dan Tahta dan Kursi
muncul darinya. Adam dan Hawa muncul dari dirinya.”
933
Dalam risalah lain berjudul, Nafy al-Fai’ 'amman Anaara bi Nurihi Kulla Syai,
(Meniadakan bayangan dari cahaya yang menerangi segalanya), pendiri sekte Bareilawi
berkata,
“Keteduhannya tidak jatuh ke bumi, karena ia ringan. Ketika dia berjalan di
bawah sinar matahari atau sinar bulan, bayangannya tidak terlihat.”
934
Orang-orang Bareilawi juga percaya bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) hadir
di mana-mana dan melihat segalanya (Haadir Naazir). Ahmad Rida sendiri menulis:
“Menangislah, wahai Wahhabi, karena Nabi Allah (shallallahu 'alaihi wasallam) maha hadir
dan maha tahu. Tidak ada yang terjadi di dunia dan tidak ada yang akan terjadi di dalamnya
tetapi dia melihatnya dan mengamatinya. Dia hadir di mana-mana dan melihat segalanya. ”
935
Pendirinya berkata, “Orang-orang kudus dan para nabi tidak mati. Mereka
dimakamkan saat mereka hidup. Kehidupan mereka di kuburan seperti kehidupan mereka di
dunia ini, memang, jauh lebih baik daripada itu." Mengenai para nabi, dia lebih lanjut
berkata,"Kehidupan para nabi [setelah kematian] adalah nyata, inderawi dan seperti di dunia
932
Ibid
933
Diwan Didar Ali, hlm. 41.
934
Al-Bareilawi, Nafy al-Fai’ 'amman Anaara bi Nurihi Kulla Syai, termasuk dalam Majmuar-Rasaail, jilid 1,
hlm. 202.
935
Al-Bareilawi, Khalisul I’tiqad, hlm. 46.
Islamic Online University Tafsir 202
547
ini. Kematian menimpa mereka sejenak sehingga firman Allah terpenuhi. Setelah sesaat,
kehidupan kembali kepada mereka dan mereka menjadi hidup seperti sebelumnya. Untuk
kehidupan ini terapkan aturan-aturan kehidupan duniawi ini. Karena alasan ini, warisan
mereka tidak dibagi, istri mereka tidak menikah, juga tidak melewati masa tunggu. Mereka
makan, minum, dan berdoa di kuburan mereka. ”
936
Ketika dihadapkan dengan ayat ini, orang-orang Bareilawi menjawab bahwa karena
Allah memberi tahu Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) untuk mengatakan, "Katakanlah:
“Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu,” tidak ada manusia lain yang diizinkan
untuk mengatakan bahwa dia adalah manusia seperti manusia lain. Lebih jauh, dia hanya
"seperti" manusia tetapi tidak persis sama.
Syi’ah
Dalam tradisi Syiah, putri Nabi Faatimah, dan para Imam yang terdiri dari sepupunya ‘Ali,
cucu-cucunya, Hasan dan Husain, dan sembilan cicit, berbagi sifat makhluk yang khusus
dengan Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam). Orang-orang Syi’ah percaya bahwa Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, putrinya Faatimah dan para Imam dalam dimensi
mistik karena mereka adalah cahaya yang diciptakan Tuhan sebelum penciptaan dunia materi.
Cahaya ini kemudian menjadi penyebab dan sarana untuk seluruh ciptaan. Tradisi Syi'ah
berikut ini disandarkan kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam):
"Allah menciptakan‘ Ali dan aku dari satu cahaya sebelum penciptaan
Aadam kemudian Dia membagi (Cahaya) menjadi dua bagian. Dia
kemudian menciptakan (semua) hal-hal dari cahayaku dan 'cahaya Ali."
937
Imam Pertama, ‘Ali, diriwayatkan bahwa ia berkata:
“Allah itu satu. Dia sendirian dalam keesaan-Nya sehingga Dia
mengucapkan satu kata dan itu menjadi cahaya. Dia menciptakan dari
cahaya Muhammad, keturunanku (yaitu para imam lainnya) dan aku.
Kemudian Dia mengucapkan kata lain dan itu menjadi roh yang Dia
936
Malfuzhat, jilid III, hlm, 276, dinukil dalam Bareilawis, hlm. 115.
937
Al Bursi, Musyariq, al-Anwar, dinukil dalam Biharul Anwar, jilid 25, hlm. 23, no. 42. Lihat jua, Biharul
Anwar, jilid 26, hlm. 3.
Islamic Online University Tafsir 202
548
tetapkan untuk menetap di atas cahaya. Dan Dia menyebabkannya tinggal di
tubuh kita. Jadi kita adalah Roh Allah dan Firman-Nya ... dan ini sebelum
Dia menciptakan seluruh makhluk."
938
Dan Imam keenam, Ja‘far as-Saadiq, diriwayatkan mengatakan:
"Cahaya kita terpisah dari Rabb kita seperti sinar matahari dari
matahari."
939
Menurut akidah Syi'ah, cahaya ini diciptakan oleh Allah sebagai esensi batin para
Imam, turun ke Aadam dan kemudian pada masing-masing nabi dan imaam sampai
diwujudkan dalam Muhammad, Faatimah dan kedua belas imam. Riwayat lain mengklaim
bahwa Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam), Faatimah dan para Imam diciptakan
dari substansi ‘Illiyyun (lihat al-Qur'an 83:19).
940
Ada beberapa perbedaan pendapat di antara
para mufassir Al Quran tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan ‘Illiyyun, namun
Syi’ah umumnya menyebutkannya sebagai persamaan kata untuk bagian yang ditinggikan,
dari langit ke tujuh, atau Pohon Terjauh (Sidratul Muntaha).
941
Berikut ini beberapa dari banyak riwayat yang dihimpun Al Kulaini tentang asal
kejadian, yang darinya para imam diciptakan,
938
Hasan bin Sulaiman al Hilli, Muntakhab al Bashair, dinukil dalam Biharul Anwar, jilid 53, hlm. 46, no. 26
dan Al Bursi, Musyariq, al-Anwar, dinukil dalam Biharul Anwar, jilid 25, hlm. 23, no. 39.
939
Biharul Anwar, jilid 25, hlm. 10.
940
Ash- Shaffar, Bashairud Darajat, dinukil dalam Biharul Anwar, jilid 25, hlm. 10-13, no. 14, 16, 23-6.
941
Biharul Anwar, jilid 25, hlm. 10.
Islamic Online University Tafsir 202
549
Yahyaa al-Wasithi meriwayatkan bahwasanya Abu ‘Abdullaah ()
mengatakan, “Sesungguhnya Allah menciptakan kami dari ‘illiyyin dan dan
jiwa kami dari atasnya. Dia menciptakan jiwa para pengikut kami dari
‘illiyyin dan tubuh mereka dari bawahnya.”
942
Muhammad ibn Marwaan menceritakan bahwa dia mendengar Abu
‘Abdullaah () berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan kami dari
cahaya keagungan-Nya, kemudian Dia membentuk ciptaan kami dari tanah
liat tersembunyi yang tersimpan dari bawah singgasana dan menempatkan
cahaya di dalamnya. Dengan demikian, kita adalah makhluk ciptaan dan
manusia cahaya. Tidak ada yang diberi bagian dari apa yang kami
diciptakan. Dia menciptakan jiwa para pengikut kami dari tanah liat kami
dan tubuh mereka dari tanah liat tersembunyi yang tersimpan di bawah
tanah liat itu. Dan belum ada yang diberi bagian apa mereka diciptakan dari
kecuali para nabi.”
943
Mereka yang meninggikan Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam), mereka melakukannya
dengan meyakini bahwa beliau akan dapat memberi manfaat kepada mereka dalam hal hidup
ini dengan memberi mereka kebaikan dan melindungi mereka dari kejahatan. Namun, Allah
telah memerintahkan kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wasallam) untuk menolak kemungkinan
ini,
942
Al Kaafi, jilid 1, Kitabul Hujjah, hlm. 389, no. 1
943
Ushul minal Kafi, jilid 1, hlm. 389, no. 2
Islamic Online University Tafsir 202
550


“Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu
kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan."’
(QS. Al-Jinn 72: 21)
Syaikh Al-Utsaimin berkomentar tentang fenomena ini dengan mengatakan, “Sungguh
menakjubkan bahwa sebagian orang orang masih ada yang lebih terikat pada Rasul
shallallahu 'alaihi wasallam daripada mereka terikat kepada Allah, Yang Maha Besar dan
Mulia. Jika ada sesuatu tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang disebutkan,
mereka gemetar dan menggigil, dan jika nama Allah disebutkan seolah-olah Dia tidak
disebutkan. Bahkan sebagian dari mereka mencapai tingkat yang mereka akan bersumpah
dengan nama Rasul (wan-nabi) alih-alih bersumpah demi Allah (wallahi). Yang lain
menganggap menziarahi makam Nabi lebih tinggi daripada mengunjungi Ka'bah. Saya telah
menyaksikan orang-orang menangis karena mereka dicegah untuk mengunjungi Madinah
selama hari-hari haji karena kedekatannya dengan ibadah haji dan kemungkinan bahwa
mereka mungkin akan meluputkan haji sendiri. Ketika mereka ditanya mengapa mereka
datang, mereka menjawab, “Saya datang untuk melihat cahaya.” Seolah-olah mereka hanya
datang untuk mengunjungi Madinah dan mereka lupa bahwa mereka datang untuk memenuhi
ibadah haji. Ini adalah hasil dari kebodohan mereka dan kegagalan para ulama untuk
mengklarifikasi fakta kepada masyarakat umum. Sebab, massa memiliki emosi liar yang
kadang tidak terkendali, mudah terprovokasi. Jika kebenaran dijelaskan kepada mereka,
mereka akan segera kembali kepada kebenaran tersebut.”
944
Allah kemudian mengidentifikasi karakteristik paling khsus yang membedakan Nabi
(shallallahu 'alaihi wasallam) dari rata-rata manusia,
“Yang diwahyukan kepadaku,” yakni wahyu itu turun kepada beliau dan bukan yang lain,
selain persaudaraan antara para nabi dan para rasul, shalawat serta salam atas mereka
semuanya. Siapa saja yang mengaku mendapatkan wahyu pada masa beliau atau setelah masa
944
Tafsir Al Quranul Karim, hlm. 151-2.
Islamic Online University Tafsir 202
551
beliau merupakan seburuk-buruknya makhluk, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam
firman-Nya,
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat
kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan
kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya.”
(QS. Al An’am 6: 93)
Allah kemudian melanjutkan dengan mengidentifikasikan inti dari apa yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan berfirman.


"Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa," adalah risalah tauhid,
yang menetapkan bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang Esa dalam kerajaan-Nya, sifat-sifat-
Nya dan bagaimana Dia selayaknya disembah. Tidak ada seorang pun yang berbagi dengan-
Nya kekuasaan-Nya atas makhluk, tidak ada seorang pun yang memiliki sifat-sifat ilahiah-
Nya dan tidak ada sesuatupun yang berhak untuk disembah di sisi-Nya. Karena itu, Allah
memerintahkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar memperingatkan orang-orang
yang beriman kepada Allah dan hari Akhir,

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,” dan menginginkan akhir yang
baik dari perjumpaan tersebut, mereka harus memenuhi kriteria dasar terkait iman mereka.
Iman saja tidak cukup karena mudah tercampur dengan mengilmui iman semata. Dan iman
yang terbatas dapat menyebabkan angan-angan yang palsu. Seperti kasus orang-orang yang
hanya menghafal bagian pertama dari sabda Nabi berikut ini,
Islamic Online University Tafsir 202
552
َ
ة
َ
ْ
ـﻳ
َ
ُ
ِ
َ
أ
ْ
َ
ِ
ُ
أ
ُ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
ن
ُ
ُ
ْ
َ
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap umatku masuk surga dan mereka mengabaikan kelanjutan hadits
ini,
َ
َ
ْ
ﳉا
َ
َ
َ
د
ِ
َ
ﻋﺎ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ
و
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
َ
ا
ُ
ﻟﺎ
َ
َ
َ
أ
ْ
َ
ِ
إ
َ
َ
أ
ْ
َ
َ
ـﻓ
ِ
ﱐﺎ
َ
َ
ْ
َ
َ
و
Selain yang enggan," Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas
siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku masuk
surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan."
945
Amal shalih merupakan buah dari iman yang benar. Oleh karena itu Allah
memerintahkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk memberitahukan kepada
orang-orang yang beriman bahwa jika mereka ingin berjumpa dengan Allah dengan harapan
yang ikhlas,



“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."
Dalam ayat terakhir ini Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk
mengerjakan amal shalih ikhlas hanya karena-Nya dan untuk tidak mempersekutukan seorang
945
Shahih Bukhari, Kitab: I’tisham bil kitab was sunnah, Bab: Iqtidha bi sunan rasulillah.
Islamic Online University Tafsir 202
553
pun dalam beribadah kepada-Nya. Ada sejumlah hadits Nabi yang memperingatkan tentang
bahaya riya (melakukan sesuatu untuk pamer), salah satunya yaitu,
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
ْ
ِ
د
ُ
ْ
َ
ْ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر
ن
َ
أ))
ن
ِ
إ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ُ
ك
ْ
ﺸﻟا
َ
َ
و ا
ُ
ﻟﺎ
َ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ﻷا
ُ
ك
ْ
ﺸﻟا
ْ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
فﺎ
َ
َ
أ
َ
َ
ف
َ
ْ
َ
أ
ُ
ءﺎ
َ
ﺮﻟا
َ
لﺎ
َ
ِ
ﻠﻟا
َ
ل
ُ
َ
ر((
Dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah
syirik kecil." Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab: "Riya`
946
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan bahwa beliau
khawatir riya lebih membinasakan umatnya bahkan melebihi bahayanya fitnah Dajjal,
َ
لﺎ
َ
ٍ
ﺪﻴ
ِ
َ
ِ
َ
أ
ْ
َ
َ
َ
َ
و
ِ
ْ
َ
َ
ُ
ﻠﻟا
َ
ِ
ﻠﻟا
ُ
ل
ُ
َ
ر
َ
ْ
ـﻴ
َ
َ
َ
ج
َ
َ
َ
لﺎ
َ
َ
ـﻓ
َ
لﺎ
ﺪﻟا
َ
ﺢﻴ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ُ
َ
ا
َ
َ
َ
ـﻧ
ُ
ْ
َ
َ
و
))
ُ
ف
َ
ْ
َ
أ
َ
ُ
َ
ِ
ْ
ُ
ُ
ِ
ْ
ُ
أ
َ
َ
أ
َ
َ
ـﻓ
َ
َ
ـﺑ
َ
ْ
ُ
ـﻗ
َ
لﺎ
َ
ِ
لﺎ
ﺪﻟا
ِ
ﺢﻴ
ِ
َ
ْ
ﻟا
ْ
ِ
ي
ِ
ْ
ِ
ْ
ُ
ْ
َ
َ
ُ
ك
ْ
ﺸﻟا
َ
لﺎ
ٍ
ُ
َ
ر
ِ
َ
َ
ْ
ِ
ﻣ ى
َ
َ
ـﻳ ﺎ
َ
ِ
ُ
َ
َ
َ
ُ
َ
ُ
ـﻴ
َ
ـﻓ ﻲ
َ
ُ
ُ
ُ
ﺮﻟا
َ
م
ُ
َ
ـﻳ
ْ
ن
َ
أ
ِ
َ
ْ
ﳋا
((
946
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (jilid 5, hlm. 428-9) dan Al Baghawi dalam Syarhus
Sunnah (no. 4135) dan Salim al-Hilali mengatakan sanadnya jayyid. Para perawinya yaitu, Ishaq ibnu Isa,
Imam Bukhari mengatakan bahwa ia terkenal dengan haditsnya, yakni shahih dalam periwayatannya.
[Abdurrahman ibn Abiz Zannad], Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang shaih [‘Amr bin
Abi ‘Amr] juga dinyatakan sebagai perawi yang shahih dan ‘Ashim ibn Umar ibn Qatadah juga dinyatakan
sebagai perawi yang shhaih oleh Ibnu Hajar.
Islamic Online University Tafsir 202
554
Dari Abu Sa'id dia berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al
Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada
kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian
daripada Al Masih Ad Dajjal?" Abu Sa'id berkata: "Kami menjawab,
"Tentu." Beliau bersabda: "Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang
mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada
seseorang yang memperhatikannya."
947
Ketika hadits ini dimasukkan ke dalam perspektif, seseorang dapat menghargai bahaya
nyata dari riyaa.' Fitnah Dajjaal adalah kesengsaraan terbesar yang akan dialami umat
manusia, sejak penciptaan Adam hingga Hari Kiamat, dan tidak ada satu pun nabi setelah
masa Nabi Nuh, yang tidak memperingatkan umatnya dari fitnah besar ini. Nabi (shallallahu
'alaihi wasallam) memperingatkan kepada orang-orang yang akan hidup pada masa Dajjaal
agar melarikan diri darinya, dan beliau (shallallahu 'alaihi wasallam) akan selalu memohon
perlindungan kepada Allah dari bahaya Dajjaal setelah tiap-tiap shalat wajib. Namun, Nabi
(shallallahu 'alaihi wasallam) mengatakan bahwa ia lebih takut akan bahayanya riyaa 'bahkan
lebih dari bahaya Dajjaal!
Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan peringatan bagi orang-orang mukmin untuk
memastikan bahwa mereka menyembah hanya kepada Allah saja karena hanya ibadah seperti
itu yang diterima oleh Allah dan selain itu semuanya sia-sia. Semoga Allah melindungi kita
semua agar tidak terjatuh ke dalam kategori orang yang perbuatannya sia-sia
947
Shahih Sunan Ibnu Majah, jilid 2, hlm. 410. No. 3389.
Islamic Online University Tafsir 202
555
DAFTAR PUSTAKA
Albaani, Naasiruddin al-. Ahkaam al-Janaa’iz. Beirut: al-Maktab al-Islaami, 1
st
ed., 1969.
_______________________ .Tahtsir as-Saajid. Beirut: al-Maktab al-Islaami, 2
nd
ed., 1972.
Ansari, Muhammad ‘Abdul-Haqq. Commentary on the Creed of at-Tahawi by Ibn Abi al-‘Izz.
Riyadh: Imaam Muhammad Ibn Saud University, 1
st
ed., 2000.
Arberry, A.J. Muslim Saints and Mystics. London: Routledge and Kegan Paul, 1976.
Ashqar, ‘Umar Sulayman al-. The Final Day: Paradise and Hell. Riyadh: International
Islamic Publishing House, 1
st
edition, 1998.
Hafiz, Ali. Chapters from the History of Madinah. Jeddah: Al-Madina Printing and
Publication Co., 1
st
ed., 1987
Ibnu Taimiyyah, Ahmad ibn ‘Abdil-Halim. Kitab Al-Iman, Trans. Salman Hasan Al-Ani,
Bloomington, Indiana: Iman Publishing House, 1
st
ed., 1999.
Ibnul-Jauzi. Zaad al-Masir fi ‘Ilm at-Tafsir,
Ibn Katsir,
Ismaa‘il ibn ‘Umar.
Tafsir Ibn Katsir
(Abridged English Trans.).
Riyadh:
Darussalam Publishers, 1
st
ed., 2000.
Kramers, H.A.R. Gibb dan J.H. Shorter Encyclopedia of Islam. Ithaca, New York: Cornell
University Press, 1953.
Khattab, Nasiruddin al-, Patience and Gratitude, London: TaHa Publishers, 1997.
Mababaya, Norlain Dindang.
Da’wah According to the Qur’an and the Sunnah.
Riyadh:
Darussalam, 1
st
ed., 1998.
Muhammad, Yusri as-Sayyid. Badaa‘I at-Tafseer al-Jaami‘ li Tafsir al-Imaam Ibn Qayyim
al-Jauziyyah.
Islamic Online University Tafsir 202
556
Philips, Abu Aminah Bilal. A Commentary on Ibn Qudaamah’s The Radiance of Faith.
Ajman: Preston University, 2
nd
ed., 2000.
_______________________
. The Fundamentals of Tawheedd. Riyadh: International Islamic
Publishing House, Press, 1
st
ed., 1995.
_______________________ . The Purpose of Creation, Ajman: Dar al-Fatah Press, 1
st
ed.,
1995.
_______________________ .Ushul at-Tafsir. Ajman: Dar al-Fatah Press, 1
st
ed., 1997.
Qadhi, Abu Ammaar
Yasir. Du‘a: The Weapon of the Believer. Birmingham: Al-Hidaayah
Publishing and Distribution, 1
st
ed., 2001.
Qattaan, Mannaa‘ al-. Mabaahits fi ‘Ulum al-Qur’aan. Riyadh, Saudi Arabia: Maktabah al-
Ma’aarif, 8th ed., 1981.
Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad al-. Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan. Cairo: Al-Maktabah
at-Taufiqiyyah, n.d.
_______________________ . Majmu‘ Fataawaa Syaikhul-Islaam Ibn Taimiyyah. Saudi
Arabia: Saudi Arabian Government Press, 1
st
ed.
Shaalihi, ‘Ali al-Hamad. Ad-Daw’ al-Munir ‘Alaa
at-Tafsir. Riyadh: Maktabah Daarus-
Salaam, n.d.
‘Utsaimin, Muhammad ibn Saalih al-. Tafsir al-Qur’aan al-Karim: Suratul Kahf.
Syaukani, Muhammad ibn ‘Alee ash-. Fat’h al-Qadeer. Egypt: Daar al-Wafaa, 2
nd
ed., 1997.
Syinqithi, Muhammad al-Amin ash-. Adhwaa ul-Bayaan fi Iedaah al-Qur’aan bil-Qur’aan.
Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1
st
ed., 2000.
Sa‘di, ‘Abdur-Rahmaan ibn Naasir as-. Taisir al-Karim ar-Rahmaan fi Tafsir Kalaam al-
Mannaan.
Thabari, Ibnu Jarir at-. Taarikh al-Umam wal-Muluk. Beirut: Daar Ihyaa at-Turaats al-‘Arabi,
n.d.
Islamic Online University Tafsir 202
557
‘Utsaimin, Muhammad ibn Shaalih al. Syarh Lum‘atul-I‘tiqaad. Riyadh: Maktab Adwaa as-
Salaf, 3
rd
ed., 1995.
Yahya, Harun. Allah is Known Through Reason.
Zahir, Ehsan Elahi. Bareilawis: History and Beliefs. Lahore: Idara Tarjuman Al-Sunnah,
1985.